ddt minggu kedua

SILIBUS DDT MINGGU KEDUA SHAMSUL ANUAR AHMAD sham86.wordpress.com

HADIS

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ   وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

[رواه مسلم]

Arti hadits / ترجمة الحديث :

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata:  “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda:  “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian)  berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

(Riwayat Muslim)

Catatan :

Hadits ini merupakan hadits yang sangat dalam maknanya, karena didalamnya terdapat pokok-pokok ajaran Islam, yaitu Iman, Islam dan Ihsan.

Hadits ini mengandung makna yang sangat agung karena berasal dari dua makhluk Allah yang terpercaya, yaitu: Amiinussamaa’ (kepercayaan makhluk di langit/Jibril) dan Amiinul Ardh (kepercayaan makhluk di bumi/ Rasulullah)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits / الفوائد من الحديث :

Disunnahkan untuk memperhatikan kondisi  pakaian, penampilan dan kebersihan, khususnya jika menghadapi ulama, orang-orang mulia dan penguasa.

Siapa yang menghadiri majlis ilmu dan menangkap bahwa orang–orang yang hadir butuh untuk mengetahui suatu masalah dan tidak ada seorangpun yang bertanya, maka wajib baginya bertanya tentang hal tersebut meskipun dia mengetahuinya agar peserta yang hadir dapat mengambil manfaat darinya.

Jika seseorang yang ditanya tentang sesuatu maka tidak ada cela baginya untuk berkata: “Saya tidak tahu“,  dan hal tersebut tidak mengurangi kedudukannya.

Kemungkinan malaikat tampil dalam wujud manusia.

Termasuk tanda hari kiamat adalah banyaknya pembangkangan terhadap kedua orang tua. Sehingga anak-anak memperlakukan kedua orang tuanya sebagaimana seorang tuan memperlakukan hambanya.

Tidak disukainya mendirikan bangunan yang tinggi dan membaguskannya sepanjang tidak ada kebutuhan.

Didalamnya terdapat dalil bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah ta’ala.

Didalamnya terdapat keterangan tentang adab dan cara duduk dalam majlis ilmu.

TASAUF

GHIBAH (MENGUMPAT)

Betapa banyak kaum muslimin yang mampu untuk menjalankan perintah Allah U dengan baik, bisa menjalankan sunnah-sunnah Nabi r, mampu untuk menjauhkan dirinya dari zina, berkata dusta, minum khomer, bahkan mampu untuk sholat malam setiap hari, senantiasa pusa senin kamis, namun…..mereka tidak mampu menghindarkan dirinya dari ghibah. Bahkan walaupun mereka telah tahu bahwasanya ghibah itu tercela dan merupakan dosa besar namun tetap saja mereka tidak mampu menghindarkan diri mereka dari ghibah.

Definisi ghibah

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ tأَنَّ رَسُوْلَ اللهِr قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

Dari Abu Huroiroh t bahwsanya Rosulullah r bersabda : Tahukah kalian apakah ghibah itu? Sahabat menjawab : Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui. Nabi r berkata : “Iaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi r ditanya : Bagaimanakah pendapatmu jika itu memang benar ada padanya ? Nabi r menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”.[1]

Hal ini juga telah dijelaskan oleh Ibnu Mas’ud t:

عَنْ حَمَّاد عَنْ إبْرَاهِيْمَ قَالَ : كَانَ اِبْنُ مَسْعُوْدٍ tيَقُوْلُ : الْغِيْبَةُ أَنْ تَذْكُرَ مِنْ أَخِيْكَ مَا تَعْلَمُ فِيْهِ. وَإِذَا قُلْتَ مَا لَيْسَ فِيْهِ فَذَاكَ الْبُهْتَانُ

Dari Hammad dari Ibrohim berkata : Ibnu Mas’ud t berkata :”Ghibah adalah engkau menyebutkan apa yang kau ketahui pada saudaramu, dan jika engkau mengatakan apa yang tidak ada pada dirinya berarti itu adalah kedustaan” [2]

Dari hadits ini para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ghibah adalah :”Engkau menyebutkan sesuatu yang ada pada saudaramu yang seandainya dia tahu maka dia akan membencinya”. Sama saja apakah yang engkau sebutkan adalah kekurangannya yang ada pada badannya atau nasabnya atau akhlaqnya atau perbuatannya atau pada agamanya atau pada masalah duniawinya. Dan engkau menyebutkan aibnya dihadapan manusia dalam keadaan dia goib (tidak hadir). Berkata Syaikh Salim Al-Hilali :”Ghibah adalah menyebutkan aib (saudaramu) dan dia dalam keadaan goib (tidak hadir dihadapan engkau), oleh karena itu saudaramu) yang goib tersebut disamakan dengan mayat, karena si goib tidak mampu untuk membela dirinya. Dan demikian pula mayat tidak mengetahui bahwa daging tubuhnya dimakan sebagaimana si goib juga tidak mengetahui gibah yang telah dilakukan oleh orang yang mengghibahinya ”[3].

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ rحَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّة كَذَا وَ كَذَاز قَالَ بَعْضُ الرُّوَاةُ : تَعْنِيْ قَصِيْرَةٌ, فَقَالَ : لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ.

Dari ‘Aisyah beliau berkata : Aku berkata kepada Nabi r: “Cukup bagimu dari Sofiyah ini dan itu”. Sebagian rowi berkata :”’Aisyah mengatakan Sofiyah pendek”. Maka Nabi r berkata :”Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya kalimat tersebut dicampur dengan air laut niscaya akan merubahnya[4]

Imam Baihaqi meriwayatkan dari jalan Hammad bin Zaid berkata :Telah menyampaikan kepada kami Touf bin Wahbin, dia berkata : “Aku menemui Muhammad bin Sirin dan aku dalam keadaan sakit. Maka dia (Ibnu Sirin) berkata :”Aku melihat engkau sedang sakit”, aku berkata :”Benar”. Maka dia berkata :”Pergilah ke tabib fulan, mintalah tips kepadanya”, (tetapi) kemudian dia berkata :”Pergilah ke fulan (tabib yang lain) karena dia lebih baik dari pada si fulan (tabib yang pertama)”. Kemudian dia berkata : “Aku mohon ampun kepada Allah, menurutku aku telah mengghibahi dia (tabib yang pertama)”. [5]

Termasuk ghibah iaitu seseorang meniru-niru orang lain, misalnya berjalan dengan pura-pura pincang atau pura-pura bungkuk atau berbicara dengan pura-pura sumbing, atau yang selainnya dengan maksud meniru-niru keadaan seseorang, yang hal ini berarti merendahkan dia. Sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits :

قَالَتْ : وَحَكَيْتُ لَهُ إِنْسَانًا فَقَالَ : مَا أُحِبُّ أَنِّيْ حَكَيْتُ إِنْسَانًا وَ إِنَّ لِيْ كَذَا

‘Aisyah berkata : “Aku meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang seseorang pada Nabi r”. Maka Nabi r pun berkata :”Saya tidak suka meniru-niru (kekurangan/cacat) seseorang (walaupun) saya mendapatkan sekian-sekian” [6]

Termasuk ghibah yaitu seorang penulis menyebutkan seseorang tertentu dalam kitabnya seraya berkata :”Si fulan telah berkata demikian-demikian”, dengan tujuan untuk merendahkan dan mencelanya. Maka hal ini adalah harom. Jika si penulis menghendaki untuk menjelaskan kesalahan orang tersebut agar tidak diikuti, atau untuk menjelaskan lemahnya ilmu orang tersebut agar orang-orang tidak tertipu dengannya dan menerima pendapatnya (karena orang-orang menyangka bahwa dia adalah orang yang ‘alim –pent), maka hal ini bukanlah ghibah, bahkan merupakan nasihat yang wajib yang mendatangkan pahala jika dia berniat demikian.

Demikian pula jika seorang penulis berkata atau yang lainnya berkata : “Telah berkata suatu kaum -atau suatu jama’ah- demikian-demikian…, dan pendapat ini merupakan kesalahan atau kekeliruan atau kebodohan dan semisalnya”, maka hal ini bukanlah ghibah. Yang disebut ghibah jika kita menyebutkan orang tertentu atau kaum tertentu atau jama’ah tertentu. [7]

Ghibah itu bisa dengan perkataan yang jelas atau dengan yang lainnya seperti isyarat dengan perkataan atau isyarat dengan mata atau bibir dan lainnya, yang penting bisa dipahami bahwasanya hal itu adalah merendahkan saudaranya yang lain. Diantaranya yaitu jika seseorang namanya disebutkan di sisi engkau lantas engkau berkata: “Semoga Allah U melindungi kita dari memakan harta manusia dengan kebatilan”, atau yang lainnya, sebab orang yang mendengar perkataan engkau itu faham bahwasanya berarti orang yang namanya disebutkan memiliki sifat-sifat yang jelek.[8] Bahkan lebih parah lagi, perkataan engkau tidak hanya menunjukkan kepada ghibah, tetapi lebih dari itu dapat menjatuhkan engkau ke dalam riya’. Sebab engkau telah menunjukan kepada manusia bahwa engkau tidak melakukan sifat jelek orang yang disebutkan namanya tadi.

Hukum ghibah

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ t قَال : قَالَ رَسُوْلُ الله r: مَرَرْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِيْ عَلَى قَوْمٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ بِأَظَافِرِيْهِمْ, فَقُلْتُ : يَا جِبْرِيْلُِ مَنْ هَؤُلآءِ؟ قَالَ : الَّذِيْنَ يَغْتَابُوْنَ النَّاسَ, وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

Dari Anas bin Malik t berkata : Rosulullah r bersabda :”Pada malam isro’ aku melewati sebuah kaum yang mereka melukai (mencakar) wajah-wajah mereka dengan kuku-kuku mereka”, lalu aku berkata :”Siapakah mereka ya Jibril?”, Beliau berkata :”Yaitu orang-orang yang mengghibahi manusia, dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”.

Dalam riwayat yang lain :

قَالَ رَسُوْلُ الله r: لَمَّا عُرِجَ بِيْ, مَرَرْتُ بِقَوْمٍ لَهُمْ أَظْفَارٌ مِنْ نُحَاسٍ يَخْمِشُوْنَ وُجُوْهَهُمْ وَ صُدُوْرَهُمْ فَقُلْتُ : مَنْ هَؤُلآء يَا جِبْرِيْلُِ؟ قَالَ : هَؤُلآء الَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ لُحُوْمَ النَّاسَ وَيَقَعُوْنَ فِيْ أَعْرَاضِهِمْ

Rosulullah r bersabda : Ketika aku dinaikkan ke langit, aku melewati suatu kaum yang memiliki kuku-kuku dari tembaga, mereka melukai (mencakari) wajah-wajah mereka dan dada-dada mereka. Maka aku bertanya :”Siapakah mereka ya Jibril?”, beliau berkata :”Mereka adalah orang-orang yang memakan daging-daging manusia dan mereka mencela kehormatan-kehormatan manusia”.[9]

Hukum ghibah adalah haram berdasarkan Al-Kitab dan As-Sunnah dan ijma’ kaum muslimin. Namun terjadi khilaf diantara para ulama, apakah ghibah termasuk dosa besar atau termasuk dosa kecil?. Imam Al-Qurthubi menukilkan ijma’ bahwasanya ghibah termsuk dosa besar. Sedangkan Al-Ghazali dan penulis Al-‘Umdah dari Syafi’iyah berpendapat bahwasanya ghibah termasuk dosa kecil. Berkata Al-Auza’i : “Aku tidak mengetahui ada orang yang jelas menyatakan bahwa ghibah termasuk dosa kecil selain mereka berdua”. Az-Zarkasyi berkata : “Dan sungguh aneh orang yang menganggap bahwasanya memakan bangkai daging (manusia) sebagai dosa besar (tetapi) tidak menganggap bahwasanya ghibah juga adalah dosa besar, padahal Allah menempatkan ghibah sebagaimana memakan bangkai daging manusia. Dan hadits-hadits yang memperingatkan ghibah sangat banyak sekali yang menunjukan akan kerasnya pengharaman ghibah. [10]

Berkata Syaikh Nasir As-Sa’di :”Dalam ayat ini (Al-Hujurot :12) ada peringatan keras terhadap gibah dan bahwasanya gibah termasuk dosa-dosa besar karena diserupakan dengan memakan daging bangkai (manusia) dan hal itu (memakan daging bangkai) termasuk dosa besar”. [11]

Hukum mendengarkan ghibah

Berkata Imam Nawawi dalam Al-Adzkar :”Ketahuilah bahwasanya ghibah itu sebagaimana diharamkan bagi orang yang menggibahi, diharamkan juga bagi orang yang mendengarkannya dan menyetujuinya. Maka wajib bagi siapa saja yang mendengar seseorang mulai menggibahi (saudaranya yang lain) untuk melarang orang itu kalau dia tidak takut kepada mudhorot yang jelas. Dan jika dia takut kepada orang itu, maka wajib baginya untuk mengingkari dengan hatinya dan meninggalkan majelis tempat ghibah tersebut jika memungkinkan hal itu.

Jika dia mampu untuk mengingkari dengan lisannya atau dengan memotong pembicaraan ghibah tadi dengan pembicaraan yang lain, maka wajib bagi dia untuk melakukannya. Jika dia tidak melakukannya berarti dia telah bermaksiat.

Jika dia berkata dengan lisannya :”Diamlah”, namun hatinya ingin pembicaraan gibah tersebut dilanjutkan, maka hal itu adalah kemunafikan yang tidak boleh membebaskan dia dari dosa. Dia harus membenci gibah tersebut dengan hatinya (agar bisa bebas dari dosa-pent).

Jika dia terpaksa di majelis yang ada ghibahnya dan dia tidak mampu untuk mengingkari ghibah itu, atau dia telah mengingkari namun tidak diterima, serta dia tidak memungkinkan baginya untuk meninggalkan majelis tersebut, maka haram baginya untuk istima’(mendengarkan) dan isgo’ (mendengarkan dengan saksama) pembicaraan ghibah itu. Yang dia lakukan adalah hendaklah dia berdzikir kepada Allah U dengan lisannya dan hatinya, atau dengan hatinya, atau dia memikirkan perkara yang lain, agar dia bisa melepaskan diri dari mendengarkan gibah itu. Setelah itu maka tidak mengapa baginya untuk mendengar ghibah (yaitu sekadar mendengar namun tidak memperhatikan dan tidak faham dengan apa yang didengar –pent), tanpa mendengarkan dengan baik ghibah itu jika memang keadaannya seperti ini (karena terpaksa tidak bisa meninggalkan majelis gibah itu –pent). Namun jika (beberapa waktu) kemudian memungkinkan dia untuk meninggalkan majelis dan mereka masih terus melanjutkan ghibah, maka wajib baginya untuk meninggalkan majelis”[12]. Allah U berfirman :

وَإذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَخُوْضُوْنَ فِيْ آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهِ, وَ إِمَّ يُنْسِيَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ فَلاَ تَقْعُدْ بَعْدَ الذِكْرِ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ

Dan apabila kalian melihat orang-orang yang mengejek ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka hingga mereka mebicarakan pembicaraan yang lainnya. Dan apabila kalian dilupakan oleh Syaithon, maka janganlah kalian duduk setelah kalian ingat bersama kaum yang dzolim. (Al-An’am 68)

Bertaubat dari ghibah

Berkata Syaikh Utsaimin : “…Yaitu engkau membicarakan dia dalam keadaan dia tidak ada, dan engkau merendahkan dia dihadapan manusia dan dia tidak ada. Untuk masalah ini para ulama berselisih. Diantara mereka ada yang berkata (bahwasanya) engkau (yang menggibah) harus datang ke dia (yang digibahi) dan berkata kepadanya :”Wahai fulan sesungguhnya aku telah membicarakan engkau dihadapan menusia, maka aku mengharapkan engkau memaafkan aku dan merelakan (perbuatan)ku”. Sebagian ulama (yang lainnya) mengatakan (bahwasanya) engkau jangan datang ke dia, tetapi ada perincian : Jika yang digibahi telah mengetahui bahwa engkau telah mengghibahinya, maka engkau harus datang kepadanya dan meminta agar dia merelakan perbuatanmu. Namun jika dia tidak tahu, maka janganlah engkau mendatanginya (tetapi hendaknya) engkau memohon ampun untuknya dan engkau membicarakan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat engkau mengghibahinya. Karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan bisa menghilangkan kejelekan-kejelekan. Dan pendapat ini lebih benar, yaitu bahwasanya ghibah itu, jika yang dighibahi tidak mengetahui bahwa engkau telah mengghibahinya maka cukuplah engkau menyebutkan kebaikan-kebaikannya di tempat-tempat kamu mengghibahinya dan engkau memohon ampun untuknya, engkau berkata :”Ya Allah ampunilah dia” sebagaimana yang terdapat dalam hadits :

كَفَّارَةُ مَنِ اغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُ (Kafarohnya orang yang kau ghibahi adalah engkau memohon ampunan untuknya)[13]

Cara menghindarkan diri dari ghibah

Untuk menghindari ghibah kita harus sadar bahwa segala apa yang kita ucapkan semuanya akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah U. Allah U berfirman :

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ

Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.(Q 18)

وَلاَ تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوْلاً

Dan janganlah kalian mengikuti apa yang kalian tidak mengetahuinya, sesungguhnyapendengaran, penglihatan, dan hati itu semua akan ditanyai (dimintai pertanggungjawaban) (Al-Isro’ 36)

Dan jika kita tidak menjaga lisan kita -sehingga kita bisa berbicara seenak kita tanpa kita timbang-timbang dahulu yang akhirnya mengakibatkan kita terjatuh pada ghibah atau yang lainnya- maka hal ini akibatnya sangat fatal. Sebab lisan termasuk sebab yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka. Sebagaimana sabda Nabi r

وَ هَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِيْ النَّارِ عَلَى وُجُوْهِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ ؟

Bukankah tidak ada yang menjerumuskan manusia ke dalam neraka melainkan akibat lisan-lisan mereka ?

Demikian juga sabda Nabi r :

أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الأَجْوَفَانِ : الفَمُ و الْفَرَجُ

Yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam neraka adalah dua lubang, mulut dan kemaluan.[14]

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ tأَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ r يَقُوْلُ : إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَة مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِيْ لَهَا بَالاً يَهْوِيْ بِهَا فِيْ جَهَنَّمَ

Dari Abu Huroiroh t bahwasanya beliau mendengar Nabi r bersabda :”Sungguh seorang hamba benar-benar akan mengatakan suatu kalimat yang mendatangkan murka Allah yang dia tidak menganggap kalimat itu, akibatnya dia terjerumus dalam neraka jahannam gara-gara kalimat itu”. (Bukhori)

Sehingga karena saking sulitnya menjaga lisan, Rosulullah r pernah bersabda :

عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ tقَالَ : قَالَ رَسُوْلُ الله ِ r: مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

Dari Sahl bin Sa’d t dia berkata : Rosulullah r bersabda :”Barangsiapa yang menjamin kepadaku (keselamatan) apa yang ada diantara dagunya (yaitu lisannya) dan apa yang ada diantara kedua kakinya (yaitu kemaluannya) maka aku jamin baginya surga”. (Bukhori dan Muslim)

Berkata Imam Nawawi : “Ketahuilah, bahwasanya ghibah adalah seburuk-buruknya hal yang buruk, dan ghibah merupakan keburukan yang paling tersebar pada manusia sehingga tidak ada yang selamat dari ghibah ini kecuali hanya segelintir manusia” [15]

Ghibah yang dibolehkan

Berkata Syaikh Salim Al-Hilali : “Ketahuilah bahwasanya ghibah dibolehkan untuk tujuan yang benar yang syar’i yang tidak mungkin bisa dicapai tujuan tersebut kecuali dengan ghibah itu” [16]

Pertama : Pengaduan, maka dibolehkan bagi orang yang teraniaya mengadu kepada sultan (penguasa) atau hakim dan yang selainnya yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk mengadili orang yang menganiaya dirinya. Maka dia (boleh) berkata : “Si fulan telah menganiaya saya demikian-demikian”. Dalilnya firman Allah :

لاَ يُحِبُّ اللهُ الْجهْرَ بِالسُّوْءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مِنْ ظُلِمَ

Allah tidak menyukai ucapan yang buruk (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiyaya. (An-Nisa’ 148).

Pengecualian yang terdapat dalam ayat ini menunjukan bahwa bolehnya orang yang didzholimi mengghibahi orang yang mendzoliminya dengan hal-hal yang menjelaskan kepada manusia tentang kedzoliman yang telah dialaminya dari orang yang mendzoliminya, dan dia mengeraskan suaranya dengan hal itu dan menampakkannya di tempat-tempat berkumpulnya manusia. Sama saja apakah dia nampakkan kepada orang-orang yang diharapkan bantuan mereka kepadanya, atau dia nampakkan kepada orang-orang yang dia tidak mengharapkan bantuan mereka.[17]

Kedua : Minta bantuan untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan pelaku kemaksiatan kepada kebenaran. Maka dia (boleh) berkata kepada orang yang diharapkan kemampuannya bisa menghilangkan kemungkaran : “Si fulan telah berbuat demikian, maka hentikanlah dia dari perbuatannya itu” dan yang selainnya. Dan hendaknya tujuannya adalah sebagai sarana untuk menghilangkan kemungkaran, jika niatnya tidak demikian maka hal ini adalah harom.

Ketiga : Meminta fatwa : Misalnya dia berkata kepada seorang mufti : “Bapakku telah berbuat zolim padaku, atau saudaraku, atau suamiku, atau si fulan telah mendzolimiku, apakah dia mendapatkan hukuman ini?, dan bagaimanakah jalan keluar dari hal ini, agar hakku bisa aku peroleh dan terhindar dari kedzoliman?”, dan yang semisalnya. Tetapi yang yang lebih hati-hati dan lebih baik adalah hendaknya dia berkata (kepada si mufti) : “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang atau seorang suami yang telah melakukan demikian ..?”. Maka dengan cara ini tujuan bisa diperoleh tanpa harus menyebutkan orang tertentu, namun menyebutkan orang tertentupun boleh sebagaimana dalam hadits Hindun.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَتْ هِنْدُ امْرَأَةُ أَبِيْ سُفْيَانَ لِلنَّبِيِّ r: إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِيْ مَا يَكْفِيْنِيْ وَوَلَدِِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ, قَالَ : خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدِكِ بِالْمَعْرُوْفِ

Dari ‘Aisyah berkata :Hindun istri Abu Sofyan berkata kepada Nabi r:”Sesungguhnya Abu Sufyan seorang yang kikir dan tidak mempunyai cukup belanja untukku dan unutuk anak-anakku, kecuali jika saya ambil diluar pengetahuannya”. Nabi r berkata : “Ambillah apa yang cukup untukmu dan untuk anak-anakmu dengan cara yang baik” (jangan terlalu banyak dan jangan terlalu sedikit)”. [18]

Keempat : Memperingatkan kaum muslimin dari kejelekan. Hal ini diantaranya :

Apa yang telah dilakukan oleh para Ahlul Hadits dengan jarh wa ta’dil. Mereka berdalil dengan ijma’ akan bolehnya bahkan wajibnya hal ini. Karena para salaf umat ini senantiasa menjarh orang-orang yang berhak mendapatkannya dalam rangka untuk menjaga keutuhan syari’at. Seperti perkataan ahlul hadits :”Si fulan pendusta”, “Si fulan lemah hafalannya”, “Si fulan munkarul hafits”, dan lain-lainnya.

Contoh yang lain yaitu mengghibahi seseorang ketika musyawarah untuk mencari nashihat. Dan tidak mengapa dengan menta’yin (menyebutkan dengan jelas) orang yang dighibahi tersebut. Dalilnya sebagaimana hadits Fatimah.

عَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ قَيْسٍ قَالَتْ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ r فَقُلْتُ : إِنَّ أَبَا الْجَهْمِ وَ مُعَاوِيَةَ خَطَبَانِ, فَقَالَ رَسُوْلُ الله r: أَمَّا مُعَاوِيَةُ فَصُعْلُوْكٌ لاَ مَالَ لَهُ. وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَلاَ يَضَعُ الْعَصَا عَنْ عَاتِقِهِ.(وَفِيْ رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ : وَأَمَّا أَبُوْا الْجَهْمِ فَضَرَّابُ لِلنِّسَاءِ)

Fatimah binti Qois berkata : Saya datang kepada Nabi r dan berkata :Sesungguhnya Abul Jahm dan Mu’awiyah meminang saya. Maka Nabi r berkata : “Adapun Mu’awiyah maka ia seorang miskin adapun Abul Jahm maka ia tidak pernah melepaskan tongkatnya dari bahunya”. (Bukhori dan Muslim). Dan dalam riwayat yang lain di Muslim (no 1480) :”Adapun Abul Jahm maka ia tukang pukul para wanita (istri-istrinya)” [19]

Kelima : Ghibah dibolehkan kepada seseorang yang terang-terangan menampakkan kefasikannya atau kebid’ahannya. Seperti orang yang terang-terangan meminum arak, mengambil harta manusia dengan zolim, dan lain sebagainya. Maka boleh menyebutkan kejahatan-kejahatnya.

Namun diharomkan menyebutkan aib-aibnya yang lain yang tidak ia nampakkan, kecuali ada sebab lain yang membolehkannya.[20]

Keenam : Untuk pengenalan. Jika seseorang terkenal dengan suatu laqob (gelar) seperti Al-A’masy (si rabun) atau Al-A’aroj (si pincang) atau Al-A’ma (si buta) dan yang selainnya maka boleh untuk disebutkan. Dan diharamkan menyebutkannya dalam rangka untuk merendahkan. Adapun jika ada cara lain untuk untuk mengenali mereka (tanpa harus menyebutkan cacat mereka) maka cara tersebut lebih baik.

ISU SEMASA

Gerakan Merosakkan Akidah (GMA) di Malaysia

Disediakan untuk Persatuan Islam dan sesiapa yang berjuang untuk Islam

Kandungan

  • Mukadimah: Malaysia sasaran terbaru/berleluasa
  • Takrif kerosakan akidah: luas, kesan merebak
  • Gerakan merosakkan akidah: rangkaian, modus operandi, kaedah.
  • Contoh mangsa satu: A2
  • Contoh mangsa dua: A1
  • Amanat penting bagi ibu bapa/penjaga mangsa
  • Amanat penting bagi ummah

Mukadimah

Ancaman baru negara supaya menggoncang kestabilan ekonomi dan politik agar kuasa asing boleh masuk melalui pintu WTO dan pertubuhan yang sah seperti Freemason dan Gereja Sedunia; keduanya musuh tradisional islam yang mempu membiayai revolusi ala komunis; menggunakan askar Kristian.

Berleluasa: Gerakan antarabangsa menggunakan wang yang banyak dan taktik halus sehingga berjaya dalam hampir semua mangsanya, dan kini berleluasa. Usaha mengesan dan mendapat kan bukti kukuh amat sukar. Namun kisah ini memberikan gambaran jelas berdasarkan pengalaman seorang ayah yang kehilangan anak perempuannya.

Al-Kisah

Ayah mangsa berpendidikan tinggi dalam jurusan profesional (kejuruteraan) dan sudah bekerja lama dalam sebuah agensi kerajaan. Isterinya wanita kampung yang hidup tradisional dan kuat beragama. Ayah mangsa suka berdakwah mengikuti gerakan dakwah. Ayah mangsa ada 9 orang anak: 5 perempuan, 2 lelaki dan 2 meninggal dalam kandungan. 4 daripada mereka, iaitu 2 lelaki dan 2 perempuan sedang mengikuti pengajian di IPTA tempatan. Malangnya, kedua-dua anak perempuannya A2 dan A1 di IPTA menjadi mangsa kerosakan akidah.

A2 dan A1 mendapat pelajaran dari TASKI (Tadika Amal), SRK, SM Agama hingga ke IPTA dalam jurusan kejuruteraan dan perakaunan. A2 dan A1 fasih dalam bahasa Arab, Inggeris dan pandai bertilawatul Al-Qur’an. Aktif dalam aktiviti dakwah, berakhlak baik, sentiasa memakai tudung dan mesra sesama adik-beradik, ibu bapa, sanak saudara dan kawan-kawan.

Pendidikan mereka yang berlatarbelakang agama adalah cemerlang dan nama A2 pernah disiarkan dalam akhbar tempatan kerana kecemerlangannya.

Bezanya di antara A1 dan A2 ialah A2 berketerampilan dan suka bergaul mesra dengan semua orang. A1 pendiam dan hanya berkawan dengan kawan pilihan sahaja. Sebagai wanita meningkat dewasa mereka suka barang kemas, wangian eksotik, pakaian moden (jeans) walau pun berhijab.

Akhirnya A2 terjebak oleh seorang lelaki (tidak belajar dan tidak bekerja tetap) melalui rakan sekelasnya yang kononnya lelaki itu ingin baiki dirinya dari minuman arak. A1 terjebak oleh seorang perempuan yang dibantu oleh tiga rakan sekelas. Kedua-dua A2 dan A1 dibawa keluar kampus oleh “rakan-rakan” sekelasnya ke “keluarga angkat” yang memberi belai kasih tanpa pengetahuan ibu bapanya. Dari situ mereka di bawa dari satu “sel” ke satu “sel” hingga “dihancurkan” dan dipisahkan daripada ibu bapa dan agamanya.

Kisah ini berdasarkan kejadian benar di mana A2 sudah tiada lagi dan sukar dikesan. A1 sudah hampir hilang dan kini di bawah kawalan. Tujuan kisah ini ialah mendedahkan taktik Gerakan Merosakkan Akidah (GMA) umat Islam agar tindakan berwaspada serta keras dapat diambil bagi menyelamatkan anak-anak Islam lain yang bijak dan berpotensi tinggi.

Pihak polis dan Jabatan Agama Islam Negeri telah juga berindak berdasarkan maklumat daripada ayah mangsa tetapi terhad oleh kerana maklumat kurang tepat, undang-undang persekutuan mengenai murtad terhad, perlaksanaan undang-undang murtad enakmen Islam negeri terbatas, kebijaksanaan GMA menggunakan undang-undang bagi “melindungi” mangsa, memalsukan maklumat, bergerak secara rahsia, menggunakan rangkaian keluarga ayah mangsa dan menggunakan rangkaian dalam seperti Jab. Kebajikan Masyarakat.

Takrif Kerosakan Akidah

Sudut Prinsip: perkara ini memang sukar dikesan kerana melibatkan tasdik pada hati bahawa dia enggan lagi berpegang pada kepercayaan Islam dan mengamalkan cara ibadat Islam. Namun sikap ini dikesan dalam percakapan, sikap, engkar dan ikutan yang keluar dari akidah Islam.

Sudut Perbuatan: perkara ini mudah dikesan seperti mengamalkan upacara mandi Kristian (baptis), tukar pada nama Kristian, ikuti ceramah dan aktiviti gereja, anti-Islam, anggap Islam kongkong, mendera dan menyusahkan, tidak solat, berpuasa, memakai salib (rahsia), bertatoo (rahsia) pada badan.

Gerakan Merosakkan Akidah

World Council of Churches memang sudah lama membiayai, merencana dan melaksanakan ‘perang’ salibiyyah melalui pendakyah Kristian dan “askar” gereja/vatican terlatih melalui persatuan kebajikan yang sah seperti WAO (Women Action Organization), Rotary, Lion dan Interact Club di Malaysia. Gerakan Free Masonary Movement menjadi payung kepada hampir kesemua badan antarabangsa termasuk WCC itu.

Dari sudut sejarah, GMA di Malaysia bermula dengan tertubuhnya CMS (Church Missionary Society) pada 12 April 1799 di England. CMS bergerak ke seluruh dunia secara berperingkat. Di antara badan bertaraf antarabangsa yang mempunyai banyak peruntukan kewangan ialah WCC (World Council od Churches). Kesemua badan ini terletak di bawah badan induk Free Masonary Movement.

WAO (Women Action Organization), yang diiktiraf Jab.Kebajikan Masyarakat (JKM) sebagai tempat selamat bagi gadis/wanita dibawah jagaan JKM, telah menyaman JAIS kerana “mendera” wanita Islam dalam Pusat Pemulihan Aqidah JAIS di Sabak Bernam.

Rotary Club: bersifat sukarelawan dalam kerja kebajikan; keahlian daripada orang kenamaan dan juga orang Melayu. Minuman arak dan pergaulan bebas menjadi budayanya.

Lion Club: mempunyai latar belakang sukarelawan dan terdiri daripada orang kaya serta orang, kenamaan dan mempunyai “chapter” serta rangkaian rapi; upacara “pertabalan” ketua chapter adalah ala gereja.

Interact: rangkaian pelajar IPTA/IPTS untuk kerja kebajikan dan sukarelawan. Membawa ramai remaja ke majlis bebas yang esklusif – dibudayakan minuman arak dan pergaulan bebas.

Lodge: Kelab esklusif dan pertemuan dibuat di tempat rahsia dan kadang kala di “Grand Lodge” dan “Freemason House”. Pernah suatu ketika dipersoalkan di Parlimen kerana peranannya “kerajaan dalam kerajaan” dan ramai pegawai tinggi kerajaan terlibat. Gerakan Freemason diharamkan tetapi masih berjalan secara rahsia.

Seringkali “terserempak” dengan pertemuan rahsia mereka di rumah rumah banglo dan hotel mewah di Fraser Hill dan Cameron Highlands.

Kaedah GMA Merosakkan Akidah Mangsa

GMA mempunyai susunan yang rapi dengan bermula dari tempat sasar, berpengkalan sehingga ke tempat mangsa menerima belai kasih dan layanan istimewa dan diberi kehormatan. Setiap pengendali (2-3 orang) sel diberi upah lumayan. Mangsa tidak boleh lari semudahnya setelah tiba ke peringkat sel B. Rasional kaedah ini ialah GMA sedar bahawa mangsa daripada keluarga pendakwah, aktivis Islam dan pegawai kerajaan mempunyai rangkaian sokongan (Polis, JAIS) yang rapi.

GMA tahu bukan mudah hendak merosakkan akidah remaja Islam yang bijak, kuat agama dan daripada keluarga Islam (ulamak, pensyarah jurutera, peguam dsb). Taktik yang digunakan adalah cara halus (atas nama Islam), pukau, perangkap, terbalikan fikiran, simpanan dan akhirnya “perkahwinan” melalui banyak sel sehingga susah dikesan. GMA juga gunakan kewangan yang banyak dan upahan lumayan (dianggarkan maksima RM150,000 seorang mangsa).

Sel E: tempat ini dikendali oleh seorang ‘virus’, biasanya rakan mangsa sekelas/tempat kerja. Tempat ini diguna untuk ‘memilih’ sasar, dan biasanya di sini tempat pertama mangsa bersinggah setelah berjaya dikeluarkan dari kampus atau keluarga. Mangsa diperkenalkan pada “kekasih pujaan”nya sama ada lelaki atau perempuan. Upah pada Sel E ialah RM 3-5 ribu. Pada peringkat ini keluarga mangsa boleh kesan dan selamatkan kerana selalunya rumah sewa oleh virus adalah “terbuka”.

Sel D: tempat ini biasanya kelihatan selamat kerana dikendalikan oleh satu/ beberapa keluarga. Mangsa tidak sedar bahaya yang akan dihadapinya kerana suasana kekeluargaan yang wujud. Keadaan berbeza menurut keadaan mangsa. Upah pada peringkat ini ialah 5 – 7 ribu. Peringkat ini sukar sedikit dikesan oleh keluarga mangsa kerana tempatnya terpencil dan tidak diduga, kecuali mendapat maklumat (cara pujuk/paksa) dari virus-kalau atau sempat “tahan” virus itu. Tindakan perlu pantas kerana peralihan mangsa ke sel C lebih menyulitkan.

Sel C: Mangsa dibawa kesebuah “keluarga” untuk berpengkalan beberapa lama. Di sini mangsa diterbalikan fikiranya, diberi minuman “holy water”, dibelai kasih, dighairahkan dengan wanita “berpakaian” seksi, diberi kebebasan mutlak, sentiasa dijagai oleh teman pujannnya semenjak sel E, dimandi (baptis) dan diberi nama Kristian, diberi kesoronokkan hingga lupa keluarga dan tujuan hidupnya, diracun fikiran terutama ke atas ayahnya(seperti boros, kahwin dua). Peringkat ini sukar keluarga mangsa mengesan anaknya kecuali dengan risikan dalaman, tempat itu di ketahui. Namun apabila dilawat didapati mangsa “melarikan” diri atau sentiasa “keluar”, susah ditemui. Di sini satu upacara diadakan setiap masa pada lewat malam (1 pagi ketas), dan biasanya jiran hanya tahu pertemuan rakan anaknya; dan kalau dilawati pada masa biasa kononya ada majlis “bacaan Qur’an” dan “usrah”. Sekiranya keluarga mangsa mendesak dia akan menghadapi peras ugut seperti (pemukul anak, pengongkong) dan dilaporkan pada polis sebagai “penceroboh”, “pemukul” dan “pendera”, walau pun keluarga mangsa datang dengan baik. Fitnah keatas ayah mangsa juga disebar luas dikalangan saudarnya.

Sel B: Disini mangsa di “hancurkan” supaya dia tidak akan lagi pulang pada keluarganya; seperti dipaksa (dicabar oleh teman pujaanya) minum “arak” terlalu banyak sehingga hilang akal & pedoman; pada masa itu di “kerjakan” – di”rogol” atau dicabuli kohormatannya (gambar bogel); setelah sedar diberi pilihan sama ada pulang ke keluarga dan hadapi deraan dan seksaan kerana telah “berzina” atau pada “keluarga” pilihannya yang sanggup memberi “perlindungan” dan “belai Kasih”. Keluarga mangsa yang berterusan mengesan anaknya akan diperas ugut dan dihalang. Apabila ayah mangsa bertekad juga , rangkaian keluarga akan diguna supaya meyakinkan sanak saudarnya lain bahawa mangsa“mesti dinikahkan”,“sudah terlanjur”-tanpa mengira wali yang sah (ayahnya) dan risiko yang akan dihadapi – usaha mengenepikan wali juga dijalankan seperti peras ugut akan adakan “open-court hearing” kononya hendak mendedahkan kejelekkan wali, pej. Qadi di yakinkan atas kelakuan “bengis” ayahnya, ayahnya sentiasa di gelar “pembohong”, “pemukul”, “berbomoh” dan “bergangster”.Upahan RM 30 – 80 ribu peringkat sel B.

Sel A: apabila Sel B dijadikan pendinding bagi menghalang keluarga mangsa, mangsa dialihkan ke Sel A, biasanya dalam kawasan lain dari tempat Sel B. Kadang kala “diumum” (melalui jiran) bahawa kononnya mangsa berehat di sel B, walau pun sebenarnya di sel A. Di sini mangsa dilatih sebagai pendakyah “Kristian”. Sasaran pertama ialah adik beradiknya. Segala maklumat bagi mensasar adiknya yang terdekat diberitahu mangsa. Kerja mensasar dan menjebak dibuat oleh orang lain. Mangsa sendiri dilatih menjalankan kerja ke atas sasaran mangsa lain. Sekiranya mangsa “cemerlang”, mangsa akan dipilih keluar negeri. Apabila ayah mangsa berjaya menyelamatkan adik mangsa keadaan adik mangsa terlalu teruk sehingga adik mangsa pernah berkata “Ayah, bunuh sahajalah kakak itu, lain orang jadi mangsa nanti”.

Lodge: Di sini mangsa yang sudah berpendidikan tinggi (di luar negeri) akan menjadi pendakyah terkenal di kalangan paderi Kristian. Mangsa mendapat kelebihan berada di majlis pertemuan rahsia GMA antarabangsa dan menghadiri persidangan Kristian antarabangsa.

Grand Lodge: Keahliannya terdiri daripada orang kenamaan masyarakat dan merekalah yang telah “merestui” pengambilan mangsa dari keluarganya atas latar belakang tertentu dan potensi yang dilihat setelah mangsa cemerlang di Sel A. Apa sahaja tindak tanduk keluarga mangsa akan dihalang melalui rangkaian orang kenamaan (seperti mempengaruhi Ketua Polis Negeri, Pej. Mufti, Qadi dsb.)

Contoh A2: Pelajar Kejuruteraan

Sel E: A2 dikenalpasti. A2 diperkenal rakan sekelas pada teman lelaki pujaan (tidak belajar).

Sel D: A2 jarang pulang rumah dan selalu ke tempat “landing” di Tasek Ampang/ Subang Jaya.

Sel C: A2 dijinakkan dengan keluarga teman lelaki pujaan di Cheras dan mulai dihasut membenci ayahnya. A2 dijauhkan diri dari keluarganya. Di sini A2 bertukar nama Kristian dan diberi rantai pujaan.

Sel B: A2 dihancurkan dalam satu upacara diiringi 3 lelaki (India, Cina dan temannya, Melayu) dengan dipaksa minum satu botol arak.

A2 terus dilindungi dari cubaan ayahnya mendapatkannya. A2 di ‘kahwinkan”.

Sel A: A2 menjadi pendakyah dan diguna untuk mensasar kakaknya A1 dan berada di Gombak, bersedia keluar negeri.

Contoh A2: Pelajar Akauntan

Sel E: A1 dikenalpasti. A1 diperkenal rakan sekelas pada teman perempuan pujaan (baru habis belajar).

Sel D: A1 selalu ke tempat “landing” di Bangi Indah. Dari situ A1 dibawa ke Sel C tanpa pegetahuan ibu bapanya.

Sel C: A1 dijinakkan dengan keluarga teman perempuan pujaan di suatu rumah terpencil kawasan sawah padi Sg. Besar dan sedang di atur ke sel B. Alhamdulillah, berkat bulan Ramadhan dan usaha ramai pihak, A1 berjaya diselamatkan secara aman dan sekarang dikawal. Tetapi A1 sentiasa hendak ke sana sehingga sanggup tidak belajar lagi dan tidak peduli masa depannya.

Amanat Penting Kepada Ibu Bapa Tanpa Undang-undang Murtad

Selalu ikuti rakan sekelas anak seperti mengajak kerumah dan makan bersama bagi mengesan tanda awal yang anak sedang disasar.

Sekiranya “hilang” dari kelas, cepat dapatkan maklumat dari rakan sebilik dan pantas pergi ambil pada hari itu juga.

Sekiranya didapati hilang cepat buat laporan Polis atas sebab “anak hilang dari rumah”.

Apabila dijumpai dan dibawa ke Balai Polis, terus dapatkan Jab. Kabjikan Masyarakat (JKM) menahan anak dan keluarkan perintah mahkamah supaya di hantar ke rumah pemulihan yang sesuai. Dapatkan bantuan/nasihat JKM mengenai pemulihan akhlak/akidah.

Ibu bapa perlu usahakan pemulihan di tempat tersebut dengan sendiri.

Amanat Bagi Umat

Serangan Salibiyyah ala moden di zaman IT amat merbahaya dan Malaysia/Indonesia menjadi sasaran penting kerana kebangkitan Islam semenjak 1970.

Kerajaan perlu mempercepatkan kelulusan undang undang murtad dengan. Takrif yang luas sebagai instrumen membenteras ancaman terbaru pada negara dan ummat.


[1] (Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain)

[2] (Lihat Kitab As-Somt no 211, berkata Syaikh Abu Ishaq Al-Huwaini : “Rijalnya tsiqoh”)

[3] (Bahjatun Nadzirin 3/6)

[4] (yaitu merubah rasanya atau baunya karena saking busuk dan kotornya perkataan itu –pent, sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Salim Al-Hilali dalam Bahjatun Nadzirin 3/25, dan hadits ini shohih, riwayat Abu Dawud no 4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)

[5] (Kitabuz Zuhud jilid 3 hal 748)

[6] (maksudnya walaupun saya mendapatkan kedunaiaan yang banyak). (Hadits Shohih, riwayat Abu Dawud no 4875, At-Thirmidzi 2502 dan Ahmad 6/189)

[7] (Bahjatun Nadzirin 3/26)

[8] (Bahjatun Nadzirin 3/27)

[9] (Riwayat Ahmad (3/223), Abu Dawud (4878,4879), berkata Syaikh Abu ishaq Al-Huwaini : Isnadnya shohih, lihat kitab As-Somt hadits no 165 dan 572)

[10] (Subulus Salam 4/299)

[11] (Taisir karimir Rohman, tafsir surat Al-Hujurot 12)

[12] (Bahjatun Nadzirin 3/29,30)

[13] (Syarah Riyadlus Sholihin 1/78) (Sedangkan hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Abi Dunya dalam kitab Ash-Shomt no 291, berkata Syaikh Abu Ishaq : “Maudlu”, berkata As-Subki :”Dalam sanad hadits ini ada rowi yang tidak boleh dijadikan hujjah, dan kaidah-kaidah fiqh telah menolak (isi) hadits ini karena dia adalah (menyangkut) hak seorang manusia maka tidak bisa gugur kecuali dengan berlepas diri, oleh karena itu dia (si pengghibah) harus meminta penghalalan/perelaan dari yang dighibahi. Namun jika yang dighibahi telah mati dan tidak bisa dilaksanakan (permohonan penghalalan tersebut), maka berkata sebagian ulama : “Dia (si pengghibah) memohon ampunan untuk yang dighibahi”).

[14] (Riwayat Thirmidzi 2004, Ahmad (2/291,292), dan lain-lain. Berkata Syaikh Salim Al-Hilali : “Isnadnya hasan”)

[15] (Tuhfatul Ahwadzi hal 63)

[16] (Bahjatun Nadzirin 3/33).

[17] Ini adalah perkataan As-Syaukani. Namun hal ini dibantah oleh Syaikh Salim, yaitu bahwasanya ayat ini (An-Nisa’ 148) menunjukan hanyalah dibolehkan orang yang dizolimi mencela orang yang menzoliminya jika dihadapan orang tersebut. Adapun mengghibahnya (mencelanya dihadapan manusia, tidak dihadapannya) maka ini tidak boleh karena bertentangan dengan ayat Al-Hujurot 12 dan hadits-hadits yang shohih yang jelas melarang ghibah. Karena ghibah hanya dibolehkan jika dalam dhorurot. (Bahjatun Nadzirin 3/36,37)

[18] (Riwayat Bukhori dalam Al-Fath 9/504,507, dan Muslim no 1714)

[19] Dan ini merupakan tafsir dari riwayat :(ia tidak pernah melepaskan tongkatnya dari bahunya)

[20] (Bahjatun Nadzirin 3/35). As-Syaukani menjelaskan :Jika yang tujuan menyebutkan aib-aib orang yang berbuat dzolim ini untuk memperingatkan manusia dari bahayanya, maka telah masuk dalam bagian ke empat. Dan kalau tujuannya adalah untuk mencari bantuan dalam rangka menghilangkan kemungkaran, maka inipun telah masuk dalam bagian ke dua. Sehingga menjadikan bagian kelima ini menjadi bagian tersendiri adalah kurang tepat.(Bahjatun Nadzirin 3/45,46)

~ oleh ANUAR AHMAD di Mac 12, 2009.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: