HIMPUNAN ARTIKEL ILMIAH (A)


HIMPUNAN ARTIKEL ILMIAH (A)

SHAMSUL ANUAR AHMAD

:: 10 AMALAN YANG TERBALIK ::

Marilah kita bermuhasabah @ menilai dan menghitung kembali tentang amalan harian kita. Kadang2 kita akan dapati amalan kita adalah terbalik atau bertentangan dari apa yang patut dilakukan dan dituntut oleh Islam. Mungkin kita tidak sedar atau telah dilalaikan atau terikut2 dgn budaya hidup orang lain. Perhatikan apa yang dipaparkan di bawah sebagai contoh amalan yang terbalik: –

1. Amalan kenduri arwah beberapa malam yang dilakukan oleh keluarga si mati selepas sesuatu kematian (malam pertama, kedua, ketiga, ketujuh dan seterusnya) adalah terbalik dari apa yang dianjurkan oleh Rasulullah di mana Rasulullah telah menganjurkan jiran tetangga memasak makanan untuk keluarga si mati untuk meringankan kesusahan dan kesedihan mereka. Keluarga tersebut telah ditimpa kesedihan, terpaksa pula menyedia makanan dan belanja untuk mereka yang datang membaca tahlil. Tidakkah mereka yang hadir makan kenduri tersebut khuatir kalau2 mereka termakan harta anak yatim yang ditinggalkan oleh si mati atau harta peninggalan si mati yang belum dibahagikan kepada yang berhak menurut Islam?

2. Kalau hadir ke kenduri walimatul urus (kenduri kahwin) orang kerap salam berisi (hadiah wang yang diberi semasa bersalam). Kalau tak ada duit nak dikepit dalam tangan, maka segan ia nak pergi makan kenduri. Tetapi kalau ia menziarahi orang mati, tidak segan pula salam tak berisi. Sepatutnya kalau menziarahi keluarga si matilah kita patut memberi sedekah. Kalau ke kenduri kahwin, tak bagi pun tak apa kerana tuan rumah panggil untuk diberi makan bukan untuk ia menambah pendapatan.

3. Ketika menghadiri majlis pemimpin negara kita berpakaian cantik, kemas dan segak tetapi bila menghadap Allah baik di rumah mahupun di masjid, pakaian lebih kurang saja bahkan ada yang tak berbaju. Tidakkah ini suatu perbuatan yang terbalik.

4. Kalau menjadi tetamu di rumah orang dan di beri jamuan, kita rasa segan nak makan sampai habis apa yang dihidangkan kerana rasa segan dan malu, sedangkan yang dituntut dibanyakkan makan dan dihabiskan apa yang di hidang supaya tuan rumah rasa gembira dan tidak membazir.

5. Kalau bersolat sunat di masjid amat rajin, tapi kalau di rumah, sangat malas. Sedangkan sebaik2nya solat sunat banyak dilakukan di rumah seperti yang dianjurkan oleh Rasulullah untuk mengelakkan rasa riak.

6. Bulan puasa adalah bulan mendidik nafsu termasuk nafsu makan yang berlebihan tetapi kebanyakan orang mengaku bahawa dalam carta perbelanjaan setiap rumah orang Islam akan kita dapati perbelanjaan di bulan puasa adalah yang tertinggi dalam setahun. Sedangkan sepatutnya perbelanjaan di bulan puasa yang terendah. Bukankah terbalik amalan kita?

7. Kalau nak mengerjakan haji, kebanyakan orang akan membuat kenduri sebelum bertolak ke Mekah dan apabila balik dari Mekah tak buat kenduri pun. Anjuran berkenduri dalam Islam antaranya ialah kerana selamat dari bermusafir, maka dibuat kenduri, bukan kerana nak bermusafir, maka dibuat kenduri. Bukankah amalan ini terbalik? Atau kita mempunyai tujuan lain.

8. Semua ibu bapa amat bimbang kalau2 anak mereka gagal dalam peperiksaan. Maka dihantarlah ke kelas tuisyen walau pun banyak belanjanya kalau anak tak boleh baca Quran atau solat, tak bimbang pula bahkan tak mahu hantar tuisyen baca Quran atau kelas khas mempelajari Islam. Kalau guru tuisyen sanggup dibayar sebulan RM20.00 satu pelajaran 8 kali hadir tapi kepada Tok Guru Quran nak bayar RM15.00 sebulan 20 kali hadir belajar pun menggeletar tangan. Bukankah terbalik amalan kita? Kita sepatutnya lebih bimbang jika anak tidak dapat baca al-Quran atau bersolat.

9. Kalau bekerja mengejar rezeki Allah tak kira siang malam, pagi petang, mesti pergi kerja. Hujan atau ribut tetap diharungi kerana hendak mematuhi peraturan kerja. Tapi ke rumah Allah (masjid) tak hujan, tak panas, tak ribut pun tetap tak datang ke masjid. Sungguh tak malu manusia begini, rezeki Allah diminta tapi nak ke rumahNya segan dan malas.

10.Seorang isteri kalau nak keluar rumah sama ada dengan suami atau tidak, bukan main lagi berhias. Tetapi kalau duduk di rumah, masya-Allah. Sedangkan yang dituntut seorang isteri itu berhias untuk suaminya,bukan berhias untuk orang lain. Perbuatan amalan yang terbalik ini membuatkan rumah tangga kurang bahagia.

Cukup dengan contoh2 di atas. Marilah kita berlapang dada menerima hakikat sebenarnya. Marilah kita beralih kepada kebenaran agar hidup kita berada pada landasan dan ajaran Islam yg sebenar bukan yang digubah mengikut selera kita. Allah yg mencipta kita maka biarlah Allah yang menentukan peraturan hidup kita.

Wallahhu-Alam.


Abd al-Razzaq b. Abd Muthalib
Kuliyyah Ilmu Wahyu, UIA.

Studi Amerika: Kepentingan Israel Di atas Kepentingan Amerika

taken from : http://www.infopalestina.com/

Ahmad Muwaffiq

(Harian Asy Syarq Qatar, 06/04/2006)

Sebuah studi yang dilakukan oleh dua Profesor, John Mershamr dan Steven Walt sangat berani bertajuk “Lobi Yahudi dan Politik Luar Negeri Amerika” mengungkap sisi-sisi hakikat yang cukup mencengangkan soal bargaining dan pengaruh lobi ini di internal Amerika. Studi ini mengungkap, apa yang diistilahkan dengan Israel sebagai koalisi Amerika di kawasan Timteng berubah menjadi beban strategi Amerika pasca perang Teluk dan pesta pora Israel dalam memerangi Palestina. Penulis menggunakan istilah “Israel” bukan sebagai pengakuan terhadap eksistensi mereka yang merupakan kanker di tubuh umat.

Sejumlah hakikat dan realitas sebagian sudah diketahui dan sebagian tidak ingin penulis sampaikan kepada pembaca:

1. Studi di atas – yang katanya merupakan kerja para ahli, pakar dan wartawan Israel – mengungkap bahwa Israel sejak perang dunia kedua menerima 140 milyar dollar Amerika ditambah 3 milyar USD setiap tahun. Jumlah ini setara dengan 1/5 anggaran bantuan dana luar negeri Amerika. Ini berarti Israel adalah negara satu-satunya yang diminta oleh Amerika untuk terbuka dalam alokasi dana bantuan tersebut. Sebagian dana itu dialokasikan Israel untuk membangun permukiman Yahudi meski pembangunannya di Tepi Barat ditentang sendiri oleh Amerika. Washington juga memberikan hak kepada Tel Aviv untuk memperoleh informasi kepemilikan senjata nuklir yang dilarang bagi anggota NATO.

2. Amerika adalah satu-satunya negara di dunia yang memberikan pelatihan militer kepada Israel di militer nasional negara adidaya ini. Anggota Kongres Amerika yang beraliran zionis Kristen, Dick Armi pada September 2002 mengatakan, “Prioritas pertama dalam politik luar negeri bagi saya adalah menjaga Israel”. Ia seakan lupa dengan kepentingan negerinya sendiri. Sebagai bukti bahwa pekerjaan Amerika bertentangan dengan kepentingan-kepentingannya sendiri dengan mendukung dan menjaga “Israel”, pemberian Amerika berupa 2,2 milyar USD untuk Israel selama perang Ramadhan 1973 sehingga Arab melakukan embargo minyak kepada Amerika. Kemudian terkait dengan mitos “Israel” adalah penjaga kepentingan Amerika di kawasan Timteng, selama revolusi Iran, Amerika justru tidak lagi percaya dengan kemampuan “Israel”. Ameriak kemudian segera membuat pasukan intervensi sehingga “Israel” berubah menjadi beban strategi. Pada April 2004, 52 mantan diplomat Inggris mengirim surat kepada Tony Blair yang isinya “politik Amerika – Inggris terhadap Israel telah meracuni hubungan Barat dengan Arab. Mereka juga mengingatkan politik Bush – Blair terhadap Sharon yang disebut sepihak dan tidak sesuai dengan hukum”.

3. Studi di atas memberikan data bahwa gerakan zionisme politik di awal abad 19, hanya 15.000 Yahudi di Palestina. Pada tahun 1893 misalnya, bangsa Arab adalah 95% dari penduduk Palestina. Ketika negara “Israel” dibentuk, Yahudi di Palestina hanya 35% dari penduduk dan mereka hanya menguasai 7% dari wilayah Palestina.

4. Studi di atas mengutip perkataan Ben Goriun kepada Nahom Goldman, ketua parlemen Yahudi pertama di dunia “Kalau saya adalah salah satu pemimpin Arab, aku tidak akan selamanya menandatangani kesepakatan dengan Israel. Ini wajar sebab kita merampas tanah mereka, kita datang ke sini dan mencuri wilayah mereka”.

5. Hasil Intifadhah pertama dan pernyataan Yizhak Rabbin yang berjanji akan “menghancurkan tulang-tulang” rakyat Palestina dijadikan studi di atas sebagai bukti. Data statistic organisasi Swedia “save child” menyebutkan bahwa 23.000 hingga 29.000 anak mengalami luka selama masa Intifadhah sementara usia mereka belum genap 10 tahun. Sepertiga dari mereka mengalami patah tulang tetap dan Israel membunuh rata-rata 3,4 Palestina banding 1 orang Israel yang terbunuh. Dan Israel membunuh 5,7 anak Palestina banding 1 anak Israel. inilah yang kemudian mendorong penjahat sekelas Ehud Barak mengatakan, “kalau lahir seorang anak Palestina maka ia akan bergabung dengan Intifdhah,”

6. AIPAC tidak ragu lagi adalah representasi Lobi Yahudi di Amerika. Studi di atas mengutip ucapan Sharon, “Ketika saya bertanya bagaimana mungkin mendukung Israel, maka jawabnya bantulah AIPAC. (atb)

Adab – Adab Pergaulan.

Dipetik daripada Kitab Mau’izatul Mu’minin, karya Imam Al-Ghazali

Jika kamu ingin berbual secara baik dan sopan, maka ikutilah petunjuk-petunjuk ini :

Hadapilah kawanmu atau musuhmu itu dengan wajah yang menunjukkan kegembiraan

dan kerelaan serta penuh kesopanan dan ketenangan. Jangan sekali-kali kamu

menampakkan sikap angkuh, sombong dan berasa tinggi diri. Rendahkanlah dirimu

tapi bukan kerana perasaan kurang harga diri. Dalam segala hal, letakkan menurut

ukuran yang pertengahan, sebab sesuatu yang berlebihan dari segala macam perkara

itu pasti tidak baik dan tercela.

Jangan gemar melihat di kedua sampingmu, kanan atau kiri. Jangan pula banyak

menoleh ke mana-mana. Jangan pula terlampau tajam memandang orang lain. Jikalau

engkau duduk, maka janganlah seolah-olah sebagaimana orang yang tidak tenang

duduknya dan seperti orang yang hendak melompat-lompat sahaja.

Usahakanlah supaya dudukmu itu sentiasa tampak tenang, kata-katamu selalu teratur

dan tertib. Dengarlah hati-hati percakapan orang yang ada di mukamu, tanpa

menunjukkan kehairanan yang amat sangat. Jangan pula engkau biasa meminta orang

lain mengulangi perbicaraannya. Jikalau ada hal-hal yang mentertawakan, maka

diamlah secepat mungkin.

Janganlah dalam bercakap-cakap itu engkau membanggakan dirimu sendiri,

anak-anakmu, rambutmu, karangan-karanganmu atau apa sahaja yang engkau anggap

suatu keistimewaan dalam dirimu atau keluargamu.

Jikalau engkau berdebat, pegang teguhlah kesopanan. Janganlah engkau dianggap

manusia yang bodoh dan tolol oleh orang lain, terutama oleh lawanmu. Jauhkanlah

sikap tergesa-gesa, fikirkanlah masak-masak hujah atau bantahanmu. Jangan sesekali

berisyarat dengan menggunakan tangan dan jangan pula suka menoleh ke belakang.

Jikalau engkau sedang marah, diamlah dulu dan setelah reda kemarahanmu,

ucapkanlah isi hatimu dengan baik.

Adab sopan ketika berdoa

Sebagai umat Islam kita yakin dengan hidayat dan nikmat Allah, kita sering

berdoa memohon sesuatu daripada-Nya. Justeru, kita menadahkan tangan,

terutama ketika kita menghadapi pelbagai kesulitan hidup.

Allah berfirman bermaksud:

“Berdoalah, nescaya aku perkenankan untukmu”.

Dalam sebuah kitab Hikam ada dijelaskan mengenai konsep doa. Menurut

kitab itu, apabila Allah melepaskan lidahmu untuk memohon, ketahuilah bahawa

Allah ingin memberikan pertolongan mengikut apa yang dipohon. Oleh yang

demikian, berdasarkan doa itu sendiri yang berfungsi sebagai jiwa ibadat, maka

proses doa itu adalah permohonan yang diatur dalam bentuk ayat yang

menyatakan suara hati seseorang hamba.

Ketenangan jiwa akan diperolehi apabila segala kesulitan yang membabitkan

diri manusia dilepaskan kepada Allah. Permohonan itu disusun dengan penuh

perasaan. Selepas itu jiwa kembali jernih, murni selepas dibulatkan segala

permasalahan – dalam bentuk jalinan kalimat, ditujukan pula kepada Allah.

Bertepatan dengan konsep doa itu sendiri sebagai perantara yang membabitkan

suatu ruang waktu yang tiada had dan batasnya, maka Allah sendiri menyuruh

setiap hambanya berdoa tanpa mengira keadaan dan masa.

Sebenarnya bentuk doa akan diperkenankan mengikut ketentuan Tuhan, asal

saja doa atau permohonan itu menuju ke arah kebaikan untuk diri, keluarga,

masyarakat dan umat sejagat.

Isi doa juga sewajarnya mengandungi unsur-unsur kesejahteraan umat,

memohon untuk kebahagiaan di dunia dan akhirat, murah rezeki, sihat tubuh

badan, tambahkan ilmu pengetahuan dan keimanan.

Islam melarang keras berdoa kepada Allah dengan motif yang tidak baik dan

bertujuan jahat, umpamanya seseorang memohon kepada Allah:

“Ya Allah, cabutlah nyawaku, aku tidak sanggup lagi

menghadapi kesusahan di dunia ini.”

Rasulullah tidak pernah memohon doa bertujuan untuk merosakkan umat

manusia, biar pun baginda seringkali menderita kerana perbuatan orang lain

terhadapnya.

Ruang hidup dan situasi untuk kita bertindak begitu luas. Misalnya, seseorang itu

gagal dan kecewa dalam sesuatu bidang yang disertainya, sesekali perlulah

beralih ke bidang lain yang berlainan, insya-Allah dengan semangat dan motivasi

yang baru, Allah akan menitipkan rahmat dan nikmat-Nya. Seiring itu juga, kita

perlu memperbanyakkan ibadat kepada Allah, kuatkan semangat serta berdoa

setiap masa.

Ketidaksesuaian sewaktu berdoa turut mempengaruhi kesempurnaan berdoa.

Di masjid atau surau dapat dilihat jemaah dalam pelbagai aksi sewaktu imam

melafazkan doa, ada yang memegang sapu tangan, buku dan majalah. Tak

kurang juga yang suka mencuit-cuit sesama sendiri.

Keadaan sebegitu tentunya tidak manis dan tidak sesuai pula dalam suatu

keadaan yang begitu mengharapkan pertolongan Allah. Kita sewajibnya berada

dalam keadaan penuh khusyuk, rasa rendah diri mengharapkan pertolongan

Allah saja.

Beberapa adab sopan seperti yang dianjurkan oleh agama perlulah sama-sama

diikuti sewaktu memohon pertolongan dari Allah. Imam Al-Ghazali

menyenaraikan perkara itu dalam Kitab Ihya Ulumu Din Jilid 1, halaman

306-309. Antaranya ialah:

1. Pada Hari Arafah, bulan Ramadan, hari Jumaat dan waktu sahur.

2. Dalam keadaan yang khusyuk seperti waktu sujud

3. Menghadap kiblat dan mengangkat tangan sampai ke garis ketiak, bukan

atas lutut.

4. Merendahkan suara, hanya sekadar dapat didengar oleh orang yang ada di

sisi kita.

5. Tidak perlu menggunakan kata-kata bersajak, cukuplah dengan kata-kata

yang sederhana serta merendahkan diri, tidak perlu berirama, namun

diutamakan doa yang berasal daripada Rasulullah s.a.w. dan sahabat.

6. Mempercayai dan berkeyakinan dengan doa itu. Tidak kecewa dan gelisah

jika doa belum lagi diperkenankan.

7. Memulakan doa dengan memuji Allah, jangan terus memohon apa yang

dihajati.

8. Taubat sebelum berdoa.

AD-DAULAH ISLAMIAH

Bismillah Walhamdulillah Was Salaatu Was Salaam ‘ala Rasulillah.

Tidaklah mencukupi kalau hanya kita menjadi muslim pada diri kita sendiri. Kita hanya bertindak

sebagai individu muslim yang beribadat kepada Allah (s.w.t), menghiasi dirinya dengan akhlak yang

baik dan tidak menyakiti seseorang, kemudian tidak ada lagi yang lain dari itu. Itu belum mencukupi

lagi.

Lebih dari itu, Islam kita adalah merangkumi urusan-urusan jemaah (masyarakat). Ia adalah

satu-satunya sistem hidup yang lengkap dan sempurna. Satu pemerintahan dan perundangan Islam.

Satu daulah dan negara. Islam kita adalah jihad dan satu umat. Inilah fahaman yang benar dan sahih

terhadap Islam. Fahaman itulah yang mengajarkan kita berbagai tanggungjawab dan kewajipan yang

meliputi kita. Wajiblah kita menyempurnakan dan melaksanakannya kerana ianya telah diperintahkan

oleh Allah (s.w.t). Dengan pelaksanaan itu dapat dibangunkan satu masyarakat manusia berasaskan

kaedah-kaedah atau dasar-dasar Islam di dalam segala jurusan; samaada dari segi politik, ekonomi,

perundangan, kemasyarakatan dan seterusnya. Kita mestilah memahami bahawa Islam ini mewajibkan

kita berusaha dan berjuang dengan bersungguh-sungguh supaya Islam berkuasa di muka bumi. Firman

Allah Taala:

“…sehingga tidak ada lagi fitnah dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah semata-mata.” (Al

Baqarah: 193)

Jadi wajiblah kita menyampaikan seruan agama ini kepada manusia seluruhnya. Seorang muslim tidak

mungkin boleh hidup sebagai muslim dengan KeIslaman yang sahih dan sempurna kalau dia

mengasingkan dirinya dari saudara-saudara muslimin dan tidak memperdulikan segala apa yang terjadi

kepada mereka, segala gangguan, sama ada berupa fitnah dan serangan dari musuh-musuh Allah

(s.w.t), musuh-musuh Islam, dari berbagai ceruk rantau di muka bumi.

“Barangsiapa yang tidak memperdulikan urusan muslimin maka dia bukanlah dari mereka. ” (Maksud

Hadith)

Tuntutan dakwah Islamiah di hari ini mewajibkan setiap umat Islam berusaha bersungguh-sungguh

membangunkan Ad Daulah al-Islamiah (pemerintahan Islam) yang melaksanakan syariat Islam. Bertitik

tolak dari situlah kita akan membangunkan kembali Al Khilafatul Islamiah (pemerintahan Islam sejagat).

Al Khilafatul Islamiah itu dahulunya telah ditipu dan dihancurkan oleh musuh-musuh Islam.

Betapa besarnya bahaya dan bencana yang telah menimpa umat Islam pada hari ini. Perpecahan di

kalangan umat Islam, serangan dari musuh-musuh Allah (s.w.t) sama ada dari luar atau dari dalam,

fitnah-fitnah terhadap muslimin yang bertujuan merosakkan akidah muslimin, masjid-masjid muslimin

yang dirosakkan, kehormatan wanita mereka yang dicabul, harta kekayaan dan bumi mereka telah

dirompak dan anak-anak muslimin dibentuk menurut kemahuan mereka. Ini semua adalah akibat dari

tidak adanya Ad Daulah Islamiah. Hanya AdDaulah Islamiah sahajalah yang mampu menyerang balas

segala anasir jahat musuh-musuh Islam itu.

Ad-Daulah-Islamiah yang mampu menyatu-padukan umat Islam dan melaksanakan ajaran Islam serta

menegakkan syariat Islam di selurnh dunia. Perlu juga dijelaskan bahawa mas’uliah atau tanggungjawab

mendirikan Ad Daulah Islamiah bukan sahaja terhad di kalangan Al Umara’ dan Al Ulama (pemerintah

dan ulama). Tanggungjawab ini hendaklah dipikul bersama. Wajib dipikul oleh setiap muslimin laki-laki

dan perempuan yang sedang berada di dalam zaman ini, di zaman kebangkitan Islam, di zaman

kebangkitan Dakwah Islam. Sesungguhnya seluruh muslimin di mana jua pun mereka berada, akan

menanggung dosa besar apabila mereka tidak berusaha dan tidak bekerja untuk membangunkan Ad

Daulah Islamiah.

[Utz Mustafa Masyhur]

Rasulullah saw bersabda dalam satu hadis riwayat Muslim, dari Abu Ruqaiyah bin

Aus adDari:

“AdDeen (ugama) itu adalah nasihat. Kami bertanya: Untuk siapa? Rasulullah

menjawab: untuk Allah, kitabNya, rasulNya, kepada semua pemimpin orang Islam dan

kepada semua orang Islam”.

Dari hadis di atas, jelaslah Rasulullah menghubungkan Deen atau ugama dengan

nasihat (peringatan). Amalan nasihat menasihati menjadi asas kepada ugama kita.

Adalah menjadi tanggungjawab setiap orang Islam untuk memberi nasihat

dan mendengar nasihat dan peringatan. Ini yang membezakan antara seorang Muslim

dari bukan Muslim.

Banyak ayat-ayat alQuran menyuruh kita supaya melaksanakan amalan ini. Maksud

firman Allah dalam surah AzZariyat ayat 55:

“Dan tetaplah memberi peringatan, kerana sesungguhnya peringatan itu bermanafaat

bagi orang-orang yang beriman.”

Tetapi ada segolongan manusia yang tidak suka diberi peringatan atau menganggap

peringatan itu sebagai “offensive” atau mengganggu “private life” mereka.

Mereka menganggap orang yang memberi peringatan itu adalah pengacau. Jika mereka

melakukan sesuatu mungkar, mereka akan menjauhi orang lain kerana takut diberi

peringatan tentang kesalahan yang dilakukan.

Golongan ini dinyatakan oleh Allah:

“dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya, iaitu orang yang akan

memasuki api yang besar (neraka).”

Mereka adalah orang-orang yang telah menutup pintu hati mereka dengan berbagai

prejudis and tidak berani untuk menghadapi kebenaran. Untuk golongan ini, Allah

memberi amaran:

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka,

Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila

mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami seksa

mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa (They were

plunged into destruction with deep regrets and sorrows)”. (maksud surah

An’aam:44)

Oleh itu marilah kita berdoa kepada Allah supaya dibukakan hati kita untuk

menerima segala nasihat dan peringatan yang baik supaya kehidupan kita sentiasa

mendapat bimbingan dariNya, sehinggalah sampai masa kita menemuiNya.

Adik dan Palestin

assalamualaikum w.b.t.

Bacalah dan Hayati Setiap Baris Kata Cerita Dibawah…..

Adik bangun pagi. Adik kesat mata. Walid yang kejut adik. Adik
mengantuk sangat. Adik tarik gebar semula. Tidur balik. Walid geleng
kepala bila nampak adik tidur balik. Walid tepuk belakang adik suruh
adik mandi. Lepas mandi adik pakai baju baru. Ummi kata hari ini Hari
Raya Aidilfitri. Semua orang pakai baju baru. Tapi adik tengok ummi
pakai baju buruk,walid pun pakai baju buruk. Ummi cuma senyum bila
adik mengajukan soalan itu. Ummi kata cukuplah adik seorang pakai
baju baru.

Walid pimpin tangan adik pergi masjid. Kami jalan kaki melalui denai-
denai kecil. Sepanjang jalan adik dengar takbir raya. Allahu Akbar
Allahu Akbar, La ilaha illallah huallahu akbar, Allahu Akbar wallilla
hilham.. Adik khusyuk dengar. Merdu. Adik angkat tangan ke
telinga,lagak seperti bilal masjid sambil menjerit takbir raya. Walid
cuma ketawa kecil melihat gelagat adik. Di persimpangan jalan, kami
bertemu Pak Cik Nassier jiran adik. Adik pandang walid. Walid ralit
berbual dengan Pak Cik Nassier. Adik dengar walid berbual tentang
syahid, Yassier Arafat dan lain-lain lagi. Nama negara adik
pun walid sebut, Palestin. Tapi adik tidak faham. Adik cuma mendengar.

Adik tiba di perkarangan masjid. Masjid itu besar,tersergam indah.
Masjid kebanggaan negara adik, Masjidil Aqsa.Walid pernah beritahu
adik, Masjidil Aqsa kiblat pertama sebelum Kaabah di Mekah. Masjidil
Aqsa juga adalah salah satu tempat suci dalam Islam. Nabi Muhammad
pun mengalami peristiwa Israk dan Mikraj di masjid ini. Adik buka
kasut dan masuk ke perut masjid. Adik lihat ramai orang. Semuanya
duduk dalam saf. Walid tarik adik duduk di penjuru masjid,kemudian
walid solat tahiyatul masjid.Adik ikut walid solat raya. Adik berdiri
betul-betul dekat dengan walid. Adik pandang walid. Bila walid angkat
tahbiratul ihram adik pun angkat. Mulut walid kumat kamit membaca
sesuatu. Adik pun ikut sama walaupun adik tak tahu apa yang adik
baca. Walid rukuk,adik rukuk. Walid sujud,adik sujud.

Adik membilang anak tangga selepas selesai solat raya dan bersalam-
salaman dengan jemaah yang lain. Walid ada di belakang adik. Suasana
ketika itu tenang dan damai. Adik suka ketenangan. Adik tarik nafas,
hirup dalam-dalam udara pagi. Tiba-tiba ketenangan itu diragut. Adik
nampak ramai orang bertempiaran lari. Adik juga nampak sekumpulan
askar yang memegang senjata sedang mara menuju ke arah masjid. Adik
dengar bunyi kuat. Bunyi tembakan. Walid dukung adik erat sambil
melaungkan takbir Allahu Akbar. Adik takut. Adik pejam mata. Kaki
walid yang kuat berlari tiba-tiba terhenti. Pautan tangan walid
longgar dan akhirnya terlerai. Adik rasa seperti sekujur tubuh
tumbang dan menghenyak adik. Adik pandang belakang. Mata adik
terbeliak. Adik nampak tubuh walid. Kepala walid berdarah. Adik
menjerit nama walid. Manik-manik jernih bergentayangan dan gugur satu
persatu dari tubir kelopak mata adik. Walid pandang adik. Walid cium
pipi adik. Walid suruh adik lari. Adik geleng kepala. Adik pegang
tangan walid. Adik hendak duduk di sisi walid. Walid senyum pada
adik. Mulut walid lemah menutur kalimah syahadah. Adik goyang tubuh
walid. Walid tidak bergerak. Walid
kaku. “Waliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiid!!!!!!!”

Adik kesat air mata. Adik lari kuat-kuat. Adik lari tidak kalih kiri
dan kanan. Sampai di rumah, adik terus menangis. Ummi hairan tengok
adik. Adik sebut nama walid berkali-kali.

Mayat walid di hantar ke rumah tidak lama selepas itu. Adik masih
menangis. Adik tengok ummi cium dahi walid. Ummi peluk adik. Beberapa
orang jiran cuba tenangkan ummi. Abang yang duduk di penjuru dinding
juga menangis. Abang dah besar. Umur abang enam belas tahun. Abang
pergi dekat walid,abang peluk dan cium walid. Selepas sembahyang adik
nampak orang angkat walid keluar rumah. Abang pun ikut sama. Adik
tidak ikut. Adik duduk rumah dengan ummi.Adik tanya ummi, mana
perginya walid. Diam. Adik tanya lagi sambil menongkat dagu
menunggu jawapan daripada mulut ummi. Ummi pandang adik, ummi kata
walid pergi ke satu tempat yang sangat cantik. Walid pergi tidak akan
kembali lagi. Adik cuma mengangguk.

“Adik nak ikut walid” Ummi geleng kepala dan peluk adik. Adik lap air
mata di pipi ummi. Adik senyum, ummi senyum.

Petang itu ramai kawan abang datang. Abang ajak mereka ke belakang
rumah. Adik berlari-lari anak ikut abang ke belakang. Abang tekun
membuat sesuatu. Sesuatu yang menyerupai senapang. Adik cuma duduk
diam dan tengok. Kawan-kawan abang pun khusyuk membuat kerja. Adik
menguap berkali-kali. Boring duduk diam tanpa melakukan sebarang
kerja. Tidak keletah adik dibuatnya. Mata adik melilau-lilau mencari
barang mainan. Adik nampak benda bulat seperti bola. Adik pergi dekat
cuba mencapai benda itu. Adik pegang dan belek. Sedang adik seronok
bermain, abang rampas ‘bola’ adik. Adik masam. Adik tarik muncung
empat belas. Adik marah pada abang. Abang tersenyum melihat tingkah
laku adik. Dengan lembut abang mencubit pipi montel adik. Abang
beritahu adik yang benda itu bom tangan bukannya bola seperti yang
disangka adik. Adik diam, kemudian berlari mendapatkan ummi. Merajuk.

Adik bangun awal pagi itu. Tidak seperti hari-hari lain, walid tidak
ada untuk kejut adik. Apabila teringat walid,mata adik berkaca. Adik
tidak mahu menangis. Adik orang lelaki. Orang lelaki tidak boleh
menanggis, orang lelaki kena kuat dan tabah. Adik nampak abang sedang
bersiap-siap. Abang galas beg besar. Semua benda yang abang buat
semalam abang bawa. Benda ulat seperti bola pun abang bawa. Kawan-
kawan abang semuanya sedang menungu di depan rumah. Abang cium tangan
ummi, minta izin untuk pergi. Ummi peluk abang,cium abang berkali-
kali. Adik cuma memandang dengan mata terkebil-kebil. Adik garu
kepala yang tidak gatal. Abang datang dekat adik. Abang dukung
adik,usap kepala adik. “Adik jaga ummi ya” pesan abang. “Abang nak
pergi mana” tanya adik seperti orang bodoh. “Abang nak pergi
berjuang”. Abang mengukir senyuman mengakhiri bicara.

Kelibat abang hilang ditelan kabus pagi. Hanya lambaian tangan adik
mengiringi pemergian abang. Lepas abang pergi ummi cerita macam-macam
perkara pada adik. Pasal Israel, pasal syurga, pasal jihad dan banyak
lagi.Semuanya adik tidak faham. “Isra..Israfil.” terkial-kial adik
menyebut perkataan itu dalam pelat yang pekat. “Bukan Israfil.
Israfilkan nama malaikat. Malaikat yang tiup sangka kala. Israel.”
Ummi membetulkan sebutan adik. “Is.ra.el” akhirnya adik berjaya
menyebutnya juga. Ummi ketawa kecil. Adik ikut ketawa menampakkan
sebaris gigi adik yang ronggak. Ummi kata Israel jahat. Israel musuh
umat Islam. Israel juga musuh Allah. Israel yang mencetuskan
peperangan di bumi Palestin. Israel yang bunuh walid. Adik benci
Israel. Adik benci sesiapa yang menjadi musuh Allah.

Adik lari keluar rumah. Adik pergi ke jalan besar. Ramai kanak-kanak
sebaya adik di situ. Mereka semua baling batu kepada sekumpulan
tentera yang bersenjata di seberang jalan. Adik ingat lagi, tentera
itulah yang bunuh walid. Merekalah Israel. Adik marah. Adik geram.
Adik capai batu, adik baling kuat-kuat. Adik pejam mata. Terbayang di
kepala adik peristiwa yang menimpa walid. Adik sertai kawan-kawan
adik yang lain; membaling batu. Kadang-kadang kami lari apabila
tentera itu menyerang balas. Ada juga kawan-kawan adik kena tembak.
Tumbang satu persatu. Adik nampak baju mereka merah berlumuran darah.
Adik lari menyorok di sebalik bangunan usang untuk menyelamatkan
diri. Adik lari bersama seorang kawan adik. Namanya Jamal. Dia
juga sama dengan adik. Walidnya juga pergi ke suatu tempat yang sangat
cantik dan tidak akan kembali lagi. Apabila keadaan semakin reda, adik
pulang ke rumah. Adik berjanji dengan Jamal untuk melontarkan batu
lagi pada keesokkan harinya.

Sesampai di rumah adik berasa sangat lapar. Adik cari roti di dapur.
Adik buka almari, adik cari dalam almari tapi tidak jumpa. Perut adik
mula berbunyi minta diisi. Adik sudah makan roti petang tadi tapi
adik masih berasa lapar lagi. Adik nampak ummi pegang roti. Itu
sajalah satu-satunya roti yang tinggal di rumah kami. Ummi tidak
makan apa-apa lagi sejak pagi tadi. Adik pergi dekat ummi. Ummi yang
baru menyuapkan roti ke mulutnya tersentak. Ummi keluarkan semula
roti dari mulutnya dan suapkan ke mulut adik. Adik kunyah dengan
gelojoh. “Ummi, kenapa kita hidup susah?” adik tanya pada ummi dengan
mulut dipenuhi roti. Ummi pangku adik di ribanya. Ummi mengelus
lembut rambut adik. “Kita kena sabar sebab sabar itu cantik” ujar
ummi perlahan. “Cantik macam syurga ker ummi?” adik tanya lagi.
Ummi senyum. “Nabi Muhammad pun hidup susah juga. Baginda dilontar
batu ketika menyebarkan dakwah di Taif. Malahan kaum Quraisy ramai
yang ingin bunuh nabi. Nabi sabar,nabi tak cepat putus asa” sambung
ummi lagi. Adik dengar dengan khusyuk. Adik nak jadi baik macam Nabi
Muhammad. Nama adik pun Muhammad. Walid yang cadangkan nama itu.
Walid hendak adik tabah dan cekal macam Nabi Muhammad.

Malam itu adik duduk bersila depan ummi sambil tangan memegang Al-
Quran. Adik ikat serban sendiri. Adik lilit serban ikut suka hati
adik. Sekejap adik lilit ke kiri, sekejap ke kanan. Kadang-kadang
serban itu tutup mata adik. Adik kuak sedikit kain serban ke atas
ketika hendak membaca Al-Quran. “Bismillahirrahmanirrahim..”
Adik baca Al-Quran dengan bersungguh-sungguh. Adik baca kitab Allah
itu dengan tekun. Ummi duduk depan adik sambil memerhati bacaan adik.
Adik hendak jadi macam abang. Umur enam tahun sudah khatam Al-Quran.
Adik baru umur tiga tahun. Adik kena baca Quran dengan rajin kalau
hendak khatam Al-Quran cepat macam abang. Adik ingat pesanan ummi.
Ummi kata Al-Quranlah satu-satunya harta yang paling berharga. Adik
ingin baca Al-Quran hari-hari. Adik tidak mahu ponteng baca Al-Quran.
Bacaan adik terhenti apabila pintu diketuk dan nama ummi dilaung-
laungkan dari luar. “Syukur ya Huda, anakmu Yassin mati syahid”muncul
Mak Cik Fatima di depan rumah. “Anakmu,anakmu adalah salah seorang
pengebom berani mati ya Huda. Tindakannya menyebabkan tujuh orang
askar Israel laknatullah terbunuh. Yassin dan tiga orang lagi pejuang
Hizbullah mati syahid. Semoga syurga menanti mereka kelak” terang Mak
Cik Fatima panjang lebar.

Ummi panjatkan doa pada Allah semoga roh abang ditempatkan dalam
golongan orang-orang yang beriman. Adik kaget. Nama
Israfil.bukan..Israel disebut lagi. Adik benci mendengar nama itu.
Kemarahan adik meluap-luap. Ummi beritahu adik abang telah pergi ikut
walid. Ummi kata ummi bangga mempunyai anak seperti abang. Adik masuk
tidur awal. Adik mimpi satu tempat yang sangat cantik. Adik nampak
walid dan abang di sana. Walid dan abang senyum pada adik. Adik cuba
kejar mereka tapi semakin adik kejar semakin mereka menghilang.

Keesokkan harinya, adik tunggu Jamal di tepi jalan seperti yang
dijanjikan.Lima minit berlalu Jamal tidak muncul-muncul juga. Hampir
setengah jam adik tunggu tapi Jamal tetap tidak muncul. Adik tidak
suka orang yang mungkir pada janji. Adik ingat lagi, salah satu ciri
org munafik ialah mungkir apabila berjanji. Adik tidak mahu jadi
munafik. Adik tanya kawan-kawan adik yang lain. Rupa-rupanya Jamal
juga seperti walid dan abang. Jamal pergi ke satu tempat yang cantik.
Tempat yang adik tidak tahu di mana letaknya. Semua orang yang adik
sayang pergi ke tempat itu. Mula-mula walid,kemudian abang dan
akhirnya Jamal.

Adik pulang ke rumah awal. Adik terkejut. Terkesima sebentar. Rumah
adik dikepung askar Israel. Mereka memang sedang mencari keluarga
adik ekoran tindakan berani mati abang mengebom kubu Israel. Tubuh
adik yang kecil memudahkan adik menyusup masuk ke dalam rumah. Adik
nampak ummi terpelosok di satu sudut. Adik lihat dengan mata adik
sendiri, tentera itu tendang ummi. Mereka sepak dan terajang ummi.
Tapi ummi masih bersabar. Ummi tidak putus-putus menyebut satu
kalimah keramat..Ahad..Ahad. Mata adik merah. Adik menahan marah.
Adik tidak suka orang pukul ummi. Adik sayang ummi. dik benci Israel.
Seorang tentera Israel mengacukan pistol ke arah ummi. Ummi dengan
tenang menghadapinya. Tiada pun segaris garisan gusar terpancar di
wajah ummi. Ketika peluru dilepaskan, tiba-tiba…..

“Muhammad!!!!!!!” Ummi menjerit sambil memegang tubuh adik. Badan adik
berlumuran darah. Pekat dan merah. Adik raba perut adik. Adik rasa
sakit. Sakit yang mencucuk-cucuk. Seketika tadi adik telah korbankan
tubuhnya untuk melindungi ummi. Natijahnya peluru itu merobek perut
adik yang tidak berdosa. Ummi peluk adik. Ummi menangis semahu-
mahunya. Adik cuba senyum pada ummi walaupun perit.

“Ummi.adik rasa mengantuk,adik nak tidur.Adik nak jadi mujahid,adik
nak ikut walid dan abang” terketar-ketar suara adik kedengaran di
cuping telinga ummi. Ummi angguk,berusaha sedaya upaya untuk menahan
air mata daripada jatuh bercucuran.Adik pejam mata. Adik nampak
walid, abang dan Jamal melambai-lambai ke arah adik.

wslm.

Dari Abdullah bin ‘Amr r.a., Rasulullah s.a.w. bersabda,
Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat…

AMALAN YANG PALING BAIK

Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

(( ))

Maksudnya: Amalan yang paling baik ialah beriman dengan Allah dan RasulNya.

Beriman dengan Allah dan RasulNya iaitu Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wa Sallam merupakan amalan yang paling baik dan utama serta dikasihi oleh Allah.

Amalan-amalan soleh seperti sembahyang, puasa, haji, zakat dan lain-lain tidak sah serta tidak diterima oleh Allah kecuali disertai dengan keimanan kepada Allah dan RasulNya.

Orang kafir yang tidak beriman dengan Allah dan RasulNya tidak diterima amalan kebaikan yang mereka lakukan. Bagaimanakah Allah hendak menerima kebaikan yang mereka lakukan dalam keadaan mereka kafir kepada Allah yang menjadikan mereka serta yang memberikan mereka kehidupan, rezeki dan lain-lain.

Oleh itu Allah hanya terima amalan kebaikan iaitu amalan soleh dari orang yang beriman dengan Allah dan RasulNya sahaja iaitu orang MUSLIM atau MUKMIN.

ALLAH TIDAK SAMA DENGAN SESUATU PUN

Allah Taala telah berfirman di dalam al-Quran, Surah al-Syura, ayat 11:

(( ))

Maksudnya: Tidaklah serupa denganNya sesuatu pun, dan Dialah (Tuhan) yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Allah menjadikan manusia, maka Allah bukan seperti manusia.

Allah menjadikan angin, maka Allah bukan seperti angin.

Allah menjadikan matahari, maka Allah bukan seperti matahari.

Allah menjadikan bulan, maka Allah bukan seperti bulan.

Allah menjadikan cahaya, maka Allah bukan seperti cahaya.

Allah menjadikan malaikat, maka Allah bukan seperti malaikat.

Allah menjadikan tumbuhan, maka Allah bukan seperti tumbuhan.

Allah menjadikan segala-galanya, maka Allah bukan seperti kesemua tersebut.

Allah tidak sama langsung dengan ciptaanNya.

Allah tidak boleh dibayangkan dan tidak boleh digambarkan kerana Dia adalah TUHAN

agak2nya topik ni boleh jadi panas tak?

SEKULAR ITU … PERANCANGANNYA

Sekular atau dalam bahasa Arabnya dipanggil “al-’Ilmaniyyah” diambil dari perkataan ilmu (dalam bahasa Arab = ‘ain, lam dan mim). Kononnya dari segi mafhum, ia bermaksud mengangkat martabat ilmu, jadi ia tidak bercanggah dengan mafhum Islam yang juga menjadikan ilmu sebagai satu perkara penting bagi manusia dan menyeru kepada ilmu sejak wahyu pertama lagi TETAPI sebenarnya penterjemahan kalimah sekular kepada “al-’Ilmaniyyah” hanyalah satu tipu daya dan berselindung di sebalik slogan ilmu. Sebenarnya kalau diperhatikan makna tersirat bagi sekular ialah “al-Ladiniyyah” yakni tanpa agama atau “al-La’aqidah” yakni tanpa akidah. Tokoh pemikir Islam Prof. Dr. Yusuf al-Qaradhawi pernah menyebut perkara ini di dalam penulisannya tentang sekularisme.

Istilah “al-’Ilmaniyyah” dipilih untuk mengabui mata umat Islam agar menerimanya kerana jika digunakan istilah “al-Ladiniyyah” atau “al-La’aqidah”, sudah pasti umat Islam akan menolaknya. Sebab itulah kita merasakan betapa jahatnya penterjemahan sekular kepada istilah “al-’Ilmaniyyah” dengan tujuan mengabui mata dan betapa jahatnya golongan ini yang ingin menutup perbuatan mereka tanpa diketahui oleh kebanyakan orang. Bagi anak didik sistem sekular, mereka tidak segan silu menerima dan bermati-matian mendokongnya kerana mereka memang telah diprogramkan untuk menyebarkan fahaman sekularisme. Namun bagi ulama-ulama Islam yang faham hakikat sebenar makna Islam, mereka bermati-matian pula menentang penyebaran fahaman ini yang jelas bertentangan dengan hakikat Islam. Jadi sudah tentu berlaku satu pertembungan antara pendokong sekularisme dan ulama-ulama Islam dalam mempertahankan “hakikat” masing-masing.

(SEKULARISME ANTARA TIMUR DAN BARAT)

Tidak menghairankan jika fahaman sekularisme mendapat tempat di barat. Ini berpunca dari pengongkongan gereja dan tindakannya menyekat pintu pemikiran dan penemuan sains. Ia bertindak ganas lagi dengan menguasai akal dan hati manusia, dengan erti kata lain segala keputusan adalah di tangan pihak gereja dengan mengambil kesempatan mengaut keuntungan dari pengikutnya dengan cara yang salah.

Eropah pernah tenggelam dengan darah mangsa-mangsa pihak gereja apabila ratusan malah ribuan orang mati di dalam penjara dan di tali gantung. Dengan sebab ini berlakulah pertembungan antara gereja dan sains yang akhirnya tertegaklah fahaman sekularisme yang bererti “memisahkan agama (kristian) dari negara”. Suasana kacau bilau dalam agama kritian hasil penyelewengan yang berlaku dalamnya (-ia berpunca dari perancangan yahudi-) memungkinkan tertegaknya fahaman sekularisme di samping agama kristian yang sedia ada. Sekularisme disebarkan untuk keluar dari kepompong gereja yang begitu teruk mengongkong pengikutnya. Masyarakat Eropah tertekan dan dizalimi di bawah pemerintahan gereja. Bagi pejuang sekular, mereka menganggap dengan berada di bawah kuasa gereja mereka tidak akan mencapai kemajuan. Sebab itulah mereka memutuskan tali ikatan diri mereka dengan gereja dan menjadi orang yang beragama kristian hanya pada nama tidak pada pengamalan agama.

Sekularisme adalah suatu kepercayaan atau fahaman yang menganggap bahawa urusan keagamaan atau ketuhanan atau gereja tidak harus dicampurkan dengan urusan negara, politik dan pentadbiran. Ringkasnya sekularisme adalah satu fahaman yang memisahkan antara urusan agama dan kehidupan dunia seperti politik, pentadbiran, ekonomi, pendidikan dan sebagainya. Yang jelas menurut faham sekular, soal bernegara, berpolitik, berekonomi dan sebagainya tidak ada kaitan dengan soal agama atau gereja.

Apabila fahaman sekularisme ingin dipindakan dari barat ke timur, golongan ini tidak menyedari (secara sengaja atau tidak) suasana di timur yang berpegang kuat dengan agama Islam. Sudah pasti ia tidak sekali-kali merelakan pemisahan agama (Islam) dari negara. Keadaan dalam Islam tidak sama dengan apa yang terjadi dalam kristian di mana sepanjang sejarah Islam tidak ada penzaliman terhadap penganutnya. Begitu juga Islam tidak membenarkan pemisahan agama (Islam) dari negara kerana negara mengikut fiqh Islam ialah sebahagian dari agama bukannya satu perkara yang berasingan. Dalam Islam, tidak mungkin tertegaknya agama (dengan sempurna) tanpa negara (yang boleh menguatkuasakan undang-undang agama) dan tidak mungkin tertegaknya negara (tanpa kacau bilau) jika tidak ada agama (yang boleh memandunya).

Al-Syahid Hasan al-Banna dalam “Majmu’ah Rasa’il” menegaskan bahawa Islam merupakan sistem sempurna yang merangkumi urusan kehidupan manusia semuanya. Ia merangkumi negara, kerajaan, rakyat, akidah, syariat, akhlak, ekonomi, keadilan, undang-undang, ilmu, jihad, dakwah, tentera dan lain-lain. Pendek kata tidak ada perkara yang dibiarkan melainkan Islam merangkuminya. Al-Quran sendiri telah menggariskan beberapa dasar umum untuk umat Islam dalam memandu kehidupan mereka. Sebagai contoh dalam bidang akidah (lihat surah Al-Imran ayat 19), bidang ibadat (lihat surah Al-Baqarah ayat 43), bidang sosial (lihat surah Al-Baqarah ayat 188), bidang politik (lihat surah Saba’ ayat 15), bidang undang-undang perlembagaan (lihat surah Al-Nisa’ ayat 59) dan juga bidang-bidang yang lain.

Islam tidak sekali-kali membenarkan penyebaran fahaman sekularisme di sampingnya dengan membahagikan tugas antara keduanya iaitu, Islam hanya berfungsi di dalam urusan akidah dan sekularisme pula berfungsi di dalam urusan syariat. Perkara ini tidak mungkin terjadi kerana Islam merupakan satu agama yang terkandung di dalamnya akidah dan syariat sekaligus dan ia tidak membenarkan pemisahan ini dilakukan seperti mana Islam tidak membenarkan tuhan-tuhan lain ditaati dalam bidang syariah seperti ditaatinya Allah dalam bidang akidah. Allah telah menegaskan dalam al-Quran bahawa agama yang diredhainya hanyalah Islam yang suci. FirmanNya yang bermaksud, “Sesungguhnya al-Din (agama) yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam”, surah Al-Imran
ayat 19.

Jadi untuk menyamakan Islam dengan agama kristian dan percubaan memasukkan fahaman sekular ke dalam Islam adalah satu kesilapan dan jenayah yang besar. Islam tidak seperti kristian kerana Islam datang dari Pencipta manusia iaitu Allah s.w.t, ia selamat dari cacat cela. Kristian pada asalnya agama tauhid tetapi telah diselewengkan oleh paderi-paderi untuk kepentingan mereka. Sekularisme bukan berasal dari Islam dan Islam berlepas tangan dari fahaman kufur ini dan tidak ada kena mengena dengannya. Sesiapa sahaja daripada umat Islam yang mengagungkan sekularisme iaitu dengan menganggap untuk maju tidak perlu beramal dengan Islam maka boleh membahayakan akidahnya.

Sekularisme bukan hanya sekadar berpandangan politik suku agama suku tetapi dengan menyempitkan ruang lingkup agama, itu juga termasuk dalam sekularisme seperti beramal dengan Islam secara separuh. Apa yang memberi keuntungan dan kemudahan diterima pakai manakala yang mendatangkan kesusahan ditolak tepi.

Sebab itulah perbuatan ini ditempelak oleh Allah melalui firmanNya surah al-Baqarah ayat 85, maksudnya : “adakah kamu percaya (beriman) kepada sebahagian kandungan Kitab (al-Quran) dan ingkar akan sebahagiannya? Sebaliknya Allah memerintahkan agar menerima Islam secara keseluruhannya melalui firmanNya surah al-Baqarah ayat 208 yang bermaksud, “wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam keseluruhannya”.

(CARA-CARA PENYEBARAN SEKULARISME)

Semenjak penjajah barat meletakkan kaki mereka ke bumi umat Islam, mereka berusaha sedaya upaya untuk menyebarkan fahaman sekularisme ini melalui pelbagai cara. Dengan keupayaan ilmu dan teknologi yang dimiliki serta pengalaman, mereka berjaya melaksanakannya. Cara-cara penyebaran fahaman sekularisme ini dilaksanakan melalui bidang pendidikan, media massa dan undang-undang. Tujuannya hanyalah untuk menjauhkan umat Islam dari agamanya.

(PENYEBARAN SEKULARISME MELALUI PENDIDIKAN)

Antaranya ialah :

1. Menyekat pengajian agama Islam secara material dan moral.

i. Sekatan secara material dilakukan dengan membuka pintu seluas mungkin kepada pengajian yang kosong dari ruh agama Islam (pengajian yang jauh dari penekanan agama). Pengajian sebegini akan dibantu dan dibangunkan serta diberi kemudahan dari segi material. Adapun pengajian agama Islam disempitkan bantuan kewangan ataupun tidak dibantu lansung. Sebarang bantuan lebih dicurahkan kepada pengajian sekularisme.

ii. Sekatan secara moral ialah dengan memperlekehkan golongan penuntut agama dan tuan-tuan guru mereka. Membeza-bezakan antara guru-guru agama dan guru-guru subjek lain dalam setiap keadaan memang satu perkara yang disengajakan. Begitu juga membeza-bezakan antara lepasan bidang agama dan lepasan bidang-bidang lain. Dari segi jawatan pula, lepasan bidang agama tidak banyak mendapat peluang disamping ganjaran dan status yang dipandang rendah tetapi bagi lepasan bidang-bidang lain agak mudah mendapat peluang dengan habuan dan status yang lumayan. Mereka ini akan tenggelam dalam “ketidaksedaran” dan akan menyebabkan orang ramai tidak kira tua muda akan lari dari agama dengan terpahat satu sikap dalam minda mereka iaitu “jika kita memilih bidang agama ianya tidak akan ke mana dan tidak akan menjamin hidup”, maka dengan itu mereka lebih cenderung kepada pengajian bidang bukan agama.

Bukanlah bermaksud di sini umat Islam tidak boleh mempelajari ilmu-ilmu selain dari ilmu Islam. Malah sebenarnya tidak ada istilah ilmu “bukan Islam”, seperti kedoktoran, kejuruteraan dan sebagainya. Ia juga merupakan ilmu Islam. Yang menjadi persoalannya ialah umat Islam telah diabaikan dari segi penekanan ilmu agama yang sepatutnya menjadi teras kepada mereka. Tidak salah seorang muslim itu menjadi doktor, tetapi biarlah dia menjadi doktor yang ada asas didikan Islam. Juga tidak salah seorang muslim itu menjadi jurutera, tetapi biarlah menjadi jurutera yang ada asas didikan Islam.

2. Menghantar pelajar Islam ke negara-negara bukan Islam untuk belajar. Misi penghantaran ini akan membuahkan hasilnya yang memang dinanti-nantikan iaitu pelajar itu bertambah jahil dengan agama, nilai serta adat yang baik dan akan menyebabkan pelajar itu tertarik dengan budaya barat. Di samping itu, akan tertanam dalam diri pelajar itu tabiat (kelakuan) yang menyeleweng dari ajaran Islam. Dengan berlalunya masa, tabiat menyeleweng ini akan menjadi sebati dengan diri pelajar itu dan dia akan mempraktikkannya dalam kehidupannya sehinggakan dalam bab makan minum, pakaian, cara pergaulan dan lain-lain tabiat yang buruk. Dia akan menjadi lebih barat daripada orang-orang barat sendiri.

3. Melonggarkan sukatan pengajian agama atas nama kemajuan akademik. Residen Britain di Mesir Lord Krumer semasa penjajahan Britain ke atas Mesir telah melaung-laungkan slogan pembaharuan dalam Universiti al-Azhar dengan memasukkan subjek sivil dalam sukatan pengajiannya. Percampuran ini menyebabkan pelajar lemah dalam menguasai ilmu agama. Beberapa sukatan pelajaran juga telah dibuang atau dikurangkan seperti subjek yang berkaitan jihad menyebabkan ruh jihad telah hilang dalam diri pelajar Islam. Pelonggaran sukatan pengajian agama berlaku di seluruh negara Islam dengan tujuan untuk melemahkan pelajar-pelajar Islam.

4. Bercambahnya institusi pengajian asing di negara Islam bagai cendawan tumbuh selepas hujan. Tujuannya ialah untuk mengeluarkan umat Islam dari agama mereka atau sekurang-kurangnya menyelewengkan akidah mereka. Paling kurang kesannya ialah menghina bahasa Arab (bahasa umat Islam) dan mengagungkan bahasa asing. Penghinaan bahasa Arab sebenarnya menghinakan agama Islam itu sendiri. Ini berlaku di negara-negara Arab.

5. Paling bahaya cara yang digunakan ialah percampuran lelaki dan perempuan ketika pengajian. Mereka (golongan sekular) memulakannya di negara-negara Islam dengan mendakwa ianya kemajuan dan kemodenan tetapi ia sebenarnya menyalakan lagi obor nafsu manusia. Mereka juga mendakwa percampuran itu dapat mematangkan pemikiran tetapi mereka telah tersilap kerana ia antara punca tercetusnya masalah sosial yang kronik akibat percampuran yang tidak dikawal. Ilmu sains membuktikan percampuran sebegini akan membawa kepada 2 keadaan :

i. Samada ia akan membekukan nafsu seks antara 2 jantina, dengan erti kata lain, lelaki tidak lagi bernafsu kepada wanita secara tabii tetapi lebih bernafsu kepada kaum sejenis (satu perbuatan yang dikutuk oleh Allah s.w.t). Penyakit ini semakin menular di negara-negara barat dan juga Amerika Syarikat.

ii. Ataupun ia akan meransangkan lagi api nafsu. Satu eksperimen telah dijalankan dengan meletakkan anak kucing dan anak tikus yang masih kecil dalam satu sangkar. Kedua-duanya makan dan minum dari satu bekas yang sama sehinggalah sampai masa “keinginan”, anak kucing itu telah membunuh anak tikus dan memakannnya walapun kedua-duanya hidup dalam satu sangkar serta makan dan minum dari bekas yang sama. Anak kucing itu tidak lagi menaruh sifat kasihan walaupun agak lama “berdamping” dengan anak tikus itu. Begitulah diibaratkan dengan percampuran pelajar dengan sebebas-bebasnya tanpa kawalan, lama kelamaan akan membawa ke arah masalah sosial. Realiti yang berlaku di negara-negara Islam adalah bukti yang nyata betapa teruknya masalah sosial yang berlaku.

(PENYEBARAN SEKULARISME MELALUI MEDIA MASSA)

Jikalau sekularisasi dalam pengajian hanya melibatkan ribuan pelajar, tetapi sekularisasi dalam media massa meliputi jutaan orang yang menonton, mendengar dan membacanya melalui program-program yang disediakan. Setiap perkataan atau tulisan yang baik akan menghasilkan natijah yang baik dengan izin Allah. Manakala perkataan atau tulisan yang jahat pula akan menghasilkan natijah yang jahat juga. Oleh itu media massa boleh berperanan untuk mengangkat martabat, peribadi, maruah dan minda seseorang atau ia juga boleh berperanan untuk menjatuhkan martabat, peribadi, maruah dan minda seseorang.

Realiti yang dapat dilihat melalui televisyen, radio, wayang gambar, teater, akhbar, majalah dan lain-lain media massa tidak banyak yang membantu perkembangan nilai-nilai murni. Ia juga tidak membantu perkembangan minda dan pengamalan dengan akhlak Islam. Jikalau adapun, ia hanya seperti tangkap muat dan pemanis mulut, tidak lebih dari itu. Rancangan-rancangan televisyen yang menyiarkan gambar separuh bogel atau “tidak sempat memakai baju dan seluar” banyak disiarkan untuk meruntuhkan akhlak umat Islam terutamanya golongan muda mudi. Sepatutnya media massa itu menjadi “mimbar dakwah” yang menyeru kepada kebaikan dan menyampaikan kebenaran, bukannya suara maksiat, medan fitnah dan kilang kerosakan sosial masyarakat. Itulah kerja sekularisme yang berusaha menjauhkan umat Islam dari agamanya.

(PENYEBARAN SEKULARISME MELALUI UNDANG-UNDANG)

Golongan sekular berusaha bersungguh-sungguh untuk menjauhkan Islam dari “kuasa” pemerintahan. Mereka akan memastikan agar undang-undang Islam tidak dirujuk walau dalam apahal sekalipun sehinggakan Islam kelihatan tinggal rangkanya sahaja. Ia terjadi di kebanyakan negara Islam. Di Turki contohnya, untuk menjauhkan manusia dari Islam, mereka berusaha mensekularkan undang-undang sedikit demi sedikit hingga akhirnya undang-undang Turki menjadi sekular dan terlerainya undang-undang khilafah Islam. Di Mesir “pengsekularan” undang-undang dilakukan ketika penjajahan Inggeris dengan mewajibkan merujuk kepada undang-undang barat secara umumnya dan undang-undang Perancis secara khususnya.

Undang-undang Islam yang tinggal hanyalah berkaitan nikah kawin (ahwal al-Syakhsiah) atau yang berkait dengan adat kerana ia tidak menggugat kedudukan penjajah. Umat Islam boleh mengamalkan undang-undang ini di kalangan mereka tetapi untuk mengamalkan undang-undang yang bersangkut paut dengan pemerintahan negara, jenayah dan lain-lain tidak diizinkan oleh penjajah. Ini adalah perancangan jahat golongan sekular. Mana-mana negara Islam yang ingin melaksanakan undang-undang Islam secara menyeluruh pasti akan menerima tekanan hebat dari pihak barat atau dari golongan sekular dalam negara itu sendiri.

Ini adalah sebahagian perancangan yang dilakukan oleh golongan sekular untuk memesongkan umat Islam dari beramal dengan agamanya mengikut jalan yang betul. Sesiapa yang hatinya kosong dari ruh agama pasti menganggap sekular itu adalah kemajuan dan kemodenan tetapi dia tidak sedar bahawa ketika dia menerima dan mendokong sekularisme, dia telah merenggangkan ikatan tali dirinya dengan Islam yang dianutinya. Umat Islam perlulah sedar perancangan-perancangan golongan sekular ini agar mereka tidak terjatuh ke dalam perangkap yang akan merugikan mereka di dunia dan akhirat.

Islam dan sekularisme tidak akan dapat disatu dan disebatikan kerana kedua-duanya adalah berbeza. Al-Marhum Syeikh Mutawalli Sya’rawi sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir sempat berkata :
“sedarlah bahawa tidak akan berlaku pertembungan antara hak dengan hak tetapi pertembungan hanya berlaku antara hak dan yang batil”. Maka umat islam perlulah mengikut yang hak (kebenaran) dengan menurut segala perintah Allah s.w.t dan meninggalkan segala laranganNya. Untuk mengetahui yang hak dan yang batil menurut pandangan syarak, maka tugas itu biarlah dilakukan oleh ulama-ulama yang pakar lagi ikhlas. Tidak ada jalan selamat di akhirat melainkan menerima seratus peratus ajaran Islam yang sebenarnya mengikut al-Quran dan Sunnah Rasulullah s.a.w.

apa gunanya wajah yg tampan atau cantik rupawan dan tubuh badan yang kuat seandainya solat lima waktu tidak dapat dijaga.fikir-fikirkanlah.

Sumbangan : Nu’man An-

Fitrah Yang Menjadi Fitnah

Remaja dan cinta – dua perkara yang bagaikan sudah sebati. Rasa cinta yang bertandang di dalam jiwanya tanpa diundang. Keinginan itu tidak payah dipelajari dan dicari. Lelaki inginkan cinta wanita dan begitulah sebaliknya. Walaupun kadangkala ia cuba dilawan, namun rasa “ajaib” itu datang jua. Apalagi kalau cinta itu disuburkan, maka makin marak dan menggilalah jadinya. Bila cinta mencengkam diri, makan tak kenyang, tidur tak lena dibuatnya. Sedemikian indah dan damainya syurga, namun Nabi Adam a.s. berasa kesunyian dan inginkan teman. Lalu Allah ciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya. Dan kita anak cucu pewaris rasa cinta itu akan sentiasa rasa terpisah dan gelisah selagi tidak bersama dengan yang dicintai.

Rasa Cinta Tak Salah

Lalu hati remaja selalu berkata, apakah salah kami bercinta? Ya, rasa cinta memang tak salah. Ia adalah fitrah semulajadi yang Allah kurniakan kepada setiap manusia. Ingin cinta dan dicintai. Jiwa manusia memerlukan cinta seperti jasadnya perlukan makanan. Oleh kerana cinta adalah fitrah, maka tentulah tidak salah merasainya. Namun Allah tidak kurniakan rasa cinta secara polos begitu sahaja. Dia juga mencipta peraturan cinta demi menjaga kemurniaannya. Peraturan inilah yang kerap dilanggar. Rasa cinta tidak salah tetapi kesalahan selalu berlaku sewaktu menjalinkan hubungan cinta. Di sinilah remaja selalu terjebak. Cinta terlarang adalah cinta yang menafikan peraturan Allah. Ketika itu fitrah telah menjadi fitnah. Bila kehendak semulajadi tidak disalurkan atau diisi mengikut peraturan maka akan berlakulah kekalutan dan kemusnahan.

Mengapa perlu ada peraturan cinta? Jawabnya, kerana Allah mencintai manusia. Allah inginkan keselamatan dan kesejahteraan buat manusia melaksanakan keinginan fitrah semulajadinya. Keinginan tanpa peraturan akan menyebabkan banyak kemusnahan. Begitulah hubungan cinta – cinta yang terlarang, akan membawa banyak implikasi negatif dalam kehidupan.
Pengalaman sudah pun mengajar kita jangan sekali – kali bermain cinta, nanti terbakar diri. Sudah banyak tragedi yang berlaku akibat hubungan cinta yang membelakangkan Allah.

Cinta yang terlarang adalah cinta yang sudah dicemari oleh kehendak nafsu dan kepentingan diri. Keindahan cinta yang sudah tercemar ini tidak tahan lama. Sudah dapat yang dihajati, sudah terlaksana apa yang dikejar, cinta akan terkulai dan bersepai.

Hubungan cinta jangan dicemari oleh sebarang tindakan menyalahi syariat. Lebih banyak perlanggaran hukum berlaku, lebih tinggilah risiko kemusnahan yang akan berlaku. Jangan kita tertipu dengan pesona cinta yang dihiasi pelbagai janji dan sumpah setia. Jangan kita mabuk dengan rindu dan asyik yang membuai dan melenakan. Seteguk kita minum dari cinta terlarang, racunnya meresap membunuh akal, jiwa dan perasaan. Pada ketika itulah cinta dikatakan buta. Maka butalah mata hati dan mata kepala hingga seseorang akan menjadi hamba kepada siapa yang dicintainya. Ketika itu hati tidak nampak yang lain kecuali apa yang dicintai. Lupalah diri pada Pencipta cinta kerana terlalu asyik dengan cinta yang dikurniakan-Nya. Bagaimanakah perasaan agaknya, jika seseorang begitu leka dengan hadiah hingga terlupa bersalam dan berterima kasih dengan pemberinya?

Pohon Cinta Terlarang

Allah kerap dipinggirkan dalam hubungan cinta yang terlarang. Hukum-Nya dilanggar bukan kerana rasa bersalah tetapi dengan rasa manis dan megah. Tangan kekasih dipegang walaupun jelas Allah mengharamkan sentuhan antara lelaki dan wanita yang bukan muhram. Tergamak berdua – duaan di tempat sunyi walaupun sudah diperingat Nabi bahawa dalam keadaan begitu syaitan adalah pihak ketiga. Lebih dari itupun banyak yang berlaku. Semuanya seolah – olah halal hanya kerana cinta. Racun – racun berbisa yang memusnahkan cinta telah dianggap sebagai baja. Akhirnya pohon cinta terlarang pun berbuah. Buah yang pahit, masam dan memabukkan. Buah yang muncul dengan pelbagai jenama yang aneh dan menjijikkan – bohsia, bohjan, buang bayi dan zina. Ketika itu indahkah cinta?

Peraturan cinta bagi tanda – tanda dan lampu isyarat di atas jalan raya. Kereta diciptakan dengan kuasa untuk bergerak, tetapi pergerakkannya perlu diatur dan dikawal. Jika tidak, dengan kuasa itu akan berlakulah perlanggaran dan pertembungan. Begitulah cinta, ia adalah kuasa tetapi kuasa itu perlukan peraturan dan kawalan. Apakah peraturan – peraturan dalam hubungan cinta?

Hendaklah cinta kita berdasarkan kepada cinta Allah. Ertinya, cinta yang kita berikan kepadanya semata- mata kerana mengharapkan keredhaan Allah. Allah memberi kita fitrah itu lalu kita niatkan dengan fitrah itu boleh menghampirkan diri kepada – Nya. Cintailah sesiapapun, tetapi pastikan cinta itu dapat memudahkan kita mencintai Allah. Sehubungan dengan itu, cinta antara lelaki dan perempuan mestilah diniatkan untuk Allah.

Soalnya bagaimana?

Iringilah dengan niat untuk berkahwin itu lebih memudahkan seorang lelaki dan perempuan menyempurnakan agamanya. Oleh itu, usahlah bercinta sekadar untuk bersuka – sua. Lebih buruk lagi janganlah ada niat – niat jahat dalam bercinta sama ada didorong oleh hasutan nafsu atau bujukan syaitan. Jika tidak ada niat untuk berkahwin, cinta sudah pasti bukan kerana Allah. Hakikatnya cinta itu adalah cinta terlarang yang akan membawa kemusnahan. Cinta jenis ini seburuk namanya – Cinta Monyet!

Putus Cinta

Hendaklah dipastikan semasa menjalin hubungan cinta tidak ada hukum Allah yang dilanggar. Antaranya, tidak ada pergaulan bebas, tidak ada pendedahan aurat, tidak ada pengabaian perkara asas seperti meninggalkan sembahyang, puasa dan lain – lain. Hubungan cinta jangan sampai terjerumus dalam perkara yang melalaikan dan merugikan. Maka, remaja tidak seharusnya mengeluh , “Cinta apa namanya ini jika tidak ada dating, perbualan telefon maraton, surat cinta, sentuhan tangan, kerlingan dan senyuman?” Tidak salah jika bertelefon..tidak salah berutus surat.. jika mengikut batas – batas..dan diseliti dengan amal ma’ruf…

Yakinlah, tidak ada keindahan dengan melanggar peraturan Allah. Putus cinta dan kecewa bercinta yang begitu dominan dalam kehidupan remaja adalah disebabkan racun – racun cinta yang disangka baja ini. Justeru banyaklah cinta yang gagal disambung di alam perkahwinan dan lebih banyak putus tanpa sempat menempuh perkahwinan.

Allah Maha Mengetahui dan Maha Menyayangi. Segala peraturan – Nya dibuat dengan rasa cinta terhadap hamba – hamba-Nya. Cinta suci mampu tumbuh tanpa semua itu. Dan cinta itu pasti akan membawa ke gerbang perkahwinan untuk bercinta lagi dengan seribu keindahannya. Bahkan jika diizinkan oleh takdir-Nya, cinta itu akan terus bersambung ke alam akhirat, suami yang soleh dan isteri yang solehah akan bercinta lagi di syurga. Ketika itulah fitrah akan menjadi anugerah.

“Hamba Allah……”

Sumbangan : aTiE

Bila sifat malu tak berfungsi

utk renungan bersama : )

>Biasa kita mendengar, lelaki diistilahkan sebagai kumbang dan wanita pula sebagai bunga. Kalau kumbang suka kepada bunga, lelaki tentulah suka kepada wanita. Sejak remaja lagi keinginan lelaki kepada wanita sudah berputik. Lalu wanita menjadi sasaran usikan lelaki, baik di sekolah, di jalan-jalan raya, di pasar raya, di perhentian bas dan bahkan boleh dikatakan di mana-mana ruang dan peluang. Selagi usikan itu tidak diberi perhatian oleh wanita itu mereka akan terus mencuba dan terus mencuba.

>

>Apa keistimewaan wanita sehingga begitu kuat menarik perhatian lelaki? Sememangnya wanita lain daripada lelaki, terdapat banyak kelainnya.

>

>Dalam sebuah hadis, Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang bermaksud:

>”Terdapat 99 bahagian tarikan pada wanita berbanding lelaki, lalu Allah kurniakan ke atas mereka sifat malu”

>(Hadis riwayat Baihaqi)

>

>Wanita, apapun yang dilakukannya akan mendapat perhatian lelaki, Kalau dia buat baik, dikagumi, apabila buat jahat diminati, apabila dia memakai pakaian menutup aurat dilihat menawan, apabila berpakaian seksi dilihat menggoda, dan macam-macam lagi yang menarik perhatian.

>

>Oleh sebab itu Allah Subhanahu Wata’ala mengurniakan kepada wanita sifat malu. Dengan sifat malu itu mereka akan berfikir panjang sebelum melakukan sebarang tindakan. Kalau hendak buat jahat dia akan memikirkan kalau-kalau orang nampak, hendak dedahkan aurat dia takut orang mengganggunya, hendak berjalan seorang dia takut ada orang mengusiknya.

>

>Begitulah peranan malu yang boleh membantu dalam tindak tanduk seorang wanita. Tapi apa halnya kalau tidak tahu malu? Tentulah mereka tidak akan memikirkan semua itu. Pedulikan apa orang kata, pedulikan kalau orang tengok, tak kisah kalau orang mengganggu dan mengusik, bahkan mereka rasa senang, seronok dan bahagia bila dalam keadaan begitu.

>

>Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari, Nabi Sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bermaksud :

>”Jika engkau tidak malu, buatlah sesuka hatimu”

>

>Hadis ini merupakan sindiran dalam tegahan.

>Sifat malu itu adalah pokok akhlak yang mulia dan budi pekerti yang terpuji. Tidak payah diletakkan sifat malu ini di atas neraca syari’at, malah neraca akalpun sudah mengakui sebagai suatu sifat yang perlu ada pada diri manusia.

>

>Barangkali wanita hari ini kebanyakkanya tidak malu atau kurang malu. sebab itu mereka sanggup melakukan apa saja dosa dan maksiat. Atau barangkali jika sifat malu yang dikurniakan Allah itu sudah tidak berfungsi sepenuhnya. Kalau demikian, bererti tiada iman di dada mereka.

>

>Jelasnya, mereka tidak takut kepada Allah, tidak gerun kepada neraka Allah dan tidak cintakan syurga Allah. Mereka langsung tidak takut dengan hukuman yang bakal Allah timpakan ke atas mereka.

>

>Ini tandanya mereka tiada iman.

>

>Apabila tidak beriman, maka sifat malu yang sedia ada itu secara automatik akan hilang. Inilah realiti yang tidak boleh dinafikan, buktinya boleh dilihat di mana-mana. Melalui media cetak, media elektronik dan bahkan di hadapan mata kita sendiri berbagai ragam, kemungkaran berlaku, tidak terkecuali dilakukan oleh wanita.

>

>Sayang, wanita yang sepatutnya lebih istimewa daripada lelaki menjadi serendah-rendahnya hanya disebabkan sifat malunya tidak berfungsi sepenuhnya.

>

>Tapi percayalah, kalau semua wanita boleh mengekalkan sifat malunya. tentulah mereka akan berpakaian sopan, berakhlak mulia, dan ketika itu mereka akan disegani oleh semua pihak. Dengan ini akan terhindarlah gejala buruk yang menimpa kaum wanita.

>

>Nabi Muhammad s.a.w pernah bersabda yang bermaksud:

>”Setiap insan pasti membuat kesilapan dan sebaik-baik manusia yang membuat kesilapan itu adalah mereka yang bertaubat.”

Subhannallah “Ya Allah, terangilah hidup dan matiku dengan hidayahMU’”

Sumbangan : nabil

Seni Berdakwah

Seorang dai yang menyeru ke jalan Allah Ta’ala hendaknya menyampaikan dakwahnya kepada masyarakat dengan cara yang mudah dan sederhana. Hendaknya ia memilih tema yang sesuai bagi mereka, memilih kalimat yang tidak membangkitkan nafsu, tapi yang mendekatkan mereka kepada Allah.

Hendaknya ia memilih kalimat yang dapat menyucikan nafs dengan cepat, bukannya ucapan yang memberatkan mereka, yang mereka anggap berat dan sulit. Seorang dai seharusnya mendahulukan yang lebih penting menurut waktu, zaman dan keadaan masyarakat saat itu. Ia harus memperhatikan masalah yang lebih besar dan penting, memperhatikan semua yang fardhu dan kewajiban-kewajiban utama lainnya.

Dakwah dengan tema di atas akan sukses jika kaedah yang digunakan tidak menyebabkan orang lari dan tidak mempersulitkan. Dakwah sebaiknya dilakukan dengan memberikan himbauan (targhîb) dan juga ancaman (tarhîb), sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis.

Jika berdakwah kepada para pemula, bila mengajak mereka untuk mengerjakan kebaikan, jangan sekali-kali memaksa, jangan menyampaikan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dipahami dan dianggap berat oleh mereka. Sebab, sesuai tabiatnya, nafs akan lari jika merasa keberatan. Dan jika nafs lari, ia akan menentang dan memusuhi kebaikan, kemudian mencari pembenaran (justifikasi) bahawa perbuatannya sesungguhnya baik. Jika pemula memandang ucapan dai tersebut keras, terlalu berat dan tidak mampu ia laksanakan, maka nafs-nya akan memberontak.

Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkatan pemikiran (pendidikan) mereka. Jika berbicara dalam suatu majlis yang dihadiri oleh orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, jangan berkata, “Celakalah orang-orang yang derhaka kepada kedua orang tuanya, nerakalah tempat mereka.” Ucapan semacam ini akan membangkitkan hawa orang yang derhaka tadi sehingga ia akan menentangnya. Akan tetapi hendaknya kita berkata,
“Allah Ta’ala berfirman :
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain-Nya dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapamu dengan sebaik-baiknya.” (QS Al-Isra, 17:23)

“Perhatikanlah, bagaimana Allah yang Maha Mulia memberikan wasiat kepada kita, bagaimana Ia menunjukkan kedudukan kedua orang tua. Orang tua memiliki hak dan kedudukan yang agung. Orang yang berbakti kepada keduanya akan memperoleh berbagai kebaikan. Nabi telah memperingatkan kita agar tidak derhaka kepada kedua orang tua. Beliau bersabda begini dan begini.” Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka akal dan nafs akan mendengarkan dan nafs tidak akan memberontak.

Dalam ucapan kaum solihin dan guru-guru kita, banyak kita jumpa ucapan-ucapan yang keras, tapi masyarakat menerimanya. Sebab, mereka memiliki hal dan maqom yang agung. Jika ucapan itu muncul dari orang lain, masyarakat tidak akan menerimanya dan akan menganggap terlalu berat untuk dilaksanakan. Namun, kerana mereka yang mengucapkannya, maka masyarakat mahu menerimanya.

Sebagai dai yang masih awam, kita jangan menempatkan diri kita di kedudukan kaum khowwash, seperti Habib Alwi bin Syihab, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syathiri, ayahku Sayid Muhammad bin Salim atau kaum sholihin terkemuka lainnya. Mereka kadang kala menyampaikan ceramah-ceramahnya dengan keras. Meskipun demikian, ucapan mereka meninggalkan kesan dalam hati pendengarnya. Sebab, mereka memiliki hal dan maqom yang mendukung dan masyarakat yang mahu menerimanya. Adapun orang-orang seperti kita ini, sebelum berbicara kita wajib memperhatikan dan menyederhanakan pesan yang akan kita sampaikan. Jika ada kata-kata yang sulit, hendaknya kita ganti dengan kata-kata yang mudah difahami. Sebagai contoh, jika hendak mencegah seseorang dari memutuskan hubungan keluarga, jangan berkata,
“Di majlis ini ada seseorang yang memutuskan hubungan kekeluargaan.” Atau berkata, “Dewasa ini tidak seorang pun yang tidak memutuskan hubungan kekeluargaan. Maka mereka semua terkena laknat.”

Meskipun ucapan ini mengandungi kebenaran, tapi masyarakat tidak akan menerimanya. Kita tidak boleh berkata demikian, tetapi sebaiknya kita berkata, “Marilah kita perhatikan kerabat kita, marilah kita raih pahala lewat mereka, marilah kita usahakan agar hubungan kekerabatan menjadi sebuah nikmat. Jika kalian mahu menundukkan nafs lalu menyambung tali silaturahim dan berbuat baik kepada mereka, maka kabar gembira bagi kalian, kalian akan memperoleh umur yang panjang dan rezeki melimpah.”

Sebab, Nabi saw bersabda : “Silaturahim memperbanyak harta dan memperpanjang umur.” (HR Bukhari dan Muslim)

Kalian hendaknya menggunakan kalimat-kalimat seperti ini. Jika dakwah disampaikan dengan cara demikian, maka semua orang akan menerimanya. Ucapan kalian menjadi baik dan mudah diterima oleh nafs. Sebenarnya tujuan orang menyampaikan dakwah dengan keras adalah juga untuk menyeru manusia ke jalan Allah, tapi caranya tidak benar. Kerana itulah Allah berfirman kepada Nabi kita Muhammad saw :

“Kerana rahmat Allah-lah kamu dapat berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap kasar lagi berhati keras, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS Ali Imran, 3:159)

Sumber: Kalam Al-Habib Umar bin Muhammad Bin Hafidz. Diambil dari Manhaj Dakwah, cetakan I, 2001, penerbit Putera Riyadi Solo
Manusia yang tidak ada masalah dalam hidupnya bukanlah dinamakan manusia, tetapi ‘robot bernyawa’ yang telah diprogramkan.

Sumbangan : Xmeng

Apa Itu Kebaikan di Dunia?

“Wahai Tuhan Kami…Kurniakanlah kepada kami kebaikan didunia dan di akhirat, dan jauhkanlah kami dari azab api neraka.”..adalah antara doa yang sering kita ulang-ulangkan saban hari selepas solat fardhu.. Tapi apakah sebenarnya Kebaikan didunia yang dimaksudkan itu?

1. Mendapat taufik dan hidayah Allah
Orang yg mendapat taufik dan hidayah ertinya dia seorang yang dibantu oleh Allah untuk mengamalkan islam. Islam beerti selamat. Orang islam kalau kekal mendapat taufik dan hidayah dari Allah, akan selamat didunia dan akhirat. Sabda nabi s.a.w.:”Sungguh beruntung orang yang beragama Islam”(Riwayat Muslim).

2. Diberi kefahaman agama.
Untuk amalkan Islam perlukan kefahaman tentang Islam juga dikira telah mendapat kebaikan didunia. Orang islam yang tidak diberi kefahaman tentang Islam oleh Allah akan mengamalkan apa yang disangkanya dari ajaran Islam tetapi sebenarnya menyeleweng dari Islam. Hidup tak akan benar-benar selamat dan tak mampu menyelamatkan orang lain. Sabda nabi: “Sesiapa yang Allah mengkehendaki kebaikan kepadanya, Dia akan menjadikannya faham dalam agama.” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

3. Dapat berbuat amalan soleh.
Dengan kefahaman agama yang Allah beri, seseorang itu dapat berbuat amal soleh. Ini juga merupakan kebaikan di dunia kerana hidup akan terisi perkara baik dan tidak terumbang-ambing. Firman Allah:”Orang-orang yang berbuat baik didunia ini memperolehi ‘hasanah’ (kebaikan). Dan bumi Allah itu adalah luas”(Az-Zumar:10).

4. Mendapat Ilmu yang bermanfaat.
Ilmu yang bermanfaat adalah panduan untuk mengisi hidup dengan perkara-perkara yang baik dan selamat. Sebab itu Nabi s.a.w: “Ya Allah ya Tuhanku, berilah manfaat kepadaku dari apa-apa yang engkau ajarkan kepadaku dan ajarkanlah daku apa-apa yang bermanfaat buat diriku.” (Riwayat at-Tabrani)

5. Mendapat pasangan hidup yang soleh/solehah, zuriat penyejuk hati, sahabat yang solihin.
Kebahagiaan hidup adalah perkara yang semua orang impikan. Sabda Nabi: “Empat dari tanda-tanda kebahagiaan seseorang: Isterinya solehah, anak-anaknya abrar (soleh), teman-temannya orang soleh dan sumber rezekinya di negeri sendiri.” (Riwayat ad-Dailami dari Ali r.a).

Isteri atau suami yang baik membantu seseorang mendekatkan diri kepada Allah. Anak-anak yang baik akan terus memberi manfaat setelah kematian kita. Pahala amalan baiknya hasil didikan kita dan doa mereka akan terus mengalir kepada kita. Sahabat yang baik akan membawa kita kepada jalan hidup yang selamat. Mereka tempat kita berkongsi masalah dan kegagalan, bukan hanya berkongsi senang dan kejayaan.

6. Kesihatan dan kesejahteraan.
Dengan mempunyai kesihatan yang baik, banyak perkara yang dapat dilakukan dalam hidup ini. Kesihatan juga sering dikaitkan dengan kesejahteraan hidup. Nabi s.a.w memohon:”Ya Allah, afiatkanlah tubuhku dan afiatkanlah pendengaranku.” (Riwayat Ibnu Syaibah)

7. Panjang Umur dalam ketaatan.
Hampir setiap orang mahu hidup lama kecuali orang yang putus asa dengan hidup (na’uzubillah). Sabda nabi s.a.w: “Sesungguhnya sehabis-habis kebahagiaan itu ialah panjang umur dalam mentaati Allah.” (Riwayat Khotib daripada Abdullah dari bapanya).

8. Mendapat rezeki yang halal.
Nabi s.a.w menekankan agar umatnya berusaha mendapatkan rezeki halal kerana ia memberkatkan hidup. Dalam satu hadis, baginda mengatakan bahawa mencari rezeki yang halal itu satu jihad. Malah sabdanya: “Amalan yang paling utama itu ialah mencari rezeki dari sumber yang halal.” (Riwayat al-Hakim).

9. Beroleh keimanan dan ketaqwaan.
Dengan iman dan taqwa, seseorang itu mulia disisi Allah dan manusia. Sabda nabi: “Semulia-mulia manusia adalah orang yang paling bertaqwa diantara kamu.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

10. Banyak mengingati Allah s.w.t.
Nikmat paling besar yang manusia cari-cari dalam hidup ialah nikmat ketenangan. Firman Allah: “Sesungguhnya dengan mengingati Allah itu hati akan menjadi tenang.” (Ar-Ra’ad:28).
Sabda Nabi s.a.w:”Aku berpesan kepada kamu semua supaya mengingati Allah, kerana hal itu dapat menghiburkan hati kamu dari segala kesulitan duniawi.” (Riwayat ad-Dailami).

11. Berjaya menyucikan jiwa dari mazmumah.
Hidup tak akan tenang jika hati penuh hasad dengki, tamak, takut, benci dan pelbagai sifat mazmumah lain. Tidak hairanlah dikatakan orang yang bersih hatinya daripada sifat mazmumah ini adalah orang yang mendapat kebaikan didunia. Bila menghadapi musibah, dia sabar dan bersangka baik dengan Allah. Bila dapat nikmat, dia bersyukur. Hatinya tak pernah keluh-kesah. Firman Allah:”Sesungguhnya berjaya dan beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya.” (Al-A’la:14)

12. Mati dalam kebaikan (Husnul Khotimah).
Ini merupakan penutup segala kebaikan di dunia. Firman Allah s.w.t: “…demikian Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertaqwa, iaitu orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka) Salamun ‘Alaik.” (Riwayat Abu Na’im).

Kebaikan di dunia itu sebenarnya milik hamba-hambaNya yang taat, hamba yang lebih utamakan akhirat dari dunia. Dalam surah an-Nahl:22, dinyatakan bahawa Allah mengurniakan kepada Nabi Ibrahim a.s hasanah di atas kehidupan dunia. Ayat ini menjadi dalil bahawa ada kebaikan duniawi yang Allah beri kepada hamba-hambaNya yang dikehendaki.

Sumber: Anis – September 2003
Manusia yang tidak ada masalah dalam hidupnya bukanlah dinamakan manusia, tetapi ‘robot bernyawa’ yang telah diprogramkan.

Sumbangan : Xmeng

Saper yg bujang tu…mai kejap….

Ni emel dr kawan…paham jer lah aper maksudnya….he..he…jom kita ikuti aper yg dia nak sampaikan…..kalau blh guna gunalah…kalu tak…abaikan….

MUHASABAH: Kahwin Cepat – Yang Berkat Jadi Mudarat?

Majlis akad nikah itu baru sahaja selesai. Saya dan
beberapa orang sahabat masih menikmatiminuman
ringan yang disediakan oleh pihak tuan rumah.
Tiba-tiba seorang lelaki tua yang memang saya kenali menarik tangan saya dan bertanya, “Kenapa orang sekarang kahwin lambat sangat?” Saya lantas bertanya, “Tuk dulu kahwin cepat?” “Umur 15 tahun, nenek kau dah dapat anak seorang…”

Terbayang anak perempuan saya yang menuntut di tingkatan 5 sekarang. Sukar nak mbayangkan
betapalah di usia itu dia sudah mempunyai anak. “Bahagia Tuk?” “Tuk bahagia apa… anak Tuk 12 orang!”
Terhibur saya berbual dengannya, semuanya diukur dengan angka. “Saya berkahwin pada umur 21 tahun. Waktu tu masih menuntut lagi, orang heboh saya tak sabar,” adu saya tanpa dipinta. Sengaja mengundang reaksi.

“Tak sabar? Pelik, kalau zaman Tuk, tu kira terlajak dah tu!” “Betulkah saya tak sabar, Tuk? “ tanya saya semacam mengusik. “Eh, taklah. Kalau nak buat baik, eloklah cepat. Selamat dari maksiat. Kalau betul tak sabar, Tuk ni lagilah tak sabar… umur 17 tahun dah kahwin, heh, heh, heh…”
“Setuju tak Tuk kalau dikatakan soal kahwin ni bukan soal cepat lambat, tapi soal dah bersedia atau tidak?”

“Setuju. Tapi kena hurailah maksud persediaan tu…” tajam Tuk membalas. “Kalau ikut pandangan Tuk, apa agak-agaknya persediaan tu?”
“Soal ni tak boleh agak-agak… Mesti tepat.” Terkedu saya dibuatnya. Tuk ni bukan sebarang orang.

“Maksud bersedia bukan sahaja dari segi umur… Asal akil baligh dah boleh kahwin. Bukan sahaja diukur oleh badan yang sihat, pendapatan yang cukup, tapi yang penting kematangan diri… Ertinya, seseorang yang nak kahwin mesti dah mula dapat berfikir dengan baik, dah boleh sedikit sebanyak kawal perasaan, dan jiwa tu sikit-sikit dah agak tenang.” Saya menung panjang. Tertikam di sudut hati petanyaan, sudahkah saya matang sewaktu mula berkahwin dahulu?

“Jangan menung… Tuk cuma kata, dah sedikit sebanyak matang. Tak payah tunggu matang betul… nanti tak kahwin pula!” usik Tuk seperti dapat membaca fikiran saya. Walau tanpa ijazah, Tuk sebenarnya sedang menjelaskan asas kebahagiaan rumah tangga yang kadang kala tidak dapat ditimba di mana-mana menara gading.

“Macam mana nak matang?” tanya saya perlahan. Malu rasanya untuk diajukan soalan sedemikian di usia 40-an ini. Terasa terlambat! “Tentulah dengan ilmu. Dulu Tuk dan kawan-kawan… umur
sebelas tahun dah khatam Quran. Dah selesai belajar ilmu fardu ain. Rukun, sah, batal dan lain-lain ilmu asas dah OK. Bila sudah baligh buka kitab Muhimmah, baik lelaki, baik perempuan. Dah diterangkan tanggung jawab suami, isteri dan asas-asas kerukunan rumah tangga.”

“Itu sahaja? Ilmu lain?” soal saya pendek.
“Eh, perlu. Mesti ada ilmu untuk cari rezeki. Yang
otak baik, jadilah guru, pegawai kerajaan… ikut
keadaan zaman tulah. Tuk ni tak nasib baik… kerja
kampung sahaja, guna tulang empat kerat, buka tanah. Itulah dusun yang Tuk kutip hasilnya sampai sekarang ni…” “Tapi sekarang Tuk dah senang. Dengarnya dah dua kali naik haji.” “Tak senang. Tapi mudah-mudahan… tenang. Tulah doa
Tuk, biar hidup kita tenang.”

“Agaknya sebab kurang matang nilah orang sekarang kahwin lambat?” cuit saya, kembali ke tajuk asal. “Ni agak Tuklah. Budak sekarang tak macam dulu. Mereka ni macam lambat matang. Kalau dulu umur 13 dah boleh pikul tugas. Dah berdikari, dah boleh harap jaga emak bapak. Setakat jadi imam dan baca berzanji tu
lancar… tapi sekarang lain, umur dah 23 tahun pun masih bergantung kepada emak bapak. Nak jadi imam? Jauh sekali.” Terbayang kekesalan di wajahnya. Dia menyambung, “Sekali tu Tuk tengok betul-betul dengan mata kepala ni macam mana seorang bakal pengantin tersekat-sekat mengucap kalimah syahadah depan tuk kadhi. Bila tanya
rukun sembahyang, geleng kepala. Yang dihafalnya rukun nikah saja…”

“Kalau macam tu macam mana?”
“Baik tak usah kahwin. Macam mana dia nak pimpin isteri dan anak-anaknya nanti? Tu baru ilmu yang paling asas, belum lagi ilmu… apa orang kata… … parenting skill.”
“Tuk pun tahu parenting skill?”
“Sekarang ni macam-macam sumber ilmu ada. Di radio, tv, ceramah, buku-buku… ah, macam-macam.” “Tapi Tuk, kalau tak kahwin pun susah juga… Nanti terjebak dengan maksiat,” kilas saya.
“Tulah, ajaran Islam ni macam mata rantai. Lepas
satu disambung satu. Bermula dengan yang paling utama, diikuti yang kedua, ketiga dan seterusnya… Ilmu tauhid, fekah dan akhlak perlu diasak di awal usia. Diiring ilmu akademik. Jadi, bila dah nak kahwin nanti, ilmu tu semua dah ada. Persediaan agama ada, persediaan material ada.”

“Macam mana kalau ada yang lambat-lambatkan kahwin kerana katanya belum bersedia, dari segi material dan agama?”
“Apapun biarlah berpada-pada. Kalau nak diikutkan
ilmu agama… sampai mati pun tak akan habis dituntut. Cukuplah sekadar keperluan dulu dan tambah lagi selepas kahwin. Begitu juga soal material, soal kerja, profesion… Ni pun tak akan habis-habis. Ukurlah ikut keperluan dan kemampuan diri. Jangan sampai terlanjut
usia sudahlah. Jangan nanti ilmu ada, matang ada,
duit ada, calon pulak tak ada…”
“Tuk lihat macam mana keadaan anak muda masa kini?” terluncur soalan yang berbau akademik tanpa saya sedari.

“Akibat tak ikut tertib dalam menghayati ajaran
Islam, keadaan jadi agak lintang-pukang sekarang. Yang berkat jadi mudarat. Tak dikahwinkan, membuat maksiat. Bila dikahwinkan, tak bertanggungjawab.” “Antara dua keadaan ni… yang mana patut kita pilih?” “Perlukah kita buat pilihan? Pada Tuk… pilihlah keadaan yang tidak memaksa kita membuat pilihan!” Saya terdiam. Kagum. Kata-kata tersirat itu boleh mengundang seribu wacana para sarjana!

(Koleksi Anis/ Oleh Pahrol Mohd Juoi)

wallahua’lam

PUNCA BADAN MENJADI LETIH


Berikut Adalah Rangsang Minda Dr Danial Pada 4 December 2003, hari Khamis jam 7.30 pagi di Radio Malaysia Pulau Pinang [ RMPP ]
__________________________________________

PUNCA BADAN MENJADI LETIH

Tuan-tuan dan puan-puan, para peminat RMPP yang di muliakan.

Assalamualaikum wbt. Satu diantara perkara yang sering di tanya kepada saya oleh masyarakat dari masa kesemasa ialah mengapa badan mereka sering menjadi letih walaupun mereka merasakan tidur mereka mencukupi. Ini satu soalan yang menarik dan kita sebenarnya perlu memilikki maklumat yang betul agar kesihatan dan akhirnya cara hidup kita menjadi suatu yang paling baik
untuk diri kita. Sebenarnya ramai di kalangan kita yang bangun awal setiap hari untuk pergi bekerja. Tetapi pada hujung minggu ataupun pada hari cuti
kita tidur berlebihan daripada biasa. Segelintir daripada kita akan tidur hingga ke tengahari dengan alasan untuk memperolehi kerehatan sepenuhnya yang tidak di perolehi pada hari-hari bekerja.

Sebenarnya tindakkan ini adalah satu tindakkan yang salah. Mengikut Timothy Rogers, Pengarah Pusat Kajian Masalah Tidur dari Hospital Henry Ford di Detroit, beliau berkata cara tidur sedemikian rupa mengganggu pusingan Biologi ataupun Biological Clock. Pusingan biologi dalam badan kita ini sebenarnya mempengaruhi kesihatan dan kerehatan kita. Lantas andaikata cara tidur kita seperti yang saya sebutkan tadi iaitu pada hari-hari bekerja kita bangun awal secara rutin tetapi di hujung minggu atau cuti umum kita tidak lagi mengikut jadual itu, kita bangun tidur lewat sebagai contohnya.
Maka cara tidur begitu merosakkan jam biologi yang terdapat dalam badan kita. Natijah atau hasilnya ialah badan kita menjadi letih walaupun tidur kita mencukupi.

Sebenarnya apa yang berlaku dalam diri kita. Yang berlaku ialah jika kita bangun tidur tidak mengikut rutin biasa, pengeluaran hormon Yang bernama
Cortisol terganggu. Hormon cortisol ini ialah hormon kecergasan. Bila kita bangun dari tidur kemudian bergerak dan kita aktifkan diri kita, kita
sebenarnya di pengaruhi oleh hormon cortisol. Hormon ini di keluarkan oleh badan pada waktu-waktu tertentu sebagai contoh andaikata kita bangun tidur pada pukul 6 pagi, maka hormon ini akan dikeluarkan oleh badan lebih kurang
pada pukul 3 pagi sebagai persiapan untuk kita bangun dan aktif. Lantas badan kita akan terus mengeluarkan hormon kecergasan ini pada pukul 3 pagi andaikata di setiap pagi kita bangun tidur pada pukul 6 pagi. Jika rutin ini kita hormati insyaallah kita akan cergas dan tidak akan letih.Sebaliknya andaikata kita tidak bangun tidur pada pukul 6 pagi sedangkan hormon kita menjangkakan kita akan bangun tidur pukul 6 pagi dan ia telah keluarkan hormon pada pukul 3 pagi. Tiba-tiba kita tidak mengikut rutin itu. Pada suatu ketika kita bangun tidur pada pukul 10 pagi, akan
berlaku gangguan pada badan kita. ketika itulah kita keletihan.

Sebenarnya latihan yang kita ambil daripada Ramadhan cukup indah dan cantik. kita bangun tidur pada waktu sahur. Ini sebenarnya latihan islam. Latihan yang sepatutnya kita sambung di luar musim Ramadhan. Selama lebih kurang sebulan kita bangun tidur di waktu sahur, katakanlah lebih kurang pukul 5 pagi. Waktu sahur ini satu waktu yang barakah. Waktu yang di penuhi
rahmat. Sebab dalam Al-Quran, lebih khusus dalam Surah Al-Imran. Allah swt memuji satu golongan manusia. Allah berkata bahawa golongan manusia seperti ini dikasihi aku kata Allah. Satu diantara ciri yang ada pada mereka ialah Wal mus taqfirin nabil azhar, Mereka bangun tidur diwaktu sahur. Kalimat Al-Quran, Azhar ertinya waktu sahur. Mereka bangun tidur diwaktu sahur dan
meminta ampun kepada Allah diwaktu itu.

Lantas andaikata kita bangun tidur setiap hari pada waktu sahur lebih kurang pukul 5 atau 5.30 pagi dan ini berterusan setiap hari, tidak hanya di musim Ramadhan. Kita mengambil kesempatan bangun di waktu sahur untuk beristiqhfar kepada Allah, meminta ampun, berdoa, bermunajat dan mungkin juga kita bersolat tahajjud, bersolat hajat bermohon kepada Allah meminta segalah kebaikkan atau hasanah di dunia ataupun di akhirat. Masyaallah kita insan yang special disisi Allah dan di dunia sebab dengan cara demikian
hormon cortisol kita akan di keluarkan oleh badan secara rutin tanpa terganggu dan natijah daripada itu jadilah kita insan yang cergas, sihat, tidak hanya sihat fizikal juga sihat spiritual.

Sayangnya latihan Ramadhan yang telah kita hayati sebelum ini kita rosakkan di musim Syawal. Ramai yang tidak lagi bangun tidur awal di waktu sahur bila kita masukki Syawal. Ada setengahnya subuh pun tidak sembahyang, tetapi di musim Ramadhan dia alhamdulillah melaksanakan solat subuh sebab dia bangun awal. Di sebelah malamnya dia bersolat Tarawih. Masuk Syawal
memang tidak ada tarawih, namun kita wajib melaksanakan solat yang lima.
Solat yang lima itupun tidak dia lakukannya. Solat subuh pun dia tidak melakukannya. Ketika itu dia mendapat 2 kerugian. Kerugian pertama ialah
ruhnya tidak lagi bercahaya. Kedua dia tidak lagi menjadi insan yang sihat sebab waktu tidurnya sudah berubah. Ketika itu pengeluaran hormon
kecergasannya terganggu. Dia rugi spiritual dan jasadiah.

Justeru tuan-tuan dan puan-puan yang saya muliakan, marilah kita hayati ajaran islam yang telah kita laksanakan sebelum ini. Jangan jadi golongan yang sekejap buat baik, sekejap buat jahat. Sekejap bangun awal di waktu sahur sekejap melupakan sahur. Sekejap melaksanakan solat secara berlebihan pada suatu ketika yang lain langsung tidak bersolat. Itulah formula kepada
kerugian dan kehancuran.

Semoga insyaallah kita menjadi insan yang berdisiplin dan kita juga insyaallah menjadi insan yang mengambil iktibar daripada ibadah yang di
tuntut oleh agama islam kita yang suci lagi murni insyaallah.

“Siapalah aku di sisi MU ya Allah”

Sumbangan : KupuKupu

Hadith tentang Peristiwa Akhir Zaman

————————————————————
Dapatkan tazkirah mingguan di http://www.geocities.com/m_mjj/
————————————————————
Hadith tentang Peristiwa Akhir Zaman ini dipetik dari buku yang telah di susun oleh Abu Ali Al Banjari An Nadwi (Ahmad Fahmi Zamzam) untuk renungan kita bersama. Insya’allah dengan berkat keinsafan kita, dapat kita mengambil iktibar dengan kejadian masa kini, mudah-mudahan ia membawa petunjuk kepada orang-orang yang bertakwa.
————————————————————

1. TAKWA DAN PERPADUAN ASAS KESELAMATAN DI AKHIR ZAMAN

Ertinya:

Daripada Abi Nijih ‘Irbadh bin Sariyah r.a. berkata, “Telah menasihati kami oleh Rasulullah saw. akan satu nasihat yang menggetarkan hati kami dan menitiskan air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata, Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir sekali maka berilah pesanan kepada kami.” Lalu baginda pun bersabda, “Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang meminpin kamu itu hanya seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umurnya daripada kamu pasti ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa Ar Rasyidin Al Mahdiyin (Khalifah-khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat pimpinan ke jalan yang benar) dan gigitlah sunah-sunah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baru (bid’ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid’ah itu adalah sesat.”

H.R. Abu Daud dan Tirmizi

Keterangan

Hadis diatas mengandungi pesanan-pesanan yang sangat berharga daripada Rasulullah saw. bagi umatnya, terutama bila mereka berhadapan dengan zaman yang penuh dengan kacau bilau dan perselisihan iaitu seperti zaman yang sedang kita hadapi sekarang ini. Oleh itu sesiapa yang mahu selamat maka hendaklah ia mengikuti tunjuk ajar yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. dalam hadis, iaitu:

Pertama: Hendaklah ia menlazimi takwa kepada Allah dalam keadaan apa jua dengan mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya.

Kedua: Mentaati perintah pihak yang menguruskan hal ehwal kaum muslimin walaupun seandainya mereka terdiri daripada golongan hamba, selama mereka berpegang dengan Al Quran dan sunnah Nabi saw. dan sunnah-surmah kulafa Ar Rasyidin, kerana patuh kepada penguasa yang mempunyai sifat-sifat ini bererti patuh kepada Al Quran dan Hadis Nabi saw.

Ketiga: Berpegang teguh kepada sunnah Nabi saw. dan sunnah para kulafa Ar Rasyidin Al Mahdiyin (Abu Bakar, 0mar, Osman dan Ali r.a.) yang mana mereka telah mendapat petunjuk daripada Allah Taala, iaitulah berpegang kepada fahaman dan amalan ahli sunnah waljamaah yang mana hanya penganut fahaman ini sahaja yang mendapat jaminan selamat daripada api neraka dan yang bertuah mendapatkan syurga pada hari kiamat nanti.

Keempat: Menjauhi perkara-perkara bid’ah dholalah, iaitu apa jua fahaman dan amalan yang ditambah kepada agama Islam yang sempurna ini, pada hal tidak ada dalil atau asal dan contoh dari agama. Sekiranya ada asal atau dalil, maka tidaklah perkara-perkara yang baru itu dikatakan bid’ah menurut pengertian syarak (bukan bid’ah dholalah) tetapi hanya dinamakan bid’ah menurut pengertian loghat atau bahasa sahaja (jaitulab bid’ah hasanah).

2. KENAPA DUNIA ISLAM MENJADI SASARAN PEMUSNAHAN

Ertinya:

Daripada Ummul Mu’minin , Zainab binti Jahsy (isteri Rasulullah saw.) ,beliau berkata,” (Pada suatu hari) Rasulullah saw. masuk ke dalam rumahnya dengan keadaan cernas sambil bersabda, La ilaha illallah, celaka (binasa) bagi bangsa Arab dari kejahatan (malapetaka) yang sudah hampir menimpa mereka. Pada hari ini telah terbuka dari dinding Ya’juj dan Ma’juj seperti ini”, dan Baginda menemukan ujung jari dan ujung jari yang sebe!ahnya (jari telunjuk) yang dengan itu mengisyararkan seperti bulatan. Saya (Zainab binti Jahsy) lalu bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah kami akan binasa sedangkan dikalangan kami masih ada orangorang yang shaleh?” Lalu Nabi saw. bersabda “Ya, jikalau kejahatan sudah terlalu banyak”.

H.R. Bukhari Muslimi

Keterangan

Hadis di atas rnenerangkan bahawa apabila di suatu tempat atau negeri sudah terlarnpau banyak kejahatan, kemungkaran dan kefasiqan, maka kebinasaan akan menimpa semua orang yang berada di tempat itu. Tidak hanya kepada orang jahat sahaja, tetapi orang-orang yang shaleh juga akan dibinasakan, walaupun masing-masing pada hari qiamat akan diperhitungkan mengikut amalan yang telah dilakukan.

Oleh itu, segala macam kemungkaran dan kefasiqan hendaklah segera dibasmikan dan segala kemaksiatan hendaklah segera dimusnahkan, supaya tidak terjadi malapetaka yang bukan sahaja akan menimpa orang-orang yang melakukan kemungkaran dan kejahatan tersebut, tetapi ianya menimpa semua penduduk yang berada di tempat itu.

Dalarn hadis di atas, walaupun disebutkan secara khusus tentang bangsa Arab tetapi yang dimaksudkan adalah seluruh bangsa yang ada di dunia ini. Tujuan disebutkan bangsa Arab secara khusus adalah kerana Nabi kita saw. sendiri dari kalangan mereka, dan yang menerima Islam pada masa permulaan penyebarannya adalah kebanyakannya dari kalangan bangsa Arab dan sedikit sekali dari bangsa yang lain . Begitu pula halnya dalam masalah yang berkaitan dengan maju-mundurnya Umat Islam adalah banyak bergantung kepada maju-mundurnya bangsa Arab itu sendiri. Selain daripada itu, bahasa rasmi Islam adalah bahasa Arab.

Kemudian Ya’juj dan Ma’juj pula adalah dua bangsa (dari keturunan Nabi Adam as.) yang dahulunya banyak membuat kerosakan di permukaan bumi ini, lalu batas daerah dan kediaman mereka ditutup oleh Zul Qarnain dan pengikut-pengikutnya dengan campuran besi dan tembaga, maka dengan itu mereka tidak dapat keluar, sehinggalah hampir tibanya hari qiamat. Maka pada masa itu dinding yang kuat tadi akan hancur dan keluarlah kedua-dua bangsa ini dari kediaman mereka lalu kembali membuat kerosakan dipermukaan bumi ini. Apabila ini telah terjadi, ia menandakan bahawa hari qiamat sudah dekat sekali tibanya.

3. SELURUH DUNIA DATANG MENGERUMUNI DUNIA ISLAM

Ertinya:

Daripada Tsauban r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda; “Hampir tiba suata masa di mana bangsa-bangsa dun seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orangorang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah dari kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi saw. menjawab, “Bahkan kanu pada hart itu banyak sekali, tetapi kanu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan”‘.
Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita nenjawab, “Cinta pada dunia dan takut pada mati”.

H.R. Abu Daud

Keterangan

Memang benar apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw. Keadaan umat Islam pada hari ini, menggarnbarkan kebenaran apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw. Umat Islam walaupun mereka mernpunyai bilangan yang banyak, iaitu 1,000 juta (1/5 penduduk dunia), tetapi mereka selalu dipersendakan dan menjadi alat permainan bangsa-bangsa lain. Mereka ditindas, diinjak-injak, disakiti, dibunuh dan sebagainya. Bangsa-bangsa dari seluruh dunia walau pun berbeza-beza agama, mereka bersatu untuk melawan dan melumpuhkan kekuatannya.

Sebenarnya, segala kekalahan kaum Muslimin adalah berpunca dari dalam diri kaum muslimin itu sendiri, iaitu dari penyakit ‘wahan” yang merupakan penyakit campuran dari dua unsur yang selalu wujud dalarn bentuk kembar dua, iaitu “cinta dunia” dan ‘ttakut mati”. Kedua-dua penyakit ini tidak dapat dipisahkan. “Cinta dunia” bermakna tamak, rakus, bakhil danti dak mahu mendermakan harta di jalan Allah swt. Manakala “takut mati” pula bermakna leka dengan kehidupan dunia dan tidak membuat persiapan untuk menghadapi negeri akhirat dan tidak ada perasaan untuk berkorban dengan diri dan jiwa dalam memperjuangkan agarna Allah swt.

Kitaa berdoa agar Allah swt. menurunkan mushrahNya kepada kaurn muslimin dan memberikan kepada mereka kejayaan di dunia dan di akhirat.

4. ILMU AGAMA AKAN BERANSUR-ANSUR HILANG

Ertinya:

Daripada Abdullah bin Amr bin ‘ash r.a. berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bahawasanya Allah swt. tidak mencabut (menghilangkan) akan ilmu itu dengan sekaligus dari (dada) manusia. Tetapi Allah swt. menghilangkan ilmu itu dengan mematikan alim ulama. Maka apabila sudah ditiadakan alim ulama, orang ramai akan memilih orang-orang yang jahil sebagai pemimpin mereka. Maka apabila pemimpin yang jahil itu ditanya, mereka akan berfatwa tanpa ilmu pengetahuan. Mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”

H.R. Muslim

Keterangan

Sekarang ini alim-ulama sudah berkurangan. Satu demi satu pergi meninggalkan kita. Kalau peribahasa Melayu mengatakan, “patah tumbuh, hilang berganti”, peribahasa ini tidak tepat herlaku kepada alim ulama. Mereka patah payah tumbuh dan hilang payah berganti. Sampailah suatu saat nanti permukaan bumi ini akan kosong dari Ulama. Maka pada masa itu sudah tidak bererti lagi kehidupan di dunia ini. Alam penuh dengan kesesatan. Manusia telah kehilangan nilai dan pegangan hidup. Scbenarnya, alim ulamalah yang memberikan makna dan erti pada kehidupan manusia di permukaan bumi ini. Maka apabila telah pupus alim ulama, hilanglah segala sesuatu yang bernilai.

Di ahir-akhir ini kita telah melihat gejala-gejala yang menunjukkan hampirnya zaman yang dinyatakan oleh Rasulullah saw. tadi. Di mana bilangan alim ulama hanya tinggal sedikit dan usaha untuk melahirkannya pula tidak mendapat perhatian yang sewajarnya. Pondok-pondok dan sekolah-sekolah agama kurang mendapat perhatian daripada cerdik pandai. Mereka banyak mengutamakan pengajian-pengajian di bidang urusan keduniaan yang dapat meraih keuntungan harta benda dunia. Ini lah realiti masyarakat kita di hari ini. Oleh itu, perlulah kita memikirkan hal ini dan mencari jalan untuk menyelesaikannya.

5. GOLONGAN ANTI HADITH

Ertinya:

Daripada Miqdam bin Ma’dikariba r.a. berkata: Bahawasanya Rasulullah saw. bersabda, “Hampir tiba suatu masa di mana seorang lelaki yang sedang duduk bersandar di atas katilnya, lalu disampaikan orang kepadanya sebuah hadis daripada hadisku maka ia berkata : “Pegangan kami dan kamu hanyalah kitabullah (al-Quran) sahaja. Apa yang di halalkan oleh al-Quran kami halalkan. Dan apa yang ia haramkan kami haramkan”. (Kemudian Nabi saw. melanjutkan sabdanya, “Padahal apa yang diharamkan oleh Rasulullah saw. samalah hukumnya dengan apa yang diharamkan oleh Allah swt.”

H.R. Abu Daud

Keterangan

Lelaki yang dimaksudkan di dalam hadis ini adalah seorang yang mengingkari kedudukan Hadis sebagai sumber hukum yang kedua selepas al-Quran. Ia hanya percaya kepada alQuran sahaja. Baginya, hadis tidak perlu untuk dijadikan sumber hukum dan tempat rujukan. Golongan ini tidak syak lagi telah terkeluar dari ikatan Agama Islam dan pada realitinya seseorang itu tidak akan dapat memahani al-Quran jika tidak merujuk kepada hadis Nabi saw.. AI-Quran banyak menerangkan hal-hal yang besar dan garis panduan umum. Maka Hadislah yang berfungsi untuk memperincikan isi dan kandungan serta kehendak ayat-ayatnya serta menghuraikan dan menerangkan yang musykil. OIeh kerana itu, syariat tidak akan sempurna kalau hanya dengan al-Quran sahaja, tetapi ia mesti disertai dengan hadis Nabi saw.

6. GOLONGAN YANG SENTIASA MENANG

Ertinya:

Daripada Mughirah bin Syu’ bah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda, “Sentiasa di kalangan kamu ada golongan yang berjaya (dalam perjuangan mereka), sehingga sampailah suatu saat yang dikehendaki oleh Allah swt. Mereka sentiasa berjaya”.

H.R. Bukhari

Keterangan

Allah swt. telah menjadikan umat Islam ini umat yang terakhir sekali. Oleh itu Allah swt. berjanji akan memelihara kitabnya (al-Quran) dan memastikan lahirnya generasi demi generasi yang akan memikul tugas dakwah hingga tetap wujud golongan mukminin dipermukaan bumi ini.

Kalau kita meneliti sejarah umat Islam mulai zaman permulaan penyebarannya hingga ke hari ini, kita akan mendapati bahawa umat Islam telah teruji sepanjang sejarah dengan ujian yang berat-berat. Ujian itu bermula dari golongan musyrikin di Mekah dan munafiqin, Yahudi dan Nashrani di Madinah seterusnya gerakan riddah, Majusi yang berselimutkan Islam, golongan Bathiniyah, pengaruh falsafah dan pemikiran Yunani, serangan bangsa Moghul dan bangsa Tatar yang menghancurkan tamddun Baghdad pada pertengahan abad keenam Hijrah. Begitu pula halnya dengan penyembelihan beramairarnai terhadap kaum Muslimin ketika berlakunya kejatuhan kerajaan Islam di Andalus (Sepanyol) dan seterusnya disambung dengan pengaruh-pengaruh imperialis Barat terhadap dunia Islam, gerakan Zionis Yahudi dan missionary Nashrani yang mempunyai alatan dan kemudahan yang banyak dan seterusnya serangan disegi pemikiran dan kebudayaan dan sebagainya dan sebagainya Walaupun ujian yang sangat dahsyat melanda umat Islam di sepanjang sejarah namun mereka masih wujud dan masih lagi mempunyai identiti dan peranan yang hebat di dalam peta dunia di hari ini.
Walaupun di hari ini ada di kalangan umat Islam yang tidak mengambil berat tentang agama mereka tetapi masih ada golongan yang bersungguh-sungguh untuk mempelajari agama dan memperjuangkannya. Walau pun ramai di kalangan umat Islam yang telah hancur moral dan akhlaknya tetapi masih ada lagi golongan yang berakhlak tinggi dan berpekerti luhur. Walaupun syi’ar-syi’ar Islam diinjak-injak di sebahagian tempat tetapi di tempat lain syi’ar-syi’ar Islam masih lagi gagah dan teguh. Walau pun aktivis-aktivis Islam ditindas dan diseksa pada suatu tempat tetapi di tempat lain mereka akan disanjung dan dihormati. Begitulah seterusnya umat Islam tidak akan lenyap dari permukaan bumi ini hinggalah sampai pada masa yang dikehendaki oleh Allah swt. Maka pada masa itu Allah swt. akan mematikan semua orang-orang Islam dengan tiupan angin yang mematikan setiap jiwa yang beriman dan yang tinggal setelah itu hanyalah orang-orang yang jahat atau orang kafir, maka pada saat itulah akan berlaku hari qiamat.

“Siapalah aku di sisi MU ya Allah”

Sumbangan : KupuKupu

Sakit, Sihat …..Pergi Tak Kembali

“Jangan ambil dia, tolonglah ya Allah. Itulah satu-satunya pemata hatiku. Dialah penawar duka ku selama ini. Baru 26 tahun hidup bersamanya. Belum puas aku nikmati hidup sebagai seorang ibu memberi kasihsayang dan membelainya. Kasihanilah aku ya Allah. Sihatkan dia kembali, biarlah aku jadi galang gantinya, jangan ambil nyawanya.”

Hai manusia, ketahuilah bahawa dunia dan isinya adalah pinjaman sementara. Betapa dalampun kecintaan mu kepada sesuatu, itu hanya amanah yang di beri Allah SWT kepadamu. Apabila tiba masanya, Allah SWT mengkehendakinya kembali, redhakan dan sabarlah kamu mengembalikan nya kepada penciptaNya.

(Menjelang azan maghrib berkumandang, malam Jumaat 14 Syaaban kembalilah seorang insan menghadap penciptaNya. Hujan renyai-renyai pun turun seakan-akan menangisi pemergian nya dan mengerti betapa pilunya hati seorang ibu tunggal yang kehilangan satu-satunya anak tunggalnya.)

“Tiap-tiap diri (yang berjiwa) mesti merasai mati. Kami akan uji kamu dengan kejahatan dan kebajikan sebagai suatu ujian; kepada Kami kamu akan di kembalikan” (Surah Anbiyaak, Ayat 35)

Sukarnya untuk kita menerima hakikat bahawa orang yang kita kasihi kembali meninggalkan kita menemui Allah SWT. Bagaikan terhenti degupan jantung, lemah longlai seluruh anggota, kaki tidak lagi mencecah bumi. Berderai airmata menangisi mereka yang pergi, lebih-lebih lagi mereka yang terlalu akrab dengan kita seperti ibu, ayah, anak, suami, isteri, sahabat dan saudara.

Itulah hakikat kehidupan yang fana. Tiada yang kekal. Kita pun akan mengikuti jejak langkah mereka satu hari nanti cuma belum tahu bnila, tempatnya dan bagaimana caranya. Cepat atau lambat, sakit atau sihat, mati tetap pasti. Apabila tiba saatnya datang, tidak pernah terlewat, tepat.

Hikmah Allah SWT merahsiakan kematian agar kita insaf dan siap sedia setiap detik menanti kedatangannya yang tidak di undang dengan mengisi kehidupan dengan amalan soleh menjadi bekal menemui Nya. Mudah-mudahan tidak ada airmata kekesalan di hari kemudian. Semuga Allah SWT mudahkan kita sakaratul matu. Mudah-mudahan kita mati dalam husnul khatimah. Sedarlah diri, kita akan kembali, melangkah kealam baqa…. yang lemah kata mengungkapnya…

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhan mu dengan hati yang puas lagi di redhaiNya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba Ku, dan masuklah kedalam syurga Ku” (Al-Fajr, Ayar 28 – 30).

(Ya Allah, cucurilah rahmat keatas rohnya, lapangkan dan berilah cahaya dalam kuburnya, jauhilah ia dari siksa kubur dan masukkanlah ia dalam golongan hamba mu yang mendapat pengampunan dan rahmat Mu, Amin)

Kepada ALLAH diri berserah, serta mengharap rahmat melimpah. Qada dan qadar diterima mudah. Serta diucap Alhamdulillah.

Sumbangan : Sal

HATI DAN PERASAAN

Mungkin Tuhan sengaja mahu kita berjumpa dengan orang yang salah sebelum menemui insan yang betul supaya apabila kita akhirnya menemui insan yang betul, kita akan tahu bagaimana untuk bersyukur dengan nikmat pemberian dan hikmah di sebalik pemberian tersebut.

Apabila salah satu pintu kebahagiaan tertutup, yang lain akan terbuka tapi lazimnya kita akan memandang pintu yang telah tertutup itu terlalu lama hinggakan kita tidak nampak pintu yang telahpun dibukakan untuk kita.

Kawan yang paling baik ialah seseorang yang anda boleh duduk di dalam buaian dan berbuai bersama tanpa berkata apa-apa pun dan kemudian berjalan pulang dengan perasaan bahawa itulah perbualan yang paling hebat yang pernahdialami.Memang benar yang kita tidak akan tahu apa yang telah kita punyai sehinggalah kita kehilangannya dan juga benar bahawa kita tidak tahu apa yang kitarindukan sehinggalah ‘ia’ datang.

Memberi seseorang seluruh cinta anda bukanlah satu kepastian yang mereka akan menyintai anda kembali!

Jangan harapkan cinta sebagai balasan. Nantikan sahaja ia untuk mekar di dalam hati mereka tapi sekiranya ia tidak, pastikanlah ia terus mekar di dalam hati anda. Ia cuma mengambil masa seminit untuk jatuh hati pada seseorang, satu jam untuk menyukai seseorang, satu hari untuk menyintaiseseorang tetapi ia mengambil masa sepanjang hidupuntuk melupakan seseorang.

Jangan pandang kepada kecantikan kerana boleh jadi ianya palsu. Jangan kejar kemewahan kerana ianya akan susut.

Carilah seseorang yang membuatkan anda tersenyum kerana ia cuma memerlukan sekuntum senyuman untukmencerahkan hari yang suram. Carilah yang membuatkan hati anda tersenyum. Akan tiba satu ketika di dalam kehidupan apabila anda teramatkan rindukan seseorang sehingga anda ingin menggapainya dari mimpi anda dan memeluknya dengan sebenar.Mimpilah apa yang ingin anda mimpikan, pergilah ke mana-mana yang ingin anda tujui dan jadilah apa yang anda inginkan kerana anda hanya memiliki satu kehidupan dan satu peluang untuk melakukan semua perkara yang ingin anda lakukan.

Semoga anda memiliki kebahagiaan yang cukup untuk membuatkan diri anda menarik, percubaan yang cukup untuk membuatkan anda kuat, kesedihan yang cukup untuk memastikan anda adalah seorang insan dan harapan yang cukup untukmembuatkan anda bahagia. Selalu bayangkan diri anda di dalam kasut seseorang.Jika anda rasa ianya menyakitkan anda, fikirlah ia mungkin menyakitkan orang lain juga.

Kebahagiaan seseorang manusia tidak semestinya dalam memiliki segala yang terbaik. Mereka hanya membuat yang terbaik dalam hampir apa saja yang datang di dalam perjalanan hidup mereka.

Kebahagiaan terletak kepada mereka yang menangis, mereka yang terluka, mereka yang telah mencari dan mereka yang telah mencuba. Hanya mereka yang boleh menghargai kepentingan manusia yang telah menyentuh hidup mereka. Cinta bermula dengan senyuman dan berakhir dengan tangisan.

Masa depan yang cerah sentiasa berteraskan kehidupan yang lalu yang telah dilupakan. Anda tidak boleh meneruskan kehidupan dengan sempurna sehingga anda melupakan kegagalan dan kekecewaan masa silam.

Semasa anda dilahirkan, anda menangis dan orang di sekeliling anda tersenyum. Teruskanlah hidup anda supaya apabila anda mati nanti, andalah yang akan tersenyum dan orang sekeliling anda pula yang akan menangis. Sampaikan pada sebanyak mana orang yang tersayang,tanda peringatan anda pada mereka.

Ada kalanya… yang pahit itu bagaikan penawar dalam hidup seseorang… Oleh itu jangan hanya mahu menerima yang baik sahaja… terimalah kegagalan itu dengan redhanya
“Idup Musti Ria Ceria Selalu”

Sumbangan : TeMaN

Lambaian Kaabah: Kelebihan Makkah mengatasi kota lain dunia

KOTA suci Makkah Al-Mukarramah sentiasa dirindukan oleh jutaan umat Islam seluruh dunia. Inilah kota di mana turunnya wahyu llahi kepada Nabi Muhammad saw. Kota ini terletaknya Masjidil Haram dan Kaabah yang menjadi tanda kebesaran Allah.


Selain itu, Makkah adalah kota paling suci di bumi ini serta paling dicintai Allah dan rasul-Nya. Ia juga menjadi tanah kelahiran Nabi Muhammad dan pusat terpancarnya nur Allah di muka bumi ini.

Abdullah bin ‘Adi bin Al- Hamra meriwayatkan bahawa beliau mendengar Rasulullah bersabda, maksudnya : “Demi Allah! Kamu (wahai Makkah) adalah tanah Allah yang terbaik, dan yang sangat dicintai oleh-Nya. Andai kata aku tidak diusir daripada kamu, aku tak akan berpisah (daripada kamu).” (Hadis riwayat Ahmad, Ibn Majah dan Tirmidhi).

Ibn ‘Abbas pula berkata: Rasulullah bersabda: “Betapa tempat yang indahnya kamu! Kamu adalah tempat yang paling aku cintai! Sekiranya orangku tidak mengusirku daripadamu, aku tak akan berpisah (dari sini) untuk hidup di satu tempat yang lain.”

Al-Quran secara khusus, berkali-kali menyebut kota ini dengan pelbagai nama yang berjumlah sebelas semuanya. Antaranya ialah Makkah, Bakkah, Al-Baladul Amin, Al-Haramul Amin, Ummul Qura dan Al-Baldah Al-Tayyibah.

Bahkan, Allah bersumpah dengan kota suci ini serta memberikan kelebihan dan keistimewaan besar, yang tidak diberikan kepada kota lain.

Masjidil Haram dan Kaabah Baitul Atiq yang menjadi kiblat umat Islam sedunia, menjadikan kota suci ini sangat dicintai dan berpengaruh besar bagi umat Islam sepanjang masa.

Setiap umat Islam menghadapkan muka ke arahnya sekurang-kurangnya lima kali sehari semalam. Ia menjadi tempat untuk seluruh kaum Muslimin sedunia menunaikan haji dan umrah.

Di pinggir Kota Makkah, iaitu di Jabal Nur, turunnya wahyu llahi yang pertama iaitu Surah Al-Alaq.

Di sini juga menjadi tempat Nabi Muhammad menyendiri dan beribadat kepada Allah.

Selepas itu, berturut-turut wahyu turun kepada Nabi Muhammad melalui Jibril hingga ayat suci Al-Quran yang turun di kota ini dinamakan ayat Makkiyyah, manakala yang turun di Madinah dinamakan ayat Madaniyyah.

Di permukaan kota inilah bermulanya perjuangan menegakkan agama Allah yang suci. Pejuang dan pemuka Islam yang pertama, bergerak menghadapi ajaran sesat yang berkembang kukuh di kalangan penduduk Musyrikin Makkah pada masa itu. Patung dan berhala dipuja dan disembah.

Di kota inilah Nabi dan sahabat dimusuhi serta disingkir hingga terpaksa meminggirkan diri daripada masyarakat. Mereka terkepung di lereng gunung dekat Syiib Amir. Di sinilah, sahabat Nabi, pejuang Islam yang pertama, menerima pelbagai seksaan tubuh dan mental. Namun, mereka terus bersabar hingga Allah memberi kemenangan gemilang kepada mereka mengalahkan kaum Musyrikin.

Perspektif Ikim: Kejahilan ilmu dunia khianat terhadap agama

Oleh Nor Azaruddin Husni Naruddin

WARNA penting dalam kehidupan seharian sama ada secara langsung atau tidak langsung. Warna juga boleh menentukan peraturan. Contohnya, lampu isyarat menentukan peraturan lalu lintas dan melanggar lampu merah boleh dikenakan tindakan undang-undang.


Begitu juga dengan kilauan lampu merah pada ambulans yang memberi isyarat supaya pengguna jalan raya memberikan laluan. Warna merah selalunya dikaitkan dengan tanda amaran. Apakah kelebihan warna merah?

Amaran sama, tetapi dalam bentuk tulisan seperti “had laju 110 km/j”, ia kurang memberikan kesan kepada masyarakat. Mengapa? Apakah kerana warna merah itu mempunyai jarak gelombang yang panjang atau darjah serakan yang pendek? Adakah kerana itu warna merah lebih dipatuhi?

Tetapi apa yang lebih menarik di sini ialah kaitan warna dengan perubatan tradisional. Bagi sesetengah masyarakat, petua orang tua-tua mengatakan bahawa apabila menghidap penyakit beguk, kita menyapu nila yang dicampur dengan cuka untuk menyembuhkannya.

Satu ketika dulu, saya pernah menyapukan pewarna air biru ke atas adik yang ketika itu menghidap beguk dan penyakit itu pun sembuh.

Apakah penyakit itu sembuh disebabkan oleh nila, pewarna air, warna biru atau kebetulan? Mengapa? Apakah kaitan warna biru dengan bahagian leher itu?

Sehubungan itu, al-Quran ada menyebut mengenai warna.

Firman Allah bermaksud: “Dan demikian pula antara manusia dan bintang-bintang yang melata serta binatang-binatang ternak, ada yang berlainan jenis dan warnanya. Sebenarnya yang menaruh bimbang dan takut (melanggar perintah) Allah di kalangan hamba-hamba-Nya hanyalah orang yang berilmu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Pengampun.” (Surah Fathir, ayat 28)

Sesungguhnya Allah menyebutkan perbezaan warna yang dijadikan-Nya adalah bukti kebesaran-Nya.

Dalam penciptaan langit dan bumi, Allah menciptakan makhluk-Nya daripada pelbagai warna. Mengapa? Apakah hikmah di sebaliknya? Hanya orang yang berilmu kerana Allah saja yang paling takut-Nya dan sesiapa yang tidak takutkan Allah bukanlah dia daripada orang yang berilmu.

Apakah sama orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?

Firman Allah bermaksud : “(Engkau yang lebih baik) atau orang yang taat mengerjakan ibadat pada waktu malam dengan sujud dan berdiri sambil takutkan (azab) hari akhirat serta mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah (kepadanya): Adakah sama orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang dapat mengambil pelajaran dan peringatan hanyalah orang yang berakal sempurna.” (Surah az-Zumar, ayat 9)

Apakah yang dimaksudkan dengan orang yang berilmu itu? Dalam konteks ini, pengertian orang yang berilmu itu ialah mereka yang mengetahui dan mengkaji rahsia alam warna yang boleh terhasil daripada perbezaan kadar cahaya yang diterima oleh sel kon.

Bagi warna putih dan hitam, sel kod memainkan peranan. Manusia tidak mampu untuk mencipta warna. Kemampuan manusia hanya mengadun warna primer seperti merah, biru dan hijau yang dijadikan oleh Allah untuk mendapatkan warna sekunder.

Begitulah Allah yang menjadikan kejadian manusia dan warna saling berkait. Allah Maha Pencipta dan Maha Kaya.

Warna dari sudut sains disebabkan oleh pigmen. Pigmen ini boleh memantulkan cahaya atau menyerap cahaya pada panjang gelombang tertentu. Antara sebatian pigmen adalah seperti sepiapterin (kuning), biopterin (biru), xantopterin (hijau-biru) dan isoxantopterin (ungu-biru)

Sehubungan itu, dalam memperkatakan sains dari perspektif Islam mungkin boleh disingkap sejarah lampau.

Pada akhir abad ke-10 berlaku kegiatan terjemahan sains Islam kepada sains Barat yang diusahakan oleh masyarakat Kristian al-Andalus yang digelar Muzarab. Pada masa itu antara pusat penterjemahan yang aktif, termasuk Monastery Katalan di Ripoll dan Monastery Albeda di Barcelona, Sepanyol.

Apa yang menarik di sini ialah kegiatan terjemahan yang dilakukan hanya tertumpu pada bidang sains. Buku mengenai hadis, syariah dan usuluddin tidak diterjemahkan ke bahasa Latin.

Kini, kemajuan sains dan teknologi Barat membuatkan umat Islam tertindas. Apakah mungkin negara Islam dapat mengembalikan zaman kegemilangannya? Apakah masih ada Ibnu Sina yang akan lahir pada abad ke-21 ini? Apakah kelengkapan dulu serba canggih berbanding zaman era revolusi digital ini?

Setiap asas teori yang terkandung dalam al-Quran adalah benar dan tidak ada keraguan baginya. Perkataan Al-Hikmah dalam al-Quran membawa banyak makna dan pengertian. Antaranya ialah ’sesuatu yang dapat menyempurnakan jiwa manusia dengannya dalam bentuk ilmu pengetahuan dan hukum-hakam.’

Firman Allah bermaksud : “Dan (juga kerana) Allah telah menurunkan kitab dan hikmah kepadamu dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui.” (Surah an-Nisaa’, ayat 113)

Menyentuh hikmah dan ilmu ini, Profesor Subhi Naddeem Al-Maradini menyusun sebuah kitab yang berkisar mengenai kata-kata hikmah Lukman antaranya:

Suatu hari…

Dia memanggil anaknya

Dan menasihatinya agar

Anaknya itu mendapat petunjuk

Dengan kata-kata nasihat

Dan ilmu yang bercahaya

Lantaran dengan ilmu

Seseorang diangkat martabatnya

Di dunia ini

Sementara di akhirat pula

Kekal abadi

Di dalam syurga

Bersama sang bidadari

Akhir sekali, minda Muslim dalam konteks globalisasi ini ialah minda yang mesra alam. Ia mempersepsikan alam sebagai nikmat dan sekali gus amanah Allah yang harus disyukuri.

Kejahilan terhadap ilmu keduniaan adalah pengkhianatan besar terhadap agama Islam dan al-Quran.

Ia juga pengkhianatan agama dan kemanusiaan terhadap risalah Nabi Adam yang mengajarkan kita semua nama benda serta dipermudahkan bumi ini dan memungkinkan untuk menguasai lautan dan angkasa.

Penulis adalah Felo Kanan/Pengarah Pusat Perundingan dan Latihan Institut Kefahaman Islam Malaysia

Cinta, Kasih, Sayang & Hati

selalu yg terjadi….
> >
> Cinta sebelum Kawin
> > (sebelum kahwin)
> > C = cubit kiri, kanan rasa.
> > I = impian indah ibarat syurga.
> > N = nikah impian utama.
> > T = taat setia membawa bahagia.
> > A = awal dan akhir bersama-sama
> >
> >
> > (selepas kahwin)
> > C = cuka yang dituang pada luka.
> > I = iblis yang merosak minda.
> > N = nafsu semata-mata.
> > T = tuba yang dibalas semula.
> > A = api dalam neraka.
> >
> >
> > KASIH :
> > (sebelum kahwin)
> > K = kongsi semua suka duka.
> > A = abang adik, ayang anja.
> > S = sumpah janji di bibir sentiasa.
> > I = istana bahagia dah dicipta.
> > H = hatiku hatimu jua.
> >
> >
> > (selepas kahwin)
> > K = kaki tangan naik kat kepala.
> > A = abuk pun tara, nak makan apa??
> > S = simpati langsung tak ada.
> > I = ironi membakar jiwa.
> > H = hidup mati sama je.
> >
> > SAYANG :
> > (sebelum kahwin)
> > S = sikit-sikit SORRY, sikit-sikit SORRY, mengada!
> > A = asal free mesti nak jumpa.
> > Y = you lap me, I lap you!
> > A = apa saja sanggup diduga.
> > N = nak itu, nak ini… mesti dapat.
> > G = gula-gula, coklat, teddy bear hadiah utama.
> >
> >
> > (selepas kahwin)
> > S = salah sikit kiamat dunia.
> > A = air tak sedap, basahlah mata.
> > Y = yang betul dia je.
> > A = ada takde, bagi anak reti la.
> > N = nak dilawan, digelar derhaka.
> > G = gaduh sampai lebam.
> >
> >
> >
> > HATI:
> > (sebelum kahwin)
> > H = hanya dikau yang daku cinta.
> > A = air paip pun manis macam gula.
> > T = tak jumpa sehari boleh jadi gila.
> > I = igauan indah tak terkira.
> >
> >
> > (selepas kahwin)
> > H = hantu jembalang lagi sempurna.
> > A = air mata jadi teman setia.
> > T = tempat mengadu dah tak ada.
> > I = ikut hati mati, ikut rasa binasa… nak buat
> > macam mana?
> >
> >
> >
> > tetapi yg seharusnya ialah…
> >
> > C-Cinta sebelum berkahwin, biar sederhana, tak melanggar batas agama
> > I-Impian rumahtangga dirancangkan bersama (bkn praktikal seblm nikah)
> > N-Nikah didahulukan pembuka gerbang kebahagiaan
> > T-Timang cahaya mata sbg pengikat kasih sayang
> > A-Amalkan perintah Tuhan, Insyaallah bahagia membawa ke syurga.
> >
> >
> > K-Kasih berputik dikala pertunangan diikat
> > A-Akad dilafaz cinta berbunga
> > S-Suami disanjung-tinggi
> > I-Isteri disayangi
> > H-Harumlah kasih sepanjang zaman
> >
> >
> > S-Sayangkan Isteri kasihkan suami
> > A-Ada masalah, dibincangkan bersama
> > Y-Yang ringan sama dijinjing, berat sama dipikul
> > A-Amalkan hidup bertoleransi
> > N-Nak kekalkan bahagia, itu usaha bersama
> > G-Gaduh sesekali tu perkara biasa
> >
> >
> > H-Hati suami mesti dijaga
> > A-Apatah lagi hati isteri yang mudah tersentuh
> > T-Tanggung-jawab dipikul bersama
> > I-Isteri tak makan hati, suamipun tak cari ganti

ps: copy n paste only

Sumbangan : manggis

Urus jenazah sehingga ke kubur digalak

RASULULLAH saw berpesan, jika si mati ada meninggalkan wasiat atau pesan mengenai harta-bendanya atau perwakilan atas anak-anaknya atau isterinya atau hal berkaitan dengan nazar yang belum dibayar dan sebagainya, maka wajiblah bagi orang yang hadir pada waktu itu untuk menyampaikan kepada ahli, ibu bapa atau kepada sahabat karibnya.


Pesanan atau wasiat itu tidak boleh ditukar atau menguntungkan orang lain.

Mengenai hal ini, Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 180 yang bermaksud: “Diwajibkan kepadamu apabila seseorang daripada kamu itu menghadiri orang yang meninggal (dalam waktu sakaratul maut) jika orang itu meninggalkan wasiat (pesan) yang baik kepada ibu dan bapanya atau kerabat karib ahlinya.

“Barang siapa yang menukar akan apa-apa yang didengarnya itu adalah dosa bagi yang menukar itu. Bahawasanya Allah itu mendengar lagi mengetahui.” (Surah al-Baqarah, ayat 180)

Selain wasiat, Nabi mengingatkan umatnya supaya menziarahi keluarga orang yang meninggal dunia.

Lebih baik lagi, jika kita dapat mengurus dan mengiringi jenazah itu hingga ke ke kubur.

Rasulullah mengatakan bahawa ia adalah satu cara untuk mengembalikan ingatan atas kematian yang bakal menyusul. Semua orang tidak terkecuali daripada mati.

Rasulullah bersabda seperti diriwayatkan oleh Al-Bukhari maksudnya: “Bersabda Rasullullah, sesiapa yang menyaksikan satu jenazah hingga dia ikut mensolatkannya, maka dia akan mendapat pahala sebesar satu kirath.

“Dan sesiapa yang ikut menyaksikan jenazah sehingga dia ikut menguburkannya, maka dia mendapat pahala dua kirath.”

Ditanya apakah yang dimaksudkan dua kirath itu, baginda menjawab: “Ia seperti dua gunung besar.”

Rasulullah menyarankan supaya seseorang Muslim perlu menyaksikan jenazah dan sebaiknya ikut menguruskannya sejak dia masih terbaring di tempat tidur sampai ke kubur.

Tujuannya supaya seseorang itu merasakan apa yang dirasai keluarganya ketika ditimpa musibah.

Ia juga bertujuan mengembalikan ingatannya kepada hakikat kematian, sekali gus mengingatkan dirinya bahawa masanya di dunia tidak lama kerana dia juga akan mengalami kematian.

Pada saat kematian, dia akan terpisah dengan alam dunia menuju ke alam yang kekal dan tidak akan kembali lagi.

Dia akan meninggalkan isteri yang mendampinginya selama ini, yang sekarang menjadi janda.

Anaknya menjadi yatim dan harta bendanya akan dibahagi-bahagikan kepada orang yang masih hidup sebagai warisan.

Matanya yang digunakan untuk melihat barang dagangan yang indah selama ini menjadi hancur dan lidahnya yang digunakan untuk bercakap dimakan cacing di dalam tanah.

Apa yang pergi bersamanya hanyalah amalan, sama ada amalan baik atau buruk yang akan dihitung oleh Allah.

Jika banyak amalan baiknya, maka mudahlah kedaannya di dalam kubur. Kubur akan menjadi taman syurga baginya.

Jika banyak amalan burknya, maka kubur akan menjadi satu tempat mengerikan untuknya. Kubur akan menjadi umpama lubang neraka baginya, yang dipenuhi ular dan kala jengking.

Dosa tetap diampun jika insaf

DIRIWAYATKAN dalam Kitab Irsyadul Ibad Ilasabilirrasyad, ada seorang suami suka minum arak hingga mabuk. Ditakdirkan dia meninggal dunia.


Isterinya yang taat begitu sedih lalu memanggil penduduk kampung sekitar Basrah, menguruskan jenazah suaminya tetapi tiada seorang pun sudi kerana mereka menganggap suami wanita itu, ketika hayatnya berkelakuan tidak senonoh.

Dia kemudian mengupah orang mengusung jenazah suaminya ke surau berhampiran untuk disembahyangkan, malangnya tiada seorang pun sudi menyembahyangkannya.

Si isteri bagaikan berputus asa lalu menyuruh orang menghantar jenazah itu ke dalam hutan untuk dikebumikan.

Tiba-tiba datang seorang ahli sufi dan warak yang tinggal di bukit berhampiran. Lalu dia mengapankan jenazah dan menyembahyangkannya.

Perkara itu diketahui penduduk kampung, lalu ramailah berkumpul di sana.

“Mengapa tuan menyempurnakan mayat ini?” tanya salah seorang yang hairan dengan tindakan ahli sufi itu. Kata ali sufi itu: “Aku diperintahkan turun ke tempat ini kerana ada jenazah yang telah diampuni Allah, sedang bersamanya tiada sesiapa kecuali isterinya yang setia.”

Jawapan ahli sufi itu menghairankan orang ramai lalu si isteri ditanya mengenai keadaan suaminya sepanjang hayat dan sebelum menghembuskan nafas terakhir.

Jawab wanita itu: “Semua orang tahu sepanjang hari dia ke kedai arak dan minum hingga mabuk.”

“Apa tiada lagi amalan baik?” tanya ahli sufi itu.

“Tiada,” kata si isteri. Setelah beberapa ketika, si isteri mengingat kembali peristiwa sebelum suaminya meninggal dunia.

Katanya: “Ya, baru saya teringat. Satu hari setelah sedar dari tidur ketika Subuh, dia segera mengganti pakaian, mengambil wuduk lalu solat Subuh, kemudian dia tidur kembali.

“Dia juga amat menyayangi dua anak yatim di rumah kami melebihi sayangnya daripada anak kandung sendiri. “Ada ketikanya, apabila sedar dari tidur pada waktu malam, dia menangis sambil berkata: “Ya Allah, di bahagian mana di neraka jahanam akan Engkau isi si penjahat seperti aku ini?”

Fikrah: Umat perlu bersyukur hadapi ujian

MANUSIA tidak pernah terlepas daripada diuji atau dicuba oleh Allah. Ini termasuk dalam hal yang disenangi dan disukai, mahupun dalam perkara dibenci dan tidak disukainya.


Firman Allah yang bermaksud: “Tiap-tiap diri akan merasai mati, dan Kami menguji kamu dengan kesusahan dan kesenangan sebagai cubaan dan kepada Kamilah kamu semua akan dikembalikan”. (Surah al-Anbia, ayat 35)

Antara ujian itu ialah sakit sama ada penyakit ringan yang mudah diubati atau penyakit berat dan sukar untuk diubati atau penyakit kronik yang boleh membawa maut.

Penyakit itu bukanlah malapetaka atau untuk menyakitkan kita semata-mata, kecuali sebenarnya banyak kebaikan dan rahmat di sebaliknya.

Sesungguhnya ujian penyakit itu untuk menduga sejauh mana kita mampu bersabar dalam menghadapi kesakitan dan penderitaan.

Lagipun, jika kita sentiasa dikurniakan kesihatan baik tanpa ada sakit, kita akan menjadi semakin lupa diri, lupa bahawa kita tidak akan selama-lamanya hidup dalam kesenangan dan keselesaan saja.

Daripada kesakitan itu akan mengajar kita erti kesusahan dan penderitaan, bahkan turut mengingatkan kepada kematian.

Dengan kesedaran itu, dapatlah kita beringat-ingat untuk bersiap sedia dalam menghadapi sakaratul maut, berusaha meningkatkan amal ibadat, berusaha memperbaiki diri ke arah kebaikan serta berusaha menjauhi perbuatan mungkar dan berdosa.

Hakikatnya manusia akan mudah lupa diri jika sentiasa berada dalam kesenangan.

Jika diuji dengan kesakitan, janganlah marah dan resah gelisah. Tetapi bersyukur ke hadrat Allah kerana menyedarkan kita daripada terus hidup dalam kelalaian duniawi.

Bersyukurlah di atas penyakit yang menimpa. Ini kerana ia akan menjadi sebab dosa kita diampunkan, walaupun kadang-kadang penyakit itu adalah hukuman ke atas suatu dosa yang pernah kita lakukan sebelumnya.

Sesungguhnya, jika sabar dalam menghadapi penyakit dan bersabar dalam menanggung penderitaan, maka kita akan diberikan ganjaran pahala.

Ia akan dituliskan pelbagai kebaikan kepada diri kita serta akan ditinggikan darjat di sisi Allah.

Selain itu, kesakitan di dunia ini akan menjadi penyelamat kepada diri kita daripada kepanasan api neraka pada akhirat kelak.

Ini sebagaimana sabda Rasulullah saw ketika mengunjungi seorang sahabat yang demam: “Bergembiralah, kerana Allah berfirman: “Inilah nerakaKu, aku menganjurkan menimpa hambaKu yang mukmin di dunia, agar dia jauh daripada neraka pada hari akhirat.” (Hadis riwayat Imam Ahmad dan Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Oleh itu, bersyukurlah jika diberikan ujian daripada Allah walaupun dalam bentuk kesusahan. Itu menunjukkan betapa Allah maha mengasihi hamba-Nya, diberikan ujian agar kita tidak terus hanyut dalam buaian mimpi indah kehidupan di dunia ini.

Ia juga supaya kita dapat kembali semula ke jalan yang diredai Allah agar berpeluang untuk bertaubat sebelum terlambat.

Cuba kita renungi dan hayati kisah Nabi Ayub yang diuji dengan sejenis penyakit kulit luar biasa. Beliau menderita kerana penyakit itu selama tujuh tahun.

Begitu lama menanggung sengsara penyakit itu, beliau tidak pernah gelisah. Nabi Ayub tabah menghadapi dugaan. Badannya walaupun semakin kurus, hingga menakutkan mata memandang, beliau masih mampu mengingati Allah.

Disebabkan penyakit Nabi Ayub itu sungguh dahsyat, tiada orang sanggup melihatnya, melainkan isterinya yang sabar menemani dan merawatnya.

Iblis tidak senang apabila menyaksikan kesabaran dan kesetiaan isteri Nabi Ayub. Isterinya digoda supaya tidak melayaninya lagi. Tipu daya iblis itu sebenarnya diketahui Nabi Ayub dari awal lagi lalu diberitahu kepada isterinya.

Nabi Ayub berkata kepada isterinya: “Jika aku sembuh, engkau pasti aku pukul 100 kali.”

Kemudian Nabi Ayub berdoa kepada Allah seperti digambarkan melalui al-Quran: “Ingatlah ketika Ayub menyeru kepada Tuhannya: Ya Tuhanku! Aku mendapat penyakit dan cubaan daripada syaitan.”

Doa Nabi Ayub dimakbul Allah dan penyakit yang dideritainya selama tujuh tahun sembuh.

Dalam al-Quran dikisahkan bahawa:: “Cecah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan minum.

“Dan Kami anugerahkan dia dengan mengumpulkan kembali keluarganya dan Kami tambahkan kepada mereka sebanyak mereka pula sebagai rahmat dari Kami dan pengajaran bagi orang yang mempunyai fikiran.”

Mengenai nazarnya, Nabi Ayub mengingatkan isterinya yang terpedaya dengan iblis bahawa beliau akan memukul isterinya itu 100 kali jika beliau sembuh.

Justeru, apabila benar-benar sembuh dan sihat, Nabi Ayub bertekad untuk melaksanakan nazar itu.

Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Ayub mengenai cara melakukan nazar itu.

Firman Allah, bermaksud: “Dan ambillah dengan tanganmu seikat rumput (100 batang), lalu pukullah dengan itu dan janganlah kamu melanggar sumpah.

“Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayub) seorang yang sabar, dialah sebaik hamba kerana dia sesungguhnya amat taat kepada Tuhannya.”

Nabi Ayub menggunakan rumput yang diikat itu untuk memukul isterinya dengan sekali libasan.

Walaupun sekali pukulan, ia dikira 100 kali kerana rumput yang diikat itu mengandungi 100 helai daun.

Begitulah ujian Allah terhadap hamba-Nya. Hanya mereka yang beriman dan sabar dapat menghadapi ujian itu dengan tabah dan tenang.

Oleh itu, mereka yang diterima musibah, anggaplah ia ujian daripada Allah dan sabar serta syukur menghadapinya.

Salihah: Ummul Banin bidas Badwi perlekeh wanita

UMMUL Banin binti Abdul Aziz bin Marwan adalah sasterawan ulung dan petah berbicara. Dengan kepetahan dan kepintarannya berbicara, dia pernah mengalahkan Al-Hajjaj dalam satu perbahasan.


Wanita terkenal Bani Umaiyah ini adalah isteri Khalifah Bani Umaiyah, Al-Walid Abdul Malik.

Pada suatu hari, ketika Al-Walid berada pada majlis pakaian bulu, Ummul Banin melihat seorang Badwi memakai baju besi duduk bersama suaminya yang berpakaian perang.

Beliau mengutuskan jariahnya untuk bertanyakan Al-Walid siapa gerangan orang Badwi itu. Al-Walid memberitahu jariah berkenaan Badwi itu adalah Al-Hajjaj.

Ummul Banin mengutuskan lagi jariahnya memberitahu suaminya beliau tidak suka Al-Walid duduk bersama Badwi itu kerana dia membunuh ramai orang.

Apabila jariah memberitahu perkara itu kepada Al-Walid, beliau ketawa. Al-Hajjaj kehairanan melihat Al-Walid ketawa lalu a bertanya: “Apa sebabnya khalifah ketawa?”

Al-Walid: ”Kau mahu tahu?”

Al-Hajjah: “Kalau Tuanku khalifah tidak keberatan!”

Al-Walid: “Isteriku melarangku duduk bersamamu sebab kau membunuh banyak orang.”

Al-Hajjah: “Wahai Amirul Mukminin, tinggalkanlah senda gurau golongan wanita dengan omong kosong sebab wanita adalah tempat bermesra dan bukan pemutus urusan, maka jangan sekali-kali kau membuka rahsiamu kepada mereka atau mendedahkan tipu daya musuhmu kepada mereka.

“Jangan berikan peluang meminta lebih daripada yang diberikan untuk diri mereka. Jangan biarkan mereka memikir lebih daripada apa yang memperindahkan diri mereka.

“Awas kau daripada menjadikan mereka tempat bermesyuarat dalam segala urusan kamu sebab sesungguhnya pendapat mereka itu tidak boleh dipakai dan keazaman mereka itu lemah.

“Tutuplah pandangan mereka dengan tabirmu dan jangan biarkan mereka menguruskan sesuatu urusan, selain daripada mengenai diri mereka sendiri. Jangan beri mereka kuasa untuk menjamin, selain dirinya kepadamu.

“Dan jangan duduk lama-lama dengan mereka kerana yang demikian itu lebih melapangkan pemikiranmu dan lebih mengekalkan keutamaanmu!”

Selesai berhujjah, Al-Hajjaj meninggalkan majlis.

Al-Walid kemudian memberitahu isterinya apa yang dikatakan Al-Hajjah tadi. .

Sebaik mendengar kata suaminya, Ummul Banin menyuruh suaminya menyuruh Al-Hajjaj datang esok.

Esoknya, Al-Hajjaj menemui Al-Walid. Sejurus Ummul Banin menyampaikan pidatonya:

“Al-Hajjaj! Engkaulah yang menghasut Amirul Mukminin untuk membunuh Ibnu Zubair dan Ibnul Asy’ats. Demi Allah, kalau tidak kerana Allah menjadikan kau sejahat-jahat manusia di muka bumi, nescaya tiadalah Dia mempesonakan kau dengan melempar Kaabah dan tidak dengan membunuh anak Dzatin-Nithaqain, anak yang pertama dilahirkan dalam Islam.

“Ada pun Ibnul Asy’ats, sebenarnya demi Allah, dia menimpakan ke atasmu beberapa kekalahan tetapi engkau segera merayu bantuan Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan. Maka, dia segera mengirimkan bantuan tentera Syam, sedangkan kau sudah dihimpit dari segenap penjuru, maka tentera Syamlah yang melindungimu dengan senjata mereka.

“Kalau tidak kerana semua itu, nescaya kau akan dipandang lebih hina daripada anak kambing.”

Ummul Banin menyambung lagi: “Ada pun apa yang kau nasihatkan terhadap Amirul Mukminin supaya dia meninggalkan kelazatannya dan menahan diri daripada mencapai keperluan kepada isteri-isterinya. Jika mereka itu daripada jenis wanita seperti emak kamu melakukan kepadamu, tentulah dia sangat patut sekali belajar daripadamu dan menurut nasihatmu.

“Tetapi jika isterinya itu seperti yang ada sekarang, maka dia tidak akan mengikut telunjukmu itu dan tidak akan mendengar nasihatmu.

“Sangat tepat kata-kata penyair, sedang tombaknya berada antara kedua bahumu, dia berkata, engkau laksana singa di depanku, tetapi dalam peperangan engkau na’amah, berjalan perlahan kerana takutkan suara seekor burung kecil.

“Mengapa kau tidak cuba nasibmu dengan rusa dalam hutan; malah hatimu laksana dua belah kepak burung yang terbang?”

Apabila Al-Hajjaj kembali semula kepada Al-Walid, dia ditanya: “Wahai Abu Muhammad, apa yang sudah berlaku?”

Al-Hajjaj menjawab: “Demi Allah, wahai Amirul Mukminin, apabila dia berhenti daripada kata hamunnya, melainkan saya rasa bagaikan berada di perut bumi itu adalah lebih baik daripada berada di mukanya.”

Al-Walid ketawa dan berkata: “Wahai Abu Muhammad! Dia itu puteri Abdul Aziz.”

Kajian di Mesir buktikan Makkah pusat bumi

Oleh Hasliza Hassan

UMAT Islam perlu mengetahui arah Kaabah walaupun di mana mereka berada kerana Kaabah adalah kiblat untuk menghadap ketika menunaikan solat.


Pelbagai kaedah digunakan bagi menentukan arah kiblat seperti menggunakan kompas dan melihat arah matahari terbit dan terbenam.

Menyedari pentingnya hal ini, seorang profesor dari Mesir, Prof Hosien Kamal El Din Ibrahim, mencuba satu kaedah baru bagi menentukan arah kiblat dari seluruh penjuru dunia.

Beliau banyak menerbitkan artikel saintifik di bidang kejuruteraan awam. Untuk itu beliau melukis peta dunia yang baru yang dapat menunjukkan arah Makkah dari kota lain di dunia.

Dengan menggunakan perkiraan matematik dan kaedah ’spherical triangle’, Hosien mendapati kedudukan Makkah betul-betul berada di tengah-tengah bumi.

Penyelidikan beliau ini membuktikan bahawa bumi ini berkembang dari Makkah, dan Makkah adalah pusat bumi. Penyelidik lain kemudiannya mengakui ketepatan kiraan beliau apabila mereka menggunakan program komputer bagi membuat kiraan dan melukis peta itu.

Sebelum itu, Abi Fadlallah Al-Emary yang meninggal dunia pada tahun 749 Hijrah, turut melukis peta yang menentukan arah kiblat.

Peta itu terkandung dalam kitabnya Masalik Al Absar Fi Mciinalik Al Amsar. Beliau menggunakan kaedah astronomi bagi menentukan arah kiblat.

Seorang lagi pemikir Islam, Al-Safaksy (meninggal dunia tahun 958 Hijrah) turut melukis peta dengan menggunakan pendekatan astronomi.

Penyelidik kemudiannya mengkaji kedua-dua peta itu dan membandingkannya dengan kaedah astrologi moden. Mereka mendapati kaedah yang digunakan oleh Al-Emary dan Al-Safaksy adalah sangat tepat.

Selepas dibandingkan dengan kaedah moden, kedua-dua peta itu membuktikan Makkah dan Kaabah adalah ‘pusat bumi’.

Hasil kajian ini diakui benar dan diisytiharkan oleh The Egyptian Scholars of The Sun and Space Research Center yang berpusat di Kaherah.

Walaupun pelbagai usaha dilakukan bagi menentukan arah kiblat secara matematik dan saintifik, namun masih ada umat Islam yang mengambil mudah mudah perkara ini.

Sikap mengambil mudah arah kiblat harus dielakkan kerana menentukan arah kiblat yang betul adalah penting bagi memastikan kita sembahyang menghadap ke arah Kaabah.

Ada beberapa faktor berlaku permasalahan dalam menentukan arah kiblat hingga isu penentuan arah kiblat tidak diambil berat atau berlaku kesilapan dalam menentukan arah kiblat. Antaranya:

Mengambil sikap sambil lewa.

Ada sebahagian umat Islam yang mengambil sikap sambil lewa dan menganggap kelonggaran yang diberikan oleh syarak yang membenarkan menggunakan kaedah kiblat dzan.

Perkara ini dinyatakan melalui firman Allah bermaksud : “Maka kami benarkan engkau berpaling mengadap kiblat yang engkau sukai. Oleh itu palingkanlah muka mu ke arah Masjidil Haram dan di mana saja kamu berada hadapkanlah mukamu ke arahnya.”

Kurang ilmu pengetahuan mengenai kaedah penentuan arah kiblat sama ada secara tradisional atau moden.

Kebanyakan umat Islam hari ini lebih cenderung kepada mengikut tradisi lama iaitu dari generasi ke generasi dan tidak pernah disemak semula ketepatan arah kiblat.

Begitu juga dalam menentukan arah kiblat di tanah perkuburan, ia hanya ditentukan oleh penggali kubur, sedang mereka juga tidak begitu mahir dalam menentukan arah yang tepat ke kiblat.

Ketiadaan peralatan moden membuat pengukuran.

Sewajarnya umat Islam perlu memiliki alat sekurang-kurangnya kompas untuk menentukan arah kiblat.

Selain itu, amat perlu untuk mempunyai kesedaran mengenai pentingnya ilmu falak bagi mengelakkan kesilapan dalam menentukan ketepatan arah kiblat.

Bagi mengatasi permasalahan itu, penubuhan badan yang bertanggungjawab seperti Bahagian Falak Syarie Jabatan Mufti Negeri Selangor dan Jabatan Agama Islam daerah adalah penting bagi membantu menyelesaikan masalah berkaitan arah kiblat.

Semoga dengan tindakan yang dilakukan akan memberi keyakinan terhadap ibadat yang dilakukan dan mendapat keredaan Ilahi.

AGAMA ISLAM AGAMA YANG SEBENAR

-Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah melalui para RasulNya.

-Allah adalah Tuhan yang menciptakan segala alam ini iaitu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

-Apa yang ada di bumi seperti manusia, binatang, jin, syaitan, tumbuh-tumbuhan, bukit bukau, laut, sungai, hutan dan lain-lain, Allah yang ciptakan.

-Apa yang ada di langit seperti malaikat, planet-planet, matahari, bulan, bintang dan lain-lain, Allah yang ciptakan.

-Allah adalah Tuhan yang sebenar, tidak ada ciptaan yang menyamai Allah Taala.

-Hanya Agama Islam sahaja agama yang sebenar dan betul kerana datangnya dari Allah.

-Hanya Agama Islam sahaja agama yang diredhai oleh Allah, Tuhan seluruh alam.

-Agama-agama lain tidak benar dan tidak betul kerana manusia sendiri yang buat.

-Sesiapa yang menganut Agama Islam dipanggil Orang Muslim atau Orang mukmin.

-Sesiapa yang menganut agama lain yang bukan Agama Islam dinamakan Orang Kafir.

-Setiap orang yang mati dalam Islam dan Iman akan masuk SYURGA, kekal selamanya.

-Setiap orang yang mati dalam Kafir akan masuk NERAKA, kekal selamanya.

-Syurga adalah tempat yang penuh keseronokan, penuh keindahan, penuh nikmat, penuh kesenangan yang disediakan oleh Allah bagi Orang Mukmin.

-Nikmat Syurga tidak ada tandingan di dunia ini.

-Neraka adalah tempat yang penuh azab, penuh sengsara, penuh ketakutan bagi orang kafir dan orang yang melakukan dosa di kalangan Orang Mukmin.

-Azab Neraka tidak ada tandingan di dunia ini. Ada Neraka yang azabnya amat panas, dan ada Neraka yang azabnya amat sejuk.

-Agama Islam menyuruh manusia beriman kepada Allah, bahawa Allah sahaja Tuhan sebenar.

-Agama Islam menyuruh manusia menyembah Allah sahaja dan beribadat kepadaNya seperti bersembahyang, puasa, zakat dan lain-lain.

-Agama Islam menyuruh manusia berakhlak dengan akhlak yang baik seperti jangan menipu, mesti tolong menolong, menghormati ibu bapa dan guru.

- Agama -

Hadis: Lima perkara dijanjikan Allah

RASULULLAH bersabda, maksudnya: “Umatku diberi oleh Allah pada Ramadan lima perkara yang tidak pernah diberi kepada umat sebelumnya

Iaitu bau mulut orang yang berpuasa adalah lebih baik atau lebih harum daripada bau kasturi.

Malaikat sentiasa memohon keampunan bagi mereka yang berpuasa hingga berbuka.

Penjahat syaitan dibelenggu sehingga mereka tidak berkuasa sebagaimana pada hari selainnya.

Allah menghiasi syurga setiap hari dan berfirman: “Hampir hambaKu” yang soleh bebas daripada keberatan dan gangguan.”

Allah mengampunkan bagi mereka pada akhir malam Ramadan kemudian sahabat bertanya: “Ya Rasulullah! Apakah itu adalah Lailatul Qadar? Jawab baginda, bukan! Tetapi seseorang buruh itu diberi upahnya apabila selepas pekerjaannya.”

Ihya Ramadan: Ramadan bulan menilai keimanan

Oleh Dandarawi S

RAMADAN adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh orang soleh. Bulan yang disebut oleh Rasulullah sebagai ‘bulan umatku’, satu-satunya umat yang dikurniakan dengan bulan mulia dalam sejarah kewujudan manusia.


Kaum nabi terdahulu tidak pernah dikurnia Allah dengan mana-mana bulan mulia. Bukan saja Ramadan itu, mengandungi seribu rahmat, malah menunggu-nunggu datangnya pun adalah rahmat Ilahi. Ini seperti sabda Rasulullah, maksudnya: “Sesiapa yang bergembira dengan datangnya Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya daripada api neraka.” (Hadis riwayat Ibn Majah).

Sebagai mana pintu syurga dibuka pada Ramadan, pintu keberkatan, kebaikan, pintu kasih-sayang, kemaafan, hidayah dan petunjuk juga terbuka.

Pintu neraka tertutup rapat, sebagaimana jalan ke neraka juga tersekat. Jalan ke syurga terbentang luas, hingga Rasulullah sendiri menjelaskan dalam sabdanya: “Tidur orang yang berpuasa pada bulan puasa adalah ibadat, diamnya adalah tasbih, manakala ibadatnya dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.”

Ramadan adalah bulan kerehatan dan kelapangan daripada segala hiruk pikuk dan kesibukan dunia. Bulan kita berhenti sebentar daripada keserabutan kejar-mengejar di pentas dunia, untuk melihat ke dalam diri sendiri terhadap cebis iman yang masih tinggal serta dosa pahala yang pernah diperbuat selama setahun.

Justeru, kita dianjurkan agar meningkatkan keimanan.

Keempat-empat komponen kewujudan manusia hendaklah diperkukuhkan dengan neraca iman. Tubuh badan bertambah taat, roh makin bercahaya, akal penuh bijaksana dan nafsu bak air tasik tenang tidak berkocak.

Berhenti sebentar berfikir dengan rasional status perhubungan kita dengan Allah selama ini, ketaatan kepada Rasulullah serta apa yang dibuat untuk agama, bangsa, negara, ibu bapa, keluarga, jiran tetangga dan diri sendiri?

Rasulullah bersabda: “Sesiapa saja yang berpuasa pada Ramadan dengan penuh iman dan menghisab diri sendiri akan diampunkan dosanya yang lalu.” (Hadis riwayat Imam Muslim).

Bagi mereka yang mencari kebaikan Ramadan, pelbagai peluang diberikan. Malah, bagi mereka yang belum mampu mengerjakan haji, sama ada kerana masalah kewangan, kekurangan ilmu atau belum dapat kuota mengerjakannya, dia boleh saja sekurang-kurang mengerjakan umrah pada Ramadan.

Seperti kisah yang diceritakan Ibnu Abbas bahawa Rasulullah pernah bertanya kepada seorang wanita dari kaum Ansar, baginda bersabda: “Apakah yang menghalang kamu daripada mengerjakan ibadat haji bersamaku?

“Wanita itu menjawab: Sebenarnya tidak ada halangan bagi kami, cuma kami hanya mempunyai dua unta. Suami dan anakku sudah pergi mengerjakan haji dengan seekor unta. Tinggallah kepada kami seekor unta untuk mengangkat air.

“Rasulullah bersabda: Apabila tiba Ramadan pergilah mengerjakan umrah kerana mengerjakan umrah pada bulan itu pahalanya sama dengan pahala mengerjakan haji.” (Hadis riwayat Imam Muslim).

Begitu juga pada malam Ramadan, peluang terbuka luas untuk menghidupkan malamnya dengan mendirikan solat Tarawih, Saidina Abu Hurairah ada menjelaskan bahawa Rasulullah bersabda: “Sesiapa yang mendirikan sembahyang malam pada Ramadan kerana keimanan (kepada Allah) dan mengharapkan keredaan Allah semata-mata, maka diampunkan segala dosanya yang lalu.” (Hadis riwayat Imam Muslim).

Namun ada juga orang yang terlampau-lampau dalam mengaut pahala Ramadan hingga mengganggu orang lain. Golongan itu memerangkap atau memaksa orang lain turut dalam apa yang hendak diperbuatnya, tanpa memikir bahawa setiap orang ada hak masing-masing yang haram diganggu.

Contohnya, ada jawatankuasa surau atau masjid yang menghentikan solat pada pertengahannya dengan memberi laluan kepada tazkirah, kononnya supaya orang mendapat ilmu. Tetapi, sebenarnya adalah paksaan yang mengandungi agenda tidak baik yang tersirat dalamnya. Buatlah tazkirah selepas selesai solat atau pada waktu lain. Mengapa perlu pada pertengahan Tarawih?

Jika ia baik, tentu cara yang sama dilakukan oleh Rasulullah, setidak-tidaknya pada zaman sahabat atau oleh ulama muktabar.

Ramadan walaupun bulan kerehatan, ia bukanlah bulan untuk bermalas-malasan, menjadikan orang Islam tidak produktif atau menjadikan alasan berpuasa untuk tidak membereskan sebarang pekerjaan.

Sepatutnya pada Ramadan, umat Islam bertambah cergas, kuat kerja, aktif dan lebih kuat semangat. Ini kerana setiap tanggungjawab yang dibereskan pasti mendapat ganjaran berlipat ganda.

Ramadan juga adalah bulan kemurahan, murah hati dengan mengeluarkan zakat dan sedekah. Namun, Ramadan bukan bulan pembaziran dan menambah daya nafsu serakah. Bulan ini kita berkongsi kebaikan, pahala dan keberkatannya. Jangan sampai dikatakan orang ‘awak sajakah yang hendak buat pahala’? Ini pernah berlaku seorang yang mengaji al-Quran dengan pembesar suara masjid dihidupkan, sampai dinihari masih belum berhenti. Jiran tidak boleh tidur, sedangkan esok semua orang hendak bekerja, yang tidur siang dia seorang. – dandarawishams@yahoo.com.

Ihya Ramadan: Ibadah Ramadan perlu ceria, erat silaturahim

Oleh Endok Sempo Mohd Tahir

KEHADIRAN Ramadan yang kita lalui sekarang hendaklah disambut dan dipenuhi dengan amal soleh. Jangan biarkan Ramadan ini berlalu begitu saja tanpa dipenuhi dengan kegiatan atau amalan berfaedah yang mendapat keberkatan dan keredaan Allah.


Kita perlu memanfaatkan kedatangan Ramadan sebaiknya dengan doa dan harapan amalan puasa dan ibadat lain diterima Allah.

Suasana orang yang menyambut Ramadan berbeza. Ada yang gembira dan tidak sabar mengalu-alukan ketibaan Ramadan. Ada juga tidak ceria dengan kedatangannya kerana tidak terasa keseronokan dan kenikmatan berpuasa. Malah golongan ini terasa terseksa hidup dalam sebulan ini.

Ibnu Abbas meriwayatkan Rasulullah saw bersabda yang bermaksud: “Apabila datang hari pertama Ramadan, maka bertiup angin al-Mutsiiratu dari Arasy dan menggerakkan daun-daun pohon syurga hingga terdengar sayup-sayup suara merdu yang tidak pernah terdengar oleh sesiapa pun.

“Bidadari melihat dan mendengar ke arah sayup-sayup suara merdu itu sambil berkata: “Ya Allah, jadikan kami pada bulan ini (Ramadan) sebagai isteri hamba-hamba-Mu. Maka Allah mengahwinkan hamba-Nya yang berpuasa pada Ramadan dengan bidadari cantik.”

Ini adalah salah satu cebisan kebaikan dan ketinggian bulan Ramadan yang sedang dilalui umat Islam.

Kita harus bersyukur kerana dapat menyambut ketibaan Ramadan al-Mubarak, iaitu bulan awalnya rahmat, pertengahannya pengampunan dan akhirnya merdeka (terlepas) daripada api neraka.

Semoga kita mendapat ketiga-tiga kelebihan itu.

Bagi mereka yang ingin menjinakkan hati untuk merasakan keseronokan Ramadan, perlu dibuat beberapa inovasi dalam pengisian dan menghayati bulan mulia ini. Mungkin saranan amal Ramadan di bawah ini lebih praktikal untuk keseronokan berpuasa dan menggamit kegembiraan.

Kita perlu mencipta suasana ceria dan menyeronokkan pada Ramadan agar jiwa tenang dan puas dengan amalan yang hanya sebulan ini.

Badan dakwah dan kebajikan atau organisasi Islam di setiap daerah menyediakan kain rentang dengan ungkapan mengalu-alukan Ramadan seperti ‘Ahlan Wa sahlan Ya Ramadan’ dan ‘Ramadan Karim, samalah kita merebut piala Ramadhan’. Jika sudah terlepas awal Ramadan, kita masih sempat membuatnya untuk menyambut hari raya seperti ‘Raya Tanpa Maksiat’. Mungkin di rumah kita boleh cipta suasana sebegini.

Hantar ucapan atau sistem pesanan ringkas (SMS) ‘Selamat Berpuasa’ kepada rakan.

Latih anak-anak kecil lima tahun ke atas untuk mula berpuasa. Berikan ganjaran dan galakan kepada mereka.

Galakkan iftar (buka puasa) secara berjemaah bersama ahli kariah dan rakan di surau atau bergilir-gilir di rumah ahli keluarga terdekat, jiran atau sahabat handai. Dengan cara ini, kita juga dapat merapatkan silaturahim sesama umat.

Galakkan menghantar juadah berbuka kepada jiran. Namun isteri atau kaum ibu jangan keterlaluan menyediakan juadah sehingga kepenatan. Ini akan menjejaskan tumpuan untuk melakukan ibadat seperti solat Tarawih.

Jemput rakan beriftar di rumah, pejabat atau tempat biasa kita berkumpul atau bertemu.

Bertadarus al-Quran bersama ahli keluarga di rumah atau rakan sepejabat ketika waktu rehat. Inilah peluang mendapatkan bekalan ruhiyah pada bulan mulia ini.

Galakkan bertadarus bersama isteri dan anak.

Tadabbur, telaah dan mengkaji isi kandungan al-Quran. Baca tafsir dan maknanya untuk meningkatkan ilmu dan iman. Al-Quran, pemberi panduan, pemisah antara hak dan batil, seterusnya membebaskan kita dan manusia daripada kesesatan.

Rajinkan diri bersolat jemaah Tarawih di surau dan masjid. Inilah peluang untuk menambah amalan solat dan meramaikan kenalan baru..

Rajinlah berqiamullail di surau dan masjid. Kalau takut hendak buat seorang diri, ajak rakan dan ahli keluarga yang lain.

Setiap hari ringankan tangan untuk menghulur sedekah wang, walaupun RM1 dan harta (infaq) seperti sumbangan untuk tabung Palestin, tanah wakaf, sekolah, anak yatim, fakir miskin, tabung iftar di surau dan masjid. Derma kepada orang yang memerlukan dan galakkan anak menjadi dermawan dan suka menyumbang.

Iktikaf di masjid. Ini secara tidak langsung memberi peluang kita beruzlah dan fokus untuk mengenali diri dan menghampirkan diri kepada Pencipta kita, selepas setahun sibuk dengan dunia dan kehidupan.

Bersedia untuk ‘Kembara Ramadan’ pada 10 malam terakhir bersama kaum keluarga, rakan atau sekampung. Kembara Ramadan adalah ekspedisi untuk mengejar harta karun malam seribu bulan, Lailatul Qadar yang hanya berlaku sehari dalam setahun.

Semoga puasa kali ini lebih baik daripada pada tahun sebelumnya. – wanitajim0@yahoo.co

Hadis: Zakat fitrah pelengkap puasa

MENGELUARKAN zakat fitrah adalah kewajipan yang dituntut ke atas setiap umat Islam pada Ramadan yang cukup syaratnya.


Dalam hal ini, Abdullah bin Umar berkata: “Rasulullah memfardukan zakat fitrah pada Ramadan ke atas umat Islam secupak tamar atau secupak gandum sama ada yang merdeka atau hamba, lelaki atau perempuan, kanak-kanak atau dewasa.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Hikmatnya zakat ini ialah dapat menyucikan diri orang yang berpuasa kerana ada kemungkinan dirinya itu mengalami kesan kelalaian atau kerosakan puasanya.

Begitu juga ia akan mengelakkan orang fakir dan miskin daripada meminta-minta pada hari raya.

Daripada Ibn Abbas katanya Rasulullah mewajibkan umatnya mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyuci diri orang berpuasa daripada perbuatan tidak bermanfaat dan keji serta makanan bagi orang miskin.

“Sesiapa yang mengeluarkannya selepas solat hari raya, maka ia adalah sedekah saja.” (Hadis riwayat Abu Daud, Ibn Majah dan al-Hakim).

Sesiapa tidak menunaikan zakat fitrah bagi dirinya dan orang dalam tanggungannya, sedangkan mampu melakukannya, maka pahala puasanya tidak akan diterima Allah.

Sabda Rasulullah bermaksud: “Puasa Ramadan tergantung antara langit dan bumi (tidak diangkat) melainkan selepas mengeluarkan zakat fitrah.”

JADUAL HARIAN SEORANG MUSLIM DI BULAN RAMADHAN

4.00 pagi - Bangun

Berdoalah kepada ALLAH dengan doa :

“Segala puji bagi ALLAH yang telah menghidupkan aku setelah DIA mematikan aku dan kepadaNYAlah aku akan dikembalikan”.

Berniatlah untuk melaksanakan sebanyak mungkin kebaikan pada hari itu. Mandi dan membersihkan diri. Mengambil wudhu dan memakai pakaian yang suci untuk beribadah, berwangi-wangian.

4.20 pagi - Solat Sunat Taubat

Niatnya : Sahaja aku solatsunat taubat 2 rakaat kerana ALLAH Taala.

Rakaat pertama selepas Al-Fatihah baca surah Al-Kafirun.

Rakaat kedua selepas Al-Fatihah baca surah Al-Ikhlas.

Selepas sembahyang, angkatlah tangan memohon ampun kepada ALLAH.

Menangislah dan menyesali segala dosa.

- Solat Sunat Tahajjud

Niatnya : Sahaja aku solatsunat tahajjud 2 rakaat kerana ALLAH Taala.

Rakaat pertama selepas Al-Fatihah baca surah Al-Kafirun,

Rakaat kedua selepas Al-Fatihah baca surah Al-Ikhlas.

Selepas sembahyang, berdoalah kepada ALLAH.

- Solat Sunat Hajat

Niatnya : Sahaja aku solatsunat hajat 2 rakaat kerana ALLAH Taala.

Selepas Al-Fatihah rakaat pertama baca ayatul Kursi 1 kali.

Selepas Al-Fatihah rakaat kedua baca surah Al-Ikhlas 11 kali.

Ketika sujud terakhir baca 11 kali, “Laillahailla anta subhanakainni kuntuminaz zolimin” dan sertakan di dalam hati segala hajat kita.

- Solat Sunat Witir

Niatnya : Sahaja aku solatsunat witir 2 rakaat kerana ALLAH Taala.

Selepas salam, bangun lagi dan solatwitir 1 rakaat.

Perbanyakkan berdoa kepada ALLAH dengan penuh rasa kehambaan, rendah diri, mohon agar ALLAH ampunkan dosa-dosa kita, terima taubat kita dan amalan kita, serta memperkenankan doa dan permintaan kita.

5.00 pagi - Bersahur

5.30 pagi - Bersiap menunggu waktu Subuh dengan membaca Al-Quran atau berselawat.

Solatsunat Subuh, solatSubuh berjemaah. Selesaikan wirid harian di tikar solatatau baca Al-Quran hingga terbit matahari.

7.00 pagi - Membuat persiapan ke tempat kerja.

Melangkah ke tempat kerja dengan membaca Bismillah dan doa kepada ALLAH agar semua aktiviti kita diberkatiNYA. Sentiasa berselawat kepada Rasulullah SAW sama ada menyebutnya atau di hati. Banyakkan istigfar/meminta ampun. Melaksanakan kerja dengan bersemangat dan penuh bertanggungjawab. Datangkan rasa bahawa ALLAH sentiasa memerhati kerja-kerja yang di lakukan dan yakinlah DIA akan membalas segala kebaikan yang kita buat.

10.00 pagi - SolatSunat Dhuha

Ia adalah sumber rezeki yg berkat kalau istiqamah diamalkan.

Niatnya : “Sahaja aku solatsunat dhuha 2 rakaat kerana ALLAH Taala”.

Penuhi masa rehat tengahari dengan menambah ilmu atau membaca Al-Quran. Elakkan sungguh-sungguh dari melakukan dosa walaupun kecil dan perkara yg sia-sia.

Contoh dosa-dosa : mengumpat mengutuk, menyindir yang menyakitkan orang, bergaul bebas tanpa menjaga syariat seperti berbual dengan bukan muhrim mengenai perkara yang tiada sangkut paut dgn kerja.

12.45 tgh. - Bersiap untuk solat Zohor.

Menunggu waktu bersolatdengan berselawat. Solat Zohor berjemaah.

Laksanakan juga solat sunat Rawatib Bersujud. Syukur setelah selesai solatsunat dan wirid sebagai berterima kasih kepada ALLAH yg. memberi kita nikmat besar dapat menyembahNYA.

4.15 ptg. - Bersedia untuk solat Asar.

Solat Asar berjemaah. Laksanakan juga solat sunat Qabliyah.

Bersujud syukurlah setelah selesai solatsunat dan wirid sebagai berterima kasih kepada ALLAH yg memberi kita nikmat besar dapat menyembahNYA.

5.30 ptg. - Membeli barang-barang keperluan berbuka dan sahur.

Tanpa berlebih-lebih. Ingatlah walaupun syaitan dirantai tetapi nafsu masih ada dlm diri kita !!!

6.30 ptg. - Memperbanyakkan doa sebelum berbuka.

Kerana di waktu itu adalah masa yang mustajab doa.

Ingatlah sabda Rasulullah SAW : “Ramai orang yang berpuasa, yang mereka dapat hanya lapar dan dahaga”, mohonlah kepada ALLAH agar amalan kita diterima.

Apabila masuk watu Magrib, Bacalah doa dan berbuka :

“Ya ALLAH , Ya Tuhanku , kerana Engkaulah aku berpuasa, kepada Engkaulah aku beriman dan dengan rezki engkaulah aku berbuka”.

Berbuka puasa dengan makanan manis seperti buah kurma dan meminum air, terus menunaikan solat maghrib berjemaah, setelah itu barulah makan makanan berat.

8.00 mlm. - Solat Isya’ berjemaah dan diteruskan dengan solat Terawih.

Cuba pertahankan solat terawih walau bagaimana keadaan sekalipun kerana fadhilatnya amat besar. Bacalah Al-Quran dengan penuh tawadhuk, seelok-eloknya baca dengan bertadarus (berkumpulan bergilir-gilir, seorang baca, yang lain menyemaknya), cuba khatamkan membaca Al-Quran paling kurang satu kali sepanjang ramadhan. Kebanyakan imam-imam besar mengkhatamnya dua kali dalam sehari (60 kali sebulan Ramadhan)

11.00 mlm. - Memperbanyakkan istigfar sebelum tidur.

Berniatlah utk puasa esok hari dgn berniat : “Sahaja aku berpuasa hari esok untuk menunaikan puasa ramadhan yg wajib ke atasku, tahun ini kerana ALLAH Taala”. (JANGAN LUPA!!!)

Tidur awal agar dapat bangun utk beribadah. Bacalah doa sebelum tidur :

“Dengan namaMU Ya ALLAH, aku hidup dan mati”.

Ingatlah tidur adalah mati yg. sementara, kemungkinan kita dipanggil ALLAH ketika tidur.

Selamat menjalani ibadah puasa. Semoga segala amalan kita diterima dan diberkhati ALLAH. InsyaALLAH.

Hadis: 6 perkara nikmat keberkatan

RASULULLAH saw bersabda bermaksud: “Ramai orang berpuasa, tetapi mereka tidak memperoleh apa-apa (pahala) daripada puasa itu, melainkan lapar dan dahaga.” (Hadis riwayat Ahmad bin Hanbal)


Setiap Muslim perlu menjaga tingkah laku ketika berpuasa kerana puasa dapat membentuk diri menjadi hamba beriman dan beramal soleh. Bagi tujuan itu, kita perlu memelihara adab berpuasa kerana puasa sempurna saja akan diterima Allah.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin berkata, ada enam perkara yang perlu diperhatikan orang Islam bagi memperoleh puasa sempurna dan menikmati keberkatan Ramadan.

Pertama, menahan pandangan daripada sesuatu yang tercela dan makruh serta melalaikan diri daripada mengingati Allah.

Kedua, tidak menggunakan lidah untuk maksiat seperti mengumpat, mengeji dan berdusta.

Ketiga, menghalang telinga daripada mendengar ucapan atau perkataan dilarang agama kerana sesuatu yang tidak elok tidak baik didengar.

Keempat, mencegah anggota lain seperti tangan, kaki dan perut daripada melakukan maksiat.

Kelima, tidak keterlaluan ketika berbuka seperti makan terlalu banyak.

Keenam, meletakkan hati sentiasa dalam perasaan takut (Khauf) dan mengharapkan Allah.

Ihya Ramadan: Zakat elak sifat mengemis, imbangi kekurangan puasa

ZAKAT fitrah adalah tuntutan yang wajib ditunaikan apabila seseorang memenuhi syarat-syaratnya. Ini berdasarkan hadis yang bermaksud: “Rasulullah memfardukan zakat fitrah pada Ramadan segantang tamar atau segantang gandum atas orang Islam sama ada hamba sahaya atau merdeka, lelaki atau perempuan, kecil atau besar.”


Hukum mengeluarkan zakat fitrah turut diperuntukkan dalam enakmen setiap negeri ketika ini. Berdasarkan seksyen 16 Enakmen Kesalahan Jenayah Syariah berkaitan zakat fitrah, dijelaskan: ‘Mana-mana orang wajib membayar zakat atau fitrah tetapi:

(a) enggan membayar atau dengan sengaja tidak membayar zakat atau fitrah itu; atau

(b) enggan membayar atau dengan sengaja tidak membayar zakat atau fitrah itu melalui amil yang dilantik, atau mana-mana orang lain yang diberi kuasa oleh Majlis untuk memungut zakat atau fitrah, adalah melakukan suatu kesalahan dan apabila disabitkan boleh didenda tidak melebihi RM1,000 atau dipenjarakan selama tempoh tidak melebihi enam bulan atau kedua-duanya.’

Seksyen ini menggariskan bahawa menjadi kesalahan apabila seseorang gagal atau enggan menyempurnakan kewajipan zakat fitrah. Sesungguhnya, peruntukan ini terpakai kepada sesiapa saja yang enggan membayar zakat fitrah sedangkan dirinya cukup syarat.

Umat Islam hendaklah bersegera dalam mengeluarkan zakat dengan menyedari bahawa ia adalah antara tuntutan Rukun Islam yang lima.

Sesungguhnya, Islam seseorang belum lagi sempurna jika tidak mengeluarkan zakat.

Setiap Muslim hendaklah mengeluarkannya dengan hati terbuka, ikhlas dan bukannya berasakan ia adalah satu paksaan.

Kefarduan mengeluarkan zakat fitrah pada Ramadan adalah bukti bahawa umat Islam perlu hidup bertolak ansur dan bersatu padu tanpa membezakan status ekonomi, keturunan, pendidikan dan kadar ketakwaan.

Ini seiring dengan fungsinya untuk meningkatkan daya saing ekonomi kaum dua’fa (orang lemah). Mereka ialah fakir, orang miskin, amil yang menguruskan zakat, mualaf yang dijinakkan hatinya, hamba yang hendak memerdekakan dirinya, orang berhutang, untuk (dibelanjakan pada) jalan Allah dan orang dalam perjalanan.

Jelasnya, dengan zakat itu dapat merapatkan jurang pendapatan antara orang kaya dan miskin.

Zakat fitrah diwajibkan pada Ramadan kerana Allah memberi keistimewaan kepada Ramadan sebagai bulan toleransi dan perpaduan antara kaya dan miskin.

Orang kaya difardukan berpuasa bagi membolehkan mereka merasakan keperitan hidup orang miskin apabila menahan lapar dan dahaga kerana ketidakmampuan memenuhi hajat hidup.

Dengan itu, akan timbul kesedaran dan rasa simpati terhadap keperitan hidup orang miskin. Rasa simpati ini dibuktikan dengan kesediaan mereka membayar zakat fitrah.

Zakat fitrah juga berfungsi membersihkan jiwa pembayar serta menimbulkan nilai toleransi dan perpaduan orang kaya terhadap orang miskin.

Hakikatnya, zakat berfungsi sebagai amalan ibadat untuk mendekatkan diri kepada Allah hingga menjauhkan manusia daripada sifat mencintai dunia secara berlebihan dan melupakan hari akhirat.

Hikmatnya zakat juga dapat menyucikan diri orang yang berpuasa kerana ada kemungkinan dirinya itu mengalami kesan kelalaian, kerosakan puasanya. Begitu juga dia akan mengelakkan orang fakir dan miskin daripada meminta-minta pada hari raya.

Ibnu Abbas berkata yang bermaksud: “Rasulullah telah memfardukan zakat fitrah sebagai menyucikan orang yang berpuasa daripada sia-sia dan kerosakan untuk menjadi makanan pada orang miskin.”

Islam menetapkan lapan asnaf yang berhak menerima zakat. Dalam al-Quran, Allah berfirman maksudnya: “Sesungguhnya sedekah (zakat) itu hanya tertentu untuk orang fakir, miskin, amil yang menguruskan zakat, muallaf yang dijinakkan hatinya dan hamba yang ingin membebaskan diri (diberi peluang menebus diri tetapi tidak mampu), orang berhutang.

“Orang yang berjuang di jalan Allah dan orang musafir (yang kehabisan bekalan) dalam perjalanan, sebagai kewajipan fardu yang ditetapkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surah at-Taubah, ayat 60).

Bagaimanapun, masih ada umat Islam yang mengambil mudah kewajipan berzakat fitrah. Mereka terlupa mengeluarkannya hingga tiba Aidilfitri.

Mengikut syarak, zakat fitrah perlu dilakukan sepanjang Ramadan manakala hukumnya menjadi haram selepas solat Aidilfitri.

Perkara ini ada disebut Rasulullah saw dalam sabdanya yang bermaksud : “Zakat fitrah itu dibuat bagi membersihkan orang yang berpuasa daripada percakapan yang sia-sia dan kotor dan k makanan bagi orang miskin.

“Sesiapa yang menunaikannya sebelum solat Aidilfitri, maka itulah zakat yang diterima. Dan sesiapa yang membayar zakatnya sesudah solat, maka itu adalah sedekah biasa saja.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah).

Berdasarkan hadis ini, janganlah kita berlengah untuk berzakat fitrah. Ingatkanlah ahli keluarga dan rakan supaya ibadat yang difardukan setahun sekali ini dapat dilakukan tepat pada masanya.

Hadis: Dua kegembiran orang berpuasa

RASULULLAH bersabda bermaksud: “Semua amalan anak Adam digandakan kebaikannya sepuluh kali ganda sama dengannya hingga tujuh ratus kali ganda, Allah berkata: Melainkan puasa, kerana ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang membalasnya, mereka meninggalkan syahwat dan makanannya kerana-Ku.”


Bagi orang yang berpuasa akan mendapat dua kegembiraan; kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika menemui Tuhannya, dan bau busuk (dari mulut orang yang berpuasa) kerana berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada bau Musk.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Puasa adalah perkara ‘dharuriah’ dalam agama di mana sesiapa yang mengingkari wajibnya puasa maka dia menjadi kufur, manakala sesiapa yang meninggalkan puasa tanpa uzur syarie, hendaklah dihukum.

Puasa memaksa kita meninggalkan nafsu syahwat walaupun pada perkara yang dihalalkan untuk melakukannya (sebelum Ramadan). Dengan itu puasa sebenarnya dikatakan sebagai pendidik untuk kita menjadi lebih tegas, berdisiplin dan sabar ketika berhadapan dengan sebarang godaan sepanjang Ramadan.

Ramadan juga dikenali sebagai bulan prestasi, di mana Allah memberikan kesempatan kepada orang beriman untuk memperbaiki darjatnya di sisi Allah. Bahkan pada bulan ini semua kegiatan yang harus di sisi syarak dikira sebagai suatu ibadat kepada Allah.

Ihya Ramadan: Kesihatan, ketahanan jiwa antara nikmat ibadat puasa

Oleh Anuar Puteh

BERPUASA Ramadan bukan sekadar berlapar atau dahaga, malah mempunyai rahsia dan nikmat lebih daripada itu. Dr Yusuf Qardhawi dalam kitabnya al-Ibadah Fil Islam mengungkapkan ada lima rahsia utama puasa yang membolehkan kita merasakan kenikmatan dalam ibadat ini.

Menguatkan Jiwa

Dalam hidup, kita mendapati ada manusia yang dikuasai hawa nafsu. Manusia seperti ini, menuruti apa yang menjadi keinginannya, meskipun ia sesuatu yang batil serta mengganggu dan merugikan orang lain.

Oleh itu, dalam Islam ada perintah untuk memerangi hawa nafsu dengan maksud berusaha untuk menguasainya, bukan membunuh nafsu yang membuat kita tidak mempunyai keinginan terhadap sesuatu bersifat duniawi. Sekiranya dalam peperangan ini (hawa nafsu) manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan berlaku. Ini kerana manusia yang kalah itu akan mengalihkan pengabadiannya daripada Allah kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.

Allah memerintahkan kita memerhatikan masalah ini dalam firman-Nya bermaksud : “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (Surah al-Jaathiyah, ayat 23)

Dengan puasa, manusia akan berjaya menguasai nafsunya yang membuat jiwanya menjadi kuat. Dengannya manusia memperoleh darjat tinggi serta menjadikannya mampu mengetuk dan membuka pintu langit hingga segala doanya dimakbulkan Allah.

Rasulullah bersabda, ertinya : “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak doa mereka: Orang yang berpuasa hingga berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizalimi.” (Hadis riwayat Tirmidzi).

Mendidik keinginan ke arah kebaikan.

Puasa mendidik seseorang untuk memiliki keinginan kepada kebaikan, meskipun menghadapi pelbagai rintangan. Puasa yang dikerjakan secara terbaik akan membuatkan seseorang itu terus mempertahankan keinginannya yang baik.

Rasulullah menyatakan bahawa puasa itu setengah daripada kesabaran. Rasulullah bersabda, maksudnya: “Puasa itu sebagai benteng (daripada serangan keburukan).”

Dalam kaitan ini, puasa akan menjadikan rohani seorang Muslim semakin ampuh. Kekuatan rohani unggul ini akan membuatkan seseorang itu tidak akan lupa diri meskipun sudah mencapai kejayaan atau kenikmatan duniawi. Kekuatan rohani juga akan membuat seorang Muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

Menyihatkan badan

Di samping kesihatan dan kekuatan rohani, puasa memberikan pengaruh positif berupa kesihatan jasmani (tubuh dan anggota badan). Hal ini tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah, malah dibuktikan oleh doktor atau ahli perubatan.

Mengenal nilai kenikmatan dan bersyukur

Dalam hidup ini, sebenarnya terlalu banyak kenikmatan diberikan oleh Allah kepada manusia, tetapi ramai yang tidak mensyukurinya. Dapat satu tidak terasa nikmat kerana menginginkan dua. Dapat dua tidak terasa nikmat kerana menginginkan tiga dan begitulah seterusnya.

Maka, dengan puasa manusia bukan hanya disuruh memperhatikan dan merenungi kenikmatan yang diperoleh, malah diminta merenung nikmat Allah kepada kita.

Di sinilah, pentingnya puasa bagi mendidik untuk menyedari betapa tingginya nilai kenikmatan yang Allah berikan supaya kita menjadi orang yang pandai bersyukur dan tidak mengecilkan erti kenikmatan daripada Allah. Rasa syukur memang akan membuat nikmat itu bertambah banyak, baik dari segi jumlah atau paling tidak dari segi rasanya.

Allah berfirman bermaksud : “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7).

Mengingati dan merasakan penderitaan orang lain

Berlapar dan dahaga memberikan pengalaman bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Pengalaman berlapar dan haus itu akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam (lebih kurang 12 atau 13 jam), sementara penderitaan orang lain entah bila berakhir. Dari sini puasa akan melahir dan memantapkan rasa simpati kita kepada kaum Muslimin lainnya yang hidup dalam kemiskinan dan menderita.

Oleh kerana itu, sebagai simbol dari rasa simpati itu, sebelum Ramadan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat (fitrah). Ini supaya dengan itu setahap demi setahap kita mampu mengatasi persoalan umat yang menderita. Bahkan, zakat tidak hanya bagi kepentingan orang miskin dan menderita, malah menghilangkan kekotoran jiwa berkaitan harta seperti gila harta dan kikir.

Allah berfirman bermaksud : “Ambillah zakat daripada sebahagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersih dan menyucikan mereka dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surah at Taubah, ayat 103) – anteh@pkrisc.cc.ukm.my

Jangan hanya sekadar berpuasa

Kalamullah
Oleh NUR HIDAYAH
“Marhaban Ya Ramadan, Selamat datang Wahai bulan suci.” – Mungkin itulah kata-kata yang paling tepat untuk kita lafazkan dalam kita menyambut kehadiran bulan suci ini. Sesungguhnya kita bersyukur kerana dengan keizinan Allah hari ini kita sudah berada empat hari dalam bulan yang penuh dengan seribu keberkatan ini.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 183 yang bermaksud, Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Mungkin pada hari ini kita merasa gembira kerana telah berjaya memasuki hari keempat dalam bulan Ramadan, namun persoalannya apakah kita benar-benar begitu yakin bahawa ibadah puasa kita setakat ini bersesuaian dengan kehendak Allah.

Sememangnya hanya Allah sahaja maha mengetahui, namun jika kita merasakan ia masih belum sempurna, maka dalam kesempatan ini marilah kita perbaiki kekurangan yang ada ketika kita menjalankan ibadah tersebut.

Puasa bukanlah setakat menahan lapar dan haus sejak mula terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Apabila direnungi makna daripada puasa itu sendiri, maka akan kita dapati ada beberapa hikmah yang terkadang luput daripada perhatian kita.

Ayat di atas menerangkan sesungguhnya puasa telah diwajibkan atas kita untuk menguji seberapa besar ketaqwaan kita pada Allah yang bererti untuk meninggikan manusia pada puncak ketaqwaan.

Rasulullah s.a.w. bersabda, Ada tiga pintu syurga yang bernama Rayyan, dan hanya mereka yang berpuasa diizinkan untuk melalui pintu itu, seseorang yang masuk melaluinya maka tidak akan pernah merasa haus.

Dengan berpuasa kita menjaga hawa nafsu kita agar tidak mengarah pada kejahatan dan kemaksiatan kerana puasa di sini bukanlah setakat menahan haus dan lapar, melainkan juga menjaga hati dan amalan kita, mengawal diri daripada melakukan kemaksiatan dan kemungkaran.

Rasulullah pernah bersabda bahawa puasa adalah perlindungan dan perlindungan ini akan hanya dirasai selama manusia memahami nilai-nilai berpuasa. Di antara manfaat berpuasa itu ada dua perkara iaitu jasmani dan rohani. Dari segi jasmani berpuasa memberi peluang kepada organ-organ tertentu dalam tubuh badan kita untuk berehat.

Manakala dari segi rohani, puasa dapat mendorong kita untuk mengawal kesabaran kita dalam menghadapi keadaan yang sulit dengan meninggalkan makan dan minum. Bulan suci ini juga mengajarkan kita simpati pada orang miskin, ketika rasa lapar dan dahaga menyerang orang yang sedang menjalankan puasa, maka saat itu dia boleh merasakan pelbagai pengalaman yang dirasakan oleh berjuta umat Muslim yang kelaparan.

Justeru marilah kita bermuhasabah di bulan suci ini untuk menilai apakah kita benar-benar menjalankan ibadah puasa seperti mana dituntut oleh Islam atau kita hanya sekadar berpuasa kerana sekarang bulan Ramadan. Jadikanlah waktu malam yang syahdu di bulan mulia ini untuk beribadat dan meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya. Semoga Ramadan tahun ini benar-benar bermakna kepada kita sebagai hamba-Nya.

Air-Antara Kebesaran Allah

Pada pagi Sabtu (21.9.02) saya telah berkesempatan (Alhamdulilah) menghadiri kuliah subuh yang disampaikan oleh Ustaz Abdullah Mahmood. Ada satu cerita menarik yang saya kira bagus untuk kita kongsi bersama. Ustaz menceritakan bahawa dia telah berkesempatan menghadiri satu seminar di Istana Hotel yang disampaikan oleh seorang rakyat Jepun yang menunjukkan hasil kajian nya mengenai Air.Contoh-contoh diambil dari sungai, laut dan merata-rata tempat. Dikaji molikul-molikul air itu dan dengan menggunakan mikroskop serta projektor maka dipancarkan keputusannya dilayar putih.Maka keluarlah bermacam-macam rupa bentuk susunan molikul air tersebut. Ada yang menakutkan dan ada yang menggerunkan.Apabila diambil air zam zam, maka keluarlah cahaya yang bersinar dengan susunan molikul yang tersusun lagi cantik.Kemudian disuruh pula dibacakan ayat-ayat suci dan zikir-zikir pada air biasa. Apabila diuji, air tersebut juga bercahaya. Untuk menguatkan lagi bukti maka diambil air biasa juga dan air tersebut dimaki hamun dengan perkataan yang hudoh, maka keputusannya, tergambarkan gambaran yang menakutkan.

Subhanallah…..

Air kosong yang kita minum dan guna hari-hari pun tahu betapa agungnya ayat-ayat Allah. Bagaimana kita yang setiap saat dan detik ini menghirup dan menikmati rahmat Allah. Tidak terfikir kah kita? Semoga orang Jepun tersebut mendapat hidayat dan memeluk Islam. Dalam seminar itu hanya segelintir sahaja orang Islam yang hadir. Itulah lebih kurang yang saya ingat. Kalau sahabat-sahabat ada maklumat lanjut, ingin juga saya kongsi bersama.

Air Mata Rasulullah S.A.W

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk,”Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,”Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.

Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut roh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.

“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan roh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku -
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah SAW kepada kita.

Fikirkan…Renungkan….

Usah gelisah apabila dibenci manusia kerana masih ramai yang menyayangi mu di dunia tapi gelisahlah apabila dibenci Allah SWT kerana tiada lagi yang mengasihmu diakhirat.

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah engkau beri petunjuk kepada kami.”

(Ali Imran : 250)

Tiga golongan manusia dicintai Allah

ALLAH berfirman bermaksud : “Dan berbuat baiklah, kerana sesungguhnya Allah menyukai (menyintai) orang yang berbuat baik” – (Surah al-Baqarah, ayat 195).


Daripada ayat di atas, kita memperoleh penjelasan bahawa Allah kasih kepada orang yang melakukan kebaikan.

Orang yang baik, maknanya akhlak dan tingkah lakunya baik. Dia akan melakukan yang baik-baik saja. Ini kerana dia sedar bahawa hidup ini adalah kesempatan untuk mengumpul kebaikan.

Dengan kebaikan itu, maka turunlah rahmat Allah. Sebaliknya, Allah membenci orang yang berperi laku jahat dan berakhlak buruk.

Kederhakaan manusia menyebabkan turunnya kemurkaan dan bala daripada Allah.

Alangkah bahagianya jika kita mendapat kasih sayang Allah.

Dalam sebuah hadis qudsi, Allah berfirman (bermaksud): “Aku cintakan tiga jenis manusia, tetapi Aku jauh lebih cinta kepada tiga jenis manusia lainnya iaitu:

Aku cintakan orang yang bersifat pemurah, tetapi Aku lebih cinta lagi orang miskin yang pemurah.

Aku cintakan orang yang rendah hati/diri, tetapi Aku lebih cinta orang kaya yang rendah hati.

Aku cintakan orang yang bertaubat, tetapi Aku lebih cinta lagi orang muda yang bertaubat.”

Perspektif IKIM: Muafakat bantu kejayaan organisasi

Oleh Nik Mustapha Nik Hassan

ISLAM diutus Allah SWT untuk menyusun kehidupan manusia pada peringkat individu dan masyarakat bagi mencapai kemakmuran dan kecemerlangan hidup di dunia dan seterusnya di akhirat. Tumpuan kepada usaha mendidik individu dan menyusun masyarakat pada peringkat awal bertujuan melahirkan insan berguna dan mengatur sistem hidup masyarakat supaya dapat berfungsi dengan baik dan sekali gus mengurangkan segala bentuk permasalahan.


Pendekatan Islam bukan hanya dengan mencari penyelesaian kepada akibat daripada suatu permasalahan yang dihadapi manusia tetapi Allah dari awal lagi mengarahkan manusia supaya dididik dan disusun untuk kecemerlangan dengan berasaskan prinsip yang menepati fitrah kemanusiaan. Proses penyusunan yang baik mengikut Islam memerlukan suatu sistem pengurusan diri, keluarga, organisasi dan negara yang mantap demi membawa kepada wujudnya sebuah tamadun yang mulia dan progresif.

Pada peringkat pengurusan organisasi, Islam menganjurkan kepada satu metodologi pendekatan yang sesuai dan praktikal. Islam tidak mengesyorkan supaya bentuk, mekanisme dan kegiatan pengurusan organisasi yang sedang beroperasi secara cemerlang yang diamalkan oleh masyarakat bukan Islam dihapuskan, melainkan kegiatan itu jelas bertentangan dengan falsafah Islam.

Islam hanya mengutarakan garis panduan dan mengambil kira suasana dan budaya persekitaran. Justeru, proses perubahan ke arah mencapai kejayaan hendaklah melalui penerapan nilai tauhid kepada falsafah dan roh sistem yang sedia ada yang bukti berfungsi.

Dalam proses pengurusan, individu pekerja yang menganggotai sesebuah organisasi hendaklah diberi keutamaan. Manusia pada fitrahnya memiliki sifat makhluk individu dan makhluk sosial. Untuk mencapai kejayaan dan kecemerlangan dalam semua usaha, memahami hakikat ini adalah sangat perlu.

Sifat makhluk individu menonjolkan bahawa setiap individu berkeinginan untuk menjaga kepentingan dan kecapaian diri. Di samping itu, sebagai makhluk sosial pada lumrahnya manusia saling memerlukan antara satu sama lain dalam mengatur tugas dalam organisasi. Pendekatan Islam mengemukakan usaha dan tindakan yang mengharmonikan kepentingan individu dan bermuafakat melaksanakan tugas dalam organisasi demi mencapai matlamat organisasi.

Untuk menjayakan keharmonian ini dipertingkat individu, Islam mengutamakan kepada pembentukan pandangan hidup dan menghayati pendidikan akhlak semoga sahsiah individu dapat dibentuk dengan memiliki sikap yang positif serta progresif dan mengamalkan perilaku mulia. Usaha ini perlu kepada pendidikan yang dapat meningkat kefahaman dan berusaha menjalani latihan kerohanian supaya tindak-tanduk yang negatif dapat dikurangkan.

Akhlak dan perilaku individu sepatutnya mengarah kepada tanggungjawab dan prestasi kerja. Memahami suasana semasa juga menjadi keperluan penting. Justeru, menguasai ilmu sosiologi, ekonomi, politik, kebudayaan dan sebagainya adalah penting.

Di samping itu, Islam turut memberi penumpuan kepada peningkatan daya kemahiran dan kepakaran individu pekerja dalam sesebuah organisasi. Organisasi dengan itu mesti menganggap pekerja sebagai sumber yang terpenting dan sanggup melabur kepada peningkatan kepakaran mereka. Individu yang hendak dibangunkan mesti memiliki ciri-ciri ini, iaitu sikap yang positif dan progresif, akhlak yang murni, memahami realiti dan budaya masyarakat, dan daya kepakaran yang tinggi di peringkat tahap pekerjaan masing-masing. Tanpa ciri-ciri ini, kejayaan sesebuah organisasi akan berada pada tahap yang rendah. Bahkan dengan hanya memiliki salah satu daripada ciri-ciri itu tidak mungkin membawa kepada kejayaan yang membanggakan.

Sifat mementing diri ialah daya penggerak yang akan dapat memberi sumbangan positif kepada kemajuan sesebuah organisasi jika sifat itu dapat dididik dan diletakkan pada tempatnya. Tanpa sifat ini, tidak mungkin manusia akan berusaha dengan gigih demi mencapai kejayaan diri. Bahkan sifat itu pada fitrah ada dalam diri manusia. Justeru, bagi Islam daya usaha dan kreativiti seseorang individu memberikan ruang yang secukupnya kepada kebebasan usaha mereka.

Islam hanya memberi panduan melalui tanggungjawab keagamaan yang perlu dilaksanakan demi pencapaian matlamat organisasi. Di samping itu, Islam memberi penekanan kepada pendidikan dan latihan spiritual semoga sifat mementing diri dapat diletakkan di tempat yang sebenar. Dengan pendekatan ini, Islam berkeyakinan bahawa sikap serta perilaku individu akan berbentuk positif dan optimis.

Hasil keyakinan kepada fungsi individu dalam sistem penyusunan organisasi Islam yang memberi keutamaan kepada pembangunan sumber manusia secara menyeluruh akan dapat mempertingkatkan daya kemahiran dan kepakaran dengan disertai nilai akhlak yang mulai. Dalam sistem penyusunan organisasi, ruang untuk individu berusaha serta membuat keputusan perlulah diluaskan. Struktur membuat keputusan organisasi, dengan itu akan diagihkan ke bahagian dan unit tertentu mengikut keperluan dan bidang tugas yang relevan.

Semangat tolong-menolong dan budaya bekerja secara berpasukan perlu diwujudkan dalam sesebuah organisasi. Semangat kerja berpasukan dengan sekali gus dapat memupuk pengamalan syura dan perbincangan dalam menangani sesuatu tugas dan di samping itu dapat mengurangkan kerenah pekerja dalam menjalani tugas organisasi. Kecemerlangan dalam menghasilkan produktiviti dan kualiti tugas ialah natijah daripada memiliki pandangan hidup itu yang dapat diterjemahkan dalam prinsip pengurusan dan penyusunan organisasi.

Hasil daripada menerajui pengurusan mengikut perspektif itu, semangat keadilan akan dapat diterapkan dalam pengurusan organisasi. Pelaksanaan roh keadilan dalam pengurusan akan memperkukuhkan suasana dan budaya muafakat dalam segala bentuk urusan tugas dan tanggungjawab. Bahkan kemuncak kepada wujudkan prinsip keadilan bagi sesebuah organisasi akan menghasilkan kejayaan yang cemerlang dalam bentuk produktiviti dan kualiti kerja pekerja.

Penulis adalah Timbalan Ketua Pengarah Institut Kefahaman Islam Malaysia (Ikim)

Bersyukur nikmat Allah dimurahkan rezeki

Oleh Wan Aminurrashid

NIKMAT Allah kepada manusia tidak pernah putus. Keamanan dan kemakmuran negara adalah antara nikmat yang sangat bernilai dan besar ertinya kerana dengannya, kita dapat mengecapi dan menjalani hidup dengan selesa serta harmoni.


Sebagai Muslim beriman, kita perlu yakin dan percaya bahawa segala bentuk nikmat di alam ini sama ada berupa kekayaan harta atau pangkat, kedudukan, kesihatan dan makanan adalah anugerah Allah dan milik-Nya. Semua nikmat atau rezeki itu dikurniakan Allah kepada manusia secara percuma, tanpa mengharap balasan kerana Allah paling kaya daripada segala makhluk ciptaan-Nya.

Cuma Allah menghendaki manusia sentiasa mengingati-Nya sebagai Al-Khaliq dan mengenang segala nikmat yang dianugerahkan dengan cara bersyukur. Antara caranya ialah mempergunakan nikmat itu ke tempat yang wajar dan diredai Allah.

Lantaran manusia mudah lupa kepada Allah selepas diberikan nikmat, maka ramai orang yang hidup pada zaman serba mencabar ini mengatakan bahawa hidup mereka tidak tenteram dan resah gelisah walaupun memiliki kemewahan serta wang ringgit. Ada pula yang berasa terhimpit oleh belanja hidup yang kian meningkat dan pendapatan tidak pernah mencukupi malah semakin berkurangan.

Itu adalah bala daripada Allah lantaran ada manusia yang tidak pandai mensyukuri nikmat-Nya. Selaku Muslim, kita perlu yakin bahawa rezeki seseorang itu adalah dalam jaminan Allah.

Jadi, kita tidak perlu risau dengan hasil pendapatan kita. Allah berfirman bermaksud: “Dan tiadalah sesuatu pun daripada makhluk yang bergerak di bumi melainkan Allah jugalah yang menanggung rezekinya dan mengetahui tempat kediamannya serta tempat dia disimpan. Semuanya itu tersebut dalam kitab (Luh Mahfuz) yang nyata (kepada malaikat yang berkenaan)”. (Surah Hud: ayat 6).

Manusia dikehendaki berusaha dan berikhtiar memperoleh rezeki kerana Allah sudah melengkapkan mereka dengan akal dan kekuatan untuk berfikir serta bekerja. Rezeki Allah ada di mana-mana, manusia yang harus mencarinya. Lalu apabila mendapat rezeki, hendaklah bersyukur kerana nikmat itu adalah kepunyaan Allah yang mutlak.

Sesungguhnya nikmat Allah kepada manusia tidak terbilang dan tidak mampu untuk dihitung seperti firman-Nya yang bermaksud: “Dan jika menghitung-hitung nikmat Allah, nescaya kamu tak bisa menentukan jumlahnya,”. (Surah An-Nahl: 18).

Tidak dinafikan bahawa ketika manusia ditimpa bencana atau musibah, ia menanggung bebanan yang berat. Sebab itu manusia ketika dalam kesusahan, biasanya mudah ingat kepada Allah, tetapi mudah lupa dan tidak bersyukur ketika memperoleh nikmat. Allah berfirman bermaksud: “Dan sedikit (sekali) hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Surah Saba: 13).

Menurut Imam Al-Ghazali, bersyukur itu mendatangkan dua faedah. Pertama ialah mengekalkan nikmat, yang mana dengan bersyukur kita mengikat nikmat itu (daripada hilang) dan menjauhkan diri kita daripada seksa Allah seperti mana firman-Nya bermaksud: “Mengapa Allah akan menyeksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?”. (Surah An-Nisa: 147).

Faedah kedua ialah dapat menambahkan nikmat seperti mana Allah berfirman bermaksud: “Demi sesungguhnya jika kamu bersyukur, nescaya Aku akan tambah nikmat-Ku kepadamu, dan demi sesungguhnya jika kamu kufur ingkar, sesungguhnya azab-Ku amat keras.”.(Surah Ibrahim: 7)

Ali Abi Thalib berkata: “Apabila tanda-tanda kenikmatan sampai kepadamu, maka janganlah anda menghilangkannya (mengusir) nikmat yang akan datang dengan sedikit rasa syukur”.

Nikmat Allah yang dikurniakan kepada manusia khususnya Muslim boleh dibahagikan kepada dua iaitu nikmat untuk kelangsungan hidup dan nikmat iman serta Islam.

Nikmat dunia seperti makan minum, kekayaan, keamanan, kesihatan, umur, pandangan dan nikmat berkasih sayang manakala nikmat iman dan Islam adalah nikmat yang paling mahal dan tinggi nilainya. Ini kerana ia bukan setakat untuk di dunia tetapi berterusan sampai ke akhirat. Nikmat inilah yang perlu dipertahankan sampai ke akhir hayat kita.

Imam Al-Junaid berkata: “Syukur ialah seseorang yang tidak menggunakan nikmat Allah untuk melakukan maksiat kepada-Nya. Maksudnya, tanda seseorang bersyukur ialah menggunakan nikmat yang diterima untuk berbuat taat kepada Allah dan memanfaatkannya ke arah kebaikan, bukannya menyalurkan ke kancah maksiat atau kejahatan.

Ulama bernama Ahsin bin Atha’ullah pula membahagikan (cara) syukur itu kepada tiga iaitu syukur dengan lidah, iaitu menyebut nikmat kurniaan Allah seperti mana firman-Nya yang bermaksud: “Dan nikmat Tuhanmu hendaklah engkau menyebutkannya sebagai menzahirkan kesyukuran.” (Surah Dhuha: 11).

Kedua ialah syukur dengan anggota badan iaitu dengan melaksanakan ketaatan kepada Allah dengan menggunakan anggota badan ke atas perkara yang diredai Allah, dan ketiga, Syukur dengan hati iaitu mengiktiraf bahawa Allah sajalah pemberi nikmat, yang mana segala nikmat atau rezeki yang diperoleh manusia datangnya daripada Allah seperti mana firman-Nya yang bermaksud: “Apa juga nikmat yang kamu peroleh, maka ia datang daripada Allah.” (Surah An-Nahl: 53).

Bersyukur kepada Allah sebenarnya wajib dilakukan oleh seseorang hamba kerana kita dapat merasakan betapa kasih dan sayang Allah kepada diri kita. Allah sebagai pencipta, maka Dialah yang berkuasa memelihara dan mentadbir makhluk ciptaan-Nya itu dengan penuh kebijaksanaan dan kasih sayang.

Bersyukur sebenarnya mengundang nikmat. Maka orang yang tahu bersyukur di kala menerima nikmat atau rezeki, pasti akan dikasihi Allah. Untuk membuktikannya, Allah akan menambahkan lagi nikmat kurniaan-Nya, kerana pemberian Allah itu amat luas.

Sebaliknya, orang yang tidak tahu bersyukur ketika mendapat nikmat bermakna tidak tahu mengenang budi pemberian Allah SWT. Orang seperti ini pasti dimurkai Allah. Akibatnya rezeki tidak akan ditambah, malah dikurang dan kemungkinan akan ditarik balik oleh Allah SWT.

Berdasarkan ayat 7 surah Ibrahim yang dinyatakan terdahulu jelas bahawa bersyukur akan menambah atau mengundang rezeki. Penambahan rezeki atau nikmat itu, baik bertambah dari segi pendapatan mahupun rezeki meskipun dalam jumlah yang sederhana atau sedikit, tetapi sentiasa mencukupi sehingga tidak dihimpit oleh sesuatu bebanan dalam kehidupan.

Marilah kita bersyukur atas apa juga nikmat yang diperoleh dan kita harus bersabar ketika menerima cubaan, baik berupa kesusahan mahupun malapetaka, kerana semuanya adalah ujian Allah. Jika kita bersyukur, kita sentiasa akan berasa tenteram dan damai, tidak akan muncul di sudut hati sifat sombong ketika mendapat nikmat dan tidak pula lekas berputus asa sewaktu datang cubaan seperti kesusahan hidup atau kegagalan dalam sesuatu perkara. Semoga dengan wujudnya akhlak atau budi pekerti dan keperibadian tinggi, kita akan dikasihi Allah dan mendapat kemuliaan di sisi manusia.

Bersyukur

Assalamualaikum,

Saban masa dan ketika kita menikmati kurniaan ALLAH. Setiap detik dan saat sejak kita dilahirkan hinggalah dewasa ini, kita tidak putus-putus dikurniakan dengan pelbagai nikmat. Lantaran ianya berlaku saban masa dan menjadi sesuatu yang lumrah, lantas kita tidak perasan dan menghiraukannya. Kita seolah-olah terlupa bahawa ia adalah hadiah dan kurniaan ALLAH kepada kita. Begitulah perangai kita yang tak ubah seperti kacang lupakan kulit.

Sesuap nasi yang kita makan, setiap teguk air yang kita minum, setiap zarah udara yang kita sedut bahkan setiap pandangan yang kita lihat adalah kurniaan Allah. Tanpa kurniaan ini, kita tidak dapat mengunyah makanan atau meneguk minuman atau menyedut udara di sekeliling kita. Selagi kita hidup di mukabumi ini kita tidak sunyi dari menerima kurniaan ini. Begitulah penyayangnya ALLAH yang bersifat dengan Ar-RAHMAN. ALLAH menganugerahkan kurniaanNya kepada semua makhluk, sama ada yang taat kepadaNya atau sebaliknya. Maka mengapa kita mesti mendustakan kurniaan ini? ALLAH masih sayang kepada hamba-hambaNya meskipun terlalu ramai yang tidak bersyukur di atas nikmat-nikmat itu. Sebanyak 31 kali di dalam Al-Quran, Allah mengulangi ayat di bawah sebagai amaran dan ingatan kepada kita supaya menilai semula sejauh mana kesyukuran kita terhadap nikmatNya.

(Yang mana satu di antara nikmat Tuhan yang kamu dustakan?)

Sebagai makhluk Allah, kita sewajibnya berasa prihatin atas kurniaan ini lalu mensyukuri atas segala nikmat tersebut. Rakaman kesyukuran bukanlah setakat mengucapkan ‘alhamdulillah’. Ianya mesti dibuktikan dengan tindakan berdasarkan prinsip ‘amal makruf, nahi munkar’ atau buat yang disuruh dan tinggalkan yang dilarang. Ini dilakukan setiap masa secara konstan dan terus-menerus.

Malangnya terdapat ramai manusia yang lupa daratan dan lupa akan segala kurniaan ALLAH. Ramai yang tidak mendirikan solat dan segala amalan yang disuruh. Sebaliknya ramai pula yang engkar dan menentang suruhanNya dengan melakukan pelbagai jenis kemaksiatan. Allah Maha Mengetahui bahawa ramai di antara hambanya yang tidak bersyukur, seperti dalam firmanNya:

(Sangat sedikit daripada hamba-hambaKu yang bersyukur)

Kesimpulannya, sebagai menunjukkan rasa berterima kasih kita kepada ALLAH, kita hendaklah sentiasa mengabdikan diri kepada ALLAH dengan segala bentuk amalan ibadat di samping kita meninggalkan kerja-kerja maksiat. Semoga kita termasuk dalam golongan hamba-hambaNya yang bersyukur. Wallahua’lam.
Wasalam.

Hadis: Rasulullah bimbang riak rosakkan umat

SYIDAD bin Ausi berkata: “Suatu hari saya melihat Rasulullah sedang menangis, lalu saya pun bertanya Baginda, Ya Rasulullah, mengapa anda menangis?”


Sabda Rasulullah: “Ya Syidad, aku menangis kerana khuatir terhadap umatku akan perbuatan syirik, ketahuilah bahawa mereka itu tidak menyembah berhala tetapi mereka berlaku riak dengan amalan perbuatan mereka.”

Rasulullah bersabda lagi: “Malaikat penjaga akan naik membawa amal perbuatan hamba daripada puasanya, solatnya, dermanya dan sebagainya. Malaikat itu mempunyai suara seperti suara lebah dan mempunyai sinar matahari dan bersama mereka itu 3,000 malaikat dan mereka membawa ke langit ketujuh.”

Malaikat yang diserahkan ke langit berkata kepada malaikat penjaga: “Berdirilah kamu semua dan pukulkanlah amal perbuatan ini ke muka pemiliknya dan semua anggotanya dan tutuplah hatinya, sungguh saya menghalangi sampainya kepada Tuhan saya setiap amal perbuatan yang tidak dikehendaki untuk Tuhan selain daripada Allah (membuat sesuatu amal bukan kerana Allah).

“Berlaku riak di kalangan ahli fiqh adalah kerana inginkan ketinggian supaya mereka menjadi sebutan. Di kalangan ulama pula untuk menjadi popular di kota dan di kalangan umum.”

Fikrah: Tawakal ciri mukmin sejati

ISLAM menuntut umatnya supaya bekerja dengan jalan yang diredai Allah bagi memperoleh harta kekayaan dan menjauhi sifat malas dan meminta-minta.


Pada suatu hari, Saidina Umar berjumpa segolongan manusia penduduk negeri Yaman yang tidak berusaha dan hanya bertawakal membuta-tuli.

Kata Saidina Umar: “Kamu sekalian bohong semata-mata, kamu sekalian bukan orang yang bertawakal kepada Allah.

“Ini kerana orang yang bertawakal kepada Allah itu menaburkan bibit ke dalam tanah subur dan kemudian menyerah diri atau berpegang kuat kepada Allah.”

Berkata Umar Ibnu al Khattab: “Wahai golongan yang membaca al-Quran! Angkatlah kepalamu kerana telah sangat terang jalan untukmu.

“Berlumbalah kepada kebajikan dan janganlah kamu menjadi bebanan segala orang Islam. Sesuatu usaha yang padanya ada sedikit kehinaan lebih baik daripada meminta-minta.

“Janganlah duduk seseorang kamu daripada mencari rezeki dan berkata: “Wahai Tuhanku! Rezekikanlah oleh-Mu akan daku! Padahal dia mengetahui bahawa langit tiada menghujankan emas dan perak.

“Pelajarilah akan pelbagai macam kepandaian pekerjaan kerana kamu hampir berhajat kepada sesuatu macam pekerjaan itu. Sekiranya tidak ada berjual beli, jadilah kamu bebanan atas manusia.

“Wahai golongan yang membaca al-Quran! Carilah rezekimu (dengan usaha dua tanganmu sendiri) dan janganlah menjadi bebanan atas manusia.”

Kesimpulannya, orang beriman ialah orang yang berusaha dengan sepenuh tenaga dan sedaya upaya untuk menjadikan perintah Allah itu kenyataan. Mereka juga mencurahkan kesanggupan dan kesediaan yang ada padanya dalam melaksanakan tanggungjawab itu menurut ketetapan yang digariskan Allah.

Kemudian dia menginsafi bahawa dia hanya manusia yang kerdil serba daif serta kuasa dan kekuatan sebenarnya yang lebih tinggi adalah milik Allah yang mutlak.

Ringkasnya, kepada Allah sajalah orang beriman itu bertawakal manakala orang yang tidak beriman tidak mengenal erti tawakal sebenarnya.

Hanya mukmin sejati yang menyerah diri bertawakal kepada Allah.

Dia menunaikan perintah Allah serta tuntutan iman dengan pada masa yang sama berusaha serta berikhtiar kerana ikhtiar juga adalah amalan anggota zahir kerana mentaati perintah Allah.

Taubat cara bersih jiwa, sucikan hati

KEBERSIHAN batin penting bagi umat Islam bagi menjadikan dirinya insan yang bertakwa kepada Allah. Ia dilakukan dengan membersihkan jiwa daripada kesan dosa dan perbuatan maksiat iaitu dengan cara bertaubat dan membersihkan hati daripada akhlak tercela.


Rasulullah bersabda maksudnya: “Kesucian hati daripada sifat keji itu adalah setengah daripada iman. Untuk membersihkan hati, kita perlulah menjauhi segala penyakit-penyakit hati.” (Hadis riwayat al-Iman Muslim)

Jelas bahawa iman yang sempurna itu adalah menyucikan hati daripada sifat keji dan menanamkan dalam hati segala sifat terpuji.

Antara penyakit hati yang keji itu ialah berperasaan hasad dengki, sifat riak, ujub, takbur, terlalu banyak cakap, terlalu banyak makan, pemarah, bakhil dan kasihkan dunia.

Dalam hal ini juga Allah mengingatkan manusia terhadap musuh dalam diri mereka yang sentiasa mengajak ke arah kejahatan. Firman-Nya bermaksud: “Dan aku tidak membebaskan diriku (daripada kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu terlalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surah Yusuf, ayat 53)

Nafsu dan syaitan bekerjasama untuk merebut tempat di hati setiap manusia. Jika hati sudah dikuasai dan ditawan oleh syaitan, maka manusia tidak lagi ikut perintah Allah dan rasul-Nya. Mereka dengan mudah mengikut telunjuk dan kehendak nafsu syaitan.

Nafsu syaitan mahu mencorakkan hati manusia dengan sifat tercela atau mazmumah. Apabila sifat ini berputik dan bertapak pada hati manusia, maka syaitan akan memperalatkan nafsu melakukan apa saja yang disukainya. Maka akan timbullah segala penyakit hati.

Oleh itu, umat Islam hendaklah menguatkan iman mereka bagi melawan serangan nafsu dan kehendak syaitan yang sentiasa mengajak kita untuk menderhakai Allah.

Nafsu tidak tidur atau lena untuk membuatkan kita sentiasa lalai dan leka.

Tidak ada ubat bagi mengubati penyakit hati melainkan yang ditunjukkan oleh al-Quran dan sunnah.

Jika penyakit itu ialah mensyirikkan Allah, maka ubatnya ialah mentauhidkan Allah.

Jika penyakit itu melakukan amalan berdosa, ubatnya ialah meninggalkan amalan itu dan bertaubat kepada Allah.

Jika penyakit itu ialah lalai dengan tanggungjawab yang diberikan Allah, ubatnya ialah menyedari akan tanggungjawab itu.

Jika penyakit itu ialah membenci dan memandang kecil terhadap perkara yang disukai Allah, ubatnya ialah perlu mengambil berat, suka, reda dan cinta terhadapnya.

Jika penyakit itu ialah merujuk kepada selain daripada Allah, ubatnya ialah kembali merujuk kepada Allah SWT dalam semua hal kehidupan.

Manusia perlu faham dan sedar bahawa setiap detik kehidupan tidak boleh terlepas daripada keputusan Allah. Segala-galanya perlu dirujuk dan dikembalikan.

Taubat akan menutup segala pintu kejahatan dan membuka pintu kebahagiaan serta kebaikan. Ini boleh dilakukan dengan cara beristigfar kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.

Sesiapa yang ingin menyihatkan badan hendaklah dia menjaga makan minum daripada makanan yang memudaratkan.

Sesiapa yang ingin menyihatkan jiwa dan hati maka hendaklah dia meninggalkan segala dosa.

Thabit bin Qurrah berkata: “Kerehatan badan bergantung kepada kurangnya makan. Kerehatan jiwa bergantung kepada kurangnya melakukan dosa. Kerehatan lidah bergantung kepada kurangnya bercakap. Dosa bagi hati umpama racun bagi badan.

“Justeru, dosa yang dilakukan seseorang umpama meminum racun. Jika dosa itu tidak membinasakan jiwa secara menyeluruh, maka ia akan melemahkan jiwa (seperti racun, walaupun ia mungkin tidak memusnahkan badan, tetapi tetap melemahkan badan).

“Jiwa yang lemah tidak lagi mampu melawan penyakit, sama seperti badan yang lemah tidak mampu melaksanakan tanggungjawab dengan baik.”

Abdullah bin Mubarak berkata: “Saya dapati dosa itu mematikan jiwa manakala melakukan dosa hingga sampai ke peringkat ketagih akan mewarisi kehinaan. Meninggalkan dosa bermakna menghidupkan hati. Oleh itu adalah baik bagi kamu agar menderhakai dosa.”

Cara erat hubungan sesama Islam

ISLAM memberikan garis panduan jelas dan nyata kepada umatnya untuk mengeratkan hubungan sesama Islam. Antaranya:

Menjawab salam jika ada orang memberi salam.

Menziarahi saudara sesama Muslim yang sakit.

Mendatangi panggilan, undangan atau jemputan.

Mengiringkan jenazah ke kubur.

Jika bersin ucapkan Alhamdulillah maka yang dengar sambutlah dengan ucapan Yarhamkallah. Perkara itu diajarkan Rasulullah sebagai dasar kesederhanaan dalam pergaulan masyarakat dan memang jika dilihat sepintas lalu, begitu mudah, tetapi jika mengkajinya, kesimpulannya amat luas dan dalam.

Lima perkara yang disenaraikan di atas, jika diamalkan oleh semua umat Islam maka tidak wujud pergeseran dan pergolakan di dalam masyarakat.

Banyak ajaran yang sederhana, tetapi sangat dalam ertinya untuk mewujudkan satu masyarakat yang penuh dengan kemesraan yang dapat menghidupkan silaturahim dan menghubungkan tali kasih sayang sesamaMuslim.

Firman Allah bermaksud: “Ditimpa mereka atas kehinaan di mana saja mereka berada, melainkan (kalau mereka) berpegang teguh kepada tali Allah (agama Islam) dan tali manusia (menghidupkan) silaturahim.” (Surah Ali Imran, ayat 112)

Menghidupkan silaturahim adalah syarat utama untuk menciptakan masyarakat sejahtera dan meninggalkan silaturahim bererti menuju kepada hidup sendiri yang tidak ada faedah dan keseronokannya.

Mereka yang hidup sendiri atau kera sumbang akan sentiasa risau dan tidak tenteram hidupnya.

Tuntutan Allah itu akan hancur berkecai jika kita dihinggapi penyakit hasad dengki dan tidak boleh melihat kesenangan orang lain.

Penyakit itu boleh menghancurkan masyarakat dan memusnahkan hubungan silaturahim yang sepatutnya menjadi amalan semua umat manusia.

Hadis: Al-Quran saksi amalan manusia

RASULULLAH bersabda, maksudnya : “Al-Quran adalah hujah bagimu.”


Ini bermaksud al-Quran boleh memainkan dua peranan terhadap diri manusia selepas mati, iaitu menjadi saksi baginya.

Al-Quran akan menjadi saksi menolong kita ketika waktu genting pada hari kemudian, seperti waktu menghadapi soal kubur, hisab dan meniti Titian Siratalmustaqim.

Jika kita menurut segala perintah Allah dalam al-Quran, mengambil petunjuk daripada pengajarannya serta mencontohi akhlak terpuji dan petunjuk mulia, nescaya ia menjadi saksi di hadapan Allah serta membela kita agar terlepas daripada tanggungjawab yang berat pada hari itu.

Bagaimanapun, jika kita melakukan sebaliknya, bukan perintah Allah, malah larangan-Nya tanpa rasa takut, tentulah al-Quran tidak akan menjadi saksi yang baik.

Al-Quran akan menyaksikan kita telah meletakkannya di belakang mata kit, sama ada kita telah mengabaikan perintah dan larangan Allah, sama ada kita mencabul hak yang patut tunaikan ataupun sama ada kita membelakangi pengajaran Rasulullah sebagaimana hadisnya yang menerangkan:

““Al-Quran itu memberi syafaat, mendustakan dan membenarkan.

“Siapa yang meletakkannya di hadapan atau memuliakannya, nescaya ia akan memimpinnya ke syurga.

“Dan siapa yang meletakkannya di belakang (mengabaikannya), nescaya ia akan melontarkannya ke belakang hingga tersungkur jatuh ke dalam neraka.”

Demikianlah peranan al-Quran pada hari kemudian, dan sepatutnya kita memberikan perhatian sewajarnya. Tentu sekali kita tidak suka jika al-Quran menjadi saksi yang akan memburuk-burukkan kita di hadapan pengadilan Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana.

HADIS: Keutamaan sifat amanah

DARIPADA Abdullah Ibnu Mas’ud berkata bahawa Rasulullah saw pernah bersabda maksudnya: “Tiada iman bagi orang yang tidak memegang amanah dan tiada agama bagi orang yang tidak dapat dipegang janjinya.” (Hadis riwayat Ibnu Hibban dan Tabrani).


Amanah adalah sifat terpuji yang Islam anjurkan kepada setiap Muslim, malah ia juga penentu atau garisan pemisah kepada keimanan dan keagamaan individu.

Hadis di atas menjelaskan bahawa orang yang tidak menghiasi dirinya dengan sifat amanah atau tidak dipercayai ramai dalam memegang sesuatu amanah serta melakukan khianat kepada umat manusia, bererti dia bukanlah orang yang benar-benar beriman kepada Allah.

Dalam hal ini, Islam memerintahkan setiap Muslim agar sentiasa beramanah dalam setiap masa dan tempat kerana itulah ciri-ciri keperibadian Muslim yang bertakwa.

Menurut perspektif Islam, sifat amanah ini mengungkap pengertian yang sangat luas dan mendalam dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Ia bukan hanya sekadar membawa erti bersikap jujur dan benar dalam urusan kehidupan, malah merangkumi setiap tanggungjawab, amanah atau tugas yang perlu ditunai.

Dalam erti kata lain, ia adalah tanggungjawab yang akan dipersoal kelak oleh Allah kelak sama ada kita betul-betul melaksanakannya atau sebaliknya. Oleh itu, kita mendapati Islam meletakkan kriteria amanah sebagai prasyarat sebagai pemimpin kepada umat manusia

Contohnya, kita mendapati Rasulullah ketika remajanya sebelum dibangkitkan sebagai pesuruh Allah adalah seorang pemuda yang beramanah sehingga digelar ‘Al-Amin’. Begitu juga dapat disaksikan sifat amanah pada diri peribadi Nabi Musa ketika baginda membantu dua gadis memberi minum haiwan ternakan mereka. Pengajaran yang terselit daripada kisah ini ialah utusan Allah dipilih dari kalangan i kemuliaan peribadi, keturunan dan tabiatnya. Inilah hakikat sifat amanah yang dianjurkan oleh Islam kepada umatnya.

Rasulullah pernah memberi peringatan keras kepada umat Islam terhadap berlakunya kepupusan sifat amanah dalam satu-satu masyarakat pada suatu masa nanti. Malah Baginda memperingatkan bahawa yang demikian adalah tanda-tanda kecil hari kiamat yang berlaku pada akhir zaman. Rasulullah pernah ditanya sahabat: “Bilakah akan berlaku hari kiamat?” Jawab Rasulullah: “Apabila sifat amanah hilang, maka tunggulah hari kiamat.” (Hadis riwayat Bukhari).

Hikmah sakit

SETIAP manusia tidak lari daripada ditimpa sakit dan sebagai umat Islam, sewajarnya kita menguatkan jiwa untuk mengharung segala kesakitan dan penderitaan.


Dalam menghadapi penderitaan inilah tersedia ganjaran besar untuk mereka yang terus bersabar dan reda dengan ketentuan Allah.

Hadis diriwayatkan oleh Imam Muslim menyebut: “Sesiapa saja di kalangan umat Islam yang ditimpa kesakitan daripada penyakit, maka tidak ada selainnya melainkan Allah akan menggugurkan kejahatannya (dosa kecil) dengan sebabnya seperti mana pokok menggugurkan daunnya.”

Dalam sebuah hadis, ada diceritakan bahawa Rasulullah saw bertanya kepada sahabat: “Siapakah di kalangan kamu yang suka sihat tanpa sakit?

Jawab sahabat: “Semua kami.” Baginda bertanya lagi: “Adakah kamu suka menjadi seperti keldai liar yang mengganas? Tidakkah kamu suka menjadi orang yang ditimpa bala dan orang yang mendapat penghapusan dosa? Demi diriku di bawah kekuasaan-Nya, sesungguhnya Allah pasti menguji orang mukmin dengan bala dan apa yang diuji itu tidak lain melainkan untuk memuliakannya.”

Sabda Rasulullah lagi bermaksud: “Sesungguhnya, mengerang orang yang sakit itu umpama tasbih, jeritan dan tidurnya adalah ibadah, nafasnya sedekah dan berbalik-balik ke kiri dan kanan itu adalah memerangi musuh, iaitu sama pahalanya.”

Dalam Ihya pula ada menyebutkan sebuah hadis yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mengutuskan kepada seorang yang sakit dua malaikat untuk melihat apa yang dikatakannya kepada pengunjungnya.

“Sekiranya dia mengucapkan tahmid dan pujian kepada Allah, Allah berfirman: Bagi hamba-Ku, sekiranya Aku mematikannya, nescaya Aku memasukkannya ke dalam syurga.

Dan sekiranya Aku menyembuhkannya nescaya Aku menggantikan daging badannya yang lebih baik daripada sebelum ini, darah yang lebih baik daripada darahnya serta Aku hapuskan kejahatannya. Kelebihan Allah lebih luas daripada semua itu.”

Iman tidak sempurna selagi ada dusta

Oleh Mohd Shukri Hanapi

MENABUR janji adalah mudah. Ada pun untuk menepati segala janji yang ditaburkan itu amatlah berat. Jika segala yang dijanjikan itu dapat dilaksanakan, maka seseorang yang berjanji itu dikenali sebagai bercakap benar, sebaliknya dia dikenali adalah pembohong atau pendusta.


Rasulullah bersabda bermaksud, “Seseorang yang biasa berlaku jujur, maka beliau akan dicatat sebagai orang yang jujur. Sebaliknya orang yang biasa berbohong maka beliau akan dicatat sebagai pembohong.” – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Berbohong adalah perbuatan mazmumah (keji) yang wajib kita tinggalkan. Allah berfirman bermaksud: “Mahukah Aku khabarkan kepada kamu kepada siapakah syaitan-syaitan itu selalu turun? Mereka selalu turun kepada tiap-tiap pendusta yang berdosa, yang mendengar bersungguh-sungguh (apa yang disampaikan oleh syaitan-syaitan itu), sedangkan kebanyakan beritanya adalah dusta.” – (Surah al-Syu’ara, ayat 221-223).

Firman Allah lagi bermaksud: “Hendaklah kita menjauhi perkataan-perkataan dusta.” – (Surah al-Hajj, ayat 30).

Berbohong adalah antara ciri orang munafik. Diriwayatkan daripada Abdullah bin Amru, katanya Rasulullah bersabda: “Ada empat perkara jika sesiapa yang mempunyai empat perkara itu, maka dia adalah orang munafik. Sesiapa yang bersifat dengan salah satu daripadanya bererti dia bersifat kemunafikan, hinggalah dia meninggalkannya iaitu apabila bercakap dia berbohong, apabila membuat persetujuan dia khianati, apabila berjanji dia menyalahi dan apabila berlaku pertikaian dia melampaui batas.” – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Amalan suka berbohong termasuk dalam kategori dosa besar selepas dosa syirik (menyekutukan Allah) dan menderhaka kepada kedua-dua ibu bapa. Rasulullah bersabda bermaksud: “Adakah kamu mahu aku tunjukkan perihal dosa-dosa besar? Kami (sahabat) menjawab: Ya, tentu mahu wahai Rasulullah. Rasulullah menjelaskan: Menyekutukan Allah, menderhaka kepada dua ibu bapa dan berdusta.” – (Hadis riwayat Muttafaq ‘Alaih).

Berbohong bukan saja menimbulkan kemarahan orang yang mendengarnya, malah menimbulkan kesan buruk kepada si pembohong itu sendiri.

Diriwayatkan daripada Abu Hu-rairah bahawa Rasulullah bersabda bermaksud: “Keimanan seseorang itu tidak sempurna hingga dia meninggalkan pembohongan, sama ada ketika bersenda gurau atau bersengketa atau perbalahan.”

Jelas bahawa berbohong mestilah disingkirkan daripada kehidupan manusia. Seseorang yang dapat menjauhi daripada tabiat berbohong ini bukan saja disanjung dan dihormati, malah dianggap mempunyai budi pekerti mulia.

Orang seperti ini akan disanjung sebagai orang beradab, bersopan dan berakhlak mulia. Jasanya sentiasa dikenang dan perilakunya menjadi buah mulut masyarakat untuk dicontohi.

Rasulullah memberi amaran kepada umatnya berhubung perlakuan berbohong atau berdusta. Diriwayatkan daripada Abu Hurairah katanya: Aku mendengar Rasulullah bersabda bermaksud: “Adakalanya seseorang hamba mengucapkan satu kalimah (iaitu berdusta) yang menyebabkan dia tergelincir ke dalam neraka yang jarak dalamnya antara timur dan barat.” – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).

Sabda Baginda lagi bermaksud: “Seseorang itu sudah cukup disebut pendusta (pembohong) jika dia berbicara hanya atas dasar setiap apa yang dia dengar.” – (Hadis riwayat Muslim).

Tutur kata yang benar dan perilaku yang baik akan memberikan kita kekuatan. Tanpanya menyebabkan kita akan dihina dan tidak dihormati.

Diriwayatkan daripada Muaz bin Jabal katanya, Rasulullah memegang tanganku sambil berjalan lalu bersabda bermaksud: “Wahai Muaz! Aku wasiatkan kamu supaya bertakwa kepada Allah dan bercakap benar iaitu menepati janji; menunaikan amanah; meninggalkan khianat dan mengasihi anak-anak yatim; memelihara jiran tetangga; mengawal kemarahan dan lembut percakapan; menyebarkan salam dan taat setia terhadap pemimpin yang adil; berusaha memahami al-Quran; kasih akan akhirat; takut hari hisab; pendek angan-angan dan baik amalan. Aku larang kamu daripada memaki hamun orang Islam atau mempercayai pembohong atau mendustakan orang yang benar atau menderhakai Raja yang adil.” – (Hadis riwayat al-Baihaqi).

Segala tingkah laku, tutur kata sama ada yang terlafaz atau tidak, adalah keluhuran budi seseorang. Oleh itu, segala perkara yang benar-benar dilarang oleh Islam bertujuan mengelak daripada berlakunya kerenggangan hubungan persaudaraan yang sepatutnya terjalin erat.

Perlakuan buruk yang tidak mengambil kira nilai budi bahasa dan peribadi mulia, akan memutuskan ikatan kasih sayang yang akhirnya menimbulkan kebencian di hati semua pihak.

Umur modal untuk taat kepada Allah

BAGI Al-Fudhail Ibn Iyad al-Tamimi, seorang ahli ibadah yang kuat berzikir kepada Allah, umur ialah modal.


Justeru, apabila umur tidak dipergunakan untuk taat kepada Allah, bererti modalnya berkurangan dan tidak mendapat pahala yang menambah kebaikan.

Diriwayatkan, jika beliau lupa untuk berzikir dalam sekelip mata, maka al-Fudhail berasa suatu kerugian besar yang menimpa dirinya.

Kesibukan Fudhail berzikir membuatkan beliau tidak memerlukan harta kemewahan yang dimiliki raja dan khalifah.

Dalam keadaan kesempitan sekali pun, al-Fudhail tidak akan meminta kepada sesiapa kecuali Allah yang sentiasa memberi anugerah kepada manusia.

Ahli ibadah yang dilahirkan di Kurasan itu mempunyai ketakwaan yang cukup tinggi. Takutnya pada Allah hingga janggutnya sering basah oleh air mata, kedua-dua matanya merah, wajahnya menjadi pucat malah ruas tulangnya gementar.

Beliau berasa seolah-olah berada di Padang Mahsyar untuk menantikan perhitungan sama ada termasuk di kalangan ahli syurga mahu pun neraka.

Al-Fudhail juga gemar membawa al-Quran sambil merenungkan isinya.

Apabila beliau menemui ayat yang menerangkan soal syurga, beliau mengulangnya seakan-akan semerbak bau syurga dapat dihidunya.

Ketika ditanya faktor yang menyebabkan terkabulnya doa, beliau menjawab: “Jika Allah telah melihat hatimu tidak memerlukan selain Allah, maka Allah akan mengabulkan setiap permohonanmu.”

Mengenai amal ibadahnya, setiap malam beliau membentangkan tikar dan solat di atasnya hingga mengantuk.

Kemudian membaringkan diri untuk tidur sebentar sebelum bangun dan solat lagi. Demikianlah seterusnya hingga ke Subuh.

Beliau menghembuskan nafas di Makkah pada 187 Hijrah ketika sujud dalam mihrab.

Setiap amalan ada balasannya

Kalamullah
“Maka sesiapa berbuat kebajikan seberat zarrah, nescaya akan dilihatnya (dalam surat amalnya).” (Al-Zalzalah : 7).

Huraian:
Manusia adalah sebaik-baik makhluk ciptaan Allah s.w.t. yang mempunyai akal fikiran. Mereka mampu menentukan dan membezakan sesuatu perkara sama ada baik atau buruk dan sama ada ia menjadi suruhan atau larangan-Nya.

Oleh sebab itu, manusia bukanlah dicipta dengan sia-sia ataupun tanpa matlamat dan tujuan. Bahkan mereka dijadikan untuk beribadah kepada Penciptanya yang merupakan tujuan utama kehidupan ini.

Manusia perlu bijak menyesuaikan aktiviti dan amalannya dengan tujuan hidup yang jelas bersesuaian dengan fitrah dan kehendak Tuhan. Ini kerana segala perbuatan mereka itu akan dinilai dan dibalas sama ada dosa atau pahala, walaupun kebaikan dan kejahatan yang mereka lakukan hanyalah sebesar zarrah atau sebesar biji sawi sekalipun.

Sedangkan sekecil-kecil perbuatan pun mendapat balasan, apatah lagi jika ia melakukan sebesar-besar perbuatan. Sudah tentu syurga atau neraka adalah tempat yang sesuai bagi mereka. Walau bagaimanapun, kebanyakan mereka alpa dan hanya mengejar kehidupan duniawi sahaja sedangkan balasan akhirat adalah lebih indah dan kekal abadi.

Ini dijelaskan oleh Allah s.w.t. dalam surah an-Nisa ayat 134 yang bermaksud: “Sesiapa yang mahukan pahala (balasan) dunia sahaja (maka rugilah ia), kerana di sisi Allah disediakan pahala (balasan) dunia dan akhirat. Dan (ingatlah) Allah sentiasa Mendengar lagi sentiasa Melihat.”

Dosa dan pahala ialah balasan mereka yang melakukan sesuatu untuk memenuhi matlamat ibadah atau sebaliknya dalam bentuk zahir dan batin, gerak anggota atau gerak hati.

Persoalan balasan baik dan buruk ini ditimbulkan semata-mata mahu mendidik umat Islam supaya melakukan sesuatu yang tidak bercanggah dengan kehendak agama, seterusnya dapat menjamin kebahagiaan hidup masyarakat seluruhnya dengan undang-undang dan peraturan Ilahi.

Kesimpulan:
Kita sebagai manusia yang diberi akal fikiran yang waras hendaklah melakukan suruhan-Nya dengan penuh keimanan dan keikhlasan serta meninggalkan segala larangan-Nya. Ingatlah bahawa setiap perbuatan manusia sama ada besar ataupun kecil perbuatan itu tetap mendapat balasan daripada Allah s.w.t.

Justeru itu, manusia perlulah memenuhi tiga perkara utama iaitu keimanan, amalan soleh dan keikhlasan kepada Allah s.w.t. bagi memastikan matlamat utama kehidupan mereka dapat dicapai.

- Disediakan oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

Kekuatan ihsan, insan tunggak pembentukan keluarga

Oleh Prof Dr Sidek Baba

IHSAN dan insan adalah asas hubungan manusia dengan Allah dan manusia sesama manusia. Hubungan menegak dan merentas ini menjadi tunggak kepada memahami fitrah hidup. Kehidupan sebagai seorang Islam tidak boleh memutuskan dirinya dengan Allah dan tidak boleh pula memutuskan dirinya dengan manusia.


Ihsan Allah kepada hamba dan makhluk akan sentiasa ada dan sewajarnya ihsan insan sesama insan juga harus berlaku supaya integrasi antara kedua-duanya menepati.

Manusia akan terus berada dalam fitrah sekiranya ihsan Allah itu disuburkan dalam hidup. Jiwa keihsanan apabila subur dalam kehidupan sesama insan ia menjadikan masyarakat berada dalam keadaan sejahtera dan harmoni.

Keluarga adalah unit kecil masyarakat yang menjadi tunggak kepada terbentuknya negara. Ia adalah unit asas yang boleh menjadi faktor penyumbang kepada kekuatan negara atau sebaliknya.

Dalam konteks Islam asas pembinaan keluarga yang baik terletak kepada kekuatan keihsanan dan keinsanan yang dimiliki. Kualiti keihsanan yang dimiliki oleh seorang ayah dan ibu banyak menentukan proses pembentukan watak anak-anak.

Rasulullah menghubungkan pentingnya pengaruh ibu bapa (faktor sekitar) membentuk anak-anak supaya terus berada dalam keadaan fitrah atau diibaratkan sebagai kain putih. Rasulullah juga menyebut antara faktor yang menghubungkan yang sudah pergi dengan yang tinggal ialah kesolehan anak-anaknya. Terbentuknya anak-anak menjadi soleh atau toleh bergantung kepada kualiti keihsanan kedua-dua orang tuanya.

Ibu bapa yang soleh dan solehah adalah gambaran ketinggian ihsannya yang membolehkan suasana rumah tangga atau keluarga terbina dalam keadaan terbaik untuk membentuk anak-anak ke arah acuan terunggul.

Keihsanan bapa dan ibu kepada Allah adalah gambaran akidahnya yang mantap, takwa tinggi dan iman kental terhadap Allah. Jiwa kehambaannya (patuh dan taat) adalah teguh, di samping menginsafi peranan kekhalifahannya (sebagai ibu dan bapa) sentiasa subur pada dirinya.

Sifat kasih dan sayang Allah kepada hamba dan makhluk sentiasa terpancar dalam dirinya. Rahmah Allah menurunkan ilmu menerusi al-Quran sentiasa menjadikan ibu dan ayah menyandarkan kitab suci itu sebagai sumber petunjuk dan maklumat. Ihsan Allah memberikan kekuatan akal dan hati kepada ibu bapa digunakan supaya anak-anak menjadi pintar dan cerdik. Ihsan Allah memberikan ibu bapa harta dan sumber dijadikan asas untuk menggerakkan kehidupan keluarga secara yang Allah reda.

Bayangkan sekiranya ihsan daripada Allah dipancarkan semula dalam bentuk watak keibubapaan yang mulia, anak-anak pasti bertuah memiliki pendidik awal di rumah. Ini kerana contoh atau qudwah yang ada dalam persekitaran awal hidupnya adalah teladan serasi dan selari dengan fitrah dirinya. Inilah sebenarnya kekurangan dalam banyak keluarga Islam menyebabkan perkembangan naluri meneladani ibu bapa sebagai qudwah kosong.

Harus diinsafi bahawa umur anak-anak pada peringkat awal lahirnya hingga akil baligh adalah tempoh hidup yang amat kritikal bagi dirinya. Pada peringkat inilah proses membina asas sikap dan tingkah laku serta cara hidup yang asas akan berlaku.

Sekiranya ibu bapa tidak memahami faktor pertumbuhan akal, jiwa dan emosi serta tingkah laku anak dengan pendekatan ilmu dan asuhan baik, ia boleh menyebabkan mereka kehilangan arah dalam memahami makna diri, persekitaran dan baik buruk sesuatu perkara. Akhirnya, akan menjadikan mereka remaja yang tidak tentu arah serta hilang pedoman dan petunjuk.

Asas utama yang menjadi tunggak kekuatan keluarga ialah ilmu mengenai pendidikan dan keterampilan keibubapaan.

Pertama, kualiti ilmu dan keterampilan itu harus dikuasai oleh seseorang insan sebelum mendirikan rumah tangga. Apabila melakukan akad nikah, kita tidak saja menerima tanggungjawab kewalian untuk menjaga dan mengurus isteri dengan baik, malah berjanji di depan Allah untuk berlaku adil terhadapnya. Ikatan keihsanan untuk berlaku adil dengan isteri, contohnya, adalah lambang keihsanan tinggi.

Katakan suami dan isteri adalah orang yang sudah mempunyai asas ilmu dan keterampilan keibubapaan baik, mereka menjadi sumber kekuatan untuk membentuk watak anak yang bakal dilahirkannya.

Dalam bahasa lain bakal ibu bapa mempunyai persiapan bagi membentuk peribadi yang bakal lahir dengan ilmu, tunjuk ajar dan kasih sayang yang tinggi.

Kedua, anak yang membesar dalam rumah tangga yang baik, bakal subur dan menjadi remaja yang memiliki peribadi baik. Anak seperti ini adalah harapan keluarga, sekali gus kepada masyarakat dan negara.

Anak seperti ini apabila menyambung pendidikannya di sekolah tidak akan mewariskan masalah kepada guru dan sekolah. Gabungan pendidikan yang baik di rumah dan terancang di sekolah bakal menjadikan mereka insan cemerlang.

Ketiga, dalam konteks ihsan dan insan harus sering diperiksa, apakah ibu bapa mempunyai kualiti ihsan tinggi kepada Allah dalam melakukan sesuatu amal. Contohnya, rezeki yang dicari dan terima daripada hasil pekerjaan. Apakah, ia daripada sumber halal atau sebaliknya. Keihsanan kita dengan Allah akan sentiasa mendorong diri untuk mencari rezeki halal untuk menyara seluruh anggota keluarga.

Jika rezeki itu penuh subahat, bayangkan sekiranya ia menjadi makan dan minum isteri dan anak, apakah ia bakal menjadi darah daging dan membentuk tabiat yang baik kepada mereka? Keihsanan saja yang boleh mengawal dan memandu diri bahawa dalam usaha amal, biarlah keredaan Allah menjadi matlamatnya.

Keempat, asas terpenting dalam pembentukan keluarga dan anak ialah faktor akhlak ibu bapa yang bakal membentuk akhlak mereka. Keihsanan Allah kepada hamba-Nya ialah membentuk Rasulullah sebagai qudwah dan contoh yang memiliki akhlak terpuji.

Ibu bapa yang menjadikan qudwah Rasulullah sebagai sumber membentuk dirinya, mempunyai persiapan baik membentuk anaknya. Rasulullah yang memiliki sifat yang sama seperti manusia lain adalah contoh yang selari dengan fitrah. Sekiranya sunnah Rasul menjadi sumber ikutan dalam menjalin hubungan suami isteri dan dalam mendidik anak akan melahirkan insan cemerlang dunia dan akhirat.

Perlu reda ujian

SABAR dan tawakal dalam menghadapi segala dugaan Allah adalah sifat yang dituntut oleh Islam. Sebagai umat Islam yang beriman kepada-Nya, kita perlu reda dengan setiap kejadian yang berlaku.


Alyafii meriwayatkan daripada Abdul Hassan Assarraj: “Ketika tawaf di Baitullah, aku ternampak seorang wanita yang cukup jelita. Wajahnya berseri-seri.

“Tanpa disedari aku berkata: “Demi Allah, belum pernah aku melihat wanita yang secantik dan secerahnya. Pastinya dia tidak pernah berasa risau dan sedih.”

Rupa-rupanya wanita itu mendengar kata-kataku lalu menjawab: “Apa katamu hai lelaki. Demi Allah aku kini dibelenggu perasaan sedih yang amat sangat.

“Cuba bayangkan, aku mempunyai tiga anak. Dua sudah boleh bermain sendiri dan seorang lagi masih menyusu. Yang besar berkata kepada adiknya: “Mahukah kau aku tunjukkan bagaimana ayah menyembelih kambing.” Lalu dijawab adiknya: “Mahu.”

“Lalu ditelentangkan adiknya dan disembelih lehernya dengan pisau, lalu meninggal dunia. Dia kemudian ketakutan lalu lari ke arah bukit. Malangnya, di sana dia dimakan serigala.

“Suamiku pergi mencarinya hingga meninggal dunia kerana kehausan. Ketika aku meninggalkan bayiku untuk meninjau kepulangan suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak ke kuali yang sedang mendidih. Ditariknya kuali itu hingga dia melecur dan mati tersimbah air panas. Hidupku kini sebatang kara,” kata wanita itu.

“Jadi, bagaimana kau boleh bersabar menghadapi dugaan ini?” tanyaku.

Jawab wanita itu: “Tiada sesiapa yang dapat membezakan sifat sabar dengan mengeluh kecuali dia sendiri menemui kedua-duanya.”

“Sabar dengan memperbaiki yang lahir itu baik dan terpuji, tetapi mengeluh mengenang yang telah pergi tidak akan berganti.”

Renungan: Tiga tonggak pembinaan masyarakat

MANUSIA dalam menjalani kehidupan ini saling memerlukan antara satu sama lain. Dalam kehidupan bermasyarakat yang pelbagai bangsa pula, perkara ini amat penting.


“Dan hendak kamu tolong menolong untuk berbuat kebajikan dan bertakwa, dan janganlah kamu menolong dalam melakukan dosa (maksiat) dan pencerobohan, dan bertakwalah kepada Allah, kerana Allah maha berat azab seksanya (bagi sesiapa yang melanggar perintah-Nya).” (Surah al-Maidah, ayat 2).

Islam sebagai ‘addin’ menyedari bahawa bukanlah suatu yang mudah untuk menyatupadukan bangsa, etnik dan agama berlainan.

Namun, ia tidak mustahil kerana sebenarnya manusia berasal daripada keturunan yang satu iaitu Nabi Adam.

Firman Allah bermaksud: “Wahai manusia! bertakwalah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dari jiwa yang satu yakni Adam. Justeru, demi kepentingan hidup yang boleh menjamin kebahagiaan dan ketenteraman, maka Islam menggariskan beberapa peraturan hidup bermasyarakat.” (Surah an-Nisaa’, ayat 1).

Tata susila hidup bermasyarakat dibuktikan oleh Rasulullah apabila baginda berjaya merubah sistem dan pola hidup masyarakat Arab jahiliah.

Kejayaan baginda sebenarnya memberi panduan bagi umat ini dalam menjalani kehidupan. Kesatuan akidah Islam adalah asas kepada pembinaan masyarakat Islam.

Selebihnya, ahli masyarakat perlu saling bekerjasama dan bermuafakat.

Setiap perkara akan menjadi mudah apabila kita saling bekerjasama seperti kata pepatah ‘berat sama dipikul ringan sama dijinjing’.

Dalam soal pembinaan masyarakat Islam memberi penekanan kepada tiga aspek utama.

Sahsiah diri Muslim

Islam memandang serius keperibadian seorang Muslim kerana ia adalah aset utama dalam membentuk sesuatu masyarakat.

Justeru, setiap individu Muslim harus dibekalkan dengan ilmu pengetahuan yang luas mengenai Islam, baik akidah atau syariat.

Di samping itu, mereka mesti dididik dengan akhlak dan budi pekerti mulia. Ini sesuai dengan tujuan perutusan Nabi Muhammad iaitu bagi melahirkan masyarakat penyayang dan berhemah tinggi.

Sabda Rasulullah bermaksud: “Sesungguhnya aku diutuskan bagi menyempurnakan kebaikan akhlak manusia.”

Dengan tertanamnya akhlak mulia pada setiap Muslim, maka akan terjalin ikatan keimanan dan kasih sayang dalam masyarakat Islam.

Sifat kasih sayang penting kerana Islam itu sendiri agama yang melarang umatnya membenci satu sama lain, walaupun mereka mungkin berlainan agama dan bangsa.

Ia bukan saja menggalakkan umatnya saling hormat menghormati, malah memelihara hak dan tanggungjawab mereka dalam masyarakat.

Pembentukan keluarga

Pembentukan keluarga adalah dasar utama dalam pembangunan sesebuah masyarakat.

Islam menyarankan agar sesebuah keluarga itu dibentuk atas ikatan perkahwinan demi memelihara zuriat dan keturunan.

Ikatan dua insan yang didasarkan atas pembinaan akidah dan akhlak sebagaimana tahap pertama tadi, bakal melahirkan anggota masyarakat yang baik.

Melalui sistem perkahwinan ini, Islam cuba menghindari pelbagai penyakit masyarakat dan boleh membahagiakan seluruh umat.

Pembinaan masyarakat

Pembinaan masyarakat didasarkan atas kasih sayang dan saling hormat menghormati antara satu sama lain.

Sabda Rasulullah bermaksud: “Tidak sempurna iman di kalangan kamu hingga dia mengasihi saudaranya sebagaimana dia mengasihi dirinya sendiri.”

Islam juga menggariskan tata susila hidup berjiran dalam masyarakat.

Kita diperintahkan menghormati dan memuliakan jiran. Kita dilarang pula menyakiti hati dan perasaan mereka.

Banyak hadis yang menceritakan hak jiran antaranya.

Sabda Rasulullah bermaksud: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, maka berbuat baiklah terhadap tetangganya.”

Ini berarti iman seseorang akan rosak jika dia menyakiti jiran sama ada melalui kata nista, memfitnah, buruk sangka dan sifat keji lain.

Seseorang dianggap menyakiti jirannya jika langsung tidak mahu bergaul atau lebih buruk lagi pulau memulau.

Seseorang yang memiliki sahsiah baik tidak dianggap baik hingga dia berkelakuan baik kepada keluarga dan jirannya.

Ganjaran keluhuran budi menyamai rajin beribadat

Oleh Ahmad Redzuwan Mohd Yunus

BUDI pekerti adalah sifat yang lahir bersama dengan diri seseorang. Setiap bangsa, walau bagaimana rupa bentuknya, akan melakukan peri laku atau perbuatan yang ada kaitannya dengan budi pekerti.
Misalnya, dalam masyarakat Melayu, mereka amat menitikberatkan adab dan sopan santun serta budi pekerti baik.

Mereka dilatih menghormati orang tua, adab ketika bertandang ke rumah jiran. Oleh itu, tingginya darjat seseorang terletak pada budi pekertinya hingga lahir peri bahasa yang berbunyi: Biar mati anak jangan mati adat.

Begitu juga dengan bangsa lain, mereka memiliki budi pekerti sendiri dalam kehidupan mereka. Namun begitu, bagaimanakah pula budi pekerti yang dikehendaki oleh agama Islam pada seorang Muslim?

Sebenarnya, Islam amat menitikberatkan perkara berkaitan budi pekerti, bahkan ia digalakkan kepada penganutnya dalam kehidupan harian mereka.

Dalam hubungan ini Allah memberikan pujian kepada Rasulullah dengan firman-Nya dalam surah al-Ahzab, ayat 21, yang bermaksud: “Sesungguhnya engkau wahai Muhammad mempunyai budi pekerti yang agung.”

Ada banyak pengertian yang diketengahkan oleh sarjana Islam terhadap pengertian budi pekerti baik, antaranya:

Budi pekerti baik ialah air muka yang jernih, banyak pemberian dan menjauhi perbuatan yang menyukarkan orang lain.

Budi pekerti luhur ialah hendaklah jangan memusuhi dan dimusuhi, hal itu kerana disebabkan kuatnya makrifat kepada Allah.

Budi pekerti luhur ialah menjauhi perbuatan yang menyakitkan orang lain dan sanggup memikul kesulitannya.

Budi pekerti luhur itu ialah rela atas segala apa yang diperbuat Allah atas dirinya.

Budi pekerti luhur itu ialah suatu bentuk jiwa yang dengan bentuk itu jiwa mempunyai persediaan untuk memberi atau menahan.

Inilah pendapat sesetengah ulama mengenai budi pekerti luhur. Hasil pendapat tadi, kita dapat merumuskan bahawa budi pekerti luhur itu ialah perkara yang menyenangkan diri sendiri dan diterima oleh orang ramai serta diredai Allah.

Antara dalil al-Quran dan hadis yang menerangkan mengenai budi pekerti serta galakan kepada umat Islam ialah seperti firman Allah bermaksud : “Sesungguhnya beruntunglah orang yang beriman itu.

“Mereka yang khusyuk dalam sembahyang.

“Dan mereka yang menjauhkan diri dari perkataan yang kotor.

“Dan mereka yang membayar zakat.

“Dan mereka yang menjaga kehormatan melainkan kepada isterinya atau hamba, sesungguhnya mereka itu tiada tercela tetapi orang yang mencari selain daripada itu maka merekalah orang yang melanggar batas.

“Dan mereka yang memelihara kepercayaan yang diberikan kepadanya serta janji yang dibuatnya. Dan mereka yang menjaga sembahyangnya. Itulah orang mempusakai.” (Surah al-Mukminun, ayat 1-10)

Dalam sebuah hadis pula, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Nasr al-Maruzi yang bermaksud: “Seorang lelaki telah datang mengadap Rasulullah dari depan baginda dan bertanya: Perbuatan apakah lebih utama. Baginda menjawab: Budi pekerti yang luhur.

“Kemudian lelaki itu datang dari sebelah kanan baginda dan bertanya pula: Perbuatan apakah yang lebih utama: Baginda menjawab: Budi pekerti yang luhur.

“Kemudian lelaki itu pun datang pula dari sebelah kiri baginda dan bertanya: Wahai Rasulullah, perbuatan apakah lebih utama. Baginda menjawab: Budi pekerti yang luhur.

“Kemudian dia datang pula dari belakang baginda lalu bertanya: Wahai Rasulullah, perbuatan apakah yang lebih utama?

Lalu Rasulullah berpaling kepadanya dan bersabda: Apakah engkau tidak faham lagi bahawa budi pekerti yang luhur itu ialah engkau jangan marah seboleh-bolehnya.”

Kedua-dua dalil di atas jelas kepada kita bahawa budi pekerti adalah dasar kepada kehidupan orang mukmin sesuai sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Ibn Abbas: “Semua bangunan mempunyai dasar dan dasar bagi agama Islam ialah budi pekerti yang luhur.”

Sesungguhnya kedudukan dan darjat seseorang pada kaca mata Islam bukan terletak pada harta, nama atau kediamannya, tetapi agama Islam lebih mengutamakan budi pekerti, sopan santun dan adab yang luhur.

Kemuliaan seseorang itu terletak pada ketakwaan sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud:

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu sekalian ialah orang yang paling bertakwa.” (Surah al-Hujarat, ayat 4)

Dalam sebuah hadis dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda yang bermaksud: “Yang menjadikan orang mukmin itu pemurah ialah agamanya, dan yang menjadikan orang itu mempunyai kehormatan ialah akalnya dan yang menjadikan orang itu mulia ialah budi pekertinya.”

Jaminan Islam terhadap orang mukmin yang mempunyai budi pekerti yang luhur itu bukan hanya setakat dalam bentuk kebaikan itu saja, bahkan ditetapkan ganjarannya.

Dalam sebuah hadis daripada Aisyah, beliau berkata, maksudnya: “Saya telah mendengar Rasulullah bersabda: Bahawasanya seorang mukmin dengan budi pekertinya yang luhur akan mencapai darjat orang yang berpuasa dan orang yang tekun beribadat.” (Hadis riwayat Abu Daud dan Ibn Hibban.)

Dalam hadis lain diriwayatkahn oleh Tarmizi dan Ibn Hibban dari Abi Darda bahawa Rasulullah bersabda, maksudnya: “Tiada sesuatu yang lebih berat timbangan seseorang mukmin pada hari kiamat selain budi pekerti yang luhur dan sesungguhnya Allah membenci orang yang membuat kerosakan.”

Dalam hadis yang lain diterangkan ganjaran kepada mereka yang berbudi pekerti baik dan buruk. Diriwayatkan daripada at-Tabrani, daripada Abas, Rasulullah bersabda bermaksud: “Sesungguhnya seorang hamba dengan budi pekertinya yang luhur akan mencapai darjat yang tertinggi dan kemuliaan di syurga, pada hal dia lemah beribadat dan dengan pekertinya yang buruk akan menjadi penghuni tingkat terbawah di neraka.”

Rasulullah menangis kerana takutkan Allah


MENANGIS adalah anugerah Allah kepada hamba-Nya bagi sebab tertentu. Setiap orang mempunyai sebab mengapa air mata dititiskan. Begitu juga Rasulullah saw.

Baginda menangis lantaran perasaan kasih sayang dan kasihan belas terhadap si mati atau kerisauan terhadap umat.

Baginda juga menangis kerana rasa takut kepada Allah atau cinta kepada-Nya seperti yang diketahui menerusi hadis.

Tangisan yang begini adalah terpuji.

Seseorang itu menangis atau menitiskan air mata kerana beberapa sebab. Di antaranya:-

l Perasaan kasih dan sayang.

l Takut.

l Cinta.

l Terlampau gembira.

l Kesakitan.

l Sedih dan dukacita.

l Perasaan yang dizalimi dan tertekan.

l Perlakuan dosa yang boleh menitiskan air mata.

l Satu jenis tangisan yang dibuat-buat lantaran sikap munafik untukmenggembirakan orang lain.

l Tangisan upahan yang sengaja dilakukan dan menjerit kerana kematian seseorang dan sebagainya.

Diriwayatkan daripada Abdullah Ibn Syikir yang bermaksud: “Aku pada suatu ketika pergi menemui Rasulullah. Aku dapati baginda sedang bersolat dan kerana tangisan, suatu bunyi keluar daripada dadanya seolah-olah bunyi air yang keluar daripada cerek.”

Abdullah Ibn Mas’ud meriwayatkan seperti berikut: “Suatu ketika, Rasulullah menyuruhku membaca al-Quran kepadanya. Aku berkata, “Ya Rasulullah, al-Quran itu diwahyukan kepada Tuan, dan Tuan menyuruhku membacanya!

“Jawab Baginda: “Adalah menjadi keinginanku bahawa daku dapat mendengarnya daripada orang lain.”

Tangisan itu disebabkan keagungan al-Quran kerana menurut pengamatan Imam Nawawi bahawa menangis ketika membaca al-Quran adalah kebiasaan bagi orang yang dekat dengan Allah (wali-wali Allah).

Sebab lain yang menyebabkan tangisan ialah gambaran daripada hari akhirat yang terpapar di ruang matanya jelas dengan keadaan dan suasana huru hara. Atau tangisan itu dilahirkan akibat risau mengenai umatnya apabila mendengar ayat al-Quran.

Diriwayatkan oleh Abdullah Amr yang bermaksud: “Pada masa Rasulullah hidup, pernah berlaku gerhana matahari. Rasulullah bersolat, seolah-olah baginda tidak rukuk (lantaran lamanya berdiri), kemudian barulah baginda rukuk.

“Apabila rukuk, seolah-olah baginda tidak akan mengangkat kepalanya untuk sujud. Kemudian baginda turun sujud, lantaran lamanya bersujud, seolah-olah baginda tidak akan bangkit dari sujudnya untuk menyambung solatnya.

“Baginda menghembuskan nafasnya, lalu menangis sambil bersabda:

“Tuhanku, bukankah Engkau yang telah menjanjikan kepadaku bahawa Engkau tidak akan menyeksa mereka, selagi aku masih berada di kalangan mereka?

“Bukankah Engkau menjanjikan satu kebenaran bahawa Engkau tidak akan menyeksa mereka, selagi mana mereka memohon ampun kepada-Mu?”

Apabila selesai menunaikan solat dua rakaat itu, gerhana lenyap.

Lalu Rasulullah pun berdiri mengucap pujian bagi Allah dan bersabda: “Sesungguhnya, matahari dan bulan itu adalah tanda kebesaran Allah. Kedua-duanya tidak gerhana lantaran kematian seseorang dan tidak pula kerana lahirnya seseorang. Apabila terjadinya gerhana, bersegeralah mengingati Allah.”

Hadis: Kepentingan ikhlas ketika bersedekah


RASULULLAH saw bersabda yang bermaksud: “Barang siapa mempunyai ilmu, bersedekahlah dengan ilmunya.

“Barang siapa mempunyai kekuatan, bersedekahlah kekuatannya.”

Ini menunjukkan jika kita tidak mampu bersedekah dengan wang ringgit, harta benda dan makanan, bersedekahlah dengan ilmu dan tenaga.

Apa yang penting, setiap amalan hendaklah ikhlas kerana Allah, tanpa mengharapkan balasan atau pujian daripada masyarakat.

Ahli sufi dan ulama terkenal Ibnu Mas’ud, ada meriwayatkan: “Bahawa seorang lelaki beribadat kepada Allah selama 70 tahun, kemudian ditimpa dirinya sesuatu perbuatan hina dan keji, maka binasalah amalannya.

“Kemudian dia menjadi miskin.

“Satu hari dia bersedekah dengan ikhlas sepotong roti kepada orang lapar yang amat memerlukan. Maka, diampuni Allah akan dosanya dan dikembalikannya amalan 70 tahun itu.”

Ibni Abil Ja’ad pula meriwayatkan: “Sesungguhnya sedekah itu menolak 70 pintu kejahatan dan melepaskan seseorang yang hidup daripada tiupan 70 syaitan.”

Bersedekahlah walaupun sedikit, sehingga Nabi Muhammad bersabda yang bermaksud: “Bersedekahlah walaupun dengan sebiji kurma, sesungguhnya sedekah itu menutup keperluan orang lapar dan memadam kesalahan, sebagaimana air memadam api.”

Hadis: Sabar, kuatkan jiwa ketika sakit


SETIAP manusia tidak terlepas daripada ditimpa sakit dan sebagai umat Islam, sewajarnya kita menguatkan jiwa untuk mengharung segala kesakitan dan penderitaan.

Dalam menghadapi penderitaan inilah tersedia ganjaran besar untuk mereka yang terus bersabar dan reda dengan ketentuan Allah.

Hadis diriwayatkan Imam Muslim menyebut: “Sesiapa saja di kalangan umat Islam yang ditimpa kesakitan daripada penyakit maka tidak ada selainnya kecuali Allah akan menggugurkan kejahatannya (dosa kecil) seperti mana pokok menggugurkan daunnya.”

Dalam hadis lain, ada diriwayatkan bahawa Rasulullah pernah mengemukakan pertanyaan kepada sahabat, “Siapakah di kalangan kamu yang suka sentiasa sihat tanpa sakit?

Jawab sahabat, “Kesemua kami.” Baginda bertanya lagi, “Adakah kamu suka menjadi seperti keldai liar yang mengganas? Tidakkah kamu suka menjadi orang yang ditimpa bala dan orang yang mendapat penghapusan dosa?

“Demi diriku di bawah kekuasaan-Nya, sesungguhnya Allah pasti menguji orang mukmin dengan bala dan apa yang diuji itu tidak lain melainkan untuk memuliakannya.”

Sabda Rasulullah lagi yang bermaksud: “Sesungguhnya orang yang sakit itu mengerangnya tasbih, jeritan dan tidurnya adalah ibadat, nafasnya adalah sedekah dan berbalik-balik ke kiri dan kanan itu adalah memerangi musuh. Iaitu sama pada pahalanya.”

Dalam Ihya Ulumuddin pula ada Hadis Qudsi yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mengutuskan kepada seorang yang sakit dua malaikat untuk melihat apa yang dikatakannya kepada pengunjungnya.

“Jika dia mengucapkan tahmid atau pujian kepada Allah, Allah berfirman: `Bagi hamba-Ku, jika Aku mematikannya nescaya Aku memasukkannya ke dalam syurga.

“Dan jika Aku menyembuhkannya nescaya Aku menggantikan daging badannya yang lebih baik daripada sebelum ini, darah yang lebih baik daripada darahnya serta Aku hapuskan kejahatannya. Kelebihan Allah lebih luas daripada semua itu.”

Muhasabah mampu jadi medium kejayaan

Oleh Engku Ahmad Zaki Engku Alwi

AMALAN muhasabah diri ialah menilai dan merenung kembali apa yang telah berlaku sama ada yang manis atau pahit, detik suka dan duka serta berbagai lagi peristiwa berlaku dalam diari kehidupan.


Daripada situ, ia boleh dijadikan pengajaran dan iktibar terbaik sebelum mengorak langkah untuk menyusun jejak melewati titian hidup yang seterusnya.

Terdapat beberapa rangkaian ayat dalam al-Quran yang menyeru setiap orang beriman agar sentiasa bermuhasabah diri pada setiap masa dan ketika.

Firman Allah bermaksud: “Wahai orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya); dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan (muhasabah) terhadap apa yang dia telah sediakan (daripada amal-amalnya) untuk hari esok (hari akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan): Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Amat Meliputi Pengetahuan-Nya akan segala yang kamu kerjakan. – (Surah al-Hasyr, ayat 18)

Pengertian ayat itu menegaskan bahawa Allah menekankan perintah melakukan amalan bermuhasabah diri ini dimulai dan diakhiri dengan kalimah takwa.

Ini jelas menunjukkan bahawa amalan muhasabah yang hendak dilakukan itu sebaiknya berpaksikan kepada piawaian takwa kepada Allah.

Dengan kata lain, sejauh manakah peristiwa yang telah berlalu dan nostalgia silam yang tercatat berupaya menjana dan seterusnya mempertingkatkan kadar ketakwaan seseorang itu kepada Allah.

Bertitik tolak dari itu, muhasabah diri sewajarnya dijadikan amalan seharian yang wajib dalam diari hidup seseorang Muslim, bukan setakat amalan tahunan yang menjadi kebiasaan apabila berlalunya sesuatu tahun.

Ini kerana tidak ada pun seorang insan di muka bumi ini yang terlepas daripada melakukan kesilapan.

Justeru, setiap daripada kita sudah pasti akan melakukan sesuatu yang boleh mendatangkan kemurkaan Allah baik sengaja atau tidak, sama ada kesalahan besar mahupun yang kecil.

Malahan, tidak ada seorang manusia yang boleh mendakwa dirinya maksum, iaitu terpelihara daripada melakukan sebarang dosa mahupun kesalahan.

Rasulullah pernah bersabda yang bermaksud: “Setiap insan pasti melakukan kesilapan dan sebaik-baik manusia yang melakukan kesilapan tersebut ialah mereka yang sentiasa bertaubat”. (Hadis riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

Maksud hadis berkenaan jelas mengisyaratkan betapa perlunya amalan muhasabah diri diterapkan dalam budaya hidup manusia melalui proses penilaian, mengambil iktibar daripada peristiwa silam dan seterusnya bertaubat serta berazam dengan semangat yang jitu untuk terus mara ke hadapan.

Ia mampu bertindak sebagai medium kukuh untuk menentukan kejayaan pada masa akan datang di samping berupaya mengelakkan diri terjebak ke kancah penyesalan dan kerugian buat ke sekian kalinya.

Tambahan pula, peristiwa yang telah berlalu adalah episod penting yang mampu menginsafkan diri seseorang manusia akan kesilapannya dan kepincangannya selain menjadi cermin yang membiaskan inti pati pengajaran untuk menghadapi cabaran masa depan.

Selain itu, amalan muhasabah diri akan membantu seseorang Muslim merancang strategi lebih baik agar apa yang dihajati atau diimpikan akan terlaksana juga akhirnya.

Maka, tidak hairanlah Saidina Umar Al-Khattab pernah berkata: “Hisablah diri kamu sebelum kamu dihisab dan timbanglah amalan kamu sebelum kamu ditimbang kelak di hari akhirat”.

Allah menurunkan al-Quran kepada umat manusia sejagat sebagai kitab petunjuk dan pedoman untuk menyinari kelangsungan hidup di samping berperanan sebagai pemisah antara yang hak dan batil.

Lebih daripada itu, Allah selalu mengaitkan firman-Nya baik yang berupa ibadat, sejarah, fenomena alam semesta, hukum-hakam, muamalah dan sebagainya dengan ungkapan ’agar kamu sekalian berfikir dan mengambil iktibar’ di penghujung ayat.

Justeru, berfikir dan ambillah iktibar daripada apa yang telah terjadi sebagai sebahagian daripada proses muhasabah diri bertujuan menginsafkan manusia dan meletakkannya di landasan yang lurus.

Dunia ini adalah arena perjuangan antara hak dan batil, antara benar dengan salah.

Adakalanya pihak benar dapat mengalahkan pihak salah dan kadangkala pihak yang salah dapat menundukkan pihak yang benar.

Jika pihak yang jahat itu dapat mengatasi pihak yang benar, ini tidak bermakna bahawa kejahatan itu berada di landasan yang betul. Sebaliknya, barangkali kejahatan itu dapat sampai kepada matlamatnya berdasarkan kepada perancangannya yang teliti dan rapi.

Samalah juga keadaannya jika pihak yang benar itu kecundang dalam perjuangan hidupnya kerana sudah pasti ada beberapa kepincangan dan kesilapan yang terselit di sepanjang perjalanannya.

Begitulah lumrah kehidupan atau sunnatullah yang telah difitrahkan Allah bagi mewarnai keceriaan dan kerancakan alam maya ini.

Begitulah seterusnya peristiwa demi peristiwa bergolak di pentas kehidupan ini dan apa pun kisah atau natijah yang diraih, muhasabah diri perlu menjadi kemestian untuk merencana persiapan diri.

Sesungguhnya amalan muhasabah diri adalah satu aset kukuh dan bernilai untuk menobatkan kembali era kegemilangan serta kecemerlangan umat Islam dalam pelbagai lapangan hidup.

Mengaji Sesaat: Umat Rasulullah diberi paling banyak rahmat

oleh Dandarawi S

SAIDINA Abu Said Al-Khudri meriwayatkan, pada zaman Rasulullah saw, kaum Muslimin bertanya: “Wahai Rasulullah, adakah kami dapat melihat Tuhan nanti pada hari kiamat?”


Jawab Rasulullah: “Ya! Adakah kamu berasa sukar untuk melihat matahari pada siang hari yang cerah, yang tidak ada awan? Adakah kamu berasa sukar untuk melihat bulan pada malam purnama yang cerah tanpa ada awan?”

Kata kaum Muslimin: “Tidak, wahai Rasulullah.”

Rasulullah bersabda: “Kamu tidak akan mengalami kesukaran melihat Allah pada hari kiamat sebagaimana kamu tidak sukar melihat salah satu daripada matahari dan bulan.”

Apabila kiamat, malaikat mengumumkan: “Setiap umat hendaklah mengikuti apa yang mereka sembah ketika di dunia. Tidak akan kekal seorang pun daripada mereka yang menyembah, selain Allah iaitu berhala. Mereka dihumban ke dalam neraka sehingga yang tinggal hanyalah orang yang dulunya iaitu ketika di dunia menyembah Allah, orang yang baik, orang jahat dan saki baki ahli kitab.”

Orang Yahudi dipanggil dan ditanya: “Apakah yang kamu sembah ketika di dunia? Mereka menjawab: “Kami menyembah Uzair Ibnullah.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kamu berdusta. Allah tidak pernah menjadikan walau seorang pun sebagai teman iaitu isteri atau anak.” Lalu mereka ditanya lagi: “Apa yang kamu inginkan?” Mereka menjawab: “Kami haus, wahai Tuhanku! Berilah kami minum.” Lalu diisyaratkan kepada mereka: “Tidakkah kamu inginkan air?”

Lalu mereka diiringi beramai-ramai ke neraka. Kepada mereka, neraka seolah-olah fatamorgana sebahagiannya menghancurkan sebahagian yang lain. Mereka sama-sama terhumban ke dalam neraka.

Dipanggil pula orang Nasrani, lalu ditanya: “Apakah yang kamu sembah ketika di dunia?” Mereka menjawab: “Kami menyembah Al-Masih anak Allah.” Lalu dikatakan kepada mereka: “Kamu telah berdusta! Allah tidak pernah menjadikan walau seorang pun sebagai teman iaitu isteri atau anak.” Lalu mereka ditanya: “Apakah yang kamu inginkan? Mereka menjawab: “Kami haus wahai Tuhanku, berilah kami minum.” Lalu ditunjukkan kepada mereka: “Tidakkah kamu inginkan air?”

Lalu mereka diiringi ke neraka jahanam dan sama-sama terhumban ke dalam neraka, sehingga yang tinggal hanya orang yang menyembah Allah, orang baik dan orang jahat.

Allah, Tuhan sekalian alam datang kepada mereka dalam bentuk yang lebih rendah daripada bentuk yang mereka ketahui, lalu berfirman: “Apakah yang kamu tunggu? Setiap umat mengikuti apa yang dahulunya mereka sembah.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami! Di dunia, kami memisahkan diri daripada orang yang menyusahkan kami iaitu untuk membantu penghidupan di dunia dan kami tidak mahu berkawan dengan mereka iaitu kerana mereka menyimpang daripada jalan yang digariskan oleh agama.”

Allah berfirman lagi kepada mereka: “Akulah Tuhan kamu! Mereka berkata: “Kami mohon perlindungan dengan Allah, kami tidak akan menyekutukan Allah dengan sesuatu pun untuk kali kedua atau ketiga, sehingga sebahagian mereka hampir-hampir berubah iaitu kembali kepada kebenaran.”

Allah berfirman: “Apakah di antara kamu dan Allah ada tanda yang membuatkan kamu dapat mengenali-Nya?” Mereka menjawab: “Ya!”

Lalu berlaku keadaan yang ajaib lagi menakutkan.

Setiap seorang yang hendak sujud kepada Allah dengan keinginan mereka sendiri yakni dengan penuh keikhlasan diizinkan oleh Allah.

Mereka yang bersujud kerana takut atau semata-mata dengan niat menunjukkannya kepada orang lain, akan diluruskan Allah belakang mereka sehingga tidak boleh bersujud. Setiap kali hendak sujud, dia hanya dapat membongkokkan pada tengkuknya. Kemudian apabila mereka mengangkat kepala, Allah telah pun berupa sebagaimana gambaran yang mereka lihat pertama kali tadi.

Lalu Allah berfirman: “Akulah Tuhan kamu.” Mereka menyahut: “Engkau Tuhan Kami!”

Kemudian dibentangkan sebuah jambatan di atas neraka Jahanam dan yang dibenarkan ketika itu hanyalah syafaat daripada rasul, di mana mereka mengucapkan: Ya Allah, selamatkanlah, selamatkanlah.”

Kemudian ada yang bertanya kepada Rasulullah: “Wahai Rasulullah, apakah jambatan itu?”

Jawab Rasulullah: “Ia adalah lumpur yang licin. Padanya juga ada besi berkait dan besi berduri. Di Najd ada tumbuhan berduri yang disebut Saadan, dan seperti itulah besi-besi berkait itu.

“Kepantasan orang mukmin melintasi jambatan, ada yang seperti kerlipan mata, seperti kilat, seperti angin, burung dan kuda atau unta yang berlari kencang.

“Mereka terbahagi kepada tiga kumpulan, iaitu kumpulan yang selamat dan tidak mengalami apa-apa rintangan; kumpulan selamat tetapi terpaksa menempuh banyak rintangan dan terkoyak; dan kumpulan yang terus terjerumus ke dalam neraka jahanam.

“Pada saat orang mukmin bebas daripada azab neraka, maka demi zat yang menguasai diriku (Rasulullah), nescaya tidak ada orang yang begitu mengambil berat dalam mencari kebenaran, melebihi orang mukmin yang mencari kebenaran daripada Allah demi kepentingan saudara mereka yang masih berada di neraka.”

Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya dulu mereka berpuasa bersama kami, mendirikan sembahyang dan mengerjakan haji.”

Lalu Allah berfirman kepada mereka: “Keluarkanlah orang yang kamu kenal kerana wajah mereka diharamkan ke atas api neraka.” Maka ramai yang dapat dikeluarkan dari neraka. Ada yang sudah terbakar hingga separuh betis dan lututnya.”

Orang mukmin itu berkata: “Wahai Tuhan kami, tidakkah ada lagi yang tertinggal dalam neraka selepas Engkau perintahkan untuk dikeluarkan.” Allah berfirman: “Kembalilah, siapa saja yang kamu temui di hatinya ada kebaikan, meskipun hanya seberat satu dinar, maka keluarkanlah. Jadi mereka dapat mengeluarkan ramai manusia.”

Kemudian mereka berkata lagi: “Wahai Tuhan kami, Kami tidak tahu apakah masih ada di neraka seseorang yang Engkau perintah untuk dikeluarkan.” Allah berfirman: “Kembalilah, sesiapa saja yang kamu temui di hatinya ada kebaikan meskipun hanya seberat setengah dinar, maka keluarkanlah. Mereka dapat mengeluarkan ramai lagi manusia.”

Selepas itu mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu, apakah di sana masih ada seseorang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan. Allah berfirman: “Kembalilah, sesiapa saja yang kamu temukan dalam hatinya ada kebaikan meskipun hanya seberat zarah, maka keluarkanlah. Bertambah ramai lagi yang dapat dikeluarkan.”

Kemudian mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, kami tidak tahu adakah di sana masih ada pemilik kebaikan. “

Sesungguhnya Abu Said Al-Khudri berkata: “Jika kamu tidak mempercayaiku mengenai hadis ini, maka bacalah firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi seseorang walaupun sebesar zarah dan jika ada kebaikan sebesar zarah, nescaya Allah akan melipat gandakannya serta memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (Surah an-Nisaa’, ayat 40)

Allah berfirman: “Malaikat telah meminta syafaat, nabi telah meminta syafaat dan orang mukmin juga telah meminta syafaat. Yang tinggal hanyalah Zat Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.”

Lalu Allah merangkumkan dari neraka dan mengeluarkan sekumpulan orang yang sama sekali tidak pernah melakukan kebaikan. Mereka telah insaf.

Kemudian mereka dilempar ke sebuah sungai di pintu syurga, yang disebut Sungai Kehidupan. Seterusnya mereka keluar seperti tumbuhan kecil yang keluar selepas banjir. Bukankah kamu sering melihat tumbuhan kecil di celah batu atau pohon, bahagian yang terkena sinaran matahari akan berwarna sedikit kekuningan dan hijau, sedangkan yang berada di bawah tempat teduh akan menjadi putih?

Sahabat mencelah: “Seolah-olah engkau pernah menggembala di gurun.”

Rasulullah terus bersabda: “Lalu mereka keluar bagaikan mutiara. Pada leher mereka ada kalung, hingga ahli syurga dapat mengenali mereka: Mereka adalah orang yang dibebaskan oleh Allah, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam syurga, tanpa amalan yang mereka kerjakan dan juga tanpa kebaikan yang mereka lakukan.”

Kemudian Allah berfirman: “Masuklah kamu ke dalam syurga, apa-apa yang kamu lihat, ia untuk kamu.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, Engkau telah berikan kepada kami pemberian yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun antara orang di seluruh alam.”

Allah berfirman: “Di sisiKu ada pemberian untuk kamu yang lebih baik daripada pemberian ini.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, apa lagi yang lebih baik daripada pemberian ini?” Allah berfirman: “Reda-Ku, lalu Aku tidak memurkai kamu selepas ini buat selama-lamanya.” (Hadis riwayat Imam Muslim dalam sahih Muslim).

Inilah kedudukan umat Rasulullah pada hari akhirat, diberi kemuliaan kepada mereka yang mengabdikan diri kepada Allah, berbuat kebaikan dan taatkan perintah Allah. Diberi keampunan kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya, dimasukkan ke syurga orang yang tidak pernah melakukan apa juga kebaikan atau amal ibadat, semuanya semata-mata kerana rahmat Allah yang diberikan khusus kepada umat Nabi Muhammad, Rasul Penyudah dan Pemimpin agung. Maka, beruntunglah orang yang memuliakan Rasulullah pada bulan Rasulullah ini iaitu bulan Syaaban yang berkat.

Sifat terpuji yang disukai Allah

AMALAN baik dan terpuji adalah sifat yang menjadi perhiasan diri seorang Muslim. Dalam pengertian tasawuf, sifat yang baik ini dikenali sebagai mahmudah. Sifat ini kadangkala lahir dalam diri seseorang secara semula jadi, sementara yang lainnya perlu dipelajari bagi mengamalkannya dalam kehidupan seharian.


Antara sifat mahmudah ialah bertaubat iaitu meninggalkan perbuatan dosa dan menyesali dosa yang telah dilakukan.

Syarat taubat daripada dosa antara manusia dengan Allah ialah meninggalkan perbuatan berdosa, berazam tidak akan membuatnya lagi.

Selain itu, menyesal atas perbuatan berdosa lalu, jika dosa itu dengan manusia, ia perlu ditambah dengan satu syarat lagi, iaitu mengembalikan hak orang yang termakan atau terambil atau meminta maaf daripadanya.

Mengenai taubat, Allah telah berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah cintakan orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci.” – (Al- Baqarahm, ayat 22)

Satu lagi sifat terpuji ialah Khauf – takut kepada Allah dengan melihat kepada tanda-tanda kebesaran dan keagungannya. Dengan itu, ia akan timbul rasa ingin beribadat kepada Allah serta berusaha mencari keredaan-Nya.

Di samping khauf, hendaklah pula ada sifat rija’i iaitu mengharapkan rahmat Allah. Seseorang Muslim hendaklah selalu berada antara takut dan harap. Takut terhadap azab Allah dan harapkan rahmat Allah.

Bagaimanapun, manusia tidak boleh pula terlalu terpedaya dengan mengingat (mengharap) rahmat Allah semata-mata tanpa sebarang amal dan takut. Jangan pula terlalu takut hingga lupa kepada rahmat Allah dan menjadi orang yang putus asa.

Dalam hubungan ini Allah berfirman, bermaksud: “Beritahu hamba-hambaKu bahawa aku Maha Pengampun lagi Penyayang dan sesungguhnya azabku pula adalah azab yang pedih.” – (AI-Hijr – 49)

Umat Islam juga digalakkan mengamalkan sifat sabar iaitu abah menghadapi ujian hidup dan tidak menyumpah nasib atau diri apabila ditimpa kesusahan.

Sabar ada tiga jenis, iaitu sabar menghadapi ujian dan pencerobohan hidup, sabar dalam menunaikan kewajipan kepada Allah dan sabar dalam meninggalkan larangan Allah.

Bersyukur pula ialah memuji Allah atas segala nikmatnya dan memandang bahawa segala puji adalah bagi Allah sedang manusia itu hanya sebab bagi mendapatkan rahmat itu.

Syukur itu ada tiga bahagian: Syukur dengan lidah – mengucap pujian terhadap Allah.

Bersyukur dengan hati – reda dan senang dengan apa yang diberi Allah, dan syukur dengan anggota – mengarahkan segala nikmat yang diberi ke tempat yang diredai Allah.

Satu lagi sifat terpuji ialah ikhlas ialah beramal kerana Allah semata-mata bukannya riak. Beramal untuk mengharapkan pahala dan mengelakkan diri daripada azab tidak bertentangan dengan sifat keikhlasan hamba Allah, kerana Allah sendiri telah menyuruh kita meminta nikmat syurga dan menjaga diri dari azab neraka dalam banyak ayat al-Quran.

Sentiasa mengingati mati juga boleh menebalkan iman seseorang. Erti mengingati mati ialah meyakini segala yang hidup pasti akan mati. Kita tidak tahu bila, di mana dan bagaimana kita akan mati. Oleh itu, kita hendaklah selalu bersedia dengan amalan untuk menghadapi maut.

Tauhid paksi utama pengurusan Islam

Oleh Anuar Puteh

DALAM aspek pengurusan Islam, paksi utama yang menjadi dasarnya adalah tauhid.


Tujuan asal tauhid untuk membimbing dan memandu manusia kepada mengesakan Allah dan bertakwa kepada-Nya dalam setiap urusan.

Hasil ketakwaan dan keimanan itu akan mendorong kepada pelaksanaan segala sistem Islam yang lain seperti sistem ibadah, muamalah, perundangan dan akhlak. Apabila ketauhidan menjadi dasar yang memandu segala sistem pengurusan kehidupan manusia, seluruh perlakuan dan perbuatan manusia akan terarah hanya kepada Allah Yang Maha Esa (Musa Ahmad dalam Jurnal Tasawwur Islam. 1994 :84)

Bagi menjalankan kewajipan dan tanggungjawab kepada Allah dan makhluk secara ikhlas dan penuh kerelaan hati, pihak pengurus yang menjalankan fungsi pengurusan amat memerlukan sifat takwa yang lahir daripada aspek ketauhidan yang nyata kepada Allah.

Mereka akan sentiasa menjalankan segala urusan dengan penuh rasa kesedaran untuk mencari keredaan Allah. Kesan positif yang akan tercerna daripada bentuk pengurusan sebegini akan menjauhkan mereka daripada penyelewengan yang mampu merosakkan aspek kehidupan masyarakat.

Menurut Shaharom TM Sulaiman (1997:6), ketauhidan akan melahirkan kesan positif, khususnya terhadap pengurus itu sendiri yang bertindak sebagai ejen pengurusan. Antara kesan positif yang nyata ialah:

Mereka akan berkhidmat untuk kebaikan manusia dengan untuk mendapatkan keredaan Allah serta mengelakkan kemurkaan-Nya.

Menganggap diri mereka sebagai pemegang amanah semata-mata walau dalam keadaan apa sekalipun.

Menganggap tugas mengurus yang mereka lakukan adalah sebagai ibadah yang mesti dilaksanakan dengan sebaik-baiknya.

Melatih mereka mempunyai kod etika tinggi terhadap bidang pengurusan.

Melakukan pekerjaan yang diamanahkan tidak semata-mata berdasarkan balasan dan ganjaran serta kebendaan.

Pengurusan yang menjadikan tauhid sebagai dasarnya akan melahirkan beberapa kesan yang baik dalam melahirkan peribadi Muslim unggul.

Antaranya:

Melahirkan insan Muslim yang mempunyai harga diri dan keyakinan diri.

Melahirkan insan Muslim yang mempunyai rasa rendah diri/tawaduk.

Melahirkan insan Muslim yang berani tegak di atas kebenaran yang hakiki.

Melahirkan insan Muslim yang tidak pernah mengeluh dan berputus asa menghadapi musibah atau kegagalan.

Melahirkan insan Muslim yang mempunyai tahap kesabaran, keazaman dan kesungguhan yang tinggi.

Melahirkan insan Muslim yang tidak angkuh dan sombong dengan kejayaan.

Melahirkan insan Muslim yang patuh kepada undang-undang dan peraturan Allah dalam segala keadaan.

Justeru, konsep tauhid perlu diberikan penekanan khusus pada setiap peringkat pengurusan. Lebih jauh daripada itu, setiap individu Muslim perlu memahami dan menghayati falsafah tauhid ini dan menyedari kepentingannya. Ini penting dalam melahirkan masyarakat yang selari dengan wawasan melahirkan matlamat Islamisasi (Wan Liz Ozman Wan Omar 1996: 54)

Pengurusan Islam mesti berbeza daripada sistem pengurusan Barat.

Sistem pengurusan Islam mempunyai identiti dan imej tersendiri.

Ada beberapa ciri utama dalam sistem pengurusan Islam yang mampu membezakannya daripada sistem pengurusan Barat. Antaranya:

Wujud ikatan erat antara pihak pengurusan dan masyarakat. Ikatan itu berlandaskan ikatan akhlak, nilai masyarakat dan perubahan masyarakat yang diterima oleh akhlak.

Memperakui hakikat kewujudan unsur kemanusiaan dan kebendaan dalam setiap peringkat pengurusan.

Mempunyai penentuan tugas dan tanggungjawab yang nyata mengikut setiap lapisan.

Pengurusan itu sendiri dilihat sebagai satu sistem masyarakat dan tidak boleh lari daripada aspek kemasyarakatan.

Kemestian menyempurnakan aspek fisiologi manusia.

Berlandaskan atas konsep kerjasama dan keadilan.

Mengutamakan kebenaran yang hakiki walaupun menghadapi tentangan.

Pada umumnya ada beberapa prinsip asas pengurusan yang membentuk sistem pengurusan Islam.

Prinsip itu memainkan peranan besar dalam sistem pengurusan Islam sehingga menjadikan aspek pengurusan Islam itu mampu untuk mengurus dan menyusun segala bidang kehidupan umat.

Prinsip asas itu termasuk syura, demokrasi, kerjasama, kebenaran hakiki dan kemanusiaan.

Prinsip Syura

Prinsip syura penting dalam urusan pentadbiran dan pengurusan. Allah mewajibkan manusia agar mengamalkan prinsip syura ini dalam menjalan dan menyelesaikan segala urusan manusia. Ini sama ada ia urusan besar dan penting atau kecil.

Rasulullah dan sahabat amat menitikberatkan perkara ini dalam memutuskan sesuatu keputusan atau pelaksanaan sesuatu dasar ketika pemerintahan baginda.

Pelaksanaan sistem syura memberi faedah besar kepada umat secara keseluruhannya kerana akan mewujudkan kestabilan, rasa puas hati, keadilan untuk semua dan memupuk masyarakat yang harmoni.

Dalam hal ini, Allah berfirman yang bermaksud : “…dan bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Apabila kamu sudah membulatkan azam, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat menyukai orang yang bertawakal.” (Surah Ali Imran, ayat 159)

Kesan positif daripada prinsip ini ialah menimbulkan rasa puas hati di kalangan ahli. Setiap orang akan berasa diri mereka penting dalam sesebuah komuniti atau masyarakat itu.

Amalan diskriminasi juga tidak akan timbul kerana setiap keputusan dibuat secara kolektif bukan secara perseorangan.

Kesilapan dalam pengurusan juga dapat dikurangkan kerana gabungan fikiran dan pendapat daripada banyak pihak akan menampung kekurangan di pihak lain.

Pengurusan akan menjadi inovatif dan produktif serta mendapat rahmat dan keberkatan daripada Allah. –

anteh@pkrisc.cc.ukm.my

Fikrah: Zikir, iktikaf tingkat ketenangan

Oleh Mohd Shukri Hanapi

SETIAP insan di dunia ini mahukan ketenangan dan kesenangan. Tiada siapa pun yang mahukan kehidupan yang runsing, gelisah dan menghadapi pelbagai masalah.


Dalam menghadapi ini, Islam sentiasa membimbing dan menunjukkan umatnya cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi, tetapi terpulanglah kepada kita sama ada mahu mengikut atau sebaliknya.

Islam menyediakan banyak cara bagi umatnya untuk mencari ketenangan jiwa yakni mengurangkan perasaan yang tidak senang dalam hati atau jiwa orang itu.

Ketenangan hati atau jiwa bagi seseorang insan adalah anugerah Allah yang tidak ternilai harganya. Ia sepatutnya tidak diabaikan, bahkan hendaklah dijaga dan dipelihara. Oleh itu, pohonlah kepada Allah supaya dikurniakan hati tenang, jauh daripada ketegangan.

Banyakkan berzikir kepada Allah, memuji, memohon keampunan dan keredaan-Nya. Itulah cara mendapatkan ketenangan. Jangan sekali-kali mencari ketenangan dengan cara yang dilarang dan diharamkan oleh Allah seperti mengambil dadah, memakan pil khayal dan minum arak. Ini kerana semua itu bukan jalan penyelesaian masalah, sebaliknya akan mendatangkan masalah dan padah terhadap diri sendiri, keluarga dan masyarakat, bahkan negara.

Antara penawar bagi mengubati jiwa dan hati ialah dengan banyak mengingati Allah. Allah berfirman yang bermaksud: “Iaitu orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingati Allah. Ingatlah! Hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.” (Surah ar-Ra’ad, ayat 28)

Selain itu, cara yang mudah dan ringan untuk memperoleh ketenangan ialah dengan beriktikaf. Iktikaf bererti diam (berhenti) dalam masjid dengan niat dan cara tertentu. Jika seseorang itu duduk saja dalam masjid, tanpa berniat iktikaf, maka perbuatan itu tidaklah dikira iktikaf.

Apabila seseorang itu beriktikaf dengan penuh ikhlas kerana Allah dengan niat bagi mendapatkan ketenangan, insya-Allah Allah akan mengurniakan ketenangan jiwa untuk menghadapi hidup ini.

Oleh itu, sebelum melangkah kaki ke masjid untuk beriktikaf, kita hendaklah mempersiapkan diri secara zahir dan batin dengan menumpukan perhatian sepenuhnya kepada Allah.

Perlulah diketahui bahawa antara amalan yang sangat baik untuk dilakukan ketika beriktikaf ialah sembahyang, berzikir, bertasbih, berdoa, membaca al-Quran, belajar dan mengajar. Itu antara cara bagi melatih jiwa dan fikiran untuk mengingati Allah.

Iktikaf mempunyai banyak hikmat antaranya ialah:

Boleh menenangkan fikiran dan jiwa dari pelbagai kesibukan.

Boleh merehatkan seluruh anggota badan daripada kepenatan dan keletihan.

Dari segi rohani pula akan mendorong kita supaya memikirkan kelemahan diri dan merenung tanda kebesaran Allah. Dengan cara demikian akan mendekatkan kita kepada Allah.

Boleh mendidik diri ke arah jiwa mutmainnah (jiwa tenang) dan tidak tunduk kepada dorongan hawa nafsu, sebaliknya tunduk dan taat kepada Allah dengan akal yang sihat.

Ia juga akan meningkatkan iman dan takwa kerana dengan memperbanyakkan zikir kepada Allah saja, kita akan gementar dan berasa kebesaran Allah.

Al-Quran, Rasulullah pedoman kelakuan manusia

Oleh Prof Dr Sidek Baba

ISLAM bukan saja agama yang membangun kekuatan peribadi atau akhlak, tetapi juga mengatur kehidupan berorganisasi dan bersistem. Insan atau manusia sangat memerlukan pedoman bagaimana sesuatu itu harus diurus atau ditadbirkan. Tanpa pedoman yang menepati keperluan akidah, syariah dan nilai Qurani, tidak mungkin sesuatu pengurusan dan pentadbiran berjalan mengikut keperluan ihsan dan insan.


Dalam hubungannya dengan ilmu, Islam memberikan asas bahawa sumber ilmu tertinggi ialah daripada Allah atau ilmu Wahyu, Rabbani atau al-Quran.

Al-Quran yang disampaikan kepada Nabi Muhammad saw adalah petunjuk untuk manusia dan bagi yang bertakwa (hudan linnas dan hudan lil muttaqiin). Dalam al-Quran bukan saja diutamakan akidah, iman dan takwa, malah Allah merakamkan banyak kisah dan jalan perjuangan nabi dan rasul menghadapi kerenah atau ragam perjuangan menegakkan risalah tauhid.

Allah juga memberi asas prinsip; hukum-hakam dan isyarat sains; pembentukan masyarakat yang diredai; kepemimpinan dan kepengikutan; konsep kemajuan dan pembangunan supaya manusia terus membangun dalam fitrah diri dan diserasikan dengan fitrah persekitaran.

Allah tidak jadikan insan, manusia atau makhluk lain begitu saja tanpa bantuan dan dukungan daripada-Nya. Allah turunkan wahyu sebagai sumber ilmu bagi memberi pedoman hidup insan. Bayangkan tanpa ilmu daripada Allah bagaimana kita dapat memahami maksud kejadian atau penciptaan sama ada diri kita, makhluk, persekitaran dan alam ini.

Dengan petunjuk Allah, kita memahami mengapa diciptakan, mengapa makhluk lain diciptakan dan apakah hubungan kita dengan alam ini. Akal manusia pasti tidak mampu meneroka dan menjangkau rahsia kejadian, melainkan menerusi sumber daripada Penciptanya iaitu Allah.

Manusia juga tidak akan mampu memahami dan menafsirkan hal ghaib seperti malaikat dan iblis sekiranya al-Quran tidak memandu kita.

Lebih jauh daripada itu, manusia sukar memahami faktor duniawi dan ukhrawi, dosa dan pahala serta syurga dan neraka sekiranya al-Quran tidak memberikan kita pedoman.

Sumber ilmu daripada al-Quran adalah bayangan ihsan Allah kepada hamba-Nya supaya kita tahu status diri sebagai hamba-Nya.

Lebih sempurna lagi, Allah tidak hanya menurunkan al-Quran, malah membentuk Nabi Muhammad sebagai pesuruh dan rasul-Nya. Selama 23 tahun Allah membentuk peribadi dan watak Nabi hingga kandungan al-Quran itu menjadi sebati dalam dirinya bagi menyampai dan memperjuangkan agama ini. Allah tidak turunkan al-Quran sebagai sumber ilmu kepada Nabi hanya dengan teori, malah berasaskan faktor semasa dan tuntutan sezaman.

Di Makkah, tuntutan ketika Al-Quran diturunkan ialah memerangi golongan jahiliah yang mensyirikkan Allah dan membawa mereka kembali kepada Islam.

Nabi Muhammad melalui pengalaman dakwah dan tarbiah dengan pedoman Allah menerusi wahyu-Nya. Baginda menempuh pengalaman sebenar seperti pengalaman nabi dan rasul terdahulu atau yang bakal ditempuh oleh umat terkemudian.

Pengalaman Nabi itu amat berguna kepada dirinya sebagai Pesuruh Allah. Ini supaya pengalaman manusia yang ada pada Rasulullah, boleh menjadi teladan kepada orang terkemudian.

Tanggungjawab membentuk watak Nabi sebagai qudwah (teladan) ini amat penting hingga Saidatina Aishah ketika ditanya oleh sahabat mengenai gambaran akhlak Nabi, merujuk akhlak baginda sebagai ‘Kuluq al-Quran’ iaitu peribadi Qurani. Dalam bahasa mudah, al-Quran membekalkan manusia dengan model terbaik untuk menjadi sumber ikutan.

Al-Quran dan sunnah adalah dua sumber ilmu yang berkait rapat antara satu sama lain. Tidak mungkin al-Quran dapat difahami dengan tepat, melainkan dikaitkan dengan rasul dan sunnahnya. Tidak mungkin juga kita dapat memahami makna penciptaan sejak dari zaman Nabi Adam hingga kini, melainkan kita cuba memahami dan mengkaji perjuangan nabi dan rasul terdahulu.

Memahami proses nubuwwah (kenabian) dan kehidupan manusia memberi pedoman bahawa nabi dan rasul terdahulu juga memperjuangkan asas yang sama iaitu mengembali dan mengekalkan manusia dalam akidah tauhid.

Kitab terdahulu seperti Injil, Zabur dan Taurat membawa risalah yang sama dan kemudiannya dilengkapkan oleh al-Quran sebagai kitab terakhir bagi Rasul terakhir.

Al-Quran sebagai sumber tidak hanya dibaca untuk maksud fadilat atau pahala. Al-Quran sebagai sumber ilmu mempunyai sumber tersirat di mana ada hikmahnya mengapa ia diturunkan secara beransur-ansur. Ada hikmahnya juga mengapa ada ayat yang diturunkan di Makkah dan Madinah. Ahli tafsir dan orang terkemudian menjadikan latar turunnya ayat sebagai asas memahami suasana dan persekitaran. Memahami suasana dan persekitaran penting menghubungkan kisah dalam al-Quran untuk dijadikan ibrah atau sumber teladan. Apa yang berlaku dalam hidup hari ini adalah ulangan yang pernah berlaku pada masa lalu. Yang berubah ialah zahir bentuk sesuatu. Batin dan maksud sebenar fungsi kejadian dan penciptaan tetap sama.

Al-Quran memberikan manusia landasan akidah dengan Allah atau Pencipta. Pencipta mencipta manusia dan antara kedua-duanya ada talian. Pencipta adalah Maha Sempurna dan Maha Perkasa.

Manusia memiliki kelemahan dan keterbatasan. Akal manusia terbatas dan jangkauan pancaindera manusia juga terhad. Manusia adalah baru dan tidak akan kekal. Manusia dilahirkan dan manusia akan akhirnya kembali kepada Pencipta.

Ukuran kembalinya manusia kepada Pencipta-Nya diukur dengan amal. Amal yang dilakukan di dunia menjadi penghubung antara manusia dengan Allah. Apabila kebaikan dilakukan dalam hidup ini, maka kebaikan jugalah yang akan diterima di akhirat nanti. Apabila kejahatan dilakukan di dunia, balasan yang sama juga akan diterima di akhirat nanti.

Memahami dosa dan pahala menjadikan kita sentiasa mengawal diri daripada melakukan perkara yang menyalahi syarak. Apabila itu berlaku pada hidup, kebaikannya akan kembali kepada kita.

Katalah kita adalah ibu dan bapa dalam sebuah keluarga. Jika kita adalah pasangan yang sentiasa ingat terhadap dosa dan pahala serta balasan Allah, ia menjadikan kita pasangan baik. Pasangan baik akan menjadi contoh dalam keluarga. Apabila anak mempunyai contoh baik, ia bakal mempengaruhi pembentukan watak mengikut acuan yang ada di depan mata.

Hal sama boleh berlaku di tempat kerja. Sekiranya setiap anggota pejabat merasakan adanya dosa dan pahala dan dahsyatnya azab Allah bagi yang melakukan penyelewengan, pejabat akan memiliki suasana yang merangsang ke arah kebaikan. Apabila suasana itu wujud, pejabat akan melahirkan khidmat terpuji, kualiti kerja tinggi dan produktiviti cemerlang.

Begitu juga dalam sebuah negara, sekiranya pemimpin dan rakyat faham makna hamba dan khalifah, ia menjadikan kepemimpinan dan kepengikutan sebagai taklif atau amanah.

Pemimpin dan yang dipimpin tahu mengenai dosa pahala dan halal haram. Ini kerana balasan Allah itu amat pedih dan sentiasa dapat menjadikan semua itu sebagai pedoman, malah prinsip dalam melakukan kepemimpinan dan kepengikutan. Jika keinsafan ini tidak ada, ikatan dengan Allah menjadi longgar, manakala pemimpin dan pengikut akan melakukan perlanggaran.

Bayangkan kerosakan yang bakal menimpa kepada rakyat dan negara jika perlanggaran ini berlaku.

Tegakkan agama dengan penuh kesabaran

Oleh Engku Ahmad Zaki Engku Alwi

ISLAM adalah satu-satunya agama diredai Allah untuk umat-Nya yang menghuni alam semesta ini. Kerana itu, Allah mengutuskan nabi dan rasul untuk menyampaikan dan menyebarkan risalah Islam agar ia menjadi pegangan hidup dunia dan akhirat. Hanya Islam yang menjamin kesejahteraan dan kebahagiaan hidup manusia.

Namun, terdapat sebahagian manusia yang menolak Islam dan seterusnya melancarkan serangan demi serangan, termasuk propaganda keji bertujuan menyekat kebangkitan Islam ke seluruh pelusuk bumi. Keadaan seumpama inilah dihadapi Rasulullah saw sewaktu menyeru bangsa Arab kepada cahaya Islam.

Rasulullah adalah satu-satunya orang Makkah yang mendapat gelaran al-Amin, iaitu sangat dipercayai lagi amanah. Bagaimanapun, ketika Rasulullah menyampaikan risalah Islam, bangsa Arab khususnya pemimpin atasan Quraisy, seolah-olah lupa bahawa Baginda adalah orang yang sangat mereka percayai perkataannya selama ini. Risalah Islam yang bersifat ‘rahmatan lil alamin’ (rahmat untuk sekalian alam) itu dianggap ancaman kepada sistem jahiliah ketika itu.

Pemimpin Quraisy berusaha memujuk Rasulullah agar berhenti daripada berdakwah dengan ganjaran kekuasaan, tawaran harta benda dan wanita cantik. Namun kesemua tawaran itu ditolak oleh Rasulullah, malah Baginda tetap menyampaikan risalah Islam sebagaimana diperintahkan.

Sikap tegas Rasulullah itu akhirnya dibalas dengan ancaman kepada kaum Muslimin. Di kalangan sahabat, ada yang mengalami ancaman ejekan, penderaan dan pemulauan. Malahan, ada beberapa sahabat yang syahid.

Ancaman dan gangguan daripada puak Quraisy itu tidak berupaya mengurangkan perkembangan Islam, bahkan dakwah Islam semakin tersebar ke seluruh pelusuk kota Makkah. Oleh itu, pemimpin Quraisy membuat berbagai propaganda supaya penduduk Makkah tidak mengikuti Rasulullah dan ajaran Islam yang dibawa Baginda. Mereka melabelkan Rasulullah sebagai pemecah belah masyarakat, penyair, ahli sihir dan orang gila.

Dalam hal ini, Allah merakamkan kisah perjuangan Rasulullah menghadapi kaumnya melalui firman-Nya yang bermaksud: “Dan sesungguhnya orang yang kafir itu hampir menggelincir dan menjatuhkanmu dengan pandangan mereka (yang penuh dengan permusuhan dan kebencian) semasa mereka mendengar al-Quran sambil berkata: “Sebenarnya (Muhammad) itu sungguh-sungguh orang gila”.(Surah al-Qalam, ayat 51).

Lebih malang lagi, pemimpin Quraisy juga sentiasa memberi amaran keras kepada setiap kabilah Arab yang berkunjung ke Makkah agar berhati-hati dengan setiap kata-kata Muhammad kerana ia mengandungi sihir yang berupaya memisahkan antara pasangan suami isteri .

Semua propaganda Quraisy itu ternyata tidak mampu membendung perkembangan Islam. Semakin ramai orang Arab yang berminat dan terus menerima Islam sebagai cara hidup mereka. Sinaran cahaya Islam yang benar-benar tinggi itu, tidak akan dapat mereka padamkan.

Allah berfirman, yang bermaksud: “Mereka sentiasa berusaha hendak memadamkan cahaya Allah (agama Islam) dengan mulut mereka, sedangkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya sekalipun orang kafir tidak suka (akan yang demikian)”. (Surah as-Saff, ayat 8).

Sejarah Islam menyaksikan bahawa kalimah Allah itu selama-lamanya tetap tinggi manakala kalimah kufur pula akan tersungkur. Jaminan ini diberikan Allah dalam firman-Nya, yang bermaksud: “Dan Allah menjadikan seruan (syirik) orang kafir terkebawah (kalah dengan sehina-hinanya) dan kalimah Allah (Islam) ialah yang tinggi (selama-lamanya) kerana Allah Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana”. (Surah at-Taubah, ayat 40).

Meninjau senario umat Islam kini, meskipun seruan Islam bergema ke seluruh rantau bumi, namun ternyata ada musuh Islam yang kurang senang dengan kebangkitan Islam. Segelintir pemimpin dunia mengulangi propaganda jahat sebagaimana pernah dilakukan orang kafir Quraisy. Mereka melaungkan propaganda jahat untuk memadamkan cahaya Islam dengan pelbagai isu sejagat seperti keganasan, ekstrem dan sebagainya.

Umat Islam perlu menyedari situasi yang menimpa mereka dan meyakini bahawa jaminan pertolongan Allah akan tetap datang untuk menyempurnakan agama-Nya, jika umat Islam terus berjihad menyambung perjuangan nabi dan rasul. Mereka juga hendaklah menegakkan Islam dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Allah telah menetapkan bahawa walaupun sejahat mana propaganda dilancarkan musuh Islam, namun cahaya Islam tetap bersinar di bumi Allah ini bersama keadilan dan keamanan sejagat.

Konsep tawakal kepada Allah

Iktibar
Oleh ZULKIFLEE BAKAR
ADA seorang lelaki suku Badwi yang meletakkan untanya sebarangan ketika akan berehat di suatu tempat. Dia sengaja tidak menambat unta itu.

Selesai berehat, ketika dia hendak kembali meneruskan perjalanan, ternyata untanya telah hilang.

Orang Badwi itu menjadi amat terkejut. Orang ramai mengerumuninya sebaik sahaja mendengar jeritannya memanggil untanya yang sudah tiada, “Untaku, untaku …ke mana untaku?”

Sambil mencari ke sana-sini, dia meyakinkan dirinya bahawa ketika kali terakhir dia melihat unta tunggangannya itu masih ada, berkumpul bersama unta-unta lain.

Dia yakin untanya tidak akan terlepas kerana Allah akan menjaganya.

Atas dasar keyakinan demikian, dia merasa tidak perlu lagi menambat untanya ke tiang. Malah Badwi itu mendakwa dirinya telah melakukan salah satu sifat yang soleh, iaitu tawakal.

Benarkah sikap tawakal ala Badwi tersebut? Ternyata tidak. Tawakal bukanlah pasrah diri seperti yang dilakukan Badwi itu. Setidaknya, itu adalah sikap yang merugikan.

Orang boleh kehilangan harta benda miliknya jika menggunakan sikap seperti itu. Apatah lagi dalam dunia materialistik seperti sekarang ini.

Allah memuliakan sikap tawakal. “Dan hanya kepada Allah sahaja bertawakal orang-orang yang beriman.” (Al Maidah: 11).

Sikap tawakal itu tidak berdiri sendiri. Sikap ini diperkukuhkan oleh dua lagi perkara prinsip iaitu, pertama, orang bertawakal setelah menyempurnakan ikhtiar. Manakala kedua, tawakal diiringi keyakinan bahwa segala sesuatu terjadi hanya kerana kehendak dan takdir Allah. Orang yang bertawakal hatinya utuh pada Allah s.w.t., namun dia tetap berusaha.

Oleh itu prinsip yang diamalkan oleh Badwi berkenaan adalah salah sama sekali. Sememangnya Allah mahu kita bertawakal kepada-Nya, namun selepas kita benar-benar sudah berusaha.

Hadis: Syarat menjadi pemimpin baik, terpuji

RASULULLAH bersabda maksudnya: “Apabila tiga orang sedang bermusafir, mereka hendaklah melantik salah seorang menjadi ketua.” (Hadis riwayat Abu Daud daripada Abu Said dan Abu Hurairah).


Hadis itu membuktikan perlunya ada pemimpin untuk mengendalikan keluarga, syarikat, persatuan, masyarakat dan negara. Pemimpin wajib ditaati tetapi dalam Islam, taat setia itu bersyarat.

Pemimpin mempunyai tanggungjawab mengawal, mengurus dan mentadbir individu dalam jagaannya, sambil menjadikan diri sebagai teladan.

Rasulullah bersabda lagi yang bermaksud: “Tiap-tiap seorang daripada kamu adalah pemimpin. Setiap kamu bertanggungjawab terhadap mereka yang terletak di bawah pimpinan kamu.”

Saidina Abu Bakar dalam ucapan dasar ketika dilantik menjadi khalifah Islam pertama berkata: “Taatilah aku selama aku mentaati Allah dan rasul-Nya. Apabila aku menderhakai Allah dan rasul-Nya, maka tidaklah wajar bagi kamu mentaati aku.”

Apa yang lebih utama pada diri seorang pemimpin ialah akhlak yang baik seperti cara berkomunikasi dengan orang bawahan. Islam meragui pemimpin yang tidak mempunyai pekerti terpuji.

Menurut Islam, untuk menjadi pemimpin yang baik, seseorang itu harus mematuhi beberapa syarat.

Memelihara hubungan baik dengan Allah sesuai dengan firman yang bermaksud: “Dan ingatlah Aku tidak menjadikan jin dan manusia melainkanuntuk beribadah kepada-Ku.” (Surah al-Zariyat, ayat 56).

Memelihara hubungan baik sesama manusia sesuai dengan firman Allah yang bermaksud: “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah (agama Islam) dan janganlah kamu bercerai berai.” (Surah Ali Imran, ayat 103)

Harus mempunyai sifat terpuji dalam diri, seperti berilmu, bermoral, adil, berani, tegas tetapi bertimbang rasa, berfikiran rendah diri, bijaksana, pemurah dan pemaaf.

Memelihara hubungan baik dengan alam sekitar, binatang dan tumbuhan sesuai dengan hadis Rasulullah yang bermaksud: “Kasihanilah setiap makhluk bumi semoga kamu dikasihi mereka di langit.”

Setiap pemimpin bertanggungjawab menentukan komunikasinya dengan anggota bawahan sentiasa terkawal dan tidak menyimpang dengan suasana yang menyulitkan keadaan.

Amal makruf kekalkan kurniaan nikmat

Oleh Drs Wan Aminurrashid

TUJUAN Allah mencipta manusia ialah untuk memakmurkan bumi, bukan merosakkannya. Bukankah hidup ini diciptakan Allah sebagai tempat atau pentas ujian untuk melihat siapakah yang paling baik amalan atau perbuatannya.


Allah berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya”. (Surah Al-Kahfi, ayat 7).

Ayat itu bermakna hidup di dunia sebenarnya adalah masa untuk manusia berbuat makruf (kebaikan) dan mengumpulkan amal kebajikan sebagai bekalan untuk dibawa ke akhirat.

Bukankah dunia ini sebagai tempat bercucuk tanam atau ladang untuk akhirat sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadis baginda yang bermaksud: “Dunia adalah ladang (tempat bercucuk tanam) untuk akhirat”.

Orang yang bijaksana sebenarnya tidak mempunyai masa untuk melakukan perkara yang sia-sia, apatah lagi berbuat kejahatan yang membawa kepada dosa dan kemurkaan Allah.

Kebaikan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan turunnya rahmat Allah, sebaliknya kemurkaan Allah akan turun kepada manusia yang melakukan kemungkaran dan maksiat.

Sejarah mencatatkan malah Al-Quran sendiri ada merakamkan mengenai manusia yang ingkar daripada mengabdikan diri kepada Allah, tidak mahu mengikuti seruan Rasul yang diutuskan seperti kaum ‘Ad dan Tsamud hingga Allah menimpakan azab seksa yang dahsyat kepada mereka.

Mereka bukan saja menentang ajakan Rasul utusan Allah, tetapi juga melakukan kemungkaran dan perlakuan yang tidak bermoral, menyebabkan Allah murka.

Hari ini kita lihat keruntuhan moral atau akhlak berlaku di mana-mana saja termasuk di negara kita.

Kerosakan akhlak berlaku pada setiap peringkat masyarakat, yakni bukan saja remaja dan muda-mudi, malah dewasa dan berumur.

Justeru, perlu diingat bahawa Allah menimpakan musibah atau bala apabila sesuatu tempat itu berleluasa perbuatan maksiat dan ramai manusia yang tidak berakhlak.

Apabila melihat banyaknya berlaku keruntuhan moral khususnya umat Islam, kita sedih kerana sebagai umat terbaik iaitu umat Nabi Muhammad seakan-akan atau memang sebenarnya kita sudah mengecewakan baginda yakni dengan menampil dan memperlihatkan akhlak buruk yang bertentangan dengan akhlak yang baginda tonjolkan.

Padahal baginda diutuskan adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Apakah ini bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad?

Janganlah kita menganggap keamanan dan kemakmuran serta kemewahan yang Allah limpahkan kepada kita selama ini akan berkekalan apabila melihat banyaknya perlakuan tidak berakhlak atau perkara maksiat terjadi di sana sini.

Musnahnya bangsa terdahulu tidak lain kerana moral mereka yang rosak, seperti kata penyair Arab bernama Syauqi yang bermaksud: “Sesuatu bangsa itu akan tetap teguh kalau masih mempunyai nilai moral, apabila tidak ada lagi nilai moral maka runtuhlah sesuatu bangsa itu”.

Segala yang kita terima hari ini berupa keamanan dan kemakmuran adalah ujian Allah. Namun, kita khuatir datangnya kemurkaan Allah apabila perlakuan kejahatan sudah berleluasa di sana sini.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu semua menyuruh berbuat kebaikan (makruf) dan melarang berbuat kejahatan, atau kalau tidak, maka takut (khuatir) Allah menurunkan seksa kepada kamu semua, kemudian kamu memohon kepada-Nya, maka pada ketika itu Allah tidak akan memperkenankan segala permohonan kamu.” (Hadis riwayat Tirmidzi).

Hadis itu memberi penekanan supaya sentiasa berlumba-lumba berbuat makruf, kemudian mengajak orang lain berbuat demikian dan pada masa sama menjauhi kejahatan dan melarang orang lain berbuat demikian.

Namun, jika hal itu tidak kita lakukan (yakni tidak berbuat/tidak mengajak kepada makruf dan tidak menjauhi kejahatan), dikhuatiri Allah akan menurunkan azab dan seksaan Allah itu pula merata, dalam erti kata tidak cuma mengenai yang jahat tetapi juga yang baik-baik.

Apabila Allah murka, maka segala permohonan daripada hamba-Nya tidak Allah perkenankan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan bahawa Allah ada menerangkan yang bermaksud: “Kadang-kadang Aku (Allah) bermaksud (ingin) akan menyeksa hamba-Ku, tetapi sewaktu Aku melihat orang yang berduyun mengunjungi masjid, orang yang mendengarkan ayat-Ku, anak Muslim yang asyik belajar agama, (maka) reda dan tenteramlah kembali (rasa) amarah-Ku”.

Jika diteliti hadis ini, kita bersyukur kerana amalan agama di negara kita sangat baik hingga dijadikan contoh oleh negara Islam lain.

Masyarakat Islam sentiasa memakmurkan masjid, berduyun hadir ke masjid untuk solat berjemaah pada setiap waktu, ramai yang mengikuti pelbagai majlis ilmu, terutama kuliah selepas maghrib.

Ramai anak belajar ilmu agama seiring banyaknya terbina sekolah agama di negara kita. Masih ramai lagi alim ulama yang sentiasa mendoakan keamanan dan kemakmuran sehingga negara kita terpelihara, aman dan dilimpahi nikmat yang tidak terkira banyaknya.

Marilah kita berusaha mengekalkan keamanan dan kurniaan nikmat yang melimpah ini dengan melakukan perbuatan yang mendatangkan keredaan Allah iaitu dengan melakukan kebaktian dan pengabdian kepada Allah, berbuat makruf serta menjauhi kemungkaran.

Kita perlu bersyukur dengan segala nikmat yang diterima, reda dengan segala yang ada di samping bersabar dengan segala yang menimpa. Semoga Allah dengan kemurahan dan kasih sayang akan terus menerus memberikan kesejahteraan kepada kita semua.

Suara Jakim: Pentingnya nilai ihsan ke arah kecemerlangan

Oleh Wan Esma Wan Ahmad

SEMUA lapisan masyarakat ada tanggungjawab tersendiri untuk membantu pemimpin membangunkan negara. Tokoh korporat, ahli bank, pengurus ladang, penternak ayam, penanam padi, buruh kasar, pentadbir, ahli akademik, pendidik, kontraktor bangunan dan sebagainya, perlu mempunyai kesedaran dan kefahaman yang betul tentang peranan dan tanggungjawab masing-masing.


Segala bidang yang mereka ceburi adalah umpama anak-anak sungai yang mengalir ke satu arah main stream kerana Islam tidak memisahkan kehidupan dunia dan akhirat.

Seorang tukang sapu tidak boleh dikatakan tidak melakukan kerja Islam kerana dia tidak mengajar orang belajar sembahyang tetapi Islam menyuruh umatnya menjaga kebersihan dan dia bekerja kerana mencari nafkah diri dan keluarganya untuk terus hidup.

Seorang penanam padi juga tidak boleh dikatakan tidak melakukan kerja Islam kerana dia bekerja di sawah dan bergelumang dengan lumpur, kerana Islam menyuruh umatnya bekerja dan hasil yang diperoleh boleh menguatkan ekonomi keluarganya dan negara juga beroleh manfaat daripadanya. Cuma apa yang perlu dipertingkatkan ialah kefahaman bahawa peranan mereka dalam segala jenis bidang dan profesion itu adalah sumbangan ke arah mencapai kemajuan diri, masyarakat, negara dan agama.

Melalui konsep ihsan dapatlah difahami bahawa berusaha bagi mencapai kecemerlangan adalah tuntutan Islam yang mesti dilaksanakan. Pelaksanaan ihsan ini mestilah berlandaskan nilai unggul merangkumi aspek kualiti diri, akhlak yang tinggi serta sedar bahawa Allah SWT Maha melihat pada setiap ketika. Apabila setiap Muslim memiliki dan memenuhi sifat positif ini, maka sudah tentu ia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan tanggungjawabnya dengan sempurna dan mampu mencapai matlamat kemajuan dan kecemerlangan.

Seseorang Muslim tidak mampu untuk menipu, rasuah, membuang masa serta melakukan dosa kerana mereka tahu Allah SWT sentiasa melihat apa jua perbuatan yang dilakukan. Banyak bidang ilmu yang perlu diterokai seperti keusahawanan, perniagaan, kejuruteraan, kedoktoran dan lain-lain oleh orang Islam. Ini kerana akal manusia mampu untuk mencapai sesuatu bidang tetapi perlu menempuh dugaan-dugaan dan cabaran-cabaran dalam dunia yang semakin mencabar dan global ini.

Dengan itu mereka akan cuba melakukan dengan bersungguh-sungguh dalam usaha mencari keredaan Ilahi.

Masyarakat yang mempunyai rasa tanggungjawab terhadap insan yang menghuninya akan melahirkan sifat yang belas kasihan kepada anak-anak, ibu-bapa, hormat-menghormati antara pekerja dan majikan. Ada ikatan dan rasa perlu memerlukan pada semua golongan dan boleh bekerjasama.

Kekuatan yang ada pada Muslim bukan hanya terletak pada akhlak yang unggul tetapi juga dengan amalan-amalan yang selari dengan kehendak Islam baik di siang mahupun pada malam hari.

Kekuatan dalaman perlu bagi menghasilkan nilai unggul dalam jiwa manusia menerusi keluarga, institusi pendidikan, media elektronik dan cetak, internet dan sebagainya. Jika keluarga boleh mengajar anak-anak supaya taat kepada Allah dan Rasul, ibu bapa, pemerintah seterusnya institusi pendidikan mengajarkan konsep yang sama serta media memainkan peranan. Maka sudah tentunya insan itu terdidik dengan akhlak yang terpuji dan boleh menghasilkan individu yang sentiasa merasakan Allah melihatnya. Ini kerana jika kita tidak terdidik dengan perasaan ihsan, kita mudah melakukan apa saja perbuatan termasuk penganiayaan kepada diri sendiri khasnya dan seterusnya kepada masyarakat amnya.

Apa yang pasti, manusia yang mempunyai akhlak yang baik akan melahirkan rasa cinta kepada Allah SWT. Mereka akan segera menunaikan ketaatan dan mencari keredaan-Nya dengan menjauhkan segala perkara yang boleh menyebabkan kemurkaan dan balasan azab daripada Allah. Dengan sifat ihsan, akan melahirkan masyarakat Islam yang unggul untuk menghadap Ilahi.

Jelaslah bahawa ihsan adalah aspek untuk mencapai matlamat kecemerlangan hidup. Persoalan ihsan merangkumi akhlak dan sikap yang mana Islam menghendaki umatnya memilikinya dengan piawai terbaik.

Nilai positif seperti jujur, amanah, dedikasi, dan sebagainya mesti dimiliki, dihayati dan diamalkan oleh setiap orang. Kemuncak ihsan ialah seseorang itu sanggup melakukan apa saja demi untuk ketinggian agama dan umatnya, sanggup menghadapi berbagai-bagai cabaran dan halangan. Hal ini selalu disebutkan sebagai pengorbanan dan ia menjadi salah satu istilah yang sangat berkait rapat dengan persoalan jihad.

Jihad adalah ihsan yang tinggi. Kita sebagai umat Islam mestilah mengikuti jihad yang telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW kerana baginda adalah contoh dan menjadikannya sebagai contoh ikutan yang sebaik-baiknya.

Dalam melaksanakan tugas dakwah dan risalahnya, baginda SAW telah berjihad dengan segala kemampuannya. Jika ditakdirkan baginda keseorangan dalam tugas jihadnya, sementara dunia seluruhnya bangun menentang baginda, jihad itu akan tetap diteruskan tanpa mengira apakah akibat yang akan menimpa dirinya.

Dalam pelaksanaan jihad bagi mencapai kemajuan dan kecemerlangan, peranan setiap individu dan agensi pelaksana adalah sangat penting, tidak kira dalam sektor mana dia berada. Masing-masing hendaklah berperanan dengan sebaik-baiknya dengan meletakkan matlamat yang hendak dicapai yang tidak terpisah daripada ketinggian dan kecemerlangan Islam. Ini bererti segala kerja dan tugas yang dilakukan hendaklah atas niat kerana Allah SWT.

– Rencana sumbangan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim)

Rasulullah amat kasih umat, sayang ahli bait, sahabat

RASULULLAH saw, adalah seorang yang banyak merendahkan diri dan berdoa ke hadrat Allah swt supaya menganugerahkan Baginda dengan kebaikan adab dan kemuliaan budi pekerti serta akhlak.


Antara doa Baginda yang bermaksud: “Ya Allah Ya Tuhanku, perbaikkan kejadianku dan akhlakku”. Maka, Allah menganugerahkan baginda al-Quran yang mengandungi pengajaran mengenai adab dan kesopanan.

Allah berfirman bermaksud: “Dan engkau (Wahai Muhammad) sesungguhnya mempunyai akhlak yang tinggi.” – (Surah al-Qalam, ayat 4).

Rasulullah adalah manusia yang paling penyabar, berani, adil dan pandai menjaga diri.

Baginda tidak pernah sekali-kali menyentuh tangan wanita yang tidak dimilikinya kecuali wanita itu hamba atau isteri atau pun muhrimnya. Ini kerana Baginda sangat pemalu dan tidak tetap pandangannya pada muka seseorang ter-utama wanita.

Rasulullah juga amat mengasihi umatnya dan menyayangi ahli bait dan sahabat. Baginda adalah manusia yang pemurah hati, suka bersedekah apa yang ada pada dirinya dan sangat bersederhana.

Ini kerana makanannya hanyalah tamar. Selebihnya adalah untuk Allah (jalan fiisabilillah).

Baginda sangat suka memperkenankan undangan sahaya dan orang merdeka serta tetap menerima apa saja walaupun seteguk air dan akan membalas hadiah berkenaan.

Baginda tidak memakan harta sedekah, tidak sombong, memarahi dan melaksanakan kewajipannya atas dasar kebenaran.

Rasulullah juga tidak pernah meminta pertolongan orang musyrik malah sangat suka berpuasa dan seorang yang paling beradab dalam makan seperti makan tanpa bersandar dan tanpa meja.

Baginda lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri dan sentiasa tawaduk serta tenang. Rasulullah tidak terganggu dengan urusan dunia dan sangat menyukai syamlah iaitu jubah bulu.

Antara doa Baginda yang masyhur (mengenai peradaban dan akhlak mulia ialah: “Ya Allah Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku kebenaran itu kebenaran, lalu aku mengikutinya. Perlihatkanlah kepadaku kemungkaran dan anugerahilah keupayaan untuk aku menjauhkan diri daripadanya.

“Lindungilah aku daripada apa-apa yang meragukan lalu aku mengikuti hawa nafsuku, tanpa petunjuk daripada Engkau. Jadikanlah hawa nafsuku patuh mentaati-Mu.

“Ambillah kerelaan diri Engkau daripada diriku kepada keafiatan (kesihatan). Dan tunjukkanlah aku kebenaran yang aku perselisihkan padanya, dengan keizinan Engkau. Sesungguhnya Engkau menunjukkan (jalan) siapa yang Engkau kehendaki atas jalan yang lurus.”

Waktu lapang perlu diguna untuk kebaikan

ORANG yang berfikiran waras dan berpekerti mulia sudah tentu akan sentiasa menggunakan waktu lapang dan terluang sebagai satu kesempatan amat berharga bagi menambahkan kebaikan untuk dirinya.


Dia pula akan berasa amat rugi jika waktu itu tidak dipenuhi dengan amal kebajikan. Lebih mendukacitakan lagi, jika waktu kelapangan itu, mereka gunakan untuk melakukan perbuatan keji dan dosa.

Bagaimanapun, bagi orang berakhlak rendah dan ditambah pula dengan jahil, dia berasa beruntung jika waktu lapang dipenuhi dengan perbuatan tidak baik dan maksiat.

Malah bagi dirinya, dia berasa rugi jika waktu itu tidak diisi dengan perbuatan yang dilarang agama.

Berdasarkan perbandingan dua keadaan jenis manusia ini, maka jelaslah jenis pertama (orang yang berfikiran waras) setiap masa adalah mereka yang sentiasa melakukan kebaikan, manakala manusia jenis kedua adalah sebaliknya,

Justeru bagi yang jahil dan berperibadi rendah ini semakin bertambah dosa serta keburukan walaupun kadang-kadang, ada seruan supaya dia melakukan amal kebajikan.

Sebaliknya, dia menyangka amal kebaikan merugikan dirinya dan menambahkan bebanan saja. Pada hal Allah memberi jaminan manfaatnya dengan firman-Nya yang bermaksud: “Siapakah orang (mahu) memberikan pinjaman kepada Allah sebagai pinjaman yang baik (yang ikhlas) supaya melipat gandakan balasannya dengan berganda-ganda banyaknya? Dan (ingatlah) Allah saja yang menyempit dan meluaskan (pemberian rezeki) dan kepada-Nya kamu semua kembali.” (Surah al-Baqarah, ayat 245).

Sesungguhnya, orang yang gemar meminjamkan harta kepada Allah adalah orang yang melakukan perbuatan baik seperti menderma, bersedekah, berjihad di jalan Allah kerana mendirikan masjid, madrasah atau sekolah, rumah anak-anak yatim serta membantu ke arah kebaikan sosial dan sebagainya.

Dalam usaha untuk berbakti bagi memenuhi waktu lapang agar ia tidak berlalu dan terbuang dengan sia-sia, maka Allah memberikan galakan supaya manusia melakukan kebaikan seperti mana firman-Nya yang bermaksud: “Bandingan (derma) orang yang membelanjakan hartanya pada jalan Allah ialah sama seperti biji benih yang tumbuh menerbitkan tujuh tangkai, setiap tangkai itu pula mengandungi seratus biji dan (ingatlah) Allah akan melipatgandakan pahala bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah Maha Luas (Rahmat) kurniaan-Nya.” (Surah al-Baqarah, ayat 261).

Dalam kesempatan beribadat kepada Allah demi menjamin keutuhan iman dan kekayaan jiwa, Rasulullah juga pernah bersabda dalam hadis yang bermaksud: “Wahai anak Adam, sediakanlah kelapangan buat beribadat kepada Allah, nescaya Aku penuhi dadamu dengan kekayaan jiwa, dan aku tutupi apa-apa jua kekuranganmu, tetapi jika engkau tidak kerjakan sesuatu kebaikan pada waktu yang terluang itu, nescaya Aku penuhi di waktumu itu dengan kesibukan yang pelbagai, dan Aku tidak menutupi apa-apa jua kekuranganmu.” (Hadis qudsi riwayat at-Tirmizi dan Ibn Majah).

Berdasarkan hadis ini, sesiapa yang tidak mahu menggunakan waktu lapang dengan melakukan ibadat dan kerja bermanfaat, nescaya hidupnya sering kekurangan dan jiwanya kosong sekali gus mendorongnya terbabit dalam kegiatan tidak berfaedah dan maksiat serta mudah dipengaruhi gejala buruk yang bakal memusnahkan hidupnya.

Dalam hadis lain, Rasulullah turut menerangkan mengenai dua jenis manusia yang diibarat sebagai ‘menjual dirinya’.

Pertama, seseorang yang bangun pada waktu pagi untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan yang boleh menguntungkan lalu dia dibebaskan Allah daripada keburukan.

Kedua pula adalah seseorang yang mengerjakan sesuatu pekerjaan yang merugikan dirinya lalu dibinasakan Allah.

Maknanya, golongan pertama adalah mereka yang mengerjakan amal soleh seolah-olah dia menjual dirinya kepada Allah, maka dengan amalan itu, Allah hindarkan dirinya daripada kehinaan di dunia dan di akhirat.

Sedangkan manusia jenis kedua adalah golongan yang mengerjakan kejahatan lalu menjual dirinya kepada kehendak syaitan dan hawa nafsu, maka dengan tindakan itu, dia sendiri yang membinasakan dirinya.

Justeru, setiap individu boleh sama ada melakukan sesuatu untuk membahayakan diri sendiri atau membahagiakan diri.

Daripada beberapa dalil al-Quran dan hadis ini, maka mudah-mudahan kita sentiasa memelihara masa daripada terluang begitu saja tanpa dipenuhi dengan amalan atau usaha berfaedah serta menguntungkan diri sendiri.

Janganlah hendaknya kita sanggup dilalaikan oleh pujukan syaitan dan hawa nafsu sendiri kelak buruk padahnya dan sesuatu penyesalan itu tidak ada kesudahannya.

Oleh itu, manfaatkan hidup ini sebaik-baiknya lebih-lebih lagi ketika mana usia masih muda, bertenaga dan berkesempatan menghirup nikmat keselesaan serta keamanan untuk melakukan ibadat serta berbakti kepada agama, bangsa dan negara.

Firman Allah yang bermaksud : “Demi masa, sesungguhnya manusia dalam kerugian kecuali mereka yang orang beriman dan beramal salih serta berpesan dengan kebenaran serta kesabaran.” (Surah al-Asr, ayat 1 hingga 3).

Al-Quran beri pedoman supaya manusia lebih terarah

ALLAH mengurniakan manusia dengan adanya hati. Hati, menjadikan manusia memiliki rasa, keinginan dan kecenderungan.


Daripada hati datang naluri dan nilai diri yang sebenarnya. Sebab itu, hati menjadi fokus atau keutamaan pembangunan insan.

Selama 23 tahun Rasulullah di Makkah dan di Madinah, pembangunan hati seperti pemantapan akidah, penyuburan takwa dan iman, pembangunan pekerti dan sahsiah yang baik adalah ditumpukan kepada tarbiah ruhiyyah atau pembangunan hati dan pengawalan jiwa.

Apabila Rasulullah menyebutkan generasi pada zamannya adalah contoh generasi terbaik yang dicerminkan menerusi akhlak dan teladan yang baik.

Bagi manusia, inilah faktor utama dan terpenting bagi menentukan faktor perubahan lain bermula dengan perubahan diri.

Daripada hati boleh terbina sifat mahmudah (terpuji) untuk manusia. Hati yang terbangun dan subur dalam fitrahnya akan sentiasa menampilkan pedoman terhadap tingkah laku yang baik serta diredai Allah.

Ia bergantung bagaimana hati disuburkan. Jika faktor ilmu dan faktor persekitaran selari dengan fitrah, maka pembentukan fungsi hati berada dalam keadaan fitrah juga.

Sifat hati seperti jujur, ikhlas, baik, sukakan kebenaran, cintakan keadilan, bencikan kezaliman, bencikan penindasan, bencikan fitnah dan lain-lain adalah gambaran sifat terpuji yang membantu manusia kekal dalam keadaan tunduk serta patuh lambang jiwa kehambaan yang tinggi.

Sebaliknya, manusia boleh memiliki sifat mazmumah (tercela) seperti jahat, zalim, mungkir janji, malas, suka mencerca dan memfitnah, tidak bertimbang rasa, jahat sangka, mengumpat, suka menghina, mementingkan diri sendiri dan banyak lagi.

Sifat buruk ini wujud disebabkan penyuburan hati dan pengaruh persekitaran banyak yang bersifat negatif ataupun buruk.

Akibatnya, manusia tidak berada dalam keadaan fitrah dan jika tabiat buruk itu diterjemahkan dengan amal dan perbuatan, maka ia bakal memberi kesan buruk terhadap manusia lain.

Ini bukanlah gambaran manusia yang patuh dan taat dengan pedoman Allah. Pastinya, gelagat ini akan menimbulkan hubungan yang tidak baik kepada orang lain atau persekitaran di mana manusia itu berada.

Sebab itu di samping rahmat dan nikmat yang membolehkan manusia bersyukur terhadap pemberian-Nya, pengaruh persekitaran dan proses membangunkan hati dan fikir amat penting bagi manusia.

Kewajipan melakukan solat, amalan bersedekah dan zakat, berpuasa, mengerjakan haji bagi yang mampu adalah jalan amal membantu menyubur dan mengekalkan manusia dalam fitrah.

Begitu juga ilmu mengenai ‘arkanul iman’ (rukun iman) yang membolehkan manusia insaf terhadap faktor ghaib yang mentadbir dan menguruskan alam ini, bakal mengukuhkan lagi fitrah insaniah.

Semua itu adalah lambang sunnatullah (peraturan Allah) yang tinggi, mengatur alam dan kehidupan ini.

Memberikan manusia pedoman dan petunjuk supaya dengan pedoman dan petunjuk menjadikan kehidupan manusia terarah, tersusun, tertib dan rapi dan akhirnya mampu membina cara hidup yang santun, beradab dan bertamadun.

Sesiapa yang patuh dan taat dengan ketentuan, batasan dan pedoman yang digariskan Allah akan mendapat manfaat dan sesiapa yang ingkar serta melampaui batas akan menerima musibah.

Al-Quran adalah sebesar-besar pedoman dan petunjuk bagi manusia. Al-Quran terkandung kisah Nabi, Rasul dan gelagat kaum pada zaman masing-masing untuk dijadikan iktibar bagi yang terkemudian.

Ini kerana, lazimnya kisah-kisah boleh berulang. Al-Quran juga terkandung ilmu yang amat bernilai untuk manusia tahu mengapa ia diciptakan, apa fungsi manusia di muka bumi, bagaimana menghubungkan diri dengan alam dan bagaimana sewajarnya manusia harus hidup dalam keadaan baik dan saling membangun peradaban.

Al-Quran juga terkandung faktor nilai benar dan salah, faktor boleh dan tidak boleh supaya ia menjadi pedoman mengatur hidup dalam batas syarak yang sudah ditentukan.

Al-Quran juga terkandung khabar gembira mengenai rahmat dan nikmat Allah, peringatan mengenai balasan terhadap yang ingkar supaya manusia sentiasa peka dan prihatin terhadap jalan kehidupan yang dipilih.

Al-Quran juga terkandung prinsip dan pedoman mengenai sains, muamalah, hubungan kemanusiaan dan kemasyarakatan, pembinaan sistem, pengurusan hidup dan sebagainya.

Semuanya itu adalah sesuatu yang Allah tentukan dan kepatuhan serta ketaatan kepadanya boleh membawa ketertiban dalam hidup, keamanan dalam hubungan masyarakat manusia, kesopanan dalam melaksanakan taklif (tanggungjawab) kehidupan.

Tanpa Al-Quran, bagaimana manusia harus hidup dengan keterbatasan akal dan ilmu, keterbatasan pancaindera lebih-lebih lagi untuk memahami hakikat kewujudan faktor ghaibiyat (alam ghaib) yang di luar kemampuan manusia merenung dan memikirkannya.

Allah memberikan kita pedoman dan isyarat supaya ia dapat membantu manusia mengetahui diri dan Pencipta-Nya, mengetahui mengenai diri dan alam sekitar dan mengetahui hidup dan makna kehidupan.

Ia juga untuk mengetahui akhirnya hidup ini, kematian, timbangan amal dan juga hari pembalasan.

Mengetahui hal sebegini bukan saja menginsafkan manusia mengenai perlunya sifat tunduk, patuh dan taat tetapi sifat terbaik ini bakal menjadikan diri dan persekitaran berada dalam keadaan fitrah.

Inilah puncak yang harus dibina dan dituju oleh manusia bagi mewujudkan kehidupan yang hasanah atau baik di dunia sebagai jambatan mewujudkan kebaikan di akhirat nanti.

Jalan berfikir sebeginilah yang sentiasa meletakkan manusia dalam kawalan, pedoman dan panduan kehidupan yang terarah.

Oleh itu, jiwa kehambaan yang membawa kepada sifat taat dan patuh menjadi faktor utama menggerakkan perubahan dan kemajuan.

Perubahan dalam apa bentuk pun jika berasaskan sifat taat dan patuh akan membawa kepada kejayaan dan kecemerlangan.

Patuh di sini tidak bermakna patuh membuta-tuli tanpa asas ilmu atau asas kebenaran. Taat di sini bukan bermaksud taat melulu, tetapi ketaatan yang selari dengan fitrah insan.

Ia juga bertepatan dengan dengan sunatullah atau ketaatan bermutu yang sentiasa menyatakan dan memperjuangkan kebenaran.

Jika ketaatan itu dihubungkan kepada manusia, maka tentunya manusia yang kita taati itu adalah yang taat kepada Allah dan taat juga kepada Rasul.

Sifat malu hindari manusia lakukan kesalahan

RASULULLAH bersabda yang bermaksud: “Malu itu adalah sebahagian daripada iman”.” (Hadis riwayat Muslim dan At-Tirmizi). Berdasarkan hadis ini, orang yang mengaku mereka beriman perlulah mempunyai sifat malu.


Ini kerana, apabila berkurangan atau tidak ada rasa malu, maka itu adalah tanda kelemahan atau ketiadaan imannya.

Sesungguhnya, iman dan rasa malu mempunyai kaitan atau hubungan yang sangat erat. Perhatikan sabda Nabi yang bermaksud: “Malu dan iman itu adalah satu rumpun. Apabila terangkat (hilang atau tiada) salah satu (daripada kedua-duanya), maka hilang pula yang lain.” (Hadis riwayat Al-Hakim).

Rasulullah dengan jelas mahu mengajar atau mendidik umatnya agar bertabiat atau bersifat pemalu. Ini kerana Baginda adalah seorang yang sangat atau paling tinggi sifat pemalunya, malah dikatakan sifat malu baginda lebih tinggi daripada pemalunya gadis pingitan.

Mengapa Nabi mengaitkan iman dengan rasa malu? Jawabnya orang yang memiliki iman atau kuat rasa keimanannya, tentu akan mempunyai perasaan malu. Apabila perasaan malu tidak ada, bermakna iman sudah tidak ada. Demikianlah sebaliknya.

Sebagai manusia kita tidak sunyi melakukan dosa atau kesalahan.

Apabila ada di kalangan manusia yang berbuat sesuatu dosa dan kesalahan, baik kepada Allah atau manusia, lalu rasa penyesalan mendalam terbit dari hatinya lantaran didorong oleh perasaan malu kepada diri sendiri, orang lain, apatah lagi kepada Allah.

Maka inilah menjadi satu tanda atau antara ciri orang yang bertakwa. Bertolak daripada perasaan malulah, ia menyedari segala keterlanjuran dan kesilapan hingga mendorongnya bertaubat memohon ampun daripada Allah.

Bukankah banyak ayat al-Quran yang menyatakan bahawa Allah itu maha pengampun dan penerima taubat. Hanya terkadang ada manusia yang terus menerus dalam keangkuhan, padahal suatu saat dia akan kembali kepada Allah.

Dalam al-Quran, Allah turut memperjelaskan kepada kita bahawa orang yang bertakwa itu bukanlah mereka yang tidak pernah mengerjakan kesalahan atau berbuat silap tetapi orang yang mempunyai sifat takwa ialah yang cepat-cepat bertaubat dengan sesungguh hati di hadapan Allah sesudah menyedari atau terlanjur melakukan kesilapan.

Pernyataan taubat ini tentunya diiringi tekad yang sungguh-sungguh untuk tidak mengulangi lagi apa juga kesalahan yang boleh membawa kepada dosa dan kemurkaan Allah.

Dalam pada itu, ada pula manusia yang terang-terang berbuat dosa dan kesalahan, melakukan kerosakan, mengeruhkan suasana keamanan hingga merugikan orang lain.

Namun, mereka berasa tidak pernah bersalah, sebaliknya sentiasa berusaha mempertahankan diri dengan segala macam cara, termasuk kuasa dan pangkat, agar kedudukan mereka tidak tergugat dan sentiasa dipandang baik dan bersih dalam masyarakat.

Lebih malang lagi jika ada segelintir manusia yang sama sekali tidak mempunyai perasaan malu hingga walaupun dia memang sedar sudah banyak kesalahan atau pengkhianatan dilakukannya, namun dia tetap tersenyum bangga terhadapdirinya, tetap menunjukkan keegoan dan kesombongannya.

Jika sikap ini dimiliki oleh seseorang yang mempunyai amanah untuk memimpin negara, masyarakat, jabatan atau apa juga kedudukan yang sepatutnya menjadi model atau contoh kepada masyarakat, maka tentulah masyarakat atau orang yang dipimpin akan rosak dan hancur.

Jelas, hadis ini cukup memberi erti besar kepada kita sebagai tunjuk ajar Rasulullah supaya kita selamat di dunia dan akhirat.

Perlulah kita yakin bahawa keimanan akan memberi dorongan kepada seseorang untuk menjauhi sebarang kerja maksiat.

Insaflah bahawa Allah sentiasa mengawal atau mengawasi setiap perlakuan hamba-Nya. Sebarang dosa yang walau sekecil mana pun pasti dicatat oleh malaikat yang ditugaskan khusus oleh Allah.

Sebaliknya, apabila perasaan malu hilang hingga tidak segan-segan berbuat kejahatan dan dosa, bermakna iman seseorang itu sudah runtuh dan hilang sama sekali.

Apabila demikian halnya, ia akan sentiasa berani melakukan dosa, tidak cuma perbuatan dosa kecil tetapi juga tiada halangan baginya untuk sentiasa melakukan dosa besar.

Rahmat Allah sentiasa iringi hamba berzikir

ZIKRULLAH adalah antara amalan yang dapat menghidupkan hati, memberikan ketenangan rohani dan mengundang rahmat Allah.


Banyak ayat al-Quran dan hadis nabi yang menceritakan kepentingan zikrullah dan kesannya kepada ketenteraman jiwa.

Zikrullah bermaksud mengingati Allah termasuk berzikir melalui hati, lidah dan seluruh anggota badan. Jelasnya, zikrullah atau mengingati Allah ini adalah makna umum dan tidak tertumpu hanya kepada ‘zikir lidah’ sebagaimana yang difahami masyarakat umum.

Apa saja perbuatan atau gerak laku yang membolehkan kita mengingati-Nya serta mendapat keredaan-Nya, maka itu sudah termasuk dalam erti kata zikrullah dalam pengertian yang sebenar-benarnya.

Firman Allah yang bermaksud: “Orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan zikrullah (mengingati Allah). Ketahuilah dengan zikrullah itu hati akan tenang tenteram.” (Surah al-Ra’d, ayat 28).

Allah memerintahkan orang Islam agar mengingati-Nya dalam semua keadaan serta jangan menyibukkan hati mereka dengan mengalihkan kepada yang lain selain daripada Allah supaya tidak terputus hubungan mereka dengan Maha Pencipta.

Berkata Ibnu Taimiyyah: “Zikir bagi hati adalah umpama air bagi ikan, bagaimana keadaan ikan apabila berpisah dari air?”

Firman-Nya yang bermaksud: “Dan sebutlah (dengan lidah dan hati) akan nama Tuhanmu (terus menerus siang dan malam), serta tumpukanlah (amal ibadatmu) kepada-Nya dengan sebulat-bulat tumpuan” (Surah al-Muzzammil, ayat 8).

Abu Hayyan dalam kitab tafsirnya Bahr al-Muhit mentafsirkan ayat di atas sebagai ‘berkekalanlah dalam mengingati Allah yang merangkumi segala bentuk zikir dari tasbih, tahlil, tahmid dan lain-lain.’

Dalam ayat ini juga, Allah memerintahkan Rasul-Nya agar sentiasa berzikir kepada-Nya dengan lidah dan hati pada pada waktu malam dan siang, sewaktu bersendirian atau bersama orang ramai.

Allah juga mengingatkan Rasul-Nya supaya janganlah terhalang daripada sentiasa mengingati-Nya meskipun sibuk berurusan (berdakwah) di tengah-tengah orang ramai.

Ketika berhadapan dengan musuh, Allah turut menggesa kaum muslimin agar tetap berzikir. Firman-Nya yang bermaksud: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu dengan sesuatu pasukan (musuh) maka hendaklah kamu tetap teguh menghadapinya dan sebutlah serta ingatilah Allah (dengan doa) banyak, supaya kamu berjaya (mencapai kemenangan” (Surah al-Anfal, ayat 45).

Rasulullah juga menjelaskan malaikat akan memayungi orang yang mengingati Allah, melimpahkan mereka dengan rahmat serta beroleh rasa ketenangan.

Sabda baginda yang bermaksud: “Tidaklah berhimpun suatu kaum kerana mengingati Allah, melainkan mereka akan dinaungi oleh malaikat, dilimpahkan dengan rahmat serta diturunkan ke atas mereka ketenangan dan Allah menyebut mereka (meningkatkan darjat) di kalangan orang yang berada di sisi-Nya.” (Riwayat Muslim).

Jiwa yang sering lalai daripada zikrullah akan mudah buta mata hatinya. Berapa ramai manusia yang Allah sayang dan reda meskipun buta matanya?

Namun, berapa ramai pula manusia yang Allah murka dan hina kerana buta mata hatinya?

Firman-Nya yang bermaksud: “…kerana keadaan yang sebenarnya bukanlah mata zahir mereka yang buta, tetapi yang buta itu ialah mata hati yang ada di dalam dada” (Surah al-Hajj, ayat 46).

Rasulullah berpesan kepada umatnya agar sentiasa membasahi lidahnya dengan zikrullah. Imam al-Tirmidzi meriwayatkan daripada Abdullah bin Bisyr bahawa seorang lelaki telah berkata: “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya syariat Islam banyak ke atas aku sedangkan aku seorang yang telah lanjut usia. Oleh itu beritahulah kepada aku sesuatu yang dapat aku jadikannya pegangan.”

Jawab Rasulullah, “Jadikanlah lidah engkau sentiasa basah dengan zikrullah.”

Banyak kelebihan berzikir yang disabdakan oleh Rasulullah dalam hadis baginda. Antaranya baginda menyifatkan majlis zikir itu umpama taman syurga. Sabdanya yang bermaksud: “Apabila kamu melintasi taman syurga hendaklah kamu berhenti singgah.”

Maka sahabat bertanya : “Apa itu taman syurga?” Jawab baginda : “Majlis zikir.” (Riwayat al-Tirmidzi).

Dalam kitab Tanbih al-Ghafilin ada dinyatakan lima kelebihan dan faedah berzikir iaitu mendapat keredaan Allah, akan menambahkan kesungguhan dalam melaksanakan ketaatan, terkawal dari hasutan syaitan, melembutkan hati dan mencegah dari melakukan maksiat.

Sesungguhnya orang yang berzikir akan mudah terdorong melakukan kebajikan dan dicegah daripada melakukan kemungkaran.

Malah mereka akan dapat merasai bahawa Allah seolah-olah sentiasa bersama mereka dalam setiap amalan yang dikerjakan. Rasulullah adalah penzikir yang paling layak dan utama untuk kita contohi dan ikuti.

Semoga zikrullah akan menjadi santapan rohani dan sentiasa menjadi nadi dalam kehidupan sama ada zikrullah dalam bentuk ingatan di hati, pengucapan atau amalan

Tafsir Al-Quran

Oleh Tuan Guru Abdul Hadi Awang

Tafsir Surah An-Nisa’ ayat 78

Ajal di tangan Allah

Seterusnya Allah berfirman yang bermaksud:

“Di mana jua kamu berada, maut akan mendapatkan kamu (bila sudah sampai ajal),

sekalipun kamu berada dalam benteng-benteng yang tinggi lagi kukuh.” (Surah an-Nisa’:

78)

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahawa seseorang manusia itu tidak boleh memisahkan dirinya

dari ajal kematian. Seseorang itu pasti akan menempuhi maut sama ada dia berada di medan

perang atau di atas hamparan.

Orang yang benar-benar mulia mahu mati di medan perang sebagaimana sikap yang ditunjukkan

oleh Khalid Ibnul Walid r.a. ketika ia didatangi tanda-tanda mati (naza’), beliau berkata:

“Sesungguhnya aku menyaksikan (menyertai) peperangan yang banyak (sejak zaman Rasulullah

s.a.w. sehingga zaman Umar Ibnul Khattab menjadi khalifah). Tubuhku dipenuhi dengan

parut-parut luka akibat tusukan senjata musuh. Tetapi kini (dukacitanya) aku mati di atas

hamparanku sebagai seorang pengecut.”

Khalid mengharapkan mati syahid di medan peperangan tetapi Allah menentukan dia mati di atas

hamparan permaidani di rumahnya bukan di medan perang, menandakan bahawa ajal ditetapkan

oleh Allah, tiada siapapun boleh mengubahnya walaupun seseorang itu mengharungi banyak medan

peperang.

Sesiapapun bila ditentukan matinya di sesuatu tempat dia akan pergi ke tempat itu ketika sampai

ajalnya. Ini adalah penentuan dari Allah SWT.

Maut akan memanggil kamu walaupun kamu berada dalam ‘Buruj Musyayyadah’. Ulama berselisih

pendapat dalam mentafsirkan ayat ini. Ada yang mengatakan ia bermaksud kota yang teguh dan

tinggi. Setengah ulama berpendapat yang dimaksudkan dengan ayat ini ialah singgahsana dan

istana-istana. Seorang raja akan mati walaupun duduk di atas singgahsana yang dikawal rapi dalam

istana.

Ulama’ lain berpendapat ia bermaksud berada dalam istana yang dipagari kota yang teguh.

Firman Allah yang bermaksud:

“Dan kalau mereka memperolehi kebaikan (kemewahan hidup), mereka berkata: “Ini

adalah dari sisi Allah,” dan kalau mereka ditimpa bencana, mereka berkata: “Ini adalah

dari (sesuatu nahas) yang ada padamu.” (Surah an-Nisa’: 78)

Ini adalah ucapan orang-orang munafiq yang hidup dalam saf orang Islam. Ulama berkata yang

dimaksudkan dengan kebaikan di sini ialah suburnya tanaman, anak dan keluarga semuanya berada

dalam keadaan sihat.

Sebaliknya apabila mereka ditimpa bencana seperti tanaman tidak subur, anak tidak sihat atau

meninggal dunia mereka pula berkata ini adalah sial dari Muhamad s.a.w. Inilah ucapan pengikut

Fir’aun ketika menentang Nabi Musa a.s. sebagaimana diceritakan Allah dalam firman-Nya yang

bermaksud:

“Apabila mereka memperolehi kebaikan, mereka berkata: “Kebaikan ini untuk kami

semua,” apabila ditimpa kejahatan mereka pula berkata: “Ini adalah sial Musa dan

pengikut-pengikutnya.” (Surah al-A’araf: 131).Berkata setengah ulama’ bahawa yang

dimaksudkan dengan kebaikan itu ialah kemenangan yang dicapai dalam Peperangan Badar

manakala yang dimaksudkan dengan keburukan itu ialah ujian yang diterima dalam Peperangan

Uhud.

Dalam peperangan Badar, orang Islam mencapai kemenangan walaupun berjumlah 313 orang

sahaja. Mereka diberi kemenangan oleh Allah dan dapat menawan musuh. Ketika itu golongan

munafiq berkata: “Ini adalah dari sisi Allah. Kami tidak boleh pergi ke medan kerana keuzuran.”

Padahal mereka tidak berhasrat untuk berjuang bersama-sama dengan orang-orang yang beriman

dalam peperangan tersebut.

AJARAN SESAT DI MALAYSIA 1996.

1.TAKRIF AJARAN SESAT

2.SEJARAH RINGKAS

3.PERISTIWA-PERISTIWA AJARAN SESAT

4.SUMBER AJARAN SESAT

5.MANGSA AJARAN SESAT

6.SENARAI AJARAN SESAT DI MALAYSIA

1. Takrif Ajaran Sesat.

Ajaran sesat ialah sebarang ajaran atau amalan yang dibawa oleh orang-orang Islam atau orang-orang bukan Islam yang mendakwa bahawa ajaran dan amalan tersebut adalah ajaran Islam atau berdasarkan kepada ajaran Islam sedangkan hakikatnya ajaran dan amalan yang dibawa itu bertentangan dengan Islam berdasarkan Al-Quran dan al-Sunnah serta bertentangan dengan ajaran Ahli Sunnah Wal Jamaah.

2. Sejarah Ringkas.

Ajaran sesat yang paling lama usianya di Malaysia ialah ajaran Taslim yang dibawa oleh Mohamad bin Shafie @ Mohammad Matahari pada akhir abad ke 19 di Kg. Seronok, Bayan Lepas, Pulau Pinang.Ia berkembang ke negeri lain seperti Kedah, Perak, Negeri Sembilan dan Johor. Di Kelantan wujud ajaran Subud yang disebarkan pada tahun 1950an dan ajaran Martabat Tujuh pada tahun 1960-an.

3. Peristiwa-peristiwa Ajaran Sesat.

a. Pada 19 Ogos 1979, seramai 4 orang pengikut Ajaran Ilmu Kashaf pimpinan Hj. Kamarudin @ Abdullah Sani Kajang, Selangor mati terbunuh dalam satu peristiwa di Kerling, Selangor.

b. Pada 19 Oktober 1974 seorang dari kumpulan ajaran sesat Empat Sahabat pimpinan Syed Mutalib di Kg. Kedap, Rantau Panjang, Kelantan mati ditembak dalam pertempuran dengan pasukan keselamatan.

c. Pada 16 Oktober 1980, 8 orang dari kumpulan ajaran sesat pimpinan Ahmad Nasir Ismail (Kemboja) yang mengaku Imam Mahadi telah terbunuh apabila mereka menyerang Balai Polis Batu Pahat, Johor.

d. Pada 7 Julai 1979, Tajul Ariffin yang mengaku dirinya Imam Mahdi telah mencederakan Tuan Haji Damanhuri Hj. Abdul Wahab, imam masjid Rapat Setia, Ipoh, Perak.

4. Sumber Ajaran Sesat

1.BATINIAH

2.TASAWUF TEOSOFI

3.AMALAN KHURAFAT

1. BATINIAH

Ajaran ini dibawa melalui buku Kashf Al-Asrar terjemahan dan susunan Syeikh Mohamad Salleh bin Abdullah Al-Mangkabowi yang ditulis pada tahun (1344H / 1922M).

Ia kemudiannya disalurkan melalui buku Hidayah Al-Anwar oleh Syed Ghazali Jamalullail, Pulau Pinang pada tahun (1355H / 1933M) yang mengembangkan ajaran Taslim dari bapanya Hj. Mohamad Matahari. Kemudian Hj. Ahmad Laksamana bin Omar (Kelantan) menulis buku Hakikat Insan (1985) dan Ilmu Tajalli yang berkembang ke seluruh Malaysia.

Ajaran Batiniah terpengaruh dengan teori angka simbolik seperti angka 7 dan 12 yang diambil dari 7 huruf Bismillah dan 12 huruf Lailaha Illallah yang semuanya berjumlah 19. Teori inilah yang mempengaruhi falsafah Ismailiyah Batiniah.

Ajaran Batiniah mempengaruhi aliran Tasawuf Teosofi dalam 3 unsur :

Fahaman Hulul iaitu menempatnya Tuhan dalam diri hamba seperti yang dibawa oleh Al-Hallaj. Fahaman Takwil Batin iaitu tiap-tiap yang zahir ada batin dan tiap-tiap ayat al-Quran ada takwil iaitu Takwil Batin.

Fahaman guru batin iaitu memperolehi ilmu melalui guru batin yang telah meninggal dunia.

Antara ajaran sesat yang mengandungi unsur Batiniah ialah ajaran Taslim. Ciri-ciri kesesatannya ialah:

a. Memisahkan pengikutnya daripada masyarakat.

b. Berkahwin sesama sendiri, mempunyai masjid, kubur dan tempat belajar sendiri.

2. TASAWUF TEOSOFI @ WUJUDIAH @ MARTABAT TUJUH.

Tasawuf Teosofi dipengaruhi oleh fahaman Greek, Parsi, Yahudi, Kristian dan Hindu-Budha.

Tasawuf ini mengandungi berbagai konsep yang bermula dengan wahdatul wujud dan kemudiannya diserap kepada ajaran martabat tujuh dari karangan Syeikh Mohamad b Fadhlullah Al-Burhanpuri, (w 1029 H/1619M ) melalui bukunya al-Tohfah al-Mursalah Ila Roh Al-Nabi, yang diterjemah ke bahasa Jawa tahun (1680M).

Tasawuf ini kemudian diserap oleh beberapa tokoh Nusantara seperti :

a. Syeikh Syamsuddin al-Sumatrani (w 1690M) yang mengarang buku Jauhar al-Haqaeq.

b. Abdul Rauf Singkel yang mengarang buku Daqaiq al-Huruf (1661M).

c. Syeikh Hamzah Fansuri (w 1606M) dalam buku-bukunya di bidang tasawuf ketuhanan terutama buku Asrar al-Ariffin, Syarb al-’Asyikin dan al-Muntahi.

d. Berkembang pula melalui kitab al-Durr al-Nafis oleh Syeikh Mohamad Nafis al-Banjari (w 1778M) yang ditulis tahun (1200H).

Pada asasnya Tasawuf ini telah banyak mempengaruhi guru-guru ajaran sesat, ditambah pula oleh buku Kasyf Al-Asrar oleh Syeikh Mohamad Salleh b. Abdullah al-Mangkabowi yang ditulis tahun 1922M.

Tasawuf wahdatul wujud pula adalah bersumber daripada Hindu dan Neoplatonisma.

Sementara ajaran Martabat Tujuh adalah bersumberkan falsafah Neo Platonisma yang dikenali dengan teori emanasi atau as-Sudur iaitu Tuhan menzahirkan dirinya secara berperingkat-peringkat dalam bentuk makhluk yang nyata ini dalam 7 peringkat :

Pertama: Ahadah @ Ahadiyah iaitu martabat zat qadim, azali, abadi, martabat La Taayun ertinya martabat tuhan belum nyata.

Kedua: Wahdah, Martabat Allah Wahdah Qadim, azali, abadi, roh Qudsi yakni nyawa Muhammad atau Taayun Awal.

Ketiga: Wahidiyah, Martabat Taayun Thani, nyata yang kedua iaitu Roh Adam dan Aayan Thabitah namanya iaitu kenyataannya telah ada bagi Allah. Keempat: Alam Arwah iaitu alam segala nyawa dan alam segala roh Aayan Kharijah ertinya kenyataan yang sudah terbit daripada ilmuNya. Kelima: Alam Mithal ialah kalbu sanubari bererti tempat hati. Inilah alam segala rupa namanya iaitu daripada kehendak Allah Taala.

Keenam: Alam Ajsam ialah alam syahadah, alam yang boleh dipandang, daripada anasir yang empat; air, tanah, udara dan api.

Ketujuh: Alam Insan yang disebut: Insan itu rahsiaKu dan Aku rahsianya.

Antara contoh ajaran tasawuf Teosofi ialah Ajaran Ilmu Tajalli Ahmad Laksamana.

Ciri Utama Ajaran Tasawuf Teosofi.

1.Guru mursyid boleh menghubungkan murid dengan Allah Taala.

2.Taasub membuta tuli kepada guru. 3.Guru mursyid telah mencapai Insan Kamil iaitu mereka telah melalui taraqqi roh tujuh peringkat iaitu nafsu Ammarah, Lawwamah, Mulhamah, Mutmainnah, Radiah, Mardiah dan Kamaliah.

3. AMALAN KHURAFAT.

Amalan Khurafat berpunca dari tiga unsur iaitu Sinkritisma, Hindu-Budhha, Animisma dan Dinamisma. Ia menjelma dalam amalan perbomohan secara batin dan silat kesaktian.

5. Mangsa Ajaran Sesat.

Golongan yang menjadi mangsa ajaran sesat ialah :

a) Mereka yang jahil dan kosong jiwa kerana tidak mempunyai pengetahuan agama yang cukup, dan mendapat dorongan kawan-kawan supaya berguru atau belajar melalui orang tertentu yang mengajar secara rahsia dan sulit.

b) Mereka yang ghairah mencari ketenangan jiwa dan kesempurnaan beragama terutama melalui unsur kerohanian dengan cara jalan dekat tanpa mengikut sunnah.

c) Golongan yang salah atau menyeleweng dalam hal yang berhubung dengan usul; hal ini terjadi kerana mereka kurang mantap dalam usul syari’yyah dan lemah dalam hal-hal al-Sadik dan ikhlas. Mereka mendakwa diri hampir dengan Allah dan berada di maqam tertinggi.

d) Mudah dieksploitasi kerana kejahilan dan kedahagaan kepada kesempurnaan kerohanian, lalu digunakan untuk mendapat kekayaan, pangkat, kuasa dan seks bebas.

e) Berpegang kepada konsep kebebasan intelektualisma.

f) Mengagungkan rasionalisma dan pendekatan apa yang dikatakan secara saintifik dan empirikal dalam soal agama.

g) Membawa fahaman modenisasi dalam Islam yang bertentangan dengan akidah dan fahaman yang diiktiraf dan diterima oleh masyarakat negara ini.

Disediakan oleh

Jabatan Kemajuan Islam Malaysia

Jabatan Perdana Menteri

Akhlak baik terbahagi kepada dua

SETIAP insan ingin kelihatan baik serta dipuji oleh insan lain dengan gelaran yang baik dan tidak ada manusia sanggup membiarkan dirinya diberikan gelaran yang buruk sekalipun perangainya sememangnya buruk pada pandangan insan lain.


Akhlak baik terdiri daripada dua bahagian, iaitu baik pada zahir, kebaikan atau kecantikan yang ada pada tubuh badan seseorang yang dapat dilihat dengan mata kerana Islam mementingkan kekemasan dan kecantikan.

Kebersihan itu termasuklah kebaikan daripada sudut pemakaian, penjagaan tubuh badan dari cemar seperti memotong rambut, kuku, misai, janggut, iaitu kecantikan maknawi yang tidak dapat dilihat dengan mata kasar.

Inilah yang dimaksudkan dengan perangai yang baik, iaitu individu yang dapat menghiaskan dirinya dengan sifat terpuji dan menghindarkan daripada sifat tercela.

Individu yang memiliki akhlak yang baik ialah mereka yang dapat melakukan 10 ibadat di dalam dirinya sendiri, iaitu takwa atau takutkan Allah, zuhud, sabar, syukur, ikhlas, tawakal, kasihkan Allah, reda serta mengingati mati.

Manakala individu yang hanya indah dari sudut tubuh badannya semata-mata tetapi tidak mengindahkan sifat negatif seperti banyak makan, banyak berkata-kata, pemarah, hasad dengki, kedekut dan kasihkan harta, kasih dunia, takbur, ujub atau riak, mereka tidak dikira individu yang memiliki akhlak baik.

Sabda Rasulullah yang bermaksud: “Baikkanlah oleh kamu akan perangai kamu” jelas menyeru umatnya agar berkelakuan baik sekalipun terpaksa menghadapi kesusahan pada permulaannya.

Sabda Rasulullah lagi: “Jadikan olehmu akan adatmu itu dengan berperangai dengan segala perangai yang baik dan kekalkan dengan melakukan ibadat zahir dan batin dan jauhi olehmu daripada maksiat yang zahir dan maksiat yang batin.”

Antara pesanan Baginda lagi: “Perbuatlah ibadat yang zahir dan batin itu dalam keadaan reda, iaitu dengan suka hati. Jika sekiranya kamu tidak mampu, lakukanlah dengan sabar terhadap perkara yang kamu tidak sukai (sifat kebajikan/terpuji). Maka yang demikian itu adalah kebajikan yang tidak terbilang pahalanya”.

Firman Allah di dalam Surah az-Zumar, ayat 10, bermaksud: “Perbuatlah olehmu akan ibadat yang zahir dan ibadat yang batin, sesungguhnya Allah hanya menyempurnakan balasan bagi orang bersabar di dalam berbuat ibadat dan menjauhi maksiat dengan ganjaran yang tidak terhitung nilainya.”

Manfaat saham akhirat menerusi amalan dunia

Oleh Ahmad Redzuwan Mohd Yunus

SATU daripada sifat Allah ialah Maha Pemurah dan bukti pemurah Allah tidak terhitung, iaitu apabila hamba-Nya melakukan sesuatu amalan, ganjaran amalan itu akan dilipat gandakan.


Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Darda bermaksud: “Apabila seseorang hamba-Ku merencanakan untuk melakukan satu kejahatan, janganlah kamu tuliskan satu dosa ke atasnya. Tetapi apabila dilaksanakan, barulah tuliskan satu kejahatan. Dan apabila ia merencanakan satu kebajikan, tetapi tidak dilaksanakan, tulislah satu kebajikan. Tetapi jika dilaksanakan, maka tulislah 10 kebajikan.”

Hadis itu menjelaskan Allah memerintahkan kepada malaikat yang bertanggungjawab mencatat semua amal perbuatan manusia supaya tidak menuliskan sebagai satu kejahatan sekiranya seseorang itu baru sampai ke peringkat untuk merencanakan tetapi tidak melakukannya lagi.

Ini kerana belum melakukan lagi bererti seseorang itu masih dapat menahan dirinya daripada perbuatan jahat dan ia dikira sebagai satu kebajikan sedangkan, hakikatnya ia mempunyai kemampuan serta keupayaan untuk melaksanakan niat jahat berkenaan.

Namun begitu, sekiranya ia sampai ke peringkat berazam untuk melakukannya, sebahagian ulama berpendapat ia berdosa kerana orang yang berazam untuk melakukan maksiat dengan hatinya bersedia untuk melaksanakannya, meskipun belum melaksanakannya.

Jika seseorang melakukan kejahatan melalui perancangannya, sudah semestinya malaikat akan menulis sebagai satu dosa.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah bermaksud: “Malaikat berkata: “Wahai Tuhanku. Ada seorang hamba-Mu yang hendak melakukan maksiat padahal Allah Maha Melihat”. Allah berfirman yang bermaksud: “Amatilah dirinya, jika ia melakukannya, tuliskan baginya satu kejahatan. Jika tidak melakukannya serta meninggalkannya, tuliskan baginya satu kebajikan. Dia hanya meninggalkan (perbuatannya) kerana Aku.”

Sekiranya seseorang itu melakukan kejahatan, tetapi tidak bertaubat, seterusnya merancang untuk melakukan kejahatan yang lain dan melakukannya, dia akan ditulis oleh malaikat sebagai kejahatan yang kedua dan begitulah seterusnya.

Tetapi sekiranya seseorang itu melakukan kejahatan, kemudian dia menyesal dengan perbuatan tersebut, berhenti dari melakukannya dan segera bertaubat, Allah akan menghapuskan dosa kejahatannya. Malah, Allah akan menganggap seolah-olah kejahatan itu tidak pernah terjadi.

Dari satu hal yang lain, hadis berkenaan juga menjelaskan apabila seseorang hamba merencanakan perbuatan baik tetapi belum melakukannya lagi kerana sesuatu sebab, Allah memerintahkan malaikat menulis kepadanya satu kebaikan.

Hal ini diharapkan agar manusia suka untuk merencana dan seterusnya melakukan perkara yang baik dan menjauhkan daripada kejahatan.

Tetapi, apabila seseorang mendapat hidayah daripada Allah, lantas melakukan kebaikan tanpa perencanaan, Allah memerintahkan kepada malaikat supaya menulis 10 kebajikan kepada orang itu.

Sebenarnya, Allah akan memberikan ganjaran kepada seseorang bergantung kepada darjat keikhlasannya. Oleh itu pahala yang diterima mungkin 10, 100, 700 atau lebih.

Ini dijelaskan melalui firman-Nya dalam Surah al-Baqarah, ayat 261 yang bermaksud: “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya pada jalan Allah, seumpama sebutir biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai. Pada tiap tangkai itu berbuah 100 biji dan Allah melipat gandakan (pahala) bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya dan Allah mempunyai kurnia yang luas, lagi Maha Mengetahui.”

Ayat ini menjelaskan sesiapa yang mengeluarkan seringgit, ia akan memperoleh tujuh ringgit dan pada setiap tujuh ringgit itu dilipat gandakan menjadi seratus ringgit, maka jumlahnya ialah tujuh ratus ringgit.

Inilah sejenis saham yang diperkenalkan oleh Allah yang patut direbut oleh orang beriman untuk keuntungan yang banyak di akhirat kelak.

Jika manusia boleh berlumba menyertai saham di pasaran dunia hari ini kerana mendapatkan keuntungan berlipat ganda, sewajarnya bagi mereka yang beriman turut berlumba melakukan kebaikan kerana ganjarannya juga berlipat kali ganda.

Oleh itu, sebagai orang yang beriman kepadanya, seharusnyalah seseorang itu berlumba-lumba untuk mendapatkan ganjaran yang berlipat kali ganda dengan melakukan amal salih dan meninggalkan segala larangannya.

Sebenarnya, kedudukan sebagai orang Islam bukan saja berusaha melakukan kebaikan dan menjauhkan kejahatan tetapi tugas mereka adalah juga sebagai penyeru ke arah kebaikan sebagaimana firman Allah bermaksud: “Kamu adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan kepada manusia untuk menyeru mereka kepada makruf dan mencegah daripada kejahatan.” (Surah Ali-Imran, ayat 110)

Sesungguhnya kehidupan di dunia ini hanyalah sementara dan kita bakal dijemput oleh Allah untuk menghadap-Nya seperti mana firman-Nya yang bermaksud: “Di mana saja kalian berada, kematian akan mengejar kalian, meskipun kamu berada dalam benteng yang tinggi dan kukuh.” (Surah al-Nisa, ayat 78)

Eloklah kita menyediakan bekalan dan sebaik-baik bekalan ialah mengerjakan amal salih di atas muka bumi ini kerana sesungguhnya berbahagialah orang yang melakukan kebaikan dan celakalah orang yang berbuat kejahatan.

Hadis: Insan tidak beriman umpama haiwan

RASULULLAH bersabda yang bermaksud: “Orang yang bersifat belas kasihan itu akan dikasihi Allah Yang Rahman, kasihanilah mereka yang di bumi, nescaya kamu akan dikasihi Allah di langit.”


Hadis ini mengumumkan prinsip Islam yang menyeru umatnya berbuat baik sesama manusia dan mengutuk setiap perbuatan kejam, kezaliman serta ganas dalam bentuk apa pun.

Allah menurunkan agama-Nya untuk mengatur hubungan dua hala yang harmoni, iaitu hubungan hamba dengan Allah dan hubungan sesama manusia.

Hubungan harmoni dengan Allah dicapai melalui aqidah tauhid yang murni, ibadat yang ikhlas dan kepatuhan tidak berbelah bagi kepada undang-undang serta syariat-Nya.

Sementara hubungan harmoni sesama manusia dicapai melalui perasaan rahmat, timbang rasa, tolong menolong, setia kawan, persaudaraan, sikap adil dan akhlak yang baik.

Hubungan sedemikian perlu dibina setiap orang, kerana kebahagiaan hidup manusia di dunia dan akhirat bergantung kepada sejauh mana harmoninya dua hubungan yang baik.

Dalam aspek balasan pada akhirat, seseorang itu akan menerima balasan yang seteruk-teruknya apabila satu atau kedua-dua hubungan itu diputuskan olehnya.

Sedangkan dalam aspek balasan dunia, manusia yang memutuskan hubungan dengan Allah bererti ia menyeksa diri sendiri dan membunuh rohnya kerana manusia yang tidak beriman ialah “manusia haiwaniah” yang hidup sama seperti binatang.

Manusia yang memutuskan hubungan kasih-mesranya dengan manusia dan bertindak ganas atau kejam, lambat-laun akan ditumbang atau mendapat belasan setimpal di tangan manusia sendiri.

Sifat ganas dan kejam biasanya lahir dari jiwa yang diserang perasaan dendam kesumat, takut kehilangan kedudukan, angkuh dan lupa daratan yang lahir dari jiwa diserangi penyakit sadisme, iaitu penyakit mencari keseronokan dengan menyeksa orang lain.

Manusia yang banyak terdedah kepada akhlak ganas ialah golongan yang berkuasa, ketua, ibu bapa, penghasut, pendengki dan manusia gagal yang mencari kedudukan dan pangkat tetapi ia tiada kelayakan atau pengaruh.

Islam bukan saja menganjurkan bersikap rahmat dan timbang rasa untuk sesama manusia, malah terhadap makhluk tidak berakal sehingga manusia dilarang melagakan binatang.

Kasihan belas kepada binatang ditegaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang bermaksud: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat baik di atas segala sesuatu, jika engkau membunuh, bunuhlah dengan baik dan jika engkau menyembelih binatang, sembelihlah dengan baik, setiap orang dari kamu hendaklah menajamkan pisaunya dan merehatkan binatang itu.”

Rabiulawal Ulya: Rasulullah doakan umat sepanjang zaman

HARI ulang tahun keputeraan Rasulullah memberi makna cukup mendalam kepada seluruh umat manusia kerana ia adalah hari dunia berubah daripada kegelapan kepada cahaya Ilahi.

Kelahiran Rasulullah umpama lampu yang menyuluh kegelapan. Bagindalah yang menunjukkan jalan benar, cara kehidupan yang sempurna dan bagaimana mahu mengecap kejayaan di akhirat.

Rasulullah mempunyai peribadi yang sangat mulia. Oleh itu, Baginda diberi gelaran al-Amin, biarpun pada kalangan musuh Islam sendiri.

Malah, cerdik pandai, sasterawan, ahli politik, pemimpin, ahli falsafah di Barat dan seluruh dunia hingga kini masih tidak dapat menafikan sumbangan Rasulullah dalam membentuk masyarakat sempurna dan syumul.

Rasulullah diutus bersama-sama dengan akhlaknya yang sempurna, sebagai asas moral kepada semua lapisan masyarakat.

Walaupun Baginda dilahirkan sebagai manusia biasa, martabatnya tiada siapa yang dapat menyamainya kerana Baginda adalah ‘rahmatan lil ‘alamiin’ (membawa rahmat ke seluruh alam), ‘ashraful Makhluqin’ (orang yang paling dihormati daripada sekalian makhluk) dan ‘khatamul anbiya’ (penutup bagi sekalian nabi dan seorang rasul), insan kamil dan sempurna, kekasih Allah dan kekasih umat manusia yang sentiasa diingati.

Keperibadian Rasulullah mengenai kebenaran dan keadilan tiada tolok bandingnya. Ini kerana Baginda mengajar manusia mencakupi bidang kemanusiaan, pengadilan, sains, teknologi, baik kepada manusia mahupun terhadap binatang; sistem kemasyarakatan yang sempurna; hingga kepada perkara ghaib, iaitu berita baik mengenai syurga dan amaran mengenai neraka yang tidak dapat dicapai oleh akal manusia.

Setiap perbuatan dan amalannya adalah sunnahnya yang mana semuanya ini sangat penting dimanifestasikan dalam tamadun insan demi kejayaan yang abadi di dunia dan akhirat.

Orang Islam mencintai Rasulullah bukan kerana dipaksa tetapi sebagai tanda bersyukur dan berterima kasih kerana Rasulullah menunjukkan jalan sempurna untuk seluruh umat manusia hingga Hari Kiamat dan seterusnya dapat mengecap kejayaan yang mutlak pada akhirat kelak.

Jika tidak, jadilah manusia itu dalam kumpulan orang yang rugi dan menzalimi diri mereka sendiri kerana Allah berjanji sesungguhnya mereka yang rugi dan menzalimi diri sendiri akan menerima pembalasan seburuk-buruknya, iaitu neraka.

Justeru, Allah mewajibkan semua makhluk supaya sentiasa berselawat dan memberi salam ke atas Nabi Muhammad menerusi firman-Nya yang bermaksud: “Hai orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan janganlah kamu merosakkan (pahala) amalanmu.” (Surah Muhammad, ayat 33).

Nabi Muhammad bukan sekadar petunjuk atau guru tetapi adalah kurnia Allah sebagai ‘Raufun wa Rahimun’ kepada alam semesta ini. Allah menyebut mengenainya dalam firman yang bermaksud: “Sesungguhnya sudah datang kepadamu seorang Rasul daripada kaum kamu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang mukmin.” (Surah At-Taubah, ayat 128).

Sebagai kekasih Allah, Nabi Muhammad bertemu Allah dalam peristiwa Israk dan Mikraj. Pertemuan ini amat menggembirakan Rasulullah kerana tiada yang lebih menyeronokkan bagi seorang makhluk selain daripada dapat bertemu dan melihat wajah Allah yang dicintainya.

Pertemuan Rasulullah dengan Allah secara pertemuan dalam keadaan yang amat dekat sekali, tetapi ini tidak membuat Rasulullah terlupa dengan nasib dan kasihnya kepada umatnya hingga ke akhir zaman.

Oleh kerana rasa cinta Rasulullah yang mendalam terhadap umatnya ini, Allah mengurniakan rahmat-Nya kepada Baginda dengan ucapan ‘assalamu alaika ayyuhannabiyyu’ (yang dibaca dalam tahiyyat). Namun Baginda juga meminta Rahmat Allah juga tidak ditinggalkan sedikit pun ke atas umatnya dengan ucapan ‘wa ‘ala ibadillahi ssolihin’.

Ufuk Minda: Didikan ‘jiwa hamba’ mampu bentuk generasi cemerlang

Oleh Prof Dr Sidek Baba

BAYANGKAN sebuah rumah tangga yang suami atau bapanya seorang taat dan patuh kepada Allah dalam erti kata sebenarnya, kepatuhan dan ketaatan itu akan memberi faedah hubungan dirinya dengan isteri dan anak-anak.


Seorang suami yang memiliki sifat taat dan patuh akan tahu tanggungjawab kepada keluarga kerana ia menginsafi dan tahu bahawa isteri dan anak-anak adalah sebahagian daripada amanah hidupnya.

Sekiranya ia melakukan sesuatu yang tidak baik, status hamba yang dimilikinya akan tercemar kerana memutuskan talian patuh dan taat kepada Allah.

Sebaliknya, jika talian patuh dan taat itu terhubung baik, kebaikan serta kepatuhan itu akan menjadi hikmah yang bakal dicontohi olah isteri dan anak-anaknya.

Fitrah suami yang taat dan patuh akan membentuk jiwa pengasih serta penyayang terhadap isteri dan anak-anak seperti kasih sayang Allah kepadanya.

Bayangkan seorang isteri hidup dalam belaian dan kasih suami, bukan saja menjadikan dia isteri yang berbahagia, juga ibu yang penyayang kepada anak-anak sehingga menjurus terbinanya sebuah keluarga bahagia.

Ibarat sebuah sekolah yang mempunyai pengetua, penolong pengetua atau para pendidik yang taat dan patuh kepada Allah, sifat kepatuhan ini akan memberi faedah besar kepada anak didiknya.

Anak-anak didik dilihat dengan kasih sayang, perlu diberikan ilmu, mengajar mereka kebenaran dan kebaikan, mendorong untuk cemerlang dalam ilmu, peribadi atau akhlak.

Golongan pendidik perlu insaf anak didiknya adalah generasi hari depan yang amat mahal harganya, jika dibentuk dengan jiwa kental, peribadi cemerlang, generasi ini akan mengendalikan negara serta umat ke arah kecemerlangan.

Dalam sebuah masyarakat yang memiliki pengikut patuh kepada pemimpin kerana pemimpin menurut perintah Allah, ia akan memberi manfaat bukan saja terhadap kepemimpinannya, juga masyarakat dan negara.

Pemimpin yang taat kepada Allah dan patuh kepada Rasul adalah pemimpin yang akan memimpin dengan baik, tidak mengambil kesempatan untuk melakukan apa saja tetapi melihat tugasnya sebagai amanah kepada Allah dan berhikmah untuk manusia.

Oleh itu, perubahan ingin dilakukan oleh manusia semestinya perubahan yang berasaskan jiwa kehambaan tinggi dengan sifat patuh dan taat terhadap Allah yang hikmah atau kebaikannya akan kembali kepada manusia itu sendiri.

Allah menjadikan alam ini penuh dengan rahmat dan nikmat yang pelbagai untuk manfaat manusia akan menguruskan pemberian itu dengan penuh amanah serta adil kerana tahu jika berlaku penyelewengan, akan menyebabkan konflik dalam diri, keluarga, organisasi juga sistem.

Oleh itu, sifat pengurusan yang ada perlu melihat sumber kekayaan dan kebendaan secara telus serta tulus agar proses pengagihannya berlaku secara adil saksama.

Lebih jauh lagi, Islam memberikan asas perubahan bertunjangkan sifat jadinya rahmat dan nikmat Allah sebagai sumber yang boleh membawa kemajuan seperti sumber hutan serta laut yang mengandungi khazanah berharga bagi pembangunan manusia.

Tetapi khazanah ini hanya akan memberi faedah kepada manusia sekiranya pengurusan terhadapnya dilakukan oleh manusia yang mempunyai jiwa kehambaan tinggi, sentiasa patuh kepada Allah dan menginsafi akan kembali kepada-Nya untuk dihisab nanti.

Kepatuhan dan ketaatan kepada keinsafan ini akan mendorong pengurusan pengagihan berlaku secara adil, bijaksana serta saksama.

Bagaimanapun jika sumber yang sama dikendali dan diuruskan atas pertimbangan bersifat berat sebelah atau kepentingan diri, ia akan menyebabkan ketidakadilan yang akhirnya menghalang pembangunan.

Justeru, amat penting jiwa kehambaan disuburkan atas dasar kepatuhan serta ketaatan kepada Allah SWT kerana hanya sifat itu akan membawa kepatuhan terhadap kerja dan amal.

Sekiranya sifat ini meresap subur pada diri insan, kesan ke arah pembangunan dan perubahan akan berada di landasan yang betul.

Inilah cabaran yang amat sukar untuk kita atasi kerana proses pendidikan dan pendewasaan anak-anak tidak banyak menekankan kepentingan jiwa hamba di kalangan penganutnya.

Hakikat inilah yang perlu diinsafi kerana sebagai hamba yang memiliki sifat taat dan patuh sebati dalam diri, ia akan mendorong manusia sentiasa pengambil pertimbangan Allah sebagai rujukan.

Jiwa kehambaan tidak boleh menyebabkan jiwa kita terbelenggu atau pun terjebak dengan ketaatan dan kepatuhan melulu sebaliknya, jiwa kehambaan membawa kita dalam kedudukan lebih bebas dengan prinsip serta batasan yang ditentukan Allah.

Inilah landasan hidup seorang Islam yang sentiasa berazam menjadikan dirinya sebagai sumber terbaik supaya apabila bertemu Tuhannya nanti, bukan pertimbangan kekayaan dunia menjadi ukuran tetapi pertimbangan amal menjadi penentuan.

Akhlak Juru Dakwah – Sikap Halus Dan Sabar

Dikutip dari buku: Al Amru bil Ma’ruf wan Nahyu anil Munkar

karya Ibnu Taimiyah

Amar ma’ruf nahi munkar harus dengan cara halus. Rasulullah saw bersabda:

“Allah bersifat sangat halus, menyukai sikap halus dalam

semua urusan; dan Dia memberi karena sikap halus itu, sesuatu yang tidak akan Dia berikan karena sikap kasar” [HR Muslim]

Juru dakwah (yg melakukan amar ma’ruf nahi mungkar) harus bersifat hilm dan tabah (sabar) terhadap setiap gangguan – sebab ia mesti menemui gangguan. Jika tidak hilm dan sabar, akan lebih banyak membawa mafsadat daripada maslahat.

Dalam kisah Al Qur’an, Luqman berkata kepada puteranya:

“Hai anakku, dirikan sholat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yg ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” [QS 31:17]

Karena itu Allah menyuruh bersabar kepada para RasulNya (pemimpin amar ma’ruf nahi mungkar) seperti firmanNya kepada RasulNya terakhir – bahkan disertai dengan penyampaian risalah.

Firman Allah yang merupakan pengangkatan terhadap Muhammad sebagai RasulNya adalah surat Al Mudatsir yang diturunkan sesudah Al ‘Alaq. Sedang dengan Surat Al ‘Alaq, beliau diangkat sebagai Nabi. Dalam surat Al Mudatstsir itu Allah berfirman:

“Wahai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berikan peringatan. dan Tuhanmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu bersabarlah.” [QS 74:1-7]

Allah memulai ayat-ayat risalah (kerasulan)-Nya kepada makhluk dengan menyuruh memberi peringatan, dan mengakhirinya dengan menyuruh sabar.

Allah berfirman:

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan kami…” [QS 52:48]

“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhi mereka dengan cara baik.” [QS 73:10]

“Maka bersabarlah kamu seperti bersabarnya orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari para Rasul..” [QS 46:35]

“Maka bersabarlah kamu (wahai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan jangan kamu seperti orang yang berada dalam” (perut) ikan (Nabi Yunus)…” [QS 68:48]

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah, dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan” [QS 16: 127]

“Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada

menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat kebaikan.” [QS 11:115]

Karena itu, dalam tugas kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar harus ada 3 perkara :

ilmu, halus dan sabar.

Ilmu harus sudah dimiliki sebelum melakukan tugas kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, Sikap halus harus bersamaan dengan pelaksanaan tugas, dan sifat sabar sesudah pelaksanaan tugas, meski sebenarnya ketiganya harus ada dalam semua keadaan. hal tersebut -sebagaimana bersumber dari atsar dari sebagian orang-orang salaf yang diriwayatkan secara marfu’- diriwayatkan oleh Al Qodhi Abu Ya’la dalam kitab Al-Mu’tamad:

“Tidak boleh melakukan amar ma’ruf nahi munkar kecuali orang yang paham (punya ilmu) tentang apa yang ia suruhkan, paham tentang apa yang ia cegah, bersikap halus dalam apa yang ia suruh dan cegah, dan bersifat hilm (sabar) dalam apa yang ia suruh dan cegah.”

Dan ketahuilah, disyaratkan ketiga itu dalam amar ma’ruf nahi mungkar merupakan sesuatu yang menimbulkan kesulitan terhadap orang banyak. Maka disangka bahwa dengan itu kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar gugur dari mereka, hingga mereka tidak melakukannya. Terkadang yang demikian bisa memberi mudharat lebih banyak daripada mudharat yang ditimbulkan oleh amar ma’ruf nahi mungkar tanpa syarat itu, atau terkadang mudharatnya lebih sedikit. Sebab meninggalkan perintah wajib adalah maksiat, dan mengerjakan apa yang dilarang Allah, juga maksiat. maka orang yang pindah dari satu maksiat ke maksiat lain, bagai orang mencari perlindungan dari tanah yang sangat panas kepada api, atau seperti orang pindah dari satu agama sesat ke agama lain yang sesat pula. Terkadang yang kedua lebih buruk daripada yang pertama, bahkan sebaliknya, atau keduanya sama.

Maka bisa jadi Anda mendapatkan orang yang melalaikan amar ma’ruf nahi mungkar dan orang yang melampaui batas, kadang dosa yang satu lebih besar, bahkan dosa lainnya lebih besar, atau kedua-duanya sama.

AKHLAK MUSLIM

“Jagalah dirimu dari perkara-perkara yang haram nescaya anda menjadi manusia yang paling ‘abid, dan terimalah dengan penuh kerelaan akan pembahagian yang telah ditentukan Allah kepada anda nescaya anda akan menjadi manusia yang paling kaya, berbudilah kepada jiran anda, nescaya anda  menjadi mu’min yang sebenar, dan cintailah kepada orang lain apa yang dicintai anda untuk diri anda sendiri, nescaya anda menjadi seorang muslim yang sebenar, dan janganlah banyak ketawa kerana banyak ketawa itu akan mematikan hati.(diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari abu Hurairah)

Perintah yang terkandung dalam hadis di atas :

1) Menjauhi perkara-perkara yang diharamkan

Untuk mencapai darjat para muttakim, siddiqin, a’bidin dan solihin, seseorang itu perlu berusaha sedaya upaya menghindari dirinya dari terjerumus ke dalam perkara-perkara maksiat dan haram seperti makanan, minuman, perbuatan, tutur kata, .pendengaran, penglihatan dan tindakan.Usaha bagi menghindari perkara-perkara ini amatlah rumit kerana ia biasanya begitu hebat mempersonakan keinginan dan kecenderungan hati.

2 Relakan kurniaan dari Allah

Untuk mencapai ketenteraman jiwa, seseorang muslim itu haruslah membentuk sifat-sifat qanaah(berpada) sifat tidak tamak dan haloba dalam memenuhi keperluan hidup apabila ia merasa cukup dan rela serta bersyukur maka ia merasa dirinya selaku orang yang paling kaya di dunia.

3. Hubungan baik dengan jiran

Untuk mencapai ketenteraman sosial setiap Muslim haruslah menjalankan hubungan yang baik dan mesra dengan jiran tetangga kerana mereka adalah kelompok manusia yang paling hampir dengan kita selain ahli keluarga yang lain.

4. Cintakan orang lainIslam adalah agama kasih sayang dan damai dari kekusutan hidup. Oleh itu setiap Muslim haruslah menaruh rasa kasih sayang terhadap orang lain sama dengan perasaan kasih terhadap dirinya sendiri. Apa yang tidak disukainya berlaku kepada dirinya harus pula tidak disukainya berlaku pada orang lain.

5. Jangan banyak ketawa

Ketawa pernah disifatkan sebagai “ubat jiwa”. Akan tetapi sesuatu ubat akan berubah menjadi racun apabila berlebihan akan membuatkan seseorang itu tidak serius dalam kerja dan kehidupannya dan membuatkan hati nuraninya mati dalam keseronokan dan fikirannya tidak tajam dengan banyak ketawa. Barangsiapa banyak ketawa didunia dia akan menangis di akhirat dan barangsiapa menangis di dunia dia akan ketawa di akhirat.

Akhlak penentu hubungan antara manusia dengan Allah

Oleh Prof Dr Sidek Baba

PADA minggu terdahulu, saya memperkatakan tema atau pokok persoalan mengenai perubahan ke arah yang fitrah dengan menghuraikan kepentingan membangunkan jiwa hamba dan khalifah serta kepentingan al-Quran sebagai sumber petunjuk.


Membangunkan jiwa hamba ialah mendidik hati insan supaya mempunyai sifat patuh dan taat yang setinggi-tingginya terhadap Allah. Menyuburkan jiwa khalifah bererti menggunakan akal dan hati atau nafsu secara positif ke arah memberikan kepemimpinan terhadap diri dan perkara di luar diri.

Untuk memandu manusia supaya pengurusan itu berlaku dengan betul, Allah turunkan mukjizat besar iaitu al-Quran sebagai sumber petunjuk (hudan) dan ilmu (hikmah). Ia untuk memandu manusia supaya terus berada dalam keadaan fitrah dan melakukan sesuatu dalam hidup ini pada landasan diredai Allah.

Al-Quran memberikan penegasan terhadap status Rasulullah sebagai pembawa rahmat bagi sekalian alam atau alam jagat (Wama ar salna kailla Rahmatan Lil ‘Alamin). Jiwa hamba, peranan khalifah, al-Quran sebagai sumber ilmu dan petunjuk akan lebih melengkapkan fitrah insaniah. Ini dengan menjadikan Muhammad sebagai Nabi dan Rasul bagi menjadi contoh yang mempunyai watak atau akhlak Qurani.

Bayangkan manusia yang diberikan status hamba, peranan sebagai khalifah, al-Quran sebagai sumber ilmu dan petunjuk tanpa contoh atau qudwah untuk diteladani atau diikuti. Pasti manusia akan meraba-raba atau hilang pedoman untuk mencari model sebenar bagi mengamalkan apa yang Allah perintahkan.

Allah tidak memilih gunung-ganang, batu batan, pokok atau haiwan sebagai sumber contoh dan teladan manusia. Pada gunung-ganang, batu batan, pokok atau haiwan tidak banyak yang boleh dicontohi oleh manusia bagi melaksanakan peranannya sebagai hamba dan khalifah.

Pada semut dan lebah, ada sesuatu yang boleh dicontohi oleh manusia, tetapi ia tidak lengkap seperti yang diperlukan oleh manusia. Pada pokok padi tidak banyak yang boleh dipelajari.

Ada pepatah mengatakan supaya ikut resmi padi semakin berisi semakin tunduk, menggambarkan orang yang berilmu, semakin berilmu semakin tinggi jiwa tawaduknya. Namun, ia juga tidak cukup melengkapkan sifat manusiawi yang diperlukan oleh manusia.

Oleh itu, pemilihan Nabi Muhammad sebagai Khalifah contoh bertepatan kerana Baginda adalah manusia yang memiliki sifat manusiawi yang diperlukan oleh manusia lain. Menariknya, Allah tidak memilih Muhammad sebagai rasul tanpa memberikan tarbiah rabbaniah kepadanya. Allah lakukan tarbiah rohaniah dan rabbaniah kepada Muhamad dengan terbentuk watak Qurani dan akhlak tinggi terhadap dirinya.

Hadis Rasulullah mengukuhkan maksud kerasulan Muhammad – Innama buith tu liutammima, maqarimah akhlak (tidak diutuskan aku melainkan dengan amanah untuk menyempurnakan akhlak manusia).

Isu pokok atau utama dalam risalah kenabian atau kerasulan ialah bertitik-tolak kepada proses penyempurnaan akhlak manusia.

Mengapa akhlak manusia dirasakan amat penting dalam hidup ini? Apa kaitannya akhlak dengan kecemerlangan insan. Apa hubungannya akhlak dengan amanah. Apa kaitannya akhlak dengan konsep keadilan. Dan apakah peranan akhlak dalam proses pembangunan dan perubahan.

Dalam hidup ini, apabila manusia menolak sifat amanah, sebaliknya menyuburkan sifat pecah amanah, ia menyebabkan akhlak menjadi rosak. Apabila akhlaknya rosak, dirinya akan rosak dan sistem boleh menjadi rosak. Malah, negara juga boleh menjadi rosak.

Bayangkan jika manusia menolak sifat jujur dan ikhlas dalam melakukan komunikasi dengan orang lain. Ia boleh menyebabkan perselisihan hubungan dan pendapat berlaku. Ia boleh meretakkan ukhuwah dan rasa persaudaraan yang amat dituntut oleh agama. Manusia yang tidak jujur dan ikhlas ini adalah bayangan mereka yang sudah cacat akhlaknya.

Bayangkan manusia dalam melaksanakan tanggungjawabnya berlaku tidak adil kepada pihak lain. Ketidakadilan atau perbuatan zalim ini bukan saja boleh merosakkan dirinya, malah manusia lain. Perbuatan zalim boleh menyebabkan pihak lain teraniaya dan menyebabkan rasa tidak puas. Ia boleh menyebabkan perpecahan sesama manusia dan hilangnya amanah terhadap sesuatu.

Bayangkan sekiranya seseorang atau sesuatu kumpulan bersikap ikhlas, jujur, amanah dan adil terhadap sesuatu, hebat sungguh jenis masyarakat yang dapat dibangunkan. Lebih-lebih lagi, sifat yang mulia itu boleh mengembangkan ukhuwah dan rasa percaya tinggi sesama insan.

Kekuatan pada sifat ini kerana manusia yakin kepada Allah sebagai penciptanya dan yakin terhadap balasan Allah pada akhirat nanti. Ia selari dengan doa yang dibaca oleh kita “Rabbana aatina fiddunya hasanah, wafilakhirati khasanah, waqina azabannar.” Inilah landasan kekuatan yang menjadikan manusia terus istiqamah atau teguh hati dengan cabaran duniawi yang amat banyak.

Allah berikan rahmat dan nikmat yang amat banyak kepada manusia. Tanpa pertimbangan nilai baik yang dikembangkan oleh Rasulullah, manusia akan hilang pedoman dan akhirnya akan terpaut dengan tarikan kebendaan dan nafsu-nafsi. Akhirnya, menjerumuskan manusia kepada kerosakan akhlak.

Bayangkan apabila manusia menjadikan kebendaan sebagai ukuran, nafsu-nafsi sebagai pakaian harian, pangkat dan darjat sebagai batas perbezaan, gelar dan status sebagai ukuran pergaulan, ia tidak akan menyumbang kepada proses pembinaan akhlak terpuji.

Sebaliknya, faktor duniawi ini akan luput kerana setiap manusia akan kembali bertemu Tuhannya mempersembahkan amal ibadat yang dilakukan ketika hayatnya. Tetapi, jika yang dipersembahkan di depan Allah bukannya amal ibadat serta takwa tinggi dalam hidupnya menginsafi dirinya adalah hamba dan khalifah, alangkah ruginya manusia. Mereka apabila diberi peluang memanfaatkan rahmat dan nikmatnya menjadi lupa, takbur, sombong dan kadang-kadang kufur serta tidak pernah bersyukur.

Sebab itulah persoalan akhlak adalah isu yang amat asasi menentukan hubungan kita dengan Allah serta kawalan dan pedoman diri terhadap apa yang dilakukan dalam hidup ini.

Hadis: Balasan berbelanja ke arah kebaikan

DARIPADA Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda bermaksud: “Pada setiap hari, dua malaikat turun. Salah satunya berkata: Wahai Tuhanku, berilah kepada sesiapa yang berinfaq (berbelanja ke jalan Allah) akan gantinya. Dan berkata yang satu lagi: Wahai Tuhanku, berikanlah orang yang bakhil itu kebinasaannya.” – (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).


Daripada Abu Umamah bahawa Rasulullah bersabda bermaksud: “Wahai anak Adam, jika kamu berbelanja dan menderma (pada jalan Allah), itulah yang paling baik untuk kamu. Dan jika kamu bakhil dan kedekut, maka itulah yang paling buruk untuk kamu.” – (Hadis riwayat Muslim dan at-Tarmizi).

Dalam al-Quran, banyak ayat yang menggesa umat Islam menghulurkan sumbangan pada jalan kebaikan.

Kita dijanjikan dengan gantian berlipat ganda di atas pekerjaan baik itu. Firman Allah bermaksud: “Syaitan menjanjikan (menakut-nakutkan) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir), sedangkan Allah menjanjikan untukmu keampunan dan kurnia daripada-Nya. Dan Allah Maha Luas (kurniaan-Nya) lagi Maha Mengetahui.” – (Surah al-Baqarah, ayat 268).

Sebenarnya gantian yang dijanjikan oleh Allah dan rasul-Nya kepada mereka yang membelanjakan harta pada jalan yang diredai Allah tidak semestinya berbentuk wang ringgit atau harta benda semata-mata. Banyak lagi gantian lain yang lebih bererti dan bermakna dalam kehidupan seseorang.

Mungkin dengan banyak menderma, rumah tangga kita diberkati Allah. Kita dianugerahkan anak-anak yang soleh, tubuh badan sihat dan sebagainya. Teratas daripada segalanya, Allah memberikan kita petunjuk ke jalan yang benar yang membawa ke syurga-Nya. Apakah ada sesuatu yang lebih berharga daripada itu?

Firman Allah bermaksud: Katakanlah: “Dengan kurniaan Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurniaan Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” – (Surah Yunus, ayat 58).

Begitu juga kerosakan dan kebinasaan yang akan menimpa orang kedekut dan bakhil itu tidak semestinya berbentuk kehilangan harta benda atau wang ringgit saja. Sebaliknya, ia mungkin berupa kegelisahan, kecemasan dan ketidakketenteraman dalam hidup.

Firman Allah bermaksud: “Dan orang yang bakhil dan berasa dirinya cukup serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyediakan untuknya (jalan) yang sukar.” – (Surah al-Lail, ayat 8-10).

Kesimpulannya, gantian Allah kepada mereka yang berbelanja pada jalan-Nya tidak semestinya berbentuk kebendaan. Begitu juga kebinasaan yang akan menimpa orang bakhil dan kedekut tidak semestinya berbentuk kerugian harta benda. Malah, banyak lagi gantian yang lebih baik daripada harta benda dan kebinasaan lain yang lebih dahsyat daripada kerugian wang ringgit.

Punca permintaan tidak dimakbul

DIKISAHKAN bahawa masyarakat Basrah dilanda kemelut sosial. Kebetulan mereka dikunjungi ulama besar bernama Ibrahim bin Adham.


Masyarakat Basrah pun mengadukan nasib mereka kepada Ibrahim. Mereka berkata: “Wahai Abu Ishak (panggilan Ibrahim), Allah berfirman dalam al-Quran agar kami berdoa. Kami warga Basrah sudah bertahun-tahun berdoa, tetapi kenapa doa kami tidak dimakbulkan Allah?”

Ibrahim menjawab: “Wahai penduduk Basrah kerana hati kalian telah mati dalam 10 perkara.

“Bagaimana mungkin doa kalian akan dimakbulkan Allah! Kalian mengakui kekuasaan Allah, tetapi kalian tidak memenuhi hak-hak-Nya.

“Setiap hari kalian membaca al-Quran, tetapi kalian tidak mengamalkan isinya.

“Kalian selalu mengaku cinta kepada rasul, tetapi kalian meninggalkan perilaku sunnahnya.

“Setiap hari kalian meminta perlindungan kepada Allah daripada syaitan yang kalian sebut sebagai musuhmu, tetapi setiap hari pula kalian memberi makan syaitan dan mengikuti langkahnya.

“Kalian selalu mengatakan ingin masuk syurga, tetapi perbuatan kalian bertentangan dengan keinginan itu.

“Katanya kalian takut masuk neraka, tetapi kalian mencampakkan dirimu sendiri ke dalamnya.

“Kalian mengakui bahawa maut adalah kemestian, tetapi nyatanya kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

“Kalian sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, tetapi terhadap kesalahan sendiri kalian tidak mampu melihatnya.

“Setiap saat kalian menikmati kurniaan Allah, tetapi kalian lupa mensyukurinya.

“Kalian sering menguburkan jenazah saudaramu, tetapi kalian tidak mahu mengambil pelajaran daripada peristiwa itu.”

Terakhir Ibrahim mengatakan: “Wahai penduduk Basrah, ingatlah sabda Rasulullah yang bermaksud: Berdoalah kepada Allah, tetapi kalian harus yakin akan dikabulkan. Kalian harus tahu bahawa Allah tidak berkenan doa dari hati yang lalai dan main-main.”

Apa pun persoalan hidup kita, sama ada bahagia atau sedih, tetaplah berdoa kepada Allah.

Jangan berhenti memanjatkan doa kepada Allah kerana doa adalah masa depan kita. Doa adalah kekuatan kita, doa adalah senjata kita. Perhatikan adab berdoa dan bersabarlah menunggu dimakbulkan-Nya.

Ramai nabi daripada keturunan Bani Israel

DALAM sejarah Islam dicatatkan ada ibu berusia hampir 100 tahun mampu melahirkan anak. Ini semua kuasa Allah yang Maha Agung lagi Maha Mengetahui bagi setiap kejadian itu.


Inilah yang berlaku kepada Nabi Ishak, iaitu anak kedua Nabi Ibrahim daripada perkahwinannya dengan Sarah.

Perkataan Ishak berasal daripada bahasa Ibrani, iaitu Yashhak. Ia diistilahkan demikian kerana ibunya tertawa bersendirian apabila mengetahui bakal melahirkan anak.

Nabi Ishak dilahirkan ketika ibunya berusia 90 tahun, manakala bapanya 100 tahun. Ini disebabkan Sarah sebelum itu mandul dan kelahiran Ishak terlalu lama jaraknya dengan kelahiran Nabi Ismail oleh ibunya, Hajar. Jadi, tidak hairan Sarah tertawa bersendirian kerana gembira apabila diberitahu malaikat dia bakal melahirkan anak.

Jika keturunan Nabi Ismail melahirkan bangsa Arab Musta’ribah, keturunan Nabi Ishak pula melahirkan Bani Israel.

Bermula daripada anaknya, Yaakub, muncul ramai nabi daripada kalangan Bani Israel. Firman Allah: “Dan Kami jadikan kenabian dan al-Kitab pada keturunannya.”

Ishak adalah seorang yang soleh. Keberkatannya dikhususkan Allah seperti keberkatan pada bapanya, Nabi Ibrahim. Firman Allah yang bermaksud: “Dan Kami beri dia khabar gembira dengan (kelahiran) Ishak, seorang nabi yang termasuk orang soleh. Kami limpahkan keberkatan atasnya dan atas Ishak dan antara cucunya ada yang berbuat baik dan ada yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.”

Allah menghuraikan kebijaksanaan Ibrahim, anaknya, Ishak dan cucunya, Yaakub dalam firmannya: “Dan ingatlah hamba Kami bahawa Ibrahim, Ishak dan Yaakub mempunyai perbuatan besar dan ilmu yang tinggi. Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan mereka) akhlak tinggi, iaitu sentiasa mengingatkan (manusia) kepada akhirat. Dan mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang pilihan yang paling baik.”

Kenabian Ishak juga dijelaskan Allah melalui firman-Nya bermaksud: “Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadanya sebagaimana Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi yang kemudiannya. Dan Kami telah memberikan wahyu kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yaakub dan anak cucunya, Isa, Yunus, Harun, Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud.”

Al-Quran tidak menjelaskan mengenai Nabi Ishak secara khusus. Namun menurut riwayat, pada saat Nabi Ibrahim hampir kembali ke rahmatullah, Nabi Ishak mahu berkahwin. Bagaimanapun, Nabi Ibrahim tidak mahu Ishak berkahwin dengan wanita Kan’an kerana mereka tidak mengenali Allah.

Bapanya kemudian mengutuskan seorang hamba untuk melamar gadis di Hanan (Iraq). Gadis yang dipilih bernama Rifqah binti Bitauel bin Nahur. Nahur adalah saudara Nabi Ibrahim, manakala Rifqah adalah cucu saudaranya.

Genap 10 tahun perkahwinan mereka, Ishak dikurniakan dua anak lelaki, iaitu `Iso (dalam bahasa Arab disebut Al-Ish) dan Yaakub. Ishak lebih menyayangi Al-Ish daripada Yaakub kerana berasa tidak senang berikutan Rifqah menyayangi Yaakub.

Ishak selalu meminta Al-Ish menghidangkan makanan untuknya, namun pada satu ketika Rifqah meminta Yaakub terlebih dulu menghidangkan makanan.

Kemudian Ishak terus makan dan mendoakan kebaikan untuk Yaakub. Al-Ish yang nampak keadaan itu lantas memarahi Yaakub, lalu mengugut saudaranya itu.

Rifqah yang melihat kejadian itu meminta kebenaran Ishak untuk menyuruh Yaakub pergi ke rumah saudaranya bernama Laban di kawasan Haron, Iraq. Ini bertujuan supaya Yaakub akhirnya tinggal di sana dan berkahwin dengan anak saudaranya. Setiba di Haron, Yaakub menghambakan diri kepada ibu saudaranya itu.

Dia ingin berkahwin dengan anak gadis ibu saudaranya yang bernama Rahil. Tetapi bapa saudaranya mahu mengahwinkannya dengan Lai’ah, iaitu kakak kepada Rahil.

Yaakub berkata: “Saya hanya mahu berkahwin dengan Rahil, puteri pak cik yang lebih cantik berbanding kakaknya.” Bapa saudaranya berkata: “Menurut kebiasaan, kami tidak memperkenankan perkahwinan anak yang lebih muda mendahului kakaknya. Jika kamu mahukan adiknya, kamu perlu bekerja lagi selama tujuh tahun.”

Bagaimanapun, akhirnya Yaakub mengahwini kedua-dua anak bapa saudaranya itu (syariat yang diizinkan ketika itu). Yaakub tinggal selama 20 tahun bersama ibu dan bapa saudaranya sebelum kembali ke pangkuan keluarganya di Kan’an (Palestin). Yaakub berasa kepulangan akan dihalang saudaranya, Al-Ish.

Bagi mengelak sebarang kejadian tidak diingini, Yaakub mengutuskan anaknya supaya memberikan hadiah kepada Al-Ish, sekali gus menggembirakannya. Al-Ish mengosongkan kediamannya kepada Yaakub, manakala dia sendiri berpindah ke gunung Sya’ir.

Yaakub terus berada di samping bapanya. Selepas itu, Nabi Ishak memberikan tempat tinggal di Habrun kepada Yaakub. Kawasan itu kemudian dipanggil Al-Halil.

Ahli sejarah menjelaskan nama Yaakub digunakan sebagai perkataan Israel. Isra membawa erti hamba, kesucian, manusia atau muhajir, manakala el bererti Allah. Jadi, Israel adalah merujuk kepada hamba daripada kesucian Allah.

Nabi Ishak yang wafat ketika berusia 180 tahun dikebumikan di Jirun (kini Madinah). Ada juga mengatakan Nabi Ishak disemadikan di al-Mughirah, tempat bapanya dikebumikan.

Fikrah: Banyak berdoa pada waktu lapang

ORANG bijak ada mengatakan bahawa doa tanpa usaha adalah bohong dan usaha tanpa doa adalah sombong. Doa dan usaha adalah dua perkara yang tidak boleh dipisahkan.


Kita tidak boleh hanya berdoa tanpa melakukan usaha sedaya mungkin untuk mencapai hajat itu. Kita juga tidak boleh hanya berusaha, tanpa berdoa dan mengabaikan Allah sebagai penentu berhasil atau tidaknya tujuan kita.

Doa adalah permohonan, pengharapan seorang hamba kepada Allah.

Doa intinya ialah h ibadat. Doa adalah senjata. Doa adalah ubat dan pintu segala kebaikan.

Seluruh hamba sangat bergantung kepada pencipta-Nya. Setiap hamba memang perlu berdoa, sebab kita diciptakan dalam keadaan penuh keterbatasan.

Manusia memang ditakdirkan sebagai makhluk yang paling sempurna dengan segala kelebihannya, namun manusia juga memiliki kelemahan.

Untuk itu, kita perlu meminta kepada Allah. Berdoa dengan penuh khusyuk, harapan, tulus, pasrah dan ikhlas.

Ini seiring dengan firman Allah bermaksud : “Hai manusia, kamulah yang memerlukan Allah, dan Dia-lah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) Yang Maha Terpuji.” (Surah Faathir, ayat 15).

Ramai yang tidak dapat memanfaatkan kesempatan untuk berdoa, padahal boleh jadi dia tergolong orang yang mustajab doanya.

Setiap Muslim hendaklah memanfaatkan kesempatan untuk berdoa sebanyak mungkin baik memohon sesuatu yang berhubungan dengan dunia atau akhirat.

Antara orang yang doanya mustajab.

l Doa seorang Muslim terhadap saudaranya dari tempat yang jauh.

Daripada Abu Darda’ bahawa dia berkata bahawa Nabi Muhammad bersabda maksudnya: “Tidaklah seorang Muslim berdoa untuk saudaranya yang tidak di hadapannya, maka malaikat yang ditugaskan kepadanya berkata: “Amin, dan bagimu seperti yang kau doakan.” (Shahih Muslim, kitab Doa wa Dzikir bab Fadli Doa fi Dahril Ghalib).

Imam An-Nawawi berkata bahawa hadis berkenaan menjelaskan keutamaan seorang Muslim mendoakan saudaranya dari tempat yang jauh. Jika dia mendoakan sejumlah atau sekelompok umat Islam, maka tetap mendapatkan keutamaan itu.

Oleh itu, sebahagian ulama salaf ketika berdoa untuk diri sendiri, menyertakan saudaranya dalam doa itu. Ini kerana selain termakbul, dia contohnya, akan mendapatkan sesuatu.

Shafwan bin Abdullah berkata: “Saya tiba di negeri Syam, lalu menemui Abu Darda’ di rumahnya, tetapi saya hanya bertemu dengan Ummu Darda’ dan dia berkata: Apakah kamu ingin menunaikan haji tahun ini?

“Saya menjawab: Ya. Dia berkata: Doakanlah kebaikan untuk kami kerana Rasulullah bersabda: “Doa seorang Muslim untuk saudaranya yang tidak ada di hadapannya terkabul dan disaksikan oleh malaikat yang ditugaskan kepadanya, tatkala dia berdoa untuk saudaranya.

“Maka malaikat yang di tugaskan kepadanya mengucapkan: Amiin bagimu seperti yang kau doakan.”

Shafwan berkata : “Lalu saya keluar menuju pasar dan bertemu Abu Darda’, beliau juga mengutarakan seperti itu dan dia meriwayatkan daripada Nabi.”

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata, jika seorang Muslim mendoakan saudaranya kebaikan dari tempat yang jauh dan tanpa diketahui oleh saudara itu, maka doa itu akan dimakbulkan.

Ini kerana doa seperti itu lebih ikhlas kerana jauh daripada riak serta berharap balasan hingga lebih diterima oleh Allah.

l Orang yang memperbanyak berdoa pada saat lapang dan bahagia.

Daripada Abu Hurairah bahawa Rasulullah bersabda maksudnya: “Barang siapa yang ingin doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.”

Syaikh Al-Mubarak Furi berkata, hadis itu bermaksud hendaknya seseorang memperbanyakkan doa sewaktu sihat, kecukupan dan selamat daripada cubaan. Ini kerana ciri seorang mukmin baik adalah sentiasa bersiap sedia sebelum melakukan sesuatu pekerjaan atau menghadapi sebarang masalah.

Oleh itu, adalah wajar jika seorang mukmin selalu berdoa kepada Allah sebelum datang bencana. Ini berbeza dengan orang kafir sebagaimana firman Allah bermaksud :

“Dan apabila manusia itu ditimpa kemudaratan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya kepadanya lupalah dia akan kemudaratan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) untuk (menghilangkannya) sebelum itu.” (Surah az-Zumar, ayat 8)

Firman Allah bermaksud: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.” (Surah Yunus, ayat 12)

Oleh itu, kita digalakkan banyak berdoa pada waktu lapang agar doa dikabulkan pada saat lapang dan sempit.

“Aku Suruh Tapi Tak Buat…”

Rasanya tak susah hendak menjawab kalau diajukan pertanyaan antara menyuruh berbuat baik (amar makruf) dengan melaksanakan kebaikan yang disuruh itu, manakah yang lebih mudah? Atau… antara menyuruh meninggalkan kejahatan (nahi mungkar) dengan melaksankan sendiri suruhan itu, manakah yang lebih susuh?

Kalau pun bukan kejahatan yang dikerjakan dengan anggota pancaindera, mazmumah yang kian mendarah daging hingga membentuk tabiat juga adalah mungkar yang mesti dicegah. Sombong, pemarah, ujub, hasad, buruk sangka, mungkir janji dan sebagainya tidak mendatangkan apa-apa kebaikan pun kepada manusia. Sebaliknya menjadikan hidup lebih kacau-bilau dan tunggang-langgang.

Itulah sifat dan hakikat kejahatan. Mencampakkan si pelakunya lemas dalam kecamuk rasa yang bercampur-baur, keluh-resah, kecewa, putus asa, berdendam, benci, tegang dan macam-macam ketidaktenagan lagi. Laluan begitukah yang menghala ke syurga? Yang dimaksudkan dunia penjara bagi orang mukmin (beriman) sepertimana disabdakan dalam sebuah hadis Nabi SAW bukanlah dunia yang menjadikan hidup keluh resah, kecewa, benci, dendam, pemurang dan sebagainya.

Namun walau susah macam mana sekalipun, tugas nahi mungkar ini sudah menjadi suatu ketetapan yang wajib dibuat. Pertama sekali terhadap diri sendiri. Kemudian isteri atau suami dan anak-anak, serta khayalak yang lebih umum. Allah SWT berpesan dalam Al-Quran, “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu daripada neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batu.: (at-Tahrim; 6).

Menerusi firman di atas, Allah SWT tunjukkan cara berdakwah yang betul. Dalam pada ghairah menyampaikan seruan kebaikan dan kebenaran kepada orang lain, diri sendiri tetap menajdi focus utama sasaran. Bercerita tentang pemaaf, siratulrahim, tolak-ansur, penyabar, amanah dan sebagainya, sifat-sifat mulia itu mesti selalu dipupuk agar menjadi pakaian peribadi. Barulah kerja menyeru orang ramai kepada kebaikan dan kebenaran itu layak mendapat nilaian Allah SWT. Mudah-mudahan akan adalah habuannay. Nabi SAW bersadba, “ sesiapa yang mengajak ke jalan kebenaran, dia beroleh pahala sebanyak pahala yang diterima oleh orang-orang yang mengikutinya, tidak kurang sedikit juapun. Dan siapa yang mengajak ke jalan kesesatan, dia beroleh dosa sama banyak dengan dosa orang-orang yang mengikutinya, tidak kurang sedikit jua pun.” (riwayat Muslim dari Abu Hurairah ra)

Namun perlu diingat, jariah-jariah begini bukan jaminan keselesaan di akhirat. Bercakap tentang sabar, berusahalah menjadi seoarang yang penyabar. Bercakap tentang silaturahim, peliharalah hubungan silaturahim. Jangan direnggang, apa lagi diptuskan. Sebut pasal dengki, buanglah jauh-jauh sifat keji itu. Ringkasnya, jangan sekadar menjadi orang yang menyampaikan sebaliknya perlu menggunakan apa yang disampaikan itu.

Perkara ini besarnya di sisi Allah SWT. Sehingga dihebahkan dalam firmanNya sebagai amaran dan peringatan. Selalu kit abaca dan kit abaca sekali lagi, iaitu ayat 2 dan 3 dari suarh as-Saaf, “wahai orang-orang yang beriman, mengapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian(murka) di sisi Allah kerana kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”

Suatu ancaman yang keras dari Allah SWT agar kita sentiasa waspada. Kerana jika kita termasuk dalam gologan ‘orang-orang beriman’ yang dimaksudkan oleh Allah SWT dalam firmanNya ini, sedarlah bahawa apa yang kita buat selama ini tidak ubah bagai debu-debu yang berterbangan.

Begitulah boleh diumpamakan kalau menghurai kehendak firman di atas dengan sebaris sabda Nabi SAW, “ Akandihadapkan seseorang pada Hari Kiamat kelak, lalu dia dilemparkan ke neraka. Bertaburanlah isi perutnya, lalu diputar-putar seperti keldai memutar kisaran. Kemudian datang mendekat kepadanya para penghuni neraka lalu mereka bertanya, ‘Hai fulan! Apakah dosamu? Bukankah engkau menyuruh orang berbuar baik dan mencegah berbuat mungkar?’ Jawabnya, ‘Ya, aku menyuruh yang mungkar tetapi aku sendiri tidak melaksanakannya. Dan aku melarang yang mungkar tetapi aku sendiri melanggarnya.” (riwayat Muslim dari Usamah bin Zaid r.a)

ALAM ISLAMI

Intisari Alam Islami

Oktober-November 1998

Keadaan Dunia Miskin (Dunia Ketiga)

Penagihan Dadah Di Afghanistan

Keadaan Ekonomi Rakyat Di Palestina

Tentera Pimpinan Kristian Bunuh Ramai

Orang Acheh

Pengeboman Di Sudan Dan Krisis Asia

Rencana Jahat Amerika

Persekongkolan Turki, Jordan Dengan

Israel

Kunjungan Ratu Elizabeth Ke Brunei Dan

Malaysia

C.I.A Mengajar Polis Palestina Cara

Menyiasat

Keadaan Dunia Miskin (Dunia Ketiga)

(New Straits Time, September 1998):

Dalam suatu tinjauan yang dibuat oleh

UNDP (United Nations Development

Programme) didapati bahawa masih ada 1

billion penduduk dunia sekarang yang

tidak mendapat bahan keperluan dan

perkhidmatan yang mencukupi. Secara

puratanya seorang kanak-kanak yang

hidup di Amerika Syarikat, Perancis dan

Britain akan menggunakan dan

mencemarkan barang keperluan dan bahan

buangan dalam seumur hidup mereka 50

kali ganda berbanding dengan seorang

kanak-kanak yang hidup di negara

membangun. Pengunaan bahan-bahan

mentah oleh negara-negara maju di Barat

menyebabkan dunia mungkin tidak akan

dapat menyaksikan penggunaan dan

perkongsian yang sama rata, menurut

kajian itu lagi, 20% dari penduduk dunia

yang tinggal di negara-negara maju,

menggunakan 86% dari pengeluaran

bahan-bahan mentah dunia, 45% daging

dan ikan, 74% talian telefon dan 84% dari

semua kertas. Pengeluaran karbon

dioksida per kapita daripada pembakaran

bahan api adalah 21 tan metrik setahun di

Amerika berbanding dengan 3 tan metrik

di China. Dalam pada itu walaupun

negara-negara maju (Barat) mempunyai

secara puratanya taraf hidup yang tinggi

berbanding dengan negara negara lain,

tetapi dianggarkan seramai 17 juta

penduduk di negara-negara berkenaan

yang menganggur, tidak mempunyai tempat

kediaman dan kelaparan. Jumlah

penggangur sahaja adalah seramai 37 juta

orang. Lebih 100 juta orang hidup

dibawah paras kemiskinan dan 8%

daripadanya adalah kanak-kanak.

Amerika Syarikat walaupun merupakan

negara pengguna bahan mentah terbanyak

dunia juga menpunyai purata pendapatan

yang tertinggi dikalangan negara maju,

tetapi juga mempunyai jumlah penduduk

termiskin paling ramai di kalangan

negara-negara maju.

Inilah natijah kapitalisma. Walaupun

negara negara maju seperti Amerika

Syarikat merupakan negara pengguna

bahan mentah terbesar dunia dan

mempunyai secara puratanya pendapatan

yang paling besar di kalangan negara

maju, masih terdapat ramai penduduk

yang hidup menggangur, miskin,

kelaparan dan tidak mendapat penjagaan

yang sempurna. Sistem kapitalis ini

menyebabkan jurang minoriti kaya dan

majoriti miskin adalah sangat besar.

Penagihan Dadah Di Afghanistan

(New Straits Times, September 1998):

Pakistan mempunyai seramai 2 juta penagih

heroin dari penduduknya yang berjumlah seramai

130 juta. Pakistan juga mempunyai seramai satu

perempat daripada jumlah penagih dadah di

dunia. Di Afghanistan pula walaupun puak

Taleban mula berkuasa, tetapi pengeluaran heroin

adalah pada keadaan yang berganda.

Dianggarkan bahawa Afghanistan adalah negara

pengeluar yang terbesar bersama dengan

Myanmar di dunia dan dianggarkan pada tahun

1997, Afghanistan mengeluarkan sebanyak 2,800

tan opium. Pada tahun lalu penguatkuasa Pakistan

merampas sebanyak 8.5 tan opium, 5 tan heroin

dan 15 tan dadah yang merbahaya yang lain.Pada

6 bulan pertama tahun ini, penguatkuasa Pakistan

juga telah berjaya merampas 1.4 tan opium, 1.1

tan heroin dan 28.5 tan dadah yang lain. Kerana

terdesak dengan perang saudara di Afghanistan,

penduduk tidak mempunyai apa-apa jalan lain

selain dari menanam tanaman yang boleh

mengeluarkan dadah kerana dengan jalan itu

penduduk tersebut boleh menyara hidup mereka

yang tertekan akibat dari perang saudara yang

berlanjutan. Walaupun di Pakistan telah ada

usaha- usaha untuk memberhentikan penanaman

pokok poppy dan lain-lain tanaman dadah yang

merbahaya, bahayanya masih ada dengan

penanaman pokok dadah di negara jiran

Afghanistan.

Keadaan Ekonomi Rakyat Di Palestina

Parti Likud di Israel adalah lebih terbuka

untuk membenarkan rakyat Palestin untuk

bekerja di Israel daripada Parti Buruh.

Tahun lalu adalah merupakan tahun yang

baik untuk ekonomi Palestin, kerana

statistik menyatakan bahawa jumlah

syarikat berdaftar telah naik kepada 15%,

pinjaman bank kepada perniagaan

persendirian telah naik ke 60%,

pengangguran turun 24% kepada 21%

berbanding tahun 1996.Pada tahun 1996

bila mana telah berlaku beberapa serangan

berani mati terhadap penduduk Israel,

parti Buruh Israel telah menguatkuasakan

perintah berkurung 140 hari di wilayah

Tebing Barat dan Gaza. Ekonomi

bertambah buruk ketika itu dan

pengangguran bertambah 50% dan

beberapa perniagaan terpaksa gulung

tikar.Sejak perjanjian Oslo pada tahun

1993, GNP untuk seorang penduduk

Palestin telah berkurang kepada 35%.

Sejak tahun 1993, pekerja Palestin dan

ahli perniagaan berasa sukar untuk

mendapatkan permit kerja. Pada tahun

1992, seramai 120,000 penduduk Palestin

dari wilayah dijajahi Israel berkerja di

Israel. Tetapi tahun 1997 menyaksikan

penurunan kepada 38,000 orang. Parti

Likud yang mula berkuasa sejak tahun

1996 mempunyai kelonggaran terhadap

tenaga kerja Palestin dari parti Buruh.

Dalam tahun 1998, jumlah penduduk

Palestin yang bekerja di Israel telah

bertambah kepada seramai 45,000 orang.

Juga telah ada beberapa kelonggaran

untuk rakyat Palestin untuk bergerak

bebas di antara Israel dan Palestin dan

juga Israel telah memberikan permit

tambahan kepada seramai 15,000 ahli

perniagaan Palestin. Sistem berkurung

yang diamalkan oleh parti Buruh adalah

berakar umbikan kepada perang tahun

1967 dengan negara Arab. Sebagai ketua

negara, Benjamin Netanyahu berpendapat

bahawa jika rakyat Palestin diberikan

kebebasan ekonomi, mereka akan berasa

puas dan kemahuan nasionalis mereka

terhadap suatu negara Palestin yang

merdeka akan menurun. Walaupun sikap

parti Likud terhadap pekerja Palestin

adalah lebih terbuka daripada parti Buruh,

Israel sekali kali tidak akan membiarkan

rakyat Palestin mempunyai ekonomi bebas

yang tidak bergantung kepada Israel

sendiri. Mereka tidak akan membenarkan

Palestinan Authority membuka sebuah

lapangan terbang atau sebuah pelabuhan di

wilayah Palestin.Israel juga tidak akan

membiarkan semenanjung Gaza dan Tebing

Barat dihubungkan secara ekonomi. Pada

sebelum tahun 1993, separuh dari bahan

keperluan yang dihasilkan di Gaza

dipasarkan di Tebing Barat, tetapi pada

tahun 1996, angka ini telah merosot

kepada 2%. Israel akan hanya

membenarkan rakyat Palestin dari Gaza

untuk membeli barangan dan belajar di

universiti di Tel Aviv daripada membeli

barangan di Ramalah atau belajar di

universiti di Tebing Barat. Langkah-

langkah ini adalah untuk mengelakkan

penduduk Gaza dan Tebing Barat dari

mempunyai ekonomi tersendiri tetapi Israel

mahu kedua dua wilayah bergantung

secara langsung kepadanya sendiri.

Samada Parti Likud atau Buruh, agenda

Yahudi adalah mahu terus berkuasa di

wilayah Islam yang ditawannya, dan

tidak akan ada sebarang pertukaran

dalam agenda mereka. Selama kaum

muslimin di Palestin masih seperti itu,

maka mereka tidak akan merasai semula

kekayaan alam mereka. Palestin adalah

tanah mereka, namun kini mereka mesti

mengemis kepada Israel. Betul-betul

hina. Sampai bila mereka akan tetap

seperti itu?

Tentera Pimpinan Kristian Bunuh Ramai Orang Acheh

(Economist September, 12-18 1998):

Selama beberapa tahun penduduk Acheh

mengetahui tentang timbunan mayat yang

tertimbus pada masa pemerintahan Suharto

tetapi tidak ada yang berani tampil ke

hadapan untuk mencari kebenaran. Tetapi

dengan B.J. Habibie yang menerajui

kerajaan yang baru ini telah memberikan

ruang kepada penduduk di sini untuk

mengetahui perkara tragedi yang berlaku

lebih kurang 1 dekad lalu. Pada tahun

1989 (ketika L.B. Moerdani menjadi

Menteri Pertahanan dan Keamanan),

Presien Suharto telah menghantar askar

khas ke rantau Acheh yang terletak kira

kira 1,500 km dari barat laut Jakarta

untuk menghapuskan suatu gerakan

pemisah. Menurut laporan suatu gerakan

hak asasi manusia, ramai penduduk telah

dibunuh, dirogol dan didera dan tidak ada

yang berani tampil ke hadapan untuk

menyuarakan kebenaran kerana ketakutan.

Antara tugas Habibie adalah untuk

memulakan suatu penyiasatan keatas

peristiwa pada tahun 1989. Pada bulan

Ogos, ketua angkatan tentera General

Wiranto telah mengatakan rasa kesalnya

keatas apa yang berlaku di Acheh dan

berjanji akan mencari anggota tentera yang

terlibat melakukan jenayah keatas

penduduk Acheh itu. Tetapi General

Wiranto terpaksa menghantarkan

tenteranya semula ke Acheh kerana

sejurus sebelum tentera berundur,

penduduk Acheh telah merusuh. Bumi

Acheh kaya dengan bahan semulajadi

seperti gas asli, arang batu, emas dan

hutan tropika dan kerajaan Indonesia

selalu mengharapkan kekayaan Acheh

dapat diagihkan untuk keperluan untuk

menampung kepadatan penduduk di Jawa,

jadi tidak menghairankan mengapa

kerajaan mahu memberhentikan segala

gerakan pemisah di Acheh. Tetapi oleh

kerana bumi Acheh yang kaya tidak

membawa kekayaan kepada penduduk

Acheh sendiri, maka ramai penduduk telah

melaungkan sokongan mereka kepada

gerakan pemisah mereka. Kementerian

yang dibentuk oleh Habibie telah

menyatakan supaya setiap kawasan di

Indonesia mestilah mempunyai lebih

kebebasan ke atas kekayaan alam mereka

daripada ditadbirkan secara langsung dari

kerajaan pusat. Ini berikutan dengan rasa

tidak puas hati yang terdapat pada

penduduk-penduduk di merata rata

Indonesia seperti di Timur Timur, Irian

Jaya dan kawasan lain dari Jawa.

Telah berlaku pembunuhan beramai

ramai di Timur Timur yang majoritinya

adalah penduduk Kristian yang

mendapat liputan meluas di dunia, tetapi

orang Islam yang terkorban di Acheh

oleh regim yang sama tidak ada sebarang

liputan oleh akhbar. Kekayaan dari

segala pelusuk Indonesia digunakan

untuk mengkayakan Suharto dan segala

proksinya dan kroninya, diharap Habibie

tidak akan melakukan kesilapan Suharto

kerana kemungkinan revolusi yang lebih

buruk akan menimpa Habibie dari apa

yang menimpa Suharto.

Pengeboman Di Sudan Dan Krisis Asia Rencana Jahat Amerika

Pengeboman Amerika pada kilang ubat

Sudan merupakan tindakan Amerika untuk

menunjukkan bahawa dialah ‘hero’ atau

pahlawan yang boleh menyelamatkan

dunia. Sebab, tindakan ini dilakukan oleh

Amerika setelah Amerika kehilangan

pengaruh di mata dunia, setelah tidak

mampu mengendalikan NATO dalam kes

pengeboman Serbia ke atas Albania.

Ditambah lagi dengan kegawatan ekonomi

akibat polisi IMF yang dilakukan terlalu

rakus untuk mengumpulkan

sebanyak-banyaknya kekayaan dunia ke

kantong Amerika, yang menyebabkan

kegawatan ekonomi di kawasan Asia yang

kemudian berkesan juga pada pasar

ekonomi dunia.

Negara-negara Eropa ketika ini juga telah

bangkit dan bersatu untuk menentang

kekuatan Amerika sebagai polis dunia.

Seperti halnya Amerika intervensi di

Indonesia untuk menyelesaikan kegawatan

ekonomi, yang sampai sekarang gagal

mengendalikan kemerosotan ekonomi. Di

Palestin sendiri, Amerika gagal menekan

Israel agar menghentikan pembangunan

kawasan pemukiman. Semuanya

menunjukkan kelemahan Amerika. Namun,

dalam keadaan seperti itu, Amerika ingin

menunjukkan kepada dunia bahawa dialah

pahlawan yang akan menyelematkan dunia

setiap kali ada masalah. Sementara

masalah itu, sebenarnya dialah yang

menciptakannya sendiri hanya untuk

diiktiraf oleh dunia, bahawa dirinya adalah

‘malaikat penyelamat’.

Inilah yang dilakukan oleh Amerika ke

atas Sudan dan Afganistan. Dan terakhir

ke atas konflik Afganistan dengan Iran.

Semuanya adalah kerja Amerika agar

boleh disebut sebagai ‘malaikat

penyelamat’, sehingga kedudukannya

sebagai polis dunia tetap boleh

dipertahankan. Sebab, semua rusuhan dan

kejahatan yang terjadi, sama ada di

Indonesia, konflik Iran-Afganistan,

pengeboman ke atas Sudan, semuanya

merupakan kerja Amerika melalui

agen-agen atau tangan-tangannya. Di

Indonesia melalui NGO yang kebanyakan

Kristian, iaitu 75 % daripada keseluruhan

NGO yang ada. Di Iran, melalui Khatami,

iaitu pemimpin yang pro-Amerika,

termasuklah di Afghanistan yang dilatih

dan dididik oleh Amerika. Demikian pula

di Palestin, dimana Arafat adalah agen

Amerika. Jadi, semuanya adalah

agen-agen Amerika, yang diciptakan untuk

membuat kerusuhan kemudian mengundang

Amerika untuk menjadi ‘malaikat

penyelamat.’ Sebagai konflik yang pernah

terjadi di Teluk, pada tahun 90-an, iaitu

antara Irak, Kuwait dan Arab Saudi.

Semuanya adalah ciptaan Amerika.

Terakhir di Malaysia, Amerika ingin

menghilangkan pengaruh Inggris, dengan

menyingkirkan Dr. Mahatir, dan

mengangkat Anwar Ibrahim. Namun, gagal

dilakukan setelah Anwar disingkirkan oleh

Dr. Mahatir. Maka, Amerika menggunakan

Singapore untuk memancing konflik

dengan Malaysia melalui Lew Kwan Yiew,

agar Amerika boleh menjadi penyelesai,

tetapi akhirnya gagal. Kemudian

menggunakan tangan Habibie (Indonesia),

Estrada (Filipina). Amerika ingin

menguasai Asia, setelah menghancurkan

ekonomi Jepun. Hati-hatilah kepada setan

Amerika, dan setan-setan lainnya. Umat

mesti bebas dari imperalisme Baru ini.

Persekongkolan Turki, Jordan Dengan Israel

Israel berusaha untuk menjadikan Jordan

sebagai wilayah neutral, agar dapat

menyukarkan pihak lain yang ingin

menyerangnya. Apabila Israel sebelumnya

merasai serangan tentara Mujahidin

Lebanon ke atas wilayahnya. Ini adalah

strategi Israel untuk memperkuat

kedudukannya dengan menggunakan

wilayah kaum muslimin. Di sinilah

bodohnya Raja Hussein. Memang.

Bahkan, Raja Husseinlah yang telah

menyerahkan sebahagian wilayah Lebanon,

yang kononnya melalui perang enam hari,

yang nyatanya tidak terjadi peperangan.

Bahkan, tentera kaum muslimin sengaja

dibunuh ketika itu, agar ada kesan bahawa

mereka telah diserang oleh Israel.

Pemimpin mana yang sanggup menjadikan

rakyatnya dibunuh untuk menjadi mangsa

musuhnya? Tentu dia bukan pemimpin

kaum muslimin.

Demikian juga halnya dengan Turki. Turki

dimanfaatkan oleh Israel untuk melakukan

latihan ketenteraan dengan Israel,

sehinggalah kedudukan tentera Israel kuat.

Inilah kebodohan kaum muslimin. Mereka

membantu musuh mereka dan musuh Allah

untuk membantai diri mereka sendiri.

Israel memang mempunyai rencana jahat

untuk menyerang Syria dari Turki.

Memang bodoh.

Kunjungan Ratu Elizabeth Ke Brunei Dan Malaysia

Kunjungan Ratu Elizabeth ke Brunei dan

Malaysia sebagaimana diungkapkan oleh

sang Ratu ketika berucap di Brunei adalah

kunjungan sabahat kepada sahabat yang

lain. Katanya: “Sebagai sahabat, British

tidak akan membiarkan sahabatnya

mengalami masalah. Sebab, British

bukan sahabat ketika senang sahaja,

melainkan juga sahabat ketika susah.”

Benarkah British menjadi sahabat

negeri-negeri kaum muslimin, seperti

Brunei dan Malaysia, yang pernah dijajah

berabad-abad. Sejak bila British menjadi

sahabat negeri jajahannya. Dan benarkah

penjajah adalah sahabat? Negara yang

telah menghancurkan seluruh kekuatan

kaum muslimin, termasuk agama, ideologi,

sistem kehidupan, tamadun, bahkan

kemudiannya mengeksploitasi kekayaan

alamnya untuk kepentingan mereka?

Benarkah ini merupakan tindakan sahabat?

Ini merupakan pernyataan sang Ratu yang

simpatik itu. Namun, sesungguhnya

disebalik pernyataan itu ada maksud jahat.

Apakah maksud jahat itu?

Ketika ini, negara-negara Eropah berusaha

untuk merebut kuasa besar dunia

meminggirkan kedudukan Amerika setelah

British diasingkan dari kedudukan sebagai

salah satu kuasa dunia, yang ketika itu

adalah British, Perancis, USSR dan

Amerika. British diasingkan dengan

Perancis pada tahun 1960an. Kunjungan

sang Ratu ke bekas negeri jajahan tersebut

adalah untuk menyusun kekuatan dengan

adanya sokongan dari negara-negara

bekas jajahannya. Maka, ia berusaha

menarik simpati negara-negara jajahannya

dengan ungkapan yang simpatik.. Maka,

waspadalah kepada negara penjajah,

sebab penjajah adalah penjajah. Tidak

akan pernah menjadi teman atau sahabat

yang sejati. Ingat, Britishlah yang

menghancurkan khilafah Islam di Turki,

pada 3 Mac 1924.

C.I.A Mengajar Polis Palestina Cara Menyiasat

(New York Times: 5/3/98) Sumber rasmi

kerajaan Amerika Syarikat mengatakan,

bahawa C.I.A. masih melatih pasukan

keamanan dalam pasukan Polis Palestin

untuk melakukan tugas-tugas penyiasatan,

mengumpulkan maklumat, melakukan

investigation serta teknik-teknik

penyiasan yang lain.

Sumber rasmi tersebut juga menyatakan,

bahawa orang Israel yang berada di C.I.A.

juga mengajari bagaimana cara memerangi

aktiviti teroris dan aktiviti rahasia. Mereka

mengajari orang khas dalam pasukan

keamanaa Palestin tersebut, sejak tahun

1996 di USA hingga mulai dari taraf

menengah (intermidiate) hingga tinggi

(advance). Tokoh F.B.I yang bekerja di

C.I.A. yang bertugas untuk menangani

teroris juga membantu didalam melatih

orang-orang Palestin tersebut.

Menurut laporan tersebut, tujuan mereka

ini dilatih adalah: Pertama, untuk

meningkatkan kemampuan pasukan

keamanaan Palestin serta

menyempurnakan kemampuan pasukan

tersebut untuk mengetahui

kelompok-kelompok teroris serta

menangkap orang-orang yang disyaki

dalam kelompok tersebut. Komentar

mereka, bahawa pasukan tersebut telah

berhasil mencapai tujuan pertama ini

dengan gemilang. Kedua, meningkatkan

kepercayaan pemerintah Israel kepada

pemerintah Palestin.

Latihan tersebut dilakukan sebagai

program bersama antara C.IA., pasukan

keamanan Palestin dengan Mossad. Yang

menjadi perantara terjadinya program

tersebut adalah ketua pengarah C.I.A.

yang berada di Israel, yang melakukan

usaha untuk memerangi terorisme yang

dilakukan oleh organisasi perlawanan

Islam, seperti HAMAS, serta

meningkatkan usaha untuk melakukan

perdamaian di wilayah tersebut.

Allah halang kafir Quraisy bunuh Nabi Muhammad

IBNU Ishaq berkata: “Suatu hari tatkala orang kafir Quraisy mengetahui hijrah Nabi dan mengerti sesungguhnya akan ada orang yang menjadi sahabat Rasulullah, mereka menjadi takut Nabi akan menyerang mereka. Lalu mereka pun berkumpul dalam Darun Nadwah, iaitu rumah Qushayyi bin Kilab.


Rumah itu dinamakan demikian kerana ia menjadi tempat berkumpul orang yang hendak mengadakan rundingan. Orang Quraisy pada masa itu tidak akan membuat sesuatu keputusan tanpa mengadakan mesyuarat. Untuk memasuki Darun Nadwah, seseorang mestilah orang Quraisy dan berumur kurang daripada 40 tahun.

Mereka mengadakan mesyuarat pada Sabtu dan antara yang turut sama ialah Abu Jahal. Mereka memilih Sabtu kerana menganggap hari itu ialah hari ‘makar’ atau hari tipu daya.

Pada masa hendak memulakan mesyuarat itu, datanglah Iblis dengan menyerupai seorang tua berbangsa Najd dan dia berdiri di muka pintu. Rupanya seperti seorang tua yang agung dan dia memakai ‘batt’ iaitu pakaian jubah tebal atau pakaian ulama besar yang diperbuat daripada sutera.

Melihatkan orang tua itu, mereka pun bertanya: “Tuan sheikh ini berasal dari mana?” Iblis menjawab: “Saya berasal dari Najd, saya datang selepas mendengar apa yang hendak kamu putuskan dan kedatangan saya adalah untuk memberi nasihat.”

Lalu mereka mengizinkan Iblis masuk. Mereka memulakan mesyuarat dengan tajuk penting iaitu mengenai hijrah Rasulullah.

Ada riwayat menyatakan jumlah yang hadir ialah 100 orang dan ada pula menyatakan 15 orang saja. Ketika mesyuarat bersidang, Aswaad bin Rabiah bin Amr Al-Amiri berkata: “Kita usir dia dari muka bumi kita dan kita buang dia dari negeri kita, kita tidak usah pedulikan ke mana dia hendak pergi.”

Iblis berkata: “Ini bukan pendapat bijak. Tidakkah kamu tahu kebaikan dan budi bahasanya, kemanisan tutur katanya menguasai hati tokoh dengan apa yang dia bawa. Jika kamu lakukan itu, saya tidak gembira kerana dia akan mendapat tempat dalam segolongan bangsa Arab.

“Dia akan dapat menguasai mereka dengan langkah yang kamu akan ambil ini dan mereka akan mengikutinya dalam memerangi kamu. Muhammad akan berjalan menuju kepada kamu bersama mereka dan akhirnya merampas kuasa dari tangan kamu.”

Mendengar kata-kata Iblis yang bertopengkan wajah orang tua berbangsa Najd itu, maka Abu Jahal bangun sambil berkata: “Sesungguhnya aku mempunyai pendapat. Bagaimana jika kita mengambil beberapa pemuda daripada setiap suku yang gagah berani kemudian kita berikan mereka seorang sebilah pedang tajam dan kita suruh mereka menyerbu Muhammad serta menetaknya beramai-ramai.

“Dengan ini Muhammad dapat dihapuskan dan kita akan aman daripadanya.”

Mendengar pendapat Abu Jahal, Iblis berkata: “Itu adalah pendapat yang baik.” Ia dipersetujui semua yang hadir dan kata sepakat untuk membunuh Rasulullah diterima.

Jibril datang kepada Rasulullah dan berkata: “Janganlah ka-mu bermalam di sini pada hari ini dengan pakaian yang biasa kamu pakai untuk tidur.”

Pada waktu malam, kumpulan pemuda daripada suku Arab menghampiri tempat tinggal Nabi dan mengintai untuk memastikan Rasulullah sudah tidur tetapi sebenarnya Baginda memerintahkan Ali tidur di tempatnya dan menyelimutkan Ali dengan selimut hijau kepunyaan Baginda.

Diriwayatkan selimut itulah yang digunakan Rasulullah pada waktu menghadiri solat Jumaat dan dua hari raya selepas kejadian berkenaan.

Ali adalah orang pertama menjualkan dirinya kepada Allah semata-mata untuk menyelamatkan Rasulullah.

Selepas itu, Rasulullah keluar dari rumah dan lalu di hadapan mereka. Ketika itu, Allah mencabut penglihatan mereka supaya tidak dapat melihat Baginda. Sambil berjalan Rasulullah menaburkan debu yang ada di tangannya ke atas kepala mereka sambil membaca firman Allah: “Ya siin…” hingga kepada ayat yang berbunyi: “Lalu kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” – (Surah Ya Siin, ayat 9).

Kemudian Rasulullah meninggalkan tempat itu. Tidak lama kemudian datang seseorang sambil bertanya kepada mereka yang sedang menunggu di situ: “Apakah yang kamu semua tunggu?”

Salah seorang daripada mereka berkata: “Kami menunggu Muhammad.”

Orang itu berkata lagi: “Sesungguhnya Allah menggagalkan kamu semua, sebenarnya Muhammad sudah pun keluar ke tempat yang ditujui dan setiap orang dari kamu ditaburi debu di atas kepala.”

Mendengar kata-kata orang itu, mereka terus menyerbu masuk dan pergi kepada orang yang sedang tidur. Apabila dibuka saja kain selimut itu lalu mereka berkata: “Sesungguhnya yang tidur dan memakai selimut ini bukanlah Muhammad.”

Kisah orang kafir hendak menangkap dan hendak membunuh Rasulullah ada difirmankan oleh Allah dalam surah An-Anfal, ayat 30.

Barat curigai negara Islam kuasai teknologi nuklear

Oleh Roslan Saludin

BUAT sekalian kalinya, tangan tersembunyi yang menjadi dalang dan tok selampit di belakang tabir kepemimpinan pentadbiran Presiden George W Bush di Amerika mempersembahkan wayang terbaru mereka dengan mengaitkan Malaysia dengan perdagangan haram bahan membuat senjata nuklear yang membabitkan sindiket antarabangsa.


Bagi rakyat Malaysia yang sedia maklum dengan pendirian negara berhubung isu ‘mencegah penularan’ pasti terkejut dengan dakwaan itu yang cuba mengaitkan nama sebuah syarikat Malaysia yang dikatakan mempunyai kaitan dengan rangkaian penularan nuklear yang diketuai Dr Abdul Qadeer Khan dari Pakistan.

Kemelut yang mengheret nama Malaysia menimbulkan tanda tanya sama ada ia adalah percubaan untuk mencetuskan satu lagi gerak halus dan strategik bagi meminggirkan Malaysia atau sebagai justifikasi sekatan ekonomi dan perhubungan seperti yang pernah negara kuasa besar lakukan terhadap Libya, Iraq, Iran dan Korea Utara.

Sungguhpun begitu, masih terlalu awal untuk kita memperkatakan mengenai apa yang sebenarnya berlaku di sebalik drama terbaru ini walaupun kerajaan berjaya memperbetulkan fakta yang cuba dipaparkan oleh Amerika Syarikat, negara yang mengeluarkan lebih separuh filem dunia.

Berdasarkan peristiwa semasa, Iraq berjaya dilakonkan sebagai negara yang memiliki senjata pemusnah besar (WMD) dan senjata nuklear serta disensasikan pula dengan adegan pembabitan rejim Saddam Hussin dengan rangkaian keganasan Osama bin Laden, hingga akhirnya menyebabkan Iraq diserang.

Negara itu berjaya ditakluki dan kini sedang dilapah kekayaan minyaknya. Tidak sukar bagi kita untuk melihat perkara ini sebagai satu keadaan yang dicipta pihak tertentu yang sebenarnya hanya mahu melihat penguasaan mutlak ekonomi, politik dan strategik di Asia Barat oleh kuasa besar.

Berbalik kepada tuduhan yang direka dan dicetuskan sumber perisikan Amerika Syarikat dan Eropah, ia dihebahkan secara meluas oleh media yang cuba mengaitkan sebuah syarikat Malaysia yang dikatakan mengeluarkan komponen sesalur besi pengkayaan uranium yang digunakan untuk penghasilan senjata nuklear.

Kaitan syarikat terbabit dibuat berdasarkan kepada penemuan yang dibuat oleh pihak berkuasa Itali terhadap penghantaran (konsainan) barangan yang sedang dalam perjalanan menuju ke Libya.

Penemuan itu menyebabkan Pengarah Agensi Perisikan Pusat (CIA), George Tenet, dengan segera menganggap syarikat Malaysia itu sebagai sebuah kilang pengeluaran terbesar komponen berkenaan.

Agak aneh apabila media massa Barat yang melaporkan insiden ini lebih memberi perhatian kepada kaitan pemilik syarikat dengan pemimpin negara. Mungkin untuk menarik minat pembaca terhadap isu berkenaan atau lebih jauh lagi untuk mengaitkan serta mengheret kepemimpinan kerajaan Malaysia dengan isu penularan nuklear antarabangsa.

Perdana Menteri sendiri menyatakan dengan tegas bahawa kita tidak terbabit dalam perkara berkenaan dan mengarahkan supaya siasatan segera dilakukan. Selepas siasatan dijalankan, pihak berkuasa mendapati apa yang berlaku adalah sesuatu yang dibenarkan oleh undang-undang dan dibuat berdasarkan sifatnya untuk memenuhi satu kontrak perniagaan yang telus.

Pendirian kerajaan amat jelas dalam hal ini dan kita komited kepada perjanjian Perlucutan Senjata Nuklear (NPT) yang ditandatangani oleh Malaysia pada 1968 dan disahkan pada 1970.

Senario itu menjurus kepada analisis insiden berkenaan andaian yang boleh dibuat mengenai betapa besarnya peranan yang dimainkan oleh tangan yang tersembunyi iaitu mereka yang bertopengkan institusi perisikan, pelobi atau badan pemantau bebas serta dibantu pula oleh media antarabangsa.

Mereka ingin melihat sejauh mana sesebuah negara seperti Malaysia boleh dikuasai dan menjadi lemah sebagaimana yang mereka lakukan ke atas Iraq, Afghanistan, Libya dan banyak lagi negara dunia ketiga. Alasannya adalah jelas iaitu melalui penguasaan ini, negara Barat mampu terus menjadi jaguh ekonomi, politik dan strategik global.

Jika diteliti, teknologi nuklear adalah teknologi yang diterima umum sebagai sumber kuasa bahan api alternatif kepada minyak dan arang batu yang murah.

Tahap kematangan teknologi nuklear lebih tinggi berbanding sumber tenaga alternatif lain dan berguna serta strategik dalam keadaan krisis tenaga. Selain penggunaannya yang meluas dalam bidang perubatan, sains dan kegunaan industri hari ini, sesiapa saja yang mempunyai atau menguasai teknologi ini sukar digugat kedudukan mereka.

Jika hipotesis sedemikian tidak benar, kenapakah baru-baru ini Presiden Bush menyarankan supaya cuma sesetengah negara yang akan dibenarkan untuk membangunkan dan berdagang barangan berasaskan teknologi nuklear dan apakah muslihat di sebalik saranan sedemikian jika tidak untuk menjadikannya sebagai hak eksklusif mereka.

Bukankah ia bermakna negara seperti Malaysia akan dihadkan kemampuan mereka untuk membangunkan ekonomi dan negara mereka. Mungkin juga ia satu kaedah yang terbaik bagi memastikan supaya Malaysia akan sentiasa menjadi pengguna barangan dan produk mereka secara berterusan.

Untuk mengaitkan isu ini, lihatlah apa yang menyebabkan negara Barat bimbang penguasaan Russia di Afghanistan pada dekad 80-an dan 90-an yang kemudian diikuti dengan penaklukan ke atas negara terbabit atas alasan menghalau pengganas Taliban dan Osama bin Laden.

Sebenarnya penaklukan itu dilakukan dengan hasrat untuk menguasai simpanan uranium dan bahan bernilai tinggi yang masih tersorok di bumi Afghanistan.

Afghanistan walaupun landskap buminya berbatu dan bergunung-ganang, negara itu terbabit dengan peperangan yang panjang, selama lebih 20 tahun dan dilaporkan mempunyai simpanan uranium, tembaga, besi dan sumber asli lain yang digunakan dalam industri penerbangan dan penerokaan angkasa lepas.

Bukan menjadi rahsia lagi Russia berjaya menemui bahan itu di wilayah selatan Helmand dan Dataran Pamir di utara Afghanistan ketika menguasai negara itu satu ketika dulu. Hakikatnya ialah penguasaan ke atas Afghanistan membolehkan negara Barat menguasai sumber kekayaan daripada bumi negara itu dan sekali gus meletakkan Barat terkehadapan dalam penguasaan ekonomi dan strategik dunia.

Amerika Syarikat dan negara Barat lain sebenarnya bimbang sekiranya gabungan Afghanistan dengan negara jirannya yang kaya dengan sumber bumi seperti Iraq, Libya dan Syria yang mempunyai simpanan minyak terbesar dunia serta Pakistan yang mempunyai teknologi dan hasrat politik berlaku.

Gabungan itu jika dibiarkan mampu menggugat kedudukan geo-politik dan senario kuasa dalam percaturan politik antarabangsa, justeru ia perlu dikekang.

Ternyata strategi Barat menguasai Afghanistan dan Iraq kini berlaku, Libya pula mula akur kepada tekanan. Kini Syria dan Iran pula menjadi sasaran seterusnya.

Apakah Malaysia juga tersenarai sebagai negara yang perlu dineutralkan selepas ini dan bagaimana pula dengan kebarangkalian negara kita yang stabil dari segi ekonomi dan politik mampu menggugat kerakusan Barat untuk menguasai dunia?

Dalam hal ini, negara yang tidak mempunyai kemampuan nuklear seharusnya mencurigai Barat dan Amerika Syarikat sebagai mana mereka mencurigai kemampuan kita untuk menyaingi mereka. Kenyataan bahawa tenaga nuklear mampu dijadikan aset untuk membangunkan negara dan juga senjata pemusnah tidak memberi jaminan kepada mana-mana negara di dunia bahawa ia tidak akan disalah guna.

Dalam keadaan tertentu, sebarang kemungkinan pasti berlaku. Menggunakan teknologi nuklear untuk memeras dan memaksa negara lain supaya tunduk juga adalah sesuatu yang salah, tidak bermoral dan menjurus kepada kemusnahan.

Sejarah yang tidak boleh dipadamkan mencatatkan bahawa Amerika Syarikat adalah satu-satunya negara yang meledakkan bom atom di Jepun pada 1945. Mungkinkah sejarah akan berulang selepas ini, hanya masa yang akan menentukannya.

l Penulis adalah Fello Pusat Syariah, Undang-Undang dan Sains Politik Ikim.

Malaikat diutus uji kejujuran hakim

LAITH bin Saad berkata, bersumber daripada Ismail bin Nafi daripada seseorang yang bercerita kepadanya, bahawa ada dua orang bersaudara yang kaya raya daripada keturunan Bani Israil, yang mana seorang daripadanya adalah soleh dan seorang lagi berakhlak buruk.


Pada suatu hari, orang soleh itu ditimpa musibah. Barang dagangannya iaitu perhiasan, pakaian dan modal binasa kecuali isteri, seorang perempuan tercantik di kalangan kaumnya ketika itu.

Dalam keadaan menderita dia berjumpa saudaranya yang berakhlak buruk sambil berkata: “Wahai saudaraku, berilah aku pekerjaan. Biarlah engkau jadikan aku penjaga anjing pelihara dan engkau beri makan aku seperti mereka. Yang penting aku dan isteriku dapat makan.”

“Mudah saja bagiku untuk memberikan pertolongan kepadamu asalkan kamu bersedia menyerahkan isterimu yang cantik itu untuk menemani aku tidur barang semalam. Engkau akan aku berikan wang seratus dinar,” jawab saudaranya.

Mendengar jawapan itu, dia terus pulang dan menceritakan perkara itu kepada isterinya.

Isterinya berkata: “Gila! Sungguh kamu keterlaluan dan tidak sabar menerima musibah yang menimpa hingga engkau bersedia datang kepada saudaramu padahal kamu mengetahui kelakuannya. Suamiku, lebih baik kita tolak keinginannya kerana aku tidak sudi. Allah akan membukakan jalan yang lebih baik bagi kita.”

Orang soleh itu berfikir mencari ikhtiar. Dia memutuskan untuk menjual air minuman dan daripada hasil itu, keluarganya mendapat rezeki.

Pada suatu hari ketika sedang berniaga, bekas tempat menyimpan air minuman jatuh dan pecah. Selepas mengetahui hal itu, dia duduk di depan pintu kerana ragu-ragu untuk masuk ke dalam rumah menemui isterinya tanpa membawa hasil. Akhirnya, dia memutuskan meninggalkan tempat itu.

Dengan perlahan-lahan dia menuju ke sungai untuk mandi, kemudian solat dan bermunajat kepada Allah. Dia berdoa: “Ya Allah, bila ada pada sisi-Mu bahagian aku di akhirat, maka segeralah Engkau datangkan bahagian itu ke dunia ini sebagai rezeki bagiku dan isteriku.”

Tiada lama kemudian, datanglah awan berarak mengelilinginya. Daripada gumpalan awan itu, jatuhlah sebutir mutiara yang tidak termasuk dalam kategori benda dunia. Dia bersyukur dikurniakan mutiara itu dan pergi ke rumah saudaranya untuk menceritakan pengalamannya itu.

Saudaranya yang berakhlak buruk itu berkata: “Izinkan aku membelinya pada harga tiga ribu dinar.”

Jawabnya, “Nanti dulu, aku akan bincangkan ia dengan isteriku.”

Orang soleh itu segera menemui isterinya. Dia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan keinginan saudaranya untuk membeli mutiara berkenaan.

“Perbuatan kamu tidak baik kerana tidak sabar menerima musibah Allah. Kamu meminta untuk menyegerakan simpanan abadi yang akan kita nikmati di alam baka. Aku tidak rela dan kembalikan barang itu serta lakukan apa yang sudah kamu lakukan tadi dan berdoalah agar Allah berkenan mengambil kembali mutiara itu,” kata isterinya.

Orang soleh itu memenuhi permintaan isterinya. Selepas itu, dia pulang dengan gelisah kerana tidak membawa hasil untuk isteri tersayang. Ketika kekalutan menimpanya, tiba-tiba datang seorang petani.

Petani itu berkata: “Adakah tuan boleh menunjukkan kepadaku orang yang jujur di daerah ini yang dapat memegang amanah. Aku akan memberinya benih tumbuhan dan beberapa anak lembu hingga dia dapat menyara hidupnya, memberi nafkah kepada keluarga, mampu memberi sedekah dan membeli pakaian.

“Insya-Allah dia akan dapat memenuhi segala keperluannya tetapi sesudah itu, pada waktu yang ditentukan kelak aku akan datang untuk mengambil bahagian aku,” kata lelaki itu.

Mendengar kata-kata petani itu, dia tertarik. Dia menjawab: “Demi Allah, barangkali akulah orang yang dapat memegang amanah itu. Aku ingin berusaha menjadi orang jujur dan berlaku soleh seperti yang anda kehendaki jika anda memberikan amanah itu kepadaku.”

“Baiklah, uruskan benih dan lembu ini. Kalau kamu mengetahui caranya, daripada lembu ini akan lahir seekor anak kuda,” kata petani itu.

Selepas itu, orang soleh itu mula bekerja, bercucuk tanam dan memelihara lembu hingga hasilnya melimpah ruah dan lembu pula membiak dengan cepat. Akhirnya, selepas beberapa tahun, kekayaannya mula pulih kembali.

Tidak lama kemudian, petani itu datang sambil bertanya: “Kenalkah kamu kepada aku?”

“Tidak,” jawab orang soleh itu.

“Benarkah? Mungkin ini petanda awal ketidakjujuran dan pengkhianatan kamu kepadaku,” kata petani itu.

“Janganlah anda berbicara sesuka hati. Berkatalah yang sedap didengar supaya Allah merahmati kamu,” kata orang soleh itu.

“Maafkan aku. Aku adalah orang yang memberikan amanah kepadamu, yang punya benih dan lembu dulu. Apa yang sudah kamu lakukan dengan amanah yang aku berikan itu?” kata lelaki itu.

Orang soleh itu berkata: “Tuan lihat bukit dan tanah yang terbentang luas. Itulah bahagian kamu.”

Petani itu berkata: “Lalu bagaimana dengan kuda yang dilahirkan lembu itu?”

Orang soleh itu menjawab: “Demi Allah, tuan. Tidak mungkin ada di dunia ini lembu beranak kuda. Sekiranya apa yang tuan katakan itu benar, tentunya tuan melihat di sini kuda berkeliaran.”

Petani itu berkata: “Kamu mula khianat dan tidak jujur. Ini petanda bahaya besar. Aku akan menuntut kuda itu daripada kamu. Kalau dirimu tidak jujur, akan aku adukan kepada hakim Bani Israil. Sila pilih mana hakim yang kamu sukai supaya ia dapat diselesaikan.”

Maka berangkatlah mereka menghadap hakim Bani Israil. Selepas sampai, orang soleh itu mengemukakan masalah kerana dituduh pengkhianat.

Dalam diam-diam, petani itu memperlihatkan barang emas untuk menyuap hakim. Maka hakim pun berkata: “Tidak. kamu harus tetap memenuhi ketentuan itu. Berikan kuda berkenaan kepada pemiliknya.”

Orang soleh itu berkata: “Hakim itu memenangkan petani itu dalam perkara ini.”

Mereka mendatangi hakim lain dan beberapa lagi seterusnya. Namun, semua hakim memenangkan petani yang memiliki amanah kerana dirasuah dengan barang emas.

Petani itu berkata: “Kalau begitu, mari kita menghadap Nabi Daud.”

Sebelum mereka bertemu dengan Nabi Daud, mereka berjumpa dengan Nabi Sulaiman bin Daud di istana dan mereka mengadukan permasalahannya.

“Lembu aku melahirkan seekor kuda. Ketika aku bermaksud hendak mengambilnya, dia menyembunyikan dan mengatakan tidak ada,” kata petani itu.

Mendengar pergaduhan ini, Nabi Sulaiman berkata: “Betulkah begitu lembu kamu melahirkan? Sekarang taburkan padi ini di sungai, bila dia tumbuh, berikan kepadanya!”

Orang soleh itu bertanya dengan hairan kepada Nabi Sulaiman: “Apakah benih padi ini dapat tumbuh di sungai?”

Nabi Sulaiman berkata: “Sekarang, pulanglah kamu wahai orang soleh. Kamu adalah benar dan jujur dalam memegang amanah.”

Petani itu berkata: “Sesungguhnya aku adalah malaikat yang diutuskan Allah untuk menguji golongan hakim. Allah membutakan pandangan mereka. Jika kamu lihat dan perhatikan sifat mereka, nescaya kamu akan tahu siapa mereka sebenarnya. Tidak lebih seperti manusia yang bertopengkan syaitan. Sekarang, kekayaan itu adalah milik kamu semuanya. Aku tidak minta sedikit pun.”

Rasulullah layan isteri dengan baik

SEPANJANG kehidupan Rasulullah saw, Baginda mempamerkan satu budaya kepemimpinan yang terbaik dan cemerlang dalam semua aspek kehidupan.


Dalam kehidupan berkeluarga, umat Islam wajar mencontohi Baginda. Ia adalah satu amalan yang baik dan akan mendapat ganjaran hebat pada hari akhirat.

Perkara ini dijelaskan Allah swt dalam al-Quran yang bermaksud: “Demi sesungguhnya, adalah bagi diri Rasulullah itu satu contoh ikutan yang baik, iaitu bagi orang yang sentiasa ingin mengharapkan keredaan Allah dan balasan baik di hari akhirat, serta ia pula banyak menyebut dan mengingati nama Allah (dalam masa susah dan senang).” – (Surah al-Ahzab, ayat 21).

Kejayaan kepemimpinan dalam sesebuah keluarga dapat dilihat melalui kehidupan seharian ahli keluarga berkenaan. Dewasa ini, segelintir keluarga Islam berhadapan dengan pelbagai masalah seperti perpecahan, perceraian suami isteri, sumbang mahram dan penderaan yang memalukan dan menjatuhkan imej.

Keluarga yang sepatutnya melindungi dan memberi ketenangan kepada ahlinya tidak lagi dapat memenuhi fungsi berkenaan. Antara faktor yang menyumbang kepada berlakunya perkara itu ialah ahli keluarga khususnya ketua keluarga tidak lagi mengamalkan ajaran Islam sebenar terutama berkaitan dengan akhlak.

Sebagai manusia biasa, sepanjang usia Baginda, Rasulullah pernah menjadi anak, suami, bapa dan datuk. Begitulah juga dengan kebanyakan daripada kita.

Pada setiap fungsi ini, Rasulullah menunjukkan contoh terbaik yang boleh kita ikuti. Antaranya ialah kecemerlangan Rasulullah sebagai suami yang menghargai isteri.

Sebagai suami, Baginda begitu menghargai isteri-isterinya dengan menunjukkan sifat bertimbang rasa, hormat dan sabar tanpa pernah sekalipun mengasari mereka bahkan dalam menghadapi kerenah isteri, Baginda menanganinya dengan penuh pengertian dan kemaafan. Baginda tidak keberatan membantu melakukan kerja rumah seperti menjahit pakaian, memerah susu kambing dan apabila Baginda mahu makan, Baginda makan apa-apa saja yang terhidang.

Al-Hafizh Ibnu Hajar pernah berkata, Saidatina Aisyah ada meriwayatkan daripada Ahmad dan Ibnu Hibban yang bermaksud: “Baginda (nabi) yang menjahit pakaiannya, menjahit sepatu sendiri dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum lelaki di rumah mereka.”

Sewaktu Rasulullah berkahwin dengan Aisyah, umur Aishah baru enam tahun sedangkan umur Baginda sudah mencecah 55 tahun. Namun ada masanya, Baginda berlagak seperti kawan sepermainan dan turut sama berlumba lari. Kadang-kadang Aishah yang menang dan ada kalanya Rasulullah yang menang dalam perlumbaan itu.

Ini bermakna sewaktu bersama isteri-isterinya, ada kalanya Rasulullah melayan kehendak isterinya tanpa menjatuhkan martabatnya sebagai seorang suami yang wajib dihormati isteri. Ini menunjukkan pada masa tertentu, suami mesti pandai mengambil hati isteri, jangan bersikap kasar atau garang sehingga sanggup mencederakan isteri.

ALLAH PENCIPTA ALAM INI ( AL-KHALIQ )

Firman Allah Taala dalam Surah Ibrahim, ayat 11:

(( ))

Maksudnya: Adakah sebarang keraguan mengenai (kewujudan) Allah???.

Jawapannya sudah tentu tiada keraguan mengenai kewujudan Allah.

Perkara yang utama yang wajib bagi setiap orang yang mukallaf ialah mengetahui dan beriman kepada Allah Taala, bahawa Dialah pencipta (al-khaliq) segala yang ada ini, yang mentadbir (al-mudabbir)segala alam. Ini kerana sekiranya kita meneliti segala ciptaan, sudah pasti kita mengetahui dan mengakui bahawa pasti ada penciptanya.

DALIL AKAL ( LOGIK AKAL) MENGENAI KEWUJUDAN ALLAH:

Setiap orang yang berakal sempurna akan mengatakan sebarang tulisan sudah pasti ada penulisnya, setiap binaan sudah pasti ada pembinanya.

Oleh itu alam yang luas terbentang ini yang di dalamnya terdapat segala kehidupan dan segala kejadian yang berbagai jenis dan spesis, berbagai bentuk dan rupa, berbagai warna dan sifat, peredaran malam dan siang, perubahan cuaca dan iklim, sudah pasti ada pencipta yang bersifat Maha Berkuasa, Maha Mengetahui, Maha Berkehendak iaitu Allah Taala.

Maka Allah tidak menyerupai segala kejadian yang ada di langit mahupun yang ada di bumi kerana Allah adalah Tuhan, begitu juga segala kejadian tidak menyerupai Allah kerana kejadian adalah makhluk ciptaan Tuhan. Mustahil Tuhan sama dengan makhluk, begitu juga mustahil makhluk sama dengan Tuhan.

Akal yang sempurna sudah pasti membenarkan dan menetapkan bahawa ada sesuatu atau terjadi sesuatu sudah pasti ada yang membuatnya atau melakukannya. Mustahil ada sesuatu atau berlaku sesuatu dengan sendirinya. Hanya orang yang gila atau tidak waras sahaja akan mengatakan ada sesuatu atau terjadi sesuatu tanpa ada yang melakukannya.

-Tidak dapat diterima yang membuat atau melakukan adalah tabie kerana tabie tiada kehendak, bagaimana boleh ciptakan?

-Tidak dapat diterima sesuatu itu menciptakan atau menjadikan dirinya sendiri.

-Tidak dapat diterima sesuatu yang dijadikan seperti dirinya atau menyerupainya.

Kanak-kanak sebagai contohnya dilahirkan kecil, tidak dapat bercakap dan berjalan. Kemudian berkembang maka berubah kepada boleh bercakap, berjalan dan sebagainya. Kemudian membesar menjadi dewasa, tua seterusnya mati. Jika diteliti, siapakah yang menjadikan proses tersebut yang mengubahkan dari satu keadaan ke satu keadaan? Maka jawapannya sudah tentu Allah yang menjadikan dan mengubahnya dari satu keadaan kepada keadaan yang lain. Tidak mungkin atau mustahil manusia itu sendiri menjadikan dirinya dengan bentuk tubuh badan atau bersifat begini atau begitu.

KISAH SEORANG LELAKI YANG INGKAR KEWUJUDAN ALLAH

Dikisahkan pada suatu masa dahulu ada seorang lelaki yang ingkar kewujudan Allah menemui salah seorang khalifah. Dia berkata kepada khalifah tersebut: “Sesungguhnya ulama di zaman kamu mengatakan bahawa alam ini ada pencipta. Aku bersedia untuk berdebat bagi menetapkan alam ini tiada pencipta”.

Lantas khalifah mengutuskan kepada seorang alim yang agung memberitahu beliau berita tersebut dan menyuruhnya hadir untuk berdebat.

Pada hari yang dijanjikan, orang alim tersebut sengaja datang lewat sedikit dari waktu yang ditetapkan ke majlis perdebatan. Apabila sampai, khalifah menyambut beliau dan mempersilakannya duduk di hadapan majlis. Pada waktu tersebut para hadirin yang terdiri dari kalangan ulama dan orang bangsawan memenuhi majlis.

Lantas lelaki yang ingkar kewujudan Allah bertanya kepada orang alim tersebut: “Kenapa kamu tiba lewat?”, lalu dijawab oleh orang alim : “ Sesungguhnya telah berlaku kepadaku satu perkara yang ajaib menyebabkan aku lewat. Sebenarnya rumahku di seberang Sungai Dijlah. Apabila aku hendak menyeberangi sungai tersebut aku dapati tiada sampan kecuali yang telah usang yang telah pecah kayu-kayunya. Tiba-tiba kayu-kayu tersebut bercantum kembali menjadi sampan tanpa ada tukang kayu atau pekerja yang memulihkannya,boleh dinaiki tanpa tenggelam. Lalu aku pun naiklah dan menyeberangi sungai dan sampailah ke sini”.

Maka lelaki tersebut menjawab secara mengejek: “ Dengarlah kamu semua para hadirin apa yang dikatakan oleh orang alim kamu ini. Pernahkah kamu mendengar kata-kata yang lebih bohong dari ini? Bagaimanakah ada sampan tanpa tukang kayu yang membuatnya? Ini memang pembohongan yang nyata”.

Maka ejekan tersebut dibalas oleh orang alim dengan tegas dan keras: “ Wahai kafir!!! Jika mustahil ada sampan tanpa ada yang membuatnya dan tiada tukang kayu, maka bagaimanakah kamu mengatakan adanya alam ini tanpa pencipta???”.

Lantas terdiam si kafir tersebut dan matilah hujahnya dengan kata-katanya sendiri. Lalu khalifah mengambil tindakan dan mengenakan hukuman ke atasnya kerana beriktikad yang kafir.

Al-Quran Itu Kekasih

Ini artikel dari laman web Dewan Perwakilan Mahasiswa Syubro.

Syubro adalah salah satu daripada cawangan Universiti Al Azhar yg dikhususkan utk pengajian tahfiz al Quran dan qiraat. Dari sini lahir tokoh2 yg terkenal di Malaysia seperti Ustaz Taib Azamuddin, Ustaz Hassan Mahmood al hafiz dan ramai lagi…

Al-Quran itu KeKasih
———————
Al- Quran itu seumpama kekasih. Mungkin itulah tamsilan mudah untuk menerangkan perkaitan Al-Quran dalam kehidupan kita seharian.
Ternyata, apabila sesuatu itu menjadi kekasih hati kita, maka pelbagai cara kita menzahirkan rasa cinta yang begitu mendalam apa
bentuk dan cara sekalipun. Dan sememangnya jika kita bercinta dengan sesuatu itu mengharap cinta kita tidak bertepuk sebelah tangan!
Dari itu, marilah kita merenung sejauh mana hati kita benar-benar mencintai Al-Qurankalam Allah Yang Maha Agung.

1. Kekasih yang terlalu istimewa
—————————–
Sekeping warkah daripada orang yang kita cintai, pasti akan ditatap sepuas-puasnya malah berulang kali dibaca. Namun, hakikatnya
akan timbul juga rasa jemu kelak. Tidakkah ia hanya sekadar bahasa yang tidak memiliki sebarang keistemewaan?
Berbanding Al-Quran, biarpun kita membacanya berulangkali, tidak sedikit pun kita akan merasa jemu apatah lagi membencinya.
Allah berfirman ; “(Iaitu) orang-orang yang beriman dan tenang tenteram hati mereka dengan ‘zikrullah’. Ketahuilah dengan
‘zikrullah’ itu , tenang tenteramlah hati manusia”
(Surah Ar-Rad:28 )
Malah dijanjikan oleh Allah sesiapa yang ikhlas mengharap keredhaan Allah.Dengan memperbanyakkan zikrullah (mengingati Allah) maka
dia akan memperolehi ketenangan yang membahagiakan. Dan zikrullah yang paling afdal (terbaik) itu ialah membaca Al-Quran. Seterusnya
Allah SWT juga menyatakan keistemewaan kekasih ini iaitu Allah SWT menurunkan dengan sebaik-baiknya perkataan sebagai firman-Nya
dalam surah az-Zumar, ayat 23 ; “Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan iaitu Kitab Suci Al-Quran yang bersamaan isi
kandugannya antara satu dengan yang lain (tentang benarnya dan indahnya), yang berulang-ulang (keterangannya, dengan pelbagai
cara);yang (oleh kerana mendengarnya atau membacanya) kulit badan orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka menjadi seram; kemudian
kulit badan mereka menjadi lembut serta tenang tenteram hati mereka menerima ajaran dan rahmat Allah.
Kitab suci itulah hidayah petunjuk Allah; Allah memberi hidayah petunjuk dengan Al-Quran itu kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya
(menurut undang-undang peraturan-Nya);dan(ingatlah) sesiapa yang disesatkan Allah (disebabkan pilihannya yang salah), maka tidak ada
sesiapa pun yang dapat memberi hidayah petunjuk kepadanya”.

2. Kekasih yang perlu dimuliakan
—————————–
Al-Quran juga merupakan kekasih yang perlu dimuliakan kerana sifatnya yang berkat dan banyak manfaatnya. Dengan itu Allah telah
menyeru kita agar mematuhi kandungan kekasih itu kerana dengan itu kita akan memperolehi keberkatan daripada-Nya,Firman Allah
bermaksud: “Dan ini sebuah kitab (al-Quran) yang Kami turunkan, yang ada berkatnya (banyak manfaatnya), Oleh itu, hendaklah kamu
menurutnya; dan bertakwalah (kepada Allah), mudah-mudahan kamu beroleh rahmat.”
( Surah Al-An’am :155 )

Malah Allah juga menggariskan adab-adab bagaimana memuliakan kekasih kita ini. Antaranya ialah apabila kita mendengar bacaan
al-Quran, maka kita perlu mendengar dan berdiam diri, sebagaimana ingatan Allah dalam surah al-A’raf, ayat 204,maksudnya: “Dan
apabila al-Quran itu dibacakan, maka dengarlah akan dia serta diamlah (dengan sebulat-bulat ingatan untuk mendengarnya), supaya kamu
beroleh rahmat”.

3. Kekasih yang setia
——————
Kesetiaan dalam percintaan adalah jaminan kebahagiaan hati. Begitulah juga seandainya kita menjalinkan cinta bersama al-Quran. Namun
begitu, orang yang bercinta dengan al-Quran akan sentiasa mengukur kesetiaan dirinya terhadap al-Quran. Lalu apakah ukurannya?
Bukankah qiamullail itu adalah satu pengukur yang paling relevan? Ini kerana kesukaran untuk menunaikan ibadah pada malam hari
dengan tidur yang sedikit itu menggambarkan pengorbanan.
Maksud firman Allah : “Ahli-ahli Kitab itu tidaklah sama. Antaranya ada golongan yang telah (memeluk Islam dan) tetap (berpegang
kepada Agama Allah yang benar) mereka membaca ayat-ayat Allah (al-Quran) pada waktu malam, semasa mereka sujud (mengerjakan
sembahyang).Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan menyuruh berbuat. Segala pekara yang baik, dan melarang daripada
segala pekara yang salah (buruk dan keji), dan mereka pula segera pada mengerjakan berbagai-bagai kebajikan. Mereka (yang demikian
sifatnya), adalah dari orang-orang yang soleh”.
( Surah Ali Imran, ayat 113-114 )

Malah at-Tabrani meriwayatkan daripada Sahl bin Sa’ad r.a daripada Rasulullah s.a.w, sabda baginda ; “Kemuliaan seorang Mukmin ialah
qiamullail (bangun pada waktu malam untuk beribadat)”
Baginda juga menceritakan tentang kelebihan dan ganjaran yang diperolehi seseorang yang berqiamullail dan membaca al-Quran. Sabda
Baginda: “Sesiapa yang melakukan qiamullail dengan membaca sepuluh ayat, dia tidak tertulis daripada kalangan orang-orang yang
lalai. Sesiapa yang melakukan qiamullail dengan membaca seratus ayat akan ditulis daripada kalangan orang yang beribadat.Sesiapa
yang melakukan qiamullail dengan membaca seribu ayat akan ditulis daripada kalangan orang yang berlaku adil.”
( Riwayat Abu Daud )

4. Kekasih yang perlu dibelai sentiasa
————————————–
Kekasih yang perlukan belaian bermaksud kita perlu menjaganya dan sentiasa mendampinginya. Dari itu, Rasulullah s.a.w sering memberi
amaran dan memerintahkan agar umatnya menjaga al-Quran dan tidak melupakannya.
Daripada Anas bin Malik r.a katanya, Rasulullah s.a.w bersabda: “Dibentangkan kepadaku pahala umatku, sehingga pahala hasil
perbuatan seseorang yang membuang kotoran daripada masjid. Dibentangkan juga kepadaku dosa-dosa umatku. Aku tidak dapati dosa yang
lebih besar daripada satu surah atau satu ayat yang dikurniakan kepada seseorang kemudian dia melupakan”.
(Riwayat Abu Daud dan at-Tirmizi)

Selain itu, kita membelai kekasih ini dengan sifat kita berlumba-lumba untuk membacanya pagi dan malam malah berasa iri hati dengan
“kegilaan” orang lain membaca Kalamullah itu. Dari Ibnu Umar
meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda: “Hasad (iri hati) itu tidak dibenarkan melainkan dua pekara, seseorang yang
dirahmati Allah dengan bacaan al-Quran dan terus berada dalam keadaan demikian siang dan malam dan seorang lagi yang dilimpahkan
dengan harta yang banyak oleh Allah dan dia membelanjakannya siang dan malam”.

Hasad dan iri hati semestinya dilarang oleh Allah. Bagaimanapun ulama mentafsirkan hasad di sini sebagai ‘ghitbah’ yang dimaksudkan
sifat ingin berlumba-lumba. Sifat ini menggambarkan keinginan memperolehi sesuatu sama seperti orang itu dan berlumba-lumba untuk
lebih terhadapan dalam beramal.

Semoga kita akan terus konsisten atau beramal secara berterusan untuk menjaga hubungan baik kita bersama al-Quran. Bukankah dia
kekasih yang membahagiakan?

*********************************************************************

Keutamaan Membaca Al-Quran
—————————
( Petikan dari ‘Keagungan Kitab Al-Quran dan Peminatnya’ oleh Ustaz Abdullah Al-Qari bin Haji Salleh).

1.Ibadat yang paling utama dari segi bacaan, manakala sembahyang sebesar ibadat dari segi gerak laku atau perbuatan.
2.Pahala membaca Al-Quran: 1 huruf 10 kebajikan, dan menurut Ibnu Majah diganda sampai 400 dan menurut Ibnu Al Jauzi diganda 700
kali
3.Balasan satu huruf yang dibaca ialah bidadari di syurga
4.Juga dikatakan balasan sebatang pokok di syurga
5.Pahala membaca satu huruf al-Quran ;-
Dalam sembahyang – 100 kebajikan
Di luar sembahyang berwudhuk 50 kebajikan
Tanpa wudhuk – 10 kebajikan
6.Pembaca al-Quran adalah hartawan dan pahala membaca tidak akan putus mengikut Ibnu Abbas.
7.Untuk selamat daripada api neraka
8.Mendapat kedudukan yang tinggi dan mulia bersama Malaikat.
9.Di hari kiamat, al-Quran menjadi pembela
10.Pembaca akan memperolehi keamanan
11.Membaca sebelum tidur akan mendapat kawalan Malaikat.
12.Pembaca dimasukkan ke dalam golongan Siddiqin.

Wassalam.

AL-QURAN PEMBINA AKHLAK MULIA

Aqidah Mencorakkan Akhlak – Nilai-Nilai Mutlak Dan Relatif – Model Akhlak Al-Quran – Akhlak Terhadap Sesama Islam – Al-Quran Sumber Akhlak Mulia.

KATA-KATA ALUAN

Segala puji-pujian untuk Allah S.W.T. yang menguruskan segala perkara dengan tadbiran-Nya serta menghiaskan manusia dengan ilmu-Nya supaya dengan itu berbezalah antara manusia dengan makhiuk lain yang diciptakan Allah di alam ini.

Akhlak merupakan satu pancaran daripada kemurnian aqidah yang dianuti oleh seseorang insan. akhlak yang balk adalah gambaran daripada aqidah yang benar yang jauh daripada unsur-unsur penyelewengan Akhlak yang buruk pula merupakan racun yang membunuh manusia, yang merosakkan akal fikiran, keaipan yang terbuka serta kehinaan yang jelas menjauhkan seseorang itu dari berhampiran dengan Allah, Tuhan semesta alam.

Justeru itu kedua-dua sifat akhlak ini memerlukan kita mengenainya, bermujahadah untuk mendapatkan akhlak yang balk serta bermuhasabah pula untuk menghindarkan akhlak yang buruk.

Saya berdoa semoga buku kecil ini memberi manfaat kepada para pembaca dalam usaha mengenal akan hati masing-masing, mengenal penyakit-penyakitnya dan terus pula merawatnya demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Kepada penulis buku ini saya juga berdoa kepada Allah S.W.T. agar diberkati usaha beliau dan menerimanya sebagai amalan yang baik lagi mulia.

AL-QURAN PEMBINA AKHLAK MULIA

AKHLAK ialah tingkahlaku yang dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diyakini oleh seseorang dan sikap yang menjadi sebahagian daripada keperibadiannya. Nilai-nilai dan sikap itu pula terpancar daripada konsepsi dan gambarannya terhadap hidup. Dengan perkataan lain, nilai-nilai dan sikap itu terpancar daripada aqidahnya iaitu gambaran tentang kehidupan yang dipegang dan diyakininya

Aqidah yang benar dan gambaran tentang kehidupan yang tepat dan tidak dipengaruhi oleh kepaisuan, khurafat dan falsafah-falsafah serta ajaran yang paisu, akan memancarkan nilai-nilai benar yang murni di dalam hati. Nilai-nilai ini akan mempengaruhi pembentukan sistem akhlak yang mulia. Sebaliknya, jika aqidah yang dianuti dibina di atas kepalsuan dan gambarannya mengenai hidup bercelaru dan dipengaruhi oleh berbagai-bagai fahaman paisu, ia akan memancarkan nilai-nilai buruk di dalam diri dan mempengaruhi pembentukan akhlak yang buruk.

Akhlak yang baik dan akhlak yang buruk, merupakan dua jenis tingkahlaku yang berlawanan dan terpancar daripada dua sistem nilai yang berbeza. Kedua-duanya memberi kesan secara langsung kepada kualiti individu dan masyarakat. lndividu dan masyarakat yang dikuasai dan dianggotai oleh nilai-nilai dan akhlak yang baik akan melahirkan individu dan masyarakat yang sejahtera. Begitulah sebaliknya jika individu dan masyarakat yang dikuasai oleh nilai-nilai dan tingkahlaku yang buruk, akan porak peranda dan kacau bilau. Masyarakat kacau bilau, tidak mungkin dapat membantu tamadun yang murni dan luhur.

Sejarah membuktikan bahawa sesebuah masyarakat itu yang inginkan kejayaan bermula daripada pembinaan sistem nilai yahg kukuh yang dipengaruhi oleh unsur-unsur kebaikan yang terpancar daripada aqidah yang benar. Masyarakat itu runtuh dan tamadunnya hancur disebabkan keruntuhan nilai-nilai dan akhlak yang terbentuk daripadanya. Justeru itu, akhlak mempunyai peranan yang penting di dalam kehidupan dan dalam memelihara kemuliaan insan serta keluhurannya. Martabat manusia akan menurun setaraf haiwan sekiranya akhlak runtuh dan nilai-nilai murni tidak dihormati dan dihayati. Oleh kerana itu Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Sesungguhnya aku diutus untuk melengkapkan akhlak yang mutia. (Riwayat al-Baihaqi)

Para sarjana dan ahli fikir turut mengakui pentingnya akhlak di dalam membina keluhuran peribadi dan tamadun manusia. akhlak yang mulia menjadi penggerak kepada kemajuan dan kesempurnaan hidup. Sebaliknya, akhlak yang buruk menjadi pemusnah yang berkesan dan perosak yang meruntuhkan kemanusiaan serta ketinggian hidup manusia di bumi ini.

Kepentingan akhlak dalam kehidupan dinyatakan dengan jelas dalam. Al-Ouran menerusi berbagai-bagai pendekatan yang meletakkan al-Ouran sebagai sumber pengetahuan mengenai nilai dan akhlak yang paling terang dan jelas. Pendekatan al-Quran dalam menerangkan akhlak yang mulia, bukan pendekatan teoritikal tetapi dalam bentuk konseptual dan penghayatan. akhlak yang mulia dan akhlak yang buruk digambarkan dalam perwatakan manusia, dalam sejarah dan dalam realiti kehidupan manusia semasa, al-Ouran diturunkan.

Al-Quran menggambarkan bagaimana aqidah orang-orang beriman, kelakuan mereka yang mulia dan gambaran kehidupan mereka yang penuh tertib, adil, luhur dan mulia. Berbanding dengan perwatakan orang-orang kafir dan munafiq yang jelek dan merosakkan. Gambaran mengenai akhlak mulia dan akhlak keji begitu jelas dalam perilaku manusia blepanjang sejarah. Al-Quran juga menggambarkan bagaimana perjuangan para rasul untuk menegakkan nilai-niiai mulia dan murni di dalam kehidupan dan bagaimana mereka ditentang oleh kefasikan, kekufuran dan kemunafikan yang cuba menggagalkan tertegaknya dengan kukuh akhlak yang mulia sebagai teras kehidupan yang luhur dan murni itu.

Aqidah Mencorakkan Akhlak

Sebagaimana yang disebutkan sebelum ini, nilai-nitai akhlak yang dipegang oleh seseorang dan sesuatu kebudayaan itu adalah hasil daripada aqidah dan gambaran tentang kehidupan itu. Pembentukan nilai-nilai akhlak itu bergantung kepada bagaimana manusia memberikan jawapan kepada pertanyaan-pertanyaan yang asasi dalam hidup. Siapakah yang mencipta alam ini dan apakah tujuannya? Apakah tujuan manusia ditempatkan di bumi dan apakah tujuan dan

matiamatnya yang sebenar? Jawapan-jawapan kepada persoalan asas mengenai kehidupan ini akan menentu dan mencorak nilai-nilai akhlak yang dimiliki oleh seseorang atau sesuatu kebudayaan. Oleh kerana terdapat berbagai- bagai jawapan kepada persoalan tersebut, maka terdapat berbagai sistem nilai di dalam masyarakat manusia yang mencorakkan berbagai sikap dan tingkahlaku yang membentuk berbagai-bagai kebudayaan.

Al-Quran telah memaparkan berbagai golongan yang memberi jawapan berbeza kepada persoalan-persoalan asasi kehidupan yang membentuk konsepsi dan aqidah mengenai kehidupan ini. Terdapat aqidah orang-orang beriman, aqidah orang-orang kafir, aqidah orang-orang fasik dan aqidah orang-or-ang munafiqin.

Aqidah orang-orang beriman dinyatakan dalam al-Ouran seba^gai orang-orang yang beriman kepada Allah S.W.T, kepada Rasul-Nya, kepada keagungan Allah yang mencipta dan memiliki alam ini. Mereka yakin kepada hari akhirat, yakin bahawa kejadian Allah tidak terbatas kepada alam lahir sahaja dan kejadian Allah itu tidak terbatas dalam lingkungan yang dapat diketahui oleh manusia. Kerana itu mereka percaya kepada kejadian Allah yang ghaib, seperti malaikat, gyurga, neraka dan adanya makhluk-makhiuk Allah yang lain yang tidak diketahui oleh manusia dan pengetahuan manusia tidak menjadi syarat bagi menentukan sesuatu kejadian Allah harus ada atau tidak ada. Allah S.W.T bebas mengikut kehendak-Nya, untuk mencipta atau tidak mencipta sesuatu yang ada di dalam ilmu-Nya.

Aqidah ini menyebabkan orang-orang beriman sentiasa bergantung harap kepada Allah S.W.T dan tidak bergantung harap kepada yang lain daripada-Nya. Tujuan hidup manusia di dunia ini ialah untuk beribadah kepada Allah S.W.T. dan setiap tindak tanduk dan kelakuan serta tindakannya adalah untuk mendapatkan keredhaan Allah S.W.T. Keredhaan Allah dan beribadat kepada Allah S.W.T. menjadi tumpuan dan pemusatan setiap aspek kegiatannya.

Pergantungan semata-mata kepada Allah memberikan kepada seorang mu’min itu kebebasan dan tidak terikat kepada mana-mana kuasa lain daripada Allah S.W.T. Daripada perasaan inilah tercetusnya pengakuan seorang muslim bahawa “Tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya melainkan Allah S.W.T.”

Manusia beriman yang sebenarnya, tidak mungkin menyembah kepada yang lain daripada Allah S.W.T., tidak mempeduangkan sesuatu yang dicipta oleh mana-mana kuasa selain dadpada yang ditentukan di dalam agama Allah S.W.T. Allah S.W.T. bagi mereka adalah Tuhan Yang Maha Sempuma, Maha berkuasa dan kepada Dialah tumpuan segala ibadah dan segala yang baik sama ada niat dan amalan. Lihatiah bagaimana pendirian yang bebas, tegas dan berani yang ditunjukkan oleh seorang mu’min yang sejati Rab’i bin Amir ketika berhadapan dengan raja Rum, yang bermaksud:

‘Allah sesungguhnya mengutus kami untuk membebaskan sesiapa yang dikehendaki-Nya daripada menyembah sesama hamba kepada menyembah hanya kepada Allah, daripada kesempitan dunia kepada keluasannya dan keluasan akhirat daripada kezaliman agama-agama kepada keadilan Islam.’

Seorang mu’min berjiwa bebas, tetapi bukan sebagai debu berterbangan di udara. Kebebasan seorang mu’min sentiasa mendapat panduan dan bimbangan. Justeru itu ia tidak berkelana dan hidup tanpa tujuan. la sentiasa bergerak bebas dengan memiliki peta yang menunjukkan haluan pergerakan dan perjalanannya. la sentiasa bertindak mengikut petunjuk Allah dan berpandu kepadanya.

Seorang mu’min berperasaan halus dan berhati lembut kerana keyakinannya bahawa ia adalah hamba kepada Allah S.W.T. Segala perbuatannya akan dinilai dan dihitung serta diberikan balasan atau ganjaran dengan adil dan saksama. Wawasannya, tidak semata-mata untuk mendapatkan habuan dan ganjaran di dunia, tetapi juga di akhirat. Tentunya, ganjaran di akhirat adalah lebih baik dahapda di dunia. Kerana itu, ia sanggup mengorbankan kurniaan Allah di dunia, untuk mendapatkan kurniaan Allah di akhirat.

Aqidah dan pandangan hidup yang asas ini, memancarkan nilai-nilai yang murni dalam jiwa orang-orang beriman. Nilai-nilai ikhias untuk Allah S.W.T. dan tidak tunduk beribadah melainkan kepada Allah S.W.T adalah merupakan nilai yang agung yang membentuk akhlak yang murni dan jiwa yang luhur dalam kehidupan orang-orang beriman. ]a membentuk akhlak terhadap Allah S.W.T. dan akhlak terhadap sesama manusia.

Hubungan manusia dengan Allah S.W.T dan kelakuannya terhadap Allah S.W.T. ditentukan mengikut nilai-nilai aqidah yang ditetapkan. Begitu juga akhlak terhadap manusia dicorakkan oleh nilai-nilai aqidah seorang muslim, sepertimana yang ditetapkan didalam al-Ouran yang merupakan ajaran dan wahyu daripada Allah S.W.T Pergaulan manusia dengan manusia tidak boleh disamakan dengan perhubungan manusia dengan Allah S.W.T.

Aqidah dan pegangan seorang beriman berbeza dengan aqidah dan pegangan seorang kafir. Justeru itu nilai-nilai dan akhlak juga berbeza. Al-Quranmemaparkan aqidah dan pegangan orang-orang kafir dalam berbagai kategori, justeru terdapat berbagai bentuk kekufuran yang beriaku di kalangan umat manusia. Antara kekufuran yang beriaku disebabkan mereka menolak ajaran yang benar yang dibawa oleh utusan Allah S.W.T. dan mereka menafikan kerasulan utusan itu. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud:

“Maka berkata pembesar-pembesar yang kafir itu dari kalangan bangsanya, ini tidak lain daripada manusia seperti kamu. ]a hendak menonjoikan diri supaya lebih daripada kamu. Jika Allah hendak turunkan utusan, Dia akan turunkan malaika t Kita tidak mendengar dati bapa -bapa kita yang terdahulu mengenai ini (utusan Allah dari kalangan manusia). (al-Mu’minun: 24)

Kekufuran juga beriaku kerana tidak percayakan hari akhirat. Kerana percaya bahawa tidak ada kehidupan selepas mati, mereka hidup berfoya-foya di dunia ini tanpa memikirkan seksaan di akhirat. Bagi mereka seperti yang dinyatakan oleh al-Quran “kehidupan ini cuma di dunia”. Manusia dilahirkan dan kemudian mati, mereka tidak dibangkitkan kembali, seperti kata mereka yang bermaksud:

“Kehidupan kita tidak yang lain daripada kehidupan di dunia. Daripada tiada kita ada dan hidup. Apabila mati kita tidak dibangkitkan lagi.

Maksudnya: “Dan berkata pembesar-pembesar dari bangsanya yang kafir dan mendustakan kehidupan akhirat dan kamijadikan berfoya-foya dalam kehidupan mereka di dunia, orang ini, hanyalah seorang manusia seperti kamu. fa makan dari apa yang kamu makan dan minum dari apa yang kamu minum ‘. (al-Mu’minun: 33)

Kekufuran juga beriaku disebabkan sifat bongkak dan sombong serta ingkar kepada perintah Allah dan angkuh terhadapnya. Allah berfirman mengenai kekufuran Iblis yang bermaksud:

“Dan ketika kami berkata kepada malaikat sujudiah kepada Adam. Mereka pun sujud, kecuali lblis. la ingkar dan takabur dan ia daripada orang-orang kafir. (al-Baqarah: 34)

Aqidah orang-orang kafir yang sombong terhadap Allah S.W.T, yang tidak percaya kepada para rasul yang diutus oleh Allah dan ajaran-ajaran yang mereka bawa, yang tidak percaya kepada hari akhirat dan tidak patuh kepada hukum-hukum Allah dengan ingkar kepada hukum-hukum itu, membentuk nilai-nilai kelakuan dan cara hidup yang menjurus ke arah kehidupan yang tidak berakhlak mulia dan luhur. Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:

“Dan orang-orang yang kafir meni’mati kesenangan didunia serta mereka makan minum sebagaimana binatang-binatang temak makan minum, sedang nerakalah menjadi tempat tinggal mereka.’ (Muhammad: 12)

Mereka tidak mempunyai matiamat yang murni dan abadi dalam kehidupan mereka. Kehidupan ini bagi mereka mencari makan, mencari harta dan berfoya-foya semata-mata untuk di atas dunia ini. ltulah sahaja kehidupan mereka. Selain dadpada itu, tiada matiamat yang jauh yang hendak dituju. Pandangan dan cara hidup mereka ini, sudah tentu mempengaruhi pembentukan akhlak mereka yang pincang dan bercelaru.

Satu lagi aqidah kekufuran yang berbahaya ialah munafiq yang “pepat di luar rencung di dalam,’ “telunjuk lurus kelingking berkait.’ Bahaya kekufuran ini sangat dahsyat kerana sikap pemusuhan dan dendam mereka terhadap orang-orang yang beriman. Gambaran mengenai aqidah mereka penuh dengan gambaran kepura-puraan. Mereka mengaku beriman, tetapi mereka sebenarnya tidak beriman. Mereka berpura-pura percaya kepada Nabi s.a.w. yang diutus oleh Allah S.W.T. tetapi dalam hati mereka benci dan memusuhi baginda. Mereka memandang rendah kepada ajaran Nabi s.a.w. dan sering mempertikaikan ajaran itu. Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:

“Dan di kalangan manusia ada yang berkata kami beriman dengan Allah dan Hari akhirat Pada hal mereka bukan datipada orang-orang beriman. (al-Baqarah : 8)

Aqidah munafiqin, melahirkan sifat-sifat dan kelakuan-kelakuan keji yang mewakiii akhlak yang buruk. Untuk menyembunyikan kekufuran, mereka berdusta, memutar belitkan kebenaran, memungkid janji dan mengkhianati amanah. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Tiga perkara yang sesiapa yang mempunyainya di dalam diri maka ia adalah munafiq. Apabila bercakap ia dusta, apabila bedanji tidak dikotakan apabila diberi amanah ia khianat. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Nilai-Nilai Mutlak Dan Relatif

Selain daripada memaparkan konsep dan penghayatan akhlak secara konsepsi dan praktikal dan membezakan antara akhlak orang- orang yang beriman dan orang-orang kafir berasaskan kepada perbezaan aqidah mereka, al-Ouran menghuraikan pengertian akhlak Islam yang didokong dan dihayati oleh orang-orang beriman. akhlak Islam dijelaskan berdasarkan kepada model insan kamil yang terdapat dalam did Rasuluilah s.a.w. yang telah merealisasikan pengertian akhlak al-Quran dalam kehidupan yang realistik. Rasuluilah s.a.w. dikatakan sebagai al-Quran yang berjalan. Aishah ra. berkata ‘Adapun akhlakbaginda ialah al-Ouran’ ‘ Kerana itu nilai-nilai asas yang membentuk akhlak Islam ialah nilai-nilai mutlak.

Nilai-nilai asas ini, tidak bersifat relatif atau nisbi. Nilai-nilai asas yang membentuk akhlak Islam, tidak berubah-ubah mengikut zaman dan tempat. la tidak hanya baik pada masa yang lalu dan tidak baik untuk masa sekarang. Apa yang diperakukan oleh al-Quran dan al-Sunnah sebagai baik, maka ia adalah baik untuk sepanjang zaman dan tempat. Apa yang dianggap tidak balk, maka ia adalah tidak baik untuk selama-lamanya. Apa yang baik adalah haial dan yang buruk dan tidak baik itu adalah haram. Perkara haial dan yang haram diterangkan dengan jelas.

Nilai-nilai yang baik dan buruk diprogramkan ke dalam hukum-hukum yang menentukan sama ada sesuatu perkara itu boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, yang mesti dilakukan atau mesti dilakukan atau mesti ditinggalkan atau dijauhkan. Hukum-hukum itu ialah wajib, sunat, haram dan makruh. Perkara-perkara yang telah diprogramkan ke dalam hukum-hukum ini adalah mutlak sifatnya. Akan tetapi perkara-perkara yang termasuk dalam perkara harus adalah relatif sifatnya.

Nilai-nilai akhlak Islam, berbeza dengan nilai-nilai tamadun Barat yang semata-mata bergantung kepada aka] dalam menentukan nilai-nilai baik dan tidak baik. Kerana itu, kebanyakan nilai-nilai dalam tamadun barat bersifat relatif. Pada hari ini ia difikirkan sebagai baik dan di masa yang lain ia ditolak sebagai baik. Begitu juga yang dipandang buruk pada hari ini, tidak lagi dianggap demikian pada masa yang lain. Homoseksual dan Lesbian, dahulu dianggap haram dan tidak baik. Sebaliknya hari ini perbuatan itu dihalaikan dan dibenarkan sebagai legal serta mendapat hak-hak dan periindungan perundangan. Kenisbian nilai-nilai akhlak ini, menimbulkan huru hara nilai yang mengakibatkan kepincangan akhlak.

Rasuluilah s.a.w., adalah contoh seorang hamba Allah yang bersyukur iaitu contoh berakhlak mulia dan tinggi dalam hubungan dengan Allah S.W.T. lni berasaskan kepada peribadahan yang dilakukannya dengan penuh ikhias mengikut sistem peribadahan yang ditentukan oleh Allah S.W.T. Allah S.W.1 berfirman yang bermaksud:

“Mereka tidak diperintahkan melainkan untuk beribadah kepada Allah dengan ikhias serta mempunyai sistem agama-. (al-Bayyinah: 5)

Orang-orang kafir musyrik yang beribadah kepada yang lain daripada Allah S.W.T. adalah manusia yang tidak berakhlak dan beriaku biadab terhadap Allah S.W.T Abu Lahab, Firaun, Namrud dan lain-lain adalah contoh manusia yang tidak berakhlak dan biadab terhadap Allah S.W.T. Mereka takbur, bongkak dan sombong. Mereka melakukan kemungkaran, kezaliman dan kerosakan di bumi akibat daripada kesyirikan mereka terhadap Allah. Nilai-nilai syirik menjadikan mereka manusia yang tidak bermoral dan makhiuk perosak yang meluas seperti di kalangan generasi baru masyarakat barat.

Model Akhlak Al-Quran

Akhlak Rasuluilah s.a.w. adalah model akhlak-akhlak mulia yang dihurai dan dijelaskan dalam al-Quran. Keterangan jelas mengenai konsep akhlak mulia dalam al-Quran, bukan sahaja untuk difahami, tetapi untuk dilaksanakan. Contoh kepada penghayatan dan kaedah penghayatan itu ialah kehidupan Rasuluilah s.a.w

Rasuluilah s.a.w. seorang mu’min yang terulung. Seorang yang telah diasuh dan dipelihara akhlaknya oleh Allah S.W.T. untuk dipelihara akhlaknya oleh Allah S.W.T. untuk dijadikan seorang rasul dan contoh insan kamil yang menjadi ikutan dan teladan sepanjang zaman. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud:

“Dan sesungguhnya engkau memiliki akhlak yang sungguh agung”. (al-Qalam: 4)

Juga firman-Nya yang bermaksud: “Demi sesungguhnya, adalah bagi kamu pada diri Rasuluilah itu contoh ikutan yang baik”. (al-Ahzaab; 21)

Rasuluilah s.a.w. dan para sahabat yang bedman dengannya, adalah para hamba Allah S.W.T. yang tekun mengerjakan ibadat dan tunduk khusyu’ merendah diri kepada Allah S.W.T. takut dan mengharap kepada-Nya, bertawakal serta bersyukur kepada-Nya. Wajah mereka berbekas kesan daripada sujud. Pada waktu siang mereka menjadi pahlawan gagah membela agama Allah S.W.T. Sedangkan pada waktu malam air mata mereka berlinang kerana insaf dan memohon keampunan daripada Allah S.W.T. Al-Quranmenggambarkan pengabdian mereka kepada Allah S.W.T. dengan firman-Nya yang bermaksud:

” Nabi Muhammad s.a.w. ialah RasulAilah dan mereka yang bersama dengannya tegas terhadap orang kafir, dan sebaliknya bersikap kasih sayang dan belas kasihan sesama sendiri (umat Islam). Kamu melihat mereka ruku’dan sujud dengan mengharapkan limpah kumia (pahala) dari Tuhan mereka serta mengharapkan keredhaan-Nya. Tanda yang menunjukkan mereka (sebagai orang-orang yang saleh) terdapat pada muka mereka dari kesan sujud”. (al-Fath: 29)

Rasulullah s.a.w. paling banyak beribadah dan paling bertaqwa, tanpa melupakantanggungjawab terhadap kewajipan manusia yang lain. tsteri baginda Aishah hairan kerana baginda begitu tekun beribadah kepada Allah S.W.T. Pada suatu ketika ‘Aishah bertanya, mengapa baginda begitu tekun dan kuat beribadah, pada hal Allah S.W.T. sedia mengampuni dosa baginda yang terdahulu dan terkemudian. Rasuluilah s.a.w. menjawab, yang bermaksud:

“Tidakkah aku ingin dirinya menjadi hamba yang bersyukur.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Bersyukur adalah akhlak yang tinggi dan mulia dalam hubungan dengan Allah S.W.T. Bersyukur di atas ni’mat yang dikurniakan Allah S.W.T, kemuncak daripada tujuan beribadah. Membentuk diri menjadi hamba Allah yang bersyukur, mercu kejayaan dalam usaha membentuk insan kamil yang meredhai Allah dan diredhai Allah. Kesyukuran itu, menambahkan lagi kesayangan Allah dan sentiasa mendapat tambahan ni’mat-ni’mat Allah S.W.T. Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:

“Demi sesungguhnya, jika kamu bersyukur, nescaya aku akan tambahi ni’matku kepada kamu dan demi sesungguhnya, jika kamu kufur ingkar sesungguhnya azabku amatiah keras”. (Ibrahim: 7)

Rasuluilah s.a.w. adalah contoh manusia yang bersyukur kepada Allah S.W.T. dan kesyukurannya itu dilafazkan menerusi amalan ibadahnyakepadaallah S.W.T. lni ditambahi pula dengan ingatan yang tidak putus-putus terhadap Allah dan menjadikan seluruh kehidupannya dalam suasana beribadah kepada Allah S.W.T. semata-mata.

Beribadah dalam pengertian bersolat, berzikir, berpuasa dan amalan-amalan kerohanian yang lain dilakukan tanpa mengurangkan tanggungjawab dalam hubungan antara sesama manusia, seperti yang diperintahkan oleh Allah S.W.T. Allah S.W.T menekankan hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia seperti yang dinyatakan-Nya dalam al-Ouran yang bermaksud:

“Mereka ditimpakan kehinaan di mana- sahaja mereka berada kecuali dengan adanya sebab dari Allah dan adanya sebab dari manusia”. (a-li’lmraan: 112)

Justeru itu al-Quran menggariskan prinsip-prinsip bagi mewujudkan sistem yang mengatur hubungan dengan Allah S.W.T. menerusi ibadah dan taqwa serta sistem yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Sistem ini menjamin jalinan hubungan yang berasaskan akhlak yang dapat membebaskan manusia dari kehinaan dan dapat meningkatkan martabat mereka menuju kemuliaan dan kehormatan.

Pada suatu ketika Rasuluilah s.a.w. mendengar perbualan beberapa orang sahabat mengenai ibadat mereka. Seorang berkata, ia bersembahyang sepanjang malam. Sahabat yang lain pula berkata ia berpuasa sepanjang hari sementara seorang lagi berkata ia tidak berkahwin untuk menumpukan kepada ibadat. Rasuluilah s.a.w. mendengar perbualan mereka lantas berkata, “kamukah yang berkata demikian, demikian. Akulah orang’yang paling bertaqwa dari kalangan kamu. Akan tetapi aku sembahyang dan aku tidur, aku berpuasa dan aku berbuka puasa malah aku mengahwini wanita-wanita”.

Tumpuan kepada ibadah khusus dalam menguatkan hubungan dengan Allah tidak seharusnya mengabaikan tanggungjawab dalam hubungan dengan manusia yang juga merupakan ibadah apabila dilakukan untuk keredhaan Allah serta melaksanakan perintah dan arahannya.

Akhlak Terhadap Sesama Islam

Al-Qurran dan al-Sunnah yang menterjemahkan ajaran al-Ouran ke dalam realiti kehidupan, menggariskan akhlak-akhlak mulia dalam hubungan antara sesama orang-orang beriman, secara terperinci.

Hubungan antara sesama orang beriman itu diasaskan kepada persaudaraan. Persaudaraan yang sentiasa digerak dan dihidupkan, diperbaiki dan diperkukuhkan. Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:

“Sebenarnya orang-orang yang beriman itu adalah bersaudara, maka damaikaniah diantara dua saudara kamu’. (al-Hujuraat.. 10)

Persaudaraan itu diikat dengan kasih sayang dan cinta mencintai antara satu sama lain. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman itu dari segi saling berkasih sayang dan berkasihan belas, adalah seperti jasad apabila satu anggota mengadu sakit, membawa seluruh jasad turut berjaga malam dan demam’. (RiwayatAhmad)

Perasaan kasih-sayang terhadap sesama umat islam adalah komponen yang membentuk iman. Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya mestilah mengandungi perasaan kasih kepada kedua-duanya. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

‘Tidak beriman seseorang kamu sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih dikasihinya daripada yang lain dari keduanya’. (RiwayatAhmad)

Dalam hubungan ini, kasih kepada orang beriman telah dikaitkan dengan kesempurnaan iman. Lni menunjukkan bagaimana pentingnya nilai kasih sayang itu dalam kehidupan dan pergaulan sesama orang-orang beriman. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

‘Tidak sempurna iman seseorang kamu sehinggalah ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya. (Riwayat Ahmad, At-Tirmizi dan AI-Hakim)

Nilai kasih sayang yang disemai dalam diri para mu’min sebagai menyambut arahan Allah dalam al-Quran dan ajaran Rasuluilah dalam sunnahnya. la bertujuan untuk membina dan membentuk akhlak murni di kalangan orang-orang beriman dalam pergaulan antara sesama mereka. Pertemuan dan perjumpaan antara sesama Islam hendaklah dalam keadaan wajah yang berseri-seri dan manis, yang dijelmakan dalam senyuman. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Melemparkan senyuman kepada wajah saudaramu adalah sedekah.” (Riwayat At-Tirmizi)

lni diikuti dengan mengucap selamat serta memberi salam untuk memulakan hubungan dan pertemuan. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

‘…Sebarkantah salam di kalangan kamu”. (Riwayat Muslim)

Seterusnya, Rasulullah s.a.w. menggariskan peraturan-peraturan memberi salam secara terperinci yang boleh dirujukkan kepada kitab-kitab hadis.

Bagi memupuk perasaan kasih sayang serta memperkukuhkan keimanan, Allah S.W.T dan Rasul-Nya melarang tindakan-tindakan sama ada dengan perbuatan dan perkataan yang boleh membawa kepada terputusnya hubungan persaudaraan dan silaturrahim di kalangan orang-orang beriman. Begitu juga perlakuan yang buruk yang menjatuhkan martabat dan ketinggian orang-orang beriman.

Allah S.W.T. melarang penyebaran maklumat yang berkaitan dengan keburukan yang dilakukan daiam masyarakat. Walau bagaimanapun Islam memberi kebenaran melakukan pendedahan keburukan yang berkaitan dengan periakuan zalim apabila dibuat di mahkamah semata-mata untuk menegakkan keadilan. Begitu juga saksi dan orang yang teraniaya boleh mendedahkan kezaliman yang dilakukan oleh seseorang untuk menegakkan keadilan. Allah S.W.T berfirman yang bermaksud:

“Allah tidak suka kepada perkataan-perkataan buruk yang dikatakan dengan berterus terang melainkan mereka yang dizalimi”. (al-Nisaa’.. 148)

Keburukan yang dilakukan oleh seseorang mu’min hendaklah disembunyikan. Jika keburukan itu berkaitan dengan pencabulan terhadap keadilan, ia hendaklah diadili di mahkamah dan dihukum jika thabit kesalahan. Walau bagaimanapun berita mengenai kesalahan dan hukuman yang dikenakan tidak boleh didedah dan disebarkan untuk dijadikan bahan perbualan orang ramai. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Sesiapa yang menutup keaiban seseorang Islam Allah menutup keaibannya didunia dan diakhirat”. (Riwayat Muslim, Ahmad dan Abu Daud)

Seterusnya orang-orang yang beriman dilarang berperangai suka menyebarkan berita tanpa dipastikan kebenarannya, suka mencela dan mengkritik, suka melaknat dan mengeluarkan kata-kata buruk dari mulutnya. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Memadai seseorang itu berdusta apabila ia berbicara tentang apa sahaja yang didengarnya”. (Riwayat Muslim)

Mengenai budaya suka mengecam, mengerdik dan melaknat, Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Bukaniah seorang beriman itu seorang yang suka mengecam, suka melaknat, suka mengeluarkan kata buruk dan kesat”. (Riwayat Bukhari dan Ahmad)

Orang-orang Islam dilarang menghina sesama orang-orang Islam. Sebaliknya mereka hendaklah saling hormat menghormati. Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

“Cukup seseorang itu menjadi jahat dengan ia menghina saudara muslimnya (RiwayatAt-Tirmizi)

Kewajipan orang Islam terhadap saudara muslimnya yang melakukan kesilapan dan kesalahan ialah memberikan nasihat dan menghukum dengan hukum Allah S.W.T. setelah dibicarakan dan dithabitkan kesalahannya. Rasuluilah s.a.w. bersabda yang bermaksud:

‘Agama ituialahnasihat”.Adayangberkata “untuksiapa ya Rasulullah. Sabdanya “untukailah dan untuk Rasul-Nya untuk pemimpin orang-orang Islam dan orang ramai di kalangan mereka’.

(Riwayat Bukhari)

Al-Quran Sumber Akhlak Mulia

Al-Quran sumber bagi hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang menyusun tingkahlaku dan akhlak manusia. Al-Quran menentukan sesuatu yang haial dan haram, apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Al-Quranmenentukan bagaimana sepatutnya kelakuan manusia. Al-Quran juga menentukan perkara yang baik dan tidak baik. Justeru itu al-Quran menjadi sumber yang menentukan akhlak dan nilai-nilai kehidupan ini.

Al-Quran mengharamkan yang buruk dan keji serta melarang manusia melakukannya. Al-Quranmelarang manusia minum arak, memakan riba, bersikap angkuh dan sombong terhadap Allah, satu-satu kaum menghina kaum yang lain. Al-Quran melarang pencerobohan, fitnah dan

berbunuhan. Al-Quranmelarang menyebarkan maklumat mengenai perkara-perkara keji.

Al-Quran mengajak manusia supaya mentauhidkan Allah S.W.T., bertaqwa kepada-Nya, mempunyai sangkaan baik terhadap-Nya. Al-Quran juga mengajak manusia berfikir, cinta kepada kebenaran, bersedia menerima kebenaran. Malah mengajak manusia supaya berilmu dan berbudaya ilmu.

Al-Quranjuga mengajak manusia supaya berhati lembut, berjiwa mulia, sabar, tekun, berjihad, menegakkan kebenaran dan kebaikan. Al-Quran mengajak manusia supaya bersatupadu, berkeluarga dan mengukuhkan hubungan silaturrahim.

Jelaslah bahawa al-Ouran menjadi sumber nilai-nilai dan akhlak mulia. Penampilan akhlak mulia dalam al-Ouran, tidak bersifat teoritikal semata-mata, tetapi secara praktikal berdasarkan realiti dalam sejarah manusia sepanjang zaman. Al-Quran adalah sumber yang kaya dan berkesan untuk manusia memahami akhlak mulia dan menghayatinya.

Al-Quran bukti kerasulan Nabi Muhammad

KEPERLUAN manusia kepada rasul adalah fitrah semula jadi manusia. Mereka perlu kepada orang yang dapat memimpin ke jalan benar, keimanan teguh, bersatu padu dan berakhlak mulia. Ini kerana kemampuan manusia terbatas, tidak mutlak dan dan banyak dikuasai oleh kepentingan diri dan nafsu. Manusia tidak ada pilihan, melainkan mesti mendapat bimbingan wahyu disampaikan Rasulullah.


Sebagai seorang Islam, kita wajib beriman bahawa Nabi Muhammad utusan Allah dan nabi terakhir. Kepercayaan ini termasuk dalam Rukun Iman yang menjadi asas kepercayaan umat Islam.

Setiap umat Islam perlu menunaikan hak Baginda iaitu wajib mentaati dan berpegang dengan suruhannya, kemudian menerima dengan yakin segala apa yang disampaikan daripada Allah. Mengetahui apa yang wajib, harus dan mustahil pada diri Rasulullah serta jujur dan menghormatinya serta sentiasa mentaati ajarannya.

Rasulullah sebagai rasul yang diutuskan oleh Allah untuk sekalian manusia yang berbeza dengan rasul sebelumnya yang diutuskan untuk kaumnya.

Demikian juga syariat Rasulullah untuk setiap zaman dan tempat di dunia ini. Baginda menghadapi pelbagai ragam manusia kerana ada pelbagai keturunan, bangsa, adat, kebudayaan, bahasa dan kepercayaan.

Sebagaimana yang kita maklum, Rasulullah termasuk dalam lima rasul yang bergelar ‘ulul azmi’ yang bermaksud mempunyai kedudukan tertinggi kerana keazaman mereka yang agung, terlalu banyak menghadapi dugaan, melaksanakan tugas dakwah yang sukar, mempunyai ketabahan dan kesabaran yang luar biasa.

Rasulullah juga bersifat maksum iaitu terpelihara daripada melakukan sebarang dosa. Ini adalah satu kekuatan kepada Baginda dan juga rasul lain.

Selain itu, Baginda dikurniakan dengan mukjizat al-Quran iaitu mukjizat teragung. Keagungannya bukan dari segi bahasa, ilmu, ajaran dan kandungannya, malah mukjizat yang kekal hingga hari kiamat nanti.

Ia adalah sebuah kitab petunjuk yang menjadi bukti kerasulan Nabi Muhammad yang boleh dilihat, disentuh, dibaca dan dikaji. Al-Quran tidak mampu disanggah, dinafikan kebenaran dan ketepatan fakta ilmiah yang ada dalamnya seiring dengan penemuan sains moden hari ini.

Hakikat mukjizat al-Quran ini dapat dilihat melalui firman Allah yang bermaksud : “Dan kalau kamu ada menaruh syak mengenai apa yang Kami turunkan (al-Quran) kepada hamba kami (Muhammad), maka cubalah buat dan datangkan satu surah yang sebanding dengan al-Quran itu, dan panggillah orang yang kamu percaya boleh menolong kamu selain Allah, jika benar kamu orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuatnya, dan sudah tentu kamu tidak akan dapat membuatnya, maka peliharalah diri kamu dari api neraka yang bahan bakaranya manusia dan batu-batu (berhala), iaitu (neraka) yang disediakan untuk orang kafir.” (Surah al-Baqarah, ayat 23 hingga 24).

Keterangan dan ayat di atas dapat difahami bahawa al-Quran itu datangnya daripada Allah bukannya rekaan manusia. Begitulah hebatnya al-Quran hingga kemukjizatannya dapat dinilai dari beberapa sudut, antaranya :

Penurunan al-Quran dan keistimewaannya.

Al-Quran diturunkan dalam tempoh 23 tahun secara berperingkat-peringkat dengan ayat berbeza dari surah yang berlainan serta peristiwa dan keadaan yang berbeza.

Nabi Muhammad pula seorang ummi, tidak tahu menulis dan membaca. Bagaimanapun, Rasulullah tidak pernah terlupa apa yang diterima dan dibacakannya kepada umatnya. Hingga kewafatannya, al-Quran tetap segar dalam ingatan Baginda.

Bagi yang mahu merenung dan mengkaji al-Quran akan mendapati Nabi Muhammad hanya membaca terus kepada sahabat apa yang disampaikan oleh Jibril kepadanya tanpa teragak-agak atau tersasul menyebut sesuatu dengan silap, khususnya dari segi tata bahasa Arab yang amat sukar menguasainya sepanjang masa.

Dalam keadaan ‘keummian’ Nabi Muhammad, al-Quran yang disampaikan tidak pernah tersalah.

Sejak dulu hingga sekarang tidak pernah ada orang yang boleh menunjukkan kesalahan al-Quran yang hakiki. Dari apa segi juga, bahawa kaedah nahunya (tata bahasa), penyusunan kata, khabar berita, fakta pengetahuan yang dipaparkan, fakta ibadat yang disampaikan, perkhabaran yang akan datang dan apa saja yang disebutnya hingga kini masih lagi terkini (sesuai dengan masa dan keadaan). Itulah sebagai bukti al-Quran sebagai wahyu daripada Allah.

Dari sudut jaminan penjagaan dan keaslian al-Quran.

Al-Quran adalah satu-satunya kitab suci yang menjadi tunggak pengajaran agama, yang tidak pernah sesiapa pun mampu mempertikaikan kesahihan dan keasliannya.

Keaslian al-Quran yang ditulis pada zaman Uthman Ibn Afan ini yang terkenal dengan nama Mashaf Uthmani masih kekal hingga hari ini.

Mashaf itu menurut satu riwayat ditulis di empat tempat iaitu Arab Saudi, Turki, Mesir dan Uzbekistan. Naskhah asalnya masih tetap terpelihara dengan rapi di keempat-empat tempat itu. Hal yang demikian dengan sendirinya membenarkan firman Allah dalam al-Quran yang bermaksud : “Sesungguhnya Kamilah (Allah) yang menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kamilah yang memeliharanya.” (surah al-Hijr, ayat 9)

Selain itu, selagi bumi Allah ini ada, selagi itu ayat al-Quran ini hidup pada dada orang Islam yang beriman.

Demikianlah keagungan dan kemukjizatan al-Quran, ia tetap terpelihara dan terjamin daripada campur tangan musuh Islam.

Dari sudut saintifik.

Al-Quran memuatkan pelbagai fakta saintifik dalamnya yang menyentuh daripada perkara kecil hingga besar yang boleh menjadi titik renungan, iktibar dan peringatan kepada manusia.

Al-Quran diturunkan sejak lebih 14 abad lampau. Pada abad itu, manusia belum terdedah kepada dunia saintifik yang canggih seperti sekarang.

Pada ketika itu, manusia masih dalam serba kejahilan, sains belum lagi diterokai, bidang astronomi belum lagi dikaji dan ekologi belum lagi diketahui. Malah, belum wujud pusat pengajian berteraskan saintifik pada masa itu.

Dalam keadaan dan suasana masyarakat yang serba kejahilan itulah al-Quran diturunkan. Kandungannya menyentuh secara kasar dan umum fakta berhubung fenomena alam antaranya mengenai kejadian alam yang bermula hanya gas yang disebut ‘dukhan’ (surah Fussilat, ayat 11). Begitu juga, alam dijadikan berperingkat-peringkat dalam masa yang panjang (surah al-Furqan, ayat 59), keadaan langit yang berlapis-lapis (surah Nuh, ayat 71), matahari dan bulan beredar pada orbitnya (surah Yasin, ayat 38 dan 39). Fakta oksigen akan berkurangan dan habis apabila semakin tinggi dari paras bumi (surah al-An’am, ayat 125), ‘bumi ini bulat, tetapi lebih mirip kepada bentuk telur ayam (surah al-Nazi’at, ayat 30) serta bumi berputar seperti gasing (surah al-Zumar, ayat 5).

Hadis: Keaiban orang bukan modal berlawak

RASULULLAH bersabda maksudnya : “Celakalah orang yang berbicara lalu mengarang cerita dusta agar orang lain tertawa. Celakalah!”


Hadis di atas mengingatkan umat Islam mengenai tata susila dan ketertiban ketika berbicara. Kita diingatkan tidak berbicara dengan mengarang cerita dusta untuk dijadikan bahan ketawa.

Contohnya, perbuatan seperti melawak, berjenaka atau bergurau senda memang boleh membuatkan seseorang itu ketawa. Ia dapat menggembirakan atau menggelikan hati orang lain.

Membuatkan orang lain senang hati termasuk dalam amal kebajikan. Rasulullah juga selalu berjenaka dengan ahli keluarga dan sahabat Baginda.

Bergurau mempunyai adab tertentu yang telah digariskan oleh Islam seperti:

Tidak menjadikan aspek agama sebagai bahan jenaka seperti mempersendakan sunnah Rasulullah.

Gurauan itu bukan cacian atau cemuhan seperti memperlekehkan orang lain dengan menyebut kekurangannya.

Gurauan itu bukan ghibah (mengumpat) seperti memburukkan seseorang dengan niat hendak merendah-rendahkannya.

Tidak menjadikan jenaka dan gurauan itu sebagai kebiasaan.

Isi jenaka adalah benar dan tidak dibuat-buat.

Bersesuaian dengan masa, tempat dan orangnya kerana adalah tidak manis bergurau pada waktu seseorang berada dalam kesedihan dan sebagainya.

Menjauhi jenaka yang membuatkan orang lain ketawa secara berlebihan (ketawa terbahak-bahak) kerana banyak ketawa akan memadamkan cahaya hati.

Sesungguhnya Rasulullah apabila ketawa baginda hanya menampakkan barisan gigi hadapannya, bukan ketawa yang berdekah-dekah, mengilai-ngilai atau terkekeh-kekeh.

Salihah: Khaulah serikandi di medan perang

KHAULAH binti Al-Azwar adalah wira wanita yang menyertai Perang Ajnadin ke Syam di bawah pimpinan Panglima Khalid bin Walid ketika zaman pemerintahan Saidina Abu Bakar. Dalam peperangan hebat itu, tentera Islam dengan gigih menyerbu Ajnadin dari arah Palestin. Pasukan Romawi pimpinan Teodore dari sebelah utara Syam pula berusaha menghalang kemaraan pasukan Arab.


Dalam peperangan itu, Dhiraar bin Al-Azwar, pahlawan perang yang terkenal dengan keberanian sehebat seribu perajurit ditawan pasukan Romawi. Keadaan itu menyebabkan Khalid begitu marah dan memerintahkan pasukannya membebaskan Dhiraar.

Dalam gelora perang itu, pasukan Romawi tiba-tiba dikejutkan seorang perajurit Islam bertopeng yang bertempur bermati-matian menewaskan beberapa perajurit Romawi.

Keberanian perajurit bertopeng itu begitu mengagumkan. Panglima Khalid sendiri berasa hairan. Siapakah perajurit bertopeng itu?

Ketika ditanya, perajurit bertopeng itu mengelak tetapi Khalid terus mendesak. Akhirnya, rahsia terbongkar.

“Wahai panglima, aku tidak mengelak darimu kecuali kerana rasa malu terhadapmu. Anda seorang panglima besar, sedangkan aku wanita. Tetapi, aku terpaksa melakukan ini kerana hatiku sakit dan marah.

“Aku adalah Khaulah binti Al Azwar. Aku sedang bersama wanita kaumku. Kemudian datang orang memberi khabar bahawa saudaraku Dhiraar ditawan, maka aku pun menaiki kuda dan melakukan apa yang anda lihat ini.”

Khalid sedih bercampur hairan, mengapa wanita sanggup keluar ikut berjihad dengan gigih untuk menyelamatkan tawanan perang.

Sejak itu, Panglima Khalid bersumpah menyelamatkan Dhiraar. Peperangan terus berkecamuk dan akhirnya, kemenangan berpihak kepada pasukan Arab. Dhiraar berjaya dibebaskan daripada tawanan Romawi.

Demikian sejarah perjuangan Islam yang disertai serikandi Islam yang tidak gentar bertempur bersama perajurit lelaki. Mereka berada di belakang pasukan kerana jika ada perajurit yang luka, mereka yang merawatnya.

Hingga zaman pemerintahan Usman bin Affan, Khaulah menyaksikan pelbagai peristiwa dan bencana. Kegigihannya di medan peperangan menimbulkan kekaguman seperti peristiwa pertempuran bertopeng itu.

Suatu ketika, kepala perajurit Romawi menjadi mangsa pukulan tiang khemah yang dicabut Khaulah ketika beliau memimpin wanita yang bersamanya di medan peperangan.

Ia berlaku ketika pertempuran pasukan Arab dan Romawi kedua di Maraj Daabiq. Sekali lagi, Khaulah kehilangan saudara lelakinya, Dhiraar, yang ditawan musuh. Kesedihannya digarap pada syair dan tangisan yang mendorong semangat pasukan Islam untuk menuntut Romawi membebaskan Dhiraar.

Beberapa wanita lain yang suami mereka menjadi tawanan turut memberi semangat supaya tentera Islam lebih berani.

Pasukan Arab berjaya menyerbu daerah utara Syam dan mengepung Antarkia manakala beberapa tawanan dibebaskan, termasuk Dhiraar. Malangnya Khaulah dan beberapa wanita lain pula menjadi tawanan Romawi.

Dalam tawanan pasukan musuh itu, Khaulah tidak menyerah kalah. Beliau berseru kepada temannya: “Hai puteri Himsyar sisa keturunan Tubba, apakah kalian rela menjadi tawanan Romawi dan anak kalian menjadi budak mereka?

“Lebih baik kita mati daripada menjadi tawanan yang hina dan melayan Romawi keparat.”

Dengan semangat pantang menyerah, Khaulah mengetuai teman tawanan wanita dengan mengambil tiang khemah. Bersenjatakan tiang itu, mereka melawan pasukan Romawi dengan memukul kepala mereka. Berkat keberanian itu, mereka berjaya membebaskan diri

DEFINISI AL-TABARRUK

Kejahilan mengenai makna tabarruk adalah diantara punca utama timbulnya penghukuman terhadap pengamal tabarruk itu sebagai ahlu bida’ah yang sesat lagi syirik. Ini menyebabkan pergaduhan ,perpecahan bahkan membawa kepada pembunuhan seperti mana yang pernah belaku di Najd suatu ketika dahulu.

Dari sudut bahasa bererti; Mengambil berkat. Dari sudut syarak pula bermaksud: Memohon kepada Allah agar ditambahkan kebaikan seperti kesenangan, kebahagian, kejayaan dan lain-lain dengan melakukan perbuatan seperti menyentuh, menyapu, mencium kesan para Nabi, Rasul dan para solehin dengan niat agar Allah mencipta kebaikan kepada orang yang bertabarruk, dan bukanlah beriktikad bahawa mereka yang mencipta kebaikan itu.

MENGAMBIL BERKAT (AL-TABARRUK) DENGAN TINGGALAN RASUL

Perlu bagi kita mengetahui bahawa para sahabat Rasulullah Ridwanullahi Alaihim mengambil berkat dengan tinggalan Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam pada masa baginda hidup, begitu juga selepas kewafatan baginda. Lalu perkara ini berterusan zaman berzaman sehinggalah sampai kepada kita ketika ini. Tidak ada dalil pengharaman atau dalil yang hanya mengkhususkan tabarruk ini hanya bagi umat di zaman baginda sahaja ataupun pada masa baginda hidup sahaja. Hukum dibolehkan mengambil berkat atau keharusannya diketahui melalui perbuatan baginda sendiri dimana pada suatu ketika baginda membahagi-bahagikan rambutnya yang dicukur ketika haji al-wada’, begitu jugalah dengan kuku baginda yang dibahagikan kepada orang ramai.

Dalil dari perbuatan baginda sendiri membahagikan rambut dimuatkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari[1] dan Imam Muslim[2] dari hadis Anas dan Imam Ahmad[3] dari hadis Abdullah Bin Zaid.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berkenaannya, dari Anas berkata: “Ketika mana Rasulullah telah melempar al-Jamrah, Nahar kerja hajinya dan bercukur, pencukur mencapai bahagian kanan (rambut Rasululllah) lalu mencukur. Kemudian (baginda) memanggil Abu Thalhah al-Ansari lalu memberikannya (rambut). Kemudian (pencukur) mencapai bahagian kiri, maka (baginda) berkata : “ Cukurlah. Maka dicukur lalu diberikannya kepada Abu Thalhah sambil (baginda) berkata: Bahagikannya sesama manusia yang lain ”.

Dalam riwayat Muslim yang lain: “Maka dimulakan dengan bahagian kanan lalu dibahagikan sehelai dan dua helai rambut antara manusia, kemudian melakukannya dibahagian kiri pula maka dilakukan demikian juga. Kemudian (baginda) berkata: Ke sini Abu Thalhah. Maka diberikannya kepada Abu Thalhah”.

Ada riwayat lain dari Imam Muslim juga menceritakan bahawa Rasulullah telah berkata kepada pencukur: “Di sini”, sambil menunjukkan dengan tangannya dibahagian kanan, kemudian membahagikan rambut baginda bagi sesiapa berhampirannya. Kemudian menunjukkan pula kepada pencukur di bahagian kiri lalu dicukur dan diberikan kepada Ummu Sulaim.

Berdasarkan kepada riwayat yang dimuatkan di atas menunjukkan kepada kita bahawa Rasulullah sendiri membahagikan rambut baginda kepada orang-orang yang berhampiran baginda di samping memberikan kepada Abu Thalhah untuk dibahagikan kepada orang yang lain. Ianya juga diberikan kepada Ummu Sulaim yang menunjukkan keharusan mengambil keberkatan dengan tinggalan baginda kerana rambut sudah pasti bukannya untuk dimakan tetapi untuk kegunaan yang lain.

Rasulullah sendiri yang mengajar umatnya untuk mengambil berkat dengan kesemua tinggalan baginda sampaikan air ludah baginda sendiri. Kita dapat melihat bahawa para sahabat merendamkan rambut baginda di dalam air lalu memberi minum kepada pesakit sebagai mengambil berkat dari tinggalan Rasulullah. Hadis berkenaan peristiwa ini dimuatkan oleh al-Bukhari[4], Muslim[5] dan Abu Daud[6].

Telah sahih dari Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak bahawa baginda telah meludah di mulut seorang kanak-kanak lelaki yang diganggu oleh syaitan setiap hari dua kali sambil berkata: “Keluar kamu wahai musuh Allah, aku adalah Rasulullah[7].

Khalid Bin al-Walid Radiyallahu Anhu seorang mujahid yang agung telah meletakkan sehelai rambut Rasululllah dalam lipatan penutup kepalanya yang mana rambut tersebut merupakan rambut bahagian hadapan kepala Rasulullah yang dicukur semasa umrah al-Ji’ronah. Beliau memakainya untuk mengambil berkat dengan tinggalan Rasulullah dalam setiap peperangannya. Dengan memakainya dengan izin Allah, setiap peperangan yang diterajui oleh beliau dikurniakan kemenangan. Kisah ini dimuatkan oleh al-Hafiz Ibnu Hajar al-Asqalani dalam al-Mathalib al-A’liyah[8].

Berkenaan kuku baginda, Imam Ahmad memuatkan hadis berkenaannya dalam musnad[9] beliau dari hadis Abdullah Bin Zaid Bin Abdu Rabbih dari Rasulullah bahawa baginda memotong kukunya dan membahagikan kepada orang ramai.

Imam Muslim[10] telah memuatkan hadis mengenai jubah Rasulullah dari Abdullah Bin Kaisan maula Asmak Binti Abu Bakar. Abdullah berkata bahawa Asmak telah mengeluarkan satu jubah Rasulullah sambil berkata: “Ini (jubah) sebelum ini berada di sisi Aisyah sehinggalah beliau meninggal. Selepas beliau meninggal aku menjaganya. Adalah Rasulullah memakainya (pada waktu baginda hidup). Maka kami membasuhnya (untuk mengambil air) bagi orang yang sakit untuk menyembuhkan (penyakit) dengannya”.

Dalam satu kisah dari Abu Ayub al-Ansari Radiyallahu Anhu, akan menunjukkan kepada kita bahawa tidaklah syirik semata-mata pergi ke kubur, memegangnya atau menciumnya. Siapakah Abu Ayub ini? Beliau merupakan salah seorang sahabat yang masyhur di mana Rasulullah turun di rumah beliau ketika baginda hijrah ke Madinah.

Pada suatu ketika Abu Ayub datang menziarahi makam Rasulullah lalu meletakkan wajahnya ke atas makam baginda untuk mengambil berkat di samping rindu yang amat sangat. Imam Ahmad telah meriwayatkan peristiwa tersebut dalam Musnadnya[11] dari Daud Bin Abu Soleh, beliau telah berkata: “Marwan telah datang pada suatu hari lalu mendapati seorang lelaki meletakkan wajahnya di atas makam. Lantas beliau berkata: Adakah kamu tahu apa yang kamu buat? Maka Abu Ayub mendatanginya lalu berkata: Ya. Aku mendatangi Rasulullah dan bukannya aku mendatangi batu. Aku telah mendengar Rasulullah Sallallahu Alaihi Wa Sallam telah bersabda: Janganlah kamu semua menangisi urusan agama apabila ianya dilaksanakan oleh ahlinya[12], tetapi tangisilah ia sekiranya yang melaksanakannya bukan ahlinya”.

Amal makruf kekalkan kurniaan nikmat

Oleh Drs Wan Aminurrashid

TUJUAN Allah mencipta manusia ialah untuk memakmurkan bumi, bukan merosakkannya. Bukankah hidup ini diciptakan Allah sebagai tempat atau pentas ujian untuk melihat siapakah yang paling baik amalan atau perbuatannya.


Allah berfirman yang bermaksud: “Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, supaya Kami menguji mereka siapakah yang terbaik perbuatannya”. (Surah Al-Kahfi, ayat 7).

Ayat itu bermakna hidup di dunia sebenarnya adalah masa untuk manusia berbuat makruf (kebaikan) dan mengumpulkan amal kebajikan sebagai bekalan untuk dibawa ke akhirat.

Bukankah dunia ini sebagai tempat bercucuk tanam atau ladang untuk akhirat sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam hadis baginda yang bermaksud: “Dunia adalah ladang (tempat bercucuk tanam) untuk akhirat”.

Orang yang bijaksana sebenarnya tidak mempunyai masa untuk melakukan perkara yang sia-sia, apatah lagi berbuat kejahatan yang membawa kepada dosa dan kemurkaan Allah.

Kebaikan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan turunnya rahmat Allah, sebaliknya kemurkaan Allah akan turun kepada manusia yang melakukan kemungkaran dan maksiat.

Sejarah mencatatkan malah Al-Quran sendiri ada merakamkan mengenai manusia yang ingkar daripada mengabdikan diri kepada Allah, tidak mahu mengikuti seruan Rasul yang diutuskan seperti kaum ‘Ad dan Tsamud hingga Allah menimpakan azab seksa yang dahsyat kepada mereka.

Mereka bukan saja menentang ajakan Rasul utusan Allah, tetapi juga melakukan kemungkaran dan perlakuan yang tidak bermoral, menyebabkan Allah murka.

Hari ini kita lihat keruntuhan moral atau akhlak berlaku di mana-mana saja termasuk di negara kita.

Kerosakan akhlak berlaku pada setiap peringkat masyarakat, yakni bukan saja remaja dan muda-mudi, malah dewasa dan berumur.

Justeru, perlu diingat bahawa Allah menimpakan musibah atau bala apabila sesuatu tempat itu berleluasa perbuatan maksiat dan ramai manusia yang tidak berakhlak.

Apabila melihat banyaknya berlaku keruntuhan moral khususnya umat Islam, kita sedih kerana sebagai umat terbaik iaitu umat Nabi Muhammad seakan-akan atau memang sebenarnya kita sudah mengecewakan baginda yakni dengan menampil dan memperlihatkan akhlak buruk yang bertentangan dengan akhlak yang baginda tonjolkan.

Padahal baginda diutuskan adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Apakah ini bukti cinta kita kepada Nabi Muhammad?

Janganlah kita menganggap keamanan dan kemakmuran serta kemewahan yang Allah limpahkan kepada kita selama ini akan berkekalan apabila melihat banyaknya perlakuan tidak berakhlak atau perkara maksiat terjadi di sana sini.

Musnahnya bangsa terdahulu tidak lain kerana moral mereka yang rosak, seperti kata penyair Arab bernama Syauqi yang bermaksud: “Sesuatu bangsa itu akan tetap teguh kalau masih mempunyai nilai moral, apabila tidak ada lagi nilai moral maka runtuhlah sesuatu bangsa itu”.

Segala yang kita terima hari ini berupa keamanan dan kemakmuran adalah ujian Allah. Namun, kita khuatir datangnya kemurkaan Allah apabila perlakuan kejahatan sudah berleluasa di sana sini.

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Demi Allah yang diriku dalam kekuasaan-Nya, hendaklah kamu semua menyuruh berbuat kebaikan (makruf) dan melarang berbuat kejahatan, atau kalau tidak, maka takut (khuatir) Allah menurunkan seksa kepada kamu semua, kemudian kamu memohon kepada-Nya, maka pada ketika itu Allah tidak akan memperkenankan segala permohonan kamu.” (Hadis riwayat Tirmidzi).

Hadis itu memberi penekanan supaya sentiasa berlumba-lumba berbuat makruf, kemudian mengajak orang lain berbuat demikian dan pada masa sama menjauhi kejahatan dan melarang orang lain berbuat demikian.

Namun, jika hal itu tidak kita lakukan (yakni tidak berbuat/tidak mengajak kepada makruf dan tidak menjauhi kejahatan), dikhuatiri Allah akan menurunkan azab dan seksaan Allah itu pula merata, dalam erti kata tidak cuma mengenai yang jahat tetapi juga yang baik-baik.

Apabila Allah murka, maka segala permohonan daripada hamba-Nya tidak Allah perkenankan.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah menyatakan bahawa Allah ada menerangkan yang bermaksud: “Kadang-kadang Aku (Allah) bermaksud (ingin) akan menyeksa hamba-Ku, tetapi sewaktu Aku melihat orang yang berduyun mengunjungi masjid, orang yang mendengarkan ayat-Ku, anak Muslim yang asyik belajar agama, (maka) reda dan tenteramlah kembali (rasa) amarah-Ku”.

Jika diteliti hadis ini, kita bersyukur kerana amalan agama di negara kita sangat baik hingga dijadikan contoh oleh negara Islam lain.

Masyarakat Islam sentiasa memakmurkan masjid, berduyun hadir ke masjid untuk solat berjemaah pada setiap waktu, ramai yang mengikuti pelbagai majlis ilmu, terutama kuliah selepas maghrib.

Ramai anak belajar ilmu agama seiring banyaknya terbina sekolah agama di negara kita. Masih ramai lagi alim ulama yang sentiasa mendoakan keamanan dan kemakmuran sehingga negara kita terpelihara, aman dan dilimpahi nikmat yang tidak terkira banyaknya.

Marilah kita berusaha mengekalkan keamanan dan kurniaan nikmat yang melimpah ini dengan melakukan perbuatan yang mendatangkan keredaan Allah iaitu dengan melakukan kebaktian dan pengabdian kepada Allah, berbuat makruf serta menjauhi kemungkaran.

Kita perlu bersyukur dengan segala nikmat yang diterima, reda dengan segala yang ada di samping bersabar dengan segala yang menimpa. Semoga Allah dengan kemurahan dan kasih sayang akan terus menerus memberikan kesejahteraan kepada kita semua.

Ufuk Minda: Bekerja dalam semangat solat janjikan hasil cemerlang

Oleh Prof Dr Sidek Baba

SOLAT yang menjadi amalan rohaniah insan perlu mempunyai falsafah yang unik dalam proses pembentukan diri. Membangunkan solat (aqimus solat) adalah proses membangunkan hati dan diri serta menjadikan manusia lebih fokus.


Bayangkan pada awal pagi atau ketika bening subuh insan bangun menghubungkan dirinya dengan Allah, melakukan solat, memanjatkan doa dan harapan, mohon petunjuk, meminta keampunan, mengharapkan hidayah dengan bahasa yang merendah, membayangkan kekurangan dan kehinaan serta memohon kekuatan untuk hidup dalam reda.

Itulah ahli abid atau ahli ibadat yang memulakan hidup hariannya dengan tekad yang tinggi supaya rutin harian hidup sentiasa berkait dengan amal dan ibadat.

Pada waktu Zuhur, insan Muslim diajak sekali lagi melakukan muhasabah dengan Allah. ‘Check-point’ kedua tentu mengukuhkan tekad yang dibina berbanding ketika yang pertama tadi.

Proses pemurnian diri mengangkat martabat insan kerana tekad tinggi menjadikan kerja dan urusan hidup lebih bermakna.

Pada waktu Asar sekali lagi kita melalui ‘check-point’ ketiga iaitu selepas berakhirnya kerja di pejabat dan bakal kembali ke rumah untuk meraikan hak keluarga dan anak-anak.

Waktu maghrib sekali lagi kita rukuk dan sujud untuk melalui ‘check-point’ keempat bagi meningkatkan lagi proses pemurnian hati dan jiwa, proses pengukuhan tekad serta proses meningkatkan bakti dan amal.

Akhirnya seseorang hamba Allah akan melalui ‘check-point’ yang terakhir iaitu panggilan Isyak sebelum ‘dimatikecilkan’ kata orang tasawuf.

Riwayat rutin hidup untuk hari berkenaan dirakam dalam lembaran timbangan amal untuk diserahkan kepada Allah.

Urusan keesokan hari pula akan terbentang lembaran seterusnya bagi menghasilkan buku hidup yang akhirnya akan diperiksa oleh Allah timbangan amal dan ibadatnya.

Inilah lambang kepatuhan dan ketaatan menerusi solat yang mengukuhkan lagi jiwa kehambaan terhadap Allah yang Maha Esa.

Ia mengekal dan menyuburkan insan di dalam keadaan fitrah dan rutin hidupnya sentiasa berpandukan sifat patuh dan taat yang tidak berbelah bagi.

Fitrah insan yang memiliki sifat taat dan patuh adalah juga gambaran gelagat makhluk dan ciptaan lain yang sentiasa tunduk dengan sunnah Allah.

‘Sunnatullah’ atau ketentuan Allah berhubung rapat dengan sifat kejadian sesuatu.

Contohnya, air yang sifat semula jadinya membersihkan akan terus memberi rahmat kepada manusia kerana rutin hidup manusia menemui benda kotor yang perlu dicuci.

Air yang fitrah semula jadinya juga menghilangkan dahaga penting untuk tubuh badan, akan terus bermanfaat kepada manusia kerana kita sering berasa haus.

Air yang memiliki sifat menyuburkan tanah juga membolehkan pohon tumbuh dan membesar, seterusnya menghasilkan bunga serta buah malah bagi yang bersifat sayur-sayuran untuk makanan manusia serta makhluk lain.

Bayangkan sifat semula jadi air tidak berfungsi untuk mencuci kotoran atau sebagai bahan minuman untuk menghilangkan dahaga atau menjaga tubuh badan dan bahan, tidak menjadi sumber melembutkan tanah bagi menumbuhkan pohon, manusia akan mati kebuluran dan haiwan mengalami kepupusan serta kehidupan manusia dan makhluk tidak ada lagi dalam kerangka sunnatullah dan fitrah.

Oleh kerana air memang sifat semula jadinya sedemikian, ia terus tunduk, patuh dan taat menyumbang fitrah ke atas sunnatullah.

Allah juga menjadikan minyak dan gas yang sifat jadinya berfungsi sebagai bahan bakar dan tenaga yang amat berguna untuk menggerakkan kenderaan, jentera dan bagi keperluan masakan.

Bayangkan tanpa minyak dan gas manusia hanya menggunakan cara lama untuk memajukan kenderaan, industri dan juga kegiatan masakan.

Sifat jadinya bahan itu adalah untuk manfaat manusia (yan faunas) juga membayangkan sifat tunduk dan patuh selari dengan sunnatullah atau ketentuan Allah.

Maha Perkasa Allah menurunkan rahmat dan nikmat bagi menggerakkan kehidupan dan alam ini.

Apatah lagi dengan kejadian manusia yang memiliki kelebihan yang amat banyak, ia berlaku dalam keadaan fitrah dan terhubung rapat dengan ‘sunnatullah’.

Manusia hidup, sihat, sakit, muda, tua dan akhirnya mati. Itulah ketentuan atau ‘sunnatullah’ di mana mereka tidak boleh mengelak daripadanya.

Itulah juga fitrah yang meletakkan manusia di bawah kawalan dan ketentuan-Nya.

Antara kelebihan yang diberikan Allah kepada manusia ialah akal dan hati. Daripada kekuatan akal membolehkan manusia berfikir dan tahu mengenai sesuatu, seterusnya membantu mereka memiliki pengetahuan.

Daripada pengetahuan dan ketrampilan yang diterima menjadikan manusia berilmu dan ia menjadi penyuluh dalam hidup, sebagai obor dan cahaya mengatasi kejahilan serta akhirnya menjadikan manusia kreatif dan menghasilkan sesuatu bagi mengekal dan menyuburkan manusia supaya sentiasa berada dalam keadaan fitrah.

Justeru, berada dalam keadaan fitrah adalah asas kepada kerja dan kreativiti yang cemerlang.

Manusia yang bekerja dalam semangat ‘ruhus solat’ umpamanya memiliki katalis atau dorongan untuk melakukan sebaik mungkin kerja kerana ia dilihat sebagai sumber ibadat.

Semakin baik dan berkualiti kerja dilakukan, semakin tinggi darjah ibadat akan diterima.

Gandingan kerja sebagai ibadat ini amat dituntut kerana sifat tunduk dan taat akan menjadikan pekerja lebih jujur dan ikhlas serta membawa hasil yang cemerlang dalam sesebuah organisasi dan institusi.

Oleh kerana penghayatan solat amat penting dan ketaatan terhadap-Nya menjadikan kita manusia yang sentiasa mempunyai jiwa rukuk dan sujud ataupun tunduk dan taat.

Kualiti patuh dan taat amat diperlukan dalam sesebuah organisasi kerana tanpa patuh dan taat, kualiti kerja akan menjadi masalah.

Manusia yang bekerja kerana Allah tahu dorongan dalam diri adalah lebih bertenaga mendorong mereka rajin dan terus berusaha.

Dorongan itu selalunya menjadi dorongan utama manusia melakukan sesuatu yang terbaik mungkin.

Sekiranya dorongan dalam diri adalah pancaran jiwa jernih yang sentiasa memohon petunjuk dan keredaan Allah, ia bakal memberi faedah kepada organisasi atau institusi

Isam sangat khuatir ibadat tidak khusyuk

DIKISAHKAN bahawa ada seorang ahli ibadat bernama Isam bin Yusuf yang sangat warak dan khusyuk sembahyangnya.


Namun, beliau selalu khuatir jika ibadatnya kurang khusyuk dan sering bertanya kepada orang yang dianggap lebih baik ibadatnya, demi untuk memperbaiki diri yang selalu dirasakan kurang khusyuk.

Pada suatu hari Isam menghadiri majlis seorang abid bernama Hatim Al-Asam dan bertanya: “Wahai Aba Abdurrahman (nama gelaran Hatim), bagaimanakah caranya tuan sembahyang?”

Berkata Hatim: “Apabila masuk waktu sembahyang, aku berwuduk zahir dan batin”.

Bertanya Isam: “Bagaimana wuduk batin itu?”

Berkata Hatim: “Wuduk zahir sebagaimana biasa, iaitu membasuh semua anggota wuduk dengan air, sementara wuduk batin ialah membasuh anggota dengan tujuh perkara:

bertaubat

menyesali akan dosa yang dilakukan.

tidak tergila-gila dengan dunia

tidak mencari atau mengharapkan pujian daripada manusia

meninggalkan sifat bermegah-megahan.

meninggalkan sifat khianat dan menipu

meninggalkan sifat dengki”.

Seterusnya Hatim berkata: “Kemudian aku pergi ke masjid, aku kemaskan semua anggota dan menghadap kiblat.

“Aku berdiri dengan penuh waspada dan aku bayangkan Allah berada di hadapan, syurga di sebelah kanan, neraka di sebelah kiri, malaikat maut berada di belakang aku.

“Dan aku membayangkan pula bahawa aku seolah-olah berdiri di atas titian Siratul Mustaqim dan aku menganggap bahawa sembahyang aku kali ini adalah sembahyang yang terakhir bagiku (kerana aku rasa akan mati selepas sembahyang ini), kemudian aku berniat dan bertakbir dengan baik.

“Setiap bacaan dan doa dalam sembahyang aku fahami maknanya kemudian aku rukuk dan sujud dengan tawaduk (berasa hina), aku bertasyahud (tahiyat) dengan penuh pengharapan dan aku memberi salam dengan ikhlas. Beginilah aku bersembahyang selama 30 tahun”.

Apabila Isam mendengar, menangislah dia kerana membayangkan ibadatnya yang kurang baik bila dibandingkan dengan Hatim.

Doa Abdullah syahid ketika perang dimakbul

SALAH seorang keluarga terdekat Rasulullah yang beruntung adalah Abdullah bin Jahsy.


Beliau yang juga sepupu baginda memeluk Islam sebaik saja agama Allah ini dikumandangkan. Oleh itu, beliau termasuk As-Sabiqunal Awwalun (golongan yang mula-mula masuk Islam).

Sebagai As-Sabiqunal Awwalun, Abdullah banyak mengalami penderitaan yang dilakukan oleh kaum Quraisy hingga terpaksa berhijrah dua kali.

Pertama kali ke Habsyah dan kedua ke Madinah. Sewaktu hijrah ke Madinah, rumahnya yang banyak dengan barang berharga dicuri oleh Abu Jahal dan kuncu-kuncunya.

Mereka dengan seronok dan rakus menceroboh rumah Abdullah dan mengaut barangnya.

Selepas tiba di Madinah, Abdullah sentiasa bersiap sedia untuk menentang orang kafir Quraisy. Pertama sekali beliau ditugaskan oleh Rasulullah ialah memimpin pasukan kecil yang bertugas merisik gerak geri orang Quraisy Makkah.

Dalam gerakan ini, Abdullah dan sahabat berhasil membunuh dan menawan pihak musuh walaupun tidak dipersetujui oleh Rasulullah. Selepas itu, Abdullah ikut terbabit dalam perang Badar dan Perang Uhud.

Dalam perang Uhud, berlaku satu peristiwa penting yang mengharukan dialami Abdullah.

Peristiwa itu dituturkan oleh teman seperjuangan Abdullah yang sentiasa berdampingan dengannya iaitu Saad bin Abi Waqas yang sempat hidup lama selepas Rasulullah wafat.

Saad tidak pernah melupakan pengalamannya ketika bersama Abdullah.

Ketika perang Uhud, Abdullah menemui Saad dan bertanya, “Apakah engkau tidak berdoa?”

Saad menjawab: “Tentulah berdoa”.

Kemudian kedua-dua sahabat itu pergi mencari tempat yang agak jauh daripada pandangan mata untuk bermunajat kepada Allah.

Pertama sekali Saad berdoa: “Ya Tuhanku! Jika kami akan dipertemukan dengan musuh, pertemukan saya musuh yang sangat jahat dan buas. Saya akan bertempur melawannya. Berilah saya kemenangan hingga musuh itu tewas.”

Ketika Saad berdoa, Abdullah ikut mengaminkan ia dengan khusyuk.

Kini giliran Abdullah sendiri berdoa untuk dirinya sendiri: “Wahai Allah! Berilah saya rezeki seorang musuh yang sangat jahat dan buas. Saya akan melawannya demi Engkau, tetapi kemudian dia kembali menewaskan saya pula.

“Kemudian dia memotong hidung dan telinga saya. Apabila saya berjumpa Engkau esok, Engkau akan bertanya kepada saya: Mengapa hidung dan telinga engkau tiada wahai Abdullah?” Saya akan menjawab: “Kerana membela agama Allah dan Rasul Engkau!” Lalu engkau berkata: “Benar engkau”.

Selepas berdoa, Abdullah terus maju ke medan tempur. Mula-mula kaum Muslimin dapat mengundurkan tentera kaum Quraisy, namun kemudian orang Islam terdesak dan kaum musyrikin mengganas.

Beberapa orang Islam yang syahid mereka cincang sebagai meluahkan rasa dendam ketika kalah di perang Badar.

Apabila perang selesai, didapati Abdullah menemui syahid.

Rohnya dibawa naik oleh malaikat sementara badannya betul-betul seperti apa yang diminta kepada Allah iaitu hidung dan telinga dipotong oleh orang kafir Quraisy.

Bukan hanya itu saja, hidung dan telinga yang dipisahkan daripada badan itu didapati ditusuk dengan seutas tali dan digantungkan pada sebatang pokok. Allah mengabulkan doa pahlawan-Nya.

Jamaluddin tiup semangat kegemilangan Islam

JAMALUDDIN bin Safdar ialah seorang pejuang Islam yang lebih dikenali sebagai Jamaluddin Al-Afghani.


Keluarga beliau mempunyai kaitan dengan Ali At-Tarmizi, seorang ahli hadis terkenal yang mempunyai ikatan kekeluargaan dengan Saidina Hasan bin Ali bin Abi Talib.

Sebelum bapanya menceburkan diri dalam bidang ketenteraan, beliau adalah seorang petani biasa.

Apabila bertugas dengan tentera dan diberi amanah untuk meronda di kawasan sempadan Afghanistan, bapanya tertarik hati dengan negeri itu lalu menetap di sana.

Jamaluddin lahir pada 1839 di perkampungan Isabad dalam jajahan Iran. Pada umur lima tahun, beliau mula diberi pelajaran. Selepas umurnya meningkat 10 tahun, dia mula mengembara dan mendekati golongan ilmuwan di kawasan yang dilawatinya.

Ketika umurnya belum mencapai 16 tahun, beliau sudah sampai di India. Pada usia 18 tahun, beliau mahir berbahasa Arab dan terus belajar pelbagai disiplin ilmu Islam yang lainnya termasuk kedoktoran dan sains.

Jamaluddin banyak menghabiskan masanya dengan merantau dari satu negeri ke negeri lainnya.

Dalam setiap negeri yang dia singgah, beliau sering membangkitkan semangat rakyat supaya berjuang mengembalikan kegemilangan Islam.

Jamaluddin pernah tinggal dalam masyarakat komunis di Russia selama lebih empat tahun dan mengkaji mengenai budaya masyarakat itu.

Oleh kerana kecenderungan untuk meniupkan semangat pemberontakan di kalangan umat Islam, beliau sentiasa mendapat pengawasan yang ketat daripada penguasa di negeri yang disinggahinya.

Negeri yang dilawatinya tidak pernah memberi kemudahan baginya untuk tinggal lebih lama.

Sewaktu lawatannya buat kali kedua ke India, walaupun pihak pemerintah India memberi sambutan dan penghormatan kepadanya namun beliau tidak dibenarkan untuk menemui pemimpin India yang lain dan rakyat jelata.

Beliau hanya ditempatkan di pejabat pemerintah dengan layanan yang penuh dengan istiadat rasmi.

Ketika beliau sampai di Istanbul, kerajaan tidak mengizinkan beliau tinggal lama kerana penguasa melihat sambutan yang diberikan rakyat kepadanya boleh menggugat keselamatan dalam negeri.

Melihat situasi seumpama itu, pemerintah Turki memerintahkan Jamaluddin supaya meninggalkan kota itu dengan seberapa segera.

Dalam perjalanan pulang beliau singgah di Mesir. Ketika di situ, beliau memberi kuliah dan menulis dengan begitu lantang memperkatakan mengenai bahayanya penjajahan Inggeris terhadap negara mereka.

Beliau mendedahkan bagaimana kesan itu yang boleh merosakkan pemikiran dan jiwa umat Islam di samping menjejaskan pertumbuhan ekonomi dan sosial.

Bagi menghindari pengaruh budaya Barat, Jamaluddin menyeru masyarakat supaya berpegang teguh dengan ajaran Islam dan berjihad menentang penjajah.

Pengajaran Jamaluddin yang amat ketara kepada dunia Islam ialah pertama memperbaharui sistem pendidikan Islam supaya mampu berdepan dengan tamadun moden.

Kedua untuk membebaskan negara umat Islam daripada diperkudakan oleh barat.

Beliau berpendapat bahawa kepincangan akhlak dan lemahnya semangat juang disebabkan keadaan mereka yang dikuasai oleh nafsu.

Selain itu, beliau berpendapat bahawa kekuasaan negara Barat ke atas umat Islam amat berbahaya dan sekiranya keadaan ini dibiarkan berterusan tanpa dilakukan sesuatu perubahan, nasib umat Islam akan menjadi semakin buruk.

Umat Islam mesti bangkit melawan segala pengaruh barat melalui perang jihad yang berterusan.

Justeru, seruannya menyatukan umat Islam (Pan Islamisme) dan menegakkan kembali empayar Islam meliputi seluruh dunia, maka kehadirannya di setiap negara selalu mendapat sambutan rakyat dan sekali gus menjadi kebencian penguasa yang menjadi tali barut Barat hingga kerap beliau diusir dan terpaksa berpindah dari satu negeri ke negeri lain.

Beliau meninggal dunia di Istanbul kerana diracun oleh musuh Islam yang begitu cemburu dengan pengaruhnya yang semakin meluas.

Amal yang Dapat Membangun Kecintaan Kita kepada Allah

“Ketahuilah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu

usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih

kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan

keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik” (QS. At-Taubah:24)

Kita semua mengaku mencintai Allah. Pengakuan saja tidak cukup, perlu pembuktian. Di antara kita harus menjalankan

dan mencintai amal yang dicintai Allah SWT, bahkan apa yang dicintai Allah, harus lebih kita utamakan daripada apa

yang kita cintai dan yang dicintai oleh orang dekat kita seperti ayat di atas.

Ibnul Qoyyim, seorang ulama abad VII, menjelaskan ada sepuluh amal yang dapat membangun kecintaan kita kepada

Allah:

1.Membaca Al-Quran dan memahaminya.

2.Mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan sunnah-sunnah sesudah selesai menjalankan kewajiban.

3.Selalu berdzikir dalam segala kondisi, dengan lidah, hati, dan amal perbuatan.

4.Mengutamakan apa yang dicintai Allah terutama jika bersinggungan dengan hawa nafsu kita.

5.Mengingat dan menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah yang mulia (Asmaullah Al-Husna) sambil

meresapinya.

6.Memperhatikan karunia dan pemberian Allah baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

7.Menundukan hati sepenuhnya kepada Allah SWT.

8.Menyendiri di waktu malam untuk sholat tahajjud, membaca Al-Quran dan bermunajat kepada Allah SWT.

9.Bergaul dengan para ulama dan orang-orang sholeh, serta mengambil buah baik dari pembicaraan mereka.

10.Menghindari segala macam hal yang dapat mempengaruhi hubungan hati kita kepada Allah SWT (lihat QS.

Al-Baqarah:165)

Oleh :

Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Anak Yang Soleh

Nabi Musa adalah satu-satunya Nabi yang boleh bercakap terus dengan Allah SWT. Setiap

kali dia hendak bermunajat, Nabi Musa akan naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia

akan bercakap dengan Allah SWT. Nabi Musa sering bertanya dan Allah SWT akan menjawab

pada waktu itu juga. Ini lah kelebihannya yang tiada pada nabi-nabi lain. Suatu hari Nabi

Musa bertanya kepada Allah SWT…

“Ya Allah siapakah orang yang di syurga nanti akan berjiran dengan aku ?”.

Allah SWT menjawab dengan mengatakan nama orang itu, kampung serta tempat tinggalnya.

Setelah mendapat jawapan Nabi Musa turun dari bukit dan terus berjalan menuju ke tempat

yang diberitahu.

Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya beliau sampai ke tempat berkenaan.

Dengan pertolongan beberapa penduduk di situ beliau berjaya bertemu dengan orang

tersebut. Setelah memberi salam beliau dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Tuan

rumah tidak melayan Nabi Musa dan terus masuk ke bilik dan melakukan sesuatu. Sebentar

kemudian dia keluar sambil membawa seekor khin’zir betina yang besar dan didokong

dengan cermat. Nabi Musa terkejut dan bertanya “Apa hal ini ?” di dalam hatinya penuh

kehairanan. Khin’zir itu dimandikan dan dibersihkan dengan baik, dikeringkan, dipeluk dan

diciumnya. Selepas itu orang tersebut membawa keluar pula seekor khin’zir jantan dan

dilakukan serupa dengan khin’zir betina tadi.

Setelah selasai tugasnya, barulah orang itu melayan Nabi Musa dan lalu bertanya,

“Wahai saudara, apa agama kamu ?”.

“Tauhid agamaku”, jawab orang itu iaitu agama Islam.

“Mengapa kamu membela khin’zir, kita dilarang berbuat begitu”, kata Nabi Musa.

“Wahai tuan hamba, sebenarnya kedua-dua ekor khin’zir itu adalah kedua ibu-bapaku”,

terang orang itu. “Oleh kerana kedua-dua mereka telah melakukan dosa besar, Allah SWT

telah menukarkan rupa mereka kepada khin’zir. Soal dosa mereka dengan Allah adalah

urusan mereka dan urusan Allah. Aku sebagai anaknya akan berbakti dan tetap

melaksanakan kewajipan sebagai anak sepertimana yang tuan hamba lihat tadi walaupun

mereka telah bertukar menjadi khin’zir”, jelas dengan orang itu lagi.

“Setiap hari aku berdoa kepada Allah SWT agar dosa mereka diampunkan serta menukarkan

wajah mereka seperti manusia biasa”, tambah orang itu lagi.

Maka ketika itu juga Allah SWT menurunkan wahyuNya kepada Nabi Musa.

“Wahai Musa inilah orang yang akan berjiran dengan kamu di syurga nanti, daripada hasil

baktinya yang terlalu tinggi kepada kedua ibu-bapanya, walau pun telah berubah kepada

khin’zir. Oleh itu Kami naikkan maqamnya sebagai anak yang soleh di sisi Kami. Oleh kerana

dia telah berada dimaqam anak yang soleh disisi Kami, maka Kami makbulkan doanya.”

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Itulah berkat doa anak yang soleh. Doa anak yang soleh dapat menebus dosa kedua ibu-bapa.

Walau macam mana buruk kedua ibu-bapa dan dosa kedua ibu-bapa kita, itu adalah bukan

urusan kita. Urusan kita ialah menjaga mereka dengan penuh kasih sayang sepertimana

mereka menjaga kita sewaktu masih kecil lagi hinggakan dewasa. Walau banyak mana dosa

yang dilakukan, urusan kita ialah memohonkan ampun kepada Allah SWT, semoga mendapat

tempat di akhirat dan alam kubur. Erti kasih sayang kepada ibu bapa bukanlah wang ringgit,

cukuplah dengan doa agar mendapat tempat di sisi Allah SWT.

Andainya Cinta Itu Hendak Diberi

Kasih manusia sering bermusim, sayang manusia tiada abadi. Kasih Tuhan tiada bertepi, sayang Tuhan janjiNya pasti” Itulah sedikit dari bait2 lagu Raihan. Lantaran kasih manusia yg sering bermusim dan sayangnya yg tak kekal lama, kita perlu sentiasa berwaspada terutamanya dlm memilih pasangan. Andainya sikit drpd cinta itu hendak diberi pada seseorang yg boleh digelar suami, pilihlah seorang lelaki yang…

1-Kuat agamanya.

Biar sibuk macamana, solat fardu tetap terpelihara. Utamakanlah pemuda yg kuat pengamalan agamanya. Lihat saja Rasulullah menerima pinangan Saidina Ali buat puterinya Fatimah. Lantaran ketaqwaannya yg tinggi biarpun dia pemuda paling miskin.

2-Baik akhlaknya.

Ketegasannya nyata tapi dia lembut dan bertolak-ansur hakikatnya. Sopan tutur kata gambaran peribadi dan hati yang mulia. Rasa hormatnya pada warga tua ketara.

3-Tegas mempertahankan maruah.

Pernahkah dia menjengah ke tempat2 yang menjatuhkan kredibiliti dan maruahnya sebagai seorang Islam.

4-Amanah

Jika dia pernah mengabaikan tugas yang diberi dengan sengaja ditambah pula salah guna kuasa, lupakan saja si dia.

5-Tidak boros

Dia bukanlah kedekut tapi tahu membelanjakan wang dengan bijaksana. Setiap nikmat yang ada dikongsi bersama mereka yang berhak.

6-Tidak liar matanya

Perhatikan apakah matanya kerap meliar ke arah perempuan lain yang lalu-lalang ketika berbicara. Jika ya jawabnya, dia bukanlah calon yang sesuai buat kamu.

7-Terbatas pergaulan

Sebagai lelaki dia tahu dia tak mudah jadi fitnah orang, tapi dia tak amalkan cara hidup bebas.

8-Rakan pergaulannya.

Rakan2 pergaulannya adalah mereka yang sepertinya.

9-Bertanggungjawab

Rasa tanggungjawabnya dapat diukur kepada sejauh mana dia memperuntukkan dirinya utk parents dan ahli familynya. Jika parentsnya hidup melarat sedang dia hidup hebat, nyata dia tak bertanggungjawab

10-Tenang wajah

Apa yg tersimpan dalam sanubari kadang2 terpancar pd air muka. Wajahnya tenang, setenang sewaktu dia bercakap dan bertindak.

Berbahagialah kamu jika diintai calon yang demikian sifatnya…”

ANTARA RAJAK (HARAPAN) DAN KHAUF (KEBIMBANGAN)

Konsep Rajak dikaitkan dengan harapan manusia akan kurniaan Allah sama ada di

dunia mahupun akhirat. Sangkaan baik bahawa Allah akan memasukkan mereka ke

dalam syurga kerana Allah bersifat dengan Maha Pengasih dan Maha Pengampun.

Konsep Khauf pula dikaitkan dengan perasaan takut dan bimbang akan azab Allah

dan malapetaka yang diturunkan sama ada di dunia lebih-lebih lagi di akhirat.

Manusia tidak dapat dipisahkan dari 2 keadaan ini sama ada rajak atau khauf. Ada

yang terlalu berharap (sangka baik) terhadap kurnia Allah sehingga mereka lupa

untuk beribadat kepada Allah. Mereka lalai dan relaks dari tanggungjawab sebagai

hamba Allah namun masih menaruh harapan tinggi Allah akan mengampunkannya.

Mereka lupa bahawa azab Allah amat pedih.

Satu golongan lagi terlalu takut terhadap azab Allah sehingga sebahagian besar

masanya beribadat tanpa ada ruang untuk hal-hal selain dari urusan akhirat. Mereka

lupa untuk menguruskan keduniaan mereka.

Kedua-dua golongan ini extreme sama ada ke arah keduniaan dan keakhiratan

mutlak. Golongan pertama condong ke arah dunia dan lupakan akhirat sementara

kedua condong ke akhirat dan lupakan dunia.

Dalam memperkatakan kedua-dua keadaan ini, kedudukan kita hendaklah antara

khauf dan rajak; tidak terlalu khauf dan tidak terlalu rajak. Adalah lebih selamat

dalam menjalani hidup di dunia ini, kita lebihkan perasaan khauf – takut kepada

Allah. Dengan ada perasaan ini kita sentiasa takut melakukan maksiat dan rajin

membuat ibadat. Hidup kita akan lebih selamat. Meskipun begitu jangan terlalu takut

sehingga terabai tanggungjawab di dunia.

Bila masanya kita perlukan perasaan rajak (harapan)? Jika khauf semasa menjalani

hidup dunia, rajak pula kita gunakan semasa di ambang kematian. Di saat-saat

menghadapi mati, kita hendaklah penuhkan dengan harapan 100% supaya Allah

mengampuni kita. Kita menyangka baik Allah akan memasukkan kita ke dalam

syurga. Ketika inilah kita yakinkan kepada diri kita Allah Maha Pengampun, Maha

Pengasih, Maha Penyayang dan Maha Lemahlembut. Allah menurut apa yang kita

sangkakan. Jika kita sangka baik terhadap Allah, Allah akan mengikut menurut

sangkaan kita.

Menyorot kehidupan sekarang, seolah-olah manusia sudah hilang perasaan khauf.

Kebanyakannya lalai dan leka dari menunaikan tanggungjawab. Namun pada masa

yang sama mengharapkan keampunan Allah. Harapan begini hanya angan-angan

kosong tak ubah seperti angan-angan Mat Jenin.

Oleh itu sama-samalah nasihat-menasihati antara satu sama lain supaya kita tidak

terdorong kepada perilaku yang terlalu rajak. Sebaliknya tanamkan perasaan khauf

dalam diri kita supaya di akhir nafas kita nanti Allah permudahkan untuk kita

menaruh perasaan rajak. Semoga kita semua akan selamat di satu alam yang kekal

dan abadi di dalam syurga yang penuh kemanisan dan kenikmatan.

ANTARA SABAR DAN MENGELUH

Pada zaman dahulu ada seorang yang bernama Abul Hassan yang pergi haji di Baitul Haram. Diwaktu tawaf tiba-tiba ia melihat seorang wanita yang bersinar dan berseri wajahnya.


“Demi Allah, belum pernah aku melihat wajah secantik dan secerah wanita itu,tidak lain kerana itu pasti kerana tidak pernah risau dan bersedih hati.”

Tiba-tiba wanita itu mendengar ucapan Abul Hassan lalu ia bertanya, “Apakah katamu hai saudaraku ? Demi Allah aku tetap terbelenggu oleh perasaan dukacita dan luka hati kerana risau, dan seorang pun yang menyekutuinya aku dalam hal ini.”

Abu Hassan bertanya, “Bagaimana hal yang merisaukanmu?”

Wanita itu menjawab, “Pada suatu hari ketika suamiku sedang menyembelih kambing korban, dan pada aku mempunyai dua orang anak yang sudah boleh bermain dan yang satu masih menyusu, dan ketika aku bangun untuk membuat makanan, tiba-tiba anakku yang agak besar berkata pada adiknya, “Hai adikku, sukakah aku tunjukkan padamu bagaimana ayah menyembelih kambing ?”

Jawab adiknya, “Baiklah kalau begitu ?”

Lalu disuruh adiknya baring dan disembelihkannya leher adiknya itu. Kemudian dia merasa ketakutan setelah melihat darah memancut keluar dan lari ke bukit yang mana di sana ia dimakan oleh serigala, lalu ayahnya pergi mencari anaknya itu sehingga mati kehausan dan ketika aku letakkan bayiku untuk keluar mencari suamiku, tiba-tiba bayiku merangkak menuju ke periuk yang berisi air panas, ditariknya periuk tersebut dan tumpahlah air panas terkena ke badannya habis melecur kulit badannya. Berita ini terdengar kepada anakku yang telah berkahwin dan tinggal di daerah lain, maka ia jatuh pengsan hingga sampai menuju ajalnya. Dan kini aku tinggal sebatang kara di antara mereka semua.”

Lalu Abu Hassan bertanya, “Bagaimanakah kesabaran mu menghadapi semua musibah yang sangat hebat itu ?”

Wanita itu menjawab, “Tiada seorang pun yang dapat membezakan antara sabar dengan mengeluh melainkan ia menemukan di antara keduanya ada jalan yang berzeda. Adapun sabar dengan memperbaiki yang lahir, maka hal itu baik dan terpuji akibatnya. Dan adapun mengeluh, maka orangnya tidak mendapat ganti yakni sia-sia belaka.”

Demikianlah cerita di atas, satu cerita yang dapat dijadikan teladan di mana kesabaran sangat digalakkan oleh agama dan harus dimiliki oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada Allah dalam setiap terkena musibah dan dugaan dari Allah.
Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda dalam firman Allah dalam sebuah hadith Qudsi,:
” Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang Mukmin, jika Aku ambil kekasihnya dari ahli dunia kemudian ia sabar, melainkan syurga baginya.”

Begitu juga mengeluh. Perbuatan ini sangat dikutuk oleh agama dan hukumnya haram. Kerana itu Rasulullah s.a.w bersabda,: ” Tiga macam daripada tanda kekafiran terhadap Allah, merobek baju, mengeluh dan menghina nasab orang.”

Dan sabdanya pula, ” Mengeluh itu termasuk kebiasaan Jahiliyyah, dan orang yang mengeluh, jika ia mati sebelum taubat, maka Allah akan memotongnya bagi pakaian dari wap api neraka.” (Riwayat oleh Imam Majah)

Semoga kita dijadikan sebagai hamba Tuhan yang sabar dalam menghadapi segala musibah.

Antara Syarat-syarat untuk menjadi Khalifah (pemimpin).

1. Berpengetahuan tinggi dengan erti yang sebenarnya,bukan berdiploma tinggi, kerana ia akan memimpin dan mentanfizkan segala hukum Allah dan peraturan-peraturan-Nya, baik terhadap rakyat yang beragama, atau orang-orang yang tidak beragama, mahupun terhadap negara. Orang yang tidak mengetahui hukum Allah tentunya tidak dapat menjalankannya dengan sempurna.

2. Adil dengan erti yang luas, bererti menjalankan segala kewajipan dan menjauhi segala larangan serta dapat menjaga kehormatan dirinya. Khalifah selain dia sendiri wajib mentanfizkan hukum, juga berkewajipan mengawasi segala hukum yang dijalankan oleh wali-wali negeri yang diserahinya.

2. Kifayah, ertinya bertanggungjawab, teguh, kuat dan cekap untuk menjalankan pemerintahan, memajukan negara dan agama, sanggup membela keduanya dari segala ancaman musuh.

4. Sejahtera pancaindera dan anggotanya, dari segala yang mengurangkan kekuatan (berfikir atau kekuatan jasmani atau tenaga bekerja).

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang Yahudi dan Nasrani (kristian) itu

sebagai ketua sebahagian yang lain. Sesiapa di kalangan kamu yang menjadikan mereka sebagai

pemimpin, maka sesungguhnya ia jadi golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi

petunjuk kepada orang yang zalim”. (al-Maidah:51)

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan (pemimpin Atau ketua) orang yang

menjadikan agama kamu sebagai ejekan dan permainan, daripada ahlil kitab yang sebelum kamu

dan (jangan kamu jadikan) orang kafir sebagai ketua dan takutlah kepada Allah, jika kamu

sungguh-sungguh orang beriman”. (al-Maidah : 57)

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu ambil sebagai sahabat setia lain daripada golongan

kamu; mereka itu tidak henti-hentinya berikhtiar menarik kecelakaan keatas kamu, mereka itu suka

apa yang menyusahkan kamu. Sesungguhnya kebencian telah terbit dari mulut mereka itu, tetapi apa

yang tersembunyi dalam hati mereka itu adalah lebih besar. Kami telah terangkan tanda-tanda

kepada kamu, jika kamu (mahu berfikir)”. (Ali-Imran : 118)

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu jadikan orang kafir itu sebagai ketua (pemimpin);

padahal mereka itu bukan dari kalangan Mukminin; apakah kamu mahu mangadakan satu alasan

yang nyata bagi Allah buat (menghukum) kamu?”. (al-Nisa’ : 144)

“Ingatlah! Kamu ini mengasihi mereka itu sedangkan mereka tidak mengasihi kamu dan kamu

percaya kepada seluruh kandungan al-Quran sedang mereka apabila bertemu denganmu mereka

berkata: ‘Kami beriman’, tetapi apabila berpisah, mereka gigit jari-jari mereka kerana marah

bercampur benci kepada kamu. Katakanlah kepada: ‘Matilah kamu bersama kemarahanmu itu’,

Allah mengetahui apa yang terkandung dalam dadamu”. (Ali-Imran :119)

“Berilah khabar kepada orang munafiq, iaitu orang yang mengangkat orang kafir sebagai pemimpin -

bukan dari kalangan Mukminin. Patutkah mereka mencari kemuliaan daripada mereka itu?

Sesungguhnya kemuliaan itu semuanya bagi Allah”. (al-Nisa’ : 139)

“Allah sekali-kali tidak memberi jalan bagi orang kafir untuk menguasai orang-orang mukmin”.

(al-Nisa’:141)

“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mangambil bapa-bapa, saudara-saudara kamu

menjadi pemimpin, jika mereka memilih kafir daripada iman. Sesiapa mengangkatnya menjadi

pemimpin di kalangan kamu, nescaya dia adalah orang yang zalim”. (al_Taubah : 23)

Apa ertinya kita menganut Islam?

Ingatlah firman Allah yang berbunyi:

“Dia telah memilih kamu dan Dia tidak sekali-kali menjadikan untuk kamu dalam agama satu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia telah menamakan kamu sekalian orang-orang Muslimin dahulu dan (begitu pula) dalam Al-Quran ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas kamu dan supaya kamu menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu kepada (tali) Allah, Dia adalah pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”

(Surah Al-Hajj: ayat 78)

Saya Mestilah Muslim di Sudut Akidah:

Aqidah yang benar dan sah adalah menjadi syarat pertama kepada pengakuan seseorang yang telah menerima Islam sebagai agama yang mengatur hidupnya. Aqidah tersebut mestilah sejajar dengan apa yang telah termaktub dalam kitab Al-Quran dan sunnah Rasulullah s.a.w. Saya mestilah beriman dan mempercayai perkara yang telah diimani dan dipercayai oleh para salafussoleh dan para imam yang telah terbukti kebajikan, kebaikan, ketaqwaan dan kefahaman mereka yang tepat dan benar terhadap Islam.

Untuk menjadikan aqidah saya benar-benar diiktiraf sebagai aqidah seorang Muslim saya mestilah:

1. Mengimani dan meyakini bahawa pencipta alam sejagat ini ialah Allah yang Maha Bijaksana, Maha Mengetahui dan tidak memerlukan pertolongan orang lain. Kesemua ini dapat dibuktikan melalui keindahan, kerapian dan keselarasan alam ciptaan Allah, yang mana setiap unit alam ciptaan Allah ini memerlukan unit yang lain untuk menjamin kewujudan dan kestabilannya. Satu unit daripada kejadian alam ini tidak mungkin wujud dalam keadaan yang stabil tanpa kewujudan unit yang lain.

Kewujudan alam yang seindah dan sekemas ini tidak akan terjamin keselamatan dan kesejahteraannya tanpa tadbir dari Allah yang Maha Berkuasa. Dalam hubungan ini Allah telah berfirman:

“Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain daripada Allah, tentulah keduanya itu telah rosak binasa, maka Maha Suci Allah yang mempunyai arasy daripada apa yang mereka sifatkan.”

(Surah Al-Anbiyaa’: ayat 22)

2.Saya mestilah mengimani dan meyakini bahawa Allah tidak menciptakan alam ini tanpa tujuan atau untuk bermain-main sahaja, kerana perbuatan sia-sia dan main-main yang tidak mempunyai tujuan itu tidak layak bagi Allah yang bersifat dengan sifat-sifat kesempurnaan.

Matlamat dan tujuan Allah menciptakan alam ini sukar difahami secara terperinci kecuali melalui seseorang rasul yang diutuskan Allah atau melalui wahyu Allah. Dalam hubungan ini Allah berfirman:

“Maka apakah kamu mengira bahawa sesungguhnya Kami menciptakan kamu untuk bermain-main (sahaja) dan bahawa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami, maka Maha Suci Allah raja yang sebenarnya tiada Tuhan selain Dia, Tuhan (yang mempunyai) arasy yang mulia.”

(Surah Al-Mukminun: ayat 115-116)

3.Saya mestilah mengimani dan meyakini bahawa Allah telah mengutuskan para rasul dan menurunkan kitab Allah untuk mengajar manusia mengenal Allah dan memberitahu mereka tentang matlamat kewujudan mereka di dunia ini dan ke mana akhirnya penghidupan mereka. Saya mestilah beriman bahawa Nabi Muhammad s.a.w. adalah rasul yang terakhir dari para rasul yang diutuskan Allah. Beliau telah dibantu dan diperkuatkan Allah dengan Al-Quran sebagai mukjizat yang kekal abadi. Dalam hubungan ini Allah berfirman:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutuskan rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan)

‘Sembahlah Allah (sahaja) dan jauhilah thaghut itu’. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.” (Surah An-Nahl: ayat 36)

Apa itu mut’ah dan Hukuman yang mereka terima

Nikah mut’ah, istilah mudahnya, ialah kahwin kontrak—perkahwinan yang diikat dengan batasan masa. Ia terdapat dalam mazhab syiah.

Berdasarkan nas al-Quran, hadis dan rujukan kitab ulama, jumhul (majoriti) ulama—termasuk empat imam mazhab Ahli Sunnah Waljamaah iaitu Imam Shafie, Maliki, Hanafi dan Hambali— memutuskan bahawa nikah mut’ah adalah haram.

Namun, Abu Talib mendakwa bahawa nikah mut’ah—membolehkan nikah dalam tempoh sejam, sehari, setahun atau kurang atau lebih— adalah satu amalan yang “dihalalkan’ hingga hari kiamat.

Dia berpendapat, nikah mut’ah adalah jalan untuk menangani gelojak seks dan merupakan cara yang selamat dari segi akal fikiran.

“Islam memilih mut’ah sebagai jalan keluar yang paling tepat. Islam membekali pemuda-pemudinya dengan memberikan kekuatan jiwa baik dari segi akidah, akhlak dan kejiwaan,” kata Abu Talib yang berkahwin dengan enam isteri mut’ahnya dalam tempoh dua tahun iaitu dalam Julai 1989; Mei, Julai, Oktober, November dan Disember 1991.

Tetapi pendakwa, Haji Abdul Karim Yusof, menjelaskan bahawa nikah mut’ah hanya sah dan harus semasa awal Islam dan umat Islam selepas itu ditegah bermut’ah. Ini dipersetujui ijmak ulama.

“Jumhul (majoriti) ulama katakan haram bermut’ah. Mut’ah itu ialah seperti seorang lelaki menyewa perempuan dengan harga dan masa tertentu, kemudian bersetubuh dengannya. Tidak ubah kalau mengikut takrif itu, perempuan ini seperti pelacur. Adakah orang seperti Abu Talib hendak mengatakan beliau melebihi jumhul ulama atau setaraf dengannya? Saya fikir, setaraf pun jauh, apa lagi melebihi mereka,” kata beliau.

Beliau juga mengambil riwayat Saidina Ali dari Tuhfat Mukhtaj ibn Hajar dan kitab Al Muhazzab karangan Syai ar-Razi yang berbunyi:

“Sesungguhnya penghalalan mut’ah itu telah dinasahkan (dimansuhkan).”

Menurutnya lagi, Imam Jaafar as-Sadiq—ditukil oleh Al-Baihaqy,

seorang ahli hadis—ketika ditanya tentang mut’ah berkata: “Itulah zina

sebenarnya.”

Hukuman Abu Talib Harun:

Abu Talib Harun, atau dikenali juga sebagai Ahmad Habibullah As-Salafi, didapati melakukan 16 kesalahan dan dihukum penjara sejumlah 25 bulan dan denda M$14, 000. Ini termasuk:

Denda $5,000 atau penjara lima bulan kerana mendirikan salat Jumaat tanpa kebenaran Jabatan Agama Islam Johor (Jaij).

Penjara sebulan dan denda $5,000 kerana mengajar tanpa

kebenaran Jaij.

Denda $500 atau penjara dua bulan kerana beristeri lebih daripada empat dalam satu masa.

Denda $500 atau penjara dua bulan kerana memungut zakat tanpa

kebenaran Jaij.

Penjara dua bulan dan denda $1000 (atau penjara dua bulan) bagi

setiap satu daripada enam kesalahan bersekedudukan dengan

enam isteri mut’ahnya.

Penjara dua bulan dan denda $1000 atau penjara dua bulan bagi

setiap satu daripada enam kesalahan melakukan persetubuhan

haram dengan enam isteri mut’ahnya.

Hukuman isteri-isteri daim:

Kempat-empat isteri daimnya dipenjara Penjara satu bulan dan denda M$500 (atau satu bulan penjara) setiap seorang kerana bersubahat dengan Abu Talib.

Hukuman isteri-isteri mut’ah:

Isteri-isteri mut’ahnya pula masing-masing dipenjara selama 3 bulan dan denda M$2,500 atas kesalahan:

Melakukan persetubuhan haram dengan Abu Talib (sebulan penjara dan denda M$500).

Bersekedudukan dengan Abu Talib (sebulan penjara dan denda M$1,000).

Bersuamikan Abu Talib yang telah beristeri empat (sebulan penjara dan denda M$1,000).

Hukuman bekas pengikut Abu Talib, Ahmad Muttahari Fillah As-salafi, 34 tahun, seorang pengendali bas, pula dihukum:

Ssebulan penjara dan denda M$3,000 atau satu bulan penjara kerana bersubahat dengan Abu Talib.

Denda M$500 (atau sebulan penjara) kerana mengikuti ajaran Abu Talib tanpa tauliah Jaij.

Denda M$300 (atau sebulan penjara) kerana membayar zakat

kepada Abu Talib.

APA PUNCA ANAK DERHAKA?

>

Bagaimana mahu melahirkan anak-anak berakhlak jika di sekolah para guru tidak bermoral?

“Selalu saya tekankan, jika baran dan marah sekalipun, tolong jangan keluarkan perkataan-perkataan celupar seperti bodoh, bengap atau dungu kepada anak murid, kerana kata-kata guru seperti emak, sebahagian daripada doa,” pesannya.

>

Sabda nabi saw, “Berguraulah dengan anak kamu kala usianya satu hingga tujuh tahun. Berseronok dengan mereka, bergurau hingga naik atas belakang pun tak apa. Jika suka geletek, kejar atau usik anak asalkan hubungan rapat. Lepas tujuh hingga 14 tahun kita didik dan ajar, kalau salah pukul.”

>

“Jika dia bijak dan menang dalam sebarang pertandingan sekolah, ucapkan tahniah. Tidak salah kita cium atau peluk mereka sebagai tanda penghargaan . Kala umur mereka 14 hingga 21 tahun jadikan kawan. Tetapi selalunya usia beginilah ibu bapa mula renggangkan hubungan dan ini menyebabkan anak derhaka,” ujarnya.

>

Beliau turut menjelaskan, anak-anak harus dilatih sembahyang jemaah bersama, latih cium tangan dan peluk penuh kasih dan sayang, maka mereka tidak akan tergamak menderhaka.

>

“Saya pernah tinjau, anak-anak yang lari daripada rumah, berpunca daripada rasa bosan. Belum sempat letak beg sekolah, ibu dah suruh macam-macam. Si anak rasa tertekan dan menyampah dengan persekitaran dan rumah tangga. Boleh disuruh tetapi berikan hak mereka di rumah. Yang penting dia balik ke ruma h suka, dan pergi sekolah pun seronok.

>

“Mungkin ibu bapa punya alasan tidak rapat dengan anak-anak kerana sibuk. Kita boleh cuba cara lain, balik di tengah malam, anak-anak sudah tidur, pergi bilik dan cium dahinya. Hubungan rohani tetap subur, walaupun anak tidur tetapi jiwanya sentiasa hidup,” katanya lagi.

>

DOA ANAK-ANAK TERMAKBUL

>

Lazim orang tua, pantang anak menegur walaupun tahu mereka bersalah. Jangan rasa tercabar kerana pesan onang tua-tua, bisa ular tidak hilang walau menyusur di bawah akar.

>

Jawab Sayyidina Umar, budak-budak kecil tidak berdosa dan doa mereka Mudah diterima. Begitu juga dengan Rasulullah, kalau jumpa budak kecil, baginda cukup hormat dan sayang sebab anak-anak tidak berdosa. Lagipun anak anak kalau menegur memang ikhlas dan jangan ambil endah tidak endah.

>

Perasaan anak juga mesti dihargai, sesetengah orang tua kurang bercakap dengan anak-anak. Kalau menegur pun dengan ekor mata dan herdikan. Si anak rasa tersisih dan tidak dihargai. Kepada kawan tempat mereka mengadu bila jumpa kawan baik tidak mengapa, tetapi jumpa yang samseng, ia sudah tentu membawa padah.

>

BERTAUBAT SEBELUM MELARAT

>

Jika Tuhan menurunkan hidayah, segeralah insaf dan bertaubat. Tetapi apa caranya jika orang tua telah meninggal sedangkan sewaktu hidupnya anak derhaka dan melawan mereka?

>

“Bila insaf, selalulah ziarah kubur emak dan bacakan ayat-ayat suci untuknya. Jumpa semula kawan-kawan baik ibu atau jiran-jiran yang masih hidup dan buat baik dengan mereka. “Sedekah ke masjid atas nama ibu. Walaupun ibu sudah meninggal, minta maaf berkali-kali semoga ibu redha dan Allah ampunkan dosa.

>

“Allah maha pengampun dan luaskan rahmatnya. Tetapi jangan ambil kesempata n buat jahat kemudian bertaubat. Hidup tidak tenteram. Lebih teruk lagi, Allah tunjukkan dalam bentuk bala.

>

“Cuba kita perhatikan kemalangan yang berlaku setiap hari. Misalnya tayar kereta pecah, jangan lihat dengan mata kasar, selidik apa salah yang telah kita buat hari ini. Pertama bagaimana hubungan kita dengan Tuhan, jika semuanya baik turun ke peringkat kedua, bagaimana pula hubungan

dengan ibu ?

>

>

“Pastikan hubungan dengannya sentiasa harmoni dan lancar. Tidak rugi jalin hubungan yang baik kerana hayat orang tua bukanlah terlalu panjang untuk bersama kita.”

>

HUBUNGAN DENGAN BAPA

>

Lazim ibu yang dilebihkan, sedangkan bapa menjeruk perasaan kerana tidak dipedulikan anak-anak.

“Hubungan dengan bapa sepatutnya sama dengan ibu tetE0pi dalam konteks Islam, kalau berlaku pertembungan, nabi sunuh utamakan ibu dahulu. Tiga kali ibu barulah sekali kepada bapa.

>

“Bagaimanapun sebaik-baiknya, kasih sayang dan perhatian biar sama agar kedua-duanya tidak berkecil hati.Begitu juga dengan nenek, walaupun kata-katanya ada yang mengarut tetapi jangan melawan di depan mereka. “Sebenannya golongan nyanyuk dan tua mencabar kesabaran kita. Walaupun Allah

tidak ambil kira kata-kata mereka tetapi kita wajib mentaati dan menghorma ti golongan tua.”

>

>

USAH DERHAKA KEPADA MENTUA

>

“Mentua mesti dimuliakan seperti kita menghormati orang tua sendini. Kalau mereka kecil hati, samalah seperti tersinggungnya hati emak. Kita sayang anaknya kenapa tidak sayang orang yang melahirkannya juga?”

>

“Saya tahu, ada menantu kecil hati dan pendam perasaan terhadap mentua yan g terlalu ambil berat tentang anaknya. Bersabarlah dan jalin hubungan baik kerana taraf mereka sama seperti ibu bapa kandung,” jelasnya.

>

Tuan Ibrahim juga menjelaskan, kewajipan anak lelaki, pertama kepada Allah , kedua rasul, ketiga emak dan emak mentua, keempat bapa dan bapa mentua dan kelima baru isteri. Isteri kena faham, kalau dia sayang dan melebihkan ibu bapa, itu memang wajar.

>

“Sebaliknya anak perempuan, yang pertama Allah, kedua rasul dan ketiga suami. Jalan pintas ke syurga bagi anak-anak selain Allah adalah emak dan ayahnya. “Perasaan mentua perlu dijunjung kerana mereka berhak ke atas menantu. Seperti kisah Nabi Allah Ibrahim dengan anaknya Nabi Ismail, suatu hari,

Nabi Ibrahim ke rumah anaknya dan kebetulan Nabi Ismail tidak ada di rumah isteninya pun tidak kenal dengan mentuanya. “Menantu berkasar menyebabkan Nabi Ibrahim kecil hati. Dan sebelum balik d ia

berpesan kepada menantunya suruh suaminya tukar alang rumah kepada yang baru. Bila Nabi Ismail balik isteninya pun menggambarkan rupa lelaki tersebut menyampaikan pesan. Nabi Ismail sedar itu adalah ayahnya.

>

“Nabi Ismail insaf di sebalik simbol kata-kata ayahnya, bahawa isterinya bukan daripada kalangan wanita ya berakhlak, lalu diceraikan. “Nabi Ismali berkahwin kali kedua dan bapanya masih tidak mengenali menantu. Sekali lagi Nabi Ibrahim melawat dan menantunya melayan dengan bersopan santun walaupun tidak kenal siapa Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tertarik hati dan sebelum balik berpesan lagi, katakan alang rumah anaknya sudah cukup baik dan jangan ditukar kepada yang lain.”

Tuan Ibrahim berpesan, “Ibu-ibu tolong maafkan anak-anak dan Doakan keselamatan mereka. Memang anak-anak yang degil dan tidak mendengar kata, itu ujian Tuhan Berdoalah kepada Allah semoga bila usia anak meningkat perangainya berubah :

“Jika masih tidak berubah, berdoa lagi moga-moga berubah selepas kahwin Sekiranya tidak berbeza, sebelum meninggal tulislah wasiat kepada anak-anak. Tolong jangan tinggal sembahyang dan jadilah anak yang soleh. Ibu-ibu juga Amalkan surah Toha ayat satu hingga enam kerana ia mujarab melembutkan hati anak-anak.”

WANITA JUN 1997

Aqidah dan Ukhuwah

Abu Akhyar dalam tulisan, posting hari ini, “Belajar dari Kekalahan Perang Uhud”, telah menyadarkan kita kembali betapa ummat Islam di hari ini berada pada posisi yang memprihatinkan, lemah, lemah hampir dalam setiap lapangan. Perang Teluk yang makin memecah-belah ummat, demokrasi Aljazair, pembantaian di Bosnia-Hercegovina, pengusiran di Myanmar, intifhadah Palestina, Afghanistan. Ummat Islam tersudut dan terus tersudut. Demokrasi yang sangat diagungkan di Inggris dan Amerika, hanyalah benar dan berlaku selama menguntungkan Barat, namun manakala kaum muslimin yang menang, maka demokrasi hanyalah tinggal nama, telah terlucu ti maknanya. Maka demokrasi kental dalam makna “alat untuk mengu kuhkan hegemoni Barat”, dan tidak untuk Aljazair. Ketika perang Teluk berkobar, respon untuk membantu Quwait segera berdatangan, dan bayangkan bagaimana sibuknya Amerika, dengan gaya Polisi Dunia. Bandingan dengan kasus Palestina dan Bosnia. Adilkah ? Jangan tanya soal keadilan disini. Sebab keadilan telah diperham bakan pada hegemoni mereka, keadilan hanyalah untuk kepentingan mereka. Konsep keadilan yang murni telah sirna. Negara kuat adalah negara kuat, negara lemah tidak akan pernah mempunyai hak yang sama dengan negara kuat, meski itu tertulis besar-besar dalam prasasti atau dokumen. Negara kuat apapun tindakannya dapat dikemas menjadi “keadilan”.

Ummat di hari ini dalam keadaan lemah; kemampuan militer, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan telah terkubur dan sepertinya ingin dilupakan, kalaupun tidak maka kini menjadi nostalgia manis belaka. Sejarah mencatat betapa ummat Islam hampir-hampir tidak pernah kalah dalam setiap pertempuran fisik/militer, meski dengan jumlah prajurit yang lebih sedikit, bahkan imperium Romawi, yang besar, dikalahkan Jenderal Shalahu din dalam Perang Salib. Ilmu pengetahuan dan budaya Islam memim pin dunia lebih dari 600 tahun; 350 tahun sebelum tahun 1100 M dan 250 tahun setelah tahun 1100 M. Karya tenun Persia, arsitek tur Islam, bahkan cerita seribu satu malam seperti; Aladin, Simbad, Ali Baba, Abu Nawas, memukau banyak budayawan Barat.

Pertanyaannya, mengapa ummat terdahulu demikian anggun, cemerlang, bayangkan pemerintahan Islam di Cordoba, Spanyol dan kini menjadi lemah dan sangat lemah, bahkan terinjak dan dihina bang ummat Islam ? Jawaban dari pertanyaan ini hendaklah muncul dari perenungan diri, perenungan atas masa lampau, masa kini, dan peran yang diemban ummat untuk masa depan.

Ummat terdahulu lebih perduli akan ayat-ayat Allah. Ketika mereka diperintahkan untuk menafakuri ciptaan Allah, mereka berfikir dan hasilnya adalah Iptek. Rasa cinta pada Al Islam muncul dalam karya-karya arsitektur masjid, tenunan dll. Diyaki ni, bahwa kemenangan PASTI Allah berikan kepada orang-orang yang beriman hanya dan hanya bila orang-orang beriman menjadikan Allah, rasul-Nya, dan orang-orang beriman sebagai penolong dan tidak pada toghut.

“ Dan barang siapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang PASTI menang “ (Qur’an 5:56)

Nah, selama ummat Islam hari ini tidak melaksanakan perintah ini, maka menjadi wajar kalau menjadi kalah dalam setiap lapangan baik fisik maupun intelektual. Andaipun kemenangan yang datang, maka itu bukanlah kemenangan yang haq. Sesungguhnya kemenangan yang haq itu hanya akan muncul setelah Allah dan rasul-Nya menan cap kokoh dalam sanubari seorang mukmin, menjadikan Allah sebagai ilah dan rasul-Nya sebagai tauhidul uswah, serta menjadikan orang-orang beriman sebagai saudara—ukhuwah. Ummat Islam akan selalu menang selama 2 potensi Islam: aqidah dan ukhuwah dimiliki dan mewujud dalam realitas.

Islam dengan potensi ukhuwahnya, dalam sejarah terbuktikan, mampu mempersatukan suku-suku Quraish, mendamaikan suku Aus dan Khazraj di Madinah yang sebelumnya selalu bermusuhan. Suku, ras, dan bangsa memang telah ada di bumi dan merupakan sunatullah (Al Hujarat:13), namun Islam menolak faham yang menempatkan loyalitas tertinggi, pengabdian, pada ras, suku, atau bangsa. Ras, suku, atau bangsa tidak layak untuk itu. Loyalitas tertinggi, pengabdi an hanya untuk Allah. Berperang bukan untuk menjadi pahlawan bangsa, tapi sebagai syuhada, berperang di jalan Allah, untuk mempertahankan aqidah. Suku Aus setelah memeluk Islam tetap suku Aus begitupula suku Khazraj. Namun setelah mereka bersyahadat, menyatakan hanya Allah saja tempat pengabdian, hanya Allah saja yang berhak menerima loyalitas tertinggi, maka suku Aus atau Khazraj adalah sama, sama-sama hamba Allah, dan hanyalah yang bertaqwa yang kedudukannya tinggi di hadapan Allah, mereka ter pautkan dalam tali aqidah, dan mereka tidak lagi menganggap bahwa suku mereka lebih baik dari suku yang lain. Ras, suku, bangsa hanyalah soal ruang, geografis, dan administratif dan mencair akan cahaya aqidah, ukhuwah, serta aturan Al Islam. Tak ada perbedaan antara Salman Al Parisi, yang dari persia, atau Hudzai fah al Yamani (yang berasal dari Yaman). Suku, Ras, atau bangsa bukanlah perbedaan yang berarti dalam Islam.

Potensi ukhuwan sendiri muncul mengikuti potensi aqidah dan ukhuwah merupakan ni’mat yang Allah berikan, yang muncul atas kehendak Allah.

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada TALI ALLAH, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu, ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu MENJADILAH KAMU KARENA NIKMAT ALLAH orang-orang yang BERSAUDARA “ (Qur’an 3:103)

Allah memmerintahkan orang-orang yang beriman untuk berpegang pada tali-tali Allah, tali aqidah, buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus (Qur’an 2:256), buhul tali yang mengalahkan bukan saja kesamaan ras, suku, atau bangsa, bahkan mampu menga lahkan pertalian darah (kisah ketika Rasulullah hijrah ke Madi nah, banyak kaum muslimin Mekkah yang terpaksa meninggalkan keluarga, saudara sedarah demi tali aqidah ). Lalu manakala hati setiap mukmin telah terikat pada tali aqidah yang tungal, seorang mukmim sudah demikian yakin bahwa hanya Allah saja yang dia tuju, ridla Allah saja yang dia harap, hanya Allah saja wa’la, ilah, Khalik, Malik, Hakim, Pemberi Rizki manusia, barulah Allah akan menurunkan ni’mat-Nya berupa persaudaraan, ukhuwah Islamiyah. Hanya Allah saja yang mampu mempersatukan hati setiap mukmin.

“ walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada

di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati

mereka (orang-orang beriman), akan tetapi Allah telah

mempersatukan hati mereka “

(Qur’an 8:63)

Dengan demikian ukhuwah adalah persaudaraan aqidah, persauda raan hati, bukan sekedar persaudaarn fisik apalagi lisan—persaudaraan yang menyatukan ummat sebagai jasad yang tunggal. Maka saudara-saudara di Bosnia, Palestina dll. tak berbeda dengan diri kita sendiri, dengan sanak famili kita, dengan bapak/ibu atau anak-anak kita.

Akhirnya mari kita bermuhasabah, untuk menilai diri kita, sudahkah aqidah tauhid ini tegak dalam diri kita, sudahkah ni’mat ukhuwah meresapi hati dan pori-pori badan kita, sudahkah tali-tali Allah merapatkan kita dalam barisan yang teratur seakan-akan seperti bangunan yang kokoh yang sangat disukai Allah ? Kalau ummat di hari ini masih lebih mencintai kaum keluarga, harta kekayaan/materi, perniagaan dari pada Allah, rasul-Nya, dan jihad di jalan-Nya, maka tunnggulah sampai Allah mendatangkan keputu san-Nya, kekalahan beruntun, terinjak, dan terhinakan dalam setiap lapangan, sampai Allah menurunkan suatu kaum dimana Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya, beriskap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang yang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan tidak takut terhadap celaan orang-orang yang suka mencela. (Qur’an 9:24 dan 5:54).

Kita kehendaki aqidah Islam yang sahih menurut aqidah as salafus salih,

aqidah para sahabat Rasulullah s.a.w dan para pengikut mereka, yang jauh

dari bida’ah dan khurafat karut marut. Aqidah yang telah membentuk

generasi Muslim yang pertama, aqidah inilah yang menguasai perasaan dan

pemikiran mereka dan menguasai segenap urusan hidup mereka, memancarkan

kemampuan amal yang sunggah-sungguh di dalam diri mereka. Aqidah tauhid

yang sejati ini memenuhi hati makhlukNya dengan nur iman yang dengannya

dia berjalan di atas sirat al-mustaqim:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami

berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat

berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang

keadaannya berada di dalam gelap gelita yang sekali-kali tidak dapat

keluar daripadanya?” (Al-An’aam:122)

Kita menghendaki pendukung aqidah yang selamat sejahtera, menyedari

bahawa dia adalah suatu yang agung di dalam hidup ini, menginsafi bahawa

dia mempunyai satu risalah yang penting, bahawa dia hidup dengannya dan

hidup kerananya, dirinya bukanlah barang yang remeh dan terbiar seperti

seekor kambing ataupun persis satu alat akan tetapi dia merasai dirinya

kuat dan mulia kerana dia bersandar kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha

Perkasa. Apabila kita memperkatakan aqidah tauhid di sini, bukanlah ilmu

tauhid yang membawa pendukungnya hanya berkisar di daerah ilmu kalam dan

perdebatan melulu. Semoga Allah memberi berkat kepada pujangga Iqbal

tatkala berkata: “Tauhid itu dahulu satu kekuatan di antara manusia.

Tetapi sekarang telah menjadi tauhid ilmu kalam.”

Kita menghendaki pendukung aqidah yang selamat sejahtera, yang beriman

kepada Allah, kepada malaikat, kepada rasul-rasul Allah, kepada hari

Akhirat dan beriman kepada qadha’ dan qadar, baik buruknya dari Allah.

Iman yang teguh dan tidak goncang apabila berhadapan dengan apapun

tekanan dan pengabuian mata yang membawa keraguan.

Kita menghendaki aqidah salimah yang memberikan kepada pendukungnya hati

yang mukmin yang mencintai Allah s.w.t sama ada di waktu rahsia dan

terang, di waktu marah dan reda, di segala keadaan, kerana semata-mata

berharap kepada rahmat kurnia Allah dan redhaNya, kerana takutkan murka

Allah dan azabNya.

Kita menghendaki laki-laki aqidah yang menimbang segala urusan hidup di

sekitarnya dengan timbangan rabbaniah. Lantaran itu pandangan kepada

dunia dengan segala apa yang ada padanya adalah merupakan pandangan

Islamiah yang sahih. Islam yang benar dan tidak timbul daripadanya

sepatah perkataan, suatu perbuatan, suatu gerakan atau diam kecuali dari

aqidah Islam dan sesuai dengan syariat Islam, ajaran Islam dan adab-adab

Islam.

Kita menghendaki laki-laki aqidah yang mengutamakan Allah di atas

segala-gala yang lain daripadaNya lalu dia menyerahkan segala hartanya,

waktunya, pemikirannya, usahanya, jiwanya dan segala apa yang ada

padanya kepada dakwah Islam. Dia terus menerus bersabar dan berkorban

pada jalan Allah kerana mengharap keredhaan Allah.

Kita menghendaki laki-laki aqidah yang berbangga dengan saudaranya, yang

bersungguh-sungguh membawa kebaikan kepada saudaranya dan menolong

saudaranya dan mencintai saudaranya, yang memberikan pada saudaranya apa

yang paling disukainya bahkan mengutamakan saudaranya dari dirinya,

serta memelihara kehormatan saudaranya. Tidak membiarkan saudaranya,

tidak mengecewakan saudaranya dan tidak mendedahkannya pada bahaya.

Kita menghendaki aqidah Islamiah yang menjadikan pendukungnya merasai

tanggungjawabnya terhadap Islam, terhadap saudara-saudaranya sendiri.

Dia tidak akan merasa senang dan tenteram hatinya sehinggalah dia

melaksanakan tanggungjawabnya dengan segala kemampuannya terhadap

dakwahnya, dakwah Islam.

[Utz Mustafa Masyhur]

ASMA’UL HUSNA

1 *ALLAH

Jika inginkan doa lebih makbul bacalah 500kali pada larut malam selepas solat sunat hajat/tahajud.

2 *AR RAHMAN

Untuk mehilang sifat-sifat pelupa &gugup.

Bacalah 500 kali selepas solat lima waktu, bagus juga untuk penerang & ketenangan hati.

3 *AR RAHIM

Baca 100 kali setiaphari akan mampunyai daya penarik hingga orang suka kepada kita.

4 *AL MALIK

Baca 121 kali setiap hari agar pekerjaan kita mendapat keberkatan dari Allah.

5 *AL QUDDUS

Untuk menjauhkan diri dari penyakit dalam hati.

Bacalah 100 selepas tergenlincir matahari.

6 *AS SALAAM

Baca 136kali,jasmani dan rohani kita akan terjaga dari segala penyakit.

7 *AL MU’MIN

Untuk melingdungi keluarga dan harta benda dari segala ganguan bacalah sebanyak 136 kali.

8 *AL MUHAIMIN

Baca145 kali selepas solatisyak,hati akan menjadi terang,bersih dari masalah hingga mudahuntuk menhafal.

9 *AL AZIZ

Baca 40 selepas solat subuh selama 40 hari ,ki;isteri ta akan disegani,muliadan penuh berkewibawaan.

10 *AL JABBAR

Supaya tunduk dan patuh bacalah 226 kali.

11 *AL MUTAKABIR

Baca 662 kali, kita akandapat menundukkan semua musuh hingga mereka menjadi pembantu yang setia.

12 *AL KHALIQ

Baca 731 kali otakkita akan menjadi cerdas.

13 *AL BAARRII

Bagi menghilangkan masalah dan menyembuh penyakit yang dihadapi, bacalah 100 kali selama 7 hari berturut-turut.

14 *AL MUSHAWWIR

Untuk memperolehi anak ; isteripuasa tujuh hari(ahad-sabtu) ;suami tiga hari ;berbuka dengan air yang dibaca nama ini 21 kali ; jika bersetubuh baca 10 kali.

15 *AL GHAFFAR

Bagi diampunkan dosa, bacalah 100 kaali ketika menunggu solat jumaat di masjid.

16 *AL QAHHAAR

Bagi menjauhkan perasaan tamak dan alpa dengan kemewahan dunia, malah musuh akan sedar dan tunduk.Maka bacalah 306 kali.

17 *AL WAHHAAB

Baca 300 kali selepas solat akan dihilangkan kesempitan dalam hidup

18*AR RAZAAQ

Bacalah sebanyak mungkin selepas solat akan dimurahkan rezeki yang halal

19 *AL FATTAH

Untuk mudah menerima ajaran agama bacalah 71 kali selepas solat subuh

20 *AL ALIM

Dibaca 100 kali selepas solat wajib , maka akan diberi pengetahuan dengan sempurna.

21 *AL QAABIDLU

Baca 100 kali diri akan terasa dekat dengan Allah dan terlepas dari segala amcamam.

22 *AL BAASITH

Baca seberapa banyak yang boleh segala yang diusahakan akan berjalan dengan lancar.

23 *AL KHAAFIDH

Baca 500 kali dalam keadaan suci dan tawaduk, akan ditunaikan hajatnya dan musuh dan akan jatuh martanya.

24 *AR RAAFI

Baca 70 kali akan terjaga harta benda dan penjahat

25 *AL MU’IZZ

Baca 140 kali akan diberi kewibawaan

26 *AL MUDZILL

Baca seberapaa banyak yang boleh akan dimudahkan untuk mengutip hutang.

27 *AS SAMII’

Baca seberapa banyak yang boleh, doa akan mustajab dan pendengaran akan sentiasa tajam.

28 *AL BASHIIR

Baca 100 kali sebelum solat jumaat akan diterangkan hati ,cerdas otaknya dan selalu diberi hidayah.

29 *AL HAKAM

Untuk memudahkan menerima ilmu agama, baca 68 kali pada tengah malam dalam keadaan suci

30 *AL ‘ADLU

Baca 104 kali selepas solat lima waktu, agar diri kita selalu berlaku adil

31 *AL LATHIFF

Baca seberapa banyak yang terdaya agar jualan menjadi laris

32 *AL KHABIR

Baca seberapa banyak yang boleh, boleh dapat bertemu dengan teman atau anak yang telah lama berpisah .

33 *AL HALIM

Baca 88 kali selepas solat lima waktu, kepimpinannya tidak akan tergugat.

34 *AL AZIM

Baca 12 kali akan disembuhkan penyakit yang sudah lama dihidapi.Juga akan dihindarkan dari gangguan setan dan sebangsa dengannya.

35 *AL GHAFUR

Baca sebanyak mana yang terdaya,akan diterima taubatnya.

36 *AL SYAAKUR

Baca 40 kali selepas solat hajat akan dimakbulkan hajatnya .

37 *AL ALIY

Tulis 110 kali;rendamkan didalam air sejuk; diberi minum kepada anak yang dungu agar mereka menjadi cerdas.

38 *AL KABIR

Baca 1000 kali selama tujuh hari berturut-turut selepas solat hajat atau tahajud; dikembalikan kedudukan yang telah lucut kerana fitnah.

39 *AL HAFIDH

Baca 99kali semasa di dalam agar dilindungi dari binatang buas

40 *AL MUQIIT

Baca sebanyak yang terdaya semasa di dalam hutan ketika sukar mendapat makanan agar dihilangkanrasa lapar dan badan akan terasa segar.

41 *AL HASIIB

Baca 777 kali setiap hari sebelum matahari terbit dan sesudah solat maghrib agar diteguhkan jawatan yang sedang disandang.

42 *AL JALIL

Baca 73 kali setiap malam (penghujung malam) agar diberi perubahan pada diri.

43 *AL KARIM

Baca 280 kali apabila hendak tidur agar ditinggikan darjatnya di dunia dan akhirat.

44 *AL RAQIIB

Baca50 kali setiap hari agar dijaga harta benda yang berada ditempat yang jauh.

45 *AL MUJIIB

Baca 55 kali setiap hari sesudah solat subuh agar doa akan menjadi lebih mustajab.

46 *AL WAASI’

Baca 128 kali ditengah malam aagar dihilangkan kesulitan yang dihadapi dan dijaga daripada orang-orang yang dengki.

47 *AL HAKIM

Baca 300 kali setiap agar dicerdaskan otak.

48 *AL WADUUD

Baca 1100 kali agar sentiasa bernasib baik, disukai orang kerharmonian rumahtangga.

49 *AL MAJIID

Baca 99 kali lalu dihembuskan dikedua tnagan dan disapukan keseluruhan muka agar ditenteramkan keluarganya dan disukai oleh hli keluarga yang lain

50 *AL BAA’ITS

Baca 100 kali dengan tangan diletakkan ke dada agar diberi kelapangan dada dengan ilmu dan hikmah.

51 *AS SYAHIID

Baca 319 kali agar dilembutkan hati saudara kita yang suka membangkang.

52 *AL HAQ

Baca sebanyak yang mampu agar ditebalkan iman dan taat menjalankan ibadah

53 *AL WAKIIL

Bacalah sebanyak mungkin agar diredakan bencana alam yang sedang melanda.

54 *AL QAWIY

Eartinya Dialah Zat yang Maha Kuat dan tidak pernah merasa Lemah

55 *AL MATIIN

Baca sebanyak mungkin”Yaa Qawiyyu Yaa Matiin” agar dikembalikan semangat dan kekuatan sehinggan ditakuti oleh musuh.

56 *AL WALIY

Baca sebanyak mungkin agar kedudukan dalam pertubuhan akan lebih kukuh dan terhindar dari hasaad dengki.

57 *AL HAMIID

baca sebanyak mungkin sebagaai pengakuan kita bahawa Allah sahaja yang patut dipuji.

58 *AL MUHSI

bacalah sebanyak mungkin selepas solat agar menjadi golongan yang sentiasa dekat dengan Allah.

59 *AL MUBDIU

baca 470 kali agar segala yang dirancang akan berhasil.

60 *AL MU’IDD

baca 58 kali agar dimuliakan darjat di dunia dan akhirat.

61 *AL MUHYIY

baca 58 kali agar dimuliakan darjat di dunia dan akhirat

62 *AL MUMIIT

baca sebanyak mungkin selepas habis solat agar dilancarkan segala usaha yang dijalankan.

63 *AL HAYYU

dialah zat yang hidup dan kekal abadi.

64 *AL QAYYUM

baca 100kali “Yaa Hayyu Yaa Qayyuum” agar menperolehi kekeyaan yang berkat

65 *AL WAAJID

bacalah sebanyak yang terdaya agar mempunyai keperribadian yang tinggi dan teguh.

66 *AL MAJID

baca sebanyak mungkin agar dimudah kan menerima apa yang diajar.

67 *AL WAAHID

baca 190 kali selepas solat lima waktu selama sebulan berserta puasa (Isnin & Khamis) agar dikurniakan anak bagi yang sukar mendapatkannya.

68 *AS SOMAD

baca sebanyak mungkin ketika dalam kesusahan agar diberi kesegaran tubuh badan dan kekenyangan.

69 *AL QAADIR

baca 305 kali agar apa yang diinginkan akan berhasil.

70 *AL MUQTADIR

baca sebanyak mungkin agar dipercayai mungkin agar di percepatkan hasil yang diusahakan.

71 *AL MUQADIM

baca 184 kali agar segala usaha akan cepat berhasil.

72 *AL MUAKHIR

baca sebanyak mungkin agar ketaatan kepada Allah.

73 *AL AWWAL

baca 37 kali agar hajat akan dikabulkan

74 *AL AKHIR

baca 200 kali selepas solat selama satu bulan agar dibuka pintu rezeki yang halal dan berkat.

75 *ADH DHAAHIR

baca 1106 kali sesudah solat (selama sebulan) akan dibuka hijab dari segala.. rahsia yang pelik dan sukar serta diberi kefahaman ilmu.

76 *AL BATHINU

baca 30 kali sesudah solat fardhu agar bi beri pengertian kepada segala rahsia yang sukar difahami

77 *AL WALIY

baca sebanyak mungkin agar menjadi orang yang makrifat seperti seorang wali

78 *AL MUTA’AALIY

baca sebanyak mungkin agaar berjumpa dengan orang yang berkedudukan tinggi

79 *AL BAR

baca sebanyak yang mampu agar diterima taubat dan diberi nikmat orang-orang bertaubat

80 *AT TAWWAB

Baca sebanyak mungkin agar dimudahkan untuk kembali kejalan yang lurus dan diterima taubatnya .

81 *AL MUNTAQIM

Baca sebanyak mungkin selepas solat berenti orang yang suka membuat kezaliman.

82 *AL ‘AFUWW

Baca sebanyak mungkin agar menjadi kekasih Allah dan diampunkan segala kesalahan .

83 *AR RAUF

Baca sebanyak mungkai agar disenangi oleh temen -teman atau siapa sahaja yang memandang kita .

84 *MAALIKUL MULKI

Baca 212 kali selepassolat selama sebulan agar kukuh jawatan yang disandang .

85 *DZUL JALAALI WAL IKRAM

Baca 65 kali setiap hari selama sebulan agar segala hajat yang diingini akan terhasil.

86 *AL MUQSITH

Baca sebanyak mungkin bagi mendapatkan sifat adail dalam diri

87 *AL JAAMI’

Baca sebanyak mungkin agar dikembalikan saudara yang telah lari dari rumah .

88 *AL GHANIY

Baca sebanyak mungkin agar dikurniakan kekayaan yang halal dan berkat.

89 *AL MUGHNIY

Baca sebanyak mungkai agar diberi kekayaan yang bermanfaat di dunia dan di akhirat.

90 *AL MAANI’

Baca 161 kali ketika menjelang waktu solat subuh agar dihindarkan dari orang- orang zalim.

91 *ADH DHAAR

Baca 1001 agar disembuhkan penyakit yang dihidapi dan sukar untuk sembuh .

92 *AN NAAFI’

Baca sebanyak yang mampu agar disembuhkan penyakit dan memudahkan kehidupan harian .

93 *AN NUUR

Baca sebanyak mungkin agar diberikan kemuliaan dan memperolehi apa yang dihajati baik di dunia mahupun di akhirat.

94*AL HAADIY

Baca sebanyak mungkin agar diberi pentunjuk jalan ketika sesat

95 *AL BADII’

Baca 500 kali selepas solat agar apa yang dirancangkan berhasil.

96 *AL BAAQY

Baca sebanyak mungkin agar perkerjaan yang menjadi sumber kehidupan tidak akan tergugat dan andainya berniaga;keuntungan akan berganda

97 *AL WAARITS

Baca 707 kali setiap malam agar diberi petunjuk sehingga berhasil sewaktu menjalankan perniagaan atau pun pekerjaan.

98 *AR RAASYID

Baca sebanyak mungkin agar otak menjadi lebih cergas .

99 *AS-SOBUR

Baca sebanyak mungkin agar diberi kesabaran sewaktu menjalankan apa jua perancangan.

Asma digelar wanita besi berumur panjang

Susunan Rosmarini Yunos

ASMA binti Abu Bakar, turut dikenali sebagai wanita besi yang berumur panjang. Nama wanita ini, pendek saja, tetapi, perjalanan hidupnya tidak pendek seperti namanya.


Allah memberinya umur panjang dan kecerdasan berfikir, hingga dia dapat mewarnai perjalanan hidup generasi tabiin (pengikut Rasulullah) dengan perjalanan kehidupan pada zaman Rasulullah.

Asma’, termasuk kelompok wanita yang pertama masuk Islam. Permulaan Asma tidak boleh dipisahkan dengan peristiwa hijrah Rasulullah dan ayahnya Abu Bakar.

Dialah yang mengirimkan bekalan makanan dan minuman kepada mereka. Lantaran peristiwa inilah, Asma digelar sebagai “dzatin nithaqain” yang membawa maksud wanita yang memiliki dua ikat pinggang.

Gelaran ini diberikan ketika Asma hendak mengikat karung makanan dan tempat minuman yang akan dikirim kepada Rasulullah dan Abu Bakar. Pada waktu itu, Asma tidak memiliki tali untuk mengikatnya, maka dia memotong ikat pinggangnya menjadi dua, satu untuk mengikat karung makanan dan satu lagi untuk mengikat tempat air minum.

Ketika Rasulullah mengetahui hal ini, baginda berdoa semoga Allah akan menggantikan ikat pinggang Asma dengan dua ikat pinggang yang lebih baik dan indah di syurga.

Asma’ berkahwin dengan Zubir bin Awwam, seorang pemuda dari golongan biasa yang tidak memiliki harta, kecuali seekor kuda. Namun demikian, Asma’ tidak kecewa. Dia tetap setia melayan suaminya.

Sekiranya suaminya sibuk menyebarkan tugas daripada Rasulullah, Asma’ tidak segan merawat dan menumbuk biji kurma untuk makanan kuda suaminya. Hasil perkahwinannya, Allah menganugerahi mereka seorang anak yang cerdas yang diberi nama Abdullah bin Zubir.

Asma’ memiliki beberapa sifat istimewa. Selain cantik, dia mempunyai sifat yang hampir sama dengan saudaranya Aisyah, cerdas, pantas, dan lincah. Sifatnya yang pemurah menjadi teladan kepada ramai orang.

Waktu terus berlalu, anaknya Abdullah bin Zubir, diangkat menjadi Khalifah menggantikan Yazid bin Mu’awwiyah yang wafat. Bani Umaiyah tidak rela dengan kepemimpinan Abdullah bin Zubir. Mereka menyiapkan tentera yang besar dalam pimpinan Panglima Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi untuk menggulingkan Khalifah Abdullah bin Zubir.

Perang di antara dua kekuatan itu tidak dapat dihindari. Lalu, Abdullah bin Zubir turun ke medan perang untuk memimpin pasukannya.

Tetapi, tenteranya belot dan pergi kepada pihak Bani Umaiyah. Akhirnya dengan jumlah tentera yang sedikit, pasukan Abdullah bin Zubir undur ke Baitul Haram, bersembunyi di bawah Kaabah. Beberapa saat sebelum kekalahannya, Abdullah bin Zubir menemui ibunya.

Ibunya, bertanya, “Mengapa engkau datang ke sini, padahal batu besar yang dilontarkan pasukan Hajjaj kepada pasukanmu menggetarkan seluruh kota Makkah”?

“Aku datang hendak meminta nasihat daripada ibu,” jawab Abdullah dengan penuh rasa hormat.

“Mengenai apa,” tanya ‘Asma lagi.

“Tentera aku banyak yang belot. Mungkin kerana takut kepada Hajjaj, atau mungkin juga mereka menginginkan sesuatu yang dijanjikan. Tentera yang ada sekarang nampaknya tidak akan sabar bertahan lebih lama bersama aku.

“Sementara itu, utusan Bani Umaiyah menawarkan kepadaku apa saja yang aku minta berupa kemewahan dunia, asal aku bersedia meletakkan senjata dan bersumpah setia mengangkat Abdul Malik bin Marwan menjadi khalifah. Bagaimana pendapat ibu,” tanya Abdullah.

Asma’ menjawab dengan suara tinggi: “Terserah engkau, wahai Abdullah! Bukankah engkau sendiri yang lebih tahu mengenai dirimu.

“Apabila engkau yakin dalam kebenaran, maka teguhkan hatimu seperti tentera engkau yang gugur. Tetapi apabila engkau menginginkan kemewahan dunia, tentu engkau seorang lelaki yang pengecut. Bererti engkau mencelakakan diri sendiri, dan menjual murah sebuah kepahlawanan.”

Abdullah bin Zubir, menundukkan kepala di depan ibunya yang kecewa. Ibunya walaupun tua dan buta, namun Abdullah seorang khalifah dan panglima perang yang gagah berani tidak sanggup melihat wajah ibunya kerana rasa hormat dan kasih kepadanya.

“Tetapi aku akan terbunuh hari ini, ibu,” kata Abdullah lembut.

“Itu lebih baik bagimu, daripada engkau menyerahkan diri kepada Hajjaj. Akhirnya kepala kamu akan dipijak-pijak oleh Bani Umaiyah dengan memberikan janji mereka yang sukar untuk dipercayai,” kata ibunya tegas.

“Aku tidak takut mati, ibu! Tetapi aku khuatir mereka akan mencincang dan merobek-robek jenazah aku dengan kejam,” ujar Abdullah lagi.

“Tidak ada yang perlu ditakuti dengan perbuatan orang hidup terhadap orang yang mati. Bukankah kambing yang disembelih tidak merasa sakit lagi ketika disiat?” jawab ‘Asma.

“Yang ibu khuatir kalau engkau mati di jalan yang sesat,” sambung ‘Asma lagi.

“Percayalah ibu, aku tidak memiliki fikiran sesat untuk melakukan perbuatan keji. Aku tidak akan melanggar hukum Allah. Aku bukan pengecut dan aku lebih mengutamakan keredaan Allah dan keredaan ibu,” ucap Abdullah bersemangat.

Nasihat ‘Asma memberi semangat kepada Abdullah untuk mempertahankan dan membela kebenaran. Sebelum matahari terbenam, Abdullah mati syahid menemui Allah.

Perkahwinan – Darinya terbina sistem Islam

Oleh Khairunisaa Harun

JIKA diperhatikan kejadian di langit dan di bumi, maka pastinya manusia akan dapat merasai keindahan alam ciptaan Allah s.w.t.

Setiap sesuatu yang diciptakan-Nya adalah bersifat harmoni dalam berpasang-pasangan.

Keadaan tanah di bumi di dapati tidak sama rata semuanya, bahkan dijadikan berpasangan iaitu ada tinggi dan rendah.

Di suatu kawasan pula dipenuhi dengan tumbuhan menghijau, manakala kawasan lain berpadang pasir.

Ada tempat yang subur, ada pula yang tandus. Ada gunung-ganang yang tinggi dan ada juga lembah serta lurah yang dalam. Begitu juga kejadian manusia ada lelaki dan wanita.

Sudah tentu ada hikmahnya daripada kejadian itu sebagaimana firman Allah dalam ayat 21 Surah Rum:

“Di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, Dia menjadikan untuk kamu pasangan dari jenis kamu sendiri untuk kamu tinggal tenteram di sampingnya dan dijadikan di antara kamu kasih sayang (mawaddah) dan belas kasihan (rahmah). Semuanya itu menjadi tanda-tanda bagi orang-orang yang berfikir.”

Kadangkala timbul persoalan mengapa Allah perlu menciptakan kehidupan di langit dan bumi dalam keadaan berpasang pasangan?

Andai kata diciptakan-Nya siang tanpa malam, jantan tanpa betina dan lelaki tanpa perempuan bukankah lebih mudah?

Pastinya tidak akan timbul masalah-masalah yang merunsingkan sebagaimana yang berlaku hari ini.

Namun, realitinya Allah menciptakan dunia ini dalam keadaan berpasang-pasangan untuk memberikan makna kepada kehidupan terutamanya kepada manusia.

Masakan tidak, manusia pertama – Nabi Adam a.s. sendiri sepi tanpa pasangan apatah lagi anak cucunya.

Penciptaan manusia dari kelompok lelaki dan perempuan pula diiringi oleh Allah dengan kewujudan sistem yang akan mengatur suasana berpasang-pasangan ini agar menjadi sempurna dan seimbang.

Sistem tersebut adalah Islam – sistem pilihan Allah yang paling sempurna dan sesuai dengan naluri manusia yang diciptakan-Nya.

Kewujudan penciptaan manusia secara berpasangan pasangan – lelaki dan perempuan mempunyai perkaitan rapat dengan pelbagai masalah yang dihadapi masyarakat kini terutamanya di kalangan remaja Islam pada hari ini.

Manusia akan menghadapi berbagai kepincangan sekiranya pergaulan antara lelaki dan perempuan tidak diatur dan disusun mengikut sistem tertentu.

Kerana itu, Allah menganugerah kepada manusia satu syariah iaitu perkahwinan (an-nikah) untuk menyusun pergaulan antara lelaki dan perempuan supaya ia mewujudkan suasana kasih sayang sekali gus mengindahkan kehidupan.

Dalam perkahwinan ditentukan kewajipan-kewajipan dan peraturan-peraturan yang akan membawa kebahagiaan kepada pasangan yang mematuhinya.

Falsafah daripada wujudnya perkahwinan pada pandangan Islam adalah untuk membentuk sebuah keluarga yang terdiri daripada seorang lelaki sebagai suami serta bapa, seorang perempuan sebagai isteri, ibu dan seterusnya melahirkan anak-anak.

Justeru dari satu akan lahir satu proses sistem pendidikan, sosial, muamalah dan pelbagai lagi tatacara kehidupan dalam Islam yang lebih praktikal.

Sistem yang diamalkan dari keluarga iaitu kelompok paling kecil dalam pola kehidupan manusia itu kemudian akan berkembang kepada entiti masyarakat Islami yang lebih luas.

Syariat perkahwinan juga merupakan kaedah berkesan untuk membendung nafsu manusiawi yang berunsur kebinatangan agar ia disalurkan melalui kaedah yang betul dan dalam suasana yang baik serta harmoni.

Wujudnya senarai panjang gejala sosial pada hari ini disebabkan gejolak nafsu manusiawi dan kebinatangan tidak dapat disalurkan dengan baik dan selari dengan sistem.

Kesemua masalah tersebut berpunca daripada sistem kekeluargaan yang tidak menghayati falsafah perkahwinan Islam.

Perkahwinan kadangkala hanya sekadar menjadi alat untuk menyalurkan kehendak seksual semata mata.

Dalam hal ini, Islam sedari awal meletakkan landasan yang mulia iaitu bermula dengan pemilihan pasangan yang soleh dan solehah.

Seorang lelaki yang ingin mencari seorang isteri perlu mencari isteri yang solehah sesuai dengan garis panduan yang diberikan oleh Islam.

Sabda Rasullullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

“Wanita dinikahi kerana empat faktor ; iaitu kerana harta kekayaannya, kedudukannya, kecantikannya dan kerana agamanya, maka hendaklah kamu pilih yang beragama agar berkat kedua-dua tanganmu”

Sebaliknya, Nabi melarang berkahwin dengan wanita jika semata-mata kerana kecantikan sebagaimana sabda baginda yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah:

“Janganlah mengahwini wanita-wanita kerana kecantikan. Mungkin kecantikan itu memburukkan hidup. Jangan mengahwini mereka kerana harta, mungkin harta itu menyebabkan kezaliman mereka. Tetapi kahwinilah mereka atas dasar agama. Seorang sahaya yang hitam, berbibir tebal yang beragama adalah lebih baik.”

Wanita beragama akan timbul raut kecantikan yang lahir dari jiwanya dan menyinari segenap tubuhnya, bukan kecantikan palsu yang diselaputi solekan.

Wanita yang beragama juga akan melahirkan sifat qana’ah iaitu merasa cukup dengan apa yang mereka miliki dan tidak terlalu memaksa diri untuk mencapai sesuatu yang mungkin bersifat utopia.

Sifat inilah yang dikatakan oleh ahli tasawuf sebagai kekayaan yang sebenarnya. Begitu juga bagi seorang perempuan, janganlah menjadikan pangkat dan harta sebagai pertimbangan asasi di dalam memilih suami, kerana pangkat dan harta tanpa akhlak serta agama menjadi punca fitnah yang akan merosakkan kehidupan rumah tangga.

Setelah berlangsungnya perkahwinan maka secara automatik suami dan isteri mempunyai tanggungjawab masing-masing yang wajib dilaksanakan.

Suami selaku ketua unit masyarakat yang kecil harus menjalankan tanggungjawabnya sebagai pelindung kepada isteri dan anak-anak, membimbing, mengasuh dan mendidik ahli keluarganya dengan baik.

Di samping keperluan jasmaniah seperti nafkah seperti tempat tinggal yang sempurna dan makan-minum yang mencukupi, suami juga perlu memenuhi keperluan rohani isteri dan anak-anak.

Isteri perlu dididik dengan nilai-nilai murni sebagaimana yang terkandung dalam ajaran Islam agar dia termasuk dari kalangan kelompok isteri yang solehah.

Manakala isteri pula perlu memastikan segala tanggungjawab asas sebagai seorang isteri terlaksana dengan baik dan peranan yang paling penting adalah untuk melahirkan zuriat yang baik (zurriyyatan qawiyya).

Tidak cukup itu sahaja, anak-anak perlu dipastikan mendapat perhatian yang secukupnya dan dibekalkan dengan Islam dan Iman.

Jika anak-anak hanya dianggap sebagai penyeri perkahwinan semata-mata, maka ia hanya ibarat sebutir bom jangka bahawa suatu hari nanti mereka turut akan menyumbang kepada pelbagai gejala sosial dalam masyarakat.

Berlakunya pelbagai gejala sosial hari ini adalah berpunca daripada didikan keluarga yang rapuh dan samar iaitu anak-anak tidak pernah didedahkan atau diberikan kefahaman agama yang mencukupi.

Mereka tidak diperkenalkan dengan contoh terbaik iaitu Rasulullah s.a.w. sebaliknya mereka didedahkan dengan kartun, muzik Barat dan para artis semata-mata.

Andai kata suasana (biah) seperti ini yang mereka hadapi setiap hari maka tidak hairanlah jika mereka akan mengikutinya suatu hari nanti.

Anak-anak juga seharusnya dididik tentang bagaimana cara berhubung sesama manusia (hablum minan nas) dan hubungan dengan Allah (hablum minal Allah).

Jika jiwa dan rohani anak-anak terdidik maka pastinya akal mereka akan mengatasi nafsu. Sebaliknya, jika jiwa dan rohaninya rapuh, sudah pasti akal akan menuruti nafsu.

Ini kerana gejala sosial remaja hari ini kebanyakannya berpunca daripada dorongan nafsu yang tidak dapat dibatasi oleh akal dan keimanan.

Akal yang dangkal dan keimanan yang rapuh pasti akan sentiasa tertewas dengan suasana cabaran yang terlalu getir hari ini. Tanpa didikan yang sempurna dan bimbingan yang wajar, anak-anak ini akan menjadi generasi yang pincang.

Sebaliknya, keluarga beragama akan melahirkan masyarakat yang soleh dan sekali gus menjadi asas bagi negara yang soleh, bertamadun serta berwawasan.

Semuanya bermula daripada pembentukan keluarga yang Islami dan kemudian baru disusuli oleh masyarakat, negara dan ummah yang Islami.

Inilah usaha yang telah dijalankan oleh Nabi Muhammad pada peringkat awal dakwah baginda sebelum terbentuknya negara Islam Madinah.

Walaupun proses ini akan memakan masa yang lama tetapi mulakan ia daripada diri kita dan keluarga. Oleh itu umat Islam perlu manfaatkan syariat perkahwinan.

Jauhi amalan syirik

Kalamullah
“Katakanlah (Wahai Muhammad): Hai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak mahu menyembah (Allah) yang aku sembah. Dan aku tidak akan beribadat secara kamu beribadat. Dan kamu pula tidak mahu beribadat secara aku beribadat. Bagi kamu agama kamu dan bagi aku agamaku.” (Al-Kafirun: 1-6)

Huraian:
Surah ini dinamakan al-Kafirun (orang-orang kafir), kerana pada awal surah ini Allah s.w.t. memerintahkan Nabi Muhammad s.a.w supaya menegaskan kepada kaum kafir umumnya mengenai soal ibadat yang sebenar.

Ditegaskan dalam ayat-ayat ini amal ibadat secara Islam dan menolak sebarang penyembahan dan amalan syirik.

Dalam hal ini, Islam telah menetapkan panduan-panduan tertentu untuk kita ikuti bagi menunaikan amal ibadat dan amal-amal soleh yang lain agar kita tidak terkeluar daripada ajaran Islam sebenar.

Seterusnya diingatkan kepada kita supaya tetap di atas dasar tauhid dan cara-cara beribadat menurut apa yang dibawa oleh junjungan kita Nabi Muhammad, sekalipun banyak godaan dan tipu helah pihak musuh Islam dan orang-orang yang sesat untuk menjadikan kita menyeleweng daripada jalan yang benar.

Kesimpulan:
Sebagai muslim hendaklah kita sentiasa mempertingkatkan ilmu agar amalan-amalan atau ibadat-ibadat kita kerjakan sentiasa mengikut al-Quran dan as-sunah.

- Disediakan oleh Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (Jakim).

Assalamualaikum..

artikel ini ditulis bukanlah dengan niat untuk menghentam / menjatuhkan/ menyinggung perasaan mana-mana pihak. Ana harap antunna dapat ambil ini sebagai satu teguran / panduan / pandangan daripada ana sendiri. Ana mendapati inilah satu saluran yang baik untuk ana menyatakan isu ini kerana kesemua yang mengunjungi portal ini insya Allah adalah muslimah. jikalau ada yang menyamar, wallahua’lam…Ana harap antunna dapat membaca artikel ini dengan hati yang terbuka…

Ana kurang pasti bagaimana hendak memulakan penulisan artikel ini. Penyampaian ana yang agak kasar harap dapat diterima.

Buat muslimah yang memakai tudung labuh @ berjubah harap dapat memilih fabrik yang sesuai dengan situasi dewasa ini. Fabrik tekstil yang lembut @ tak sesuai akan menyebabkan jilbab / jubah antunna tidak lagi menutup aurat, malah menambah dosa pula.

Rasionalnya, apabila antunna memilih fabrik yang lembut untuk dibuat tudung labuh, ini akan menyebabkan antunna sama seperti orang yang tidak memakai tudung. Ana tak dapat menggunakan perkataan yang sesuai untuk menyatakannya, tetapi bagi ana, orang yang memakai tudung labuh kadangkala lebih seksi berbanding orang yang memakai tudung turki @ seumpamanya yang berbidang 60″. Faktor cuaca Malaysia yang panas dan lembap sepanjang tahun, mengundang angin-angin yang bertiup sepoi-sepoi bahasa, lantas menampakkan apa yang sepatutnya dilindungi.

Ana menulis berdasarkan pengalaman ana sendiri. Ana adalah bekas pelajar sekolah agama dan bertudung labuh. Tetapi kini, ana lebih selesa memakai tudung turki @ seumpamanya yang berbidang 50″ atau 60″. Ana seorang yang bertubuh kecil, tetapi kadangkala apabila angin bertiup atau ketika ana sedang berjalan, ana dapat merasakan yang tudung itu agak melekap di tubuh ana yang boleh dikatakan kecil ini. (tinngi : 163cm, berat 44kg). Apabila ana sedang berjalan, kadangkala terserempak dengan muslimah yang memakai tudung labuh dari arah bertentangan, dan kelihatan tudung labuh itu melekap dan tidak berupaya menutup aurat. Kelihatan seperti muslimah itu membungkus dirinya dengan tudung labuh itu. Lebih-lebih lagi kepada mereka yang bertubuh agak gempal. Keadaan ini amat memalukan ana yang memandangya. Ana terfikir, apakah yang difikirkan oleh muslimin @ mereka yang lain yang melihat keadaan itu.

Ana bukanlah hendak mem’provoke’ atau menghina mereka yang bertudung labuh. Ana sendiri memakai tudung labuh. Diharapkan dapat memilih fabrik tekstil yang keras @ baik. “Baik” di sini bukanlah bermaksud lembut teksturnya. Biarlah tudung itu keras macam kena kanji asalkan tidak melekap di badan.

Semasa ana bersekolah di Subang Jaya dahulu (sekolah agama berasrama penuh) pemakaian jubah adalah diharamkan di kalangan pelajar perempuan. Usul ini dilakukan oleh ketua pelajar muslimin. Kami yang muslimat rasa teramat malu. Mujur mereka tidak elaborate lebih-lebih. Tapi ana faham kerana ana tinggal dengan mereka yang berjubah. (sehingga sekarang). kadangkala jubah itu dijadikan pakaian terus tanpa memakai baju sepasang di dalamnya. Ana cukup tak bersetuju dengan cara pemakaian jubah begini. Keadaan ini amat mendukacitakan lebih-lebih lagi apabila jubah itu diperbuat daripada fabrik yang lembut & licin.

mungkin hanya segelintir sahaja yang memilih fabrik sedemikian. Seandainya ada sahabat antunna yang mempunyai tudung @ jubah dari fabrik sebegitu, nasihatkanlah supaya menggunakan fabrik yang lain pada masa akan datang dan jika hendak menggunakannya juga, biarlah berlapis. Biarlah panas di dunia, bukan di akhirat.

tujuan ana menulis artikel ini kerana bukan ana sahja yang berpendapat sedemikian, ana juga sebahagian muslimin yang agak baik dengan ana menghantar e-mail kepada ana untuk menegur sahabiah-sahabiah ana. Sebagai muslimat berasa sangat malu. Tetapi apabila memikirkan kemaslahatan bersama, ana terpaksa bertindak.

Bukanlah tujuan artikel ini untuk menghina mereka yang bertudung labuh @ berjubah @ bertubuh gempal, anngaplah artikel ini satu teguran yang membina buat kita semua.

Sekian,
Wassalam.

Shamsul Anuar Ahmad 017-9353703

RATUKU

saya tatap permukaan kad itu lama, makin kejap jiwa saya merinduinya, namun saya abaikan saja sejak akhir-akhir ini. Bukan mudah hendak saya lalaikan perasaan ku tika ini. saya buat-buat sibuk dengan ‘research’ dan tugasan yang diberi oleh instruktor tempat saya belajar. Sungguh pilu tatkala saya kenang tarikh yang tertera di kad tersebut, wangiannya belum pudar lagi, masih segar seperti semalam, biarpun ia dah lama berlalu. Biarkan wangiannya kekal seperti kekalnya nama yang tertera pada kad tersebut.

“Iman!tak lama lagi engkau tu nak jadi milik orang, jangan pulak engkau lupa kami kat sini.” Terngiang lagi gurauan rakan seuniversiti waktu konvokesyen ku dulu. Dari jauh saya lihat Hariz sibuk memilih bunga dikawasan parkir kereta tempat terletaknya gerai jualan sempena konvokesyen kali ini, kononnya mahu ‘surprise’ kan saya lah tu, tak apa lah walaupun dah nampak, buat-buat terkejut saja lah nanti kalau dia datang, niatku di dalam hati.

“Assalamualaikum..mengelamun lagi Iman, jom keluar makan?” Sapaan Arul memeranjatkan saya, tak sempat nak dilap air mata yang bersisa, malu juga dilihat Arul saya menangis lagi. “Tak apa la Arul, awak pegilah makan dulu, petang nanti ada ‘gab’ saya curi-curi la makan.” Helah ku sambil tersenyum kepada teman ‘discussion’ ku itu. “Iman! Jangan diingatkan sangat perkara yang dah berlaku, hidup perlu juga kita teruskan, perlu juga kita uruskan.” Kata-kata tu memang dah sebati dipendengaran ku sejak akhir-akhir ini. Arul berlalu sambil menggelengkan kepala. Apa yang Arul tahu, dia bukan saya, dia tak merasa apa yang saya rasa.

“Sampai hati Ariz buat Iman macam ni tau.” Rajuk saya tiba-tiba, maklumlah lama tak bersua, nak mengada-ngadalah sikit. “Yelah, yelah! Ariz salah, Ariz lupa yang hari ni hari lahir Iman.” Tenang kata-katanya setenang raut wajahnya saat itu. Hariz lelaki yang bertakhta dihati setelah diperkenalkan oleh seorang rakan sekuliah ku suatu masa dulu sewaktu saya aktif dalam pasukan debat. Dia ‘senior. saya, segala pertolongan dalam persatuan terpaksa saya rujuk melaluinya, awalnya malu memang tak tertahan lagi, tapi keramahan dan keikhlasan yang dipancarkan melalui sinar matanya cukup untuk saya katakan yang dia seorang pendebat yang berkaliber, biarpun kadang-kadang orang tak akan percaya dia seorang pendebat kerana terselindung di balik raut wajah yang diam dan tenang itu. Hubungan yang dijalin atas dasar sahabat bertukar arus menjadi sepasang kekasih, mungkin kerana persamaan atau sedikit perbezaan yang mengeratkan hubungan antara kami atau mungkin juga dah takdir dia adalah ‘Adam’ yang diciptakan untuk ku. Entah kemana dia nak bawa saya kali ni, sudahla hari lahir ‘girlfriend’ sendiri tak ingat, lepas tu ikut suka saja nak bawa saya keluar. Dari jauh saya lihat ‘sign board’ sebuah restoran, nak memujuk la tu. Setibanya direstoran tersebut Hariz mengiringi saya masuk kebahagian lapang restoran itu, tiba-tiba terdengar jeritan mengucapkan selamat hari lahir. Saat itu juga saya tatap wajah Hariz, dia cuma mengangguk sambil mengatakan ini sahaja yang mampu dia tunaikan untuk birthday saya yang ke-22. Dia menempah meja di restoran tersebut dan menjemput beberapa orang rakan sekuliah ku. Selepas memotong kek dan minum petang terdapat satu lagi kejutan, Hariz menujukan satu lagu buat saya. Lagu yang dipopularkan oleh Awie ‘Ratu ku’. Hati ni cukup kuat menyatakan cinta padanya, biarpun hanya sedikit sahaja yang terluah melalui bibir.

“Iman! Iman sudi tak jadi ratu Ariz?” Suaranya pada suatu petang sewaktu melawat saya di kampus. “Hah! Jadi ratu Ariz buat apa, Iman nak jadi raja, tak nak jadi ratu.” saya membalas katanya dalam nada bergurau. Mukanya tampak serius benar. “Ariz akan pergi merisik Iman dalam minggu ni. Ariz dah berbincang dengan ibu, ibu pun ikut saja. Ariz dah berusaha selama tiga tahun mengumpul sedikit duit untuk masuk meminang Iman, Ariz dah tawakal pada Allah dan petunjuknya, Iman adalah yang terbaik buat Ariz. Ariz harap ia berbaloi dengan jawapan yang Ariz akan terima nanti.” Setiap baris kata yang dikeluarkan menggugat hati wanita ku, memang tak lama lagi saya akan tamat belajar dan saya bercadang untuk sambung ‘master’ kalau dimurahkan rezeki, nampaknya rezeki lain pula yang datang kali ini. saya mendongak memandang wajah lelaki dihadapan ku ini. saya berkira-kira mahu bergurau lagi, tapi matanya yang redup tu membantutkan niatku. Lalu dengan selamba saya mengangguk. Nampak benar dia terkejut, selepas itu terdengar keluhan kalimah syukur kepada Yang Maha Kuasa dan bibirnya meruntum senyum sambil memandang ku dengan penuh makna.

Pertunangan kami dihadiri sanak saudara kedua-dua belah keluarga saya dan juga Hariz. Seminggu lagi akan berlangsung majlis konvokesyen dan dua hari selepas itu saya akan di ijab kabulkan dengan Hariz, dua berita gembira serentak saya terima kala itu. Kad perkahwinan telah diedarkan, persiapan hampir 90 peratus siap, cuma menunggu ‘hari jadi’ sahaja. Pakaian persalinan pengantin Hariz yang pilihkan, warna kegemaran kami sama iaitu biru jadi tiada masalah dalam memilih pakaian pengantin. Dua tiga hari kebelakangan ni kami jarang berjumpa, Hariz terpaksa mengikut arahan ketua tempat dia bekerja pergi outstation. Kami berhubung melalui telefon sahaja, meleraikan rindu yang berbuku, biarpun tak lama lagi kami akan bergelar raja sehari.

“Cuba betul kan ‘mattel’ tu sikit, ikut pakai saja Iman ni.!” saya tersengih memandang Hariz sambil mencium haruman bunga ros merah yang diberinya sebagai tanda tahniah kerana saya telah mendapat segulung ijzah. Suka sangat dia menegur walhal benda yang remeh saja, kadang-kadang saya tak ambil pusing teguran dia, suka juga dapat tengok ‘muka angin’ dia tu. Sibuk betul lensa kemera mengambil gambar kami, macam-macam mimik muka saya buat. Bila lagi nak berperangai budak-budak, dua hari lagi saya akan jadi ‘mak budak’ pula. Terdengar deringan telefon bimbit Hariz sewaktu saya berbual dengan bakal ibu mertua ku. “Ibu, Iman! Ariz kena balik pejabat la sebab ketua Ariz nak tengok laporan ‘post moterm’ yang program outstation hari tu. Maaf ya Iman sebab tak dapat nak berlama kat sini.” Kata Hariz dengan nada kecewa. saya lepaskan saja pemergian dia dengan rasa sebal dihati. Sebal sebab ketua dia yang tak memahami, sedangkan waktu-waktu begini yang saya perlukan untuk dia berada disisi. Tak apalah lagipun bos dia akan bagi cuti dua bulan sebagai bonus perkahwinan kami. Pujuk hati ku sendiri.

Sejam selepas Hariz balik. saya dengan kawan-kawan makan tengah hari di kafeteria. Bercerita tentang kehidupan yang akan datang, kawan-kawan lebih banyak yang mengenakan saya, maklum sajalah selepas dapat ijazah terus kahwin. Itu kan rezeki saya, hanya itu yang mampu saya sangkal setelah puas mereka mengenakan saya. Waktu tengah makan itulah telefon saya berbunyi, panggilan dari Hospital Ampang Putri. saya cuba beri tumpuan pada bicara seorang perempuan ditalian kerana fikiranku berserabut memikirkan apa yang hendak disampaikannya. Waktu berita yang disampaikan menjamah cuping telinga ku. saya rasa kafeteria tersebut macam terbalik. Sayup-sayup terdengar nama saya dipanggil.

“Ariz!Ariz!! saya melaung bagai nak gila selepas tersedar dari pitam, kawan-kawan mengusung saya ke dispensari, semuanya dalam keadaan bingung melihat keadaan saya waktu itu, yang hanya keluar dari mulut saya, Hariz dah tak ada…..Hariz dah tak ada. Kawan-kawan cuba tenangkan saya dan beri saya minum air. saya memeluk salah seorang rakan ku sambil menangis semahu-mahunya.

Kaki saya kali ini bagai dipaku ke lantai, tak mampu saya nak jejak bilik itu. Kalau boleh saya mahu Hariz keluar dari bilik tersebut sambil tersenyum dan mengatakan “Maaf Iman sebab buat Iman risau.” Tapi semuanya angan-angan yang tak akan menjadi kenyataan. Dari apa yang saya dengar, ibu dan Hariz terlibat dalam kemalangan sewaktu Hariz membelok untuk memasuki persimpangan Dataran Ukay, lori dari arah bertentangan memandu laju dan melanggar bahagian tepi kereta sehingga kereta yang dinaiki Hariz merempuh ‘divider’ jalan. Hariz hanya sempat menunduk dan menahan tubuh ibu disebelah manakala dirinya dihimpit bumbung kereta, tidak dapat saya bayangkan keadaan Hariz waktu itu dan saya tak sanggup nak membayangkannya Genggaman tangan mama saya kejapkan, hanya pada Allah saya serahkan untuk kuatkan hati ini. saya menolak perlahan daun pintu dan terpandang sekujur tubuh dikatil, mahu sahaja saya menggongcang sekujur tubuh itu. Ya Allah, berat dugaan Mu saat ini. Raut wajah yang tenang itu saya pandang sepuasnya sementara diberi keizinan masa yang sekejap ini. Seboleh-bolehnya. saya mahu mengikut Hariz saat itu juga, tapi saya tahu bukan itu permintaan terakhirnya untuk ratu hatinya nan satu ini. saya sentuh pelipisnya yang tercalar. saya belai rambutnya yang separuh botak akibat pembedahan, biarlah sentuhan ini untuk kali terakhir. “Ariz! Iman tetapkan sehingga akhir hayat cinta hati Iman untuk Ariz.” Air mata saya laju mengalir sambil tidak berhenti-henti saya menghadiahkan kepada arwah al-Fatihah.

Setelah jenazah arwah disempurnakan. saya di pimpin ibu Hariz, bakal mertua ku itu yang hanya cedera ringan di kaki kuat semangatnya kehilangan anak lelaki yang bakal memberinya seorang menantu, tapi hajat tersebut tidak kesampaian. “Ibu, walau apa yang berlaku sekalipun saya tetap akan jadi anak ibu.” Hanya itu yang dapat saya luahkan dan kami menangis sambil berpelukan. Sepatutnya hari ini hari yang bersejarah buat saya dan Hariz tapi dengan keizinanNya, majlis perkahwinan bertukar menjadi majlis talkin. Sebak dan pilu didada hanya Allah yang tahu. saya cuba tersenyum tatkala terpandang teman-teman arwah yang datang menziarah dan memandang saya sebagai ratu sehari yang hilang pengantinnya. saya tertidur didalam bilik yang terhias indah. “Cadar warna krim sesuai dengan katil kita yang ala ‘Country’ tu, nanti ‘ratu’ Ariz nak beradu pun mesti lena punyalah.” saya belai cadar pilihan Hariz, lenjun sarung bantal dek air mata ku. Tidak lama selepas itu, terdengar ketukan di pintu. Dengan lemah saya membuka pintu itu, terjonggol ibu dengan bungkusan di tangan, katanya itu milik Hariz dan amanah terakhir sebelum meninggal supaya memberi bungkusan tersebut pada saya.

saya duduk dibirai katil sambil memandang bungkusan tersebut, perlahan-lahan saya buka pembalutnya. Terdapat sebuah diari biru berkulit baldu dan berbentuk hati di tengah. Di dalamnya tercoret ungkapan daripada Hariz. saya tidak tahu bila dia membeli diari yang cantik sebegitu, mungkin sewaktu outstation dulu. saya beri tumpuan pada isi dalamnya pula,

“Assalamualaikum ratu hati abang. Diari ni hadiah abang buat Iman, coretkan segala yang indah berlaku dalam diri Iman, luahkanlah apa yang Iman nak luahkan, diari ini ibarat diri abang yang sentiasa ingin bersama dengan Iman. Maafkan abang andai abang tidak mampu membahagiakan diri Iman, tapi abang cuba memahami hati Iman dan abang cuba jadi yang terbaik buat diri Iman. Ingin abang cipta detik-detik hidup bersama Iman, ingin abang bimbing Iman seperti yang diwajarkan dalam Islam dan ingin abang bina sebuah keluarga Islam yang berjaya bersama Iman. Abang tahu Iman boleh jadi isteri yang baik kepada seorang lelaki, isteri yang mampu memberi kedamaian dihati lelaki dan isteri yang menjadi rakan kepada lelaki. Abang mahu jadi ‘lelaki’ itu Iman. Itu impian abang. Andai jodoh kita hanya separuh jalan, ingatlah bahawa cinta abang kepada Iman hingga ke akhir hayat abangi….”

Yang menyintai mu ,
Mohd Hariz Zairi.

Iman rindukan Ariz, air mata ku gugur lagi untuk kesekian kalinya.

Hampir sebulan pemergian arwah, kehidupan ku sebagai pelajar master telah pun bermula tapi Hariz sentiasa bermain di fikiran saya tiap masa dan ketika. Cinta saya terhadapnya tetap utuh hingga ke mati, hanya itu yang mampu ku beri. saya cuba damaikan hati yang kian lama berkocak merinduinya agar perasaan sedih saya ini tidak nampak di luar. Segala usikan, gurauan antara saya dan Hariz sentiasa tergambar di ruang mata dan bagaikan semalam ianya terjadi. Masih ku ingat kata-katanya sebelum berlaku kemalangan, “Iman, nanti masa bersanding kita ambil gambar Iman cium tangan Ariz lepas itu Ariz cium dahi Iman, mesti romantik gambar tu nanti.” Semangat kata-katanya sambil menunjukkan aksi sekali. “Tengoklah nanti kalau Iman nak cium tangan Ariz tu, entah-entah bau sambal belacan ke apa ke, hilang selera Iman masa nak makan beradat nanti.” Kataku dengan muka mencemik, Hariz tergelak sakan, bahagianya saya waktu itu melihat senyumannya. Tapi kini semuanya hanya tinggal kenangan.

“Di pusara ini
ku sedia berdiri
bersama doa-doa tak putus kuhulurkan
itulah tanda kasih
kasih yang sebenar
wajah dan senyum mu
sentiasa ku angankan
aduhai sayang..”

saya hayati lirik lagu yang dinyanyikan Azie ‘Kau Tetap Dalam Anganku’ air mata saya mengalir lagi. Sehingga kini saya tidak pernah lupa untuk menjejak Hariz di Tanah Perkuburan Islam Hasanah selepas pulang dari kuliah. Itu sahaja cara untuk saya hilangkan rasa rindu dihati, biarpun tidak dapat memandang alis wajah yang tenang memadai cuma dapat menemani dan berbual dengannya disini…..

KIRANYA AKU TAHU

Petang semalam di dalam hujan renyai-renyai motosikal ku terbabas dan nyaris-nyaris melanggarnya yang sedang berjalan seorang diri sambil berpayung dan mendakap beberapa buah buku rapat ke dadanya. Kereta Porsche yang ku kira pemandunya cukup tidak bertimbangrasa itu memecut gah selepas memotong ku pada jalan yang sempit itu. Mungkin dia tidak perasan dengan keadaan ku yang sudah jatuh terjelepuk di atas tanah sambil terkial-kial mengalihkan sebahagian badan motosikal yang menimpa kaki ku. Dalam pada saya menyeringai kesakitan itu, rupanya ada insan lain yang turut me rasai bahangnya. Rupa-rupanya dalam keadaan kelam-kabut itu saya tidak perasan yang roda motosikal ku merempuh kaki gadis manis itu. Sambil terhencut-hencut dia bangun cuba membantu ku. Buku-bukunya yang berteraburan tidak dihiraukan. Basah lencun ditimpa hujan.

Mata ku tidak berkelip memandang siling yang putih bersih itu. Kosong. Sekosong hati dan jiwa ku ketika ini. Fikiran ku berkecamuk. Walaupun mata ku tartancap pada dada siling, namun fikiran ku menerawang jauh mengingatkan peristiwa yang berlaku petang semalam .

Petang semalam di dalam hujan renyai-renyai motosikal ku terbabas dan nyaris-nyaris melanggarnya yang sedang berjalan seorang diri sambil berpayung dan mendakap beberapa buah buku rapat ke dadanya. Kereta Porsche
yang ku kira pemandunya cukup tidak bertimbangrasa itu memecut gah selepas memotong ku pada jalan yang sempit itu. Mungkin dia tidak perasan dengan keadaan ku yang sudah jatuh terjelepuk di atas tanah sambil terkial-kial mengalihkan sebahagian badan motosikal yang menimpa kaki ku. Dalam pada saya menyeringai kesakitan itu, rupanya ada insan lain yang turut me rasai bahangnya. Rupa-rupanya dalam keadaan kelam-kabut itu saya tidak perasan yang roda motosikal ku merempuh kaki gadis manis itu. Sambil terhencut-hencut dia bangun cuba membantu ku. Buku-bukunya yang berteraburan tidak dihiraukan. Basah lencun ditimpa hujan.

“Maafkan saya!”Tukas ku cuba berdiri. Aduh!Sakitnya kaki ku hanya Allah sahaja yang tahu.

“Tak pelah, bukan salah awak pun. Sakit ke? Banyak ke luka?” Tanyanya pula sambil matanya meliar memerhati ke seluruh inci tubuh ku.

“Sikit saja ni. Kaki awak bagaimana? Terseliuh ke? Nanti awak pergi ke klinik. Bilnya saya bayarkan!” Balas ku pula masih dihantui perasaan bersalah.

Sambil tersenyum mulus dia membetul-betulkan tudungnya yang sudah kuyup ditimpa hujan. “Tak pelah. Menyusahkan awak sahaja. Bukannya sakit sangat kaki ni. Sikit saja!”

“Kalau macam tu, saya minta maaf sekali lagi. Saya tak sengaja.” Aduh! Bibir merahnya sekali lagi mengukir senyum. Hilang semua sakit yang berdenyut-denyut di kaki ku ini. Hujan renyai-renyai yang semakin lebat menggila memaksa pertemuan kami berakhir di situ. Ketika cuba menghidupkan motosikal, ku lihat dia mengutip buku-bukunya yang sudah dibasahi air hujan lalu berlari-lari anak menuju ke kolej pertama. Sekilas pun tidak dipandangnya saya yang masih bermandikan hujan. Apabila saya meninggalkan tempat itu, azan Maghrib telah pun berkumandang dan malam mulai
mengambil tempat.
———————————
“Kenapa asyik termenung saja ni, Hakim? Ingatkan buah hati ke?” Sapaan Anuar mematikan lamunan ku. “Orang macam saya ni… siapalah yang sudi. Pandang sebelah mata pun tak! Kau tu lainlah, berlambak perempuan yang nak jadi kekasih kau. Orang glamorlah katakan!” Jawab ku cuba berseloroh.

Anuar yang akhirnya ketawa mendengar usikan ku. Memang Anuar agak popular di kalangan warga kampus kami. Siapa yang tidak kenal dengan wakil pemidato yang sering menjadi johan di dalam setiap pertandingan pidato antara niversiti. Kepetahannya berbicara dengan wajah tampan berkumis nipis itu sentiasa menjadi igauan para siswi. saya? Ahh!! Tiada apa-apa yang istimewa tentang saya berbanding Anuar.

“Kalau tak ingatkan buah hati, Kenapa tersengih-sengih seorang?”

“Nanti, kalau dah confirm Sang Kumbang dapat memikat Sang Bunga, barulah sedap sikit saya nak cerita kat kau.”

“Eleh.. nak berfalsafahlah pulak. Alamak! Lupa la pulak saya ada janji nak jumpa dengan Nur. Nak ambil nota. Pergi dulu, ya!”

saya tersengih memerhatikan Anuar yang tergesa-gesa meninggalkan ku termangu-mangu seorang di bilik. Walaupun baru dua semester sebilik dengannya, kami cukup rapat. Satu saja yang tak difahami tentang dirinya.Selalu sangat berahsia mengenai hal-hal peribadinya. Terutamanya mengenai
hubungannya dengan Nur. Nur, gadis yang hanya ku kenali pada nama sahaja. Namun. saya rasa Nur pastilah seorang gadis yang cukup istimewa kerana pujian mengenainya sering sahaja meniti di bibir Anuar. Tidak banyak yang saya ketahui mengenai Nur. Cuma yang saya tahu, dia pelajar Fakulti Perniagaan dan Perakaunan tahun dua. Itu sahaja. Tak pernah sekalipun saya dipertemukan. Ahh… Peduli apa saya!!
———————————
Hati ku sekali lagi diserbu perasaan hampa dan kecewa. Masuk hari ini sudah seminggu saya berulang-alik dari asrama ku ke kuliah melalui kolej Pertama. Namun, bayang gadis manis yang mulai mencuri hati ku tidak pernah sekalipun ku lihat semenjak hari itu. Ahh!! Payah benar nampaknya nak bersua muka.saya membelokkan motosikal ku menuju ke pekan buku. Hajat di hati mahu mencari beberapa buah buku rujukan untuk subjek Undang-Undang Kontrak. Sambil menuju ke rak buku yang tersusun rapi, mata ku meliar melihat tajuk-tajuk buku yang tertera sambil tangan ku menyambar sebuah
daripadanya.

Perhatian ku terganggu dengan suatu suara yang ku rasakan pernah mendapat tempat gegendang telinga ku. Tatkala saya menoleh untuk melihat milik siapakah suara itu, darah ku berderau, jantung ku berdenyut pantas. Serta-merta saya diserbu perasaan yang tidak keruan. Adakah gadis misteri
yang selama ini dicari-cari? Bagaikan ada satu bisikan halus menyuruh saya mendekatinya. Menapak dengan perlahan. saya lantas menyapa dalam debaran.

“Asalamualaikum. Er.. er.. ingat saya lagi tak?” saya menyapanya dengan tergagap-gagap. Dia memandang ku dengan hairan. Apabila bibir mulusnya menguntum senyum, barulah saya berasa lega. Senyumannya ku balas mesra.

“Awak yang jatuh motor hari tu, kan?” Dia menanya ku.

“Bagaimana dengan kaki awak hari tu? Dah o.ok ke?” saya menyoalnya pula sambil mata ku melirik ke arah kakinya yang putih gebu itu.

“Dah! Dah elok pun. Awak bagai mana? Dah sembuh sepenuhnya ke?” Gilirannya pula menyoal ku. Nyata dia sedikit gamam apabila mata ku meliar melihat ke arah kakinya. Cepat-cepat ku alihkan mata ku ke arah lain.

“Alhamdulillah. Dah baik semuanya. Tak ada kelas ke hari ni?”saya menukar tajuk perbualan. Cuba mencungkil sedikit sebanyak mengenai dirinya.

“Saya baru saja habis kelas. Nak balik ke asrama selepas ni!”

“Ooh, begitu! Fakulti mana? Penghuni First College ke?”

“Saya memang stay kat Kolej Pertama. Fakulti Perniagaan dan Perakaunan. O.klah, jumpa lagi,” ujarnya sambil menghadiahkan sebuah senyuman pada ku.

Ku soroti langkahnya yang penuh sopan santun itu. Ah! Bagaimana saya boleh terlupa menanyakan namanya. Kejar, lekas!

“Hmm.. maaf! Boleh saya tahu siapa nama awak? Saya Hakim!” Nyata dia sedikit terkejut dengan perlakuan ku. saya pura-pura tidak mengerti.

“Amal!”Jawabnya ringkas lalu berlalu meninggalkan ku. Sekilas dia berpaling melihat ku lalu tersenyum. Hati ku bersorak girang. Kalbu ku dimamah ceria. Rasanya akulah orang yang paling bahagia pada hari ini.
———————————
Puas mengiring ke kanan, ku pusingkan badan ku ke kiri. Serba tak kena rasanya. Kipas siling yang berputar ligat tidak mampu mendamaikan resah hati ku. Tidak mampu menyamankan gelora yang bertamu. Sudahkah Amal baca isi surat ku? Fahamkah dia apa yang ingin ku nyatakan? Sukakah dia? Marah? Arghh!!

Tidak dapat ku gambarkan bagaimanakah reaksinya setelah menatap warkah dari ku pagi Selasa kelmarin. Nyata dia tergamam apabila saya memberhentikan motosikal ku, merapatinya lalu saya menyeluk kocek kemeja ku dan
menghulurkan sampul surat putih bersih itu.

Huluran ku disambut dengan wajah yang kehairanan. Tanpa sanggup menunggu lama lebih lama saya terus beredar dari situ memecut laju menahan malu. Semalam, puas ku pujuk Anuar supaya mengarang sepucuk surat untuk ku. Surat itulah yang ku utus untuk Amal. Surat yang menyampaikan segala
isi hati dan perasaan ku yang kudus ini terhadapnya. Nyata Anuar cukup bijak bermain dengan kata-kata.

Sekali-sekali Anuar mendesak saya untuk mengenalkan Amal padanya namun selalu hampa kerana ku rasa belum sampai masanya lagi untuk mendedahkan segala-galanya. Lagipun. saya hanya mengenal gadis manis itu sebagai Amal. Nama penuhnya pun saya tidak tahu. Tak mengapalah, buat permulaan ini
cukuplah sekadar nama sependek itu yang saya ketahui. Itupun sudah lebih dari cukup. Apa yang lebih penting, bagaimana reaksi Amal hari Selasa ini, agaknya?
———————————
Ah ! Hati ku diselimuti hampa. Amal tiada di hentian bas menunggu bas seperti hari-hari sebelumnya. Kenapa? Sakitkah dia? Atau saya sudah terlewat hari ini? Jam di tangan ku kerling. Pukul 8.30 pagi. Waktu biasa saya bertukar senyum dengannya setiap Selasa. Atau… dia marah dengan kandungan surat itu lantas menjauhkan diri dari ku ?

Benak ku diserbu seribu persoalan. Terasa gunung yang ku daki sudah semakin curam dan menyusahkan. Terasa saya sudah hampir tersungkur sebelum sempat memulakan larian. Apabila ku suarakan hal ini kepada Anuar, dia mengatakan bahawa itu adalah perkara biasa dalam permulaan menjalinkan sesuatu hubungan. Perempuan kan tebal dengan sifat malu, begitulah
ujarnya kepada ku. Lega rasanya hati ku. Malah apabila dia menceritakan begitu jugalah reaksi Nur ketika pertama kali menerima bingkisan cintanya dulu. saya bertambah lega. Namun, dia tidak berputus asa sehingga hati Nur akhirnya berjaya ditakluki sepenuhnya. saya harus menjadi setabah
Anuar dalam memenangi hati Amal.
———————————
saya berlari-lari anak mendapatkan Amal. Kenapa dia sengaja memalingkan mukanya apabila terpandangkan ku. Pantas setelah meletakkan kembali buku di rak, dia mengatur langkah untuk meninggalkan perpustakaan. Tiada secalit pun senyuman di bibirnya. Matanya tajam memandang ku. Marahkah
dia?

“Maafkan saya. Boleh saya bercakap dengan Amal sekejap?” saya mengatur kata setelah langkahnya berjaya ku hadang.

“Awak nak apa?”tanyanya tegas.

“Er… er… Pasal surat yang saya beri kepada Amal hari tu macam mana?” tanya ku pula.

Dia mendongakkan mukanya. Memandang ku dengan renungan yang tajam. “Macam mana apa?”

“Er… Takkanlah Amal tak faham. Sebenarnya, saya memang ikhlas nak berkawan dengan Amal. Tak salah kan?”

“Memang tak salah. Tapi… maaflah. Saya tak boleh nak terima perasaan awak yang macam tu terhadap saya. Lagipun, saya tak kenal awak!”

“Ok lah kalau macam tu. Tapi, kalau boleh kita berkawanlah dulu. Saling mengenali. Saya…”

“Maaflah sekali lagi. Saya rasa setakat ini sajalah hubungan kita berdua. Lagipun tiada sebarang hubungan lagi yang terjalin antara kita berdua, kan? Maafkan saya, minta diri dulu!”

saya tergamam dengan drama yang berlaku sebentar tadi. Tidak ku sangka begini layanan Amal terhadap ku. Sangka ku dia menyambut pertemuan kami tadi dengan senyuman manisnya seperti biasa. Walaupun saya hanya terserempak dengannya di perpustakaan. saya tahu dia pasti takkan lokek untuk menghadiahkan satu senyuman mesra kepadaku. Sesungguhnya seorang yang bernama Amal itu cukup payah untuk ku dekati!
———————————
Anuar menepuk-nepuk bahu ku. Satu keluhan yang maha berat ku lepaskan. saya menggaru-garu kepala ku yang tidak gatal. Tidak tahu bagaimana harus ku huraikan segala perasaan tidak keruan yang berselirat di hati ku. Anuar terdiam apabila ku ceritakan layanan Amal terhadap ku lewat
petang semalam. Mungkin simpati dengan nasib ku. Tiba-tiba Anuar tersenyum lebar memandang ku. saya memandangnya meminta kepastian.

“Ingat Nur?” Tanyanya kepadaku.

saya semakin dibelenggu hairan. Apa kaitan antara Nur dan Amal?

“Buah hati kau tu ke? Kenapa?” ujar ku pula.

“Bukankah hari tu kau beritahu saya yang Amal tu dari Fakulti Perniagaan dan Perakaunan?”

“Ya, Kenapa?”

“Nur pun fakulti yang sama dengan Amal. Amal tahun berapa? Nama penuh dia apa? Manalah tahu kalau-kalau Nur kenal. Entah-entah mereka berdua tu berkawan pun kita tak tahu, kan ?”

“Betul jugak tu. Tapi… saya tak tahu apa-apa pun tentang diri Amal. Hanya tahu nama dia saja. Kalau macam ni… susahlah nampaknya kan, Nuar?”

“Alah, perkara kecil saja tu. Kau jangan bimbanglah. Serahkan saja pada saya dan Nur yang uruskan semuanya. Percayalah, Amal akan jadi milik kau.”

“Terima kasih Anuar!”

“Tapi, ada satu syarat. saya nak kau sendiri yang jumpa Nur. saya temankan kau saja. Bukannya apa. saya tak kenal pun Amal. Macam mana saya nak terangkan pada Nur. Kau sajalah yang ceritakan semuanya. Barulah lebih jelas, kan!”

“Kau tak marah ke saya nak jumpa Nur ni? Takut kau cemburu dengan saya saja!”

“saya kan ada sekali. Sesekali tu, tak apa la. Kalau dah hari-hari, merana saya nanti!”

“Amboi… sampai macam tu sekali kau, ya! Alah… saya pun tahulah yang kau dan Nur tu dah lama couple. Dah nak kahwin pun, kan? Nampaknya adalah rezeki saya nak kenal Nur sebelum kau naik pelamin, ya?”
——————————–
Perasaan ku berbaur antara gembira dan resah. Hari ini saya akan ditemukan oleh Anuar dengan Nur. Tempat telah ditetapkan di Kafeteria Sutera Emas. saya meminta Anuar menunggu ku di sana kerana saya ada kerja yang perlu dibereskan terlebih dahulu. Tambahan pula. saya rasa sedikit
gementar untuk berbicara dengan Nur mengenai perasaan hati ku terhadap Amal. Perasaan malu menyelimuti diri lelaki ku. Ah!! Persetankan itu semua. Yang penting. saya haruslah menebalkan muka asalkan hati Amal berjaya ku takluki. saya tersentak dari lamunan. Telefon bimbit yang menjerit ku
angkat pantas. Anuar!

“Kau kat mana lagi, ni? Cepatlah sikit. Dah lama saya tunggu ni. Nur pun dah sampai!” Suara Anuar kedengaran sedikit kalut.

“saya on the way la ni. Sekejap lagi saya sampai la!” Ujar ku pula.

“O.ok. saya tunggu! Cepat sikit, tau!” Balasnya seakan tidak sabar.

Talian telefon ku matikan. Selepas menongkatkan motosikal, dengan pantasnya langkah ku hayun. Mata ku melilau-lilau di celahan manusia yang sedang asyik menjamu selera itu. Tiba-tiba mata ku tertancap pada sepasang teruna dan dara di sudut kiri kafeteria tersebut. Hati ku berbunga ceria apabila itu adalah Anuar. Tetapi, si dara berkurung biru laut di sebelahnya itu mengundang debaran yang maha hebat di hati ku secara tiba-tiba.

saya menggosok-gosok mata ku beberapa kali untuk memastikan yang saya memang tidak tersilap. Langkah ku mati di situ. saya terpaku melayani perasaan tidak keruan yang mula menerjah kalbu. Telefon bimbit yang menjerit mengejutkan ku. Anuar lagi rupanya!

“Hei, Hakim! Kenapa tak sampai-sampai lagi ni?”

“Nuar. saya nak tanya kau sesuatu!” Ada nada getar pada suara ku.

“Apa dia?”

“Nur… Nur tu apa nama sebenarnya?”

“Nur Amalina! Kenapa?”

Astaghfirullah. saya meraup muka mendengarkan nama itu. Suara Anuar yang menjerit-jerit di corong telefon, tidak ku endahkan. Terasa bagaikan ada sebutir batu yang besar menghempap kepala ku. Sakitnya hanya Allah sahaja yang tahu. Rupa-rupanya Nur dan Amal adalah gadis yang sama.

Kiranya saya tahu Amal yang sering menjadi igauan tidur ku, rupanya adalah Nur yang telah sekian lama Anuar mimpikan setiap malam, pasti hati ku tidak merana sebegini. Andai saya tahu Amal adalah sekuntum bunga yang sudah disunting kumbang, pasti saya tidak menyemai benih-benih cinta sebegini hebat terhadapnya. Kiranya saya tahu…

JANJI SEORANG KEKASIH

Atiqah tekun menyiapkan air dan juadah untuk tetamu ayahnya yang hadir pada petang hari itu. Ternyata tetamu ayahnya itu memang cukup dikenalinya. Pemuda itu adalah anak murid kesayangan ayahnya. Ayah Atiqah, Ustaz Mahmood merupakan seorang guru agama dan kini telah pun bersara. Seingat Atiqah, pemuda ini memang sering megunjungi ayahnya sekalipun sudah mempunyai mempunyai pekerjaan yang tetap di Bandar sebagai seorang engineer. Mereka juga pernah bersekolah di sekolah yang sama di mana, pemuda itu adalah seniornya. Walaupun begitu mereka tidak pernah berbual meskipun bertembung, hanya senyuman menjadi pengganti.

Atiqah tekun menyiapkan air dan juadah untuk tetamu ayahnya yang hadir pada petang hari itu. Ternyata tetamu ayahnya itu memang cukup dikenalinya. Pemuda itu adalah anak murid kesayangan ayahnya. Ayah Atiqah, Ustaz Mahmood merupakan seorang guru agama dan kini telah pun bersara. Seingat Atiqah, pemuda ini memang sering megunjungi ayahnya sekalipun sudah mempunyai mempunyai pekerjaan yang tetap di Bandar sebagai seorang engineer. Mereka juga pernah bersekolah di sekolah yang sama di mana, pemuda itu adalah seniornya. Walaupun begitu mereka tidak pernah berbual meskipun bertembung, hanya senyuman menjadi pengganti.

Setelah segalanya siap, Atiqah membawa dulang yang berisi air dan kuih itu ke ruang tamu. Kelihatan rancak sungguh perbualan antara ayah dan ibunya bersama pemuda tersebut. Setelah meletakkan juadah yang dibawanya ke atas meja kecil, Atiqah melangkah semula ke dapur tanpa mengangkatkan sedikit pun mukanya. Namun, langkahnya terhenti bila di panggil ayahnya.

“Atiqah, tunggu sebentar nak. Mari duduk sini sekejap. Ada sesuatu yang hendak ayah cakapkan”, ujar ayahnya lembut.

Atiqah akur. Dia segera melabuhkan punggung di sebelah ibunya, tanpa mengangkat sedikit pun wajahnya.

“Begini.. ayah dan ibu telah mengambil keputusan untuk menyatukan kamu berdua. Kami rasa keputusan kami ini tepat, Walaubagaimanapun.. kami tetap inginkan persetujuan dari kamu berdua”, kata-kata dari ayahnya mengejutkan Atiqah dan pemuda tersebut. Atiqah memandang ayahnya dengan seribu persoalan, kemudian wajah ibunya pula ditatap. Selepas itu, pemuda di hadapan ayahnya pula dipandang, Atiqah segera menundukkan wajah apabila pandangan mereka berdua bertembung. rasa malu menyelinap dalam dirinya.

“Ustaz.. cadangan ustaz tu memang bagus namun berilah saya sedikit masa untuk memikirkannya. Erm.. sebulan dari sekarang ni saya akan pergi ke Mekah menunaikan ibadah haji bersama ibu. InsyaAllah.. jika tiada halangan, mungkin lepas pulang dari Mekah kita akan bincangkan semula hal ini” anak muda itu memberikan pandangannya.

Ayah dan ibu Atiqah akur. Mereka tidak berniat hendak memaksa anak muda tersebut. Cuma mereka mengharapkan pemuda yang bersopan santun dan baik perangainya itu dapat menjadi menantu mereka. Lagipun.. Atiqahlah satu-satunya cahaya hati mereka berdua. Andai Atiqah disatukan dengan pemuda tersebut, dah tentu anaknya itu akan terdidik dengan sifat-sifat yang baik sebagaimana yang dilihat pada pemuda tersebut.

**********************************
Seminggu selepas itu.. seperti biasa Atiqah berjalan seorang diri pulang ke rumah setelah habis mengajar. Dia merupakan seorang ustazah di sekolah Agama Rakyat yang hanya 500 meter dari rumahnya. Kerana itulah dia lebih selesa berjalan kaki saja. Ketika sampai di hadapan rumah, Atiqah terkejut melihat ramai tetamu di rumahnya. Beberapa orang wanita yang hadir itu disalamnya.

“Errr.. inilah Atiqah..”, ujar ibunya kepada seorang wanita yang kelihatan sebaya dengan ibunya itu.

Semakin hairan Atiqah dibuatnya. Segera dia melangkah ke biliknya.. dan diikuti oleh ibunya. Di dalam bilik, barulah dia tahu bahawa rombongan yang hadir itu adalah rombongan daripada Azlan, pemuda yang datang tempoh hari. Ibunya juga mengatakan bahawa mereka telah sepakat untuk mengikat tali pertunangan antara Atiqah dan Azlan pada hari itu juga. Atiqah kelihatan terkejut namun hatinya mengucapkan syukur atas pertunangan itu. Moga ikatan yang telah terjalin ini akan terus mekar sehingga terbinanya Baitul Muslim idaman setiap insane….getusnya di dalam hati. Tidak lama kemudian, masuk pula wanita yang berbual bersama ibunya tadi, itulah ibu kepada Azlan. Cincin disarungkan ke jari manis Atiqah. Dia mengucap syukur kerana kini dirinya telah bergelar tunangan orang kepada insane yang amat diminatinya di dalam diam.

************************
Seperti biasa, Atiqah akan pulang ke rumah daripada mengajar bersama beberapa orang temannya. Namun hari itu dia terlewat untuk pulang kerana ada kerja yang hendak disiapkannya. Keadaan di luar kawasan sekolah sudah sunyi benar ditambahkan keadaan hujan yang lebat pada hari itu. Atiqah nekad untuk meredah hujan tersebut, ini kerana hari telah hampir senja, bimbang ibu dan ayahnya akan risau pula tentang dirinya.

Basah kuyup baju yang dipakainya tika itu, namun langkah diteruskan jua. Tiba-tiba.. terasa seperti ada orang yang mengikutinya dari belakang. Atiqah memandang ke belakang, namun tiada siapa yang kelihatan. Hatinya semakin tidak keruan, dipercepatkan langkahnya. Kerana tidak berhati-hati, Atiqah terjatuh kerana tersepak seketul batu. Pada saat inilah tiba-tiba ada tangan ganas menutup mulutnya dan menariknya ke dalam semak. Atiqah cuba melihat namun pandangannya kurang jelas kerana cermin mata yang dipakainya jatuh entah ke mana. Dia cuba melawan dan menjerit, namun.. tangan yang kasar itu terus menampar pipinya menyebabkan Atiqah pengsan dan tidak sedarkan diri.

**********************

“Atiqah.. mari keluar sekejap nak, Azlan nak berjumpa”, kata ibunya lembut.

Sepatah pun Atiqah tidak menjawab. Seminggu sudah peristiwa hitam itu berlaku, namun ianya meninggalkan kesan yang cukup mendalam kepada dirinya. Hanya air mata yang menjadi peneman setianya. Mungkinkah Azlan dapat menerima dirinya lagi? Atau mungkin kedatangan Azlan kali ini adalah semata-mata ingin memutuskan tali pertunangan mereka? Atiqah pasrah andai itu yang Azlan pilih. Tapi… cuma satu harapannya, Atiqah ingin Azlan tahu yang dirinya bukanlah sejahat sangkaan masyarakat sekeliling. Kesuciaannya telah diragut tanpa kerelaannya. Atiqah mengesat air mata yang mengalir deras. Itulah yang berlaku setiap kali dia teringat peristiwa silam tersebut.

Atiqah mengenakan tudungnya.. namun wajah bujur sireh itu memang nampak cekung benar, almaklumlah hampir seminggu dia tidak menjamah nasi, asyik berkurung saja di dalam bilik. Di ruang tamu, kelihatan Azlan ditemani ibunya. Atiqah menundukkan wajahnya, tidak berani dia memandang tunangnya itu, matanya merenung hujung tudung labuh yang dipakainya itu. Dia merasakan dirinya begitu kotor di hadapan Azlan.

“Atiqah apa khabar?” Azlan menyapa Atiqah lembut. Namun tiada jawapan yang diterima daripada tunangnya itu. Azlan faham perasaan Atiqah saat itu.

“Atiqah, janganlah risau. Abang tak akan putuskan pertunangan kita. Abang percaya dengan Atiqah. Atiqah tetap akan abang peristerikan nanti sejurus abang pulang dari Tanah Mekah”, Azlan nekad dengan keputusannya itu.

Apa yang telah berlaku pada Atiqah bukanlah dengan kerelaannya. Tidak berhati perut andai dia menghukum wanita seperti Atiqah. Tunangnya sudah cukup menderita, maka tak perlulah dia menambahkan lagi penderitaan itu. Semasa hari kejadian, Azlanlah yang menemui Atiqah pengsan tidak sedarkan diri. Dia bersama-sama dengan orang kampung mencari Atiqah merata tempat selepas mendapat berita yang Atiqah tidak pulang ke rumah sehingga larut malam.

Atiqah tersentak mendengar kata-kata yang cukup ikhlas dari tunangnya itu.

“Alhamdulillah…”, ujar Atiqah di dalam hati.

“InsyaAllah… abang akan berangkat ke tanah suci seminggu dari sekarang. Doakanlah perjalanan abang di sana ye. Moga-moga abang dapat menunaikan janji abang untuk menjadikan Atiqah permaisuri Baitul Muslim kita… insyaAllah.” Ujar Azlan jujur.

**************************

Kini.. sudah hampir 2 minggu pemergian Azlan ke Tanah Suci. Surat yang ditinggalkan Azlan menjadi peneman setianya. Tak tahu dah kali ke berapa surat itu dibacanya..

“Atiqah…”, panggil ibunya..

Lamunannya terhenti. Segera dia mendapatkan ibunya. Rupanya jemaah haji telah pulang semula ke tanah air. Hati Atiqah berbunga ceria. Segera dia ke ruang tamu setelah mengenakan tudung. Di lihat…hanya ibu Azlan saja seorang diri. Hatinya tertanya-tanya.. “ke manakah Azlan. Apakah sudah berubah hati?”

Ibu Azlan memandang Atiqah dengan riak wajah yang sedih.. “Atiqah, Azlan telah meninggalkan kita nak.. dia telah terkorban dalam peristiwa ‘Korban Mina’ pada 1 Feb 2004 yang lepas. Jenazahnya telah di kuburkan di sana”.

Menitis laju airmata jernih Atiqah. Sinar bahagianya seolah-olah telah dibawa pergi bersama berita sedih itu. Adakah insane bernama lelaki yang dapat menerima dirinya sebagaimana Azlan? Atiqah redha dengan setiap ujian yang menimpa dirinya

p/s: moga terhibur..

LELAKI ZAMAN KINI

Lelaki diakhir zaman ini
Payah untuk kutemui
Yang benar-benar sibuk
dengan urusan baiki diri
Yang ada kini hanya
Sibuk dengan urusan mengumpul dunia
Walau diketahui dunia ini hanya penuh tipu daya

Lelaki diakhir zaman ini
Payah untuk kutemui
Yang benar-benar sibuk
dengan urusan baiki diri
Yang ada kini hanya
Sibuk dengan urusan mengumpul dunia
Walau diketahui dunia ini hanya penuh tipu daya

Kuberfikir..
Lelaki diakhir zaman ini
Susah untuk kutemui
Yang benar-benar takut pada Ilahi
Sentiasa mendambakan kasih Ilahi
Yang ada hanya mengharapkan kasih insani
Yang melalaikan orang dan diri sendiri

Kuberfikir..
Lelaki diakhir zaman ini
Sukar untuk kutemui
Ahli profesional yang bertaqwa
Yang benar-benar meletakkan Islam dijiwa
Menggunakan profesionnya sebagai matlamat
keakhirat sana
Yang ada hanya ahli profesional yang lalai dan
leka
Yang hidupnya lebih berat dari barat
Ibadah dan amal terasa amat berat

Kuberfikir..
Lelaki diakhir zaman ini
Payah untuk kutemui
Yang sentiasa bergelumang dengan majlis ilmu
yang bermanfaat
Yang sanggup bersusah dan penat
Dalam mengejar dan memahami ilmu yang berkat
Yang ada kini hanyalah berbangga dengan ijazah
yang ada
Tapi ilmu fardhu ainnya kosong belaka

Kuberfikir..
Lelaki diakhir zaman ini
Susah untuk kutemui
Yang suka berbincang tentang ilmu akhirat
Syahid yang sentiasa menjadi matlamat
Mensyiarkan Islam dan menjunjung syariat
Yang ada cuma menghidupkan sunnah barat
Dan melupakan kehidupan akhirat

Kuberfikir..
Lelaki diakhir zaman ini
Sukar untuk kutemui
Yang sentiasa bermunajat dan berzikir
Sentiasa bertafakkur dan berfikir
Sunnah Rasulullah cuba dipahat dan diukir

Namun kutetap berfikir..
pasti masih ada lagi
Lelaki diakhir zaman ini
Seperti yang kufikir

KESATLAH AIRMATAMU

“Apabila hati terikat dengan Allah, kembalilah wanita dengan asal fitrah kejadiannya, menyejukkan hati dan menjadi perhiasan kepada dunia – si gadis dengan sifat sopan dan malu, anak yang taat kepada ibu bapa, isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya pada suami.

Bait-bait kata itu saya tatapi dalam-dalam. Penuh penghayatan. Kata-kata yang dinukilkan dalam sebuah majalah yang ku baca. Alangkah indahnya jika saya bisa menjadi perhiasan dunia seperti yang dikatakan itu. Kubulatkan tekad di hatiku. saya ingin menjadi seorang gadis yang sopan, anak yang taat kepada ibu bapaku dan saya jua ingin menjadi seorang isteri yang menyerahkan kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami, kerana Allah

Menjadi seorang isteri….kepada insan yang disayangi….. idaman setiap wanita. Alhamdulillah, kesyukuran saya panjatkan ke hadrat Ilahi atas nikmat yang dikurniakan kepadaku. Baru petang tadi. saya sah menjadi seorang isteri setelah mengikat tali pertunangan 6 bulan yang lalu. Suamiku, Muhammad Harris, alhamdulillah menepati ciri-ciri seorang muslim yang baik. saya berazam untuk menjadi isteri yang sebaik mungkin kepadanya.

“Assalamualaikum,” satu suara menyapa pendengaranku membuatkan saya gugup seketika. “Waalaikumusalam,” jawabku sepatah. Serentak dengan itu, ku lontarkan satu senyuman paling ikhlas dan paling manis untuk suamiku. Dengan perlahan dia melangkah menghampiriku.

“Ain buat apa dalam bilik ni ? Puas abang cari Ain dekat luar tadi. Rupanya kat sini buah hati abang ni bersembunyi.” saya tersenyum mendengar bicaranya.Terasa panas pipiku ini. Inilah kali pertama saya mendengar ucapan `abang’ dari bibirnya. Dan itulah juga pertama kali dia membahasakan diriku ini sebagai `buah hati’ nya. saya sungguh senang mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ku dongakkan wajahku dan saya memberanikan diri menatap pandangan matanya. Betapa murninya sinaran cinta yang terpancar dari matanya, betapa indahnya senyumannya, dan betapa bermaknanya renungannya itu. saya tenggelam dalam renungannya,seolah-olah hanya kami berdua di dunia ini. Seketika saya tersedar kembali ke alam nyata.

“Ain baru saja masuk. Nak mandi. Lagipun dah masuk Maghrib kan ? `’ ujarku. `’ Ha’ah dah maghrib. Ain mandi dulu. Nanti abang mandi dan kita solat Maghrib sama-sama ye ? `’Dia tersenyum lagi. Senyum yang menggugah hati kewanitaanku. Alangkah beruntungnya saya memilikimu, suamiku.

Selesai solat Maghrib dan berdoa, dia berpusing mengadapku. Dengan penuh kasih, kusalami dan kucium tangannya. Lama. saya ingin dia tahu betapa dalam kasih ini hanya untuknya. Dan saya dapat merasai tangannya yang gagah itu mengusap kepalaku dengan lembut. Dengan perlahan saya menatap wajahnya.

“Abang…..” saya terdiam seketika. Terasa segan menyebut kalimah itu dihadapannya. Tangan kami masih lagi saling berpautan. Seakan tidak mahu dilepaskan.Erat terasa genggamannya.

“Ya sayang…” Ahhh….bicaranya biarpun satu kalimah, amat menyentuh perasaanku. “Abang… terima kasih atas kesudian abang memilih Ain sebagai isteri biarpun banyak kelemahan Ain. Ain insan yang lemah, masih perlu banyak tunjuk ajar dari abang. Ain harap abang sudi pandu Ain. Sama-sama kita melangkah hidup baru, menuju keredhaan Allah.” Tutur bicaraku ku susun satu persatu.

`’Ain, sepatutnya abang yang harus berterima kasih kerana Ain sudi terima abang dalam hidup Ain. Abang sayangkan Ain. Abang juga makhluk yang lemah, banyak kekurangan. Abang harap Ain boleh terima abang seadanya. Kita sama-sama lalui hidup baru demi redhaNya.”

`’Insya Allah abang….Ain sayangkan abang. `’ `’Abang juga sayangkan Ain. Sayang sepenuh hati abang.” Dengan telekung yang masih tersarung. saya tenggelam dalam pelukan suamiku.

Hari-hari yang mendatang saya lalui dengan penuh kesyukuran. Suamiku, ternyata seorang yang cukup penyayang dan penyabar. Sebagai wanita saya tidak dapat lari daripada rajuk dan tangis. Setiap kali saya merajuk apabila dia pulang lewat, dia dengan penuh mesra memujukku, membelaiku. Membuatku rasa bersalah. Tak wajar kusambut kepulangannya dengan wajah yang mencuka dan dengan tangisan. Bukankah saya ingin menjadi perhiasan yang menyejukkan hati suami? Sedangkan Khadijah dulu juga selalu ditinggalkan Rasulullah untuk berkhalwat di Gua Hira’. Lalu, kucium tangannya, kupohon ampun dan maaf. Kuhadiahkan senyuman untuknya. Katanya senyumku bila saya lepas menangis, cantik! Ahhh….dia pandai mengambil hatiku.

saya semakin sayang padanya. Nampaknya hatiku masih belum sepenuhnya terikat dengan Allah. Lantaran itulah saya masih belum mampu menyerahkan seluruh kasih sayang, kesetiaan dan ketaatan hanya untuk suami.

“Isteri yang paling baik ialah apabila kamu memandangnya, kamu merasa senang, apabila kamu menyuruh, dia taat dan apabila kamu berpergian, dia menjaga maruahnya dan hartamu.”

saya teringat akan potongan hadis itu. saya ingin merebut gelaran isteri solehah. saya ingin segala yang menyenangkan buat suamiku. Tuturku ku lapis dengan sebaik mungkin agar tidak tercalar hatinya dengan perkataanku. Kuhiaskan wajahku hanya untuk tatapannya semata. Makan minumnya kujaga dengan sempurna. Biarpun saya jua sibuk lantaran saya juga berkerjaya. Pernah sekali. saya mengalirkan air mata lantaran saya terlalu penat menguruskan rumah tangga apabila kembali dari kerja. Segalanya perlu saya uruskan. saya terasa seperti dia tidak memahami kepenatanku sedangkan kami sama-sama memerah keringat mencari rezeki. Namun. saya teringat akan kisah Siti Fatimah, puteri Rasulullah yang menangis kerana terlalu penat menguruskan rumah tangga. saya teringat akan besarnya pahala seorang isteri yang menyiapkan segala keperluan suaminya.

Hatiku menjadi sejuk sendiri. ‘ Ya Allah. saya lakukan segala ini ikhlas keranaMu. saya ingin mengejar redha suamiku demi untuk mengejar redhaMu. Berilah saya kekuatan, Ya Allah.’

“Ain baik, cantik. Abang sayang Ain.” Ungkapan itu tidak lekang dari bibirnya. Membuatkan saya terasa benar-benar dihargai. Tidak sia-sia pengorbananku selama ini. Betapa bahagianya menjadi isteri yang solehah.

Kehidupan yang ku lalui benar-benar bermakna, apatah lagi dengan kehadiran 2 orang putera dan seorang puteri. Kehadiran mereka melengkapkan kebahagiaanku. Kami gembira dan bersyukur kepada Allah atas nikmat yang dikurniakan kepada kami.

Namun, pada suatu hari. saya telah dikejutkan dengan permintaannya yang tidak terduga.

“Ain…..abang ada sesuatu nak cakap dengan Ain.”

“Apa dia abang?” tanyaku kembali. saya menatap wajahnya dengan penuh kasih.

`’ Ain isteri yang baik. Abang cukup bahagia dengan Ain. Abang bertuah punya Ain sebagai isteri,” bicaranya terhenti setakat itu.

saya tersenyum. Namun benakku dihinggap persoalan.

Takkan hanya itu?

“Abang ada masalah ke?” saya cuba meneka.

“Tidak Ain. Sebenarnya……,” bicaranya terhenti lagi. Menambah kehairanan dan mencambahkan kerisauan di hatiku. Entah apa yang ingin diucapkannya.

“Ain……abang…..abang nak minta izin Ain…… untuk berkahwin lagi,” ujarnya perlahan namun sudah cukup untuk membuat saya tersentak. Seketika saya kehilangan kata.

“A…..Abang…..nak kahwin lagi?” saya seakan tidak percaya mendengar permintaannya itu. Ku sangka dia telah cukup bahagia dengannku. saya sangka saya telah memberikan seluruh kegembiraan padanya. saya sangka hatinya telah dipenuhi dengan limpahan kasih sayangku seorang Rupanya saya silap. Kasihku masih kurang. Hatinya masih punya ruang untuk insan selain saya.

Tanpa bicara, dia mengangguk.

“Dengan siapa abang ?” saya bertanya. saya tidak tahu dari mana datang kekuatan untuk tidak mengalirkan air mata. Tapi….hatiku… hanya Allah yang tahu betapa azab dan pedih hati ini.

“Faizah. Ain kenal dia, kan ?”

Ya. saya kenal dengan insan yang bernama Faizah itu. Juniorku di universiti. Rakan satu jemaah. Suamiku aktif dalam jemaah dan saya tahu Faizah juga aktif berjemaah. Orangnya saya kenali baik budi pekerti,sopan tingkah laku, indah tutur kata dan ayu paras rupa. Tidakku sangka, dalam diam suamiku menaruh hati pada Faizah.

” A….Abang……Apa salah Ain abang?” nada suaraku mula bergetar. saya cuba menahan air mataku daripada gugur. saya menatap wajah Abang Harris sedalam-dalamnya. saya cuba mencari masih adakah cintanya untukku.

“Ain tak salah apa-apa sayang. Ain baik. Cukup baik. Abang sayang pada Ain.”

“Tapi….Faizah. Abang juga sayang pada Faizah…. bermakna….. sayang abang tidak sepenuh hati untuk Ain lagi.”

“Ain…..sayang abang pada Ain tidak berubah. Ain cinta pertama abang. Abang rasa ini jalan terbaik. Tugasan dalam jemaah memerlukan abang banyak berurusan dengan Faizah….Abang tak mahu wujud fitnah antara kami. Lagipun….abang lelaki Ain. Abang berhak untuk berkahwin lebih dari satu. `’

Bicara itu kurasakan amat tajam, mencalar hatiku. Merobek jiwa ragaku. saya mengasihinya sepenuh hatiku. Ketaatanku padanya tidak pernah luntur. Kasih sayangku padanya tidak pernah pudar. saya telah cuba memberikan layanan yang terbaik untuknya. Tapi inikah hadiahnya untukku? Sesungguhnya saya tidak menolak hukum Tuhan. saya tahu dia berhak. Namun, alangkah pedihnya hatiku ini mendengar ucapan itu terbit dari bibirnya. Bibir insan yang amat ku kasihi.

Malam itu, tidurku berendam air mata. Dalam kesayuan. saya memandang wajah Abang Harris penuh kasih. Nyenyak sekali tidurnya. Sesekali terdetik dalam hatiku, bagaimana dia mampu melelapkan mata semudah itu setelah hatiku ini digurisnya dengan sembilu. Tidak fahamkah dia derita hati ini? Tak cukupkah selama ini pengorbananku untuknya? Alangkah peritnya menahan kepedihan ini. Alangkah pedihnya!

Selama seminggu. saya menjadi pendiam apabila bersama dengannya. Bukan saya sengaja tetapi saya tidak mampu membohongi hatiku sendiri. Tugasku sebagai seorang isteri saya laksanakan sebaik mungkin, tapi saya merasakan segalanya tawar. saya melaksanakannya tidak sepenuh hati. Oh Tuhan…..ampuni daku. saya sayang suamiku, tapi saya terluka dengan permintaannya itu.

Apabila bertembung dua kehendak, kehendak mana yang harus dituruti. Kehendak diri sendiri atau kehendak Dia ? Pastinya kehendak Dia. Apa lagi yang saya ragukan? Pasti ada hikmah Allah yang tersembunyi di sebalik ujian yang Dia turunkan buatku ini. saya berasa amat serba-salah berada dalam keadaan demikian. saya rindukan suasana yang dulu. Riang bergurau senda dengan suamiku. Kini. saya hanya terhibur dengan keletah anak-anak. Senyumku untuk Abang Harris telah tawar, tidak berperisa. Yang nyata. saya tidak mampu bertentang mata dengannya lagi. saya benar-benar terluka.

Namun, Abang Harris masih seperti dulu. Tidak jemu dia memelukku setelah pulang dari kerja walau sambutan hambar. Tidak jemu dia mencuri pandang merenung wajahku walau saya selalu melarikan pandangan dari anak matanya. Tidak jemu ucapan kasihnya untukku. saya keliru. Benar-benar keliru. Adakah Abang Harris benar-benar tidak berubah sayangnya padaku atau dia hanya sekadar ingin mengambil hatiku untuk membolehkan dia berkahwin lagi?

`Oh Tuhan…berilah saya petunjukMu.’ Dalam kegelapan malam. saya bangkit sujud menyembahNya, mohon petunjuk dariNya. saya mengkoreksi kembali matlamat hidupku.

Untuk apa segala pengorbananku selama ini untuk suamiku ? Untuk mengejar cintanya atau untuk mengejar redha Allah ? Ya Allah, seandainya ujian ini Engkau timpakan ke atasku untuk menguji keimananku. saya rela Ya Allah. saya rela.

Biarlah. Bukan cinta manusia yang kukejar. saya hanya mengejar cinta Allah. Cinta manusia hanya pemangkin. Bukankah saya telah berazam. saya inginkan segala yang menyenangkan buat suamiku?

Dengan hati yang tercalar seguris luka. saya mengizinkan Abang Harris berkahwin lagi. Dan, demi untuk mendidik hati ini. saya sendiri yang menyampaikan hasrat Abang Harris itu kepada Faizah. Suamiku pada mulanya agak terkejut apabila saya menawarkan diri untuk merisik Faizah.

“Ain?……Ain serius?”

“Ya abang. Ain sendiri akan cakap pada Faizah. Ain lakukan ini semua atas kerelaan hati Ain sendiri. Abang jangan risau…Ain jujur terhadap abang. Ain tak akan khianati abang. Ain hanya mahu lihat abang bahagia,” ujarku dengan senyuman tawar. saya masih perlu masa untuk mengubat luka ini. Dan inilah satu caranya. Ibarat menyapu ubat luka. Pedih, tetapi cepat sembuhnya.

saya mengumpul kekuatan untuk menjemput Faizah datang ke rumahku. Waktu itu, suamiku tiada di rumah dan dia telah memberi keizinan untuk menerima kedatangan Faizah. Faizah dengan segala senang hati menerima undanganku. Sememangnya saya bukanlah asing baginya.Malah dia juga mesra dengan anak-anakku.

`’Izah……akak jemput Izah ke mari sebab ada hal yang akak nak cakapkan, `’ setelah saya merasakan cukup kuat. saya memulakan bicara.

`’Apa dia, Kak Ain. Cakaplah, `’ lembut nada suaranya.

“Abang Harris ada pernah cakap apa-apa pada Faizah?”

“Maksud Kak Ain, Ustaz Harris?” Ada nada kehairanan pada suaranya. Sememangnya kami memanggil rakan satu jemaah dengan panggilan Ustaz dan Uztazah. saya hanya mengangguk.

“Pernah dia cakap dia sukakan Izah?”

“Sukakan Izah? Isyyy….tak mungkinlah Kak Ain. Izah kenal Ustaz Harris. Dia kan amat sayangkan akak. Takkanlah dia nak sukakan saya pula. Kenapa Kak Ain tanya macam tu? Kak Ain ada dengar cerita dari orang ke ni? `’

‘Tidak Izah. Tiada siapa yang membawa cerita…….” saya terdiam seketika. “Izah, kalau Kak Ain cakap dia sukakan Izah dan nak ambil Izah jadi isterinya, Izah suka?” Dengan amat berat hati. saya tuturkan kalimah itu.

“Kak Ain!” jelas riak kejutan terpapar di wajahnya. `’Apa yang Kak Ain cakap ni ? Jangan bergurau hal sebegini Kak Ain, `’ kata Faizah seakan tidak percaya. Mungkin kerana saya sendiri yang menutur ayat itu.Isteri kepada Muhammad Harris sendiri merisik calon isteri kedua suaminya.

“Tidak Izah. Akak tak bergurau……Izah sudi jadi saudara Kak Ain?” ujarku lagi. Air mataku seolah ingin mengalir tapi tetap saya tahan. Faizah memandang tepat ke wajahku.

“Kak Ain. Soal ini bukan kecil Kak Ain. Kak Ain pastikah yang……Ustaz Harris…..mahu… melamar saya?”

Dari nada suaranya. saya tahu Faizah jelas tidak tahu apa-apa. Faizah gadis yang baik. saya yakin dia tidak pernah menduga suamiku akan membuat permintaan seperti ini. Lantas. saya menceritakan kepada Faizah akan hasrat suamiku. Demi untuk memudahkan urusan jemaah,untuk mengelakkan fitnah. Faizah termenung mendengar penjelasanku.

“Kak Ain…..saya tidak tahu bagaimana Kak Ain boleh hadapi semuanya ini dengan tabah. Saya kagum dengan semangat Kak Ain. Saya minta maaf kak. Saya tak tahu ini akan berlaku. Saya tak pernah menyangka saya menjadi punca hati Kak Ain terluka,” ujarnya sebak.

Matanya kulihat berkaca-kaca.

“Izah…Kak Ain tahu kamu tak salah. Kak Ain juga tak salahkan Abang Harris. Mungkin dia fikir ini jalan terbaik. Dan akak tahu, dia berhak dan mampu untuk melaksanakannya. Mungkin ini ujian untuk menguji
keimanan Kak Ain.”

“Kak…maafkan Izah.” Dengan deraian air mata, Faizah meraihku ke dalam pelukannya. saya juga tidak mampu menahan sebak lagi. Air mataku terhambur jua. Hati wanita. Biarpun bukan dia yang menerima kepedihan ini, tetapi tersentuh jua hatinya dengan kelukaan yang ku alami. Memang hanya wanita yang memahami hati wanita yang lain.

“Jadi…Izah setuju?” Soalku apabila tangisan kami telah reda.

`’Kak Ain….ini semua kejutan buat Izah. Izah tak tahu nak cakap. Izah tak mahu lukakan hati Kak Ain.”

“Soal Kak Ain….Izah jangan risau, hati Kak Ain… Insya Allah tahulah akak mendidiknya. Yang penting akak mahu Abang Harris bahagia. Dan akak sebenarnya gembira kerana Faizah pilihannya. Bukannya gadis lain yang akak tak tahu hati budinya. Insya Allah Izah. Sepanjang Kak Ain mengenali Abang Harris dan sepanjang akak hidup sebumbung dengannya, dia seorang yang baik, seorang suami yang soleh, penyayang dan penyabar. Selama ini akak gembira dengan dia. Dia seorang calon yang baik buat Izah. `’

“Akak…..Izah terharu dengan kebaikan hati akak. Tapi bagi Izah masa dan Izah perlu tanya ibu bapa Izah dulu.”

“Seeloknya begitulah. Kalau Izah setuju, Kak Ain akan cuba cakap pada ibu bapa Izah.”

Pertemuan kami petang itu berakhir. saya berasa puas kerana telah menyampaikan hasrat suamiku. `Ya Allah…..inilah pengorbananku untuk membahagiakan suamiku. saya lakukan ini hanya semata-mata demi redhaMu.’

Pada mulanya, keluarga Faizah agak keberatan untuk membenarkan Faizah menjadi isteri kedua Abang Harris. Mereka khuatir Faizah akan terabai dan bimbang jika dikata anak gadis mereka merampas suami orang. Namun. saya yakinkan mereka akan kemampuan suamiku.Alhamdulillah, keluarga Faizah juga adalah keluarga yang menitikberatkan ajaran agama. Akhirnya, majlis pertunangan antara suamiku dan Faizah diadakan jua.

“Ain…..abang minta maaf sayang,” ujar suamiku pada suatu hari, beberapa minggu sebelum tarikh pernikahannya dengan Faizah.

“Kenapa?”

“Abang rasa serba salah. Abang tahu abang telah lukakan hati Ain. Tapi….Ain sedikit pun tidak marahkan abang. Ain terima segalanya demi untuk abang.Abang terharu. Abang….malu dengan Ain.”

“Abang….syurga seorang isteri itu terletak di bawah tapak kaki suaminya. Redha abang pada Ain Insya Allah, menjanjikan redha Allah pada Ain. Itu yang Ain cari abang. Ain sayangkan abang. Ain mahu abang gembira.
Ain anggap ini semua ujian Allah abang. `’

`’Ain….Insya Allah abang tak akan sia-siakan pengorbanan Ain ini. Abang bangga sayang. Abang bangga punya isteri seperti Ain. Ain adalah cinta abang selamanya. Abang cintakan Ain.”

“Tapi…abang harus ingat. Tanggungjawab abang akan jadi semakin berat. Abang ada dua amanah yang perlu dijaga. Ain harap abang dapat laksanakan tanggungjawab abang sebaik mungkin.”

“Insya Allah abang akan cuba berlaku seadilnya.” Dengan lembut dia mengucup dahiku. Masih hangat seperti dulu. saya tahu kasihnya padaku tidak pernah luntur. saya terasa air jernih yang hangat mula membasahi pipiku. Cukuplah saya tahu, dia masih sayangkan saya seperti dulu walaupun masanya bersamaku nanti akan terbatas.

Pada hari pertama pernikahan mereka. saya menjadi lemah. Tidak bermaya. saya tiada daya untuk bergembira. Hari itu sememangnya amat perit bagiku walau saya telah bersedia untuk menghadapinya. Malam pertama mereka disahkan sebagai suami isteri adalah malam pertama saya ditinggalkan sendirian menganyam sepi. saya sungguh sedih. Maha hebat gelora perasaan yang ku alami. saya tidak mampu lena walau sepicing pun. Hatiku melayang terkenangkan Abang Harris dan Faizah. Pasti mereka berdua bahagia menjadi pengantin baru. Bahagia melayari kehidupan bersama, sedangkan saya ? Berendam air mata mengubat rasa kesepian ini. Alhamdulillah. saya punya anak-anak. Merekalah teman bermainku.

Seminggu selepas itu, barulah Abang Harris pulang ke rumah. saya memelukknya seakan tidak mahu ku lepaskan. Seminggu berjauhan, terasa seperti setahun. Alangkah rindunya hati ini. Sekali lagi air mata ku rembeskan tanpa dapat ditahan.

`’ Kenapa sayang abang menangis ni? Tak suka abang balik ke?” ujarnya lembut.

“Ain rindu abang. Rindu sangat. `’ Tangisku makin menjadi-jadi. saya mengeratkan pelukanku. Dan dia juga membalas dengan penuh kehangatan.

`’Abang pun rindu Ain. Abang rindu senyuman Ain. Boleh Ain senyum pada abang ? `’ Lembut tangannya memegang daguku dan mengangkat wajahku.

`’Abang ada teman baru. Mungkinkah abang masih rindu pada Ain ? `’ saya menduga keikhlasan bicaranya.

‘Teman baru tidak mungkin sama dengan yang lama. Kan abang dah kata, sayang abang pada Ain masih seperti dulu. Tidak pernah berubah, malah semakin sayang. Seminggu abang berjauhan dari Ain, tentulah abangrindu. Rindu pada senyuman Ain, suara Ain, masakan Ain, sentuhan Ain. Semuanya itu tiada di tempat lain, hanya pada Ain saja. Senyumlah sayang, untuk abang. `’

saya mengukir senyum penuh ikhlas. saya yakin dengan kata-katanya. saya tahu sayangnya masih utuh buatku.

Kini, genap sebulan Faizah menjadi maduku. saya melayannya seperti adik sendiri. Hubungan kami yang dulunya baik bertambah mesra. Apa tidaknya, kami berkongsi sesuatu yang amat dekat di hati. Dan, Faizah, menyedari dirinya adalah orang baru dalam keluarga, sentiasa berlapang dada menerima teguranku. Katanya. saya lebih mengenali Abang Harris dan dia tidak perlu bersusah payah untuk cuba mengorek sendiri apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Abang Harris. saya, sebagai kakak, juga sentiasa berpesan kepada Faizah supaya sentiasa menghormati dan menjaga hati Abang Harris. saya bersyukur, Faizah tidak pernah mengongkong suamiku. Giliran kami dihormatinya.

Walaupun kini masa untuk saya bersama dengan suamiku terbatas, tetapi saya dapat merasakan kebahagiaan yang semakin bertambah apabila kami bersama. Benarlah, perpisahan sementara menjadikan kami semakin rindu. Waktu bersama, kami manfaatkan sebaiknya. Alhamdulillah, suamiku tidak pernah mengabaikan saya dan Faizah. saya tidak merasa kurang daripada kasih sayangnya malah saya merasakan sayangnya padaku bertambah. Kepulangannya kini sentiasa bersama sekurang-kurangnya sekuntum mawar merah. Dia menjadi semakin penyayang, semakin romantik. saya rasa saya harus berterima kasih pada Faizah kerana kata suamiku, Faizahlah yang selalu mengingatkannya supaya jangan mensia-siakan kasih sayangku padanya.

Memang saya tidak dapat menafikan, adakalanya saya digigit rindu apabila dia pulang untuk bersama-sama dengan Faizah. Rindu itu. saya ubati dengan zikrullah. saya gunakan kesempatan ketiadaannya di rumah dengan menghabiskan masa bersama Kekasih Yang Agung. saya habiskan masaku dengan mengalunkan ayat-ayatNya sebanyak mungkin. Sedikit demi sedikit kesedihan yang ku alami mula pudar. Ia diganti dengan rasa ketenangan. saya tenang beribadat kepadaNya. Terasa diriku ini lebih hampir dengan Maha Pencipta.

Soal anak-anak. saya tidak mempunyai masalah kerana sememangnya saya mempunyai pembantu rumah setelah saya melahirkan anak kedua. Cuma, sewaktu mula-mula dulu, mereka kerap juga bertanya kemana abah mereka pergi, tak pulang ke rumah. saya terangkan secara baik dengan mereka. Mereka punyai ibu baru. Makcik Faizah. Abah perlu temankan Makcik Faizah seperti abah temankan mama. Anak-anakku suka bila mengetahui Faizah juga menjadi `ibu’ mereka. Kata mereka, Makcik Izah baik. Mereka suka ada dua ibu. Lebih dari orang lain.Ahhh…anak-anak kecil. Apa yang kita terapkan itulah yang mereka terima. saya tidak pernah menunjukkan riak kesedihan bila mereka bertanya tentang Faizah. Bagiku Faizah seperti adikku sendiri.

Kadang-kadang, bila memikirkan suamiku menyayangi seorang perempuan lain selain saya, memang saya rasa cemburu, rasa terluka. saya cemburu mengingatkan belaian kasihnya itu dilimpahkan kepada orang lain.saya terluka kerana di hatinya ada orang lain yang menjadi penghuni. Aisyah, isteri Rasulullah jua cemburukan Khadijah, insan yang telah tiada. Inikan pula saya, manusia biasa. Tapi….. kukikis segala perasaan itu. Cemburu itukan fitrah wanita, tanda sayangkan suami. Tetapi cemburu itu tidak harus dilayan. Kelak hati sendiri yang merana. Bagiku, kasih dan redha suami padaku itu yang penting, bukan kasihnya pada orang lain. Selagi saya tahu, kasihnya masih utuh buatku. saya sudah cukup bahagia. Dan saya yakin, ketaatan, kesetiaan dan kasih sayang yang tidak berbelah bahagi kepadanya itulah kunci kasihnya kepadaku. saya ingin nafasku terhenti dalam keadaan redhanya padaku, supaya nanti Allah jua meredhai saya. Kerana sabda Rasulullah s.a.w

“Mana-mana wanita (isteri) yang meninggal dunia dalam keadaan suaminya meredhainya, maka ia akan masuk ke dalam syurga.” (Riwayat at-Tirmizi, al-Hakim dan Ibnu Majah).

Sungguh bukan mudah saya melalui semuanya itu. Saban hari saya berperang dengan perasaan. Perasaan sayang, luka, marah, geram, cemburu semuanya bercampur aduk. Jiwaku sentiasa berperang antara kewarasan akal dan emosi. Pedih hatiku hanya Tuhan yang tahu.KepadaNyalah saya pohon kekuatan untuk menempuhi segala kepedihan itu. KepadaNyalah saya pinta kerahmatan dan kasih sayang, semoga keresahan hati ini kan berkurangan.

Namun, jika saya punya pilihan, pastinya saya tidak mahu bermadu. Kerana ia sesungguhnya memeritkan. Perlukan ketabahan dan kesabaran. Walau bagaimanapun. saya amat bersyukur kerana suamiku tidak pernah mengabaikan tanggungjawabnya. Dan saya juga bersyukur kerana menjadi intan terpilih untuk menerima ujian ini.

———————————————————————————–
Mampukah kita setabah ini?

CALON YANG SOLEHAH

mencari yang solehah bagaikan mencari gagak putih, namun harus diingat jika inginkan yang solehah, perlulah solehkan diri yang paling utama.Usai berdoa seperti kelaziman, dia meraup wajahnya. Sunat selepas maghrib menjadi penutup ibadah senjanya lewat petang itu. Hajat memang ada untuk sama-sama meraih pahala berganda di masjid, namun keletihan diri terlebih dahulu merantai keinginan mulia itu. Serik rasanya beradu kekuatan di padang bola bersama dengan orang Arab. Ganas, agresif dan kasar.

Semuanya bersatu dan berpadu dan membuahkan natijah yang kurang menyenangkannya. Tersungkur jugak dia dibentes lawan. Tangannya mencapai minyak habbatussauda’ untuk disapukan pada bahagian yang sudah nampak lebam biru kehitaman. Kakinya hampir saja kejang. Aduh! Dia mengeluh. Matanya terpaku pada penanda buku unik yang terselit malu pada Tafsir Quran.
Jamahan matanya menyatakan dalam kiasan nurani penanda buku itu unik rekaannya. Seunik bicara dan hujah pemberi “book mark” itu. Kemas dengan kesan “liminate”, berukuran comel 30cm panjang kali 5cm lebar. Kalimah bertinta ungu itu menarik perhatiannya malah tersemat utuh di hatinya. Terkesan siapa yang membaca hikmah puitis itu.

“Layakkah kita untuk mengasihi manusia sekiranya kasih dan cinta kita pada Pencipta manusia itu masih belum mantap. Tepuklah dada tanyalah iman.”

Semusim percutianku sebelum melanjutkan pengajian di Universiti Yarmouk ini, sememangnya meninggalkan kesan yang mendalam pada hatiku.
Alasan yang saya kemukakan semata-mata untuk mengelak apabila Tok Ayah persoalkan tentang jodoh ternyata membuahkan satu mutiara kenangan. Kenangan yang menautkan dua hati melalui penyatuan idea mengenai CALON SOLEHAH.

“Mencari seorang calon isteri yang solehah bolehlah kita umpamakan sebagai mencari gagak putih. Semakin ia bernilai maka lazimnya semakin susah untuk kita dapatkan. Agaknya inilah penyebab ramainya anak muda yang masih mencari-cari jodoh sedangkan umur semakin meningkat…lewat menunaikan seru,”
“ Hafiz, kamu tidak mahu berkahwin ke?” eh, tiba-tiba pula Tok Ayah mengutarakan soalan cepu mas ini. Pengajian memang sudah tamat namun hajat di hati ingin menyambung ke peringkat sarjana masih segar.
“Bukan tak berkeinginan Tok Ayah tapi..hajat nak mencari yang solehah. Biar dunia tidak berat sebelah,” harap-harap inilah alasan yang agak kukuh.
“Nak cari yang benar-benar solehah, bukanlah satu usaha yang mudah. Nak yang solat di awal waktu, hormati ibu dan ayah, pandai mengaji Quran, menutup aurat..ish, banyak sungguh ciri-ciri kamu Hafiz..alamat, sampai Tok Ayah berumah kat batu dua lah baru sampai hajat..”
“ Susahlah Tok Ayah…yang sipi-sipi ada la jugak jumpa…”sempat juga saya melontarkan idea spontan saya. Tok Ayah hanya menggeleng.
Pertemuan dengan Raihanah berlaku secara tidak sengaja, ketika bersama-sama Tok Ayah singgah ke warung pagi itu. Suka benar Tok Ayah dengan nasi lemak air tangan ibu saudara Raihanah.
Dia kurang mengenali siapa Raihanah. Malah daripada cerita ibu saudaranya itu Raihanah adalah anak abangnya yang tinggal di Kedah. Tamat pengajian gadis itu bermastautin sementara di kampungnya. manis tapi jarang tersenyum. Kulit asianya terlindung di sebalik baju t-shirt labuh paras lutut dan bertangan panjang itu, dengan tudung turki bercorak flora. Tiada yang istimewa sangat!

Namun peristiwa malam itu di surau ternyata membuktikan bahawa gadis itu bukanlah sebarangan gadis. Mempunyai daya tarikan pada yang tahu menilai mutiara wangian syurga ini.
“calon isteri yang solehah…orang lelaki nak yang solehah sahaja, tapi kadangkala diri sendiri dia tak check betul-betul,” ngomel seorang gadis ketika perbincangan ilmiah pada malam itu apabila Tok Ayah menyatakan mengenai topic tersebut. saya sekadar tersenyum. Kelaziman kuliah maghrib lebih berbentuk ilmiah untuk menarik golongan muda bersama-sama meluahkan pendapat.
Mendengar kata-kata gadis itu saya tersenyum sendirian.

“Raihanah ada sebarang pendapat?” soal tok ayah apabila gadis bertelekung putih itu hanya sekadar menjadi pemerhati debat tidak formal itu.
“sekadar pendapat tok ayah…jika kita nak bakal zaujah kita seorang yang solehah, yang bertaqwa saya ada satu tips,”riuh seketika.
“sebelum kita kaji dan telek bakal isteri kita paling afdal kita telek diri kita dulu. Teropong dulu takat mana iman dan taqwa kita,” saya sedikit terkelu. Macamana agaknya? Namun persoalan itu hanya berlegar-legar di fikiran kosong saya, tidak terluah.
“nak dapat bakal isteri yang solehah, paling penting syarat utamanya solehkan dulu diri anda. Di sinilah dapat kita kaitkan konsep bakal isteri yang solehah untuk bakal suami yang soleh. tabur ciri-ciri suami soleh dalam diri. Siramkan sahsiah mulia dengan sifat mahmudah lelaki soleh.

saya mengangguk tanda setuju dengan pendapat bernas itu.
“tapi, ada jaminan ke kita akan mendapat bakal isteri yang solehah?” ada qariah muda berani untuk mengutarakan soalan.

“Bergantung pada diri kita sebenarnya. Suburnya ciri-ciri lelaki soleh pada diri kita insyaAllah akan meningkatkan iman dan taqwa kita. Semakin cerahlah peluang untuk kita mendapat calon yang solehah. Jodoh adalah kerja Allah. Ingatlah jaminan Allah dalam surah Nisa’ bahawa lelaki yang soleh telah ditetapkan akan dipertemukan dengan perempuan yang solehah. Lelaki yang mukmin untuk perempuan yang mukminat.” Raihanah melepas lelah barangkali. Lalu dia tersenyum.
“ teruskan usaha mencari calon yang solehah. Tapi, dalam masa yang sama tingkatkan nilai kesolehan anda. Inilah strategi serampang dua mata, macam DEB. Cuma satu nasihat saya, jangan letakkan syarat bakal zaujah itu terlalu tinggi,”
“Kenapa pulak?” Tanya Tok Ayah. Eh, Tok ayah pun mengambil bahagian juga?
“bukankah hakikat sebuah perkahwinan adalah saling melengkapi. insyaAllah jika ada yang kurang pada bakal zaujah, tampunglah selepas perkahwinan tersebut. Hal iman dan taqwa janganlah diambil remah. Jangan nak berlebih dan berkurang dalam hal mencari pasangan kita. Mengambil kata-kata daripada laman Kemudi hati dalam Anis, kebanyakan lelaki menilai dan meletakkan piawaian yang tinggi untuk bakal zaujahnya tetapi merendahkan piawaian itu untuk dirinya…itu adalah silap tafsir.”

Alhamdulillah, sekarang terbuka sudah pemikiran ruang lingkup. saya tersenyum. Terima kasih Raihanah. Tok Ayah juga tersenyum. Ada hikmah di sebalik semua ini.

“hafiz, ada surat untuk anta daripada Malaysia…”kenyitan mata Syahid sewaktu menyerahkan surat bersampul ungu itu diikuti dengan gelak tawa rafiknya yang lain mematikan lamunannya. Senyuman yang berbunga di bibir Syahid seolah-olah memberitahunya bahawa warkah itu sudah pastinya daripada tunangannya, Raihanah.. calon pilihan Tok Ayah, dan juga hatinya yang kini sedang meneruskan pengajian peringkat sarjana Undang-undang di Universiti Islam Antarabangsa. Alhamdulillah, gadis inilah yang telah menemukannya titik noktah pencarian calon solehah. Syukur Ya Allah.

NUKILAN SEORANG SUAMI

selamat hari lahir… moga dirahmati Allah akan segala usahamu,
Moga sihat sejahtera dan dan dikurniakan kesejahteraan dunia dan akhirat.di perkuatkan lagi keimanan dan dijauhi dari segala musibah serta dikurniakan kesihatan.dan dimurahkan rezekimu.

Ketahuilah olihmu wahai isteriku.
Dalam kehidupan suami isteri selama 18 tahun bersamamu.Terlalu banyak yang
telah kita lalui.Terlalu banyak pengalaman yang tidak mampu dibeli dengan wang
ringgit.Walaupun belbagai kerenahmu dan caramu yang kekadang tidak sesuai pada
pendirianku.Walupun ada yang memang tak dapat saya terima sepenuhnya seakan
mencabar saya sebagai suamimu.Namun saya tetap berdiri dirumah yang saya bina
atas dasar pilihan keluraga.

Masih teriyang ditelinga saya , bagaimana ucapan yang pernah kau lafaskan
disaksikan olih insan yang saya panggil ibu mertua..
ala..ustaz tu kalau dapat sujud kat sejadah dia..takan dihiraukannya
apapun..biar bom meletup kat tepinya. Masihkah kau ingat..patah katamu itu..
saya hanya mampu beristifar memohon agar suatu waktu nanti kau akan insaf.
walaupun ucapan ini telah terlalu lama saya dengari tapi memori saya masih
tak mampu untuk mendeletenya..

Masihkah kau ingat lagi..antara kata kata seorang isteri pada suaminya..

bang oii..kalau awak nak saya jadi macam ustazah .ngapa nikah dengan saya..
tu Si pasal tu ada.. Si yati tu ada Si Min tu ada dulu..ngapa awak nak kat saya..

Letihlah bang…….awak sajalah buatkan susu anak tu..

bang..bangunlah anak nangis tu…nak susu agaknya…

Heeeeeee…bang nanti basuhkan lampin anaknie..ada ke buang air ( kata
seangkatan dengan nya ) kat lampin.

esok pagi..kalau nak sarapan buat air sendirilah..saya nak tdur.pergi kerja
kuncikan saja pintu tu.

bang…balik lah..asik kerja saja..budak ni menangis dari tadi tak mahu
berenti..cakap saja kat bos awak tu..anak demam

inilah kata katamu…kata kata seorang isteri pada seorang suami.. saya pernah
menitik airmata takala sujud menyembah tuhan..memohon agar tuhan memberi
petunjuk padamu.

Tahun 1999.sept . setelah 13 tahun saya lalui segala keperitannya..atas ajakan
seorang teman..saya berlepas ke Mekah. Mengerjakan ibadat umrah .
Puas saya memujuk agar ikut bersama saya.tapi kau hanya berkata tak mahu.belum
sedia…

Di Madinah dan diMekah setiap solat saya panjatkan doa agar insan yang bernama
isteriku berubah dan taubat. Agar terbuka pintu hatimu , menghornati insan
bergelar suami.

9.2.2001………..waktu itu saya telah menjadi warga RJ. tulisan DD borhan
amat saya minati.. saya postingkan ..bermimpikah saya atau isteri saya
bermimpi……………….

segala keperitan saya , mungkin doa saya dimakbulkan tuhan..untuk pertama
kalinya seorang isteri mengucapkan selamat jalan pada saya..bersalaman dengan
saya dan melambaikan tangan mengiringi perjalanan saya..
mana taknya kau…mujur tak lalu bukit putus…..kok lalu situ saya dah lama
terkubur agaknya..tekejut amat sangat.

dari saat itu hidup saya sebagai suami berubah,segalanya…
tahukah engkau wahai isteriku…jika dulu airmata saya menitis memohon agar
tuhan menunjukkan kebenaran padamu. sekarang saya mengalirkan airmata kerana
kesyukuran pada tuhan..usia perkhawinan kita 18 tahun..tapi saya menikmati
hidup sebagai suami yang dilayan sebagai suami hanya 3 tahun ini.

Sesunggohnya saya bersyukur padamu tuhan..
Untuk isteriku…..segala dosa mu telah abang ampunkan …untuk masa lalu dan
akan datang.telah abang lafaskan dihadapan rumah Allah..yang engkau tidak punya
sedikit dosapun pada abang..kecuali satu..jika kau menginiaya
ibubapaku…………… dosa ini takan abang maafkan..kerana tiada insan yang
lebih mulia didunia padaku kecuali ibubapa abang..

moga tuhan terus merahmati dirimu.
selamat hari lahir buat isteri ku.

TANGISAN UMMU AYMAN

Sejurus selepas kewafatan Rasulullah SAW, Abu Bakr mengajak Umar, “ayuh, mari kita ke rumah Ummu Ayman”.

Selepas disampaikan berita kewafatan Nabi SAW, Ummu Ayman menangis dengan tangisan yang berat.

“Apakah yang ibu tanggung dalam tangisanmu wahai Ummu Ayman? Apakah tidak ibu ketahui bahawa apa yang ada di sisi Allah itu adalah jauh lebih baik buat Baginda SAW?”, Abu Bakr dan Umar cuba mencungkil beban hati Ummu Ayman.

Lantas beliau berkata, “Sesungguhnya aku, demi Allah, mengetahui akan benar katamu, bahawa apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik buat Rasul-Nya. Tangisanku bukanlah kerana itu wahai Abu Bakr dan Umar. Akan tetapi… aku menangis dan hiba dengan berita yang kalian bawa, kerana sesungguhnya WAHYU TELAH TERPUTUS DARI LANGIT… buat selama-lamanya…”

Tersentak Abu Bakr dan Umar… lantas mereka berdua turut menangisi hakikat kewafatan Nabi SAW pada waktu Dhuha di sore Isnin, 12 Rabi’ al-Awwal tahun ke-11H tersebut. Tiada lagi wahyu… dan moga Ummah ini dikurniakan Allah upaya hidup pada tiada lagi seorang Nabi, pembimbing jalan, pengubat lara hati… terutamanya pada hari-hari yang penuh derita ini.

Wa Shallallahu ‘ala Sayyidina Muhammad al-Nabi al-Ummi wa ‘ala Aalihi wa Sahbihi wa Sallim Tasleeman Katheera, ‘Adada Maa Ahaata Bihi ‘Ilmuhu wa Khatta bihi Qalamuhu wa Ahsaahu

MENGAPA HARUS BEGINI?
krisis SIKAP di institusi kesihatan

“Emak awak mesti menjalani pembedahan craniectomy!”, itulah kata doktor pakar tempat saya merujuk kes emak.

Nama craniectomy itu sudah cukup menggerunkan saya. Tempurung kepala emak saya akan ditebuk untuk merawat bahagian yang sakit. Selepas itu tulang yang telah ditanggalkan itu tidak akan dipasang semula. Bahkan bahagian yang berlubang itu hanya akan ditutup dengan kulit kepala semata-mata.

Aduh, tak terbayang hendak melihat emak derita. Saya termenung.

Semuanya bermula sejurus selepas kepulangan saya ke Malaysia. Semasa itu emak saya mengadu yang dia sering mengalami sakit kepala yang teruk. Kadang-kadang sampai menggigil dan berpeluh. Katanya, bilik tidur kadang-kadang seperti berpusing dan emak selalu rebah.

Abang-abang sudah berusaha membawa emak ke klinik. Selalunya, doktor di klinik akan memberikan emak saya tiga jenis ubat iaitu ubat penahan sakit, ubat angin dan ubat jalan darah. Maklumat-maklumat itu sungguh tidak membantu. Saya pergi ke klinik yang selalu emak kunjung untuk bertanya tentang jenis ubat yang diberikan selama ini kepada emak saya tetapi doktor terbabit enggan memberitahu. Saya melihat, motifnya ialah supaya saya tidak ke farmasi untuk membeli sendiri ubat tersebut.

Inilah bahananya apabila sistem di Malaysia membenarkan doktor merawat dan membuat diagnosis di klinik serta menjual sendiri ubat sedangkan farmasi adalah disiplin ilmu yang berlainan. Malah di sana akan berlaku pelbagai conflict of interest kerana doktor sepatutnya memberi ubat yang paling berkesan dan murah, dan bukannya yang menjanjikan komisen dari syarikat pengeluar ubat terbabit.

Geram sungguh saya dengan respond klinik tersebut. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk membawa emak ke sebuah saya dirujuk ke klinik ENT (Ear, Nose and Throat). Pelbagai ujian beserta CT Scan dan MRI diadakan. Wang sudah keluar beribu ringgit dan akhirnya kami tiba ke suatu konklusi iaitu emak saya mengalami sejenis penyakit yang disebut sebagai chronic suppurative otitis media (CSOM) iaitu jangkitan bakteria yang kronik di telinga tengah. Ia telah menyebabkan struktur telinga emak rosak, di samping lapisan tempurung kepala yang turut terjejas. Jangkitan juga telah merebak ke pelbagai struktur nerve dan ia telah menyebabkan lidah emak menjadi agak senget. Apa yang pasti, telinga kanan emak sudah tidak boleh mendengar lagi.

Saya berasa sangat sedih. Kes emak telah dirujuk ke bahagian neurology dan akhirnya doktor pakar terbabit telah mencadangkan agar emak saya menjalani pembedahan kepala yang disebut sebagai craniectomy dengan belanja RM9 ribu.

Oleh kerana emak sudah tidak berdaya menanggung sakit, beliau dengan berat hati menyatakan persetujuannya untuk menjalani pembedahan tersebut. Akan tetapi, saya bertekad untuk mendapatkan pandangan kedua di dalam hal ini. Syukur Alhamdulillah, isteri saya seorang doktor dan kami pula hidup bertahun-tahun di dalam masyarakat perubatan di Ireland. Ramai kawan yang kini sudah menjadi doktor pakar dan mereka memberikan pelbagai pendapat.

Melalui beberapa orang rakan, saya membawa emak ke sebuah hospital universiti di Kuala Lumpur. Emak dirujuk ke bahagian ENT. Namun, hasil bacaan mereka kepada imej CT Scan dan MRI, mereka menjadi keliru. Tambahan pula emak saya tidak demam dan tidak berasa sakit, kecuali ketika diserang pening kepala tersebut sahaja. Akhirnya doktor pakar dari pelbagai jabatan berkumpul dan mengadakan mesyuarat.

Mereka sampai kepada keputusan bahawa emak saya tidak perlu menjalani pembedahan craniectomy yang berisiko tinggi itu. Cukup sekadar rawatan intensif antibiotic infusion (drip) selama kira-kira 6 minggu. Emak saya perlu menerima antibiotik CIPROBAY® (ciprofloxacin) selama sekurang-kurangnya 6 minggu. Syukur Alhamdulillah pembedahan tersebut dapat dielakkan.

Maka pada bulan Ramadhan itu, yang merupakan Ramadhan pertama saya di Malaysia selepas 11 tahun merantau di luar negara, saya berulang Ipoh ke KL hampir tiga kali seminggu. Ketika itu isteri saya pula baru sahaja melahirkan anak kami yang kedua dan saya sentiasa berada di dalam keadaan tersepit antara isteri dan anak-anak di Ipoh dengan emak yang sedang terlantar di hospital berkenaan di KL.

Sepanjang berada di hospital tersebut, pelbagai insiden berlaku. Saya diberitahu oleh pihak hospital bahawa emak saya perlu menjalani Gallium Scan iaitu prosedur imbasan yang dilakukan dengan cara memasuk sejenis bahan radioaktif Gallium ke dalam tubuh emak saya. Tujuannya adalah untuk mengukur tahap keberkesanan antibiotik tersebut. Namun, stok Gallium di Jabatan Perubatan Nuklear sudah habis dan ia perlu dipesan dari England. Emak dikehendaki membayar pesanan tersebut yang mencecah hampir RM2000.

Abang saya cuba bertanya kepada jururawat tentang Gallium Scan tersebut. Sekadar ingin mengetahui komplikasinya. Tetapi jururawat telah membalas soalan abang saya dengan sindiran yang cukup menyinggung perasaan. Ketika doktor membuat ward round, jururawat terbabit berkata, “hah, inilah dia orangnya doktor. Tanya ini, tanya itu. Doktor cubalah terangkan kepada dia.” Biadap sungguh jururawat tersebut yang memuncungkan bibirnya sambil jari menunding ke arah muka abang saya.

Saya juga berasa amat terkilan kerana beberapa pagi dalam seminggu, doktor pakar runding (consultant) akan datang ke katil emak saya bersama pelajar-pelajarnya. Mereka bercakap di dalam Bahasa Inggeris sehingga meresahkan ibu saya. Good Morning tiada, salam jauh sekali. Tiba-tiba sahaja consultant tersebut berkata, “makcik, jelirkan lidah!”. Pelajar-pelajar tersebut akan membelek-belek lidah emak saya sambil mendengar penjelasan doktor.

Saya tidak dapat membayangkan betapa hinanya emak saya diperlakukan sedemikan rupa. Setaraf tikus putih di makmal sahaja gayanya. Semasa saya dirawat di hospital di Ireland, setiap kali doktor atau jururawat datang ke katil saya, mulut mereka begitu manis dan ringan untuk mengucapkan kata-kata yang mempamerkan nilai kemanusiaan dalam diri mereka. Apalah salahnya jika diminta izin terlebih dahulu dan selepas pemeriksaan selesai, ucapkan terima kasih kepada emak saya kerana mahu bekerjsama.

Memanglah emak saya hanya orang kampung, tetapi ia bukan alasan untuk doktor tersebut berlaku biadap. Apatah lagi di hadapan pelajarnya. Secara tidak langsung dia mengajar etika negatif itu kepada anak-anak muridnya dan tunggu sahaja 10 tahun dari sekarang, pelajar tersebut akan meneruskan tradisi buruk itu selepas bergelar doktor.

Tidak cukup dengan itu, tragedi bersiri terhadap sikap petugas hospital kepada emak berlarutan di Jabatan Radiologi. Oleh kerana tangan emak saya sudah bengkak-bengkak dan tidak lagi mampu menerima antibiotic infusion (drip), maka emak saya dikehendaki menjalani suatu prosedur ringkas angioplasty untuk menanam satu tiub di dalam lengan emak saya. Tiub ini akan digunakan untuk memasukkan antibiotik kerana emak saya akan menjalani rawatan tersebut untuk tempoh 3 minggu lagi.

Saya bergegas datang dari Ipoh sebelum subuh lagi, kerana emak saya dijadualkan untuk menjalani rawatan tersebut pada jam 8:30 pagi. Setibanya di hospital, saya menyorong emak ke Jabatan Radiologi dan kami menunggu giliran di kerusi yang disediakan. Saya menjenguk senarai nama pesakit di bilik rawatan tersebut. Nampaknya hanya ada tiga orang pesakit yang akan menjalani prosedur angioplasty dan emak saya di giliran yang kedua.

09:30…

10:30…

11:30…

Wah, selepas tiga jam menunggu, tiada sebarang khabar berita. Emak saya sudah mula pening kerana keletihan duduk di atas kerusi roda. Saya mula panas hati dan menjenguk ke kaunter.

“Assalamualaikum nurse. Emak saya dah berada di sini sejak jam 8:15 pagi dan sekarang sudah hampir 12 tengah hari. Apa yang berlaku?”, saya cuba mendapatkan penjelasan.

“Encik duduk dulu, nanti saya periksa apa yang berlaku”, jawab jururawat tersebut.

Selepas 15 minit, tiada sebarang respond yang saya terima. Emak sudah agak lesu dan seperti mahu rebah. Tambahan pula dengan cuaca yang agak panas ketika itu.

Akhirnya saya pergi ke pintu masuk bilik pentadbiran jabatan dan mengintai-intai kalau ada sesiapa yang boleh saya ajukan soalan. Tiba-tiba seorang lelaki mengarahkan seorang jururawat menutup pintu di hadapan batang hidung saya. Hati saya sudah tengah hari, panas membakar seperti mahu merentungkan sesuatu.

Saya menahan pintu itu dari ditutup dan meminta izin untuk berjumpa dengan doktor di dalam. Alhamdulillah jururawat tersebut bersetuju membawa saya berjumpa dengan doktor tersebut. Baru sahaja saya mahu membuka mulut bertanya, saya diserang oleh doktor tersebut dengan bahasa yang kasar.

“Eh, awak ingat kerja doktor ni senang ke? Awak tak nampak ke saya tengah buat prosedur ni? Ini kes kecemasan, kalau tidak dilakukan sekarang, tangan pesakit ni mungkin terpaksa dipotong!”, dia menengking saya sambil menunjukkan imej tangan seorang pesakit yang sedang berada di dalam bilik pembedahan.

“Itu saya faham, doktor. Kerja doktor memang susah. Isteri saya pun doktor juga. Saya tahu kesusahan dia. Tapi…”. Belum pun sempat saya menghabiskan ayat itu, doktor tadi menyambung lagi herdikannya kepada saya.

“Hah, baguslah kalau begitu. Tahu pun. Habis tu kenapa awak tak boleh duduk diam di luar tu. Kerja doktor ni bukannya kerja bank, faham???”, tegasnya dengan bahasa dan muka yang angkuh.

Saya sudah hilang sabar.

Hey, you listen to me. Yes, me and my mom are not doctors, neither nurses and not even medical students. But that does not make me and my mom stupid like some kind of a kampung stuff. Awak tu doktor, berurusan dengan manusia. Bukannya pegawai bank. Kalau kerja bank tak apa. Awak nak biadap ke, nak kurang ajar ke, urusan awak adalah dengan mesin duit dan kertas. Tapi awak doktor. Awak berurusan dengan manusia. Emak saya tu manusia, bukannya tunggul…”

“Saya cuma nak tahu, apa yang berlaku? Emak saya sudah lebih 4 jam menunggu di luar sana. At least hantarlah seorang nurse untuk beritahu kami kalau awak ada emergency. Kami bukannya bangang sangat sampai tak boleh faham explaination nurse awak!”, muka saya sudah merah padam.

Doktor tersebut seperti agak terkejut. Mungkin jarang-jarang sekali dia diherdik. Maklum sahaja, sudah jadi doktor pakar. Tahu serba serbi. Hingga rasa orang lain semua di bawah hidungnya.

Saya berasa sedikit menyesal kerana itu bukan sikap biasa saya. Tetapi apabila doktor tersebut menghina saya begitu sekali, saya kira mempertahankan maruah diri adalah bukan perkara kecil.

10 minit selepas itu, emak dibawa masuk ke bilik rawatan. Selepas lebih 4 jam menunggu, prosedur yang dinanti-nanti memakan masa 10 minit sahaja dan emak keluar dengan wajah yang terpinga-pinga.

“Kenapa emak?”, saya bertanya.

“Entahlah, doktor tu kata dia nak tukar kerja di bank pula selepas ni”, jawab emak.

Saya hanya tersenyum sendirian. Kelucuan statement doktor itu kepada emak saya masih belum dapat meredakan kemarahan saya terhadap peristiwa hari tu.

Banyak lagi peristiwa yang berlaku selama 6 minggu emak berada di hospital tersebut. Saya berpesan kepada isteri saya, “kalau sayang tidak boleh menjadi doktor yang pakar dalam klinikal, saya tidak bersedih, tetapi peliharalah budi bahasa  semasa berurusan dengan pesakit ketika di hospital nanti. Kerja ini ibadah.”

Saya cuba membayangkan, seandainya isteri saya bukan doktor, seandainya kawan-kawan saya bukan doktor, bagaimanakah nasib emak saya? Bagaimana nasib ribuan malah jutaan anggota masyarakat yang tidak mengenali sebarang doktor dalam hidup mereka?

Syukur, Jumaat baru-baru ini saya berpeluang untuk menyampaikan kuliah motivasi kepada kakitangan wad kecemasan di Hospital UKM termasuklah isteri saya. Peluang ini akan saya gunakan untuk berkongsi pandangan tentang permasalahan yang membelenggu kita semua iaitu MASALAH SIKAP!

PENGAJARAN

Semasa kuliah motivasi tersebut, saya diajukan dengan satu soalan yang menarik.

Mengapakah masyarakat Barat yang rata-rata tidak bertuhan, mempunyai etika kerja yang baik? Mereka berhemah dengan pesakit, mereka bersikap profesional di dalam kerjaya. Sedangkan kita di Malaysia tidak begitu. Walhal kita beragama Islam. Maka jika begitu keadaannya, mengapa perlu untuk kita kembali kepada Islam untuk meningkatkan prestasi kerja?

Soalan ini penting untuk dijawab secara jujur oleh kita semua. Untuk cemerlang di dalam pekerjaan, sesiapa sahaja yang mengkaji akan bersetuju bahawa kuncinya ialah pada SIKAP. Kita mesti membina PR, skill interpersonal, kemahiran berkomunikasi dan lain-lain etika kerja yang positif. Masyarakat Barat telah menyedari akan hal ini lantas mereka memupuknya secara terpeinci. Jika di Amerika Syarikat, pendekatan 7 Habits oleh Covey, diajar di peringkat sekolah. Mereka diajar supaya profesional dalam pekerjaan. Akhirnya mereka boleh menjadi seorang doktor yang cemerlang di hospital, tetapi bukanlah suami atau isteri yang baik di rumah. Dia boleh mengendalikan sebuah syarikat yang mempunyai 500 pekerja tetapi gagal menguruskan seorang isteri dan dua anak di rumah. Seorang pramugari boleh memberikan senyuman yang paling manis kepada penumpang sebuah kapal terbang, tetapi mungkin masam mencuka setiap kali pulang kepada keluarga. Maka akhirnya, jika dinilai pada kualiti kerja, mereka berjaya walaupun tanpa AGAMA.

Akan tetapi bagaimana dengan kita umat Islam? Kita mengambil agama hanya sebagai ritual dan bersangkutan dengan hukum hakam semata-mata. Kita tidak lihat agama sebagai pembentuk sikap. Seumpama seorang yang belajar hadith, sibuk menghabiskan masa menentukan kesahihan hadith tetapi tidak memikirkan bagaimana caranya isi hadith tersebut patut diamalkan. Kita belajar tentang Solat dari segi syarat sah, wajib dan sunatnya, tetapi kita tidak peduli tentang bagaimana Solat boleh membentuk sikap positif dalam kehidupan. Apabila bercakap tentang akhlak, kita fokus kepada faedah ikhlas, sabar dan tawakal tetapi kita tidak perhaluskan teknik menanam keikhlasan, kesabaran dan tawakal itu. Agama kita menjadi pengetahuan semata-mata, pengetahuan yang memberiTAHU. Bagaimana dengan soal MAHU? Apatah lagi MAMPU? Maka akhirnya, kita mahir tentang hukum hakam tetapi akhlak kita buruk. Apabila saya sebut akhlak buruk, saya tidak merujuk kepada perbuatan mengumpat, mengkhianati majikan, curi tulang atau gangguan seksual di tempat kerja semata-mata. Malah akhlak yang buruk itu ialah pada kegagalan interpersonal skill kita, kecelaan budi bahasa, perbuatan memandang rendah orang lain, buat kerja sambil lewa dan sebagainya.

Akhirnya kita celik HUKUM tetapi buta SIKAP.

Masyarakat Barat tak peduli hukum. Walaupun mereka boleh cemerlang di dalam kerja, tetapi kehidupan mereka binasa oleh arak dan zina. Kecerdikan mereka hilang dan berubah menjadi binatang apabila alkohol dijamah. Mereka sudah tidak pedulikan dosa pahala, lantas gereja menjadikan dosa sebagai bisnes melalui pengampunan dosa yang ditawarkan. Saya rasa kita boleh bersetuju yang masyarakat Barat hari ini sedang duduk di dalam sebuah rumah yang dimakan anai-anai pada tiang-tiang serinya. Institusi keluarga musnah, 2004 melihat lebih 50% anak yang lahir di Britain, tanpa bapa. Mereka lebih selesa bersekedudukan tanpa perkahwinan kerana mendapat faedah potongan cukai dan lain-lain yang tetap sama dengan pasangan yang berkahwin. Walhal, jika bergaduh, proses cerai adalah amat sukar dan menelan belanja ribuan Pound.

Tetapi saya bimbang dengan trend terkini masyarakat kita, iaitu: HUKUM PUN TAK TENTU HALA, SIKAP PUN ENTAH APA-APA!

Adakah sesiapa yang mempedulikannya?hospital pakar swasta. Di situ, emak



Kalau dahulu

Kalau dahulu,

ternyala api cinta itu,

Kalau dahulu,

terikat hati itu,

Kalau dahulu,

tertebar kasih itu,

Kalau dahulu,

Terlafaz cinta itu dalam doamu

Sudah tentu,

Alhambra tidak menjadi sejarah pilu,

Sudah tentu,

Palestin terpandu

Sudah tentu,

Tiada lagi tangisan sikecil itu,

Dek takut akan bunyi letupan gerun peluru berpandu,

Tiada lagi tangisan si Ibu terkedu,

Sudah tentu,

Kota iraq bersinar bahagia,

Sudah tentu,

Sudah tentu,

Sudah tentu,

Dunia ini Islam yang pandu?

untuk mujahidah

Cinta

Demi Allah Yang Maha Esa,

Sesungguhnya tidak disediakan jalan yang mudah,

Untuk menuju cinta-Mu

Menitis air mata tatkala merindu,

Menitis air mata tatkala merasa semakin menjauh,

Tetapi janji Allah tetap segar dan Mekar,