CINTAILAH BAHASA AL-QURAN. AMANAT PM : WA’AD DAN BAI’AH.

Bersama Prof. Dr. Wahbah Zuhaili ketika mengambil ijazah Kitab Fiqh Islami Wa adilatuh.
IMG_0477

Malam ini berita TV3 telah menyiarkan ucapan Datuk Najib di Putrajaya. Perdana Menteri baru ini telah membuat perubahan melalui pertadbirannya dengan menerapkan konsep Al-waad dan Bai’ah. Betapa gembira aku bila PM baru ini telah menunjukkan minatnya kepada Bahasa Arab iaitu Bahasa Al-Quran. Amat indah jika Datuk Najib meneruskan pertadbirannya dengan menggunakan istilah Bahasa Arab sebagai tema yang menunjukkan pertadbiran barunya mencintai bahasa Al-Quran. Jika pada zaman Tun Mahathir, banyak menerapkan Bahasa Inglish didalam mata pelajaran matematik dan sains. Inilah masanya PM baru membuat tranformasi pertadbirannya. Jika Tun Abdullah telah melaksanakan pengajian J-Qaf kepada pelajar peringkat rendah, maka seharusnya Datuk Najib meneruskan pengajian J-Qaf peringkat menengah dan pengajian tinggi.

Kita sedar, generasi sekarang adalah generasi yang buta Al-Quran dan Agama. Kewajipan PM baru menyelesaikan masalah ini bagi mengubah generasi ini menjadi generasi Al-Quran yang unik sebagaimana yang telah dinyatakan oleh pengarang Kitab Fi zilallul Quran iaitu As-Syahid Syed Qutub didalam karangannya yang bernama Ma’lim Fi thariq didalam bab ‘jiillul Quranul Farid’. Bahasa Arab adalah bahasa Agama, jika ada individu yang bercakap tentang Agama tetapi tidak Arif dan menguasai Bahasa Arab, kita boleh meragui apa yang di ucapkannya, kerana penguasaan Bahasa Arab adalah satu elemen yang penting didalam menguasai ilmu Agama. Bahasa Arab juga adalah bahasa yang paling unik didunia ini. Setiap muslim seharusnya menguasai Bahasa Arab, sekurang-kurangnya mengetahui makna dan pengertian bacaan didalam solat.

Bayangkan jika seorang biasa yang mendapat surat daripada YDP Agung, macam mana perasaan dia pada waktu itu? Mesti berdebar kan? Bila surat itu dibuka, maka dia baca surat itu tetapi dia tidak faham kerana bahasa yang digunakan itu bukannya bahasa Melayu yang dia fahami, apa yang dia lakukan? Dia akan cuba sedaya upaya untuk faham surat itu dengan cara mencari orang yang dapat terjemahkan pada dia, walaupun jarak orang yang mampu terjemahkan surat itu didalam Bahasa Melayu berjarak 100 KM sekalipun. Ini kerana pentingnya surat itu didalam hidupya, surat itu bukan surat biasa, ia dari YDP Agung, amat penting untuk memahami apakah isi yang terkandung didalam surat YDP Agung itu. Begitu jugalah jika kita sentiasa menunaikan solat 5 waktu sehari semalam tetapi kita tak pernah nak memahami apa yang kita lafazkan pada Allah didalam solat kita. Ketika kita membaca Al-Quran setiap hari tetapi tak pernah pun untuk memahami apakah isi yang terkandung didalam Al-Quran, sedangkan Al-Quran itu adalah surat daripada Allah kepada manusia, didalam itu mempunyai pelbagai panduan hidup dunia dan akhirat. Tetapi tak ramai manusia mencari guru-guru dan ustaz-ustaz yang faham mengenai isi kandungan Al-Quran untuk belajar mengenai isi kandungan Al-Quran. Inilah satu kepelikan yang berlaku didalam masyarakat kita. Sedangkan surat Allah lebih penting dan utama daripada segala surat-surat Raja-raja didunia ini.

Sama-samalah kita mempelajari Bahasa Arab bagi mengetahui isi kandungan sebenar Surat yang diutuskan oleh Allah kepada manusia. Semoga pertadbiran PM baru ini akan merancang dan melaksanakan satu ‘Education Plan’ dan Program seumpama J-Qaf didalam merealisasikan ‘Generasi Al-Quran Yang Unik’.

Jom kita berkenalan dengan Al-Quran serta memahami isi kandungannya secara ringkas.

Apakah Anda menyadari keindahan-keindahan yang dipaparkan Al-Qur`an? Apakah Anda mempelajari fakta-fakta yang tertera dalam Al-Qur`an yang Allah turunkan kepada Anda sebagai pedoman hidup?

Al-Qur`an menjelaskan kepada kita tentang latar belakang kehadiran umat manusia di muka bumi dan bagaimana seharusnya mereka hidup, sehingga kehidupan itu sesuai dengan maksud penciptaan tersebut. Al-Qur`an menjelaskan kewajiban kita kepada Allah dan bagaimana kita akan diberi pahala sesuai dengan amal perbuatan kita. Al-Qur`an-Kitab yang Allah turunkan kepada hamba-hamba-Nya yang mengabdi dengan kasih sayang-menyeru kita pada keindahan, kebenaran, kesucian, dan kebahagiaan abadi. Kualitas kesempurnaan Al-Qur`an ini terdapat dalam banyak ayat,

“Sesungguhnya, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang berakal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (Yusuf [12]: 111)

“Kitab (Al-Qur`an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (al-Baqarah [2]: 2)

Al-Qur`an adalah kitab yang ditujukan kepada manusia di segala usia, sebuah kitab yang berisi semua subjek dasar yang dibutuhkan setiap orang sepanjang hidup mereka, lelaki atau perempuan. Bentuk-bentuk ibadah, pola pikir unik bagi setiap muslim, akhlaq terpuji, perilaku mulia yang harus tampak di wajah saat menghadapi setiap kejadian tak terduga atau pada saat-saat menghadapi kesulitan, pola hidup yang membimbing jiwa dan raga demi hidup sehat, peristiwa kematian, peristiwa di saat roh melalui hari perhitungan, lalu surga dan neraka menanti semua manusia, semua termaktub dalam kitab ini.

Sebagai sumber yang khas bagi semua jawaban dan penjelasan yang mungkin orang pertanyakan tentang keselamatan abadi, Al-Qur`an juga mengandung banyak isyarat dan peringatan penting bagi kehidupan manusia. Allah mengaitkan ciri Al-Qur`an ini dalam ayat,

“… Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur`an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl [16]: 89)

Sebaliknya, hanya mereka yang berimanlah yang hidup sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur`an. Karena itu, Al-Qur`an membimbing mereka dalam cahaya tuntunannya.

Allah menciptakan manusia dan menyampaikan-melalui Al-Qur`an-jalan keluar paling tepat serta semua bentuk informasi yang dibutuhkan untuk menjalani hidup dalam kebaikan kepada semua orang. Karena itu, bila menghadapi kesulitan, sungguh penting bagi mereka yang beriman untuk merujuk pada ayat-ayatnya dan penerapan atas tinjauannya. Tak soal apa latar belakang intelektualitas yang dimiliki seseorang, pengetahuannya tetap saja terbatas, sebab hanya Allah satu-satunya yang melebihi semua makhluk. Manusia dapat meraih ilmu pengetahuan hanya dengan perkenan dan kehendak Sang Maha Pencipta.

“Mereka menjawab, ‘Mahasuci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.'” (al-Baqarah [2]: 32)

Dengan mengacu pada ayat-ayat ini, mereka yang ingin menelusuri satu kehidupan nan indah di dunia hendaklah melekatkan diri pada prinsip-prinsip Al-Qur`an. Dengan berbuat demikian, mereka akan meraih “kearifan”, satu kualitas yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang senantiasa ingat dan takut kepada Allah. Kearifan (kebijaksanaan) inilah yang memungkinkan mereka memperoleh kehidupan paling terhormat, merasakan bahagia dan damai, dan-yang paling penting-meraih tujuan mulia atas keberadaan mereka di bumi. Yang harus mereka lakukan adalah berserah diri kepada Allah dan Al-Qur`an; menekuni dan meneliti perintah-perintah dan nasihatnya, mencermati maksudnya, dan mengamalkannya.

Buku ini merupakan hasil renungan atas makna-makna yang terangkum dalam Al-Qur`an dan keindahan yang disajikan ke dalam kehidupan manusia. Ia hendak membantu para pembaca yang menekuni Al-Qur`an, sehingga mereka dapat meraih kehidupan yang sesungguhnya, yang sesuai dengan makna-makna hakiki yang terkandung dalam ajaran-ajaran itu.

Sifat Yang Terpuji Menurut Al-Quran

Di dalam Al-Qur`an, Allah memaparkan dengan rinci tentang sifat, moralitas tertinggi, dan pola pikir khas orang-orang beriman. Perasaan takut kepada Allah yang menghunjam di dalam kalbu mereka, keyakinan mereka yang tak tertandingi dan upaya yang tak pernah goyah untuk mendapatkan ridha-Nya, kepercayaan yang mereka gantungkan kepada Allah, seperti juga keterikatan, keteguhan, ketergantungan, dan banyak lagi kualitas superior serupa, semuanya disuguhkan Al-Qur`an. Lebih jauh, di dalam Kitab-Nya, Allah menyanjung kualitas-kualitas moral semacam itu, seperti keadilan, kasih sayang, rendah hati, sederhana, keteguhan hati, penyerahan diri secara total kepada-Nya, serta menghindari ucapan tak berguna.

Seiring dengan penyajian rinci tentang orang beriman model ini, Al-Qur`an juga bertutur mengenai kehidupan orang-orang beriman pada masa dahulu dan bercerita kepada kita bagaimana mereka berdo’a, berperilaku, berbicara, baik di kalangan mereka sendiri maupun dengan orang-orang lain di luar mereka, dan dalam menanggapi berbagai peristiwa. Melalui perumpamaan ini, Allah menarik perhatian kita kepada sikap dan perbuatan yang disenangi-Nya.

Titik pandang sebuah masyarakat yang jauh dari moralitas Al-Qur`an (masyarakat jahiliyah) terhadap tingkah laku yang secara sosial bisa diterima bisa saja berubah, sesuai dengan tahapan waktu, suasana, budaya, peristiwa-peristiwa, dan manusianya sendiri. Akan tetapi, perilaku dari mereka yang kokoh berpegang pada ketetapan hukum Al-Qur`an tetap tak tergoyahkan oleh adanya perubahan kondisi, waktu, dan tempat. Seseorang yang beriman senantiasa tunduk-patuh kepada perintah dan peringatan Al-Qur`an. Karena itulah, ia mencerminkan akhlaq terpuji.

Pada bagian ini, akan kami perlihatkan sejumlah contoh perilaku yang layak mendapat penghargaan sesuai penilaian Allah. Akan tetapi, kami tidak menguraikan semua kualitas perilaku terpuji dari orang-orang beriman yang secara panjang lebar telah terteradalam Al-Qur`an. Kami hanya memfokuskan perhatian pada moralitas terpuji yang masih terselubung dengan segala keagungan-keagungannya yang terpendam.

Konsep Kesucian

Allah menyeru orang-orang beriman supaya membersihkan (menyucikan) diri mereka, yang sesuai dengan fitrah jiwa mereka dan sunnah alam. Kesucian dianggap sebagai satu bentuk lain dari ibadah orang beriman dan, dengan begitu, merupakan satu sumber kelapangan dan kesenangan yang besar bagi mereka sendiri. Di dalam banyak ayat, Allah memerintahkan orang beriman agar memperhatikan kesucian jiwa dan raga. Nabi kita saw. juga menekankan pentingnya memelihara kesucian,

“Kebersihan adalah sebagian dari iman.” (HR Muslim)

Di bawah ini ada sejumlah rincian berkaitan dengan kebersihan.

1. Kesucian Jiwa

Pengertian qur`ani tentang kesucian berbeda makna dengan yang dipahami oleh masyarakat awam. Menurut Al-Qur`an, suci adalah keadaan yang dialami dalam jiwa seseorang. Demikianlah, kesucian berarti seseorang telah sama sekali membersihkan dirinya dan nilai-nilai moral masyarakatnya, bentuk pola pikirnya, dan gaya hidup yang bertentangan dengan Al-Qur`an. Dalam hal ini, Al-Qur`an menganugerahkan ketenangan jiwa kepada orang-orang beriman.

Tahap awal dari keadaan suci ini berwujud dalam pemikiran. Tak diragukan lagi, ini merupakan satu kualitas terpenting. Kesucian jiwa yang dialami manusia tersebut akan terpancar dalam segala aspek kehidupan. Dengan demikian, moral terpuji orang tersebut akan nyata bagi siapa saja.

Manusia yang berjiwa suci akan menjauhkan pikirannya dari segala bentuk kebatilan. Mereka tidak pernah berniat menyakiti, cemburu, kejam, dan mementingkan diri sendiri, yang semuanya merupakan perasaan tercela yang diserap dan ditampilkan oleh orang-orang yang jauh dari konsep moral Al-Qur`an. Orang-orang beriman memiliki jiwa kesatria, karena mereka merindukan moral terpuji. Inilah sebabnya, terlepas dari penampilan ragawi, orang-orang beriman pun menaruh perhatian besar pada penyucian jiwa mereka-dengan cara menjauhi semua keburukan yang muncul dari kelalaian-dan mengajak orang lain untuk mengikuti hal yang serupa.

2. Kesucian Ragawi

Di dunia ini, orang-orang beriman berupaya membina suatu lingkungan yang mirip dengan surga. Di dunia ini, mereka ingin menikmati segala sesuatu yang akan Allah anugerahkan kepada mereka di surga. Sebagaimana kita pahami dari Al-Qur`an, kesucian ragawi merupakan salah satu dari kualitas-kualitas yang dimiliki manusia surga. Ayat yang berbunyi, “… anak anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan,” (ath-Thuur [52]: 24) sudah otomatis menjelaskan hal itu. Sebagai tambahan, Allah menginformasikan kepada kita dalam banyak ayat lainnya, bahwa di surga tersedia, “pasangan-pasangan hidup yang senantiasa suci sempurna.” (al-Baqarah [2]: 25)

Di ayat lain, Allah menekankan perhatian pada kesucian raga adalah yang merujuk pada Nabi Yahya a.s., “Kami anugerahkan kepadanya… kesucian dari Kami.” (Maryam [19]: 12-13)

3. Pakaian yang Bersih

Al-Qur`an juga merujuk pada pentingnya pakaian bersih, seperti dalam ayat, “Dan pakaianmu sucikanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah.” (al-Muddatstsir [74]: 4-5)

Lebih jauh, kebersihan ragawi adalah hal yang penting, sebab hal ini menunjukkan penghargaan seseorang kepada orang lain. Sesungguhnya, penghormatan pada orang lain mensyaratkan pemeliharaan tampilan fisik seseorang. Orang-orang beriman bukan sekadar menghindari kotoran, tapi juga memberikan kesan rapi yang tak mencolok yang memperjelas besarnya rasa hormat mereka kepada orang lain. Salah satu cara untuk menunjukkan rasa hormat adalah memakai pakaian bersih. Melalui Al-Qur`an, Allah memerintahkan kepada kita,

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah setiap (memasuki) masjid….” (al-A’raaf [7]: 31)

Dalam pemahaman ini, menjaga kebersihan raga dan kerapian serta mengupayakan yang terbaik dalam berbagai hal, merupakan kualitas yang disenangi Allah. Kualitas-kualitas semacam ini tidak diutamakan oleh orang-orang yang bodoh. Nabi kita saw. juga mempertegas pengesahan Allah akan kualitas-kualitas seperti itu, sebagaimana disebutkan dalam hadits,

“Seseorang bertanya, ‘Bagaimana tentang seseorang yang suka mengenakan pakaian dan sepatu yang indah-indah?’ Rasulullah menjawab, ‘Semua ciptaan Allah adalah indah dan Dia menyukai keindahan.'” (HR Muslim)

Kita harus memperhatikan hal berikut ini. Umumnya, setiap orang cenderung untuk berupaya sebaik mungkin memberikan kesan terhadap sesuatu yang mereka anggap penting pada setiap pertemuan dengan orang lain. Demikian halnya orang beriman, sesuai moralitas yang dikehendaki Al-Qur`an, mereka tampak sangat mementingkan kerapian dengan segenap ketelitiannya dengan tujuan untuk menyenangkan Allah.

Orang beriman memang layak mendapatkan surga dan, di dunia ini, mereka terikat untuk selalu berupaya menjaga diri dan lingkungannya agar tetap bersih, sehingga mereka bisa mendapatkan kesucian dan keindahan surga di dunia ini.

4. Memelihara Kebersihan Lingkungan

Umat Islam sangat berhati-hati dalam menjaga lingkungan terdekat mereka agar tetap bersih. Satu contoh tentang itu disebutkan dalam surah al-Hajj. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim a.s. untuk memelihara Ka’bah agar tetap bersih untuk orang-orang beriman yang berdo’a di sekitar tempat itu,

“Dan (ingatlah) ketika Kami memberikan tempat kepada Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu menyekutukan sesuatu pun dengan Aku dan sucikanlah rumah-Ku ini bagi orang-orang yang thawaf, dan orang-orang yang beribadah dan orang-orang yang ruku dan sujud.'” (al-Hajj [22]: 26)

Sebagaimana dikehendaki ayat tersebut, kebersihan lingkungan tempat suci yang sejenis (mushala, masjid, majelis taklim, Ed.) harus dipelihara, terutama sekali bagi orang-orang beriman lainnya yang hendak menunaikan ibadah untuk mendapatkan ridha Allah. Karena itu, semua orang beriman yang mengikuti langkah Ibrahim a.s. harus menjaga tempat tinggal mereka agar tetap bersih dan rapi, sebab hal itu dapat menyenangkan hati mereka.

Konsep qur`ani tentang kebersihan jelas berbeda dengan pemahaman orang-orang yang tidak beriman. Allah memerintahkan orang-orang beriman supaya “bersih dan suci” baik lahir maupun batin. Dengan kata lain, hal ini bukanlah bersih dalam pengertian klasik atau kuno, melainkan sebuah upaya berkesinambungan.

Menurut kaidah ini, penggambaran Al-Qur`an tentang kehidupan di surga juga bersifat perintah. Lingkungan surga sudah dibersihkan dari segala bentuk kotoran yang dapat kita lihat di sekitar kita. Surga adalah sebuah tempat yang penuh dengan kebahagiaan, dengan kebersihan yang sempurna. Tiap detail yang terwujud di sana berada dalam keserasian yang sempurna dengan setiap detail lainnya. Dalam cahaya ilustrasi seperti ini, insan beriman senantiasa harus berupaya menjaga lingkungan mereka agar bersih dan mengalihkan kenangan mereka pada tempat-tempat yang mengingatkan mereka kepada surga.

5. Memakan Makanan yang Bersih

Mengonsumsi pangan bersih adalah satu perintah Ilahiah yang harus selalu ada dalam kalbu semua makhluk beriman,

“Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, melainkan mereka menganiaya diri mereka sendiri.” (al-Baqarah [2]: 57)

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dan apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah [2]: 168)

Sebagai tambahan, Allah memasukkan dalam hitungan kelompok As-habul Kahfi untuk menunjukkan bahwa orang-orang beriman cenderung kepada makanan bersih. Sebagaimana dapat kita baca,

“…Seorang di antara mereka berkata, ‘Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lama kamu sudah berada di sini. Utuslah salah seorang dari kamu ke kota dengan uang perakmu ini, agar dia bisa melihat makanan mana yang lebih baik, dan membawakan makanan itu untukmu….” (al-Kahfi [18]: 19)

Kita akan kembali ke topik ini pada bab lain dalam judul, “Makanan Bermanfaat yang Disebut di Dalam Al-Qur`an”.

Berlatih, Berenang, dan Air Minum

Perilaku lain yang disebutkan dalam Al-Qur`an tercantum di dalam ayat-ayat yang berkaitan dengan ungkapan Nabi Ayyub a.s.,

“Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Tuhannya, ‘Sesungguhnya, aku diganggu setan dengan kepayahan dan siksaan.'(Allah berfirman) ‘Hentakkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.'” (Shaad [38]: 41-42)

Dalam menanggapi keluhan kesulitan dan penderitaan, Allah menasihati Nabi Ayyub a.s. supaya “menghentakkan kaki”. Nasihat itu dapat dianggap satu pertanda yang berkenaan dengan manfaat kegiatan olahraga dan berlatih.

Berlatih, khususnya melatih otot-otot panjang seperti terdapat pada otot-otot kaki (sebagai contoh: gerakan-gerakan isometrik), melancarkan aliran darah dan, karena itu, meningkatkan volume oksigen untuk masuk ke sel-sel tubuh. Selain itu, berlatih mengurangi elemen-elemen racun dari tubuh yang dapat melenyapkan penat, memberikan rasa lega dan kesegaran,1 dan memberikan kemampuan pada tubuh untuk memperbesar resistensi terhadap mikroba. Latihan teratur juga menjaga urat-urat darah tetap bersih dan lebar, yang, dengan kondisi demikian, dapat mencegah: 1)penggumpalan pada urat-urat dan menurunkan risiko penyakit koroner arteri2 dan 2) mengurangi risiko diabetes dengan mempertahankan kadar gula darah pada taraf tertentu dan meningkatkan jumlah kolesterol yang aman di dalam liver.3 Di samping itu, menghentakkan kaki ke tanah merupakan cara paling efektif untuk 3) melepaskan arus listrik statis yang sudah menumpuk di dalam tubuh, yang kerap mengakibatkan badan kaku.

Sebagai tambahan, sebagaimana disebutkan ayat di atas, mandi diakui merupakan metode paling ampuh untuk menghilangkan kebekuan arus listrik di tubuh. Ia juga melenyapkan ketegangan dan kerumitan pikiran, serta membersihkan badan. Karena itu, mandi merupakan satu penyembuhan efektif untuk stres dan banyak ketidakteraturan (gangguan) fungsi fisik dan kejiwaan.

Ayat tadi juga menarik perhatian kita pada manfaat-manfaat tak terhingga dari air minum. Hampir setiap fungsi jaringan tubuh dipantau dan dikendalikan agar menyerap air secara efisien melalui jalur pendistribusian. Fungsi-fungsi dari banyak organ tubuh (misalnya otak, kelenjar peluh, perut, usus, ginjal, dan kulit) sangat bergantung pada kecukupan distribusi air. Memastikan bahwa tubuh mendapat jatah air yang cukup tidak saja membuat tubuh berfungsi lebih berdaya guna, bahkan mungkin menolong seseorang terhindar dari beragam masalah kesehatan. Peningkatan taraf konsumsi air telah terbukti membantu mengurangi berbagai keluhan sakit kepala (migren, kolesterol darah tinggi, sakit saluran rheumatoid penyebab rematik, dan tekanan darah tinggi. Sebagai tambahan pada beragam manfaat tersebut, air juga menghilangkan letih dan kantuk, sebab serapan air yang teratur dan mencukupi membantu menghilangkan anasir racun dari tubuh.

Menaati semua anjuran ini, yang semuanya penting dan vital bagi kesehatan raga dan mental kita, insya Allah akan membuahkan hasil terbaik.

Berjalan Kaki

Orang-orang congkak mengira sikap angkuh bisa menimbulkan rasa kagum manusia lain. Dan, dengan begitu, secara berlebih-lebihan, mereka memamerkan gaya berjalan, berbicara, dan memandang dengan penuh sikap sombong. Tanda-tanda arogansi semacam itu tampak nyata dari gaya berjalan seseorang.

Ayat-ayat yang merujuk kepada nasihat bijak Luqman kepada putra beliau mengungkapkan secara gamblang keangkuhan sikap dan penampilan seseorang,

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong), dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.” (Luqman [31]: 18)

Dalam ayat lain, orang-orang beriman dianjurkan untuk tidak berjalan dengan sikap angkuh,

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung.” (al-Israa` [17]: 37)

Dengan ayat-ayat ini, Allah memberitahukan kepada kita bahwa Dia tidak menyukai mereka yang sombong dan memperingatkan kita agar menjauhi sikap seperti itu. Kita harus senantiasa ingat bahwa kesombongan setan, yang tampak dari tuntutannya bahwa dia lebih tinggi dari makhluk-makhluk lainnya ciptaan Allah, yang menyebabkan dia tersingkir dari hadapan Allah. Orang beriman yang sadar akan keburukan kualitas-kualitas seperti ini tentu saja menjauhi semua itu.

Tak seorang pun yang senang berada di sekitar orang sombong. Siapa pula yang merasa nikmat berdampingan dengan orang-orang semacam itu? Umumnya setiap orang mengetahui bahwa orang-orang angkuh dan merasa diri lebih tinggi derajatnya, dalam kenyataannya, tak lebih dari manusia biasa yang penuh dengan beragam ketidaksempurnaan dan kelemahan-kelemahan. Akibatnya, orang sombong, meskipun menderita oleh keangkuhan dirinya sendiri, takkan pernah mencapai tujuan untuk menikmati prestise di kalangan manusia lain di sekitarnya dan sering tercekam dalam kehinaan.

Al-Qur`an juga menekankan perhatian kita kepada kenyataan bahwa orang-orang beriman harus memiliki sikap berjalan yang tidak berlebih-lebihan atau mengada-ada, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat, “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan….” (Luqman [31]: 19) Di dalam mematuhi perintah Allah, manusia yang sederhana akan berjalan dengan sikap sederhana, dan dengan demikian meraih kemuliaan dalam pandangan Allah dan orang-orang beriman seluruhnya.

Intonasi Suara

Tinggi-rendahnya (intonasi) suara adalah bagian penting dari ungkapan perasaan positif seseorang. Bagaimana seorang menggunakan intonasi mencerminkan kualitas orang bersangkutan. Bahkan, suara merdu sekalipun dapat menyakiti jika diartikulasikan dengan tidak sepatutnya. Allah menasihati hamba-hamba-Nya melalui ucapan Luqman,

“… lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya, seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman [31]: 19)

Seseorang yang bicara dalam suara keras atau menghardik orang lain tidak akan memberi kesan menyenangkan pada pihak lain. Di samping itu, pada kebanyakan kasus, hal seperti ini terasa tak tertahankan, seperti mendengarkan raungan keledai.

Dengan kata lain, cara orang bicara adalah hal yang penting. Suara orang yang sedang dirundung berang mungkin terdengar tak mengenakkan, meskipun suara lelaki atau perempuan itu, dalam suasana normal, mungkin terasa sedap ditelinga. Sebaliknya juga begitu, seseorang dengan lantunan suara tak sedap bisa saja terdengar lebih merdu kalau mengikuti nilai-nilai terpuji dari Al-Qur`an. Suara merdu, di pihak lain, mungkin saja terkesan menyerang dan tak tertahankan, jika orang itu angkuh dan berkesan menyakitkan. Karena suara orang tersebut, yang merupakan pantulan sifat negatif diri, baik lelaki atau perempuan, cenderung berkeluh kesah dan menghasut.

Sebagaimana halnya suara, mereka yang berakhlaq mulia selalu memiliki sifat rendah hati, santun, bersahaja, damai, dan konstruktif. Dengan sudut pandang positif dalam kehidupan, mereka selalu ceria, bersemangat, cerah, dan gembira. Sifat sempurna ini, yang timbul dari kehidupan dengan akhlaq perilaku seperti dijelaskan dalam Al-Qur`an, termanifestasikan dalam lantun suara seseorang.

Luhur Budi

Al-Qur`an menginformasikan kepada kita bahwa manusia beriman pada kenyataannya adalah orang-orang yang sangat bermurah hati. Akan tetapi, konsep Al-Qur`an tentang akhlaq mulia agak berbeda dari yang secara umum ditemukan dalam masyarakat. Manusia mewarisi sifat santun dari keluarga mereka atau menyerapnya dari lingkungan masyarakat sekitar. Akan tetepi, pengertian ini berbeda dari satu strata ke strata lain. Wujud keluhuran budi yang berlandaskan nilai-nilai qur`ani, walau bagaimanapun, melebihi dan di atas nilai dari pemahaman mana pun, karena ia tidak akan pernah berubah, baik oleh keadaan maupun manusia. Mereka yang menyerap unsur akhlaq mulia, sebagaimana pandangan Al-Qur`an, memandang setiap manusia sebagai hamba-hamba Allah, dan karena itu memperlakukan mereka dengan segala kebaikan, walaupun tabiat mereka mungkin saja tidak sempurna. Orang-orang semacam ini menjauhi penyimpangan dan tingkah laku yang tidak patut, teguh dalam pendirian, bahwa berketetapan dalam kebaikan mendatangkan kasih sayang Allah, sebagaimana ditandaskan dalam sebuah hadits,

“Allah itu baik dan menyukai kebaikan dalam segala hal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana ditunjukkan ayat berikut, Allah mendorong manusia supaya berbuat baik dan santun kepada orang lain,

“Dan ingatlah ketika Kami mengambil janji dari bani Israel, ‘Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil dari kalian, dan kamu selalu berpaling.” (al-Baqarah [2]:83)

Al-Qur`an menghendaki kebaikan kemutlakan. Dengan kata lain, manusia beriman tidak boleh berpaling dari perilaku baik, sekalipun kondisi lingkungannya tampak menginginkan keburukan dan ketidaksenangan. Kelemahan fisik, kehabisan tenaga, atau kesukaran tidak akan pernah menghalangi mereka dari keajekan mereka dalam kebaikan. Sementara itu, tak peduli mereka kaya atau miskin, menikmati kedudukan gemerlap atawa jadi orang dalam bui, manusia beriman memperlakukan setiap orang dengan baik, karena mereka sadar bahwa Nabi kita saw. menegaskan pentingnya tiap orang beriman untuk berbuat demikian, sebagaimana tersebut dalam hadits, “Manakala kebaikan ditambahkan pada sesuatu, itu akan memperindahnya; apabila kebaikan ditarik keluar dari sesuatu, itu akan meninggalkan cacat.”(HR Muslim). Moralitas agung ini diperkuat dalam ayat berikut, sebagaimana sudah diutarakan dalam bagian sebelumnya,

“… berbuat baiklah pada ibu bapak, kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan fakir miskin, serta ucapkanlah kata kata yang baik kepada manusia….” (al-Baqarah [2]: 83)

Orang-orang beriman juga harus sangat berhati-hati terhadap cara mereka memperlakukan orang tua mereka sendiri. Di dalam Al-Qur`an, Allah memerintahkan supaya mereka diperlakukan dengan segala kebaikan,

“Dan Tuhanmu telah perintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (al-Israa` [17]: 23)

Satu contoh dalam surah Yusuf menegaskan pentingnya menghormati orang tua. Nabi Yusuf a.s. pernah dipisahkan dari keluarganya, untuk waktu lama, karena saudara-saudaranya menjebloskan beliau ke dalam sebuah sumur. Tak lama kemudian, beliau ditemukan oleh satu rombongan pedagang yang membawanya ke Mesir dan menjualnya sebagai budak. Kemudian, karena dakwaan palsu, dia dijebloskan ke penjara selama bertahun-tahun, dan dibebaskan, hanya berkat pertolongan Allah, untuk diangkat menjadi bendahara kerajaan Mesir. Kemudian, setelah semua ini, beliau memindahkan seluruh keluarganya dari Madyan ke Mesir dan menyambut mereka seperti terlukis dalam ayat berikut,

“Maka ketika mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf merangkul ibu bapaknya dan dia berkata, ‘Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.’ Dan dia naikkan kedua ibu-bapaknya ke atas singgasana….” (Yusuf [12]: 99-100)

Dengan demikian, kita mengetahui bahwa Nabi Yusuf a.s., terlepas dari status terhormatnya, berperilaku yang luar biasa santun kepada kedua orang tuanya. Mengangkat keduanya ke atas singgasana, menandakan hormat dan cintanya kepada keduanya, dan juga menunjukkan akhlaqnya nan mulia.

Ramah Tamah

Bagi umat beriman, yang mengikuti moralitas Al-Qur`an, memuliakan tamu mereka merupakan wujud kepatuhan pada salah satu perintah Allah serta satu kesempatan untuk mengaplikasikan moralitas yang tinggi. Sebab itulah, hamba-hamba beriman menyambut tamu-tamu mereka dengan penuh takzim.

Di dalam masyarakat yang tidak beriman, orang umumnya menganggap tamu sebagai satu beban, baik dari sudut material maupun spiritual, karena mereka tidak dapat melihat kejadian-kejadian semacam itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan kesenangan Allah dan memperagakan akhlaq mulia. Sebaliknya, orang yang tidak beriman beranggapan bahwa santun dan sopan pada tamu tak lebih dari merupakan keharusan kemasyarakatan. Hanya karena mengharapkan suatu imbalan keberuntunganlah yang menggugah mereka untuk ramah dan santun pada tamu.

Al-Qur`an secara khusus menekankan perhatian agar manusia beriman menunjukkan akhlaq mulia kepada tamu. Sebelum yang lain-lainnya, manusia beriman menyuguhkan hormat, cinta, damai dan santun kepada setiap tamu. Sambutan biasanya didasarkan pada mempersiapkan tempat dan kebutuhan-kebutuhan lainnya, yang tanpa ungkapan hormat, cinta, dan damai, tidak bakal menyenangkan sang tamu. Di dalam ayat berikut, Allah mempertegas betapa Dia menyenagi kemolekan jiwa di atas apa pun selain itu,

“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa. Sesungguhnya, Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (an-Nisaa` [4]: 86)

Sebagaimana tersurat dalam ayat di atas, moralitas qur`ani mendorong manusia beriman agar berlomba-lomba dalam amal kebaikan, walau sekadar perbuatan biasa seperti menyambut tamu, sebagai satu sikap yang sudah dicontohkan di sini.

Al-Qur`an juga menginginkan kita memperlakukan tamu agar mereka merasa nyaman dengan menanyakan apa saja keperluan mereka, dan memenuhinya, sebelum sang tamu mengutarakannya. Cara Nabi Ibrahim a.s. melayani tamu beliau merupakan satu contoh bagus tentang ini dan merupakan peragaan satu wujud penting dari keramahtamahan,

“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim yang dimuliakan? Ingatlah ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan ‘Salamun!’; Ibrahim menjawab ‘salaman’, kalian adalah orang-orang tidak dikenal. Maka dia pergi secara diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar), lalu dihidangkan kepada mereka (tetapi mereka tidak mau makan).” (adz-Dzaariyaat [51]: 24-27)

Satu hal penting dari ayat-ayat ini yang menarik perhatian kita: akan lebih baik kita lebih dulu menanyakan keperluan tamu, laki atau perempuan, sebelum dia memintanya, karena tamu yang sopan biasanya menunda-nunda mengemukakan keperluannya. Di luar dari pemikirannya, tamu semacam ini bahkan mencoba menolak apa yang mungkin ditawarkan tuan/nyonya rumah. Bila ditanya apakah dia memerlukan sesuatu, sang tamu mungkin akan menjawab “tidak” dan berterima kasih atas tawaran tersebut. Untuk alasan seperti itu, moral qur`ani akan memikirkan sejak awal tentang apa saja yang mungkin diperlukan tamunya.

Perilaku lain yang disukai berkenaan dengan hal ini adalah menawarkan bantuan tanpa menunda-nunda. Di atas segalanya, perilaku seperti ini mengedepankan rasa senang tuan rumah bila tamu merasa bahagia berada di sana. Sebagaimana disebutkan ayat tadi, menawarkan sesuatu “dengan segera” mengungkap kemauan tulus tuan/nyonya rumah untuk melayani tamunya.

Tingkah laku mulia lainnya yang dapat dipetik dari ayat-ayat tadi adalah walaupun Nabi Ibrahim a.s. belum pernah kedatangan tamu sebelumnya, dia berupaya keras untuk melayani mereka sebaik mungkin dan bersegera menyuguhkan daging bakar “anak sapi gemuk”, sejenis daging yang terkenal sangat sedap rasanya, sehat dan bergizi. Dus, bisa kita tambahkan bahwa selain dari mencukupi layanan-layanan yang telah disebutkan, tuan/nyonya rumah harus pula mempersiapkan dan menawarkan makanan kualitas prima, enak, dan segar.

Di luar semua ini, Allah juga menekankan perhatian akan daging yang hendak disajikan untuk tamu.

Konsep Kebijaksanaan Pilihan di Dalam Al-Qur`an

Al-Qur`an selalu menekankan konsep kebijaksanaan. Kualitas ini dikhususkan untuk orang-orang beriman. Namun, manusia menggunakan istilah-istilah bijaksana dan cerdik itu bertukar-balik. Oleh sebab itu, perbedaan makna di antara kedua kata tersebut selalu membingungkan, dengan anggapan, yang tentu saja keliru, bahwa orang cerdik dengan sendirinya bijaksana. Bijaksana, bagaimanapun, adalah memahami bahwa Allah hanya meridhai insan-insan beriman. Itu berarti memberdayakan manusia untuk menganalisis dan memahami hal yang dikemukakan ini secara tepat agar mereka mengenal hukum alam sebenarnya dan mencarikan solusi pemecahan masalah dengan setepat-tepatnya. Berbeda dengan pengertian awam, bijaksana tak ada kaitannya dengan kepintaran seseorang; bahkan itu merupakan hasil dari keteguhan keyakinan seseorang. Dalam banyak ayat, Allah merujuk pada orang-orang tidak beriman sebagai “manusia tanpa kebijaksanaan”.

Kepintaran seseorang tampak dari reaksi seseorang saat menghadapi kejadian tak terduga dan situasi runyam. Dibandingkan dengan reaksi dari mereka yang tidak punya pemahaman mendalam tentang adanya Allah, dan karena itu disebut tidak punya wisdom (kebijaksanaan), dengan mereka yang memiliki keyakinan kuat, tampak perbedaan kadar kebijaksanaan masing masing kelompok itu. Bila dihadapkan pada kejadian-kejadian mendadak, manusia beriman tetap bersikap moderat dan menggunakan kebijakan mereka untuk mendapatkan pemecahan serta-merta dan tak sia-sia, terlepas dari kerumitan situasi. Pendirian bijaksana semacam itu merupakan hasil dari pemahaman mereka pada Al-Qur`an, yang Allah ungkapkan sebagai satu “kriteria dari pertimbangan antara benar dan salah” dan hidup mengikuti perintahnya.

Setiap orang dapat merancang beragam pola pemecahan masalah bila dihadapkan pada situasi yang menghendaki kewaspadaan dan kebijakan. Dan, dengan begitu mereka dapat mencegah kerugian. Namun, tidak ada solusi yang sepasti dan seabadi daripada apa yang diberikan oleh Al-Qur`an, karena berasal dari Allah, yang Maha Mengetahui. Orang beriman yang bertawakal pada Al-Qur`an dan telah dengan kokoh menggenggam “semua petuah ayat-ayatnya,” tentu mendapatkan beragam hasil yang diharapkan dalam segala urusan mereka.

Dalam bab berikut, kita akan menyoroti berbagai hal tentang tindakan-tindakan bijak arahan Al-Qur`an yang dirancang untuk membimbing orang-orang beriman.

Menganalisis Berbagai Tahapan Kemungkinan dalam Perkembangan

Adanya kemampuan untuk memikirkan secara menyeluruh sebelum mengawali suatu tugas, menaksir-naksir tahapan-tahapan kemungkinan menjelang pelaksanaannya, memperhitungkan kemungkinan beragam situasi dan akibatnya yang dapat terjadi merupakan tanda-tanda signifikan dari kebijaksanaan. Orang yang tidak bijaksana gagal mempertimbangkan hal-hal terselubung ini dan abai mempertimbangkan pro-kontra sebelum membuat keputusan atau mewujudkan suatu gagasan. Keteledoran sering mendatangkan akibat yang tidak diharapkan dan tak terduga.

Metode Nabi Ibrahim a.s. dalam menyebarkan wahyu Allah kepada kaumnya dapat dijadikan teladan uniknya kemampuan berpikir menakjubkan dari orang beriman. Kaumnya, yang penyembah berhala batu pahatan, bersikeras pada kepercayaan sesat mereka, memuja patung, meskipun tidak seutuhnya mereka yakin akan kebenarannya. Sebab itu, Nabi Ibrahim a.s. memutuskan untuk menggunakan metode lain dan menyiapkan satu rencana tahapan tindakan berkelanjutan.

Dalam rangka membuktikan kepada kaumnya, bahwa berhala-berhala itu sama sekali tidak bermakna selain dari kepingan-kepingan batu belaka, beliau memutuskan untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut. Tapi sebelum rencana dilaksanakan, dia telusuri metode bijaksana yang paling tepat, dengan lebih dulu memastikan tidak ada seorang pun yang melihat perbuatannya. Metode itu tergambar dalam ayat berikut,

“Dia (Ibrahim) berkata, ‘Sesungguhnya, aku sakit.’ Lalu mereka berpaling darinya dengan membelakang.” (ash-Shaaffat [37]: 89-90)

Sebagaimana diungkapkan dalam sejumlah ayat, segera setelah beliau sampaikan bahwa dirinya sakit, orang-orang di sekelilingnya meninggalkan tempat itu dan membiarkan dia sendirian bersama berhala-berhala itu. Kisah selanjutnya adalah sebagai berikut.

“‘Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.’ Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.” (al-Anbiyaa` [21]: 57-58)

Nabi Ibrahim a.s. menghancurkan semua berhala batu tersebut, kecuali yang terbesar, yang jadi sosok pujaan kaumnya, karena mereka anggap memiliki kekuatan besar. Tidak lama kemudian, kaumnya datang menghampiri Nabi Ibrahim dalam keadaan marah,

“Mereka bertanya, ‘Kamukah yang melakukan pebuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?’ Ibrahim menjawab, ‘Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.’ Maka mereka telah kembali kepada kesadaran mereka dan lalu berkata, ‘Sesungguhnya, kami sekalian adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri).'” (an-Anbiyaa` [21]: 62-64)

Dengan mencermati ayat-ayat bersangkutan secara menyeluruh, nyatalah bahwa Nabi Ibrahim a.s. mewujudkan rencana beliau secara bertahap dengan sangat bijaksana. Hasilnya, beliau mendapatkan apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya, kaumnya yang memuja berhala mulai menyadari bahwa patung satu-satunya yang tersisa tidak punya kemampuan untuk menolong mereka. Patung besar ini, seperti juga berhala yang lainnya yang sudah hancur berantakan, tak lebih dari kepingan batu yang tak bisa melihat, mendengar, atau berbicara. Lebih penting lagi, batu-batu itu tidak mampu melindungi diri mereka sendiri. Inilah pesan yang sesungguhnya disampaikan Nabi Ibrahim a.s. kepada kaumnya: Jauhi penyembahan batu dan sembahlah Allah, sang Maha Pencipta seluruh alam raya.

Nabi Ibrahim a.s. telah menganalisis kemungkinan-kemungkinan yang mungkin timbul dan mendapatkan hasil yang diharapkan. Tamsil ini, bersama dengan banyak contoh serupa yang terhampar di dalam Al-Qur`an, menandaskan bahwa memperhitungkan situasi lingkungan serta sisi psikologis manusia agaknya cukup efisien untuk mendapatkan hasil akhir yang dikehendaki. Orang-orang beriman yang bijak lestari selalu memperhitungkan pelaksanaan satu tugas, tahap demi tahap, dan dengan cermat mempertimbangkan faktor dan elemen yang bakal membawa hasil jangka panjang. Sementara itu, tindakan-tindakan berlandaskan Al-Qur`an yang mereka wujudkan, sebagaimana juga inisiatif yang mereka prakarsai untuk tujuan baik, tidak akan membawa kerugian di kemudian hari.

Sahabat Andalan

Sebelum pergi menemui Fir’aun untuk menyampaikan pesan Allah, Nabi Musa a.s. meminta persetujuan Allah agar mengizinkan saudaranya, Harun a.s., untuk menyertainya, seperti dapat kita baca dalam ayat berikut,

“Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, yaitu Harun, saudaraku, teguhkanlah dengan dia kekuatanku, dan jadikanlah dia sekutu dalam urusanku, supaya kami banyak bertasbih kepada Engkau, dan banyak mengingat Engkau. Sesungguhnya, Engkau Maha melihat (keadaan) kami.” (Thaahaa [20]: 29-35)

Sebagaimana penjelasan ayat-ayat itu, adalah bijaksana untuk mendapatkan sahabat andalan bila menghadapi satu tugas penting. Sesungguhnya, Allah mengabulkan do’a ini. Ayat berikut menegaskan manfaat-manfaat lahiriah dan batiniah dari keikutsertaan teman andalan,

“Allah berfirman, ‘Kami akan membantumu dengan saudaramu, dan Kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, maka mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa mukjizat Kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang menang.'” (al-Qashash [28]: 35)

Bila orang-orang beriman berpegang pada metode ini, mereka dapat saling menolong bila salah seorang dari mereka gagal atau keliru. Di samping itu, sudah menjadi fakta, adalah lebih mudah bagi dua insan beriman untuk terus memelihara keadaan mengingat kepada Allah, sebab mereka dapat saling mengingatkan terhadap tugas ini manakala pikiran salah seorang dari mereka mulai bimbang. Ini satu rahasia lain yang diungkapkan ayat tersebut.

Tentu saja, masih banyak manfaat lain yang dapat diraih dari kehadiran sahabat andalan. Keberadaan insan beriman lainnya di sisi seseorang dapat menjamin keamanan mereka, sebab orang yang abai meramalkan suatu bahaya mungkin bisa diselamatkan oleh tindakan teman pendamping untuk mencegah risiko yang mungkin menerpa.

Pembagian Tugas

Allah bersumpah atas sejumlah hal di dalam Al-Qur`an untuk menekankan pentingnya hal-hal tersebut untuk diperhatikan. Salah satunya mengenai pembagian tugas.

Dengan bersumpah demi, “(malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan,” (adz-Dzaariyaat [51]: 4) Allah menegaskan manfaat dari perkongsian. Dengan mematuhi nasihat ini, agar mendistribusikan kerja di antara orang-orang beriman, banyak waktu dapat dihemat dan memungkinkan mereka menyelesaikan tugas lebih cepat tinimbang di kerjakan seorang diri. Ternyata, satu tugas yang memerlukan sepuluh jam untuk diselesaikan satu orang dapat diselesaikan dalam hanya satu jam jika sepuluh orang dilibatkan di dalamnya.

Keuntungan lain adalah tercapainya kualitas hasil akhir yang lebih tinggi. Dari kerja sama semacam ini, tiap peserta dapat mengambil kearifan, pengetahuan, keahlian, dan pengalaman dari mereka yang turut serta dalam pekerjaan tersebut.

Sebagai tambahan, manakala sejumlah orang dilibatkan dalam pelaksanaan suatu tugas, kesalahan dan kekeliruan potensial dan kerusakan, yang acap timbul dari ketergesa-gesaan, bisa banyak dikurangi.

Dalam masyarakat tidak beriman, orang umumnya cenderung memonopoli satu pekerjaan untuk diri sendiri dan tidak perlu berkongsi dengan orang lain; tujuannya agar semua penghargaan dan imbalan yang diberikan oleh mereka yang menikmati hasil pekerjaan itu menumpuk pada si pemborong sendiri. Pembagian kerja dapat menghapus kerakusan semacam itu dan melenyapkan keinginan jelek untuk memborong keuntungan dari keberhasilan suatu proyek. Betapapun, suksesnya sebuah proyek tak lepas dari keikutkesertaan kebijakan, pengetahuan, dan pengalaman sejumlah orang, sehingga tak seorang peserta pun berhak menyombongkan diri sabagai orang yang paling besar andilnya. Sesungguhnya, orang-orang beriman tidaklah mencari-cari superioritas diri, sebab segala sesuatu yang mereka inginkan adalah kesenangan Allah swt. atas amal perbuatan hamba-hamba-Nya.

Pembagian kerja juga mendatangkan manfaat lain: bekerja secara kolektif untuk keperluan bersama akan mempererat persahabatan, persaudaraan, dan kesetiaan sesama peserta. Bahkan, lebih dari itu, kerja sama memungkinkan seseorang mengenal keindahan dan keahlian orang lain dan menepis nafsu serakah dari kalbu orang bersangkutan, dan akhirnya membuat dia jadi orang sederhana (moderat).

Bekerja bersama untuk mendapatkan kesenangan Allah membuat para peserta merasa saling dihargai, disenangi, dan berbakti, karena suasana yang melandasi kerja semacam itu. Tiap upaya yang mereka kedepankan untuk memenuhi tugas yang diemban mencerminkan cinta dan pengabdian kepada Allah. Menyadari kenyataan ini adalah faktor lain yang menyuburkan persaudaraan di kalangan orang-orang beriman.

Malam untuk Beristirahat, Siang untuk Bekerja

Al-Qur`an menyatakan siang hari adalah waktu untuk beraktivitas, sementara malam hari lebih baik dimanfaatkan untuk istirahat. Ayat yang berkenaan dengan hal itu adalah,

“Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.” (Yunus [10]: 67)

Dengan meneliti tubuh manusia terungkaplah bahwa metabolisme tubuh sudah diatur supaya beristirahat waktu malam dan bekerja pada siang hari. Kala mentari mulai terbenam, kelenjar otak, yang berada di landasan otak, mulai membendung melatonin. Ini membuat orang jadi kurang siaga. Fungsi kerja otak menurun dan suhu badan anjlok. Semua reaksi tubuh terhadap kegelapan akhirnya merendahkan produktivitas seseorang.

Dengan munculnya waktu fajar, peringkat melatonin berkurang dan hormon-hormon diaktifkan. Sementara itu, suhu badan meningkat dan fungsi-fungsi otak mencapai tingkat maksimum. Faktor-faktor ini memberi sumbangan pada kesiagaan, perhatian, dan produktivitas seseorang. Fakta-fakta seperti ini membawa kearifan seperti yang disebutkan dalam ayat,

“Allah menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya.”

Merahasiakan Informasi Penting terhadap Orang yang Bermaksud Jahat

Al-Qur`an menegaskan pentingnya untuk tidak menyebarkan informasi penting kepada orang-orang yang mempunyai maksud jelek, yang menyukai informasi semacam ini untuk melencengkan sesuatu yang baik dari orang-orang beriman. Oleh karena itu, bila orang seperti itu tahu bahwa sesuatu yang baik bakal terjadi pada orang yang tidak dia sukai, kecemburuan orang tadi akan menghadang informasi tersebut sampai kepada orang yang dibencinya itu dengan beragam upaya.

Al-Qur`an memberikan informasi pada kita tentang saudara-saudara lelaki Nabi Yusuf a.s., yang tergolong orang-orang buruk keinginan. Karena kecemburuan mereka pada Nabi Yusuf a.s.-ayah mereka (Nabi Ya’qub) sangat mencintai adik mereka itu-maka mereka menyimpan dendam di hati. Nabi Ya’qub a.s., yang mengetahui adanya maksud jahat yang terpendam di hati anak anaknya itu, menasihatkan Yusuf supaya tidak mengungkapkan rahasia mimpinya kepada mereka. Dia tahu mimpi itu, yang mengabarkan pada Yusuf bahwa dia hamba pilihan Allah dan dianugerahi banyak karunia, akan membuat saudara-saudaranya tambah marah. Ayat-ayat Al-Qur`an menceritakan,

“(Ingatlah) Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, kulihat semuanya tunduk padaku.’ Ayahnya berkata, ‘Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)-mu. Sesungguhnya, setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. Dan demikianlah, Tuhanmu, memilihkamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebagian dari tabir mimpi mimpi dan disempurnakan-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nik-matnya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya, Tuhanmu Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.'” (Yusuf [12]: 4-6)

Allah menyeru manusia merenungkan peristiwa ini, “Sesungguhnya, ada beberapa tanda-tanda kekuasaan Allah pada (kisah) Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya.” (Yusuf [12]: 7) Tetap waspada kala berada di tengah-tengah mereka yang memiliki maksud buruk dan menolak informasi penting dari mereka merupakan pelajaran berguna yang bisa dipetik dari ayat-ayat ini.

Mengambil Tindakan Dini

Tindakan lain yang Allah tekankan kepada kita adalah agar kita segera bereaksi bila berhadapan dengan satu situasi yang harus ditangani. Di dalam Al-Qur`an, Allah menunjukkan kepada kita satu sikap yang dipraktikkan Nabi kita saw. sebagai contoh,

“Dan (ingatlah) ketika kamu berangkat pada pagi hari dari rumah keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran[3]: 121)

Seperti disebutkan ayat, dalam suasana perang, Nabi Muhammad saw. meninggalkan rumah beliau pada dini hari untuk memberikan pengarahan kepada para pengikut beliau berkenaan dengan tugas-tugas mereka dan mempersiapkan mereka terhadap apa yang bakal terjadi. Selama 1400 tahun, apa yang dipraktikkan Nabi kita saw. telah membimbing dan memberi semangat kepada orang-orang beriman.

Orang yang cepat bertindak mendapatkan cukup waktu untuk mempersiapkan diri. Tambahannya, satu situasi tak terduga atau satu penundaan tidaklah mendatangkan tekanan tambahan, sebab mereka punya cukup waktu untuk menghadapi masalah masalah ini.

Berada dalam keadaan tidak tergesa-gesa dapat secara psikologis dapat meningkatkan derajat kelegaan jiwa seseorang, sedangkan keterbatasan waktu dapat membuat orang panik dan gelisah. Dua keadaan pikiran yang merintangi kemampuan orang berkonsentrasi, mengemukakan alasan, dan merancang pemecahan masalah yang tepat. Sebaliknya, waktu yang cukup memadai memungkinkan orang bekerja dengan kedamaian pikiran dan nir-tekanan, mencurahkan perhatian dan kearifan mereka pada pemecahan masalah, dan dengan begitu membuka peluang memformulasikan keputusan terbaik.

Waspada di Waktu Malam

Meskipun Allah sudah menentukan malam sebagai waktu untuk ketenangan, Al-Qur`an menyeru kita supaya waspada melalui ayat berikut,

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluknya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap-gulita.'” (al-Falaq [113]: 1-3)

Malam, khususnya saat gelap gulita, membatasi kemampuan keandalan tertentu manusia dan menjadikannya jauh lebih sulit mengambil tindakan-tindakan pengamanan diri. Pada waktu malam, akan lebih sulit mempradugakan bahaya, yang artinya: bahwa tingkat kepedulian seseorang tambah menurun. Faktor utama di belakang meningkatnya taraf risiko adalah keinginan orang-orang tidak beriman untuk terlibat dalam tindak kejahatan di bawah selubung kegelapan, yang melindungi mereka dari pandangan orang lain. Angka statistik kejahatan pembunuhan, pencurian, dan banyak lagi kegiatan kegiatan tidak legal dan berbahaya mengungkapkan bahwa perbuatan perbuatan durjana mereka itu cenderung lebih tinggi volumenya mulai tengah malam hingga waktu fajar.

Al-Qur`an juga menyatakan bahwa orang-orang tak beriman cenderung menyakiti/mengganggu orang beriman di malam hari. Seperti dapat kita baca,

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (an-Nisaa` [4]: 108)

Dalam ayat lain, Allah memberi tahu kita tentang satu makar jahat terhadap Nabi Salih a.s. oleh orang-orang tidak beriman yang memendam kebencian mendalam terhadap beliau, dan mengingatkan kita supaya berhati-hati terhadap rencana rencana jahat semacam itu,

“Mereka berkata, ‘Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita sungguh-sungguh akan menyerangnya dengan tiba-tiba beserta keluarganya di malam hari, kemudian kita katakan kepada wazirnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kematian keluarganya itu, dan sesungguhnya kita adalah orang-orang yang benar.” (an-Naml [27]: 49)

Orang-orang beriman adalah mereka yang mengambil peringatan-peringatan Allah dengan penuh keyakinan, dan dengan begitu mengenggam erat pandangan rasional atas semua peristiwa, menerapkan segala jenis kewaspadaan guna melindungi keselamatan mereka di malam hari. Khususnya kala bepergian, bekerja, atau bahkan waktu tidur, mereka tetap awas terhadap kemungkinan datangnya bahaya. Tapi, orang harus ingat bahwa semua perhatian ke arah itu tidak setara dengan kejahatan, karena itu manusia beriman di samping melengkapi persyaratan kewaspadaan yang diperlukan; lalu memasrahkan diri mereka pada ketentuan Allah.

Tidak Bertindak Sendirian

Dari catatan Al-Qur`an tentang para nabi terdahulu, yang melanjutkan pengabdian sebagai panutan untuk semua orang beriman karena kepatuhan mereka pada berbagai perintah dan larangan Allah, kita mengetahui bahwa setiap Nabi ditemani seorang pendamping, khususnya waktu menjalankan satu misi penting. Sebuah contoh tipikal adalah Nabi Musa a.s. yang didampingi saudaranya sendiri, Harun a.s.. Sebelum menemui Fir’aun, yang sangat membenci dirinya, Nabi Musa a.s. bermunajat kepada Allah agar memperkenankan Harun a.s. menemani beliau sebagai teman pendamping,

“Dan saudaraku Harun, dia lebih fasih lidahnya daripada aku, maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk membenarkan (perkataan)ku; sesungguhnya aku khawatir mereka akan mendustakanku.” (al-Qashash [28]: 34)

Di samping itu, kehadiran pendamping dapat mengurangi nyali dan kegetolan mereka yang punya maksud maksud jahat. Sedangkan kesendirian lebih mendorong mereka untuk melampiaskan niat buruk mereka.

Perjalanan Nabi Musa a.s. dan seorang muridnya adalah satu contoh lain,

“Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya, ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan bertahun-tahun.’ Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lalai akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.” (al-Kahfi [18]: 60-61)

Sebagaimana disebut pada ayat berikutnya, Nabi Musa mendapat keuntungan dari teman dalam perjalanan panjang itu. Praktik seperti ini, sebetulnya, merupakan satu bentuk kewaspadaan yang bijaksana. Karena berjalan sendirian ke tempat jauh dengan orang yang tidak mengenal kondisi dan situasi wilayah bisa jadi petualangan meragukan, kalau bukan lebih jelek taruhannya. Dalam hal ini, panduan dan dukungan orang lain, dalam artian material dan spiritual, merupakan pertolongan besar bila seseorang harus mengatasi kesulitan kesulitan yang sangat mungkin ditemui selama dan sesudah perjalanan.

Al-Qur`an membeberkan perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Mekah ke Madinah sebagai contoh lain,

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya, ‘janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah [9]: 40)

Mereka yang memusuhi Nabi saw. ingin menangkap dan membunuh beliau, dengan demikian akan melenyapkan pengaruhnya atas para pengikut beliau. Kalaulah Nabi saw. seorang diri, di bawah tekanan risiko dan berbahaya itu, tak diragukan lagi, kaum penyembah berhala pasti memanfaatkan kesempatan mewujudkan ambisi-ambisi jahat mereka. Itu sebabnya Nabi kita saw. selalu ditemani oleh setidak-tidaknya satu orang beriman. Praktik inilah yang terus-menerus membimbing kaum muslimin hingga hari ini.

Hidup di Tempat-Tempat Aman

Kondisi-kondisi di sekeliling para Nabi dan pengikut-pengikut mereka dalam kurun perjuangan mereka menghadapi kepungan kaum musyrikin dan jahiliah telah mengharuskan para utusan Allah itu untuk meningkatkan kewaspadaan. Tekad kuat untuk hidup sesuai dengan kaidah prinsip Islam seraya menyebarkan pesan Allah, betapapun, telah direspons dengan sikap permusuhan dan kekerasan oleh puak-puak masyarakat sekitar. Dalam banyak kasus, sikap memusuhi itu bahkan menjurus ke upaya-upaya membunuh sejumlah nabi.

Kaum beriman berkeyakinan bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak Allah. Kalau mereka diserang, mereka yakin ada hikmah yang terselip di dalamnya, sebab Al-Qur`an menegaskan adanya kebaikan pada tiap peristiwa. Maka orang beriman yang tidak takut pada siapa atau apa pun selain dari Allah, menempuh cara cara rasionil dan meningkatkan kewaspadaan untuk menggagalkan rencana makar terhadap mereka.

Salah satu wujud kewaspadaan itu adalah membangun perbentengan kokoh dan aman di sekeliling tempat tinggal dan kota mereka. Al-Qur`an menginformasikan kepada kita tentang dua orang yang beperkara yang datang kepada Nabi Dawud a.s..

“Dan adakah sampai kepadamu berita tentang orang-orang beperkara ketika memanjat pagar?” (Shaad [38]: 21)

Ayat ini, yang berhubungan dengan upaya mereka untuk menemui Nabi Dawud, juga memberi gambaran kepada kita tentang tempat tinggalnya. Mungkin itu satu tempat berteduh yang aman dikelilingi tembok tinggi dan tak mudah diserang.

Wujud kewaspadaan lain yang disebut dalam Al-Qur`an adalah memelihara anjing di pintu-pintu masuk dan meningkatkan keamanan. Seperti dapat kita baca,

“Dan kamu mungkin mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah hati kamu akan dipenuhi ketakutan terhadap mereka.” (al-Kahfi [18]: 18)

Pemuda-pemuda ini, yang disebut Al-Qur`an sebagai “As-habul Kahfi”, berlindung di dalam sebuah gua dari penguasa tirani di masa itu, yang sangat membenci agama. Seperti sejumlah ayat memberitakan pada kita, Allah menghendaki mereka tetap dalam keadaan tidur untuk waktu bilangan tahun. Dari ayat-ayat tersebut, kita mengetahui bahwa selama bilangan tahun itu mereka menempatkan seekor anjing di pintu gua untuk menjaga keamanan mereka.

Menghasilkan Solusi yang Tangguh dan Bertahan Lama

“Mereka berkata, ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata, ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan(manusia dan alat-alat) agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan potongan besi. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua puncak gunung itu, berkatalah Dzulqarnain, ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, dia pun berkata, “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa melubanginya.” (al-Kahfi [18]: 94-97)

Pelajaran yang dapat diambil dari sini sudah dijelaskan sendiri oleh ayat yang kita baca: Tinimbang bergantung pada pengamanan lemah dan tidak tangguh, Dzulqarnain memilih teknologi canggih di masanya, mulai dari bahan hingga pada metode konstruksi, untuk membangun perbatasan yang tak tertembuskan, agar keamanan masyarakat di sana dapat dipulihkan. Sebagai kewaspadaan kedua, dia tuangkan cairan tembaga mendidih ke atas pagar besi itu.

Inilah tingkat kewaspadaan yang disediakan Al-Qur`an untuk orang-orang beriman. Sejalan dengan rekomendasi-rekomendasi tersebut, setiap keadaan yang tidak disukai atau tidak menguntungkan, kecil ataupun besar, harus dihindarkan sesuai dengan kemampuan orang-orang beriman merancang pembangunan proyek-proyek yang kokoh, tangguh, dan tak tertembuskan oleh sembarang serangan.

Menolak Memberikan Informasi kepada Orang yang Bermaksud Jahat Akan Mengungkap Kelemahan Mereka

Mereka yang memendam benci dan cemburu terhadap orangorang beriman, siap menggunakan setiap peluang untuk memuaskan perasaan-perasaan itu. Oleh sebab itu, insan beriman jangan sekali-kali memberi kesempatan apa pun kepada mereka untuk merancang serangan terselubung.

Allah minta perhatian kita pada masalah ini dengan mengkaitkannya pada kisah Nabi Yusuf a.s.. Saudara-saudara beliau yang seayah berkomplot untuk membunuhnya karena dengki dan cemburu, sebab ayah mereka yang sangat menyayangi Yusuf. Menurut perkiraan mereka, bila Yusuf sudah tiada, kasih sayang ayah akan beralih pada mereka. Untuk mencapai tujuan tersebut, mereka merancang siasat busuk seperti tersebut dalam surah Yusuf, sebagai berikut.

“Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, apa sebabnya engkau tidak mempercayai kami terhadap Yusuf, padahal sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan sesungguhnya kami pasti menjaganya.’ Ya’qub berkata, ‘Sesungguhnya, kepergian kamu bersama Yusuf amat menyedihkanku dan aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah darinya.'” (Yusuf [12]: 11-13)

Sebagaimana kita pahami dari ayat-ayat ini, Nabi Ya’qub a.s. tahu bagaimana perasaan putra-putra beliau terhadap Yusuf a.s. dan tidak menyetujui saran mereka. Dia merasa khawatir kalau-kalau serigala menyerangnya selagi mereka asyik bermain. Saudara-saudaranya, yang akhirnya membawa Yusuf bersama mereka, memasukkan dia ke dalam sebuah sumur, lalu membawa pulang baju yang dilumuri darah palsu untuk diperlihatkan kepada ayah mereka, seraya berkata,

“‘… Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba- lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan engkau sekali-kali tidak akan percaya pada kami, meskipun kami adalah orang-orang yang benar.’ Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu….” (Yusuf [12]: 17-18)

Seperti perkabaran ayat-ayat ini, saudara-saudara Nabi Yusuf berusaha membenarkan pengkhianatan mereka dengan memanfaatkan keprihatinan Nabi Ya’qub yang telah beliau ucapkan sebelumnya. Yang dapat kita pahami dari ayat-ayat terkait bahwa kita tidak seharusnya mengikuti kehendak buruk semacam itu dan tipu daya orang-orang pembuat kerusakan yang telah membuka aib mereka sendiri.

Mempertimbangkan Segala Alternatif Seraya Terus Waspada

Acuh tak acuh merupakan predikat unik bagi manusia yang bersikap masa bodoh. Sesungguhnya, dalam kelompok-kelompok masyarakat masa bodoh banyak masalah yang tidak ter-selesaikan, karena manusia-manusianya cenderung tidak peduli. Itu sebabnya orang-orang yang hidup dalam masyarakat masa bodoh selalu menanggung derita sebagai konsekuensi keteledoran dan sikap tidak peduli.

Dalam Al-Qur`an, Allah menegaskan kekeliruan sikap ini dan mendorong orang-orang beriman supaya peduli dengan saksama dalam mengambil beragam tindakan.

Dari ayat berikut, kita pahami bahwa cermat mempertimbangkan segala alternatif merupakan sifat perilaku yang paling tepat,

“Dan Ya’qub berkata, ‘Hai anak-anakku janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, masuklah dari pintu pintu gerbang berbeda; namun, aku tiada dapat melepaskan kalian barang sedikitpun dari (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.'” (Yusuf [12]: 67)

Nabi Ya’qub a.s. menasihatkan putra-putra beliau, waktu mereka hendak pergi ke Mesir, agar memasuki kota melalui sejumlah pintu gerbang. Hal ini benar-benar merupakan satu tindakan bijaksana, karena hal itu menjamin keselamatan jiwa dan harta. Kalaulah mereka masuk lewat satu pintu saja, besar kemungkinan mereka dihadang bahaya. Dengan mengaplikasikan ketinggian ilmu seseorang, yang Allah anugerahkan kepada kemanusiaan agar mereka bisa mempertimbangkan metode terbaik mana hendak dipakai, adalah suatu kebijaksanaan yang terselubung di bawah nasihat ini. Inilah satu sikap bijaksana sesuai dengan ajaran Al-Qur`an. Lebih jauh, peluang seperti ini dengan jelas mengungkap perbedaan antara kebijaksanaan orang beriman dengan keteledoran orang tidak berakal.

Ingatlah, semua tindakan menuju perolehan hasil yang bertahan lama merupakan satu bentuk dari do’a. Sesungguhnya, tak ada rencana atau tindakan, betapapun canggihnya, yang dapat mencegah apa yang sudah Allah takdirkan. Fakta penting ini ada kaitannya dengan nasihat Nabi Ya’qub a.s. kepada putra-putra beliau,

“Dan tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf, Yusuf membawa saudaranya (Bunyamin) ke tempatnya, Yusuf berkata, ‘Sesungguhnya, aku ini adalah saudaramu, maka janganlah kamu berdukacita terhadap apa yang telah mereka kerjakan.'” (Yusuf [12]: 69)

Metode-Metode Qur`ani untuk Mendakwahkan Islam

Sepanjang kurun sejarah, Allah telah mengutus para rasul silih berganti untuk menyampaikan fakta tentang eksistensi-Nya dan adanya hari akhir secara jelas, dan menyuruh mereka menyembah hanya Dia. Allah memberitahukan kita bahwa para utusan-Nya, beserta orang-orang beriman, sudah dipercayakan dengan tugas ini,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar….” (Ali Imran [3]: 104)

Orang-orang beriman hanya disuruh mempermaklumkan Islam. Maknanya, mereka hendaknya menyampaikan perintah Allah kepada manusia dan menyeru mereka menuju kepada moralitas Al-Qur`an. Allah membimbing dan memberikan pengertian kepada manusia. Dalam hubungan ini, orang-orang beriman diberi kewajiban hanya untuk penggunaan metode-metode yang disebutkan di dalam Al-Qur`an; mereka tidak berkewajiban untuk mempercayainya atau tidak.

Untuk mempermudah tugas mereka, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang beriman melalui perintah-perintah yang mudah dimengerti dan terdapat di dalam Al-Qur`an. Tingkah perbuatan para utusan Allah juga jadi contoh untuk umat beriman. Di dalam bab ini, kita akan mengulas metode-metode mendakwahkan pesan itu dan cara mengatasi situasi-situasi yang berubah-ubah dalam melaksanakan tugas mulia ini.

Tidak Ada Upah dalam Urusan Ini

Bagi para pendakwah hendaknya mampu menganalisis dengan pikiran bebas dan masuk akal, dan tanpa dipengaruhi oleh buruk sangka dalam bentuk apa pun, ragu, atau rasa tertekan. Untuk tahap ini, mereka harus yakin pada keikhlasan orang yang menyampaikan amanah itu.

Mereka yang tidak akrab dengan pendakwah dan hanya tahu sedikit tentang mereka mungkin bisa keliru menentangnya dan meragukan maksud mereka, karena mereka berada di bawah pengaruh lingkungan masyarakat yang acuh tak acuh. Pada tahap tertentu, keadaan ini mungkin dapat diterima. Misalnya, barangkali mereka ingin tahu tentang mengapa oang orang beriman bekerja terlalu keras untuk memperkenalkan Islam kepada mereka. Karena segala sesuatu di dalam dunia mereka didasarkan pada kepentingan pribadi, mungkin saja belum terjangkau di otak mereka, mengapa orang-orang yang berkeyakinan tentang adanya Tuhan hanya mencari ridha Allah. Atau, mungkin saja mereka bertanya-tanya, apakah informasi yang disampaikan para dai memang akurat. Untuk alasan-alasan yang disebutkan ini, para dai hendaklah berupaya sebaik mungkin untuk mendahului dengan menampik semua keraguan dan keprihatinan tanpa menanti pihak lain mengatakan keberatan tersebut.

Sesungguhnya, Al-Qur`an meyampaikan kepada kita bahwa semua rasul Allah memberikan prioritas utama pada pelaksanaan misi suci ini. Mereka mempunyai keyakinan khusus pada Kemahakuasaan Allah dan hari akhir. Karena itu, mereka mengabdikan seluruh hidupnya untuk mendapatkan restu-Nya. Dengan keyakinan adanya surga dan neraka, para utusan mengkhawatirkan tiap manusia yang mereka temui akan kepastian mendapat siksaan pedih di neraka, kecuali mereka mematuhi semua perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Misi utama mereka adalah untuk mengajak orang lain bergabung dalam kebaikan (makruf) dan menjauhi keburukan (mungkar), serta menyampaikan kepada semua manusia tentang kebesaran dan keperkasaan Allah. Imbalannya, mereka berupaya keras hanyalah demi mendapatkan ridha Allah. Selain dari itu, mereka tidak mengharapkan keuntungan duniawi.

Al-Qur`an menekankan perhatian kita pada poin ini dan menandaskan bahwa para Utusan Allah selalu berusaha keras untuk melenyapkan keragu-raguan manusia. Berikut ini sejumlah ayat yang berkait dengan hal ini.

“Aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.” (asy-Syu’araa` [26]: 180)

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberikan petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah, ‘Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Qur`an) itu tidak lain hanyalah peringatan untuk segala umat.'” (al-An’aam [6]: 90)

“Hai kaumku, aku tidak meminta upah kepadamu bagi seruanku ini. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Maka tidakkah kamu memikirkannya?” (Huud [11]: 51)

“Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib an-Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata, ‘Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu. Ikutilah orang yang tiada meminta balasan kepadamu, dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.'” (Yaasiin [36]: 20-21)

Maka, dalam kepatuhan pada isyarat-isyarat yang disebut dalam ayat-ayat ini, dan yang lain, mereka yang telah menjalankan misi mulia itu harus memperjelas hal ini. Kondisi dunia saat ini telah memaksa manusia berburuk sangka terhadap siapa pun, karena secara primer hubungan antarmanusia dilandaskan pada kepentingan material. Untuk alasan itu, klarifikasi-klarifikasi demikian akan memperjelas masalahnya kepada pihak lain.

Pastikan, Orang yang Menyampaikan Pesan Dapat Diandalkan

Tentang bagaimana pesan harus disampaikan, Al-Qur`an menyampaikan pesan yang lain: mereka yang mendakwahkan Islam pertama-tama harus jelas betul kalau mereka orang jujur dan dapat diandalkan. Sesungguhnya, kita maklumi dari Al-Qur`an bahwa semua rasul menggunakan metode ini serta menandaskan bahwa mereka tidak lain adalah para utusan yang ditugaskan oleh Allah,

“Sesungguhnya, aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.” (asy-Syu’araa` [26]: 107)

Ini penting untuk menghilangkan keragu-raguan mereka sebagai objek dari penyampaian pesan Allah. Kalau orang itu jujur, ikhlas, dan bisa diandalkan, kata-kata mereka patut diindahkan dan dilaksanakan. Tapi, sekecil apa pun keraguan mengenai keandalan penyampai pesan, itu bakal menyebabkan pihak lain membangun mekanisme bela diri. Apabila metode bela diri ini dapat dipatahkan oleh metode-metode yang dipaparkan Al-Qur`an, manusia akan semakin terbuka untuk menerima dakwah Islam.

Membuktikan Keyakinan Palsu

Sesudah menghilangkan keprihatinan dan buruk sangka dari pihak-pihak sasaran dakwah Islam, langkah selanjutnya adalah membuktikan ketidakrasionalan dan kepalsuan keyakinan mereka. Menjelaskan jenis kepalsuan keyakinan mereka harus disampaikan secara meyakinkan dan logis, sebab mereka akan rela meninggalkan keyakinan lamanya setelah mereka betul-betul dapat diyakinkan kesalahannya. Untuk melenyapkan kerisauan yang menyuramkan pikiran seseorang, Allah menghadirkan satu metode. Nafikan kepercayaan palsu lewat metode-metode rasional, ilmiah, dan transparan, dengan penjelasan yang berterima dan memuaskan, mencakup ketidakefektifan sistem yang dipakai kaum tidak beriman. Metode yang digunakan Nabi Ibrahim a.s. untuk menyampaikan pesan kepada kaumnya dapat dijadikan contoh,

“Ketika ia (Ibrahim) berkata kepada bapaknya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami sentiasa tekun menyembahnya.’ Berkata Ibrahim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)-mu sewaktu kamu berdo’a kepadanya? atau dapatkah mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudharat?’ Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’ Ibrahim berkata, ‘Maka apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?'” (asy-Syu’araa` [26]: 70-76)

Nabi Ibrahim a.s. mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut kepada kaumnya dengan tujuan mengetahui alasan-alasan dan inteligensi mereka, dan secara bertahap membuat mereka menyadari tidak validnya keyakinan mereka. Sementara itu, dengan tiap pertanyaan dia harapkan kesadaran kaumnya dan memastikan mereka akan mengakui ketidaklogisan kepercayaan mereka. Dia gunakan metode ini karena kaumnya, yang telah jadi penyembah berhala batu yang diwariskan nenek moyang mereka, dan tidak pernah merenungkan hal tersebut. Akan tetapi, setelah Ibrahim memaparkan fakta-fakta, mereka jadi tercenung. Betapa tidak wajar dan lemahnya benda yang mereka sembah turun-temurun.

Ibrahim lalu memperkenalkan Allah lewat tanda-tanda ciptaan-Nya nan mahaagung. Sehingga, dengan demikian tampak perbedaan tak terhitung antara berhala batu yang sama sekali tidak punya kekuatan, dengan makhluk-makhluk ciptaan Allah, Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana,

“Sesungguhnya, apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam, yaitu Tuhan Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali, dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (asy-Syu’araa` [26]: 77-82)

Metode ini telah memberikan kemampuan kepada kaumnya, penyembah berhala, untuk menyadari situasi tidak rasional yang mereka berada di dalamnya. Tapi, kesadaran itu hanya untuk penggalan waktu tertentu.

Menggunakan Metode Tanya Jawab

Dengan metode serupa, manusia dapat didorong untuk bertanya lebih jauh tentang hal-hal yang belum mereka yakini. Hal itu akan membuat mereka paham betapa indahnya pemahaman mereka pada informasi yang sudah sampai kepada mereka, bahwa mereka sudah mampu mengerti makna informasi yang telah disampaikan kepada mereka; sehingga memberi peluang lebih lanjut kepada para dai menyampaikan penjelasan tambahan. Menawarkan informasi lanjutan sebelum mengklarifikasi apa yang sudah disampaikan dapat membingungkan pihak yang dituju.

Sebagai tambahan, membuktikan kesalahan pikiran yang sudah terdistorsi melalui penyampaian alasan masuk akal dan indah sudah menjadi satu metode Al-Qur`an. Ayat lain meringankan kita berkenaan metode ini,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,’ Orang itu berkata, ‘Saya dapat menghidupkan dan mematikan.’ Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya, Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,’ lalu heran terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah [2]: 258)

Dengan ucapan singkat-padat dan dalam jangkauannya, Nabi Ibrahim a.s. menunjukkan kelemahan orang kafir di hadapan keperkasaan Allah yang tak terhingga lewat paparan contoh-contoh sangat mengesankan, membuat orang itu kenal situasinya. Saran Nabi Ibrahim a.s. itu mengejutkan dan menjadikan orang kafir itu diam seribu bahasa. Pola bijak lestari ini merupakan contoh bagus untuk orang beriman dalam mendakwahkan Islam kepada pihak lain.

Menyeru Secara Terbuka dan Secara Rahasia

Allah memberi tahu kita bahwa semua utusan-Nya memanfaatkan beragam metode dan penjelasan untuk memperkenalkan Keagungan Allah kepada manusia dan kebutuhan mereka pada agama. Contoh yang ditunjukkan oleh Nabi Nuh a.s. ini dapat dijadikan pedoman oleh semua orang beriman.

“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, kemudian sesungguhnya aku menyeru mereka lagi dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.”” (Nuh [71]: 5-12)

Do’a ini mengungkapkan bahwa, bila perlu, orang-orang beriman diperkenankan menyampaikan penjelasan baik secara langsung maupun terselubung. Dengan mengingatkan kaumnya tentang hal-hal lumrah yang meninggalkan kesan mendalam pada diri mereka, Nabi Nuh a.s. menguraikan bahwa Allah menganugerahkan rahmat-Nya kepada mereka, agar mereka memikirkannya. Dia ceritakan pada mereka bahwa Allah menurunkan hujan untuk mengairi tanaman mereka, memberikan harta dan anak-anak kepada mereka, menciptakan sungai-sungai dan kebun-kebun dengan limpahan hasil, dan bahwa hanya Dia pemilik segala rahmat yang mereka nikmati. Dalam upaya menarik mereka lebih dekat pada konsep agama, dia berusaha keras untuk menjelaskan kepada kaumnya, yang belum mampu menyerap keindahan Islam dan keperluan diri mereka pada agama, bahwa ketamakan mereka akan kepentingan-kepentingan duniawi, semuanya juga berada dalam kendali Allah. Genggaman mereka pada hal-hal mendasar ini akan menjadi fondasi yang tepat untuk pemahaman lebih baik tentang adanya akhirat dan syariat Islam.

Menjelaskan Tanda-Tanda Penciptaan

Salah satu metode yang Allah perintahkan kepada orang beriman untuk mengaplikasikannya dalam mendakwahkan Islam kepada kaum mereka adalah dengan memperkenalkan tanda-tanda bukti penciptaan. Banyak Nabi, yang disebut dalam Al-Qur`an, membimbing umat mereka agar memikirkan tanda-tanda tersebut. Nabi Nuh a.s. termasuk seorang dari para rasul itu,

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari kiamat) dengan sebenar-benarnya. Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan, supaya kamu menjalani jalan-jalan yang luas di bumi itu.” (Nuh [71]: 15-20)

Tanda-tanda penciptaan ini sangat besar maknanya dan mengandung uraian informasi yang bisa mengisi bilangan jilid buku. Coba pikirkan tentang tujuh lapis langit yang merupakan angkasa dan manfaat semua itu pada makhluk-makhluk penghuni bumi dan sitim ekologi, pengaruh sinar mentari dan cahaya bulan terhadap musim, cuaca, pergantian malam dengan siang, dan kehidupan manusia, akan memperlebar jarak pandang dan pada akhirnya orang tambah arif dan makin yakin pada keagungan Al-Qur`an. Dengan memikirkan secara mendalam terhadap bencana-bencana alam, bahwa sekecil apa pun terjadi perubahan pada sistem tata surya akan membawa akibat. Jagat raya kaya dengan rincian-rincian detail, yang diabaikan oleh sebagian terbesar umat manusia. Untuk alasan inilah, menggugah perhatian mereka untuk memikirkan hal-hal yang disebutkan itu dapat dijadikan perangkat dalam membimbing mereka untuk mencermati Mahakuasa dan Mahaperkasanya Allah. Nabi saw. menegaskan pentingnya perbuatan mulia semacam itu,

“Barangsiapa membimbing manusia menuju kebaikan akan mendapat ganjaran dari Allah setara dengan ganjaran yang dinikmati orang-orang yang mempraktikkan bimbingan itu.” (HR Muslim)

Sesungguhnya, Al-Qur`an menyeru manusia untuk mensyukuri tanda-tanda ciptaan yang menunjukkan adanya Allah dan Kemahabesarannya, dan agar punya dampak atas diri mereka. Berikut ini adalah sebagian dari banyak ayat yang dapat menarik perhatian manusia pada subjek ini,

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak- retak sedikit pun? Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, untuk jadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah). Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezeki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadi kebangkitan.” (Qaaf [50]:6-11)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan, Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (al-Ghaasyiyah [88]: 17-21)

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? Dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kukuh supaya bumi itu (tidak) guncang bersama mereka, dan telah Kami jadikan pula bumi itu jalan-jalan yang luas, agar mereka mendapat petunjuk. Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya. Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari, dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.” (al-Anbiyaa` [21]: 30-33)

“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang benar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka darinya mereka makan. Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur? Mahasuci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Yaasiin [36]: 33-36)

“Sesungguhnya, pada langit dan bumi benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk orang-orang yang beriman. Dan pada penciptaan kamu dan pada binatang-binatang yang melata yang bertebaran (di muka bumi) terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) untuk kaum yang meyakini; dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya, dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal.” (al-Jaatsiyah [45]: 3-5)

Mendakwahkan Eksistensi Allah kepada Masyarakat Umum

Seperti sudah dipaparkan sebelumnya, Al-Qur`an menampilkan beragam-ragam metode untuk memdakwahkan Islam. Keputusan mengenai metode mana yang akan dipakai terserah pada kebijakan dan kearifan orang beriman. Banyak bagian dari Al-Qur`an merujuk pada cara para Rasul Allah menyampaikan Islam kepada orang per orang. Mereka juga menyebutkan satu penyampaian secara terbuka kepada masyarakat awam secara umum.

Al-Qur`an menyatakan bahwa para utusan Allah menyapa warga masyarakat umum dengan sapaan “umatku”. Salah satu dari ayat-ayat (Qur`an) tentang ini berbunyi,

“Dan (Kami telah mengutus) kepada kaum Aad saudara mereka, Huud. Ia berkata, ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Maka mengapa kamu tidak bertaqwa kepada-Nya?” (al-A’raaf [7]: 65)

Pada umumnya, manusia merasa terhina bila dipengaruhi oleh seseorang yang berbeda pandangan dengan mereka. Sebaliknya, meskipun mereka bisa diyakinkan pada kebenaran pandangan-pandangan itu, mereka tetap cenderung menolak sepenuhnya karena buruk sangka pribadi. Ini sebabnya, orang yang mengetahui adanya persepsi demikian mungkin akan memperoleh hasil yang lebih baik dengan menyapa masyarakat umum ketimbang secara orang per orang, karena reaksi positif dari sejumlah orang mungkin membawa dampak menguntungkan atas orang lain.

“Ibu Kota-Ibu Kota itu”

“Dan tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibu kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami….” (al-Qashash [28]: 59)

Sepanjang sejarah, Allah telah mengutus para rasul-Nya ke ibu kota-ibu kota untuk menyampaikan kepada para penduduknya pesan-pesan-Nya. Ini dapat dijadikan pedoman oleh umat beriman, sebab sebagai satu persyaratan umum adalah lebih efektif memusatkan perhatian pada tempat-tempat utama, lalu mengembangkannya ke kawasan-kawasan lain. Sesungguhnya, Al-Qur`an menegaskan bahwa orang-orang beriman pertama-pertama mengembangkan Islam kepada keluarga mereka. Setelah sanak keluarga merasakan keindahannya, mereka menargetkan pengembangan kepada kelompok yang lebih besar. Inilah cara paling efektif dalam memanfaatkan bakat dakwah mereka dengan sebaik-baiknya.

Sebagaimana diindikasikan oleh Al-Qur`an, para rasul pada umumnya diutus ke kawasan-kawasan padat penduduk di mana “para pemimpin bangsa”, yakni mereka yang umumnya paling keras kepala, menetap. Para utusan Allah pertama-tama menyeru mereka untuk hanya takut kepada Allah dan tentang keindahan moral Islam, sebab para rasul sadar bahwa kecenderungan para pemimpin terhadap Islam akan memberi dampak positif pada banyak orang lain.

Seruan Nabi Musa a.s. kepada Fir’aun adalah satu contoh yang bagus,

“Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa, ‘Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun), ‘Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar kamu takut kepada-Nya.”” (an-Naazi’aat [79]: 15-19)

Kearifbijaksanaan yang terpancar dari ayat-ayat ini sudah bercerita dengan sendirinya: dengan membuktikan kesalahan pandangan dari orang kafir terkemuka akan membuka peluang besar bagi pengikut pemimpin kaum itu untuk menerima kebenaran.

Pengaruh Kekayaan dan Kegemerlapan

Keindahan fisik lingkungan termasuk faktor penting lainnya yang menunjang keberhasilan pendakwah dalam misi menyebarluaskan amanah Allah. Sebetulnya, apakah ini merupakan kehendak atau bukan, berupaya mendirikan satu tempat yang indah sudah merupakan satu hal lumrah dari keinginan dan tekad semua orang beriman untuk mendekati keindahan surga; orang-orang beriman senantiasa berusaha menerapkan pemahaman qur`ani tentang estetika dan seni keindahan pada lingkungan mereka dan sekitarnya. Al-Qur`an mengandung uraian teramat gemerlapan dan menakjubkan tentang puri, taman, sungai, dipan, dan beragam keindahan dekorasi lainnya yang semuanya menggetarkan jiwa manusia. Dengan begitu, orang-orang beriman mengadopsi gaya estetika qur`ani ini.

Lebih jauh, Al-Qur`an memberi perhatian besar terhadap betapa tingginya serapan di lubuk jiwa umat Islam akan dampak positif dari lingkungan megah dan indah. Dengan cara ini, mereka yang baru diperkenalkan pada Islam hendaknya bisa melihat gambaran bentuk surga menyatu di dalam gaya hidup orang-orang beriman dan lingkungan mereka. Ini membawa hati mereka lebih dekat kepada Islam dan, sebagaimana dengan semua aspek lainnya dari Al-Qur`an, mereka dapat meneliti bagaimana konsep qur`ani diamalkan.

Al-Qur`an memberikan kepada kita sebuah contoh yang tersebut dalam kisah Nabi Sulaiman a.s. dan Ratu Saba,

“Dikatakan kepadanya, ‘Masuklah ke dalam istana.’ Maka tatkala dia melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman, ‘Sesungguhnya, ia adalah istana licin terbuat dari kaca.’ Berkatalah Balqis, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.'” (an-Naml [27]: 44)

Setelah mendengar bahwa Ratu Saba dan rakyatnya menyembah matahari, Nabi Sulaiman a.s. menyeru mereka supaya memasrahkan diri kepada Allah dan Islam. Ratu Saba yang mengunjungi istana Nabi Sulaiman a.s. setelah menerima surat beliau, sangat terkesan pada keindahan dan kekayaan yang dilihatnya di sana. Kekagumannya pada kemolekan itu menggiring dirinya untuk memasrahkan diri ke jalan kebenaran.

Ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa lantai istana itu sedemikian tembus pandang sehingga Ratu mengira itu limpahan air, dan karena itu ia menyingkapkan bajunya. Lantai tersebut mengandung unsur kemiripan menakjubkan dengan surga, yang digambarkan Al-Qur`an sebagai sebuah tempat penuh dengan “taman-taman” dengan “sungai-sungai mengalir di bawahnya”, dan meskipun istana itu dibangun oleh manusia, ia memberikan dampak seketika atas mereka yang diserukan Islam. Dengan mengakui bahwa keindahan yang melingkarinya adalah hasil dari kearifbijaksanaan, Balqis menyerahkan dirinya pada keagungan (superiority) Islam.

Lebih dari itu, estetika penampilan suatu tempat dan kebersihannya memberikan rasa lega pada jiwa manusia. Tempat-tempat yang terang benderang, lapang, dan bersih menukilkan satu dekorasi estetika tersendiri yang amat menyentuh pada kedamaian pikiran dari orang-orang beriman, dan secara positif membawa dampak kepada siapa dakwah sedang disampaikan. Di sisi lain, tempat-tempat gelap, suram, dan berantakan dapat menyebalkan setiap orang, meskipun mereka sendiri tidak menyadari kenyataan ini.

Namun, kita harus ingat bahwa Allah membimbing dan menganugerahkan mata hati kepada tiap manusia. Suasana-suasana demikian hanya dapat berfungsi sebagai suatu do’a, sebab semua itu tidak menjamin bahwa manusia akan memperoleh keyakinan akan adanya Allah. Sementara itu, apa yang sebetulnya perlu diindahkan oleh orang-orang beriman adalah berusaha maksimal untuk mendapatkan ridha Allah dan menyeru manusia kepada Islam sebagai satu amal ibadah. Imbalan untuk pengabdian ini, akan secara adil didapatkan manusia di hari kemudian.

Penampilan Fisik

Melalui penampilan fisik, umat beriman memperlihatkan bahwa mereka hidup menurut prinsip-prinsip moral Al-Qur`an. Di dalam Al-Qur`an, ada seruan Allah kepada manusia beriman untuk sepenuhnya memberi perhatian pada raga dan merawatnya. Dengan mematuhi semua rekomendasi dan perintah Allah akan membuat semua insan beriman, mereka yang melaksanakan suruhan-suruhan Al-Qur`an, mendapatkan kesan mendalam di mata sekalian manusia.

Di pihak lain, hanyalah pikiran yang jernih dan terbuka yang mampu memfokuskan perhatian pada subjek tertentu. Oleh sebab itu, makhluk beriman yang menyeru manusia lain kepada Islam haruslah menjauhi apa pun yang dapat membuyarkan perhatian orang-orang tidak beriman, agar mereka dapat memusatkan perhatian pada pesan dan tanda-tanda keberadaan Allah. Penampilan yang tidak necis membuahkan dampak negatif dan tak menyenangkan pada pemirsa/pendengar, sementara juru dakwah yang berserah diri pada Al-Qur`an akan sentiasa menyenangkan pandangan mata. Necisnya penampilan dan kebersihan mereka menumbuhkan rasa kagum, hormat, dan menggugah perhatian.

Penuhi Kebutuhan Manusia

Hal lain yang ditunjuk dalam Al-Qur`an adalah agar makhluk beriman memenuhi kebutuhan mereka yang baru saja diperkenalkan kepada Islam. Ini merupakan kecenderungan alami bagi manusia beriman, karena moralitas qur`ani mengajarkan mereka supaya berbaik hati dan peduli pada sesama meskipun kita sepenuhnya asing bagi mereka.

Surah at-Taubah [9]: 60, “… para mualaf yang dibujuk hatinya…,” menyebutkan bahwa mereka ini termasuk dalam kelompok penerima zakat. Oleh sebab itu, apa pun yang diberikan kepada mereka yang hatinya hendak direbut kepada Islam adalah sejalan dan patuh pada tuntunan Al-Qur`an.

Di pihak lain, memusatkan perhatian pada suatu subjek penting membutuhkan banyak daya tenaga (energy) baik buat pendengar maupun penceramah. Mengekang energi seseorang kepada topik tertentu untuk waktu lama dapat mendatangkan keletihan raga dan mental. Menawarkan sesuatu kepada mereka untuk dimakan atau diminum dapat meningkatkan daya tenaga ke taraf tertentu dan menolong mereka berkonsentrasi.

Keikhlasan

Al-Qur`an menyediakan banyak metode menguntungkan untuk mendakwahkan pesan. Akan tetapi, yang membuat metode-metode dan upaya ini efektif adalah keikhlasan. Pengertian ikhlas menurut Al-Qur`an agak beda dari apa yang dipahami oleh masyarakat yang jahili. Keikhlasan sejati hanya dapat dirasakan apabila mereka yang berceramah yakin pada apa yang diceramahkan. Ketidakikhlasan akan terungkap manakala ucapan tidak sesuai dengan rekomendasi-rekomendasi Allah, dapat diketahui dengan mudah dari sikap bagaimana seseorang bicara.

Di pihak lain, sikap dari mereka yang sungguh-sungguh meyakini kebenaran dari apa yang mereka dakwahkan dan hidup dengannya agak sedikit berbeda. Sebagai contoh, orang yang berkeyakinan kuat adanya akhirat menjelaskan neraka dengan sikap meyakinkan. Nada suara, ekpresi, dan tata bicara mereka memaparkan perasaan mereka sesungguhnya, sehingga menggugah pihak lain menerima kebenaran adanya neraka yang menakutkan itu. Penjelasan oleh mereka yang tidak menguasai unsur eksistensinya, di sisi lain, mungkin menghasilkan dampak negatif pada orang lain. Jadi, nilai-nilai, sikap, dan kehidupan orang-orang ini hendaknya mendukung uraian mereka.

Kita juga perlu ingat bahwa keikhlasan hanya dapat diperoleh melalui keyakinan murni. Allah minta perhatian kita pada ciri sifat dari para utusan-Nya sebagaimana disebutkan di dalam banyak ayat. Sesungguhnya, dengan maksud menyangkal pengaruh seruan yang telah disampaikan para utusan Allah pada jiwa mereka, orang-orang kafir sepanjang sejarah memutarbalikkan semua itu dengan menyebutnya sihir belaka.

Khotbah yang Menentukan

Mendakwahkan pesan secara arif bijaksana, yakni khotbah singkat, padat, dan efektif, adalah wajah lain dari adil yang sama efektifnya dengan keikhlasan. Pidato seperti ini bermakna menjelaskan satu subjek melalui beberapa kata yang memukau, mengutarakan hal-hal terpenting saja, dan menghindari rincian-rincian yang tak ada kaitannya. Al-Qur`an menegaskan pentingnya pidato yang arif bijaksana,

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya, Tuhanmu Dialah yang lebih mngetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (an-Nahl [16]: 125)

Kunci untuk pidato bijaksana adalah keikhlasan. Dari ayat di bawah ini, kita memahami bahwa kearifan tidak dapat dipalsukan. Dan seseorang bisa mendapatkannya hanya dengan Kehendak Allah,

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al-Qur`an dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia….”(al-Baqarah [2]: 269)

Allah menekankan perhatian terhadap pentingnya khotbah yang menentukan, dengan mengatakan itu adalah satu hikmah dari sudut pandang Dia, sebagaimana dapat kita baca di bawah ini,

“Dan setelah cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya (Musa) hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (al-Qashash [28]: 14)

“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya (Dawud) hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.” (Shaad [38]: 20)

“… Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki….” (al-Baqarah [2]: 251)

“… Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.” (an-Nisaa` [4]: 54)

“(Allah berkata), ‘Hai Yahya, ambillah Al-Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak.'” (Maryam [19]: 12)

Nilai-Nilai Estetika dan Seni di Dalam Al-Qur`an

Sudah menjadi hukum alam, jiwa manusia cenderung untuk mendapatkan kesenangan dari benda-benda yang indah dan cantik. Namun, kecenderungan mewujudkan dalam dirinya berkembang sesuai dengan keyakinan agama serta kearifan masing-masing manusia.

Meyakini bahwa Allah adalah pencipta segala keindahan, manusia beriman akan merasa sangat bahagia mendapatkan kecantikan ini dan berupaya sebaik mungkin untuk mensyukuri kemahakuasaan dan keelokan ciptaan-Nya. Kerinduan mereka akan surga menunjang kemampuan untuk menikmati kecantikan. Terlebih lagi, dengan menekuni penggambaran Al-Qur`an tentang siksaan neraka dan membandingkannya akan membantu manusia beriman mensyukuri nilai-nilai estetika, yang memberikan rasa suka cita pada jiwa mereka.

Ayat-ayat Al-Qur`an yang berkaitan dengan surga juga berperan sebagai bimbingan bagi makhluk beriman, karena ayat-ayat itu menguraikan nilai-nilai estetika dan kecantikan yang Allah sudah pilihkan untuk mereka. Inilah bentuk-bentuk kecantikan dan estetika yang menyenangkan Allah. Lebih dari itu, Dia sudah berjanji untuk memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya dengan kemolekan semacamnya kelak di surga. Dalam cahaya tanda-tanda inilah, orang-orang beriman coba menciptakan satu lingkungan seperti yang digambarkan terdapat di surga, untuk mereka nikmati sendiri di dunia ini, sehingga dengan demikian memperoleh pola hidup yang ditandai dengan melimpahnya keindahan.

Allah Menganugerahkan Keindahan

Salah satu anugerah Allah kepada orang-orang beriman di dunia ini adalah barang-barang perhiasan. Allah menciptakan emas dan perak untuk dijadikan perhiasan, mutiara, bahan-bahan pakaian indah bernilai, dan banyak benda lainnya yang disebutkan di dalam Al-Qur`an, semuanya untuk menghibur dan menyenangkan manusia. Keindahan yang akan Allah anugerahkan di surga kepada hamba-hamba-Nya yang sesungguh-sungguhnya tulus ikhlas adalah disanjung,

“Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak…,” (al-Insaan [76]: 21)

Di dalam ayat ini, Allah menekankan perhatian kita pada nilai keindahan sutra dan tenunannya. Sebagaimana ayat yang disebutkan, perhiasan perak adalah salah satu ornamen yang Allah ciptakan untuk umat manusia. Sebagai contoh, gelang-gelang perak banyak disebutkan pada ayat-ayat lain.

Ayat lain menjelaskan keindahan kalung emas dan mutiara,

“Sesungguhnya, Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di surga itu mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang dari emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah sutra.” (al-Hajj [22]: 23)

Allah sudah mengindikasikan bahwa mutiara adalah barang hiasan terkenal yang akan dianugerahkan kepada orang-orang beriman penghuni surga, sebagai pahala.

Imbalan untuk semua keindahan itu, kepada manusia hanya dituntut sikap mensyukuri kepada Allah dan hidup di dunia menurut perintah-perintah-Nya dan menjauhi apa pun larangan-Nya. Mereka yang mematuhinya akan dikaruniai surga dan akan menerima berkah dan keindahan-keindahan tidak terbatas untuk selama-lamanya. Kalau tidak, mereka dibolehkan memanfaatkan untuk sementara segala sesuatu yang tersedia di bumi, yang tak satu pun darinya bakal menolong mereka di hari perhitungan, ketika semua manusia harus menghitung semua perbuatan mereka selama berada di dunia ini. Di akhir penghitungan, mereka ini berhak dijebloskan ke neraka, tempat penyiksaan abadi dan tak tertanggungkan pedihnya.

Dekorasi

Allah, Dia yang telah menciptakan manusia dalam bentuk terindah, juga memberikan ilham kepada mereka agar mereguk kesenangan dari berbagai macam kecantikan. Di antara semua ciptaan, hanya manusia saja yang mendapat iradah mengenal konsep “kecantikan”. Manusia tidak saja menikmati barang-barang cantik, tapi juga berusaha membuatnya.

Melalui sejumlah tanda di dalam Al-Qur`an, Allah memberikan penghargaan kepada estetika, kecantikan, dan kemolekan, dan memberikan dorongan kepada hamba-hamba-Nya untuk menikmati itu semua. Di dalam al-Qur’an Dia menyatakan bahwa karunia-Nya,

“Katakanlah, ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?’ Katakanlah, ‘Semuanya itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja di hari kiamat)….” (al-A’raaf [7]: 32)

Sebagaimana yang disebutkan dalam ayat tersebut, semua kecantikan dan barang apa pun yang menyedapkan di dunia disediakan untuk manusia beriman yang dapat mensyukuri nikmat itu. Sebaliknya, di hari kemudian, banyak benda lainnya yang tak terbandingkan indah dan megahnya akan khusus jadi milik mereka.

Setiap keindahan adalah karya seni milik Allah semata, Pencipta segala sesuatu. Itu sebabnya semua keindahan menakjubkan orang-orang beriman, dan mengapa semua orang beriman mensyukuri Allah atas semua karunia itu, dan makin tambah dekat kepada-Nya. Beberapa rincian berkaitan dengan kehidupan Nabi Sulaiman a.s. mengungkap beberapa isyarat tentang hal ini. Di dalam ayat berikut, Nabi Sulaiman a.s. menjelaskan mengapa beliau menggandrungi kekayaan, kekuasaan, dan kemuliaan,

“Maka ia berkata, ‘Sesungguhnya, aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan.'” (Shaad [38]: 32)

Seperti diperjelas oleh ayat ini, harta milik, kemuliaan, dan kekayaan, yang semuanya mungkin menggiring orang kafir pada kesesatan, hanya diperuntukkan kepada orang beriman agar mensyukuri Allah dan mendapatkan kesenangan-Nya.

Semua hasil karya seni yang dibuat untuk Nabi Sulaiman a.s. menunjukkan seleranya yang tinggi pada seni. Haekal Sulaiman (The Temple of Solomon), yang hanya satu dindingnya yang masih tersisa sampai ke hari ini di Yerusalem, tadinya adalah sebuah istana megah yang disebutkan dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) dan Perjanjian Baru (Injil), Al-Qur`an, serta banyak dokumen sejarah dan gulungan-gulungan catatan. Sebagaimana yang diceritakan Al-Qur`an, tatkala Ratu Saba masuk ke dalam istana itu, dia salah menduga lantainya sebagai sebuah kolam besar, tidak menyadari itu berlapiskan kaca. Ini betul-betul satu karya seni teknik sangat luar biasa cemerlang di masa itu. Setelah dia mengetahui keagungan istana itu, dia takluk pada kearifan, karya seni, dan ketinggian ilmu Nabi Sulaiman serta menyatakan diri masuk ke dalam naungan agama yang seutuhnya yang benar (Islam).

Kisah riwayat Nabi Sulaiman a.s. merupakan satu contoh yang sangat berkesan bagi orang beriman karena ia mengungkapkan kemampuan artistik dan estetika umat Islam. Dalam kurun waktu akhir-akhir ini, kita juga bisa menyaksikan peninggalan dari pemahaman makna seni yang amat brilian, terutama yang dipelihara oleh kekhalifahan Utsmani. Faktor paling penting dibalik tingginya nilai seni kekhalifahan Utsmani adalah ilham yang diperoleh dari Al-Qur`an dan penerapan tanda-tanda tersurat tentang seni yang tertuang di dalam Kitab Suci ini.

Al-Qur`an menyediakan banyak rincian dan contoh mengenai dekorasi dan memberikan banyak petunjuk tentang tata rias. Semuanya tersedia, sampai bagaimana memilih tempat di mana seharusnya sebuah dekorasi interior harus diletakkan.

Ayat-ayat yang menjelaskan wujud surga merujuk pada tanda-tanda semacam itu dan, sebagai tambahan juga memaparkan perhitungan rinci berkenaan dengan lingkungan, untuk membimbing manusia agar mereka mendapatkan tempat-tempat bermukim paling menyenangkan di hamparan dunia ini.

Beberapa unsur dekorasi yang tertera di dalam Al-Qur`an berbunyi seperti berikut.

1. Lambungkan Langit-Langit

“Dan demi Baitul Makmur, dan atap yang ditinggikan (langit).” (ath-Thuur [52]: 4-5)

Dalam keadaan lapang dan luas, tempat-tempat dengan langit-langit melambung memberikan rasa nyaman kepada kalbu manusia. Plafon dengan tatanan demikian juga indah dipandangan mata. Langit-langit rendah, sebaliknya, menimbulkan ketidaknyamanan. Bahwa inilah salah satu bentuk siksaan neraka yang dapat membuat kita bisa lebih mengerti tentang kesengsaraan yang harus dirasakan penghuni Nar (neraka) kelak. Penggambaran Allah ini, bahwa neraka beratap rendah, penuh sesak, dan terkurung, hendaknya dapat meyakinkan kita agar tidak memilih tempat seperti itu di alam dunia ini untuk permukiman kita.

2. Loteng dan Tangga-Tangga Perak

“…Tentulah Kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya.” (az-Zukhruf [43]: 33)

Elemen-elemen dekoratif lainnya yang disebut di dalam Al-Qur`an adalah loteng-loteng perak dan tangga-tangga tinggi dari perak. Allah menganugerahkan semua keindahan ini kepada manusia. Akan tetapi, Dia juga mengingatkan kita bahwa kemegahan-kemegahan ini sesungguhnya perangkap kehidupan di dunia ini dan bahwa rumah kita yang abadi ada di hari kemudian.

3. Pintu-Pintu

“Dan Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan atasnya, Dan (Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas)….” (az-Zukhruf [43]: 34-35)

Ayat ini menarik perhatian kita pada nilai estetika dan seni dari pintu-pintu dan unsur-unsur perhiasan: “pintu-pintu rumah-rumah mereka”. Di luar penggunaan fungsional mereka, pintu-pintu, yang mungkin dari emas, perak, atau kayu berukir, ataupun dipercantik dengan kaca, mungkin dapat dijadikan sebagai benda-benda hiasan di pintu gerbang rumah ataupun pada bagian-bagian dalam rumah. Sesungguhnya, seni arsitektur dan dekorasi Utsmani banyak mengembangkan pola ini, di samping juga menambah-nambahkan pada pintu-pintu bermacam ukuran serta desian pada istana-istana, rumah peristirahatan, dan rumah-rumah lainnya.

4. Tiang-Tiang Tinggi

“Yaitu penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi. Yang belum pernah dibangun (sesuatu kota) seperti itu di negeri-nergeri lain.” (al-Fajr [89]: 7-8)

Sebagaimana kita tahu dari Al-Qur`an, Iram, ibu kota kaum Aad, sangatlah elok bangunannya berkat kemegahan arsitekturnya, terutama tatanan tiang-tiang besar tinggi menjulang. Penyebutan Iram dalam Al-Qur`an adalah untuk menunjukkan adanya perhatian pada nilai tinggi dari keindahan dan sekaligus tampilan bangunan-bangunan tinggi.

5. Dipan-Dipan Berbordir Permata

Al-Qur`an acap menyebut dipan-dipan, menguraikannya sebagai karunia Allah yang dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang Dia senangi,

“…Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan, dan gelas-gelas yang terletak (di dekatnya) dan bantal-bantal sandaran yang tersusun, dan permadani-permadani yang terhampar.” (al-Ghaasyiyah [88]: 13-16)

Dipan-dipan yang menyenangkan dan indah buatannya adalah tempat duduk ideal untuk manusia. Lebih dari itu, perabot rumah ini bisa dipercantik dan dibuat lebih cemerlang. Kita dapat membaca,

“Mereka berada di atas dipan yang bertatahkan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan.” (al-Waaqi’ah [56]: 15-16)

Rasa terhibur yang didapatkan dari dipan-dipan secara khusus direntangkan dalam ayat-ayat berikut,

“Di dalamnya mereka duduk bertelekan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang sangat.” (al-Insaan [76]: 13)

“Sesungguhnya, penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). Mereka dan istri-istri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan.” (Yaasiin [36]: 55-56)

“(yaitu) surga Adn yang pintu-pintunya terbuka bagi mereka, di dalamnya mereka bertelekan….” (Shaad [38]: 50-51)

“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan….” (ath-Thuur [52]: 20)

6. Dipan-Dipan Tinggi dan Ranjang-Ranjang Berhias Sutra

“Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (al-Waaqi’ah [56]: 34)

Dipan-dipan dan ranjang-ranjang yang ditinggikan, elemen-elemen dekoratif di dalam surga memberikan pemandangan lebih luas dibandingkan dengan yang rendah-rendah. Dan pada akhirnya memberikan kelegaan,

“Mereka bertelekan di atas permadani yang di sebelah dalamnya dari sutra. Dan buah-buahan surga dapat dipetik dari dekat. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan [55]: 54-55)

Ayat-ayat ini menarik perhatian kita pada kecantikan penggunaan kain sutra tebal kaya ornamen untuk jok dipan dan seprei ranjang. Sutra nan teramat estetis indahnya, ditambah keelokan desain serta benang pilihan, tentu akan membuat penampilan dipan tambah mengesankan.

7. Bantal-Bantal Hijau

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahmaan [55]: 76-77)

Bantal-bantal adalah keindahan lain yang disebutkan di dalam Al-Qur`an. Di samping bantal, ayat ini juga menunjuk pada pentingnya makna hijau, warna lambang perdamaian yang sudah mendapat pengakuan ilmu modern.

8. Piring-Piring Emas dan Piala-Piala

“Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan.” (az-Zukhruf [43]: 71-72)

Allah memberitahukan pada kita bahwa barang pecah-belah di surga juga punya nilai artistik dan estetika tinggi. Sebagaimana ayat itu mengatakan lebih lanjut, barang-barang ini merupakan karunia “yang hati-hati mereka menginginkannya serta menyenangkan pandangan mata mereka”.

9. Bejana-Bejana Perak dan Piala Kristal

Di samping piring emas, kita juga diberi tahu bahwa piala-piala dari perak dan kristal juga disediakan di surga. Ayat-ayat tentang ini berbunyi,

“Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukir mereka dengan sebaik-baiknya.” (al-Insaan [76]: 15-16)

Mereka yang hidup mengikuti prinsip-prinsip Islam akan diberikan ganjaran pahala berupa hidup kekal di dalam surga dan dengan bermacam-macam karunia yang bakal menyenangkan jiwa mereka. Sesungguhnya, orang-orang beriman akan menempati rumah-rumah peristirahatan dengan kebun-kebun dan dekorasi hiasan yang belum pernah ada di dunia, dan akan disuguhi minuman-minuman yang lezat cita rasanya dalam cangkir-cangkir emas; minuman-minuman itu diambil dari sungai yang mengalir di bawah istana-istana mereka di dalam surga, sebagaimana kita baca,

“Di atas tahta-tahta kebesaran berhadap-hadapan. Diedarkan kepada mereka gelas yang berisi khamar dari sungai yang mengalir.” (ash-Shaaffat [37]: 44-45)

Suguhan-suguhan di dalam Surga tidak bisa dibandingkan dengan apa yang kini tersedia di dunia ini. Namun, Allah menyediakan untuk hamba-hamba-Nya bermacam-macam kesukaan mereka di dunia ini yang mungkin serupa dengan yang ada di surga. Sebagai imbalan untuk karunia-karunia ini, orang-orang beriman hendaklah bersyukur dan menikmati semua itu, dan berterima kasih pada Allah.

Inilah diantara isi kandungan Al-Quran, ini hanya sebahagian sahaja. Banyak lagi rahsia-rahsia Al-Quran yang belum diterokai oleh manusia. Oleh itu, menjadi kewajipan kita untuk betul-betul memahami dan mengkaji Al-Quran yang berada ditangan kita pada hari ini.

SALAM AL-QURAN DARIKU..

Alfaqir Wal Haqir ILALLAH.

SHAMSUL ANUAR AHMAD.

~ oleh ANUAR AHMAD di Mei 10, 2009.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: