MAHASISWA IMPIAN ISLAM 17

9. Cabaran hawa Nafsu

 

Manusia berakal tidak tunduk kepada hawa nafsu

 

RASULULLAH bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya yang berakal itu ialah orang beriman kepada Allah, membenarkan Rasul Allah dan berbuat amalan taat kepada Allah.” – (Hadis riwayat Ibnul Mahbar).
Manusia yang tidak amanah terhadap akal, malah menjalani kehidupan hanya mengikut telunjuk nafsu semata-mata, kedudukan mereka sama seperti binatang, bahkan lebih dahsyat daripada itu.

Firman Allah yang bermaksud: “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk neraka jahanam banyak daripada jin dan manusia, yang mempunyai hati tetapi tidak mahu memahami ayat Allah, dan yang mempunyai mata tetapi tidak mahu melihat bukti keesaan Allah dan yang mempunyai telinga tetapi tidak mahu mendengar ajaran dan nasihat, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang yang lalai.” – (Surah al-A’raf, ayat 179).

Meskipun manusia makhluk paling mulia di sisi Allah, namun nilai kemuliaan seseorang insan itu diukur oleh Allah melalui sejauh mana seseorang itu bertakwa kepada-Nya.

Firman Allah yang bermaksud: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” – (Surah al-Hujurat, ayat 13).

Takwa maknanya takut kepada Allah, iaitu mengelakkan diri daripada kemurkaan Allah dengan cara mematuhi segala perintah dan meninggalkan segala larangan lahir dan batin.

Kepentingan takwa selalu diingatkan oleh khatib ketika khutbah Jumaat dengan memetik ayat al-Quran bermaksud: “… Bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan jangan sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan Islam.” – (Surah Ali Imran, ayat 102).

Orang bertakwa ialah mereka yang beriman kepada Allah, patuh kepada perintah-Nya, melakukan segala amal salih, meninggalkan segala apa yang ditegah dan dilarang, bersedia berkorban kerana Allah, mengamalkan hubungan baik sesama manusia dan makhluk Allah yang lainnya, seterusnya melaksanakan tanggungjawab sebagai khalifah Allah di atas muka bumi ini.

Dalam permulaan ayat Surah al-Baqarah, Allah menerangkan ciri-ciri umum golongan bertakwa iaitu: “Alif, Lam, Mim. Inilah kitab al-Quran yang tidak ada sebarang keraguan mengenainya, yang menjadi petunjuk kepada orang bertakwa. Iaitu orang beriman kepada perkara ghaib dan mendirikan solat, serta membelanjakan sebahagian daripada rezeki yang Kami kurniakan kepada mereka.

“Dan juga orang beriman kepada kitab al-Quran yang diturunkan kepadamu (wahai Muhammad) dan kitab yang diturunkan terdahulu daripadamu, serta mereka yakin akan adanya hari akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk daripada Tuhan mereka, dan merekalah orang berjaya.” – (Surah al-Baqarah, ayat 1 hingga 5).

Mukmin bertakwa bukan saja dicintai Allah, malah akan dipelihara daripada segala macam bencana dan bahaya serta dijamin rezekinya daripada yang halal.

Sesungguhnya, kemuncak kejayaan bagi golongan bertakwa ialah mereka dijanjikan syurga yang penuh kenikmatan oleh Allah.

Inilah matlamat terakhir yang diidam-idamkan oleh makhluk bergelar manusia. Sebaliknya, bagi golongan yang mengingkari perintah Allah atau lebih tepat tidak mahu beriman dan bertakwa kepada Allah, maka mereka dianggap tidak bernilai di sisi-Nya.

Kemuliaan yang ada pada dirinya sebagai manusia terhapus. Kedudukan mereka tidak perlu dihuraikan kerana Allah menjelaskannya dalam firman-Nya bermaksud: “Kemudian Kami kembalikan dia ke taraf makhluk yang paling rendah.” – (Surah at-Tin, ayat 5).

 

HAKIKAT NAFSU DAN AKAL

 

Imam Ahmad Ibnu Muhammad Ibnu ‘Ajibah Al-Hasani di dalam kitab “Iiqodhul Himam”

menjelaskan bahwa sesungguhnya nafsu, akal, qolbu dan ruh itu adalah sesuatu yang satu yang

ada pada diri manusia. Ia hakikatnya adalah “Ruh”, yang terus-menerus berkembang secara

dinamis sesuai dengan proses pembersihan (tashfiyah) dan kenaikan (taroqqiyah) yang terus

berlangsung di dalamnya. Oleh karena itulah Allah SWT menyatakan bahwa beruntunglah orangorang

yang terus-menerus berproses membersihkan ruhnya. “Maka Allah mengilhamkan kepada

ruh itu potensi kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang

mensucikan ruhnya. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” (QS.91.Asy-

Syams:8-10)

 

Nafsu

 

Ketika seorang manusia hari-hari kehidupannya masih dikuasai dan disibukkan oleh

dorongan-dorongan hawa nafsu dan keinginan-keinginan syahwatnya tanpa mempedulikan

apakah hukumnya halal atau haram, maka ruh yang ada di dalam diri orang seperti ini disebut

“Nafsu”. Nafsu adalah derajat ruh yang paling rendah.

 

Jika seorang manusia ruh yang ada didalam dirinya masih derajat nafsu, maka ia tidak

akan berpikir dan peduli mengenai “Hukum Syara’”, halal atau haram, benar atau salah, baik atau

buruk, apalagi pantas atau tidak pantas. Yang ada dalam benak orang seperti ini hanyalah “Saya

ingin” dan “Saya mau”. Bagi “Nafsu” tidak ada urusan dengan maksiat, dosa, siksa apalagi tata

krama. Bahkan resiko dan akibat dari apa yang akan diperbuatnya pun tidak ia pikir dan

pedulikan. Oleh karenanya ciri khas dari perbuatan “Nafsu” itu ujung-ujungnya adalah

malapetaka dan akhirnya adalah penyesalan yang sia-sia.

 

Orang yang ruhnya masih derajat nafsu maka kecenderungannya tidak mau beribadah

dan mengabdi kepada Allah SWT. Ia lebih memilih bertuhan kepada “Hawa nafsu” serta “Syetan”

dan mengabdi kepada keduanya. Allah SWT berfirman :”Terangkanlah kepadaku tentang orang

yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi

pemelihara atasnya?”(QS.25.Al-Furqaan:43). Orang yang bertuhankan hawa nafsu ini

perilakunya bisa lebih nista, lebih memalukan dan lebih sesat daripada binatang. Allah SWT

berfirman :”Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau

memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat

jalannya (dari binatang ternak itu)” (QS.25.Al-Furqaan:44).

 

“Nafsu” yang ada pada diri seorang manusia akan membuat tumpul akal sehatnya, buta

mata hatinya dan tuli telinga nuraninya. Allah SWT berfirman :”Dan sesungguhnya Kami jadikan

untuk isi neraka Jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi

tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) tidak

dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga

(tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti

binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS.7.Al-

A’raaf:179). Pemikiran, perkataan, perbuatan dan aktifitas orang yang ruhnya masih derajat

“Nafsu” ini adalah potret dari orang-orang yang dikalahkan, dihinakan dan dikuasai oleh syaitan.

Allah SWT berfirman :”Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat

Allah. Mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan syaitan itulah

golongan yang merugi.(QS.58.Al-Mujaadilah:19).

 

Berbagai macam perilaku tidak bermoral, kemaksiatan dan tindak kejahatan dengan

segala modus operandinya, penyalahgunaan narkoba, prostisusi, pornografi, pornoaksi serta

pergaulan bebas adalah contoh-contoh nista perilaku yang dilakukan orang-orang yang derajat

ruhnya masih “Nafsu”.

 

Jika manusia manusia derajat ruhnya pada tingkat terendah seperti ini, maka “Cahaya

ruh” pada dirinya masih tertutup. Ia gelap gulita. Oleh karenanya ia tidak dapat membaca

petunjuk-petunjuk Allah dalam hidupnya. Al-Qur’an dan Al-Hadits tidak ada arti baginya. Fatwa

ulama dan nasihat orang-orang shalih tidak akan diterimanya. Dialog dengannya biasanya hanya

membuang waktu sia-sia karena tidak ada kebenaran hakiki yang dapat digali. Hanya kekuatan

yang dapat menghentikan kejahatannya. Kekuatan dhohiriyah dan kekuatan ruhiyah.

 

Akal

 

Ketika seorang manusia walaupun di dalam dirinya masih bergejolak dorongan hawa

nafsu dan syahwat, namun ia mau dan mampu mencegah dan mengendalikan hawa nafsu dan

syahwatnya dengan ikatan-ikatan “Hukum Syara’”, maka “Ruh” yang ada di dalam dirinya telah

naik satu tingkat dari derajat “Nafsu” menjadi “Akal”.

 

Orang yang “Berakal”, di dalam dirinya masih ada kecenderungan serta dorongan hawa

nafsu dan gejolak syahwat. Namun keterikatannya dan ketundukannya kepada “Hukum Syara’”

yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rosulp-Nya membimbingnya untuk dapat mengendalikan

“Godaan & tipu daya” tersebut. Setiap muncul keinginan dan dorongan melakukan suatu, maka ia

akan selalu meneliti terlebih dahulu “Halal” atau “Haram” hukumnya jika dilakukan. Jika ternyata

“Haram”, maka walaupun keinginan sangat tinggi dan hasrat begitu menggebu, maka ia akan

mencegahnya dan segera mengikat “Keinginan Haram” itu dengan “Ikatan Hukum Syara’”.

Mengenai orang-orang yang gigih mengendalikan hawa nafsu ini, Allah SWT berfirman :”Dan

adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan dirinya dari

keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga adalah tempat tinggalnya” (QS.79.An-

Naazi’at:40-41).

 

Orang yang ruhnya sampai pada derajat “Akal” terkadang ia masih tergelincir kepada

perbuatan terlarang, namun ia segera istighfar. Terkadang ia jatuh ke dalam perbuatan maksiat,

namun ia segera bertaubat. Terkadang ia terpeleset kepada kekhilafan dan kesalahan, namun ia

segera sadar dan memperbaiki diri. Saat salah kepada sesama manusia, ia segera minta maaf.

Di waktu berdosa kepada Allah, maka ia segera mohon ampun. Allah SWT berfirman :”Dan

orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat

kepada Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka” (QS.3. Ali ‘Imran:135).

 

Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka” (QS.3. Ali ‘Imran:135).

Ciri khas orang yang ruhnya sudah naik ke derajat “Akal” adalah suka dengan

pengetahun dan gemar menuntut ilmu. Majlis ilmu adalah tempat yang ditujunya. Orang-orang

alim adalah teman-teman pergaulannya. Buku-buku dan literatur adalah koleksinya. Media

komunikasi adalah sahabat-sahabatnya.

 

Ruh yang sudah sampai derajat “Akal” ini sudah mulai “Bercahaya”, namun masih

sedikit. Hal ini dikarenakan jangkauan pandangan dan pandangan akal itu masih terbatasi oleh

dimensi alam ciptaan-ciptaan Allah serta terikat dengan dalil-dalil dan bukti. “Akal” cenderung

hanya mau menerima dan membenarkan sesuatu yang ia temukan faktanya di alam semesta,

ada dalil-dalil yang menunjukkannya dan bukti-bukti yang menguatkannya. Ciri khas “Akal”

adalah segala sesuatu akan ditanyakan “Manakah dalilnya ?” atau “Manakah buktinya ?”.

Apapun yang belum ia dapatkan dalil dan buktinya, maka ia akan cenderung menolaknya.

Walaupun bisa jadi yang ia tolak itu hakikatnya adalah kebenaran.

 

Inilah yang menyebabkan cahaya “Akal” itu masih sedikit. Karena keterbatasan

kemampuan manusia untuk menguasai dalil-dalil dan menemukan bukti-bukti, akan membuatnya

terbatas pula dalam ilmu, iman dan amal. Allah SWT menegaskan berulang dalam AL-Qur’an

bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Megetahui, sedangkan manusia banyak tidak tahunya.

“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Dan bisa jadi kamu menyukai

sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”

(QS.2.Al-Baqarah:216).

 

Orang yang masih pada derajat “Akal” ini, terkadang terhadap sesuatu yang ada dalilnya

saja belum mau menerima, karena ia masih menuntut bukti. Padahal bisa jadi bukti baru bisa

ditemukan manusia ratusan atau ribuan tahun berikutnya. Seperti informasi bahwa “Matahari

berjalan pada garis orbitnya” mengitari pusat edar planet sudah disampaikan oleh Allah SWT di

dalam Al-Qur’an. “Dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang

Dazt Maha Perkasa lagi Maha mengetahui” (QS.36.Yaa Siin:38). Namun bukti mengenai fakta ini

baru ditemukan oleh manusia seribu empat ratusan tahun kemudian. Informasi mengenai proses

penciptaan langit dan bumi juga sudah diberitahukan oleh Allah di dalam Al-Qur’an. “Dan apakah

orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasannya langit dan bumi itu keduanya dahulu

adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya dan dari air Kami jadikan

segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?” (QS.21.Al-

Anbiyaa’:30). Bukti mengenai fakta ini juga baru ditemukan oleh manusia seribu empat ratusan

tahun kemudian.

 

Ini membuktikan bahwa jika manusia hanya mengandalkan “Akal semata”, terkadang

firman Allah saja masih diragukan kebenarannya karena ia belum mendapatkan buktinya.

Padahal bisa jadi bukti baru ditemukan ribuan tahun berikutnya. Termasuk dalam hal

“Penerapan Syari’at Islam” secara kaffah pada seluruh bidang kehidupan ummat adalah “Solusi

terhadap berbagai problem kehidupan ummat saat ini”. Walaupun Allah sudah berulang

menyampaikan firman dan janjinya di dalam Al-Qur’an. Masih ada saja sebagian kaum muslimin

yang meragukan bahkan menolaknya. Sebabnya Karena “Akal” mereka belum menemukan

buktinya, walaupun Allah sudah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke

dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya

syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS.2.Al-Baqarah:208). Juga firman Allah :”Jikalau

sekiranya penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan membuka untuk

mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami

siksa mereka disebabkan perbuatan yang mereka lalukan (QS.7.Al-A’raaf:96).

 

SYAITAN BER’MOU’ DENGAN NAFSU

Hakikat bahawa syaitan adalah musuh manusia memang telah diketahui umum. Semua orang mengetahui bahawa syaitan adalah musuh utama mereka. Tetapi tidak ramai mengetauhi bahawa musuh paling ketat adalah di dalam diri mereka sendiri. Musuh itu ialah NAFSU. Nafsu jahat yang berada di dalam diri manusia menyamai dengan 70 syaitan.

Nafsu ada dua jenis, iaitu nafsu yang baik dan jahat. Nafsu yang baik seteru syaitan manakala nafsu jahat kawan syaitan. Oleh itu hati kita perlu dibersihkan supaya tidak dipengaruhi oleh nafsu yang jahat. 

Hati sebenarnya adalah ‘rumah Allah’ dalam ertikata tempat kita mengingati Allah. Kenapa hati kita jarang mengingati Allah sama ada secara zikir lisan atau hati. Ini tidak lain berpunca daripada pengaruh jahat Syaitan dibantu oleh musuh dalam selimut – nafsu kita.

Lantaran perjanjian MOU antara syaitan dan nafsu untuk menjerumuskan manusia ke dalam neraka, maka kita sering diabaikan dengan perkara-perkara lain selain mengingati Allah. Syaitan telah bersumpah dari azali lagi untuk merosakkan seluruh manusia. 

Syaitan yang menjadi tentera Iblis sentiasa mencari peluang untuk menyesatkan manusia. Kita tidak nampak dia tetapi syaitan nampak kita. Susah bagi kita memerangi musuh yang kita tidak nampak. Syaitan ada di mana-mana. Bilangannya juga banyak. 

Bagaimana hendak mempertahankan diri dari serangan iblis yang kita tidak nampak. Walaupun kita tidak nampak syaitan, tapi kita mempunyai Allah untuk meminta perlindungan dari gangguan syaitan yang kena rejam. Syaitan takut orang yang banyak mengingat Allah.

Oleh itu, senjata ampuh untuk melawan syaitan ialah dengan cara mengingat Allah.

Mengendalikan Amarah

 

Hikam :

Dan bergeraklah menuju ampunan Allah yang memiliki surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang dijanjikan untuk orang-orang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun di waktu sempit dan orang-orang yang suka menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang, Allah menunjuki orang-orang yang suka berbuat kebajikan.

 

Marah itu dapat merusak iman, seperti pahitnya jadam merusak manisnya madu. Tidaklah dikatakan pemberani karena seseorang cepat meluapkan amarahnya. Seorang pemberani adalah orang yang dapat menguasai diri dan hawa nafsunya ketika dia marah.

 

Dari Abu Hurairah, bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: “Berilah nasehat kepadaku, Rasulullah bersabda janganlah kamu marah lalu beliau mengulanginya janganlah kamu marah.”

 

Amarah tidak mutlak seratus persen terlarang karena amarah itu bagian dari karunia Allah swt. Yang harus kita ketahui amarah bagaimana yang bisa membawa barokah dan amarah bagaimana yang bisa mendatangkan musibah.

 

Menurut Rasulullah marah itu seperti jadam yang merusak manisnya madu. Sekuat apapun keimanan seseorang kalau dia pemarah bisa rusak keimannya.

 

Ada orang yang lambat marahnya, lambat redanya dan lama bermusuhannya ini termasuk marah yang jelek. Ada juga orang yang cepat marah cepat juga redanya, ini termasuk marah yang kurang bagus. Ada juga orang yang cepat marah dan lambat redanya ini termasuk marah yang paling jelek. Dan yang paling bagus adalah lambat marahnya cepat redanya

 

Berbahagialah bagi orang yang punya kesadaran untuk menahan amarahnya, bukan tidak boleh marah tapi tahan sekuat-kuatnya. Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat ramah, sopan kepada kita, makin banyak harapan kita kepada orang makin berpeluang kita sakit hati, jadi kita tidak bisa memaksa orang lain bersikap seperti yang kita inginkan. Yang harus kita usahakan, kita harus bisa menyikapi orang lain dengan sikap terbaik, apapun yang mereka lakukan.

 

Jadi kalau ada orang yang marah jangan ditentang tapi diterima, bukannya membenarkan kemarahan tapi memahaminya untuk damai. Dengan adanya amarah kita bela keluarga kita, dengan adanya amarah kita bela agama dan dengan adanya amarah kita bela orang lemah.

 

Rasulullah marah pada saat yang tepat dengan alasan yang tepat hasilnya manfaat. Seperti pada saat pembagian harta setelah perang Hunaim berakhir. Kaum anshor menyebut Rasul tidak adil. Rasul marah dan berkata: “Jika Allah dan rasulnya tidak adil maka siapa lagi yang adil. Marahnya Rasul singkat, punya makna, mendalam dan tidak meyakiti siapapun tapi membangkitkan kesadaran. Yang paling penting kalau kita marah orang bisa berubah menjadi lebih baik, tanpa terluka dan tanpa kita berperilaku dzalim.

 

Menahan amarah adalah dengan cara, banyak istigfar banyak membaca taudz, berwudhu atau pindah dari tempat tersebut. Jangan biarkan kita berada di tempat yang memancing kemarahan dan jika kita sudah marah sebaiknya kita bertaubat kepada Allah swt.

 

 

~ oleh ANUAR AHMAD di Julai 10, 2009.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: