MAHASISWA IMPIAN ISLAM 2

SIFAT-SIFAT MAHASISWA YANG DIIMPIKAN OLEH ISLAM

 

1. Mempunyai kekuatan Dan Kefahaman Aqidah Islamiah.

 

Aqidah (العقيدة) dari segi bahasa (etimologis) berasal dari Bahasa Arab (عَقَدَ) yang bermakna ‘ikatan’ atau ‘sangkutan’ atau menyimpulkan sesuatu.

Menurut istilah (terminologis) ‘aqidah’ bererti ‘kepercayaan’, ‘keyakinan’ atau ‘keimanan’ yang mantap dan tidak mudah terurai oleh pengaruh mana pun sama ada dari dalam atau dari luar diri seseorang.

Aqidah Islamiyah adalah Iman kepada Allah SWT, Malaikat-MalaikatNya, Kitab-KitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Kiamat, Qada dan Qadar (baik buruknya) dari Allah SWT. Makna Iman adalah pembenaran secara pasti (tashdiq al-jazim) sesuai dengan kenyataan berdasarkan dalil. Jika pembenaran saja tanpa disertai dalil tidak digolongkan Iman, kerana tidak termasuk pembenaran yang pasti kecuali apabila bersumber dari dalil. Jika tidak disertai dalil maka tidak ada kepastian.

Jadi, kalau cuma pembenaran saja terhadap suatu berita tidak termasuk Iman. Berdasarkan hal ini pembenaran harus berdasarkan dalil agar menjadi bersifat pasti, atau agar tergolong Iman. Ini bererti adanya dalil terhadap segala sesuatu yang dituntut untuk diimani adalah suatu hal yang pasti agar pembenaran terhadap sesuatu tadi tergolong Iman. Maka adanya dalil merupakan syarat utama adanya keimanan, tanpa melihat lagi apakah hal itu sahih (benar) atau fasid (rosak).[1]

Dalil Aqidah Islamiyah itu ada dua macam, iaitu :-

  1. Dalil Aqli (menggunakan akal).
  2. Dalil Naqli (dari Al-Quran dan Hadis).

Yang menentukan apakah dalil itu aqli atau naqli adalah fakta dari permasalahan yang ditunjukkan untuk diimani. Apabila permasalahannya adalah fakta yang boleh diindera maka dipastikan dalilnya aqli bukan naqli. Namun jika permasalahannya tidak dapat diindera maka dalilnya adalah naqli. Dalil naqli itu sendiri diperoleh dari perkara yang boleh diindera. Maksudnya keberadaannya sebagai dalil tercakup didalam perkara yang dapat diindera. Kerana itu dalil naqli digolongkan sebagai dalil yang layak untuk diimani tergantung pada dalil aqli dalam menetapkannya sebagai dalil.

  • Allah SWT – Orang yang mendalami perkara yang dituntut akidah Islam untuk diimani akan menjumpai bahawa Iman kepada (wujud) Allah SWT dalilnya adalah aqli. Alasannya perkara tersebut – iaitu adanya al-Khaliq (Maha Pencipta) bagi segala yang ada – dapat dijangkau dengan panca indera.
  • MalaikatIman terhadap (keberadaan) Malaikat-Malaikat dalilnya adalah naqli. Alasannya keberadaan Malaikat tidak dapat dijangkau indera. Malaikat tidak boleh dijangkau zatnya dan tidak boleh dijangkau dengan apapun yang menunjukkan atas (keberadaan)nya.
  • Kitab-KitabIman terhadap Kitab-Kitab Allah SWT dapat dihuraikan sebagai berikut. Jika yang dimaksud adalah Iman terhadap Al-Quran maka dalilnya aqli, kerana Al-Quran dapat diindera dan dijangkau. Demikian pula kemukjizatan Al-Quran dapat diindera sepanjang zaman. Tetapi jika yang dimaksud adalah iman terhadap kitab-kitab selain Al-Quran, seperti Taurat, Injil dan Zabur, maka dalilnya adalah naqli. Alasannya bahawa Kitab-Kitab ini adalah dari sisi Allah SWT tidak dapat dijangkau (keberadaannya) sepanjang zaman. Kitab-Kitab tersebut adalah dari sisi Allah SWT dan dapat dijangkau keberadaanya tatkala ada Rasul yang membawanya sebagai mukjizat. Kemukjizatannya berhenti saat waktunya berakhir. Jadi, mukjizat tersebut tidak boleh dijangkau oleh orang-orang (pada masa) setelahnya. Namun sampai kepada kita berupa berita yang mengatakan bahawa kitab tersebut berasal dari Allah SWT dan diturunkan kepada Rasul. Kerana itu dalilnya naqli bukan aqli, kerana akal – di setiap zaman – tidak mampu menjangkau bahawa kitab itu adalah kalam Allah SWT dan akal tidak mampu mengindera kemukjizatannya.
  • Rasul-Rasul – Begitu pula halnya Iman terhadap para Rasul. Iman terhadap Rasul (Nabi Muhammad s.a.w.) dalilnya aqli, kerana pengetahuan akan Al-Quran sebagai kalam Allah dan ia dibawa oleh Rasul (Nabi Muhammad s.a.w.) adalah sesuatu yang dapat diindera. Dengan mengindera Al-Quran dapat diketahui bahawa Muhammad itu Rasulullah. Hal itu dapat dijumpai sepanjang zaman dan setiap generasi. Sedangkan Iman terhadap para Nabi dalilnya adalah naqli, kerana dalil (bukti) kenabian para Nabi –iaitu Mukjizat-Mukjizat mereka- tidak dapat diindera kecuali oleh orang-orang yang sezaman dengan mereka. Bagi orang-orang yang datang setelah mereka hingga zaman sekarang bahkan sampai kiamat pun, mereka tidak menjumpai mukjizat tersebut. Bagi seseorang tidak ada bukti yang dapat diindera atas kenabiannya. Kerana itu bukti atas kenabiannya bukan dengan dalil aqli melainkan dengan dalil naqli. Lain lagi bukti atas kenabian (Nabi Muhammad s.a.w.) yang berupa mukjizat beliau. Mukjizat tersebut (selalu) ada dan dapat diindera, iaitu Al-Quran. Jadi dalilnya adalah aqli.
  • Hari Kiamat – Dalil Hari Kiamat adalah naqli, kerana Hari Kiamat tidak dapat diindera, lagi pula tidak ada satu pun perkara yang dapat diindera yang menunjukkan tentang Hari Kiamat. Dengan demikian tidak terdapat (satu) dalil aqli pun untuk hari kiamat. Dalilnya adalah naqli.
  • Qada dan QadarQada dan Qadar dalilnya aqli, kerana Qada adalah perbuatan manusia yang dilakukannya atau yang menimpanya (dan tidak dapat ditolak). Ia adalah sesuatu yang dapat diindera maka dalilnya adalah aqli. Qadar adalah khasiat sesuatu yang dimunculkan (dimanfaatkan) oleh manusia, seperti kemampuan membakar yang ada pada api, kemampuan memotong yang ada pada pisau. Khasiat ini adalah sesuatu yang dapat diindera, maka dalil untuk perkara Qadar adalah aqli. [2]

 

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah : bahwasanya iman itu perkataan, perbuatan dan keyakinan yang bisa bertambah dengan keta’atan dan berkurang dengan kema’shiyatan, maka iman itu bukan hanya perkataan dan perbuatan tanpa keyakinan sebab yang demikian itu merupakan keimanan kaum munafiq, dan bukan pula iman itu hanya sekedar ma’rifah (mengetahui) dan meyakini tanpa ikrar dan amal sebab yang demikian itu merupakan keimanan orang-orang kafir yang menolak kebenaran. Allah berfirman.

“Artinya : Dan mereka mengingkarinya karena kedzoliman dan kesombongan (mereka), padahal hati-hati mereka meyakini kebenarannya, maka lihatlah kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan itu”.[3]

“Artinya : ……. karena sebenarnya mereka bukan mendustakanmu, akan tetapi orang-orang yang dzolim itu menentang ayat-ayat Allah”.[4]

“Artinya : Dan kaum ‘Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu kehancuran tempat-tempat tinggal mereka. Dan syetan menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka sehingga menghalangi mereka dari jalan Allah padahal mereka adalah orang-orang yang berpandangan tajam”[5]

Bukan pula iman itu hanya suatu keyakinan dalam hati atau perkataan dan keyakinan tanpa amal perbuatan karena yang demikian adalah keimanan golongan Murji’ah ; Allah seringkali menyebut amal perbuatan termasuk iman sebagaimana tersebut dalam firman-Nya.

“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah mereka yang apabila ia disebut nama Allah tergetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat Allah bertambahlah imannya dan kepada Allahlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat, dan yang menafkahkan apa-apa yang telah dikaruniakan kepada mereka. Merekalah orang-orang mu’min yang sebenarnya …” ([6]).

“Artinya : Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian”[7]

Dan diantara prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bahwasanya mereka tidak mengkafirkan seorangpun dari kaum muslimin kecuali apabila dia melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya. Adapun perbuatan dosa besar selain syirik dan tidak ada dalil yang menghukumi pelakunya sebagai kafir. Misalnya meninggalkan shalat karena malas, maka pelaku (dosa besar tersebut) tidak dihukumi kafir akan tetapi dihukumi fasiq dan imannya tidak sempurna. Apabila dia mati sedang dia belum bertaubat maka dia berada dalam kehendak Allah. Jika Dia berkehendak Dia akan mengampuninya, namun si pelaku tidak kekal di neraka, telah berfirman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa-dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya ..[8].”

Dan madzhab Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam masalah ini berada di tengah-tengah antara Khawarij yang mengkafirkan orang-orang yang melakukan dosa besar walau bukan termasuk syirik dan Murji’ah yang mengatakan si pelaku dosa besar sebagai mu’min sempurna imannya, dan mereka mengatakan pula tidak berarti suatu dosa/ma’shiyat dengan adanya iman sebagaimana tak berartinya suatu perbuatan ta’at dengan adanya kekafiran.

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah wajibnya ta’at kepada pemimpin kaum muslimin selama mereka tidak memerintahkan untuk berbuat kema’skshiyatan, apabila mereka memerintahkan perbuatan ma’shiyat, dikala itulah kita dilarang untuk menta’atinya namun tetap wajib ta’at dalam kebenaran lainnya, sebagaimana firman Allah Ta’ala.

“Artinya : Hai orang-orang yang beriman, ta’atlah kamu kepada Allah dan ta’atlah kepada Rasul serta para pemimpin diantara kalian …” [9]

Dan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Artinya : Dan aku berwasiat kepada kalian agar kalian bertaqwa kepada Allah dan mendengar dan ta’at walaupun yang memimpin kalian seorang hamba”.(Telah terdahulu takhrijnya, merupakan potongan hadits ‘Irbadh bin Sariyah tentang nasihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya).

Dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandang bahwa ma’shiyat kepada seorang amir yang muslim itu merupakan ma’shiyat kepada Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabdanya.

“Artinya : Barangsiapa yang ta’at kepada amir (yang muslim) maka dia ta’at kepadaku dan barangsiapa yang ma’shiyat kepada amir maka dia ma’shiyat kepadaku”[10].

Demikian pula, Ahlus Sunnah wal Jama’ah-pun memandang bolehnya shalat dan berjihad di belakang para amir dan menasehati serta medo’akan mereka untuk kebaikan dan keistiqomahan.

Dan diantara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah bersihnya hati dan mulut mereka terhadap para sahabat Rasul Radhiyallahu ‘anhum sebagaimana hal ini telah digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala ketika mengkisahkan Muhajirin dan Anshar dan pujian-pujian terhadap mereka.

“Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka mengatakan : Ya Allah, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kebencian kepada orang-orang yang beriman : Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. ([11]).

Dan sesuai dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Janganlah kamu sekali-kali mencela sahabat-sahabatku, maka demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya, kalau seandainya salah seorang diantara kalian menginfakkan emas sebesar gunung uhud, niscaya tidak akan mencapai segenggam kebaikan salah seorang diantara mereka tidak juga setengahnya”[12].

Berlainan dengan sikap orang-orang ahlul bid’ah baik dari kalangan Rafidhoh maupun Khawarij yang mencela dan meremehkan keutamaan para sahabat.

Ahlus Sunnah memandang bahwa para khalifah setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakar, kemudian Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhumajma’in. Barangsiapa yang mencela salah satu khalifah diantara mereka, maka dia lebih sesat daripada keledai karena bertentangan dengan nash dan ijma atas kekhalifahan mereka dalam silsilah seperti ini[13].

 

Aqidah Islam.

 

Kita kehendaki aqidah Islam yang sahih menurut aqidah as salafus salih,  aqidah para sahabat Rasulullah s.a.w dan para pengikut mereka, yang jauh dari bida’ah dan khurafat karut marut. Aqidah yang telah membentuk generasi Muslim yang pertama, aqidah inilah yang menguasai perasaan dan pemikiran mereka dan menguasai segenap urusan hidup mereka, memancarkan  kemampuan amal yang sunggah-sungguh di dalam diri mereka. Aqidah tauhid yang sejati ini memenuhi hati makhlukNya dengan nur iman yang dengannya  dia berjalan di atas sirat al-mustaqim:

 

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat  berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang  keadaannya berada di dalam gelap gelita yang sekali-kali tidak dapat  keluar daripadanya?” (Al-An’aam:122)

 

Kita menghendaki pendukung aqidah yang selamat sejahtera, menyedari  bahawa dia adalah suatu yang agung di dalam hidup ini, menginsafi bahawa  dia mempunyai satu risalah yang penting, bahawa dia hidup dengannya dan  hidup kerananya, dirinya bukanlah barang yang remeh dan terbiar seperti  seekor kambing ataupun persis satu alat akan tetapi dia merasai dirinya  kuat dan mulia kerana dia bersandar kepada Allah yang Maha Kuat dan Maha  Perkasa. Apabila kita memperkatakan aqidah tauhid di sini, bukanlah ilmu  tauhid yang membawa pendukungnya hanya berkisar di daerah ilmu kalam dan  perdebatan melulu. Semoga Allah memberi berkat kepada pujangga Iqbal  tatkala berkata: “Tauhid itu dahulu satu kekuatan di antara manusia.  Tetapi sekarang telah menjadi tauhid ilmu kalam.”

 

Kita menghendaki pendukung aqidah yang selamat sejahtera, yang beriman  kepada Allah, kepada malaikat, kepada rasul-rasul Allah, kepada hari  Akhirat dan beriman kepada qadha’ dan qadar, baik buruknya dari Allah.

 

Iman yang teguh dan tidak goncang apabila berhadapan dengan apapun tekanan dan pengabuian mata yang membawa keraguan.

 

Kita menghendaki aqidah salimah yang memberikan kepada pendukungnya hati  yang mukmin yang mencintai Allah s.w.t sama ada di waktu rahsia dan  terang, di waktu marah dan reda, di segala keadaan, kerana semata-mata  berharap kepada rahmat kurnia Allah dan redhaNya, kerana takutkan murka  Allah dan azabNya.

 

Kita menghendaki laki-laki aqidah yang menimbang segala urusan hidup di  sekitarnya dengan timbangan rabbaniah. Lantaran itu pandangan kepada  dunia dengan segala apa yang ada padanya adalah merupakan pandangan  Islamiah yang sahih. Islam yang benar dan tidak timbul daripadanya  sepatah perkataan, suatu perbuatan, suatu gerakan atau diam kecuali dari  aqidah Islam dan sesuai dengan syariat Islam, ajaran Islam dan adab-adab  Islam.

 

Kita menghendaki laki-laki aqidah yang mengutamakan Allah di atas  segala-gala yang lain daripadaNya lalu dia menyerahkan segala hartanya,  waktunya, pemikirannya, usahanya, jiwanya dan segala apa yang ada  padanya kepada dakwah Islam. Dia terus menerus bersabar dan berkorban  pada jalan Allah kerana mengharap keredhaan Allah.

 

Kita menghendaki laki-laki aqidah yang berbangga dengan saudaranya, yang  bersungguh-sungguh membawa kebaikan kepada saudaranya dan menolong  saudaranya dan mencintai saudaranya, yang memberikan pada saudaranya apa  yang paling disukainya bahkan mengutamakan saudaranya dari dirinya,  serta memelihara kehormatan saudaranya. Tidak membiarkan saudaranya,  tidak mengecewakan saudaranya dan tidak mendedahkannya pada bahaya.

 

Kita menghendaki aqidah Islamiah yang menjadikan pendukungnya merasai  tanggungjawabnya terhadap Islam, terhadap saudara-saudaranya sendiri. Dia tidak akan merasa senang dan tenteram hatinya sehinggalah dia  melaksanakan tanggungjawabnya dengan segala kemampuannya terhadap  dakwahnya, dakwah Islam[14].

 

Ketahuilah Islam ialah satu agama yang berteraskan aqidah  atau keyakinan yang luhur kepada Allah yang maha Esa, kepada malaikat, para rasul, kitab-kitab, adanya hari qiamat, dan kepercayaan kepada Qada’ dan Qadar yang telah ditentukan oleh Allah Taala.

 

Hasil dari keyakinan ini, akan membawa kepada lahirnya kesedaran  dan kesanggupan untuk menunaikan segala kewajipan yang telah ditetapkan Allah dan menjauhi segala larangan dan tegahan Nya.

 

Maka dalam kehidupan kita dalam era yang penuh mencabar ini, amat lah perlu bagi kita memastikan agar aqidah diri kita dan juga keluarga kita serta masyarakat Islam secara keseluruhannya tidak tergadai dalam apa jua keadaan sekalipun.

Oleh itu sebagai seorang Muslim yang beriman, dalam kesibukan kita sama ada sebagai seorang pelajar atau pun sebagai seorang pekerja, kita seharusnya tidak melupakan peranan kita dalam mengukuhkan aqidah dalam diri kita.

 

Sebagai ibu bapa pula, hendaklah kita perlu mendidik anak kita mengenal Allah dan usaha menanamkan aqidah yang kukuh selain dari menitikberatkan ilmu yang lain.

 

Tiada gunanya jika kita cemerlang dalam pendidikan atau mempunyai kerjaya yang hebat, jika kita tidak mempunyai keimanan yang mendalam terhadap Allah sehingga kita mengabaikan pula perintah atau melakukan perkara-perkara yang dilarang dan dibenci oleh Allah. 

 

Jika kita imbas kembali sejarah dakwah Rasulullah saw semasa beliau di Mekah, perkara pertama sekali yang dilakukan oleh baginda kepada para sahabat nya sebelum diajarkan tentang syariat-syariat Allah ialah dengan mendidik para sahabat akan perkara-perkara  yang bersangkutan dengan aqidah dan keimanan. Perkara ini berterusan sehinggalah aqidah para sahabat mantap dan kukuh sehingga mudah menerima selepas itu apa sahaja perkara yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul Nya.

Di sini secara jelas menunjukkan bahawa usaha untuk  memantapkan kualiti ummah, terlebih dahulu perlu diusahakan ke arah kemantapan keimanan yang berlandaskan kepada aqidah yang benar, apabila sudah mantapnya aqidah maka mantap pula lah keimanan seseorang. Manakala tabiat tidak menitik beratkan aqidah, akan menyebabkan manusia berada dalam keadaan iman yang rapuh dan terdedah pula kepada kelekaan untuk tidak melakukan segala perintah dan mengabaikan segala larangan Allah.

Maka selepas kita mendengarkan akan kepentingan pengukuhan aqidah dalam diri. Maka timbul pula persoalan, bagaimana pula caranya untuk kita menanamkan aqidah yang kukuh kepada diri kita, keluarga dan juga masyarakat ?

 

Bagi menanamkan aqidah yang kukuh dalam diri, sebenarnya tiada mempunyai jalan pintas.

 

Pertama seseorang itu perlu berusaha mempelajari perkara berkaitan dengan ketauhidan dan keimanan bermula daripada mengenal Allah sehinggalah kepada kepercayaan terhadap hari akhirat dan juga qada’ dan qadar.

Kemudian untuk mengukuhkan aqidah kita perlu melakukan kewajipan-kewajipan yang telah diperintahkan seperti solat, zakat, puasa dan menunaikan haji jika berkemampuan.

 

Bukan sahaja menunaikan kewajipan, seseorang yang ingin menanamkan aqidah mesti tahu perkara-perkara apa yang dilarang oleh Allah dan RasulNya agar dia dapat menghidarinya, seperti berzina, meminum arak, berjudi, menderhaka pada ibu bapa, mengabaikan tanggungjawab, menyebarkan fitnah dan sebagainya

 

Oleh itu, jika kita sibuk dengan tugasan seharian, tidak kira sebagai seorang pelajar atau pekerja, maka kita tidak boleh tidak, perlu memperuntukkan masa untuk mempelajari perkara ini.

 

Carilah guru yang bertauliah. Guru-guru yang diiktiraf, dan janganlah hadkan pada satu guru sahaja. Akan tetapi belajarlah dari banyak guru. Dan pertingkatkan ilmu tersebut dengan banyak membaca serta bertanya kepada guru-guru akan perkara-perkara yang tidak difahami.

Mudah-mudahan dengan pengukuhan aqidah dalam diri kita dan juga masyarakat secara umumnya, akan dapat membantu kita mewujudkan masyarakat Islam yang bertaqwa serta beramal soleh.  Seterusnya dengan kemantapan aqidah ini akan membentuk kita menjadi masyarakat Islam yang cemerlang yang mampu hidup di dalam arus pemodenan ini[15].

(Perkara-perkara Yang Menyebabkan keluar dari Islam)

Diwajibkan keatas setiap orang Islam menjaga ^aqidahnya di dalam Islam dan melindungi dirinya dari apa-apa yang memusnahkan(merosakkan), membatalkan, dan memutuskan ^aqidahnya, ini dinamakan sebagai keluar dari Islam (Riddah); kita memohon perlindungan Allah ta^ala darinya.

 

Makna dari apa yang telah Imam an-Nawawiyy dan Imam-imam yang lain perkatakan adalah:   Riddah adalah jenis kekufuran yang paling dibenci”

 

Sesungguhnya telah menjadi satu kebiasaan pada zaman ini dimana seseorang itu dengan secara lalainya menuturkan perkataan-perkataan yang mana membawa mereka keluar dari Islam; mereka tidak menyangka dengan menuturkan perkataan-perkataan itu boleh menjadikan mereka kafir.

 

Ini disokong oleh hadith :

Bermaksud<<Sesungguhnya seseorang itu berkata ia dengan kalimat yang tidak disangkakannya merbahaya, yang mana menyebabkannya menjunam jatuh 70 tahun ke dalam neraka>>.

Yakni, menjunam jatuh 70 tahun ke dasar neraka yang dikhaskan untuk orang kafir.  Hadith ini diriwayatkan oleh At -Tarmizi (hasan) dengan makna yang sama dari hadith yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim

Hadith ini membuktikan bahawa seseorang itu akan menjadi kafir apabila menuturkan perkataan kufurnya walaupun dia:

  • Tidak tahu(jahil) tentang hukumnya
  • Tidak suka apa yang dituturkannya ( contoh: secara marah atau berjenaka)
  • Tidak percaya apa yang dituturkannya (contoh: secara berjenaka)

Yakni, tidak semestinya dalam keadaan tenang sahaja seseorang itu akan menjadi murtad apabila menuturkan perkataan kufur.  Ini adalah kerana berada di dalam keadaan tenang bukanlah menjadi syarat untuk jatuh murtad.

 

▲–Didalam keadaan marah pun seseorang itu akan jatuh murtad jika dia menuturkan perkataan kufur.  Buktinya sebagaimana yang Imam an-Nawawiyy dan yang lain katakan–

 

Imam an-Nawawiyy berkata yang bermaksud;

 

“Jika seorang lelaki marah pada anaknya atau hambanya dan memukulnya dengan teruk, kemudian datang seorang yang lain bertanya kepadanya, ‘kenapa engkau melakukan ini? Tidakkah engkau seorang Islam?’ Dengan sengaja dia menjawab, ‘tidak!’ , maka dia telah menjadi murtad/kafir.”

 

Ini juga telah diperkatakan oleh ulama dari mazhab Hanafiyy dan juga yang lain.[16]

 

3  Kategori Riddah:

(sebagaimana yang dikategorikan oleh An-Nawawiyy, Shafi^iyy, Hanafiyy dan selainnya)

 

●Percaya didalam hati

●Perbuatan oleh anggota badan

●Perkataan dituturkan dengan lidah

 

Setiap kategori tersebut mempunyai banyak cabangnya lagi.

 

1) Percaya didalam hati

 

Contoh-contohnya adalah:

a)       ragu-ragu pada Allah atau RasulNya atau Al-Qur’an atau Hari Akhirat atau Syurga atau Neraka atau ganjaranNya atau balasanNya atau perkara yang berkaitan/bersamaan yang mana telah ada ijma^ mengenainya.

 

b)       ??percaya dunia ini kekal pada jisim dan unsurnya atau cuma jisimnya sahaja.

 

c)       menafikan salah satu sifat dari sifat-sifat Allah yang diketahui telah ada ijma^ – seperti Maha Mengetahui segalanya.

 

d)       menyifati Allah dari apa yang diketahui oleh ulama tidak menepatiNya  seperti mempunyai jasad.

 

e)       menghalalkan apa yang diketahui dikalangan umat Islam sebagai haram seperti zina, liwat, membunuh, mencuri, merompak atau menyamun.

 

f)        mengharamkan apa yang diketahui dikalangan umat Islam sebagai halal seperti berjual beli atau nikah.

g)       menafikan kewajipan pada perkara yang diketahui dikalangan umat Islam sebagai wajib hukumnya seperti solat 5 waktu atau salah satu daripada sujud, zakat, puasa, haji atau wudu’.

 

h)       mewajibkan apa yang diketahui dikalangan umat Islam sebagai tidak wajib hukumnya.

 

i)         ??menafikan kesahihan apa yang diketahui dikalangan umat Islam sebagai sah hukumnya.

 

j)        bercadang menjadi kafir dimasa akan datang.

 

k)       bercadang melakukan apa-apa telah dinyatakan diatas.

 

l)         teragak-agak atau ragu-ragu samada ingin menjadi kafir atau tidak ( ini tidak termasuk khuatir atau fikiran yang yang datang dengan sendiri tanpa disengajakan).

 

m)     menolak sahabat Saidina Abu Bakar (semoga Allah meredainya).

 

n)       menolak salah satu daripada ajaran yang diketahui dikalangan umat Islam yang disampaikan oleh rasul atau nabi.

 

  • o)       menafikan kerana berdegil satu huruf didalam Al-Qur’an yang diketahui dikalangan umat Islam sebagai sebahagian darinya.

 

p)       menambahkan kerana berdegil satu huruf pada Al-Qur’an yang diketahui dikalangan umat Islam tiada didalamnya.

 

q)       mendustakan rasul atau mencela sifat-sifatnya.

 

r)        mempersendakan nama rasul dengan niat untuk menghina atau merendahkan tarafnya.

 

s)        percaya kepada kemungkinan akan adanya nabi lagi selepas Nabi Muhammad sallallahu ^alayhi wasallam.

 

2) Perbuatan oleh anggota badan

 

Contoh-contohnya adalah:

a)    sujud pada berhala atau matahari atau

b)    makhluk lain dengan bertujuan untuk menyembahnya

 

3) Perkataan yang dituturkan dengan lidah

 

Adalah terlalu banyak tidak terhitung darinya.

Contoh-contoh:

a)    berkata kepada seorang Islam yang lain: ‘O kafir!’ atau ‘O Yahudi!’, ‘O Kristian!’ atau ‘O orang yang tanpa agama!’ dengan makna agama orang yang dikatakan adalah agama yang bersifat kufur atau agamanya adalah Yahudi, Kristian ataupun tanpa pegangan agama tetapi bukan bertujuan untuk menyamakan perbuatan beliau itu dengan perbuatan orang kafir.

 

b)    mempermain-mainkan salah satu daripada nama Allah , janjiNYA , ancamanNya oleh orang yang sedar ini adalah antara sifat Allah ta^ala.

 

c)     berkata, ‘jika Allah perintahkan ini padaku maka aku tidak akan lakukannya’ dengan tujuan untuk memperkecilkan atau kerana kedegilan dengan itu menunjukkan Allah tidak berhak ditaati walaupun dia percaya bahawa Allah berhak ditaati.

 

d)       berkata, ‘jika arah Qiblah berubah aku tidak mahu bersolat menghadapnya’ dengan tujuan untuk meremeh-remehkan atau kerana kedegilan dengan itu menunjukkan menghadap Qiblah ketika bersolat adalah bukan kewajipan walaupun dia percaya solat perlu menghadap Qiblah.

 

e)       berkata, ‘jika Allah mengurniakan aku syurga maka aku tidak akan memasukinya’ dengan tujuan untuk memperkecil-kecilkan atau kerana kedegilan, dengan kata lain menolak ganjaran atau kurniaan Allah walaupun dia mengetahui ganjaran atau kurnia dari Allah adalah sebahagian dari agama.

 

f)     berkata, ‘jika Allah mengazabku kerana aku meninggalkan solat apabila aku sakit, maka Allah menzalimiku.’

 

g)     berkata, ‘ada perkara yang berlaku bukan dengan kehendak Allah.’

 

h)    berkata, ‘jika para Nabi, para malaikat atau semua orang Islam mengaku atau bersaksi mengenai sesuatu dihadapanku, aku tidak akan menerimanya.’

 

i)      berkata, ‘aku tidak akan melakukan sesuatu perkara itu walaupun ianya adalah sunnah’ dengan maksud mencemuh atau mengejek.

 

j)     berkata, ‘jika si polan itu adalah nabi maka aku tidak akan mempercayainya.’

 

k)    berkata, ‘undang-undang apa ni?’ apabila seorang ulama memberi hukum Islam dengan tujuan untuk memperkecil-kecilkan undang-undang Islam.

 

l)      berkata, ‘semoga Allah melaknati setiap ulama/orang yang berpengetahuan agama.’ (memperkecilkan status ilmu)

 

m)   berkata, ‘aku tidak menerima Allah, para malaikat, nabi, Al-Qur’an, undang-undang Islam atau agama Islam.’

 

n)    berkata, ‘aku tidak tahu undang-undang Islam’ –dengan tujuan untuk mempermain-mainkan hukum Allah.

 

 

q)    membaca ayat 30, surah al-Mutaffifin ketika  membuat timbangan dan sukatan.

 

ayat ini merujuk kepada orang yang menipu semasa menimbang dan menyukat.

 

r)     membaca ayat 47, surah al-Kahf apabila melihat orang ramai / berkumpul

 

ayat ini merujuk kepada Hari Pembalasan /Akhirat bila manusia dikumpulkan tanpa seorang pun yang tertinggal atau terkecuali –dengan tujuan untuk memperkecil-kecilkan (istikhfaf) makna ayat ini dan sama juga keadaannya bila-bila sahaja ayat Al-Qur’an digunakan untuk tujuan seperti ini.

 

Jika seseorang menggunakan ayat seperti di atas tetapi dengan maksud / tujuan lain, maka tidaklah ia kafir.  Walaubagaimanapun; Shaykh Ahmad Ibn Hajar, semoga Allah merahmatinya berkata: “ Perbuatan ini tidak jauh dari melakukan yang haram

 

s)     menyumpah-nyumpah pada mana-mana nabi atau malaikat

 

t)        berkata, ‘aku akan jadi macam ‘bapa ayam’ kalau aku menunaikan solat’

 

u)    berkata, ‘aku tidak dapat apa-apa faedah pun semenjak aku mengerjakan solat’

 

v)    berkata, ‘solat tidak memberi apa-apa faedah padaku’ –dengan tujuan untuk mengejek.

 

w)    berkata kepada seorang Islam yang lain, ‘aku adalah musuh engkau dan musuh Nabi engkau’.

x)    berkata kepada keturunan Nabi (Shariif), ‘aku adalah musuh engkau dan musuh datuk engkau’ yakni Nabi Muhammad.

 

y)    berkata apa-apa yang maksudnya seperti yang disebutkan diatas, dengan maksud membenci atau dengan menggunakan perkataan yang tidak elok/ buruk

 

Ramai para Fuqaha seperti Hanafiyy, Badr-ar-Rashid, yang hidup pada hampir tahun 800 Hijrah (kurun ke 8 Hijrah) dan Qadi ^Iyad, semoga Allah ta^ala merahmati mereka  telah menyenaraikan banyak perkataan yang kufur yang perlu diketahui, kerana barangsiapa yang tidak mengetahui, kejahatan (syaitan) lebih mudah mempengaruhi mereka.

 

Panduannya ialah:

??Setiap kepercayaan, perbuatan atau perkataan yang memperkecil-kecilkan (istikhfaf) darjat Allah, KitabNya, RasulNya, MalaikatNya, Shi^arNya, amalan-amalan yang sedia maklum berkenaan agamaNya, HukumNya, janjiNya atau ancamanNya , MAKA IANYA ADALAH KUFUR.

 

Maka setiap manusia mesti berhati-hati dan sentiasa berusaha dengan sedaya upaya untuk mengelakkan diri dari kekufuran.

 

KEUTUHAN AKIDAH PRASYARAT MENANGANI AJARAN MENYELEWENG[17] 

 

Pendahuluan

 

Apabila kita kembali kepada asal kejadian Adam dan Hawwa’, kita tidak dapat lari daripada mengakui hakikat bahawa manusia dijadikan oleh Allah s.w.t. daripada asalnya tiada. Ciptaan yang paling kreatif daripada seketul tanah untuk melahirkan Adam dan daripada sebilah tulang rusuk untuk melahirkan Hawwa’ untuk mendiami bumi ini tidak lagi dapat disangkal oleh manusia yang waras di timur atau di barat, kecuali seorang manusia yang bernama Darwin yang membid’ahkan teori kejadian manusia secara evolusi daripada monyet. Namun teori ini ditolak oleh seluruh umat manusia kerana tiada sandaran naqli ataupun ‘aqli.

Setelah kita menerima hakikat manusia dijadikan Allah s.w.t. untuk mendiami bumi ini, maka sudah tentu kita terpaksa menerima hakikat bahawa Allah s.w.t. mempunyai agenda-Nya tersendiri untuk manusia yang dijadikan sebagai khalifah sebagaimana ditegaskan oleh kitab suci-Nya (Surah al-Baqarah 2: 30). Kitab Al-Quran yang telah terbukti mu’jiz, iaitu mengalahkan semua pencabar kebenarannya, menjadi pemutus kata yang terakhir dalam setiap persoalan yang diperselisihkan oleh manusia termasuk tentang hal ketuhanan, kenabian, asal dan tujuan kejadian manusia, tugas manusia di dunia ini, ke mana manusia selepas kematian, kebangkitan semula di hari Qiamat, pembalasan dan sebagainya lagi.

Jawapan kepada persoalan-persoalan sering timbul di benak manusia inilah yang dinamakan al-‘aqidah atau pegangan, iaitu yang wajib dipegang dalam kehidupan seseorang muslim. Dalam terminologi al-Quran, akidah ini dipanggil ‘Imaan’   (ايمان) atau kepercayaan, iaitu kepercayaan dengan penuh yakin terhadap hal-hal alsam’iyyaat (fakta-fakta yang hanya boleh diketahui melalui wahyu, bukan melalui sains). Pokok perbicaraan atau objek kepercayaan dalam al-Quran terkandung dalan rukun iman yang enam, iaitu percaya kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhirat qadar baik dan buruk.[18]

 

Akidah yang menyelesaikan teka-teki kewujudan ini bukanlah rekaan agama Islam, juga bukan bid’ah yang dibawa oleh Muhammad s.a.w. Sebaliknya ia adalah akidah murni yang dibawa oleh seluruh nabi Allah, dikandung oleh semua kitab samawi (sebelum ia diubah dan dipinda) termasuk al-Quran. Akidah ini adalah hakikat-hakikat abadi yang tidak berubah tentang Allah s.w.t., tentang hubungan-Nya dengan alam yang dapat dilihat atau yang ghaib, tentang hakikat kehidupan ini, peranan manusia di dalamnya dan akibatnya selepas itu. Inilah juga hakikat-hakikat yang Adam a.s. perturunkan kepada anak-anaknya, yang Nuh a.s. isytiharkan kepada kaumnya, yang didakwahkan oleh Hud a.s. dan Soleh a.s. kepada kaum ‘Aad dan Thamuud, yang merupakan seruan Ibrahim, Isma’il, Ishaq dan semua rasul ‘alayhimussalaam, juga yang ditegaskan oleh Musa a.s. dalam Tauratnya, Dawud a.s. dalam Zaburnya dan ‘Isa dalam Injilnya.[19]

 

Akidah yang utuh lawan akidah yang longgar

 

Menurut pegangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, iman seseorang itu boleh bertambah dan boleh berkurang. Maka demikianlah juga akidah seseorang muslim itu, ia boleh menjadi utuh dan mantap, atau menjadi longgar dan lemah. Faktor kekuatan atau kelemahan akidah seseorang itu boleh dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan yang dimiliki, pendidikan yang diterima atau persekitaran yang dialaminya.

Di sepanjang sejarah perkembangan Islam, khususnya selepas era al-Salafussoleh (Sahabat, Tabi’in dan Tabi’i al-Tabi’in radhiallahu ‘anhum), ajaran-ajaran menyeleweng mula menular dalam masyarakat Islam. Ini disebabkan masyarakat Islam yang telah meluas dan besar kapasitinya di zaman itu rentetan daripada peluasan wilayah pemerintahan Islam, telah terencat ilmu dan pendidikan yang diturunkan oleh Nabi s.a.w. kepada generasi yang pertama, iaitu para Sahabat. Tidak semua ilmu wahyu yang baginda sampaikan kepada generasi pertama itu boleh sampai kepada generasi yang seterusnya. Hal ini telah digambarkan oleh baginda sendiri dalam sabdanya:

“خَيْرُ القُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَأْتِيْ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَيَمِيْنُهُ شَهَادَتََهُ” (رواه البخاري ومسلم عن عبدالله بن مسعود)

 Maksudnya:

“Sebaik-baik generasi adalah generasiku ini, kemudian generasi yang mengikuti mereka, seterusnya generasi yang mengikuti generasi itu. Selepas itu akan lahir kaum-kaum yang persaksian  salah seorang daripada mereka mendahului sumpahnya, sumpahnya mendahului persaksiannya.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim daripada Abdullah bin Mas’ud r.a.)

 

Jika kita membuka buku-buku sejarah Islam, kita akan bertemu dengan kumpulan-kumpulan yang bernama al-Khawarij, al-Mu’tazilah, al-Murji’ah, al-Qadariyyah, al-Isma’iliyyah, al-Fatimiyyah, al-Zanadiqah dan sebagainya lagi. Mereka ini muncul dengan berbagai-bagai pendekatan sama ada politik kemudian terjurus kepada akidah, akidah kemudian politik, akidah semata-mata, tasawuf tariqat, kepura-puraan (munafiq) atau lain-lain lagi. Para ulama yang mendokong panji-panji al-Quran dan Sunnah telah berjuang bermati-matian untuk mematahkan hujjah mereka melalui pendekatan Ahlus Sunnah wal Jama’ah khususnya dalam tulisan-tulisan mereka yang diabadikan dalam kitab-kitab besar yang boleh dibaca hingga ke hari ini. Mereka telah mendisiplinkan perbahasan berkenaan puak-puak menyeleweng ini sebagai disiplin ilmu al-Firaq wal Milal wal Ahwa’ (Ilmu Puak, Ajaran dan Hawa Nafsu).

Zaman kita ini juga tidak terkecuali daripada ancaman puak dan ajaran yang menyeleweng ini. Di antara ajaran ini ada yang meresap dari luar sempadan geografi kita seperti Qadyani, Bahai, Syi’ah, ajaran anti-hadis Rashad Khalifa, Black Metal dan lain-lain. Manakala ada juga ajaran menyeleweng yang muncul di kalangan kita sendiri tanpa pengaruh dari luar seperti ajaran Ayah Pin, Hasan Anak Harimau dan lain-lain lagi.

Secara kesimpulannya, ajaran-ajaran menyeleweng, khususnya di Malaysia, mempunyai ciri-ciri yang berikut:

(1) Mengaku diri atau gurunya sebagai Nabi atau wakilnya dan mendakwa menerima wahyu.
(2) Mengaku diri atau gurunya sebagai Imam Al-Mahdi atau mempercayai bahawa orang-orang tertentu tidak mati dan akan muncul sebagai manusia yang istimewa seperti Imam Al-Mahdi dan sebagainya (Qadyani, Bahai, 4 Sahabat, Nasir, Mufarridiah).
(3) Mempercayai bahawa roh orang yang mati menjelma semula ke dalam jasad orang yang masih hidup.
(4) Mendakwa pengikut-pengikut ajaran/tarikatnya sahaja yang dijamin masuk syurga.
(5) Mendakwa gurunya memegang kunci pintu syurga.
(6) Mempercayai bahawa gurunya boleh menebus dosa dengan wang.
(7) Mendakwa bahawa semua agama adalah sama.
(8) Mempercayai bahawa orang yang telah mati boleh memberi pertolongan apabila diseru namanya.
(9) Memohon kepada benda-benda tertentu seperti batu, cincin dan sebagainya untuk sampai kepada Tuhan.
(10) Melakukan penyerahan rohani dan jasmani kepada guru melalui nikah batin dengan tujuan untuk mendapat anak yang soleh atau anak hakikat.
(11) Mengaku Allah menjelma di dalam diri.
(12) Mendakwa atau mengaku dirinya sebagai wakil Nabi yang boleh memberi syafaat kepada muridnya.
(13) Mendakwa ajaran atau tarikatnya yang diamal sekarang diambil terus dari Rasulullah s.a.w. secara jaga (Yaqazah).
(14) Mengaku dan mempercayai bahawa seseorang itu boleh berhubung dengan Allah melalui Nur Muhammad yang berada di dalam dirinya dan dengan demikian didakwa pasti masuk syurga.
(15) Memansuhkan syariat-syariat Islam seperti sembahyang, puasa, haji dan membuat syariat baru atau menganggapkan bila sampai kepada hakikat maka tidak perlu lagi syariat.
(16) Meninggalkan sembahyang Jumaat kerana mengamalkan suluk.
(17) Mendakwa bahawa ibadat haji tidak semestinya ditunaikan di Mekah, tetapi boleh ditunaikan di tempat-tempat yang lain.
(18) Mengubah dengan sengaja ayat Al-Quran dan maksudnya.
(19) Mengaku dan mempercayai bahawa azimat (tangkal) boleh memberi kesan.

(20) Mendakwa bahawa setiap yang zahir ada batinnya dan setiap ayat yang diturunkan ada takwilnya seperti puasa, zakat, haji, nikah dan sebagainya ada batinnya. Mereka mendakwa orang yang mengamalkan syariah hanya kulit dan dan tidak sampai kepada matlamat sebenar.[20]

 

Namun di sini kita tidak berhasrat untuk memperkenalkan kumpulan atau intipati ajaran-ajaran menyeleweng ini satu persatu, sebaliknya kita akan menumpukan perbincangan bagaimana keutuhan akidah mampu menyelamatkan ummah daripada ancamannya.

 

Akidah ajaran pertama dalam Islam

 

Bila kita mengkaji aspek pendidikan dalam Islam berdasarkan al-Quran, Sunnah dan sirah Rasulullah s.a.w., kita dapati bahawa akidah dan keimananlah yang menjadi teras utama proses pendidikan yang dilalui oleh para Sahabat sebelum penekanan diberikan kepada aspek-aspek yang lain seperti hukum, muamalat, perundangan dan seumpamanya. Oleh sebab itu ayat-ayat al-Quran yang dikenali sebagai Makkiyyah, iaitu yang diturunkan sebelum peristiwa Hijrah ke Madinah lebih menumpukan persoalan akidah dan keimanan di samping persoalan akhlak terpuji. Ayat-ayat tersebut pula selalunya pendek-pendek, tegas, penuh dengan bunga bahasa dan rima-rima akhir yang menarik perhatian pendengar atau pembaca. Sebagai contoh, mari kita lihat makna beberapa ayat terawal surah yang pertama diturunkan, Surah al-‘Alaq:

 


[1] . Ohan Sudjana, Fenomena Aqidah Islamiyah Berdasarkan Quran dan Sunnah, Media Dakwah 1414/1994

[2] . Wikipedia Bahasa Melayu.

[3] . An-Naml : 14

[4] . Al-An’aam : 33

[5] . Al-Ankabut : 38

[6] . Al-Anfaal : 2-4

[7] . Al-Baqarah : 143

[8] . (An-Nisaa : 48

[9] . An-Nisaa : 59

[10] . Dikelaurkan oleh Bukhari 4/7137, Muslim 4 Juz 12 hal. 223 atas Syarah Nawawi

[11] . Al-Hasyr : 10

[12] . Dikeluarkan oleh Bukhary 3/3673, dan Muslim 6/ Juz 16 hal 92-93 atas Syarah Nawawy

[13] . Prinsip-Prinsip ‘Aqidah Ahlus Sunah Wal Jama’ah oelh Syaikh Dr Sholeh bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan Dar Al-Gasem PO Box 6373 Riyadh, penerjemah Abu Aasia

[14] . Ustaz Mustafa Masyhur ( Mursyidul Am Ikhwanul Muslimin)

[15] . MUIS. Khutbah Jumaat, Aqidah Punca Kecemerlangan Ummah. 10 March 2006.

[16] ▲–Kesimpulannya seseorang itu akan menjadi kafir jika ia menuturkan perkataan kufurnya walaupun dalam keadaan tenang ataupun marah samada dia :

  • mengetahui atau tidak tentang hukumnya ataupun
  • percaya atau tidak percaya apa yang dituturkannya ataupun
  • suka atau tidak suka apa yang dituturkannya itu. – –

Maksudnya:

“(1) Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk), (2) Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku, (3) Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, (4) Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, (5) Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Surah al-‘Alaq: 1-5)

 

Dengan mentadabbur ayat di atas, dapatlah kita memahami beberapa ajaran dalam konteks untuk memantapkan akidah seseorang muslim;

  1. Kita hendaklah memulakan pembacaan atau apa sahaja amalan baik dengan menyebut nama Allah s.w.t. kerana Dialah yang menjadikan kita daripada asalnya tiada.
  2. Asal kejadian manusia selepas Adam dan Hawwa’ adalah daripada seketul darah beku yang terbentuk daripada percantuman benih lelaki dan wanita dengan aturan Allah s.w.t.
  3. Allah s.w.t. amat mulia dan pemurah terhadap hamba-Nya, tidak kedekut, sentiasa memberi. Manusia tidak harus putus asa untuk terus membaca firman-Nya dan berdoa meminta daripada-Nya.
  4. Manusia menjadi pandai kerana diajar oleh Allah s.w.t. melalui cetusan idea akal yang sempurna dan dapat meluahkan idea tersebut melalui pen dan tulisan.
  5. Asalnya manusia tidak mengetahui apa-apa, Allah s.w.t.lah yang mengajar sehingga mereka menjadi bijak pandai.

 

Sehubungan dengan itu, dalam usaha untuk memantapkan akidah ummah, penekanan kepadanya hendaklah diletakkan di tempat yang pertama. Inilah yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. kepada generasi pertama umat Islam.

Pendidikan seseorang bermula dari rumahnya, bahkan dari dalam perut ibunya sendiri. Bermula dengan mencari pasangan hidup berlandaskan kehendak agama (bukan semata-mata rupa paras, harta kekayaan dan pangkat kedudukan), ibu-ibu yang sedang hamil hasil hubungan suami isteri yang diberkati dengan doa mengikut sunnah Nabi s.a.w., hendaklah sentiasa menyebut-nyebut nama Tuhannya dalam bentuk solat, zikir, doa, bacaan al-Quran dan sebagainya. Anak yang berada di dalam kandungan itu, yang berhubung terus dengan ibunya dari segi jasad dan roh, sebenarnya terdidik dan terhibur dengan alunan zikir dan wirid ibunya di luar. Janin dalam rahim adalah peka dan bertindakbalas terhadap denyutan jantung dan suara ibunya semasa dalam rahim lagi. Pemerhatian pakar telah menunjukkan bahawa semasa kandungan mencapai enam minggu terakhir sebelum kelahiran, janin dalam kandungan itu secara aktif menggunakan pancaindera-pancaindera iaitu rasaan, sentuhan, penglihatan, pendengaran dan pergerakannya.[1] Ibu-ibu perlu sentiasa bersembahyang, berwirid, berzikir, kerana ini tentulah akan mententeramkan jiwa mereka dan mempengaruhi rohaniah janin yang sedang dikandungnya. Banyakkan membaca buku-buku agama, khususnya al-Quran ketika hamil kerana apabila kandungan telah meningkat tujuh hingga lapan bulan bayi itu boleh mendengar segala percakapan dan juga bacaan yang dilakukan oleh ibu dan bapanya.[2]

 

Malangnya apa yang berlaku di kalangan ramai masyarakat Islam hari ini, faktor agama dalam pencarian pasangan hidup tidak diambil peduli lagi. Faktor pilihan selalunya berdasarkan kecantikan rupa paras dan kedudukan seseorang. Yang diselidiki bukan sama ada seseorang itu memelihara solat ataupun tidak, sebaliknya apa pekerjaan dan berapa pendapatannya sebulan. Apabila agama tidak lagi menjadi faktor pilihan, maka tidak hairanlah jika ada suami atau isteri yang tidak tahu solat lima waktu, tidak tahu membaca surah al-Fatihah, bahkan ada yang teragak-agak tidak pasti apabila diminta mengucap dua kalimah syahadah. Kalau bacaan-bacaan solat pun tidak tahu, apakah boleh diharapkan pasangan ini akan memulakan hubungan kelaminnya dengan doa dan mengikut sunnah Rasulullah s.a.w. Sedangkan permulaan hubungan kelamin dengan doa yang khusus amat penting untuk keselamatan anak yang bakal dilahirkan daripada sebarang penyelewengan atau godaan syaitan sebagaimana sabda baginda:

 

“لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرَّهُ أَبَدًا” (أخرجه البخاري ومسلم عن ابن عباس رضي الله عنه)

 

Maksudnya:

“Sekiranya salah seorang daripada kamu berdoa apabila mendatangi isterinya dengan doa (بسم الله اللهم جنبنا الشيطان وجنب الشيطان ما رزقـتـنا ), lalu ditakdirkan kedua-duanya mendapat anak, nescaya anak itu tidak akan dimudharatkan oleh syaitan selama-lamanya.[3]

 

Justeru ibu bapa hendaklah menitikberatkan pendidikan akidah kepada anak-anak sejak dari awal lagi. Anak yang membesar dengan akidah yang mantap tidak akan terpengaruh dengan anasir-anasir menyeleweng yang bercanggah dengan akidah yang murni kerana mereka telah berpegang dengan simpulan yang amat kuat (al-‘urwah al-wuthqa)

 

Pendidikan akidah di peringkat awal kanak-kanak

 

Rasulullah s.a.w. telah mengajar kita bagaimana untuk mendidik anak sebaik sahaja dilahirkan ke dunia ini. Daripada Abu Rafi’ r.a. pembantu Rasulullah s.a.w., beliau berkata:

 

“رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِيْنَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلاةِ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ” (رواه أبو داود والترمذي وغيرهما وقال الترمذي: حديث حسن صحيح)

Maksudnya: “Aku melihat Rasulullah s.a.w. mengazankan azan solat di telinga al-Husayn bin ‘Ali sebaik sahaja Fatimah melahirkannya, semoga Allah meredhai mereka” (Hadis riwayat Abu Dawud, al-Turmuzi dll. Al-Turmuzi berkata ini hadis hasan sahih). Al-Imam al-Nawawi berkata bahawa sekumpulan sahabatnya berpendapat disunatkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.[4]

 

Memperdengarkan nama-nama Allah s.w.t. sebagai kalimah pertama di telinga bayi adalah satu pendidikan akidah yang amat berkesan. Menurut Prof. Dr. Hamid Arshat, semua bayi mempunyai keperluan naluri untuk belajar. Setiap program rangsangan bayi yang dilakukan ketika umur bayi setahun mempunyai kesan yang lebih bermakna ke atas perkembangan otaknya berbanding dengan waktu yang lain dalam hayat bayi tersebut. Apabila bayi mencapai umur enam bulan, 50% daripada otak bayi telah tumbuh. 70% daripada perkembangan otak bayi telah sempurna apabila bayi menjangkau umur setahun.[5]

 

 

Oleh yang demikian, para ibu bapa hendaklah mengambil peluang pertumbuhan minda bayi dengan memperkenal dan mengulang-ulang ajaran tauhid dalam bentuk wirid dan lagu, contohnya ketika mendodoikan bayi tersebut. Ini lebih berfaedah daripada mendendangkan lagu-lagu yang tiada makna atau melalaikan.

 

Perisai solat

Sebenarnya anak-anak mempunyai kecenderungan untuk meniru sebahagian tingkah laku ibu bapanya ketika solat sejak berusia dua tahun atau lebih awal lagi. Kecenderungan ini patut digalakkan walaupun ikutannya tidak sempurna atau sambil bermain-main. Anak-anak yang terbiasa dengan perlakuan solat akan lebih mudah melaksanakannya apabila tiba masa ibu bapa wajib mengajarnya solat, iaitu apabila berusia tujuh tahun.

Daripada Saburah bin Ma’bad r.a., beliau berkata Rasulullah s.a.w. bersabda:

 

“مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلاةِ إذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِيْنَ، فإذا بَلَغَ عَشْرَ سِنِيْنَ فَاضْرِبُوْهُ عَلَيْهَا” (أخرحه أبو داود والترمذي)

 

Maksudnya: “Suruhlah anak-anak bersolat apabila sampai umurnya tujuh tahun dan pukullah (dengan pukulan yang tidak membekas, jika dia enggan bersolat) apabila umurnya sepuluh tahun.”[6]

 

Solat amat penting untuk pengukuhan akidah seseorang. Akidah seseorang akan menjadi mantap lagi ampuh dengan mengingati Tuhannya sekurang-kurang dalam lima ketika sehari semalam. Antara tujuan solat ialah untuk mengingati Allah s.w.t. sebagaimana firman-Nya:

Maksudnya: “Sesungguhnya Akulah Allah, tiada tuhan selain-Ku, maka abdikanlah diri kepada-Ku dan dirikanlah solat untuk mengingati-Ku.”[7]

 

Solat juga dapat mencegah pelakunya daripada segala keburukan dan kemungkaran termasuk pengaruh ajaran sesat (Surah al-‘Ankabut 29: 45). Mana-mana individu yang telah terjerumus dalam noda dosa atau penyelewengan boleh kembali semula ke jalan yang lurus dan membersihkan diri dengan solat. Daripada Abu Hurairah r.a. beliau berkata, aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:

Maksudnya: “Apakah pandangan kamu jika sebatang sungai mengalir di hadapan rumah  seorang daripada kamu, lalu dia mandi di dalamnya lima kali sehari, apakah akan tinggal lagi kotoran di badannya? Para sahabat menjawab, “Sudah tentu tiada kotoran lagi yang tinggal.” Baginda bersabda; “Itulah perumpamaan solat lima waktu, Allah s.w.t. menghapuskan dosa-dosa dengannya.”[8]

 

Pendidikan akidah di peringkat sekolah

Pengukuhan akidah para pelajar di sekolah dalam sessi pengajaran dan pembelajaran (P&P) tidak terhad dalam mata pelajaran Pendidikan Islam (PI) semata-mata. Masa yang diperuntukkan untuk subjek PI selama lebih kurang 180 minit seminggu sudah tentu tidak mencukupi untuk proses penerapan akidah yang mantap dalam jiwa para pelajar, memandangkan jumlah masa tersebut terpaksa dibahagikan untuk pembelajaran jawi, bacaan al-Quran, fardhu ‘ain dan lain-lain. Apakah cukup masa untuk pendidikan agama hanya 180 minit seminggu jika masa selebihnya yang jauh lebih panjang (1620 minit seminggu) terbuka untuk segala macam pengaruh negatif? Itu belum dikira masa terdedah ketika di rumah dan di luar rumah!

Guru-guru subjek lain daripada PI (khususnya guru-guru muslim) sebenarnya boleh menyumbang untuk pengukuhan akidah para pelajar. Ini dilakukan dengan mengaplikasikan konsep ‘P&P merentas kurikulum’ dan ‘proses gabung jalin’ dalam P&P. Guru matematik boleh menerapkan akidah kepada para pelajar dengan mengajak mereka berfikir di luar kotak angka kira-kira semata-mata. Contohnya ‘infiniti’ bermaksud tiada penghujung bagi bilangan yang bermula dengan 1. Jika manusia tidak mampu berfikir apakah nombor yang terakhir dalam deretan bilangan, bagaimanakah manusia boleh cuba untuk berfikir apa akan terjadi selepas manusia dimasukkan ke syurga atau neraka, atau berfikir apakah yang akan terjadi kepada Tuhan akhirnya. Kesimpulannya, manusia amat lemah sehingga tidak mampu memikirkan nombor yang terakhir dan ternyatalah bahawa manusia hanya mengetahui apa yang Tuhan izinkan kepada mereka. Dengan itu manusia tidak perlu bersusah payah memikirkan bila berlakunya Kiamat sehingga terjebak dengan ajaran sesat, kerana ia termasuk dalam perkara-perkara ghaib yang hanya Allah s.w.t. mengetahuinya. Apa yang wajib dilakukan manusia hanyalah bersedia untuk menghadapi hari kebangkitan itu.

Itu hanyalah sebagai satu contoh ‘P&P merentas kurikulum’. Guru-guru subjek lain seperti Sains, Geografi, Sejarah, Pendidikan Jasmani & Kesihatan dan subjek-subjek bahasa sekalipun boleh melaksanakan dan mempunyai ruang yang luas untuk mengaplikasikan konsep gabung jalin tersebut dengan syarat mereka perlu kreatif dan tidak terikat dengan sukatan pelajaran yang berorientasikan peperiksaan semata-mata.

Cabarannya, apakah guru-guru ini bersedia memberi sumbangan ke arah keutuhan akidah para pelajar mereka? Jawapan kepada persoalan ini, institut-institut yang mengeluarkan para guru hendaklah menyediakan guru-guru baru yang berfikiran seimbang antara tuntutan dunia dan akhirat. Guru-guru sedia ada pula perlu diberi kursus yang menjurus ke arah itu. Guru-guru hendaklah berasa bertanggungjawab terhadap akidah anak didik mereka, dan tidak sepatutnya mereka berpandangan bahawa asuhan agama hanyalah tanggungjawab ustaz/ustazah, imam, atau jabatan agama sahaja.

 

Peranan masjid

Pada zaman Rasulullah s.a.w. masjid adalah pusat gerakan masyarakat Islam. Masjid dijadikan rumah ibadat, tempat untuk bermesyuarat tentang hal ehwal politik, ekonomi dan sosial, tempat untuk baginda mendidik para Sahabat lelaki dan wanita sehingga menjadi generasi yang terbaik yang pernah dikenali oleh dunia, bahkan juga tempat untuk menyelesaikan segala masalah yang timbul.[9] ). Masjid berfungsi sebagai tempat membina peribadi, juga sebagai tempat solat, menimba ilmu, mempersiapkan diri untuk mempertahankan agama Allah, tempat melangsungkan akad nikah dan sebagai tempat untuk mengisi masa lapang.

Namun pada hari ini peranan masjid telah terencat dan terhad kepada aktiviti ibadat khusus dan ritual semata-mata. Bagaimana masjid boleh berperanan untuk menanamkan akidah yang utuh dalam jiwa umat tidak kelihatan gambaran yang jelas. Bahkan ada masjid yang tidak dimakmurkan hatta dengan solat fardhu lima waktu. Azan hanya kedengaran bila masuk waktu Maghrib dan Isyak sahaja. Pada tiga waktu lagi, azan tidak kedengaran menandakan tiada jamaah didirikan untuk solat. Sungguh malang sekali!

Masyarakat sepatutnya didekatkan dengan masjid. Pihak yang bertanggungjawab terhadap masjid seperti nazir, imam, bilal, siak dan semua ahli jawatan kuasa tidak seharusnya meninggalkan masjid apabila mereka sanggup memikul amanah jawatan itu. Jika orang-orang penting bagi masjid ini sendiri tidak datang memakmurkan masjid, bagaimanakah ahli sesuatu qaryah itu boleh mencontohi dan mendekatkan diri dengan masjid?

Masjid sepatutnya menjadi pusat pendidikan kepada masyarakat. Majoriti masyarakat tidak lagi mendapat pendidikan agama sebaik sahaja menamatkan alam persekolah kecuali apabila masjid berperanan ke arah itu. Apabila masyarakat menjadi ‘orang masjid’, sudah tentu mereka menjadi ‘ahli solat’. Apabila solat mereka terpelihara, akidah mereka pun selamat sejahtera sebagaimana dijanjikan Allah s.w.t. dan Rasul-Nya. Firman Allah s.w.t.:

 

Maksudnya: “Hanyasanya yang layak memakmurkan (menghidupkan) masjid-masjid Allah itu ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat serta mendirikan sembahyang dan menunaikan zakat dan tidak takut melainkan kepada Allah, (dengan adanya sifat-sifat yang tersebut) maka adalah diharapkan mereka menjadi dari golongan yang mendapat petunjuk.”[10]

 

Pengajian atau kuliah di masjid-masjid tidak seharusnya tertumpu kepada persoalan jenis-jenis air, persoalan wudhu’ dan solat sahaja. Isu yang berulang-ulang daripada sumber kitab yang sama semenjak puluhan tahun sudah tentu menjemukan para pendengar dan menyempitkan fahaman mereka terhadap Islam. Golongan muda sudah tentu tidak berminat langsung dengan gaya pengajian sedemikian. Akhirnya mereka merasakan tiada dorongan untuk ke masjid kerana tiada ilmu baru yang diajar oleh para guru selain fardhu ‘ain yang terhad kepada wudhu’ dan solat, ilmu tasawuf atau tauhid yang disyarahkan daripada kitab kuning. Ilmu tauhid pula lebih berkisar tentang Sifat Dua Puluh yang dihuraikan secara panjang lebar dan terperinci sehingga sukar difahami. Golongan muda tidak merasakan kesan keutuhan akidah melalui pengajian ilmu tauhid di masjid-masjid. Mereka bersenda, “Siapa yang tidak tahu sifat ‘Ada’ (Wujud) lawannya ‘Tiada’ (‘Adam)? Budak sekolah rendah pun tahu!”

 

Guru-guru yang mengajar di masjid sepatutnya lebih proaktif untuk mempelbagaikan sumber pengajaran, tidak kira dalam bidang akidah, fiqah ataupun tasawuf/akhlak. Tiada satu kitab pun yang mencakupi segala ilmu. Lebih banyak kitab yang dibuka, lebih banyak ilmu yang diperolehi, lebih menarik pengajaran yang disampaikan.

 

Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan telah mengambil inisiatif menterjemah dan menerbitkan beberapa buah kitab untuk digunakan dalam pengajian di masjid-masjid termasuk sebuah kitab akidah yang bertajuk ‘Aqidah Islamiyah’ yang ditulis oleh Dr. Mustafa Sa’id al-Khin dan Syeikh Muhyiddin Misto, ulama Timur Tengah. Edisi terjemahan ini diterbitkan buat pertama kali pada April 2004 yang lalu. Diharapkan dengan penerbitan kitab tersebut, para guru di masjid-masjid dapat melakukan satu pembaharuan dalam cara dan kandungan penyampaian ilmu akidah kepada para jamaah. Edisi rumi di atas kertas putih yang diterbitkan setakat ini janganlah dijadikan alasan untuk tidak berminat menggunakannya. Tulisan hanyalah alat untuk menyampaikan ilmu, ia tiada kaitan dengan konsep keberkatan ilmu itu.

 

Peranan ulama

Para ulama mempunyai peranan dan amanah yang amat berat dalam memelihara keutuhan akidah ummah. Mereka sepatutnya bersatu padu dalam perkara yang boleh disepakati dan berlapang dada dalam perkara cabang yang diperselisihkan. Mereka tidak seharusnya tuduh menuduh, hukum menghukum serta menuding jari antara satu sama lain, walaupun mereka berada dalam kelompok yang berbeza. Tugas mereka adalah menerangkan, bukan menghukum.

Kedudukan mereka asalnya amat dihormati oleh masyarakat. Tetapi apabila mereka bercakaran dan memperlekehkan antara satu sama lain, penghormatan masyarakat mula luntur. Masyarakat yang ingin menjadikan mereka tempat rujukan dalam segala persoalan agama akhirnya lari daripada mereka. Maka tidak hairanlah jika ada sesetengah ahli masyarakat yang menjadikan guru-guru ajaran menyeleweng sebagai ‘tuan guru’ mereka.

Akhir-akhir ini timbul semula isu membid’ahkan amalan-amalan keagamaan yang diamalkan oleh masyarakat Islam di Malaysia turun temurun. Wirid dan doa berjamaah selepas solat, bacaan doa Qunut dalam solat Subuh, tahlil arwah, bacaan Yaasin malam Jumaat, bacaan talqin di atas kubur si mati dan lain-lain lagi dikatakan bid’ah dhalalah (amalan baharu yang menyesatkan dan membawa ke neraka).

Kita tidak menafikan bahawa apa yang didakwa itu benar bid’ah. Tetapi untuk mengatakan ia  )  كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ وَكُلُّ ضَلالَةٍ في النَّار- setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu membawa ke neraka – berdasarkan hadis riwayat Abu Dawud daripada al-“Irbadh bin Sariyah r.a.), kita tidak bersetuju.

Adakah amalan-amalan yang disebutkan tadi merupakan amalan yang menyesatkan umat dan mereka akan dihumbankan ke neraka kerana amalan tersebut? Sikap tergopoh-gapah di kalangan ulama dan orang agama dalam menjatuhkan hukuman tidak membawa kebaikan kepada ummah. Sikap demikian tidak pun membawa kepada keutuhan akidah ummah, sebaliknya menyebabkan perpecahan berlaku dalam masyarakat, yang merupakan mudharat yang lebih besar daripada mudharat bid’ah yang disangka itu. Masyarakat akan lari daripada orang agama yang keras dan suka menghukum. Akhirnya mereka berpendapat ulama mesti dipinggirkan daripada proses membuat keputusan dalam masyarakat. Akibatnya masyarakat dipimpin oleh orang-orang yang jahil agama dan membawa kepada kesesatan yang sebenar.

Kita berpendapat, cukuplah masyarakat diberitahu bahawa amalan-amalan tradisi tadi bukanlah amalan sunnah Nabi s.a.w., siapa yang ingin melakukannya, dia boleh dan sesiapa yang tidak ingin melakukannya, dia betul. Tidak perlu hukuman sesat, atau masuk neraka. Amalan-amalan itu hanyalah adat yang bercampur dengan ibadat. Ia bukan maksiat yang perlu dicegah secara keras kerana tiada nas yang mengharamkannya. Bukankah setiap perkara haram itu telah diperincikan oleh Allah s.w.t. ke atas hambanya? (Surah al-An’am 6: 119). Kalau ia tidak haram, maka kekallah ia sebagai adat yang diharuskan berdasarkan kaedah )  أَصْلُ الشَّيْءِ الإبَاحَة- Asal sesuatu itu adalah harus). Inilah yang diistilahkan oleh sesetengah ulama sebagai Bid’ah Idhafiyah, iaitu bid’ah yang asalnya menepati syarak tetapi cara pelaksanaannya tidak berlandaskan syarak. Ulama yang pertama menggunakan istilah ini ialah al-Imam al-Syatibi.[11]

Sebagai contoh, bacaan wirid selepas solat itu sahih dan menepati syarak, tetapi susunannya tiada landasan syarak, maka ia bid’ah idhafiyah. Hukumnya khilaf di kalangan ulama. Tiada siapa berhak memaksa orang lain mengikut pendapatnya dalam perkara khilaf.[12]

 

 

Para ulama perlu berhati-hati dalam pendekatan dakwah mereka. Mereka seharusnya menjadi pembimbing dan penasihat kepada masyarakat, bukan penghukum atau pengherdik. Ulama muda yang baru balik dari Timur Tengah perlu mengkaji dengan lebih mendalam tentang sesuatu perkara atau isu sebelum menjatuhkan hukuman. Jika mereka gopoh dalam menjatuhkan hukuman, masyarakat akan menjauhkan diri dan tidak menjadikan mereka sebagai rujukan. Akhirnya mereka tidak boleh memainkan peranan yang sepatutnya dalam proses mengukuhkan akidah ummah.

 

Bibliografi

1.     Sheikh Abdullah Basmeih, Tafsir Pimpinan ar-Rahman Kepada Pengertian Al-Quran, Darul Fikir, Kuala Lumpur, 2000

2.     Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, al-Mu’jam al-Mufahras li Alfaz al-Quran al-Karim, Darul Hadith, Kaherah, 1991.

3.     Al-Imam al-Nawawi, Yahya bin Syarf (m. 676H), Riyadhus Salihin min Hadith Sayyidil Mursalin, Darul Fikr al-Mu’asir, Beirut, 1991

4.     Al-Imam al-Nawawi, Matnul Arba’in al-Nawawiyyah, Dar Ibn Hazm, Beirut, t.t.

5.     Al-Imam al-Nawawi, al-Azkar al-Muntakhabah min Kalam Sayyidil Abrar, Darul Khayr, Beirut, 1990

6.     Ibn al-Daiba’ al-Syaibani, Abdul Rahman bin Ali al-Zubaydi (m. 944H), Taysir al-Wusul ila Jami’ al-Usul min Hadith al-Rasul, Maktabah Darul Turath, Kaherah, t.t.

7.     Al-Imam al-Syatibi, Ibrahim bin Musa bin Muhammad al-Lakhmi (m. 790H), al-I’tisom, al-Majmu’ah al-Dawliyyah li al-Tiba’ah, Kaherah, 1991

8.     Al-Qaradhawi, Syeikh Dr. Yusuf bin Abdullah, al-Iman wal Hayah, Maktabah Wahbah, Kaherah, 1990

9.     Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fahmul Islam fi Zilal al-Usul al-‘Isyrin lil Imam Hasan al-Banna, Dar al-Da’wah, Iskandariah, 1991

10.  Abdul Salam Muhamad Shukri, Dr., Panduan Mengajar Akidah Kepada Kanak-Kanak, PTS Publication & Distributors Sdn Bhd, Kuala Lumpur, 2003

11.  Shaikh Ali Mohammad Mokhtar, Peranan Masjid Dalam Islam (terj. Dawrul Masjid fil Islam), YADIM, Kuala Lumpur, 1997

12.  Hamid Arshat, Prof. Dr., Kesihatan Wanita Masa Kini, Syarikat S Abdul Majeed, Kuala Lumpur, 1993

 

Sesungguhnya sesuatu fikrah itu hanya boleh berjaya bila mana terdapat pengikut-pengikut yang yakin penuh dengan ajarannya , yang benar-benar ikhlas dalam usaha menegakkannya, yang mempunyai semangat yang berkobar untuk mempertahankan kewujudannya, dan disamping itu ada kesediaan yang mendorong mereka kearah berkorban serta terus bertindak menjayakannya. Keempat-empat rukun tersebut; keyakinan, kejujuran, semangat dan tindakan adalah merupakan ciri-ciri utama pemuda.

 

Kesimpulan ini ialah kerana asas keimanan itu ialah hati yang cerdik; asas keikhlasan ialah sanubari yang jernih dan bersih, dan asas semangat insan ialah perasaan yang segar mekar; manakala asas bagi setiap tindakan pula ialah keazaman yang gagah lagi tabah.

 

Itulah sebabnya maka angkatan pemuda, sejak dahulu hingga sekarang, tetap merupakan tiang pasak bagi kebangkitan sesuatu umat. Mereka merupakan rahsia kekuatan mana-mana kebangkitan; malahan angkatan pemuda jugalah yang menjadi barisan penjulang panji-panji bagi sesuatu fikrah perjuangan.[13]

 

Berpegang dengan akidah yang benar lagi murni adalah syarat pertama bagi seseorang mengaku dirinya beragama Islam dan menjadikan Islam sebagai cara hidupnya. Pegangan tersebut mestilah selari dengan apa yang terkandung di dalam Kitabullah (Al-Quran) dan sunnah Rasulullah s.a.w. Ia mestilah beriman dengan apa yang telah diimani oleh orang-orang Islam terdahulu yang terdiri dari angkatan Salafus-Saleh serta para Imam penyampai agama ini yang telah diakui kebaikan, kebaktian serta ketakwaan mereka. Mereka ini mempunyai kefahaman yang mendalam lagi bersih dalam urusan agama.[14]

 

Kekuatan aqidah adalah amat penting untuk melahirkan angkatan mahasiswa yang berkualiti dan berpotensi untuk memperkasakan Islam dan masyarakatnya. Apa gunanya kita mempunyai mahasiswa yang punya sijil berjela-jela, ijazah first class, pendidikan sehingga Phd serta bijak didalam pengajian tetapi tidak mempunyai kekuatan aqidah yang mantap didalam kehidupan seharian mereka. Walaupun sehebat mana pun seseorang mahasiswa itu, ia tidak akan terlepas dari peranan Allah didalam kehidupan mereka. Allah amat mengasihi orang berilmu tetapi jika sekadar ilmu sahaja namun kekuatan aqidah tidak wujud maka ia hanyalah seperti pokok yang cantik tetapi tidak ada tunjang dan akar yang kuat, ia akan tumbang dan gugur kebumi bila datang angin ribut yang kuat melandanya. Begitu juga dengan mahasiswa yang punya ilmu yang mengunung dan percapaian didalam result peperiksaan yang cemerlang malangnya tidak ada kefahaman aqidah yang mendalam serta jika faham pun tetapi tidak menyakininya 100% mengenai aqidah kepentingan aqidah didalam melayari kehidupan seharian. Tengoklah pada dunia mahasiswa pada hari ini, walaupun belajar agama dan mempunyai kefahaman agama yang luas tetapi dek kerana keyakinan pada ilmu agama yang dipelajari itu tidak ada maka ia tidak mempunyai kekuatan aqidah yang mendalam. Berapa ramaikah mahasiswa yang belajar agama tetapi tidak menutup aurat dengan sempurna, gejala sosial di IPT begitu meruncingkan, maksiat sentiasa bergelumang didalam kampus, setiap hari kes-kes tangkapan khalwat melibatkan golongan mahasiswa yang cerdik pandai. Kenapa jadi macam ni? Jawapannya ialah kerana kekuatan aqidah hanya berada didalam, silibus pengajian, usrah, tamrin, kuliah, nadwah, toturial dan buku yang bertimbun-timbun tetapi tidak pernah ada implementasi didalam kehidupan seharian.[15]

 

Lurusnya aqidah akan meluruskan pula terhadap tujuan hidup ( wijhatul hayat) seseorang mukmin yang semata-mata hanya untuk mencari keredhaan Allah SWT. Dan benarnya pengakuan akan bersifat positif terhadap jalan hidup (shiraatul hayat) yang telah ditunjukkan Allah dalam dienul Islam sebagai manhaj ilahi. Kemudian menyakini terhadap segala kebenarannya, serta menerima dan mengamalkan segala ketentuan-ketentuannya secara maksimun dalam keseluruhan sikap serta pergaulan hidupnya sehari-hari.

 

                Begitu juga dengan keberesan amal perbuatan (amalan) bagi mukmin akan menjadikan segala kegiatan hidupnya ( khittatul hayat) sebagai satu ibadah kepada Allah serta berbuat ihsan terhadap sesame manusia. Ini semua merupakan bentuk sikap hidup setiap mukmin secara total.[16]

 


[1] . Hamid Arshat, Kesihatan Wanita Masa Kini, h. 41

[2] . Ibid, h. 61

[3] . Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim daripada Ibnu ‘Abbas r.a, dibawakan oleh al-Nawawi dalam al-Azkar, h. 3

[4] . al-Nawawi, al-Azkar, h. 345

[5] . Hamid Arshat, Kesihatan Wanita Masa Kini, h. 41

[6] . Hadis riwayat Abu Dawud dan al-Turmuzi, diambil daripada Ibn al-Daiba’ al-Syaibani al-Syafi’e, Taysir al-Wusul ila Jami’ al-Usul min Hadith al-Rasul, vol. 2, h. 207

[7] . Surah Taha 20: 14

[8] . Hadith riwayat al-Bukhari, Muslim dan lain-lain kecuali Abu Dawud; diambil daripada Ibn al-Daiba’ al-Syaibani al-Syafi’e, Taysir al-Wusul ila Jami’ al-Usul min Hadith al-Rasul, vol. 2, h. 203

[9] . Sheikh Ali Mohammad Mokhtar, Peranan Masjid Dalam Islam, h. 29

[10] . Surah al-Tawbah, 9: 18

[11] . (al-Syatibi, al-I’tisom, h. 210

[12] . Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fahmul Islam fi Zilal al-Usul al’Isyrin lil Imam al-Banna, h. 208

[13] . Imam Assyahid Hassan Al-Banna, Majmu Rasa’il Imam Hassan Al-Banna. Al-Qahirah: Maktabah Al-taufiqiah. m/k: 95.

[14] . Ustaz fathi Yakan, Maza ya’ni.

[15] . Shamsul Anuar Ahmad, Ucapan perasmian Penutup Bengkel Remaja KRS di Madrasah Taqaddum Ilmi Ketereh pada 6 Jun 2009.

[16] . Farid Ma’ruf Noor, 1981. Problematika Iman Dan Sikap Hidup Mukmin. Singapura: Alharamain Pte. Ltd. m/k : 13.

 

[17] . Jabatan Mufti Kerajaan Negeri Sembilan. KEUTUHAN AKIDAH PRASYARAT MENANGANI AJARAN MENYELEWENG

[18] . Abdul Salam Muhamad Shukri, Panduan Mengajar Akidah Kepada Kanak-Kanak, h. 4, berdasarkan hadis riwayat al-Imam Muslim daripada ‘Umar r.a

[19] . Yusuf al-Qaradhawi, al-Iman wal Hayah, h. 22)

[20] . Bahagian Penyelidikan, Jabatan Kemajuan Islam Malaysia, Kuala Lumpur, Mei 2000.

~ oleh ANUAR AHMAD di Julai 10, 2009.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: