MAHASISWA IMPIAN ISLAM 7

5. Mencinta ilmu Pengetahuan.

 

Ilmu adalah teras kehidupan manusia. Tidak mungkin sesorang itu menjadi mahasiswa yang unggul jika tidak mencintai ilmu. Namun pada hari ini, kebanyakkan mahasiswa pada hari ini kurang mencintai ilmu, mereka menghabiskan kehidupan harian di kampus hanya untuk metelaah matapelajaran yang mereka pelajari sahaja, itupun kerana untuk mendapat kecemerlangan didalam peperiksaan.

 

Ilmu amat penting bagi mahasiswa, betapa ramainya mahasiswa yang mempunyai kelayakan ijazah pertama didalam bidang agama tetapi tidak mampu menyampaikannya pada masyarakat, ada juga yang dah lupa segala ilmu yang mereka dapat didalam masa 3 n 4 tahun di kampus. Kenapa ini terjadi? Jawapanya ialah mereka tidak mencintai ilmu. Mereka hanya mendambakan segulung ijazah sahaja. Mereka tidak merasa pentingnya ilmu yang mereka pelajari itu untuk masayarakat yang amat jahil mengenai ilmu agama. Bila mereka memasuki alam masyarakat, mereka akan dianggap orang yang berilmu oleh masyarakat tetapi amat malang sekali apabila ditanya oleh masyarakat mengenai sesuatu masalah padanya, ia tidak dapat menjawab dengan baik. Ini akan menimbulkan fitnah kepada semua orang yang berilmu yang lain. Berapa ramaikah para mahasiswa yang suka membaca buku-buku ilmiah yang tidak ada kaitan dengan pelajaran mereka? Kebanyakkannya suka membaca majalah hiburan , novel n akhbar dari membaca buku ilmiah.[1]

 

Beramal Perlu Ilmu

Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat,maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak ada seorangpun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Faathir :2)

Beramal Perlu Ilmu

Berapa umur kita sekarang? Barapa usia kita ketika mulai terkena beban syariat? Mungkin sudah belasan tahun bahkan puluhan tahun kita mengenal islam dan melaksanakan ajarannya. Tapi pernahkah kita berpikir, apakah ibadah kita ini sudah benar sesuai dengan contoh nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apakah cara kita berislam sudah sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya? Sudahkah kita berislam dengan tata cara dan urutan yang benar?

Apa yang kita tahu tentang Islam? Terkadang, di antara kaum muslimin, ketika ditanya apa itu Islam mereka kebingungan menjawab. Ya… Islam ya… seperti itu lah. Islam itu agama yang paling benar, agama yang paling diridhai Allah, dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan jawapan-jawapan lainnya. Ada juga yang menyebutkan mengenai rukun Islam ketika ditanya apa itu Islam. Ya, mereka tidak sepenuhnya salah, tapi yang dimaksud si penanya dengan Islam adalah berserah diri kepada Allah dengan tauhid, tunduk kepada-Nya dengan segala ketaatan/kepatuhan, serta melepaskan diri dari segala bentuk syirik dan para pelaku syirik. Ketika diberi tahu mengenai hal ini malah yang ditanya kebingungan, kenapa dia tidak pernah mendengar mengenai hal ini.

Ada juga, ketika salah seorang muslim sujud di dalam shalatnya dengan menghamparkan tanggannya ke lantai (tangan sampai siku diletakkan di lantai), ia ditegur rakannya dan memberi tahu bahwa hal itu tidak boleh; dia malah kebingungan. Bahkan tidak percaya, karena selama shalat puluhan tahun baru sekarang ini ada yang menegur dan mangatakan perbuatan itu dilarang.

Banyak contoh yang dapat dikemukakan, tapi kita mencukupkan itu saja. Sebagian kaum muslimin di dalam beribadah terkadang tidak membekali dirinya dengan ilmu mengenai ibadah tersebut terlebih dahulu. Selain merasa tidak penting, mereka juga bernaggapan bahwa belajar hanya akan membuang waktu dan tenaga. Kenapa perlu belajar segala, jika hendak sholat, lihat saja orang yang sedang sholat, kemudian kita contoh. Selesai, mudah kan? Tidak perlu belajar. Memerlukan waktu, tenaga, dan perbelanjaan.

Hal ini sangat memprihatinkan. Terkadang, kita tahu ilmu tentang sesuatu sampai sedetil-detilnya, tapi untuk permasalahan agama yang hubungannya dengan akhirat kita tidak tahu sama sekali, walaupun hal itu kita lakukan setiap hari!! Kita ambil contoh, ada seorang boleh mempelajari masalah mesin sampai sedetil-detilnya, tapi dia tidak tahu bagaimana cara wudhu yang benar. Padahal setiap sholat harus berwudhu, lalu bagaimana dengan sholat-nya?

Ilmu sebelum beramal sangat penting. Kita harus mengilmui apa yang akan kita amalkan. Karena kalau tidak, salah-salah kita akan terjerumus kepada bid’ah ataupun kesyirikan. Bid’ah lebih disenangi syetan ketimbang maksiat, karena orang yang berbuat maksiat merasa dirinya berbuat maksiat dan ada harapan untuk bertobat, sedanglan pelaku bid’ah merasa bahwa dirinya sedang beribadah kepada Allah, jadi harapan untuk bertaubat dari bid’ahnya sangat kecil sebab ia tidak merasa berbuat salah. Adapaun syirik merupakan dosa besar yang paling besar yang pelakunya tidak akan diampuni kalau mati dengan membawa dosa syirik tersebut (pelakunya mati sebelum bertaubat). Dan dia akan kekal di dalam neraka. Na’udzubillah.

Oleh kerana pentingnya mengenai ilmu ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan kepada kita untuk menuntut ilmu: “Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim.” (HR.Bukhari)

Imam Ahmad –rahimahullah- pernah mengungkapkan:

“Manusia amat memerlukan ilmu daripada keperluan mereka kepada makanan dan minuman, karena makanan dan minuman hanya diperlukan dalam sehari satu atau dua kali, sedang ilmu diperlukan setiap saat.”

Imam Bukhari –rahimahullah- dalam kitab shahihnya menulis: “Bab Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan.” Dalilnya adalah firman Allah (yang artinya):

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu.” (Muhammad:19)

Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin –rahimahullah- menjelaskan bahwa: “Imam Bukhari berdalil dengan ayat ini untuk menunjukkan wajibnya mempunyai ilmu sebelum ucapan dan perbuatan. Ini dalil yang tepat menunjukkan bahwa manusia hendaknya mengetahui terlebih dahulu, baru kemudian mengamalkannya. Ada juga dalil aqli yang menunjukkan hal serupa, yaitu bahwasanya amal dan ucapan tidak akan benar dan diterima sehingga sesuai dengan syariat. Seseorang tidak akan tahu apakah amalnya sesuai dengan syariat atau tidak kecuali dengan ilmu. Tetapi ada beberapa hal yang manusia boleh mengetahuinya secara fithrah, seperti pengetahuan bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan, sebab yang demikian ini sudah menjadi fithrah manusia, karena itulah tidak perlu bersusah payah untuk mempelajari bahwa Allah itu Esa. Adapun masalah-masalah juz’iyah yang beragam perlu untuk dipelajari dan memerlukan usaha keras.”

Secara akal sihat, pernyataan Imam Bukhari tersebut memang benar dan logik. Kita ambil contoh, misalnya dalam ilmu dunia, bagaimana ia dapat menulis kalau belum pernah belajar menulis. Demikian juga untuk permasalahan akhirat, bagaimana mungkin seorang boleh menegakkan sholat dengan benar padahal ia belum belajar bagaimana tata cara sholat yang benar. Bagaimana boleh berwudhu dengan benar sedang dia tidak pernah mau belajar berwudhu yang benar. Bukankah orang yang mau belajar pasti lebih tahu dan lebih benar tata caranya daripada orang yang tidak
pernah belajar?

Keutamaan Ilmu:

Keutamaan menuntut ilmu sangat banyak sekali, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam “Buah Ilmu” menyampaikan kepada kita sampai 129 sisi keutamaan ilmu!! Tentunya sangat tidak mungkin kalau ditulis semuanya di sini. Di antara keutamaan menuntut ilmu adalah:

v “Adakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (Az-Zumar:9)

v “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadilah:11)

v “Barangsiapa berjalan di satu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalan menuju jannah. Dan sesungguhnya malaikat meletakkan sayap-sayapnya bagi penuntut ilmu tanda ridha dengan yang dia perbuat. (Dari hadits yang panjang riwayat Muslim)

v “Barangsiapa keluar dalam rangka thalabul ilmu (mencari ilmu), maka dia berada dalam sabilillah hingga kembali.” (HR. Tirmidzi, hasan)

v “Barangsiap menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah mudahkan baginya jalan menuju syurga.” (HR.Muslim)

v “Barangsiapa yang Allah kehendaki padanya kebaikan maka Allah akan pahamkan dia adalam (masalah) dien (agama).” (HR.Bukhari)

Ilmu yang dipelajari

Apakah yang dimaksud dengan ilmu pada hadits-hadits di atas? Apakah seluruh ilmu? Yang dimaksud ilmu di situ adalah ilmu nafi’, yaitu ilmu yang bermanfaat, yang akan mewariskan kebaikan dan barakah kepada penuntutnya baik di dunia ataupun di akhirat. Karenanya ilu yang patut dituntut dan diusahakan untuk meraih adalah ilmu syar’I yang dengannya amal akan menjadi baik dan benar.

Ilmu adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan ijma sahabat.

Apakah kita harus mempelajari semua ilmu yang ada? Tentunya tidak. Semua orang dilahirkan dengan kemudahan yang berbeza-beza. Kalau semuanya akan dituntut, sampai akhir hayatpun tidak semuanya dapat dipelajari,karena ilmu adalah samudera yang maha luas.

Apa yang mesti kita pelajari terlebih dahulu?

Pertama, Kitabullah

Ilmu yang pertama serta utama yang sekaligus sebagai dasar, sumber dan pedoman yang agung bagi ilmu-ilmu yang lain adalah Al-Qur’an. Marilah Al-Qur’an kita baca, kita pelajari isinya dan kita amalkan apa yang terkandung di dalamnya.

Kedua, Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Yaitu setiap apa yang datang dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam apakah itu ucapan, perbuatan, atau persetujuan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kita pelajari dan kita laksanakan perintah-perintahnya dan kita tinggalkan larangan-larangannya. Kita juga berkewajiban untuk mencontoh Nabi, karena beliau adalah suri teladan yang baik bagi kita.

Terkadang ayat-ayat al-Qur’an belum dapat dipahami secara langsung, dan hanya boleh dipahamai dan diamalkan dengan petunjuk dari sunnah nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Misalnya perintah sholat, di Al-Qur’an tidak ada penjelasan bagaimana tata cara sholat, dengan mempelajari sunnahnya kita dapat mengetahui tata cara sholat yang diperintahkan.

Ketiga, Aqidah atau Ilmu tauhid

Ilmu ini memiliki kedudukan yang tinggi. Keperluan kita yang paling mendesak saat ini adalah mempelajari aqidah islamiyah. Jadikanlah mempelajari aqidah sebagai keutamaan. Karena sekarang ini syirik bermahararajalela, di mana-mana, hampir tidak pernah sunyi dari kesyirikan dengan berbagai macam bentuknya. Pelajarilah dengan sebenar-benarnya, agar diri kita tidak terkena noda syirik. Bukankah syarat pertama diterimanya amal adalah bertauhid kepada Allah, tidak melakukan kesyirikan?

Keempat, ilmu tafsir

Dengan ilmu tafsir, kita dapat memahami ayat-ayat yang sulit, yang belum dapat kita pahami langsung dari Al-Qur’an. Dalam kitab tafsir dijelaskan tafsir ayat dengan ayat, tafsir ayat dengan hadits. Namun perlu diperhatikan, pelajarilah kitab tafsir yang penulisnya memiliki aqidah yang shahihah dan komitmen terhadap hadits-jadits yang shahih.

Kelima, ilmu fiqh

Ilmu ini berhubungan erat dengan pelaksanaan ibadah, syarat-syarat dan rukun-rukunnya. Sungguh-sungguhlah menuntut ilmu ini, karena apabila tidak dipelajari secara benar, maka ibadah yang kita lakukan menjadi sia-sia. Dengan ilmu ini kita boleh mengetahui tata cara peribadatan. Tentunya tidak harus semunya kita tahu, bagi kita, minimal mengetahui apa-apa yang selalu kita kerjakan sehari-hari, seperti thaharah, shalat, puasa, dan yang lainnya.

Pelajarilah ilmu-lmu tersebut sesuai dengan kemampuan kita. Utamakanlah yang harus diutamakan. Dahulukanlah mana yang harus didahulukan. Pelajarilah hal-hal yang merupakan wajib a’in bagi kita.

Metode menuntut ilmu:

Menuntut ilmu dapat dengan berbagai metode, asal saja hal tersebut tidak dilarang oleh syariat. Di antara metode yang dapat digunakan adalah:

(a) Hadir dalam majelis-majelis taklim

Tentunya kita harus memperhatikan apa yang dikaji dan siapa gurunya (yang memberi pengajaran) karena mungkin yang diajarkannya hal yang tidak berguna bagi kita, bahkan dapat merusak diri dan dien (agama) kita. Apakah yang diajarkannya memang diperlukan oleh kita dan bersumber dari al-Qur’an dan hadits yang shahih. Siapa pengajarnya? Apakah orang tersebut sudah terkenal istiqamah dengan agama yang benar bersumber dari Al-Qur’an dan sunah yang shahih berdasar pemahaman salafush shalih. Jangan sampai kita belajar kepada ahli bid’ah. Karena bukan ilmu yang akan kita dapat, namun kebinasaan yang akan kita peroleh.

(b) Membaca kitab-kitab/buku yang bermanfaat

Apabila kita boleh berbahasa arab, maka kita baca kitab-kitab para ulama. Namun apabila tidak, kita dapat membaca buku terjemahan yang bagus. Namun jangan semua buku dibaca, kita juga harus memilih. Siapa penulisnya dan bagaimana keadaan penerjemahnya, apakah ia amanah dalam menerjemahkan atau tidak. Jangan semua buku kita baca, hanya buku yang shahih saja yang kita konsumsi.

(c) Mendengarkan kaset-kaset ceramah

Alhamdulillah, telah beredar di kalangan kita kaset-kaset yang berisi pelajaran-pelajaran yang bermanfaat. Kita dapat mengambil ilmu dengan mendengarkan kaset kaset tersebut. Tentu saja kita harus selektif juga dalam memilih kaset yang akan kita dengarkan.

(d) Meminta fatwa

Kita dapat meminta fatwa kepada ulama atau ustadz yang terpercaya mengenai permasalahan yang kita hadapi.melalui telefon, email, atau datang secara langsung.

(e) Dan metode-metode lain yang tidak bertentangan dengan syariat.

Prinsip-prinsip dalam pengambilan ilmu:

Dalam mengambil ilmu kita perlu memperhatikan kaidah-kaidah pengambilan ilmu, diantaranya (sebagaimana disebutkan oleh Syaikh Nashr Abdul Karim Al-‘Aql)

1. Sumber ilmu adalah kitab Allah (Al Qur’an), sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang shahih dan ijma’ para salaf yang shaleh.

2. Setiap sunnah shahih yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam wajib diterima, sekalipun tidak mutawatir atau ahad (hadits yang diriwayatkan oleh seorang periwayat atau lebih, tetapi periwayatannya bukan dalam jumlah yang terhitung).

3. Yang menjadi rujukan dalam memahami Kitab dan Sunnah adalah nash-nash (teks Al Qur’an atau hadits) yang menjelaskannya, pemahaman para salaf yang shaleh dan para imam yang mengikuti jejak mereka serta dilihat arti yang benar dari bahasa Arab. Namun jika hal tersebut sudah benar maka tidak dipertentangkan lagi dengan hal-hal yang hanya berupa kemungkinan sifatnya menurut bahasa.

4. Prinsip-prinsip utama dalam agama (ushuluddin) semua telah dijelaskan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Siapapun tidak berhak mengadakan hal yang baru, yang tidak ada sebelumnya, apalagi sampai mengatakan hal tersebut termasuk bagian dari agama.

5. Berserah diri dan patuh hanya kepada Allah dan RasulNya lahir dan batin. Tidak menolak sesuatu dari Kitab atau Sunnah yang shahih, baik dengan analogi, perasaan, kasyf (illuminasi, atau penyingkapan tabir rahasia sesuatu yang ghaib), ucapan seorang syeikh ataupun imam-imam, dan lain-lainnya.

6. Dalil akli yang benar akan sesuai dengan dalil nakli (nash) yang shahih. Sesuatu yang qath’i (pasti) dari kedua dalil itu tidak akan bertentangan. Apabila sepertinya ada pertentangan di antara kedua dalil itu, maka dalil nakli harus didahulukan.

7. Wajib untuk senantiasa menggunakan bahasa agama dalam aqidah dan menjauhi bahasa bid’ah (yang bertentangan dengan sunnah). Bahasa umum yang mengandung pengertian yang salah dan yang benar perlu dipertanyakan lebih lanjut mengenai pengertian yang dimaksud. Apabila yang dimaksud adalah pengertian yang benar maka perlu disebutkan dengan menggunakan bahasa agama (syar’i). Tetapi bila yang dimaksud adalah pengertian yang salah maka harus ditolak.

8. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah ma’shum (dipelihara Allah dari kesalahan), dan umat Islam secara keseluruhan dijauhkan Allah dari kesepakatan atas kesesatan. Namun secara individu, tidak ada seorangpun dari kita yang ma’shum. Jika ada perbedaan pendapat diantara para imam atau yang selain mereka maka perkara tersebut dikembalikan kepada Kitab dan Sunnah, dengan memaafkan orang yang keliru dan berprasangka baik bahwa dia adalah orang yang berijtihad.

Ada di antara umat kita yang memperoleh bisikan dan ilham dari Allah, ru’ya (mimpi) yang baik. Ini benar dan termasuk salah satu bagian dari kenabian. Firasat yang baik adalah benar, dan itu semua adalah karamah (suatu kelebihan dan keluarbiasaan yang dikaruniakan Allah asal kepada seorang wali) Ciri karamah adalah orang yang mendapatkannya senantiasa istiqomah, berjalan di atas tuntunan Al Quran dan Sunnah.

9. serta tanda baik dari Allah, asal dengan syarat tidak bertentangan dengan syariat dan tidak menjadi sumber aqidah maupun hukum.

10. Berdebat untuk menimbulkan keraguan dalam agama adalah perbuatan tercela. Tetapi berdebat dengan cara yang baik untuk mencari kebenaran disyariatkan. Perkara yang dilarang oleh nash untuk mendalaminya wajib diterima dan wajib menahan diri untuk mendalami sesuatu yang tidak dapat diketahui oleh seorang muslim. Seorang muslim harus menyerahkan pengetahuan tersebut kepada Yang Maha Mengetahui, yakni Allah Subhanahu Wata’ala.

11. Kaum muslimin wajib senantiasa mengikuti manhaj (metode) Al Qur’an dan Sunnah dalam menyampaikan sanggahan, dalam aqidah dan dalam menjelaskan suatu masalah. Karena itu bid’ah tidak boleh dibalas dengan bid’ah lagi, kekurangan dilawan dengan berlebih-lebihan, atau sebaliknya.

12. Setiap perkara baru yang tidak ada sebelumnya dalam agama adalah bid’ah. Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan dalam neraka.

Marilah kita mulai sekarang untuk memperbaharui cara kita beragama, memperbaharui amalan-amalan kita dengan mengilmui dahulu baru kemudian mengamalkan. Tidak asal dalam beribadah, karena nantinya hanya capek dan lelah yang akan kita dapatkan. Beribadah adalah ada caranya, ada tuntunannya, dan itu hanya bisa kita ketahui dengan berilmu dahulu. Janagn sampai kita terkena hadits (yang artinya): “Barangsiapa yang mangada-adakan dalam urusan kami yang bukan darinya maka tertolak.” Dalam riwayat yang lain: “Brangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada padanya urusan kami maka tertolak.” Marilah kita jadikan “ilmu sebelum berucap dan beramal” sebagai slogan kita.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Adiy bin Hatim R.A yang mengatakan:

 

” Ma’ruf yang kamu kenali sekarang adalah merupakan mungkar yang dikenali pada zaman dahulu. Dan mungkar yang kamu kenali sekarang akan menjadi ma’ruf pada maa akan datang. Sesungguhnya kamu sentiasa baik selagi kamu mengetahui perkara yang kamu ingkari. Dan kamu tidak akan ingkari perkara yang kamu tahu dan selagi ada seorang yang alim di kalangan kamu memperkatakan sesuatu dengan jelas dan dia dihormati ( tidak direndah-rendahkan).”

 

Oleh itu untuk terlaksananya jihad maka perkara2 berikut mesti ada. Mesti ada ilmu, mesti ada kezuhudan dan mesti ada persediaan mati pada jalan Allah[2].

 

Ilmu dan amal – Harus berjalan seiring

 

Allah s.w.t. berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia daripada segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmulah yang maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Al-Alaq:1-5).

Prof. Dr. Quraisy Syihab dalam bukunya Wawasan Al-Quran menjelaskan bahwa iqra’ diambil daripada akar kata yang bererti menghimpun.

Daripada menghimpun lahir pelbagai makna seperti menyampaikan, mentela`ah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri-ciri sesuatu dan membaca sama ada teks yang tertulis mahupun tidak.

Wahyu pertama itu tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, kerana al-Quran menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut `bismi rabbik’, dalam erti bermanfaat untuk kemanusiaan.

Iqra’ bererti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu. Bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, mahupun diri sendiri, yang tertulis mahupun tidak.

Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya.

Oleh kerana itu, ilmu adalah pelita amal dengan melalui baca, teliti dan mendalami. Melaksanakan amal tanpa ilmu, kata Umar bin Abdul Aziz, lebih banyak merosakkan berbanding memperbaikinya.

Dalam konteks ini, amal yang dilakukan harakah Islam menuntut persyaratan ilmu yang tidak sedikit. Ini kerana projek yang mesti ditangani harakah Islam melengkapi seluruh alam semesta. Tanggungjawabnya tidak hanya terbatas di dunia, namun memanjang hingga ke akhirat.

Hakiki

Menyeru manusia menemukan fitrah dan kehidupan hakiki di tengah-tengah segala hiruk pikuk jahiliyah adalah upaya yang memerlukan tujuan, sasaran, strategi dan cara yang ihsan.

Maka di sinilah tugas para ilmuan dalam memandu harakah Islam, sebagai upaya untuk mendapatkan jalan yang efektif untuk menyeru manusia. Kerana itu, mencari ilmu adalah mutlak.

Dr. Yusuf Qardhawi dalam bukunya Al-wihdah al-fiqriyah, mengulas ayat “Oleh itu, maka tetapkanlah pengetahuanmu dan keyakinanmu (wahai Muhammad) bahawa sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan mintalah ampun kepada-Nya bagi salah silap yang engkau lakukan, dan bagi dosa-dosa orang-orang yang beriman – lelaki dan perempuan. Dan (ingatlah) Allah mengetahui akan keadaan gerak-geri kamu (di dunia) dan keadaan penetapan kamu (di akhirat).” (Muhammad: 19), mengatakan bahawa ayat ini secara eksplisit menempatkan ilmu lebih dahulu baru amal.

Perpaduan ilmu dan amal inilah yang menjadi kunci kejayaan sejak masa Rasulullah s.a.w., para sahabat dan tabi`in serta kaum Muslimin sesudahnya.

Apabila ilmu terpisah daripada amal, bersiaplah menghadapi bencana. Sama ada kerana jalan perjuangan menjadi panjang akibat lambatnya kita berjalan, atau musuh-musuh telah merancang strategi baru yang mengongkong kita dalam tempurung.

Ada sebuah kisah menarik yang dapat memberi kita pelajaran berharga mengenai bagaimana orang-orang terdahulu menghormati dan merindukan ilmu.

ketika Imam Syafie menetap di Baghdad, beliau ditanya oleh seseorang, “Bagaimana semangat anda menuntut ilmu?” Syafie menjawab: “Saya mendengar huruf demi huruf seakan-akan huruf-huruf itu belum pernah saya dengar. Saya kerahkan seluruh anggota tubuh saya untuk menyemaknya.” Orang itu bertanya lagi, “Bagaimana minat anda terhadap ilmu?” Jawapan Syafie hampir sama dengan soalan tadi. “Minat saya ibarat orang yang mengumpulkan makanan dan menikmati kelazatannya secara sempurna.”

“Dan bagaimana pula cara anda mencarinya,” tanyanya lagi. “Saya mencarinya laksana seorang wanita yang kehilangan anak tunggalnya didunia. Ia hanya memiliki anak tersebut, tiada yang lain,” jawabnya.

Begitulah semangat para salafus soleh dalam mencari ilmu, sekaligus mempraktikkannya dalam kehidupan harian mereka sampai saat ini cukup kuat berakar di tengah-tengah masyarakat.

Kenapa begitu? Ini kerana mereka bukan sahaja mewariskan intelektual dan akal, tetapi juga warisan tingkah laku dan amal.

iLmu Vs Harta

 

 

 Saidina Ali bin Abi Talib karramallahu wajhah pernah menyatakan bahawa orang yang berilmu lebih baik

                           daripada orang yang berharta.

 

  Pada satu ketika 10 orang ulamak Khawarij telah menguji pengetahuannya. Mereka masing-masing

mengemukakan pertanyaan yang serupa, dan diminta memberi jawapan yang berlaina tetapi mencakupi

                     ruang lingkup yang sama. Pertanyaan itu ialah:

 

          Manakah lebih baik, ilmu atau harta? Saidina Ali dengan cepat menjawab:

 

     Ilmu lebih baik dari harta sebab ilmu adalah pusaka para Nabi dan Rasul, sedangkan

     harta pusaka daripada Firaun, Qarun dan lain-lain.

 

     Ilmu lebih baik daripada harta sebab ilmu dapat menjaga dan memelihara pemiliknya,

     sedangkan harta mesti dipelihara oleh pemiliknya sendiri.

 

     Ilmu lebih baik daripada harta sebab ilmu membentuk banyak sahabat dan kawan

     sedangkan harta memperbanyakkan musuh dan lawan.

 

     Ilmu lebih baik daripada harta sebab ilmu apabila dikeluarkan semakin bertambah

     sedangkan harta apabila dikeluarkan semakin berkurangan dan akhirnya habis.

 

     Ilmu lebih baik daripada harta kerana orang-orang yang berilmu selalu mendapat

     panggilan mulia dan hormat daripada masyarakat. Sedangkan orang yang berharta

     seringkali mendapat panggilan yang rendah.

 

     Ilmu lebih utama dari harta sebab ilmu tidak boleh dicuri daripada pemilik nya tetapi

     harta dapat dicuri, hilang dan sebagainya.

 

     Ilmu lebih baik dari harta kerana orang-orang yang berilmu pada hari qiamat akan

     mendapat pertolongan daripada ilmu yang dikembangkan, sedangkan orang yang

     berharta akan dihisab dan diminta bertanggungjawab terhadap pemakaian harta

     tersebut.

 

     Ilmu lebih baik dari harta kerana ilmu tidak boleh habis walaupun tidak ditambah,

     sedangkan harta lambat laun akan habis.

 

Maka menjadi kewajipan bagi seorang mahasiswa yang diimpikan oleh Islam mempunyai ilmu pengetahuan yang luas bagi melengkapkan kehidupannya sendiri dan masyarakat umumnya.

 


[1] . Shamsul Anuar Ahmad, Ceramah motivasi di Sekolah Arab Badang. Tahun 2008 (lupa tarikh tepat)

[2] . Sa’id Hawwa. 2003. Jundullah jihad fi sabilillah. Dewan Pustaka Fajar, Selangor. m/k 9.

~ oleh ANUAR AHMAD di Julai 10, 2009.

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: